Kategori
DAILY

Cherry

Hope is the thing with feathers that perches in the soul and sings the tune without the words and never stops at all…

Hari itu hari Jumat malam jam 23.30. setelah diri ini berdoa untuk bayi kami, aku pun tersenyum, karena ia begitu cantik, ingin kubawa bayi ini  ke Laurensia. Namun petugas sudah akan membawanya pergi untuk memandikannya. Rambutnya ikal, hidungnya mancung, perawakannya mungil,jemarinya lentik dan kulitnya putih bersih. Kukecup keningnya, dan setelah itu diriku pun bergegas untuk menunggu di depan ruang operasi, pintu kamar operasi pun belum terbuka. Diri ini sudah menunggu 1 jam namun operasi belum juga selesai.

Diri ini akui bahwa momen – momen menunggu saat ini tidaklah menyenangkan, aku yang selalu berpikir mengenai bagaimana dokter melakukan operasi terhadap Laurensia, bagaimana ia dibius sampai tidak sadar. Dan bayangan – bayangan yang terbersit mengenai apa saja yang dilakukan dokter di dalam ruang operasi. Ya Tuhan semoga ia baik – baik saja. Untungnya dokter yang menangani Laurensia adalah dokter terbaik di kalangannya, dokter yang cekatan, muda dan masih keluarga dekat, jadi diri ini menyerahkan sepenuhnya kepada tangan terampil dokter yang menanganinya. Dokter Cindy namanya, di rumah sakit Pluit.

Akhirnya satu perawat keluar “Ibu sedang dijahit pak, sudah selesai operasinya, sekarang dokter sedang menunggu kondisi ibu stabil” Satu perawat pun keluar untuk menenangkan. Setelah itu Laurensia pun didorong di atas tempat tidurnya keluar dari kamar operasi, hati ini pun gembira luar biasa. Doa ini terkabul, ia baik – baik saja. Syukurlah. Diri ini berterima kasih luar biasa terhadap dokter yang membantu proses operasi Laurensia termasuk suster dan asisten yang menanganinya.

Satu malam itu aku bisa menghargai kebersamaan kami yang luar biasa di kamar rawat inap rumah sakit. Laurensia pun sudah mulai sadar sepenuhnya dan diri ini pun sangat bersyukur.

3 hari yang lalu, …

Pagi itu hari rabu. Diri ini ingat, masa kehamilan Laurensia sudah 7 bulan, dalam hati yang terdalam, rasa takut selalu ada. Kehamilan adalah proses yang indah dan juga beresiko bagi ibu dan anaknya kata dokter. Dan dalam hati ku selalu berdoa Semoga kehamilan Laurensia baik – baik saja dan tidak ada masalah. Maklum kami belum pernah mengalami ini. Satu pengalaman pertama dalam seumur hidup kami. Ini kehamilan pertama. Pada kehamilan 3 bulan pertama dokter mendiagnosa bayi kami perempuan. Setiap saat aku mendoakan supaya bayi ini bisa menjadi berkat untuk sesama, seperti kebahagiaan yang dibawakannya ke keluarga kami dalam kehamilan Laurensia.

Seperti satu hari biasa, hari itu adalah hari rabu dan diri ini harus berangkat untuk mengajar , rutinitas pun dijalani dengan kesibukan kami berdua yang padat. Diri ini sendiri baru pulang mengajar di Karawaci, baru saja mengobrol bersama rekan – rekan dosen disitu dan juga mahasiswa yang ada di studio arsitektur. Kemudian Diri ini mampir sebentar ke kantor memberikan beberapa masukan terhadap desain yang sedang dikerjakan. Laurensia pun akhirnya masuk ke kantor untuk mengingatkan karena hari sudah malam dan kami punya janji untuk bertemu dengan dokter, untuk cek kehamilan 7 bulan.  Kami pun bergegas ke satu rumah sakit di bilangan Jakarta Pusat. Pak Misnu, sopir keluarga pun sudah menunggu.

3 hari yang lalu Wanita terbaikku menanyakan kepada diriku mengapa bayi kami di dalam kandungan tidak seaktif biasanya. Aku  menjawab untuk menenangkan istri, tidak apa – apa mungkin ini wajar, kita kan akan ketemu dokter sebentar lagi. Pada waktu itu sekitar jam 9.45 malam dan kami baru masuk ke ruang tunggu setelah lama menunggu, urutan terakhir setelah 1 setengah jam lebih menunggu. Pada waktu itu kami bisa melihat detak jantung bayi kami berdua, ada yang berkedip – kedip di layar USG, rasa khawatir pun menjadi pupus. Ini anaknya baik – baik saja, kata dokter mengiyakan, ketika Laurensia bertanya.

3 hari kemudian

Nama Anak kami adalah Cherry, bagi kami dia adalah satu malaikat yang akan mewarnai orang – orang sekitarnya dengan kasih sayang. Memberikan kebahagiaan setiap saat pada saat ia ada sama seperti ia memberikan kebahagiaan dalam waktunya yang sebentar di dunia ini.

Tidak ada yang bisa membayangkan ketika 3 hari kemudian, pada hari jumat pagi. Cherry  meninggal. Ia didiagnosa kehabisan air ketuban, dan Cherry terlambat dikeluarkan oleh karena itu ia meninggal. Tidak ada yang percaya bagaimana ini terjadi dan mengapa ini bisa terjadi pada keluarga kami meski ada beberapa puluh argumentasi dan hipotesa mengapa ia tidak ada, tidak ada gunanya mempersalahkan siapa – siapa. Memang sudah jalannya seperti ini.

Pikiran ini pun kembali ke hari jumat malam pukul 23.30.  ketika diri ini sedang menunggu operasi Laurensia untuk mengeluarkan Cherry dari kandungan. Operasi Caesar yang dipimpin dokter Cindy.

Satu berkat ini datang 7 bulan yang lalu, dan kemudian begitu mudahnya ia pergi, satu kebahagiaan ini pergi begitu saja di hari ini. Di bulan ke 7 kehamilan Laurensia. Kami diajar mengenai arti kehilangan dalam kehidupan.

Aku berdoa sepenuh hati, kupeluk Cherry dengan derai tangisan, kesedihan yang tidak tertahankan. Anakku begitu cepat engkau pergi, papa dan mama sudah punya begitu banyak mimpi yang indah bersamamu, sayang sekali Tuhan punya rencana lain terhadapmu nak.

Hanya kurang dari 1 hari,diri ini bisa menyentuh memeluk Cherry untuk pertama kali dan terakhir kalinya namun kini ia pergi. Aku pun merasakannya ketika abu itu ditebarkan di laut, Ia melindungi perbuatan, pikiran, dan perkataan kami berdua dalam cinta kasih terhadap sesama. Hari Jumat pada saat itu adalah hari yang penuh dengan kesedihan, kehilangan dimana kami kehilangan Cherry. Diri ini tidak bisa membohongi siapapun untuk mencoba tegar dan belajar dari kehilangan ini. Namun aku percaya, ia ada di sekitar Laurensia dan diri ini untuk menjaga derap langkah kami.

Diri ini pun tersenyum ketika dalam satu hari setelah operasi, Laurensia sudah pulih kembali , ia sudah mulai bisa berjalan seperti biasa, kemauannya kuat untuk bangkit. Aku berbisik dalam hati. Cherry terima kasih sudah jaga mama.  Satu minggu setelahnya, satu teman dari orang tua kami, berbisik. Pada waktu itu, pagi – pagi setelah dimandikan, Cherry ada di rumah duka. Ia melihat Cherry ada di samping kami. Teman dari orang tua kami itu berbisik, ia sudah menjadi malaikat pelindung keluarga.

Kategori
primary thoughts

One Note to Thinking Drawing Working Drawing Class – one class of UPH Architecture

Arum dalu - detail2

Dear Class,

I hope you do well. I was thinking to write a note, a simple one, to conclude what we have worked on in the class. I was thinking that the effort of practicing architecture needs many hours, much time. I believe there are arguably nobody knows on how much the time that is needed to practice design. I think that is one question we might need to ask our self as designer.  How much is needed?

Grumpy architect will say I work too much in architecture, its unfriendly profession, waste too much time. Positive architect will say I still have many things to learn. I wish that we have more than 24 hours in a day, I wish more, hunger for more learning, more thinking, more for thoughtful action.

So I never say that this class as working drawing class only. I would say its thinking drawing – working drawing class. The reason is simple because it involves the understanding of knowledge to build architecture, Knowledge of creating space. I think that we can’t draw one working drawing if we don’t know how to draw, part of it about knowing what you want to draw. It’s about knowledge of understanding the earth, the universe, the universal law to the most detail part of the constructions. The word thinking taught us about our body of knowledge, the knowledge to make a good space. So far we have gone to several built design which was designed by architects, built by builder. We have learnt how to draw one design which was pushed harder not only pragmatic intention but a design that is responding to express the beauty of constructions, the beauty of the material, the beauty of the honesty of covering the structure, the property of the material .To invent the art of building, you need to master the knowledge, the knowledge of the materials, the beauty of it, even higher knowledge that is the beauty of the space which is limitless for architect.

Another part is about exercising your hand to be skillful, on top of the invention of the CAD to answer the market needs in the name of efficiency. I do believe that the center of the practice is the human touch, your hand. I favor one quote from one of my favorite architect he stated

“Works of Architecture are discovered, not designed. The creative process is a path of discovery.  The hand makes drawings and arrives at solutions before the mind has even comprehended them. It is very important to me to make buildings that work like instruments. They respond to light, to the movements of the air, to prospect, to the needs of comfort. Like musical instrument, they produce the sounds and the tones of the composer. But I’m not the composer. Nature is the composer. The light and sounds of the land are already there. I just make instruments that allow people to perceive this natural qualities.1 

he is Glenn Murcutt, I think it is indeed true in the experience of practicing architecture. The architect’s hand need to be trained from the very beginning. That’s why some of the task given every week during the class drove your hand drawing skill.

I hope what you all learn hopefully can help the understanding the thinking behind the drawing, one tool that is a bridge between our design thinking to the builders. I think it’s not easy in one stage to understand the fingerprints of finishing materials, about the tectonics the construction of the materials, about the economic logic behind using the material, about defining how to use materials gently. It’s one fulfilling experience for architects.

Learning from the past and creating the future are both knowledge we have to master. The process itself is not easy but training your hand, your knowledge and your mind has been always my concern.

I must say congratulations for staying in the class to the willingness to open your architect’s eyes. The eyes of the willingness for opening new idea, like what Bjarke Ingels wrote “YES is more”. I do believe there is one culture above all of the design culture, the culture of creating passion inside us as an architect. You need to train this as it will show in your character, later on it will help shaping  your chemistry with your client and your peers.

To the people in the class, thank you for the exploration that you showed, I do hope that you had such great learning curve, like what I had in class with you.

Best wishes,

Realrich

glenn
I visited Glenn’s exhibition at Museum of Sydney

376443_10151054072006240_1993132537_npicture by Bunga Yuridespuspita

Kategori
primary thoughts

House of Lake’s View

Designed for a prominent bussiness man family, this house was conceived as a modern rationalist house with neo modernist influence. Located in a quiet prestigious residential neighbourhood of Alam sutera, a satelitte city one hour west of Jakarta. The house consists of clustering of buildings arranged by wonderful vistas of the site to the lake. The overall composisiton ties these buildings together in a harmonious arrangement, informed by the chinese belief that nature is at its most beautiful when considered in relation to the man-made. The landscape itself arranged by several vistas and cluster of plantings reflecting the Indonesian tropical Landscape, the landscape of the tropical climate.

The circulation through the building is organised aroung a sequence of views that progressively move in hierarchy to more private area. The attention of to the play of lifht and shadow, created through a combination of materials and artificial and natural light is fundamendal to the design of the house and evokes the quietude of such a retreat house which stated by its gentle architecture.

Kategori
primary thoughts

Cinematic Garden residence

20120715-124349.jpg I just designed one house called cinematic landscape house, what is cinematic ? It’s based on the sequenctial view approach in designing the space. Each corridor has each view to capture. The corridor and the opening relates itself to the openspace which is connect the house to the outside.

20120715-225555.jpg

20120715-225639.jpg

Kategori
primary thoughts

Centre of Void Residence – 200 sqm house

The concept of the house focuses on the creating an ecological design of house which is one small design 200 sqm house. The design allow natural fresh air by the design of the green slot which also allow natural indirect lighting coming to the space. The shape itself combine the 2 intentions, first intention is well refined detail using geometric clear partii and second is maximise space through space utilisation. The house is still in 90% nearly finished. Will update soon with many pictures.

client : – Cesar Lukito Family

Kategori
DAILY

Cerita di tahun kelima – Pelajaran terbaik

For last year’s words belong to last year’s language andnd next year’s words await another voice…And to make an end is to make a beginning. TS Eliot

Diri ini akan membagi – bagi cerita ini menjadi beberapa cerita kecil, sebagai refleksi kehidupan yang begitu indah untuk dijalani, dan menyimpan banyak hal untuk dipelajari.

Malam ini …

Malam ini sunyi sepi, waktu tertera pukul 10. 30 malam, baru saat ini aku bisa menarik nafas untuk melegakan diri dari segala macam aktifitas yang ada di kota Jakarta ini, hari ini hari terakhir tanggal 31, bulan Desember, tahun 2011.

kira – kira sudah 3 bulan berlalu sejak diri ini hidup berdua dengan wanitaku. Diri ini tidak sendiri lagi, kami sudah bersama, dari masa penantian yang terasa sungguh lama, beberapa tahun hubungan jarak jauh yang terasa tak menentu dari perjalanan diri kami berdua antara London, Sydney, Seoul, dan Jepang. Di saat itu waktu – waktu seakan – akan bermain dengan ritmenya sendiri, ia berkata ada perjumpaan ada juga perpisahan, penuh dengan masa penantian antara 2 musim dan 4 musim Negara yang berbeda.

Lalu aku teringat beberapa bulan yang lalu mungkin 2 bulan yang lalu, diri kembali ke London hingga perjalanan ke bagian utara scotlandia. Angin yang meniup perlahan – lahan dengan temperatur yang mulai memasuki musim gugur dimana daun – daun sudah berubah menjadi kuning kemerahan. Oleh karena itu mungkin jalanan di kota Durham menjadi begitu Indah dalam horizon kota medieval yang lengkap oleh menara gereja yang juga merupakan salah satu gereja terbesar di Inggris. Diri ini berdua – dua juga berjalan – jalan ke kota York yang sangat memukau dengan peninggalan – peninggalan bersejarahnya, ilmu pengetahuan yang ada di setiap pojok – pojok kota meninggalkan torehannya dengan buku – buku yang menurut penduduk setempat buku biasa. Namun, itu buku – buku langka.

Masa lalu …

Ada kalanya pikiran ini teringat ketika saat kedua bertemu dengan wanita terbaikku, Laurensia, saat itu kita sedang duduk berdua di tepi pantai St. Ives, salah satu pantai terindah di Inggris bagian selatan. Inggris saat itu sedang dalam cuaca terbaiknya, musim panas dimana suhu 20 derajat ada pada rentang waktu 2 bulan dalam satu tahun. Diri ini duduk di atas bebatuan karang bersama wanita terbaikku. Kami bercerita keseharian kami masing – masing, cerita mengenai jaman sekolah dahulu. Jaman SD SMP SMA Ataupun bagaimana hidupnya sehari – hari di klinik. Aku ingin sekali lebih mengenalnya. Kami tertawa dalam canda dan obrolan, aku menengok keatas ada burung – burung pantai mengelilingi kami. Laurensia dan diri ini kemudian mendaki puncak yang tingginya 50 meter, St. Ives memang indah, ia memliki pantai, namun juga bukit yang sangat indah. Di puncak bukit itu ada mercusuar dimana kita bisa melihat ujung terakhir sisi selatan dari pulau Inggris. Namun Waktu berkata lain, ada perjumpaan ada juga perpisahan. Tawa itu disambut oleh airmata tidak lama pada saat perpisahan itu kembali tiba.

Ada kalanya diri ini teringat untuk pertama kalinya menangis untuk sebuah perpisahan. Hati ini menangis ketika ia pergi.

Aku masih ingat perbedaan waktu kami adalah 8 jam, GMT +8 dengan GMT 00. Wanitaku terbangun jam 4 pagi untuk kita bertemu. Jam 4 pagi berarti di London adalah jam 10 malam, berarti kami punya waktu 2 jam sebab wanitaku akan bersiap – siap untuk pergi ke daerah pinggir Bogor karena ia harus menunaikan masa baktinya ke Negara sebagai bagian dari tugas.

Di Inggris, tergantung tempat kerja, rata – rata orang akan menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat kerja selama 45 menit untuk berdesak – desakan di kereta daerah central London ataupun memilih bus dengan jarak yang lebih jauh. Begitupun diri ini, aku biasa bangun pukul 7, untuk kemudian selama 1 jam pergi ke kantor, 1 jam kubutuhkan untuk perjalanan karena jarak kantor dan rumah yang cukup jauh.

Rutinitas itu ada ketika pada saat diri ini berangkat kerja ia akan pulang kerja, pada saat aku mulai berkerja, itulah saat ia tidur. Pada saat diri ini makan siang, itulah saat ia bangun kembali,

Ada kalanya aku akan memanggil dengan telefon selularku di saat – saat makan siang, memanggil dengan telepon skype, telepon yang dibeli di daerah regent street karena paket nya yang murah, layanan itulah yang paling ekonomis, biaya untuk menelpon ke Jakarta luar biasa mahalnya, dan juga kebalikannya. 10 pound untuk satu kali panggilan selama 30 menit. 10 pound identik dengan 2 kali makan siang pada waktu itu.

Hampir setiap siang diri ini akan tertidur di taman Battersea di terik matahari yang merupakan cuaca yang terbaik di bulan July saat itu dengan mengobrol selama 30 menit setiap harinya di musim panas sesambil menikmati makan siang. Diri ini sangat merindukan suara wanita terbaikku,

“yang kamu sudah makan ?, makan apa ?”

kami akan membicarakan kembali soal keseharian, rutinitas yang menyenangkan sehari – harinya.

Ada kalanya waktu aku pulang ke kantor itulah saatnya wanitaku tidur. aku akan pergi makan malam, atau sekedar memasak untuk teman terbaikku di apartment, Jefferson namanya, masakan kesukaannya adalah sambal goreng hati dengan nasi biryani, selain sayuran dengan cah saus tiram tentunya. Pada waktu Jam 12 malam waktu London, aku menghabiskan beberapa saat untuk berkerja sesaat selama beberapa jam lagi, aku akan tidur jam 3 – 4 pagi seperti biasa. Diri ini biasa tidur cukup malam hanya karena itulah, wanita terbaikku sudah bangun dari tidurnya.

Aku teringat sering kali diri ini berangkat ke kantor dalam kondisi kurang tidur, dan berpacu dengan dateline yang keras. Seringkali juga perbedaan waktu menyebabkan, terbalik – baliknya waktu tidur hanya untuk bertemu sesaat. Hal ini berlanjut terus selama beberapa tahun kita bersama, aku hanya bisa menahan diri untuk tidak bersedih dalam penantian dalam perjumpaan, ketika kita terpisah. Senyum pun ada ketika kita berbicara sehari – hari dalam jarak yang mengukung..

Diri ini mengerti hal ini tidak mudah bagi kami berdua, namun kenangan – demi kenangan itupun terasa begitu indah. Diri ini merasa Satu tahap demi satu tahap sudah berlalu, seperti langkah dalam hidup ini, masa lalu meninggalkan kenangan yang manis dengan suka dan dukanya.

Ketika cincin itu saling dipasangkan dan janji pernikahan selesai diucapkan. Aku melihat wanita yang disampingku, dan aku tersenyum, dan bersyukur untuk kesabaran satu orang Laurensia yang terbaik di dunia, dengan kenangan yang terindah yang pernah diri ini dapatkan.
 

Kehamilan pertama …

Saat – saat yang terbahagia tentunya ketika mengetahui bahwa Laurensia hamil. Puji Tuhan, diri ini melompat kegirangan, diri ini akan menjadi ayah. Waktu seakan – akan terhenti dalam keheningan dan kesukacitaan. Aku sungguh mengucap syukur atas berkat yang diberikan.

Dari dokter, kita mengetahui bahwa usia kandungan laurensia sudah 1 bulan, kemudian 2 bulan, kemudian 3 bulan. Janin tersebut sudah memiliki jantung, tangan, kaki, luar biasa. Aku setiap hari berdoa supaya anak ini akan menjadi anak luar biasa dengan sifat baiknya untuk sesama. Laurensia berkata “yang aku senang seakan – akan ada yang hidup di badanku, meskipun aku pusing dan mual sehari – harinya, namun aku tidak sabar untuk melihat si baby setiap bulannya.” Pada saat itu aku teringat Laurensia muntah hampir setiap harinya, berat badannya pun turun. Wanita yang selalu bersyukur inilah yang aku yakin akan menjadi ibu terbaik bagi bayi ini. Tidak banyak orang seberuntung diri ini untuk memilikinya.

Diri ini berpikir Ayah dengan segala usahanya menempa dirinya sebagai tulang punggung keluarga, namun lebih luar biasa para Ibu dengan segala suka dan dukanya menempa dirinya dengan kasih yang luar biasa melalui proses kehamilan dan kelahiran.

Rutinitas

Ada kalanya aku bangun jam 6 – 7 pagi setiap harinya, untuk makan pagi bersama, mulai berkerja untuk mempersiapkan pekerjaan bagi staff kantor yang datang biasa sedikit siang. Kami akan makan siang setiap harinya, untuk kemudian terkadang aku menghabiskan waktu satu hari di kampus untuk sekedar bertemu dengan mahasiswa, untuk tutor singkat ataupun untuk memberikan kuliah, atau asistensi di studio arsitektur. Malam – malam kira – kira pukul 7 aku akan selesai dengan rutinitas pekerjaan ataupun rutinitas mengajar, dimana terkadang diri ini harus berkerja ekstra sampai tengah malam. Terkadang seperti saat – saat dahulu diri ini harus menahan kantuk untuk berkerja sampai jam 3 – 4 pagi atau tidak tidur sama sekali.

Secara rutin aku akan makan malam bersama setelah laurensia pulang dari klinik. Terkadang aku hanya tinggal di rumah bersama laurensia di hari sabtu dan minggu untuk menikmati kebersamaan di sekitar rumah.

Atau terkadang waktu yang tidak banyak dan kita juga pergi ke tempat yang itu – itu lagi, kegiatan yang sama lagi. Namun semua rutinitas yang terjadi begitu indah, sekali dijalani, ingin diulangi, terus menerus. Hidup ini terasa sangat menyenangkan.

Kantor terbaik di dunia …

Kira – kira setahun yang lalu di bulan November, firma DOT dibentuk. Suatu waktu diri ini ingat dalam perjalanan pulang dari Foster and Partners, bersama teman terbaikku, Albert namanya, kita bersenda gurau mengenai nama satu studio arsitek, studio arsitek yang baru, nama DOT pun muncul. Diri ini sendiri juga seringkali tidak menyangka firma arsitek ini bisa bertahan dan sedikit menorehkan prestasi sampai sekarang.

Seperti biasa kantor adalah satu tempat untuk berkerja, adakalanya ia dipisahkan dari kehidupan pribadi orang – perorangannya. Ada kalanya juga ia menjadi ajang pertarungan, kompetisi, pertaruhan karir, tempat eksistensi diri. Diri ini selalu merasakan dimana lingkungan kerja seperti ini, sejauh diri ini melangkah dalam perjalanan dari Singapore, London, Sydney, Jepang, Korea, ataupun di tanah air. Rata – rata diri ini berkerja 12 jam di kantor, ataupun kadang- kadang 16 jam di masa – masa dahulu. Dari kondisi yang ada, mimpi pun mulai ada untuk membuat kantor terbaik di dunia.

Apalah artinya sebuah nama, DOT hanya sebuah titik. Ada kalanya diri ini berkaca kebelakang. Bagaimana kita merintis firma ini dengan orang – orang terbaik. Mulai dari hanya 2 orang, kemudian berkembang menjadi 3 orang, kemudian tengah tahun kita sudah memiliki 6 orang, dan sekarang ada 12 orang di DOT Workshop, seluruhnya orang – orang terbaik dan paling kreatif dengan passion yang sangat luar biasa. Tidak banyak firma yang memiliki keberuntungan dengan adanya orang – orang ini di dalamnya, yang saya tahu Foster and Partners salah satunya, oleh karena itu ia bisa berkembang menjadi 1500 orang dengan tidak mengorbankan ide – ide yang brilian.

Adakalanya diri ini tertawa – tawa dengan segala ide – ide yang kreatif di DOT, saat – saat di kantor menjadi salah satu saat yang terbaik dalam rutinitas yang ada. Di dalam satu tahun terakhir ini, DOT sudah mengerjakan hampir 80 pekerjaan, memenangkan 6 penghargaan desain, berkerja sama dengan developer – developer di Indonesia, mengerjakan beberapa project di Mexico. Kantor berkembang pesat dari 2 menjadi 12 orang. Kantor yang tadinya hanya berupa tempat kosong, menjadi tempat yang diri ini sendiri cintai dengan passion yang ada di dalamnya.

Melihat kebelakang diri ini serasa –tidak percaya dengan segala yang ada, Diri ini hanya bisa mengucap syukur atas segala yang ada, dengan penuh kerendahan hati diri ini mengucapkan terima kasih atas segala perjuangan DOT atas kecintaannya akan profesi yang diri ini juga cintai.


Resolusi Tahun Baru … hidup ini hidup biasa

Untuk menutup cerita di tahun kelima, diri ini akan membagi pengalaman yang tidak terduga, dengan pelajaran terbaik yang justru datang dari seorang supir taxi.

Supir taxi ini mengantarkan Laurensia dan diri ini dengan biaya hanya 50 pound dari kota London ke Stansted yang berjarak 1.5 jam – 2 jam perjalanan. Biasanya, taxi akan mencharge 80 pound. Namun hari itu terasa berbeda. Kami berbicara mengobrol panjang lebar, ia bercerita dirinya yang asal Saudi Arabia, ia adalah seorang muslim. Ia berkata,

Realrich, sekarang banyak orang membunuh orang lain mengatas namakan agama, namun mereka hanya lapar, Agama pun menjadi pelarian. Oleh karena itu setiap kali kami bisa makan sesuatu, kami akan berkata alhamdulilah, mengucap syukur, bersyukurlah karena pada hari ini kamu masih bisa makan.
Dan jangan lupa, berikan sedikit hakmu untuk orang miskin, bagi kamu mungkin itu tidak berarti namun bagi mereka itu akan sangat berarti. Ada dalam perjalanan hidupmu dimana semua menjadi sangat tidak pasti dan timbul keragu – raguan seperti yang dialami oleh banyak orang. Pada saat itu tiba, berderma lah, dan berdoalah, maka jalan akan ditunjukkan kepadamu. Dan itu akan membuka matamu, dan engkau akan menjadi cahaya bagi orang lain.
 
Dan untuk kekasihmu, jagalah ia, di masa – masa pertama, kalian akan saling menyesuaikan diri, yang terpenting adalah istrimu, [pada saat itu Laurensia tertidur disampingku], apapun yang diperbuat orang lain, apapun keragu – raguan yang muncul dalam hidup, jagalah istrimu, karena hidupmu akan terberkati dan hadiah yang terindah dari Tuhan yakni anak – anak akan tiba pada saatnya dimana kebahagiaan tidak bisa terukur dari uang semata.

Aku seakan – akan bermain – main dengan resiko dalam pikiran dan perbuatan, karir dan pekerjaan, masa lalu – masa depan, puisi masa lalu, dan tantangan masa depan. Pelajaran terbaik seakan – akan muncul begitu saja, tanpa terduga. Ku yakin Tuhan mengirimkan orang – orang terbaiknya untuk saling bertemu.

Diri ini seakan – akan bernostalgia dengan romansa, romansa yang menggebu – gebu di dalam hatiku, romansa dalam keseharian, romansa dalam tutur kata, sikap, dan perbuatan. Aku belajar untuk mencintai seumur hidupku, demi Laurensia. Wanita terbaikku. Aku belajar menghargai waktu, belajar menghargai kebersamaan.

Puji Syukur kuhaturkan akan tahun yang luar biasa dengan berkat yang berlimpah, hadiah natal yang sangat indah, kebersamaan dengan laurensia dan calon bayi merupakan berkat yang tidak ternilai,

Di akhir perbincangan kami, dia pun berkata,

“hey Realrich, do you know that good people meet good people, so don’t worry about life. Just do your best.”

pada waktu itu Aku pun tersenyum, dan bersyukur, saat itu Laurensia pun bangun, dan

aku menatapnya dan jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya.

Kategori
thoughts

Stitching Rural – City – one studio @ UPH Architecture 2012

419875_1957733040235_995222505_n
The studio was joint workshop studio with the team of National University of Singapore led by Wong Chong Thai and team of University of Pelita Harapan consists of Tatyana Kusumo, Kartika Sari, Adi, Maria Vanessa, Raymond, and Jovita led by Realrich Sjarief. There were two reviews arranged in the studio which the first review was hosted by NUS in Singapore by Wong Chong Thai and the second review was hosted in UPH by having David Hutama  and Ivan Kurniawan Nasution as guest reviewer.
The research project focused on student’s attention on understanding cities, as they are, the predictability of formal and unpredictability of the informal. The team chose Kampung Luar Batang:a precinct that supports old city centre of Jakarta and Alam Sutera precinct that is new upcoming development as the pilot project of joint collaboration studio. The studio consisted of main key actors of the urban design precincts between government, developer and student as urban designer and architect. In many ways, those locations resemble the location outcomes of business as usual paradigm, which resulted on core precincts, and supporting precincts, which are the area of marginalised worker. It consist mutualism relationship between each other include the marginalised workers require space to live, work and play. In a sense it needs one way to answer how far the equilibrium could be offered by one design scheme to bridge formal – informal, peri – urban, rural – city, desa – kota.  The process in the studio was to find the answer of this question.
The first session of the studio was to generate urban design scheme and the second stage was to bring the urban design scheme to architecture proposal which in overall consists generating vision, and implementing the vision into several stages depends on the affordance of the situation addressed. Urban design projects vary in size from new town to more frequently, neighbourhood precincts and blocks of cities. Before the studios turned our minds to how a one scheme could be, sustaining our attention through all hours of the night, th
e act of drawing the diagrams, the grid, the buildings, trees, median strips and pockets of grass invited by the context is well written by the need of the people.  The team studied by research the need of the people by interviewing, imagining, and doing research on architect’s paradigm. I believe that the strong argument is based on evidence. So the part of the studio was under standing paradigms that shape the city. In the studio 20 case studies and literatures were discussed to form the thinking of the students. It helps to gain understanding the architect’s paradigm that shape our city which focus on paradigm such as: empiricist, rationalist, neo-traditional, new urbanism, deconstructive city. The studio studies the paradigm that shapes our city from literature study, on site study.
            The process of finding the answer is always interesting to see.  The more interesting thing happened when the team tried to understand how the people try to adopt change and growth, maintains their sense of community. Finally the successful scheme answered that studio inquiry that there are many chances to blend the informal and formal, the poor and the rich, to collaborate with developer, government; architect should respond to investigate all of the opportunities. Which then I believe by doing so architecture will respond to the beauty of stitching the opposites.

474157_1934018287381_1752447371_o

Design Review session at NUS Singapore [Wong Cong Thai’s Team and Realrich Sjarief’s Team]

Team : Kartikasari, Tatyana Kusumo, Jovita Listyani, Maria Vanessa Yulianti, Adi Nugraha, Raymond Aditya

537628_10151357485836240_1418789678_n

Presenting Kampong City’s scheme for ITDP Seminar

576247_10151277947921240_1092006847_n

Presentation by Kartika At Jakarta Architecture Triennale 2012

555918_3782801001766_1180540515_n

Exhibition at Place Making Exhibition @ Dialogue Art Gallery
Pictures by Raymond Aditya, Ike Puspa, Realrich Sjarief