Kategori
project thoughts

Cendana – Sliced Wood

IMG_20131210_145247
Sliced Wood – Cendana

Pada tahun 1932 Alvaar aalto membuat kursi Paimio yang terinspirasi dari bentuk alam yang organik. Pada waktu masa 1920 penggunaan material besi yang dilengkungkan pada desain furniture banyak dilakukan oleh desainer bauhaus [salah satunya marcel breuer].  Teknologi kayu dilengkungkan yang digabungkan dengan unsur  fungsional. Usaha untuk menanggapi alam kemudian dipecahkan dalam permasalahan fungsional seperti kenyamanan dan estetika menjadi salah satu pemikiran dalam karya ini.

Desain kursi ini memiliki 2 nama Cendana atau Sliced wood [kayu yang terpotong] yang terinspirasi dari bentuk organik dan citra natural dari bebatuan [sesuatu yang kokoh, berdasar, dan dingin). Dimana kayu memiliki sifat yang hangat sehingga memberikan kenyamanan. Hal ini kemudian diterjemahkan ke dalam lapisan kayu yang disusun secara horisontal dengan celah 30 mm untuk memunculkan siluet yang organik dengan kemudahan sistem konstruksi kayu.Jarak – jarak antar kayu memungkinkan untuk membuat siluet berdasarkan posisi duduk dan kenyamanan, dalam hal ini yang dipakai parameter kursi adalah jenis bentuk sofa. Tiap – tiap lapisan terbuat dari lapisan triplek meranti dengan kulit jati 3 mm difinish bulat di tepian.IMG_20131210_145450

Designed by Realrich Sjarief for Biennale Desain dan Kriya 2013 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Built at Design Perfection Workshop

Kategori
DAILY

Terkenal

Diri ini merenung mengenai satu kata ” terkenal”, mbak Vivi, Avianti Armand, menulis satu tulisan disini. Kata “terkenal” adalah satu kata yang wajar, kalau seseorang tidak dikenal, maka ia tidak bisa mendapatkan penghidupan, seperti seorang arsitek yang semakin dikenal karena mungkin kapabilitasnya untuk menghasilkan bangunan yang disukai orang yang menunjuknya sebagai arsitek, sama seperti dokter yang semakin dikenal karena mungkin kapabilitasnya untuk mengobati penyakit sehingga banyak orang datang untuk diobati penyakitnya. Di tulisan mbak avianti sepertinya ada kerisauan  dengan fenomena cepatnya informasi,atau popularitas  sesaat dalam arsitektur, memang suatu alasan yang benar adanya dalam proses berarsitektur yang lebih baik. ini cerita lebih detail ,Screen shot 2013-12-08 at 10.12.16 PM

ia menulis lebih lanjut :

“Yang jelas, “sindrom terkenal” itu juga mewabah di sini. Terus terang, saya sedih melihat kecenderungan arsitek-arsitek muda tanah air, mangga-mangga mengkal dan umbi-umbi pejal yang belum siap panen,  buru-buru ingin jadi terkenal, sehingga rela membayar untuk dibuatkan buku tentang biro atau konsultannya. Padahal, kalau menilik karya-karyanya, saya percaya mereka masih harus menempuh perjalanan yang lebih jauh. Akhirnya kita melihat buku itu sebagai alat marketing belaka. Publikasi harusnya punya bobot berita, bukan sekedar alat pencitraan dan propaganda. Sindrom yang sama, saya duga, juga jadi bensin luar biasa yang mendorong arsitek-arsitek kita untuk berpameran ke luar negri. Dengan mengundang diri sendiri, dengan biaya sendiri, dengan tenaga sendiri. Saya sampai heran luar biasa. Saya tanya buat apa? Jawabannya: untuk menunjukkan pada dunia kondisi arsitektur di Indonesia. Saya tanya lagi, buat apa? Untuk membuka hubungan lintas negara dengan arsitek-arsitek manca negara. Saya tanya lagi, buat apa? Ternyata jawabannya berhenti di situ.” [Avianti]

Ada beberapa 3 hal penting menurut diri ini yang perlu direnungi, mungkin penulis merasa banyak buku – buku arsitektur yang tidak sesuai dengan ekspetasi beliau, mungkin juga penulis mengkritisi mengenai pameran tanpa agenda yang di bawah ekspektasi beliau yang dicetuskan beberapa saat yang lalu. Mungkin penulis hanya berharap mengenai muatan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas informasi terhadap karya arsitektur yang ada. Saya pikir tulisan ini akan membuat satu refleksi untuk berbuat yang lebih baik dalam meningkatkan standar kualitas meski ranah itu adalah subjektifitas orang per orang. Dimana Karya arsitektur memiliki perenungan yang panjang, dan proses yang panjang, yakni 1 tahun sampai karya tersebut selesai kemudian mulai ditempati, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, syukur apabila karya arsitektur dianggap begitu baiknya sampai dipertahankan di dalam era yang berubah, ia kemudian menjadi penanda jamannya dan kemudian memiliki pembuktiannya. Oleh karena itu, menjadi arsitek yang baik, membutuhkan kesabaran untuk menghadapi dunia.  Saya pikir tulisan ini seakan – akan menantikan keseimbangan yang wajar dimana definisi terkenal didudukkan sewajarnya, berbicara mengenai karya yang terbukti nyaman, terbukti indah, dan publik pun menanti dalam alegori desain yang ada, dalam pembuktian rentang waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu memang diperlukan suatu kesabaran dalam berkarya untuk selalu berbuat yang terbaik hari demi harinya.

Kategori
DAILY

Sarala – Bare Minimalist House

Finalist of Indonesia Institute of Architect Jakarta Award 2012

bare minimalist4l
Wind Tunnel responding to air stacking effect
This is an individual residence located in Jakarta/ The site is 8 m wide and 24 m deep owned by Charles Wiriawan and Irene, which is the typical conditions for dense row house in Jakarta. Like what happens, dense row house is happened because of too many bedrooms and corridors without inner courtyard inside the house. The design usually very humid and hot during the summer and rainy season because of house planning which doesn’t reflects to tropical sunshade and cross air circulation. In this case, the design offers the house not as simple and uncomfortably solution but as responsive as possible in passive design to redefine tropical house in simple way. West side which is the hottest surface during the year is blocked by solid wall which is the boundary between the house to the neighbor.The design placed the circulation as a continuous and sequential space which centers wind tunnel at the centre of the house which becomes living space, dining space and also, place where cross air circulation happens.For the wall, the design placed 600 mm x 1200 mm reinforced fibre concrete as covering of the whole walls providing insulation of heat from sun. The louvers on the facade are simulated carefully to cut direct sunlight. The glass and louvre reacts to save energy by providing natural ventilation for this house.
View to the Bridge Connecting Bedrooms
View to the Bridge Connecting Bedrooms
View to Foyer as Wind Tunnel at the centre of the House
View to Foyer at Ground Floor
View to Foyer at Ground Floor
View to Foyer at Ground Floor
bare minimalist8l
Stairway’s Entrance
bare minimalist9l
View from the Entrance to Living Room and Home Office
bare minimalist10l
View from Living room to Entrance
bare minimalist11l
View from the Living Room to Inner Garden
bare minimalist3l
 bare minimalist2l
Bioclimatic House
Bioclimatic House
Plan of the House
Plan of the House

Rumah ini dipublikasikan di Buku Houses by Indonesian Architect yang ditulis oleh Studio Imelda Akmal Architecture Writer IAAW dan Dwell

Credentials :

Architect : Realrich Sjarief
Owner : Charles Wiriawan and Irene
Contractor : Singgih Suryanto – DOT Workshop
photos : Eric Dinardi from Bacteria Photography