Kategori
primary

Hai kawan kita ini manusia biasa… catatan di penghujung tahun 2017

Satu orang di depan saya pada waktu itu adalah seseorang yang terkenal, ia adalah fresh graduate dari universitas ternama di Amerika, namanya Diastika ia terkenal karena kepiawaiannya menyanyi. “kak tau ngga dia itu artis” kalimat itu sudah saya dengar berkali – kali dari staff -staff yang bekerja di kantor , dan kehebohan satu kantor karena kedatangan orang di depan saya ini karena citranya atau Imagenya yang memang sudah terbentuk di dunia maya dan nyata. “Apaan sih kalian.” saya biasa menjawab seperti itu, karena menurut saya hal tersebut tidaklah penting sama sekali.

Saya melihat anak ini antusias untuk belajar arsitektur melalui presentasinya mengenai portfolio yang dibawanya dan sudah dilayoutnya dengan apik di atas kertas A3. Setelah mendengar presentasinya, ada 2 hal yang saya sampaikan , pertama lokasi rumahnya yang cukup jauh dari kantor, sehingga menyebabkan waktu pulang pergi setiap harinya akan menghabiskan waktu dan energi, mengingat kondisi kemacetan di Jakarta pada jam – jam khusus. Kedua, saya kemudian mencoba untuk mereferensikan satu senior arsitek yang sangat terkenal karena lokasinya yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya di daerah selatan. Jujur saya berpikir, setiap orang pasti ingin dihargai, namun ketika seseorang dihargai bukan karena apa yang melekat pada kulit atau citra dirinya, namun dihargai akan jati dirinya, maka itu adalah penghargaan tertinggi. Untuk saya orang didepan saya itu, dia hanyalah manusia biasa yang juga ingin berkembang maju menjadi arsitek yang dihargai karena ia arsitek yang memiliki bakat menyanyi juga, bukan hanya dihargai karena image atau citra yang terbentuk. Diastika adalah satu orang yang sudah mengetahui bahwa ia membutuhkan simbol, dan jalan untuk bisa menemukan kesuksesannya.

Sudah satu dua tahun terakhir ini, saya dikelilingi orang – orang yang berkembang bersama – sama dengan saya, mereka membantu saya dalam membesarkan studio yang sudah saya rintis. Saya melihat potensi yang besar dalam diri mereka, mereka membantu untuk memberikan yang terbaik kepada diri mereka sendiri, saya bersyukur atas seluruh kerja keras dan proses yang tidaklah mudah dalam tugas pekerjaan yang dilakukan sehari – hari. Ada yang pergi ada yang datang, setiap hari pun kita bertemu orang yang baru atau kawan lama. Tidaklah ada yang istimewa dalam kehidupan kita. Namun apa yang membuat kehidupan ini begitu istimewa adalah bagaimana kita sendiri merasakan bahwa diri kita ini berkembang setiap saatnya dan penghargaan akan satu sama lain bahwa karakter manusia itu memang unik – unik. Kemudian keseluruhan kehidupan ini akan membuat kita berkontemplasi mengenai keberadaan kita, suka atau tidak suka saat itu akan tiba, dan begitu saat itu tiba, gelap akan datang untuk menyosong matahari yang akan terbit di keesokan harinya.

Banyak hal yang sudah dialami anak – anak muda sekarang ini, banyak juga yang dipelajarinya, dalam rentang waktu yang tidak sebentar dan juga tidak lama. Lama dan sebentar hanya dirinya yang tahu. Namun anak – anak sekarang belajar lebih cepat, generasi yang lebih muda, bekerja lebih cepat, berkembang lebih cepat. Banyak yang bilang itu instan, ya saya tidak percaya, ya memang berbeda toh teknologi, apresiasi, dan semangatnya juga berbeda. Berbeda itu bukan berarti menurun, hanya saja berbeda. Malcom Gladwell mengangkat fenomena seperti ini yang dinamakan matthew effect bahwa semua rejeki itu sudah ditakar, ditentukan, diberikan sebelum kita lahir, kita semua memiliki sebuah latar belakang, keluarga kita, pertemanan ayah dan ibu kita, ataupun perjumpaan yang mungkin terlihat kecil yang mempengaruhi bagaimana kita mendapatkan klien, bersosialisasi dengan orang lain. [1]

Kalau pernah membaca tulisan Paulo Coelho didalam novel yang ditulisnya The Alchemist, ia menggaris bawahi 3 tipe seorang manusia. Tipe pertama adalah orang yang tidak tahu bagaimana untuk sukses, ia bingung dan ragu – ragu dalam menempuh jalan hidupnya. Tipe kedua adalah orang yang mencoba mencari tahu cara untuk sukses, ia juga bingung dan ragu – ragu dalam hidupnya. Tipe ketiga adalah orang yang tidak mengerti cara untuk sukses, ia tidak ragu – ragu, ia sukses. [2] Ketika keinginan kamu begitu besarnya maka semesta akan menuju ke arahmu dan membuka jalan. Namun jiwa – jiwa di dunia ini akan menantangmu, menguji kamu, seberapa siap kamu akan mimpi yang kamu inginkan. Karakter Santiago di dalam novel ini, menggambarkan pribadi yang sedang di dalam perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri di dalam pusaran ia dan orang lain, berkelana ke banyak tempat di dunia. Hidup kita ini seperti di tengah perjalanan, dan perjalanan itu adalah perjalanan milikmu, milikmu sendiri, duniamu sendiri, bersinarlah.

Untuk kawan lama, sahabat kita akan bertemu kembali, suatu waktu di suatu tempat, suka atau tidak suka dalam mimpi dan realitas, dalam ambisi dan kerendahan hati. Pada saat pertemuan nanti, akankah dirimu masih jujur dengan dirimu sendiri, ataukah hanya topeng – topeng yang terlihat seakan – akan dirimu adalah orang yang lain. Yang saya yakini, tidak ada orang lain, topeng itu hanyalah representasi dari diri kita sendiri, sahabat dan teman yang datang dalam satu waktu di satu tempat adalah cerminan dari diri kita yang terdalam, ia akan berjabat tangan, dan memeluk sebagai pertanda bahwa dirimu masih manusia biasa. Oleh karena tersenyumlah, kita ini sama – sama manusia biasa.

Di balik sendu dan cerianya hari natal kali ini di penghujung tahun 2017, diantara berbagai kado natal, dan kue natal yang diterima dan dikirimkan. Selamat Natal dan Tahun baru, semoga damai beserta kita semua. Selamat tidur untuk bangun kembali kawan !

[1] Outliers, Malcolm Gladwell. Tentang Matthew Effect. Biologist often talk about the “ecology” of an organism: the tallest oak in the forest is the tallest no just because it grew from the hardiest acorn l it is the tallest also because no other trees blocked its sunlight, the soil around it was deep an rich, no rabbit chewed through its bark as sapling, and no lumberjack cut it down befor it matured.” pp 20

[2] Ditulis oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist. There are three types of alchemist : those who are vague because the don’t know what they’re doing those who are vague because they do know that the language of alchemy is addressed to the heart and no to the mind…. (The third type is the one) who will never hear about the alchemy, but who will succeed, through the lives they lead, in discovery the philoshoper’s stone.” pp vii

[x] cover by Ryuichi Sakamoto – one of the best pianist in the world

Kategori
primary

Quality of Character in Architecture

In my childhood, there is the very common phrase that I kept in my mind, a phrase which is written in the book titled Outliers “No one who can rise before dawn three hundred sixty days a year fails to make his family rich.” Malcolm Gladwell illustrated in a story which started with the culture of cultivating rice field which was different in west farming which used heavy machinery and culture different in France. One client’s said to me that if you will to work hard, you won’t be starving, your family should not be poor.

“Ninety-nine percent of all human activity described in this and other accounts (of French country life)… took place between late spring and early autumn… entire villages would essentially hibernate from the time of the first snow in November until March or April. “

then he illustrated how things situation is different in Chinese paddies field

“No food without blood and sweat.”
“Farmers are busy, where would grain to get through the winter come from ?”
“in winter, lazy man freezes to death.”

“Don’t depend on heaven for food, but on your own two hands carrying the load”
“Useless to ask about crops, it all depends on hard work and fertilizer.”
“If a man works hard, the land will not be lazy.”

It’s a basic thing, that we should be diligent on working out the problem, to have a work to do, to get income, to live. [1]

How about in architecture. I think it’s shallow to praise each other architect’s work only with the intention of cuddling each others. This cuddling is something to do with others opinion about how much quality work is. Gregorius Grassi stated in explaining his approach towards stylistic based (ism) to work illustrated in Kenneth Frampton’s book poetics of construction. “It is actually pathetic to see the architects of that “heroic” period, and the best among them, trying with difficulty to accommodate themselves to these “isms” experimenting in a perplexed manner because of their fascination with new doctrines, measuring them, only later to realize their ineffectuality.”[3]

We should praise each other character in quality of works, and there will be a rigorous process of looking through quality innovations and put critical thinking towards shaping architect’s character in every work. By doing that each work should be seen unique and representation of life which human colour nature. if somebody asked about how sustainable, how green, how sensitive the design to the climate. Then I would answer. It’s a basic, the architect should consider those. Now we are discussing at the deeper level, the question is, what is your design character? Great architecture challenges, mediocre cuddles.

[1] Outliers, Malcolm Gladwell, pp 274, 275, 278
[2] Poetics of contruction, Kenneth Framption. pp 3
cover by https://www.neuraldesigner.com/images/blog/outlier.jpg

Kategori
news publication

School of Alfa Omega featured in Hinge provided by Zinio New York

Established in 1993, the founding concept of Hinge Magazine was to provide a strong focus for design with an attitude that was distinctly international. Their stories meet the expectations of today’s professional designers – newsy, dynamic and stimulating but the focus will always be directed towords design. Hinge is provided by Zinio LLC, 575 Lexington Ave,17th Floor, New York, NY, 10022, http://www.zinio.com

Kategori
news

OPEN HOUSE 99% Kastil Bambu Indonesia

Hallo Restless Spirit.

OMAH Library mengundang untuk diskusi, sharing oleh Fernisia Richtia dan Adhi Moersid. Fernisia akan berbagi mengenai ruang senggang, dan Adhi Moersid akan berbagi mengenai suka duka kehidupan sebagai seorang arsitek di dalam selang waktu open house sederhana Rumah Bambu yang didesain oleh RAW Architecture diiringi dengan penjelasan mengenai pameran menjadi arsitek, peluncuran buku menjelang pertengahan desember sampai awal januari.

99% Rumah Bambu adalah representasi dari mimpi rumah yang dibangun oleh material masa depan yang digambarkan dengan misterius, tidak terduga, dan terjadi secara perlahan – lahan. Masa depan itu selalu tidak bisa ditebak, seperti air dan awan, seperti mimpi dan kenyataan yang selalu berubah tergantung dari saat sekarang dari awal menuju akhir. Rumah Bambu sendiri bisa dikonstruksi dengan cara pendekatan. Sebuah cara yang digunakan Wiratman di dalam menyelesaikan bentuk kubah di mesjid Istiqlal desain dari Silaban, ataupun cara dari Michaelangelo dalam membuat St. Peter Basilica. Konstruksi rumah bambu yang disebut sebagai kastil bambu ini diselesaikan dengan jangka waktu 4 bulan, 3 lantai diatas menggunakan struktur bambu dengan program yang bisa berubah – rubah ruangan se luas mungkin sefleksibel mungkin ditambah dengan pemisahan konstruksi atap yang menggantung di dinding luar bangunan. Konstruksi bangunan dibawah atap dan konstruksi di bawah tanah menggunakan material beton dan konstruksi baja untuk meningkatkan efisiensi konstruksi.

Material struktur lantai atas yang dipakai adalah sebagian besar bambu – bambu kecil dengan diameter 8 – 10 cm dan bambu pengokong balok utama sebesar 12 -15 cm setinggi 3 lantai , bambu – bambu yang sering digunakan untuk membuat perancah dengan ketersediaan material bambu yang berjarak kurang dari 1 km dari lokasi pembuatan. karakter, dimensi batang bambu yang digunakan menjadikan konstruksinya membentuk kolom rumpun jadi kolom besar yang terdiri dari bambu kecil yang disatukan. Dalam beberapa kali iterasi desain, Bambu ini sangat cepat sekali untuk dikonstruksi, materialnya mudah didapat, kuat dan efisien jadi cukup cocok untuk perubahan – perubahan yang ada seperti penambahan struktur, pengurangan struktur, penggantian bambu yang memiliki kualitas kurang baik. Disinilah fleksibilitas material yang didukung oleh ketukangan orang – orang yang membangun menjadi sebuah lingkaran kerjasama yang tidak terputus.

Fernisia Richtia adalah seorang pengajar di Universitas Pelita Harapan. Ia pernah menjadi kurator pada pameran UPH waktu adalah ruang. Ia berkerja di Monokroma Architect, pernah magang di brio Sonny Sutanto Architect.

Adhi Moersid, arsitek peraih Aga Khan Award untuk Masjid Said Naum, dan IAI Jakarta 2017 Gold Medal. Beliau aktif dalam organisasi international dan Nasional. Adhi Moersid, bersama Darmawan Prawirohardjo, Robi Sularto, N. Siddhartha, Iman Sunario, dan Yuswadi Saliya mendirikan Biro Arsitek Atelier Enam (1968).

Jadwal Kegiatan

9th Desember 2017

10.45 Penjelasan Program OMAH 2017 – 2018
11:00 Ruang Senggang oleh Fernisia Richtia
13:00 Pengalaman suka dan duka (bitter sweet experience) oleh Adhi Moersid

bit.ly/99BambooCastle

Terima kasih dan sampai jumpa!

Salam,