Kategori
blog

to re-inventing and start working hard

the office is really busy at the moment, we’ve got numeruous commissions from several clients. They have been supporting the office so far. But in terms of architecture, I was thinking our design should be fresh. it refers to idea. yes, the idea should be fresh. what is fresh, fresh is innovations, dare to change, dare to lose, dare to invest. I was thinking about the the rational of Murcutt’s idea of responding the climate to architecture, one that shouldn’t be missed that is the inspiring space within. I think every people deserved for a great place to do anything in any circumstances. And I think it’s our obligation, to rethink, to inspire people not only by words but also fundamentally by real works.

we are working on two resort at Bali at the moment. If we look at Bali, the place has deep culture laid among the people.  Even though we are now in the present colored by rationalism and modernism which has generic quality, and faceless culture, in Bali we feel the spirit of the place which make we love the place, and the culture preserved.

we just won 1st prize of limited competition office of Bank Indonesia at Mataram. Working with such creative people in the office creates the incredible happens.

Kategori
blog

di Gunadharma awal titik pertama

“Pak, si *** susah diatur, anaknya keras kepala, kordinasi pekerjaan tidak jalan ditangan dia, bapak tidak tau sih bagaimana kerja bersama dia.” Celoteh satu mahasiswa tempat diri ini mengajar kepada satu dosennya, teman sejawat saya. Diri ini tersenyum sesembari menimpali celotehan anak tersebut.

Seraya menarik nafas panjang, pikiran ini terbawa dan teringat celotehan yang sama mungkin 10 tahun yang lalu di saat saya masih menjadi mahasiswa, celotehan yang selalu sama, setiap tahun berulang selama 5 tahun diri ini ada di kampus gajah. Ya, pada waktu itu diri ini sangat menikmati berkerja bersama demi sebuah idealisme komunal yang kadang kala diri ini sulit mengerti apa ujungnya. Paragrafnya sama, cerita yang ditulis sama, hanya tempatnya berbeda, diri ini rasa ini kejadian berulang yang selalu terjadi di dunia kemahasiswaan. Pada waktu itu untuk menjadi anggota himpunan kita harus melewati orientasi mahasiwa yang lamanya kira – kira hampir satu tahun atau dua semester ajaran.

Saya kemudian teringat tepatnya di bulan Agustus, diri ini bertemu sekumpulan senior berjas biru, mengenakan emblem gajah duduk dengan tulisan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma Institut Teknologi Bandung [IMAG ITB] . Hari itu siang terang, kita dikumpulkan berbaris sejumlah total delapan puluh empat orang satu angkatan. Saya kemudian berpikir ini awal yang manis di kampus Gajah di kota bandung yang relatif dingin untuk saya yang matanya sipit yang lahir di surabaya yang dikenal panas kotanya dan perangainya.

Setelah menjadi anggota himpunan, angkatan kami dicap angkatan gagal dengan adanya pro kontra dengan sistem kaderisasi kekerasan dan non kekerasan. Karena ini, satu persatu teman mahasiswa menghilang untuk sibuk di kegiatan akademis, kira – kira dalam kepanitiaan tinggal tersisa 10 orang, tidak lebih. Saya pribadi waktu itu selalu bertugas sebagai anggota tim logistik, job desknya adalah angkut – angkut. Seringkali setelah acara wisuda selesai, semua pulang, dan hanya tertinggal 3 orang untuk membereskan berpuluh – puluh kursi yang jumlahnya cukup banyak, panel – panel yang cukup berat mungkin sejumlah beberapa puluh papan triplek, dan dilanjutkan dengan membereskan ruang himpunan yang hancur lebur berantakan seusai acara.

Ada cerita lagi pada waktu itu selepas pelantikan anggota baru, membuat acara sosial. Acaranya waktu itu adalah mengajar panti asuhan bala keselamatan di jalan padjajaran, Salvation army. Ada kira – kira hampir 9 orang yang ikut serta meski pada akhirnya hanya tersisa 3 orang ditambah satu orang lagi dari jurusan lain. Ya diri ini menjadi sadar memang di saat – saat terakhir itulah memang orang  akan semakin sedikit dan komitmen kita pun diuji. Namun ada hal baik yang didapat, pada waktu itu kegiatan kami menjadi cukup terkenal karena militansinya dan semangatnya, kita mengajar 2 kali satu minggu disela – sela liburan semester pendek.

Karena kami menjadi dikenal, kami pun mengenal senior – senior kami. Diri ini ingat berkenalan satu senior yang kemampuan teknis komputernya terbaik satu himpunan, setiap kali bertemu, kita bertukar senyum, lain kali ketemu diajarkan kemampuan teknis komputer secara langsung hanya karena dia tahu mengenai kegiatan bakti sosial tersebut. Kali lain bertemu senior yang lain yang mengajarkan manual rendering, dan kali lain bertemu senior –senior lain untuk mengajak bersosialisasi dengan band – band atau sekedar nongkrong main capsa, sampai diri ini ingat,… waktu itu kuliah nomor ke sekian, himpunanlah yang nomor satu. Kedekatan dengan senior, teman – teman seangkatan dan junior menjadi nomor satu. Proyek – proyek berdatangan kalau tidak salah puncak kegilaan ini membuat 7 proyek simultan bersamaan yang berjalan bersamaan dengan semester ganjil pada waktu itu. Ada proyek  rendering, drafting, buat maket, magang di konsultan grafis, konsultan rendering, dan konsultan arsitek. Pada waktu itu saya sehari – hari  bangun jam 7 pagi, kuliah sampai jam 12 siang , kerja di laboratorium sampai jam 6 malam kemudian, makan malam, kerja proyek dengan senior, dan jam satu pagi sudah ditunggu untuk mulai berkerja di konsultan rendering berkerja sampai jam 3 malam. Work aholic orang – orang menjuluk… Badan ini kurus sekali, diri ini ingat berat diri ini hanya 55 kilogram untuk tinggi badan 175 cm. Uang yang didapat lumayan bisa untuk dibagikan ke junior dan ada yang bisa dibelikan alat – alat gambar atau buku arsitektur . Buku yang dibelikan dari hasil magang dengan pak Baskoro Tedjo pun masih ada sampai sekarang.

Sebagai tim di saat – saat terakhir, “logistik” Di tahun kedua diri ini naik pangkat namun yang dilakukannya tetap sama. Di tahun ketiga diri ini naik pangkat lagi , namun pada akhirnya pekerjaan tetap sama. Menjadi anggota konseptor di awal kepanitiaan dan menjadi tim saat – saat terakhir di seluruh kepanitiaan, angkut – angkut, beres – beres, bersih – bersih. saya berpikir, ada apa dengan yang namanya ikatan, semua tempat menjanjikan kita bersama sebagai keluarga, saling bantu membantu, namun apa ini yang dinamakan ikatan. Selalu ada di saat – saat terakhir menjadi sebuah kebiasaan dalam kepanitiaan kemahasiswaan IMA G, hanya karena tidak ada orang yang mau. Kegiatan IMA Gunadharma pun sedang padat – padatnya, dan seperti biasa saat – saat terakhir orang pun hilang. Hilang di saat Ujian tengah semester, hilang di saat ujian akhir semester, hilang di saat pengumpulan tugas, proyeksi mimpi yang ditanamkan pengurus – pengurus pun hilang ditelan beban akademis, yang tersisa disaat – saat terakhir orang pun tidak terlalu banyak.  Akumulasi dari itu saya mendapatkan nilai E untuk perancangan. Satu nilai yang terendah dalam satu angkatan.

Ada satu cerita bahwa diri ini punya obsesi untuk membuat merenovasi ruang himpunan dengan mengecatnya. Pada hari pertama hari kamis waktu itu orang yang terkumpul untuk mengerok cat ruang himpunan ada 30 orang, hari jumat terkumpul 10 orang, dan hari sabtu tidak ada orang. Diri ini menunggu jam 8 pagi, waktu yang menunjukkan bahwa seharusnya ada yang datang untuk membantu. Diri ini  punya beberapa KP dilantai dan dua kaleng cat dari pak Suryamanto, dosen teknik bangunan arsitektur ITB. Diri ini menarik nafas untuk kemudian secara apatis, menjadi tim di saat – saat terakhir, mengecat ruang himpunan, dimulai dari mengeroknya, ada satu orang yang datang kemudian, namanya adi indra pada waktu itu, ia datang namun pergi, ia ingin mengumpulkan sampah satu itb untuk menjaga kebersihan kampus, pribadi yang menginspirasi.

Singkat kata diri ini mulai mengecat dengan roll satu persatu satu bidang, kemudian ada satu dosen, namanya pak eko purwono, dia pernah menjadi dosen pembimbing saya pada waktu tingkat dua.

“Rich, kamu ngapain ?”

“ngecat ruang himpunan pak”

“temen – temen kamu kemana ?”

diri ini diam.

“ngga worth it rich kamu ada di himpunan”’

beliau nadanya meninggi,

“iya pak”

saya pun melanjutkan kegiatan cat mengecat tanpa  memikirkan perkataan beliau lebih lanjut. Hanya saja diri ini tersenyum setelah itu,  saya kenal lebih dekat dengan beliau, dan beliau suatu saat menawarkan proyek. Dari situ satu dosen ke dosen yang lain menawarkan proyek, dan meminta jadi asisten mereka. saya bersyukur, satu titik peristiwa mengantarkan ke peristiwa lain. O iya kejadian ini terjadi setelah diri ini mendapatkan nilai E untuk studio perancangan. Dari situ diri ini belajar merancang dari orang – orang terbaik bukan dari dunia akademis saja, pak baskoro, pak hanson, pak eko purwono, pak agus, pak suryamanto, pak ridwan kamil, pak hidayat amir. Mereka mengajarkan semua ilmu mereka dengan hati. Dari situ tertanam pondasi yang sangat baik dalam memahami fungsi ruang, sekuensial, pemaknaan bentuk, dan metode pencarian bentuk. Saya mengerti bahwa merancang bisa dipelajari, dan itu bermulai dari masalah – masalah di himpunan. Kita tidak bisa mengatur apa intensi orang lain, tapi kita bisa berkaca pada diri sendiri.

Mengingat pengalaman di ruang himpunan yang kecil mungil itu dengan segala suka duka nya, menjanjikan pengalaman termanis bersama teman – teman, senior dan junior yang terbawa sampai sekarang. Segala pengalaman yang membuat kita bercucur air mata berubah menjadi jenaka, dan manis segala pengalaman manis teringat semakin manis.

Pengalaman berarsitektur, berinteraksi dengan manusia, pembentukan karakter yang membawa diri ini berarsitektur semuanya, dimanapun, kapanpun, mengajarkan hal yang sama  sama. Pengalaman menjadi anggota tim panitia yang tinggal sampai saat – saat terakhir seperti di himpunan dan pada waktu kita berkerja itu sama, dari bekerja di Bandung sama, dari berkerja di Singapura sama keadaannya, dari berkerja di Inggris juga sama, dari Australia apalagi, dari Korea sama juga, dari Jepang sama juga, dan akhirnya berlabuh kembali di DOT Workshop selalu sama, memiliki bara api semangat sangat menyenangkan. teman – teman yang menginspirasi senior – senior diatas, junior – junior dibawah, ataupun teman – teman seangkatan yang menginspirasi.

Saya kembali teringat kira – kira di tingkat tiga hanya setelah mendapat nilai E, dan menegaskan komitmen ke himpunan dengan menuntaskan kepanitiaan kaderisasi, satu teman terbaik menuliskan di buku agenda, namanya xenia, wanita ini adalah ketua tim materi yang mengketuai tim materi untuk merumuskan kaderisasi 2002, dan saya masih mengingatnya sampai sekarang, ia menulis dengan huruf italic miring

“reach the sky, coz eve if you fall down you will be still among the stars.”

Saya tentunya berhutang banyak sekali pada IMA G dan kangen sekali untuk kembali hanya untuk merasakan aura kemahasiswaan yang ada didalamnya.., mengingat kan saya pribadi untuk selalu melakukan refleksi, perjalanan hidup… dan kembali berintrospeksi. sama seperti ajakan untuk menghadiri pelantikan kemarin membuat saya kembali teringat kenangan di kampus dulu.

Kategori
blog

Pameran Rumah – Rumah Tanpa Pintu

Rumah Tanpa Pintu

“Rumah tanpa pintu adalah sebuah kenyataan.”

>>
pameran Rumah Tanpa pintu -initial definitionKami mencoba melihat realitas yang ada, pencarian sebuah kondisi dan pertanyaan, di manakah klien yang mau untuk dibuatkan rumah tanpa pintu, dan yang memang tidak mempunyai pintu di dalam rumahnya.
Melalui diskusi yang intensif dalam iterasi desain kami menduga bahwa pasti ada rumah yang secara harfiah tidak menggunakan dan mempunyai pintu. Bahwa kemungkinan rumah tanpa pintu tersebut ada di daerah informal karena mereka ada di daerah ruang publik, tanah yang tidak mereka punyai.
Kami melakukan penelusuran ke kawasan informal di daerah Jakarta. Penelusuran mencakup daerah jembatan, daerah pembuangan sampah, dan daerah pinggir rel kereta api. Setelah observasi yang dilakukan dan wewancara. Kami menarik kesimpulan bahwa memang sudah ada rumah tanpa pintu, yaitu rumah yang dekat dengan kemiskinan. Memang ia tidak memiliki pintu tapi ia juga memiliki salah satu syarat untuk tidak memiliki pintu yaitu memiliki aspek kemiskinan.
Menurut Oscar Lewis  “Kemiskinan  didefinisikan sebagai gaya hidup yang bersifat integral, di mana terjadi bentuk-bentuk tertentu dari penyesuaian dan partisipasi terhadap dunia yang ada di sekelilingnya.” (Oscar Lewis). Oleh karena itu kami meyakini bahwa masyarakat miskin adalah masyarakat yang kreatif, dalam keterbatasannya mereka tetap mampu menginterpretasikan lingkungannya. Mereka bisa tinggal di tempat-tempat yang tidak terpikirkan sebelumnya, atau di tempat-tempat berbahaya. Mereka memanfaatkan berbagai hal yang mudah mereka dapatkan untuk membantu kehidupannya. Pola ide bertahan hidup seperti inilah yang menjadikan kemiskinan adalah sebuah kebudayaan, yang banyak berkembang di perkotaan.
Kita ambil contoh kota Jakarta, kota yang menjadi tujuan banyak orang dari desa untuk mengadu nasib. Sebagian besar penyebab kemiskinan di Jakarta adalah urbanisasi. Karena keterbatasan modal dan mahalnya biaya hidup di ibukota, mereka akhirnya menempati rumah, jika-boleh-dikatakan-rumah, temporer di sudut-sudut kota. Tempat huni ini biasa berada dekat dengan air, dekat dengan sumber pencaharian, atau di ruang-ruang sisa.
Melalui berbagai observasi, kami menemukan rumah tanpa pintu. Rumah dimana mereka benar – benar tidak memiliki pintu. Mereka tidak memiliki kuasa untuk mempunyai pintu. Ruang itu terjadi begitu saja. Terbentuk dari barang yang ada. Sebagai potret realitas kota besar Jakarta.
Bahkan eksistensi mereka pun dipertanyakan, Inilah proyek yang akan kami buat, kami menemukan klien. Sebutlah nama mereka Pak Ari dan Bu Sri. Mereka punya dua orang anak, dengan penghasilan dibawah 50000 rupiah satu hari, mereka tidak mendapatkan tunjangan dari pemerintah, dan mereka mencoba bertahan hidup untuk bisa makan setiap hari.
Yang penting bagi mereka adalah rumahnya murah, mudah dibangun, dan hemat energi. Lahan mereka cukup besar karena merupakan lahan bersama dengan kerabat yang lain.  Mereka ingin rumahnya dapat digunakan oleh kegiatan bermain anak-anak kerabat atau tetangganya. Untuk itu tanpa pintu menjadikannya mudah dimasuki dan memberi kesan “mempersilakan”. Bagi mereka, dunia publik dan privat hanya ada pada waktu buang air.
Proposal ini menciptakan kondisi dari  beberapa opsi desain dan kondisi dimana ruang yang sangat efisien, dan hanya 1 tipe studio dengan 1 kamar tidur dengan beberapa akses. Penghuni rumah ini bertindak sebagai penjaga rumah dimana tidak ada ruang tamu. Hanya 1 buah kamar tidur. Tidak ada isu keamanan.
Proses pencarian ini membuat kami untuk melakukan refleksi mengenai kehidupan dan pesan moral terhadap proses hidup kita sebagai manusia.
Credit to the team 
Leader :  Realrich Sjarief
Anastasia Widyaningsih
Andhang Trihamdhani
Bayu Prayudhi
David Sampoerna
Indra Dwi Nugraha
Morian Saspriatnadi
Silvanus Prima
Apriani Kurnia Sarashayu
Endy
Liana Sastro
Silvia Adityavarna
William steviene
Vincent Edson Ho
Photographer  :
Anastasia Widyaningsih (all photos except mentioned belom)
Credit to    :
Immanuel Antonius  (photo slide 7)
Antyo Rentjoko  (photo slide 5)
Adhi Wicaksono  (photo slide 11)
Hino (editing photo and uploading)
Kategori
publication

Lobang Kayu is in Archinesia 3rd Edition : Does Architecture shape the city or vise versa ?

Lobang Kayu is in Archinesia 3rd Edition : Does Architecture shape the city or vise versa ?

Does Architecture Shape the City or Vice Versa ?

When we first set foot on a city, the first objects we are aware of are the buildings standing on it, because architecture is a visual object that most strongly shape the face of any city. Then, inevitably, the question arises in our minds: “Does architecture shape the city, or vice versa?” We asked the question to several urban experts and they all said that a city is not only shaped by its architecture, but also by its government policies, politics, economy, capital, people, transportation, and even by events held inside it. Although—undoubtedly—architecture is often used and exploited in pursuit of the ambition to create a memorable city, so much so that many cities in the world race to invite world renowned architects—or star architects, if you will—to design a number of awe inspiring urban objects or architecture. And oftentimes these constructions are nothing more than display ‘objects’, or will someday become one.

In this volume, ARCHINESIA Bookgazine observes and discusses cities in their relation to architecture. Jakarta is recently criticized by its own governor as a city bereft of identity with ‘faceless’ and generic buildings standing on it, making it identical with thousands of other cities in the world. But is identity truly the most important thing to develop in a city that is often considered grievously ill by its own citizens? We invited seven experts to give an answer about the architecture of Jakarta. Post-war Cambodia is also interesting to peruse. This Southeast Asia country is currently rebuilding its cities in the aftermath of a long fought war. On the other hand, London is changing the face of its eastern parts after the Olympic Games. Melaka, a city recognized as a world heritage city, is struggling to conserve its old architecture. Singapore, on the other hand, invited world renowned architect to design and construct a new iconic building on the Marina Bay Sands area in an attempt to fulfill the ambition to be among the top cities in the world. Almere, a small town in the Netherlands built several eye-catching buildings to grab the attention of not only the world, but also its own citizens.

The minuscule observations of the abovementioned cities are of course insufficient to answer all our questions about cities and architecture. But they will at least try to give you an idea of how the relation between a city and its architecture can affect each other, how architecture may fill a void, or even have its functions questioned and contested, since, in essence, architecture is meant to improve the quality of the people that conducted their activities inside it.

Bibliography

http://archinesia.com/backissue/2

Preview

Kategori
blog

I love her

this is my domain, let me express my feeling…I love HER.

our marriage is on 25th September, hardly can’t wait for the big day…