Kategori
blog

Smile Little One

http://www.youtube.com/watch?v=_zwh9dPyidA

dokter : “Bu bu, tangannya mengepal bu, saya dipelototin, ini megnhadap ke saya ”
laurensia : “iya dok kayanya dia marah, laper dia dok, nunggunya lama dok”
dokter : “maaf ya de, nunggunya lama ya de”
dokter : “ini jarinya empat ya bu, ibu jarinya ngga kelihatan karena lagi mengepal, jarinya jangan nambah lagi ya bu”


love Laurensia and little rich
her smile her hug
her perseverance
her kindness color everyday of life
For the injections, fear of needles
For the hours meeting doctors
For the hours of tears
For the love to our baby and to me
Spread warmth to my heart.
Laurensia  stay strong,

You made me just falling in love again in our fourth year marriage. :)

Kategori
blog

Carlo Scarpa, maturation of the alchemy, the experiments, the expedients. – thinking for OMAH

Today, I discussed with Greg about what to share to the restless spirit in OMAH. I was thinking Carlo Scarpa, one venetian master architect, Wright from Europe, and Laurie Baker who was known for his unique climatic and traditional approach of architecture in Kerala, India.

We will do both, analysis of Scarpa, and Baker for their alchemy, expenditures, and experiments.

Alchemy means a seemingly magical process of transformation, creation, or combination. Experiments means a scientific procedure undertaken to make a discovery, test a hypothesis, or demonstrate a known fact. Expedients means Advantage that you have in your design process.

Modern architectural culture has exalted and bewailed the lost organic unity of craftsmanship, finding this a justification of its own adherence to the stylistic codes of standardization. Against this Carlo Scarpa sets the volatility of his own culture and his sympathy with things; his designs seek to redeem his metier as a state of freedom from time, which might be regarded as primitive if this were sufficient to express its initiatory element.

In addition, Scarpa’s details are opposed to the banalization imposed on architectural inventiveness by -usability. The reduction of form to mere expression of function, to mere “washability”, as Ernst Bloch affirms, is rejected in Scarpa’s designs. Scarpa seems to understand that composition does not mean annulling this difference but displaying it. This is true of his use of both materials and technologies, but also of the forms of work that the design employs, stimulating and educating their inner procedures. His designs confronts this gap and emphasizes it. Between design and craft work or manual labour there is a substantive difference, which must not be ignored. (francesco dal co)

The inner procedures might called us to the process of thinking, record of craftmanship, the architect’s biography, which stated by Michael Caldwell in strange details, resulting as a masterpiece work.
maturation of the alchemy, the experiments, the expedients

Carlo Scarpa

Kategori
blog

Follies of Creativity

RAW progress – Morning Visit #rawarsitektur #rawarchitecture hopefully will finish this in 1 month time :)

IMG_0809

Kategori
blog

Notes for exhibition – Bravacasa in Pacific Place

Judul Foto : Lihat Karyaku Persembahanku
Judul Foto : Dream team’s pants


Disini RAW pameran dengan 3 studio yang lain, ada Studio Dasar, Highstreet Studio, dan Tim tiga. Saya kemudian berpikir, apa arti berpameran. Pameran karya tepatnya bukan, pameran asal gagah – gagahan, atau asal keren, atau asal beken, atau asal terkenal. Oleh karena itu, foto ini diletakkan di pameran, untuk mengajak melihat hasil kerja, bukan hanya gagah – gagahan, satu tim menghadap ke karya untuk mengajak menyelami karya kita.


 

Kategori
blog

Building Nation Legacy through Architecture Fundametal – writing for Baccarat Indonesia

 

“I cannot believe that the purpose of life is to be “Happy.” I think the purpose of life us to be useful, to be responsible, to be compassionate. It is, above all, to matter : to count, to stand for something, to have made some difference that you have lived at all.” Leo C. Rosten 

Oscar Niemeyer,  Lucio Costa, seorang arsitek dan  perencana kota  mendesain kota Brasilia dan bangunan pemerintahan di pusat kota yang berbentuk lambang negara Brazil, dengan lambang burung Garuda,yang memiliki langgam yang modern dengan bentuk – bentuk geometris sebagai cara untuk meniciptakan citra kota brasilia yang maju. Brasilia sukses dalam menciptakan citra kota yang indah dengan coretan –  coretan garis karya Oscar Niemeyer yang tegas dan monumental. Presiden Soekarno pernah melakukan hal yang serupa dimana ia yakin bahwa lingkungan tempat kita tinggal akan membentuk visi, sebuah konsepsi besar mengenai wajah kota dengan pengembangan – pengembangan mercusuar seperti hotel indonesia, senayan, gedung DPR-MPR yang didesain oleh Soejoedi. Disini terlihat bahwa membangun kota seringkali ditandai dengan merubah wajah kota dengan pembangunan arsitekturnya. Disini arsitektur kemudian menjadi satu cara untuk meningkatkan citra diri. Meskipun dibalik citra kota Brasilia yang indah, perencanaan jalan yang masih berorientasi pada mobil membuat kota tersebut tidak ramah terhadap pejalan kaki, sepi dari pejalan kaki, sehingga menyebabkan kualitas interaksi antar penduduk berlangsung introvert, berbeda dengan yang terjadi di San Paolo ataupun Rio Janeiro. Disinilah kita melihat apakah citra itu menjadi sedemikian penting ? semanis luarnya ? lalu apa itu kualitas yang elementer dan kualitas yang fundamental ?

3 tahun yang lalu kami mendesainkan Arum Dalu Resort untuk Pak Agus Supramono dan keluarganya. Resort berada di tengah hutan dengan jarak 2 jam di daerah membalong, selatan Belitung. Kesulitan yang tinggi mewarnai pengerjaan pembangunan seperti kesulitan akan kualitas tukang dan penyediaan tukang untuk membangun, juga kesulitan akan jenis bahan yang terbatas dalam pembangunan. Desain dimulai  dari renovasi 10 buah resort yang sudah dibuat sebelumnya. Keadaan selanjutnya tidak mudah karena kondisi infrasturktur yang terbatas,  dimana tidak ada listrik, tidak ada sinyal untuk bisa berkomunikasi, daerah yang masih hutan dengan jalan yang berupa tanah liat yang seringkali membuat kendaraan tergelincir dan perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Alhasil proyek diselesaikan dalam waktu 3 tahun dan sebagian besar waktu pembangunan dihabiskan tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Solusi terhadap krisis pada waktu pembangunan dipecahkan dengan sistem konstruksi prefabrikasi yang tinggi dengan cetakan material batuan sintetis yang dikhususkan dari batuan dan pasir setempat. Disini air ditampung untuk untuk digunakan kembali, dan efisiensi energi ditingkatkan dengan menggunakan energi dari penghawaan udara dan penggunaan energi matahari. Sistem konstruksi bangunan baru menggunakan bahan konstruksi alumunium yang ringan,  yang dibungkus anyaman rotan sintetis yang ada di setiap cabana yang ada di 10 villa. Pekerja didatangkan untuk menganyam rotan di tempat, tidak cukup disitu, pengolahan – pengolahan sampah, pembibitan tanaman melalui proses hidroponik dan aeroponik, dipadukan dengan sistem integrasi arsitektur ke dalam bangunannya menjadi cerita villa dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang modern secara fundamental dalam menangani krisis. Arsitektur kemudian muncul dalam anyaman, dan detail – detail yang terselesaikan baik dalam citra bangunan yang dialasi dengan hal yang fundamental.

Kemudian saya teringat kira – kira setengah tahun yang lalu, kami dipanggil kembali untuk mendesain galeri nasional, satu proyek yang kami menangkan dari kompetisi nasional kira – kira 2 tahun yang lalu, alasannya adalah tampak galeri nasional untuk di bagian bangunan tinggi 10 lantai kini menjadi 16 lantai dengan kotak kaca dinilai tidak merepresentasikan galeri nasional, panitia dan tim DED sudah mencoba untuk membuat kulit bangunan, berupa wayang, batik,tanam – tanaman  atau apapun itu yang berkaitan dengan kulit bangunan. Desain prinsip bangunan adalah kotak kaca yang dibungkus – bungkus dengan berbagai pendekatan.

Disinilah saya tersadar dalam pergumulan proses desain bahwa, Desain bisa didekati melalui dua buah kualitas, yang pertama desain yang bersifat gimmick atau elementer dan desain yang bersifat mendalam atau fundamental. Dimanakah paradigma desain kita sekarang ini ? apakah kita puas dengan bungkus – membungkus ? melihat satu bangunan dari kulitnya saja ?

Desain dari galeri nasional tentu saja akan merepresentasikan wajah bangsa Indonesia, sederhana namun indah, wajah yang tidak cukup puas untuk diam di kotak kaca, wajah yang tidak cukup puas untuk berhenti di satu titik, wajah desain yang penuh dengan lompatan. Oleh karena itu desain galeri nasional sebaiknya didekati dengan pendekatan yang fundamental terhadap karakter bangsa yang menghargai alam, keterbukaan, dan kesederhanaan melalui material dan sistem konstruksi yang  penuh dengan lompatan untuk menyelesaikan masalah kebutuhan ruang dan tidak hanya merancang tampak seperti wayang, atau diberikan elemen batik atau apapun itu yang berkaitan hanya di kulit yang lepas dari stigma kebarat-baratan atau ketimur-timuran.

Desain yang fundamental akan menarik elemen alam dengan lekukannya yang dinamis, untuk kemudian melangkah ke dalam satu titik yang penuh kejutan dimana secara filosofis langit akan menjadi tanah, dan tanah akan menjadi langit. Disitulah mungkin saya mendapatkan pelajaran bahwa hal – hal arsitektural bisa digunakan untuk membangun bangsa, untuk menemukan citra diri yang terhakiki dalam representasi bangunannya di bumi Indonesia tanpa dikotomi barat – timur. Identitas bangsa itu akan muncul dengan sendirinya melalui desain yang fundamental.bahkan alam pun tidak tegak lurus dalam tarikan garis – garisnya. Desain yang semoga menjadi fundamental pun mulai dicoretkan.

lalu

Ketika merefleksikan judul diatas membangun negeri melalui arsitektur, ada banyak sekali parameter untuk bisa membangun negeri melalui arsitektur dan tentunya desain yang baik akan menyelesaikan permasalahan secara fundamental, bukan elementer saja. MIchael Caldwell berkata ada 3 hal yang bisa dirasakan dari karya seorang master arsitek secara fundamental, ia membedah karya master arsitek Carlo Scarpa, Mies Van De Rohe, Frank Llyod Wright, dan Louis Kahn dimana ia menyimpulkan hal yang mendetail yang membuat bangunan yang diciptakan arsitek – arsitek tersebut menjadi master piece. Pertama bahwa arsitekturnya memiliki kepekaan terhadap lokalitas, vernakular, memakai sumber daya yang ada di lokasi secara kreatif lekat dimana bangunan itu berada seperti juga bumi Indonesia dengan berbagai potensi material dan budaya ketukangannya. Yang kedua bahwa arsitekturnya memiliki solusi untuk memuliakan sekitarnya, di kota dan di desa untuk menghubungkan fungsi secara kreatif dari hubungan manusia dengan manusia dan merayakan keindahannya melalui ruang -ruang terbentuknya dan elemen – elemen arsitekturnya , yang ketiga yang terpenting, bahwa arsiteknya berusaha dengan segala sumber daya yang dimilikinya, mendorong dengan kerja keras yang luar biasa untuk hasil yang semaksimal mungkin demi tercapainya kualitas bangunan yang dipercayainya.

Sejauh mata memandang, telinga mendengar, dan hati ini merasakan, saya pun rindu untuk langkanya fundamental arsitektur, dan mulai untuk membangunnya setidaknya dari tulisan ini.

Brrrrrrrrrrr [dingin datang]

Kategori
blog

Neo Modernist Hotel

Features : 6 levels of integrated neo kolonial hotel and Health centre consists of 120 luxury rooms with double loaded corridor which offers architecturally balanced between old heritage feel and modernist feel of ambiance in Tanah Abang precinct. The layout formed by courtyard design for having f + B at the ground floor, combining inside outside, integration between the city and the f + B inside

Status : on development
Appointment: 2015
Construction Start: 2016
Completion: 2018
Area: 1000 m²
list of credentials : confidential

Kategori
publication

RAW Architecture studio is in Videgraf Bandung Indonesia

 

RAW Architecture is in Videgraf.

DOCUMENTATION : Kunjungan RAW Architecture-OMAH mendokumentasikan kegiatan IMA-G ITB pada bulan Maret 2015, yaitu kunjungan ke Biro Arsitektur RAW Architecture. Kunjungan ini merupakan bagian dari program Architectour, Divisi Ekstrakampus IMA-G, yang bertujuan memperkaya pengetahuan massa Gunadharma mengenai keprofesian arsitektur dari pakarnya secara langsung.

Kategori
blog

Best Office in the World 2015 session


Many people have been working hard in the studio, this year we are going to rock the world. 4 Years ago, Roseto was introduced as one concept for creating this creative studio. Roseto is a place where it has own rules, detaching itself from the ourside world which is banal, wild, unpredicted. I’m gratefully happy, How can I not smile to the people who have been helping me in the studio, thank you all.I

DSCF8166 - Copy (2)

 

The summer workshop 2015 is just now started. Hope all of students enjoy the program. here they are with another ordinary picture with colourful world, I just can’t stop smiling looking at their motivation letter, look at it here www.raw.co.id/summerarchitectureworkshop

 

Kategori
publication

The Dancing House and Nissan Showroom on Home & Decor

home-and-decor-jul15-pg50home-and-decor-jul15-pg51

Kategori
publication

An Article titled Membangun Negeri dengan Arsitektur written by Realrich Sjarief is published by Baccarat Indonesia

baccarat-jul15-pg24baccarat-jul15-pg25