Kategori
blog

Design Chemistry

ruang keluarga
ruang keluarga

Umumnya setiap orang ingin memiliki rumah yang ideal dan nyaman menurut versinya sendiri. Tiap – tiap orang dilahirkan dengan latar belakang yang berbeda – beda, ada yang berasal dari keluarga yang memiliki satu budaya tradisional yang kental, atau keluarga yang memiliki budaya yang bermacam  – macam seiring dengan perjalanan keluarga tersebut ke banyak tempat dengan budaya baru. Dari latar belakang ini kita bisa mengenal, mengerti, kemudian memahami nilai yang dianut oleh orang per orang, dimana setiap orang dilahirkan untuk menjadi seseorang unik. Seorang anak kecil mungkin akan menggambar rumah dengan jendela yang kotak, atap yang miring dengan pintu di depannya, mungkin ia akan menambahkan matahari dan awan di atasnya. Rumah adalah cerminan dari hati dan impian seseorang yang dibentuk dari saat ia anak – anak. Menurut Robert Forest salah seorang penyair yang saya kagumi,’Home is the place where, when you have to go there they have to take you in. Paragraf permulaan ini adalah tulisan untuk mengenal siapa klien kita, yaitu orang – orang dengan pribadi yang unik di tengah jalinan budaya yang ada.

Red house adalah satu rumah yang didesain William Morris (1834-96). Dimana ada satu keinginan untuk mendesain ruang yang ideal dimana orang – orang bisa berbicara di pojok – pojoknya dan orang – orang lain bisa makan di pojok lainnya, tidur di pojok lainnya dan kemudian berkerja di pojok lainnya. bentuk konstruksinya ditampilkan begitu jujurnya sehingga menginspirasi banyak arsitek setelahnya dengan kejujuran bentuk konstruksi sebagai intensi utamanya.Louis Mies Van De Rohe, Philip Jonshon, ataupun Norman Foster menjadi beberapa arsitek yang mengikuti Intensi William Morris dalam pengolahan bentuk – bentuknya. Dalam perjalanan karirnya, seorang arsitek hidup dengan melayani kliennya dan mencoret garis dengan pengalaman hidupnya, ia tidak hidup sendirian.

Apabila satu desain bangunan menyebabkan pemilik rumah sakit – sakitan karena udara yang lembab akibat dari  ruangan tidak mendapatkan sinar matahari,dan ada ventilasi dimana terjadi ketidak nyamanan karena ketidak sesuaian dengan kebutuhan pemilik. Saya pikir itulah satu kesalahan. arsitek itu sebuah profesi yang melayani, profesi yang melayani masyarakat sebaik – baiknya. Mendesain  denah untuk mendapatkan cahaya langsung yang memiliki intensitas cukup namun tidak panas, dengan pertimbangan mengenai sudut datangnya sinar matahari, dengan pertimbangan mengenai bagaimana bentuk bangunan yang inovatif terhadapnya. Angin pun memiliki peranan penting dalam sirkulasi udara silang yang sehat di iklim tropis, kita pun membutuhkan udara segar untuk hidup, sirkulasi udara silang mutlak sangat dibutuhkan, ditambah dengan usaha untuk memenuhi aktifitas pemilik rumah dari aktifitas menjemur baju, aktifitas relaksasi, aktifitas melakukan hobbynya. Aktifitas itu tumbuh menjadi arsitektur ditengah – tengah tarikan peraturan bangunan yang ada.

Le corbusier ataupun para pendeta arsitektur tradisional sudah mengajarkan banyak dengan 5 prinsip , bangunan melayang di atas tanah [pilotis], denah yang fleksibel terhadap perkembangan jaman, tampak yang fleksibel [bebas dari elemen struktur], pandangan untuk menikmati alam, atap yang mengkompensasi area hijau yang diambil lahan. Saya melihat kita hanya perlu berkerja sama dengan alam dengan teknik, teori, keahlian kita dalam desain bangunan.

Sekarang ini trend fungsionalitas, satu paham yang oleh banyak orang di sebut minimalis menjamur, sebagai alat untuk berjualan, sebagai satu pendekatan desain yang disukai. Sebagai salah satu paham desain, ada yang menyukai ada juga yang tidak. Salah satunya adalah orang di depan saya, yang mengajak saya berdiskusi pada waktu itu, ia adalah seorang mahasiswa,

“Jadi desain yang minimalis itu tidak apa – apa ya pak ?” tanya satu orang adik pada waktu itu.

“tidak apa – apa” saya jawab. Diri ini berpikir, minimal adalah sekecil mungkin, mungkin yang dimaksud adalah satu dorongan untuk mengefisienkan desain bangunan karena tuntutan dari naiknya harga lahan, mengecilnya plot bangunan, dan semakin kompetitifnya iklim di dunia kerja mengakibatkan dorongan ekonomi pada proses arsitek dengan klien oleh karena itu hal ini bisa terjadi.lalu “apakah itu salah ?”

“Memang semua itu harus maksimalis ?” saya balik bertanya. Mungkin apa yang dibicarakannya menyangkut satu style yang diambil dari pergerakan international style, desain schroeder house dari Gerrit Rietveld yang berkembang terus di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia. Tidak hanya arsitek yang melihat ini, klien kita pun melihat. lalu apa ?

Tidaklah perlu kita mengeneralisasi apa itu arsitektur minimalis, maksimalis, dekonstruksi, neo modernism, post modernism, yang saya tahu hanyalah arsitektur yang baik yang dimulai dari coretan garis oleh arsitek berdasarkan kebutuhan klien. Yang kita perlukan adalah satu pemikiran yang mendalam selain provokasi like or dislike, yaitu analisa mengenai kebutuhan manusia dan pemecahan kebutuhan – kebutuhan tersebut yang merupakan solusi dari praktek arsitektur. Ini yang saya sebut arsitektur yang responsif dengan segala sikapnya untuk menghargai alam, menjaga manusia dari ketidaknyamanan, sekaligus mendekatkan manusia untuk menjejak lekat dengan bumi.

Kembali Satu saat yang lalu dimana saya bertanya kepada satu orang di depan saya“apa kemauan klien anda ?” tanya diri ini, kemudian mungkin pemuda didepan saya ini bingung tidak menjawab seakan – akan kita hanya berpraktek tanpa klien.  Arsitek adalah seorang pendeta, ahli dalam seni, konstruksi bangunan, ya kita kan punya klien, perlunya kita berkomunikasi dengan klien kita, berdiskusi, berkerja bersama – sama, sentuhan anda dibalik keinginan klien menghasilkan karya yang kalau ada di Indonesia, jadilah ia Arsitektur Indonesia. Coretan – coretan desain yang dicoretkan arsitek berdasarkan kebutuhan seseorang bukan hanya berkerja sendirian akan mewarnai satu karya arsitektur, dengan intensi coretan desain yang seresponsif mungkin menurut saya akan menjanjikan satu kebolehan kita, dan daya tawar kita kepada pengguna jasa kita.

Yang terjadi pada akhirnya, kepercayaan itu akan muncul dan anda akan dinilai oleh orang lain bukan hanya oleh diri sendiri, oleh karena itu buka mata hati, telinga, dan intuisi, di setiap goresan pena Arsitek, selalu ada tanggung jawab.

Tulisan ini dipublikasikan dalam majalah Baccarat Indonesia edisi January – February 2014

Kategori
blog

Hijau Daun

Arum Dalu BelitungTulisan ini dipublikasikan untuk Baccarat Indonesia edisi pertama November 2013

Satu saat saya ingat beberapa tahun lalu saya berjalan – jalan ke satu rumah tinggal milik kenalan saya, dulunya dinding itu penuh dengan pot – pot tanaman yang ditempel di dinding setinggi 6 meter, pot – pot itu disusun selang seling menyerupai pola bata, dengan teknologi penyiram air berupa selang – selang kecil yang melilit pot – pot tersebut, bahan pot tanaman itu sendiri terdiri dari kayu yang disebut kayu bengkirai dari Kalimantan, atau sering disebut kayu damar laut dari Sumatra, kayu itu termasuk kayu golongan kayu keras. Namun Sekarang pot – pot itu hilang, kayunya pun sudah berubah warna, dinding yang yang tadinya rimbun penuh pohon, kini hilang tanpa bekas. katanya sulit untuk merawatnya meski sudah didesain dengan teknologi penyiraman yang baik.

Peter Blanc, seorang arsitek lansekap dari perancis dikenal sebagai desainer yang memainkan elemen tanaman yang disusun vertical atau dalam bahasa perancis disebut mur vegetal. Ia dikenal di tahun 2009 sebagai salah satu orang yang memodernisasi tanaman vertical, sehingga mendapatkan gelar satu dari 50 inovasi terbaik di dunia keluaran dari Time Magazine. Ia berpendapat Desain yang hijau itu tidak hanya berhenti dari penampakannya saja yang hijau dengan tren vertical garden, satu museum di kota Madrid yang bernama Musee Du Quai Branly hasil dari kolaborasi desain dengan arsitek Jean Nouvel menjadi salah satu icon keberhasilannya, bagaimana kita mengapresiasi alam dengan dinding vertical garden menciptakan efek visual yang menarik mata. Lebih lanjut lagi Peter, menarik esensi dari vertical garden melalui pemilihan tanaman – tanaman yang sesuai dengan lokasi, dan iklim, sehingga tanaman tersebut bisa hidup secara natural, tidak hanya manis dipandang mata namun mudah dalam perawatannya.

Kembali ke kenalan saya, setelah saya lihat – lihat, memang dinding yang tingginya 6 m itu merepotkan karena membutuhkan usaha ekstra untuk merawatnya, ditambah lagi kesibukan kenalan saya ini yang merupakan seorang pengusaha, Mungkin pada waktu dinding itu didesain sedang ada tren / lifestyle / design style untuk menutupi wajah dinding dengan tanaman. Namun setelah saya lihat lebih lanjut memang, tanaman yang dipakai yaitu srigading adalah tanaman yang membutuhkan cahaya matahari langsung sedangkan tempatnya adalah cenderung tertutup di void bangunan dimana di atasnya terdapat skylight kaca, juga ditambah lagi kenalan saya itu yang memang tidak bisa merawat tanaman dan ia tidak mencintai tanaman, namun ia ingin dilihat sebagai pencinta tanaman, seseorang yang mengikuti trend. Kita perlu bertanya jujur, apakah kita benar – benar membutuhkan itu ? kalau seorang pencinta taman akan berkata lain. Saya berpikir memang desain itu sesuai dengan individu – individunya, sejujur apa kita dalam menginginkan sesuatu.

Konsep Desain yang hijau / green adalah desain yang bisa hidup senatural mungkin, ia berbicara menurut fungsinya yang sejujur-jujurnya, menurut saya desain pun demikian, ia pun harus peka terhadap esensi dasar bahwa segala sesuatu pada dasarnya harus berjalan secara natural. Satu arsitek  dari Australia, Glenn Murcutt , ia memulis bahwa arsitek hanya membuat sebuah wadah, dengan alam sebagai inspirasinya, matahari, aliran udara segar, dan keinginan manusia untuk selaras dengan alam. Saya pikir begitupun dalam rumah tinggal. Sebagai manusia kita perlu bernafas, pentingnya sirkulasi udara yang masuk ke bangunan upaya udara tidak lembab, saya sendiri pernah mendesain satu rumah dengan satu cerobong angin di tengah rumah itu, tempat dimana udara segar bisa masuk secara terus menerus 24 jam. Semuanya dimulai dari kebutuhan dasar yang memang dibutuhkan oleh manusia yakni kita sendiri.

Kayu jati yang terbaik adalah kayu jati yang tua, berumur panjang, bukan jati muda hasil dari hutan produksi. Dari situ jati tua dihargai karena urat kayunya yang indah, kekerasanya dan ketahannya terhadap waktu, juga warnanya yang muda, urat kayunya mengalir seperti air. Dari situlah kita tahu bahwa kayu jati itu adalah kayu yang mahal dan memiliki nilai seni tinggi dengan alam sebagai pembentuknya. Hidup pun begitu, Tisna Sanjaya, memberikan pesan supaya hiduplah seperti pohon, jangan hidup tergesa – gesa. Ini mungkin salah satu pemikiran yang membuat kita perlu merenung sejenak untuk kemudian menjalani hidup kita sehari – hari dan senatural mungkin.