Earthing Silaban – Finalist of Museum Silaban Design Open Competition

Desain dari konsep Silaban Membumi “Earthing Silaban” ini mendemonstrasikan kesederhanaan Silaban dengan reduksi arsitektur yang radikal, meredefinisikan museum sebagai ruang yang bermain dengan cahaya, kesederhanaan, ruang – ruang yang humanis namun monumental. Sayembara ini dikerjakan di dalam waktu sekitar 4 hari, waktu yang tidak lama karena kesibukan kami, di dalam proses pengerjaan terdapat saat – saat untuk merefleksikan kembali kejernihan metodologi desain. Dan pilihan – pilihan yang muncul dan disepakati di dalam proses diskusi membuat desain dari Museum ini memberikan titik yang baru di dalam proses perencanaan yang lebih solid dan radikal. 

 

Sayembara ini merupakan eksperimen yang dilakukan untuk memberikan optimalisasi luasan area yang terdesain dengan meletakkan desain massa di sisi yang rawan longsor yang ada di sisi batas bangunan. Lahan gudul yang menjadi lokasi merupakan bekas pertambangan pasir yang merupakan hasil perbuatan penambang yang berusaha menghasilkan keuntungan dari lokasi, mengusahakan yang terbaik yang bisa didapat untuk kepentingannya dan kesejahteraannya.

Seiring dengan perjalanan, dengan contoh di lahan ini, manusia lupa bahwa perlu ada memberi kembali pada alam sehingga lupa untuk mengembalikan apa yang sudah diambil hingga lahan itu menjadi rusak, terbengkalai dan buruk kualitasnya. Oleh karna itu desain dari Earthing Silaban berupaya mengembalikan esensi yaitu kebergunaan dari lahan menjadi hal yang penting untuk memberi makna baru dan kebergunaan baru, yang dimetaforakan dengan sama seperti legenda Tungkot Tunggal Panaluan, yaitu memaknai sebuah kejadian pilu menjadi suatu hal positif dan tidak saling menyalahkan. Bentuk dari Tungko Tunggal Panaluan ini menyiratkan bentuk massa bangunan yang memanjang yang merupakan hasil optimalisasi dari Cut and Fill lahan yang didasarkan kedalam strategi desain arsitektur yang berkelanjutan, efisien, low carbon footprint, dan meminimalisasi dampak lingkungan dengan memperbesar dampak positif dengan mengolah ruang – ruang yang positif.

Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada kesadaran untuk mengobati lahan yang rusak dengan prinsip utama bertitik berat pada respon bangunan yang optimal terhadap konteks dengan menyesuaikan bangunan sebagai bagian dari kontur ikut membantu menguatkan kontur berbukit di bagian belakang site, mengamankan lahan dari kemungkinan adanya longsor. Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada beberapa prinsip :

Prinsip pertama bertitik erat pada respon bangunan terhadap konteks tanpa merusak lingkungan, Upaya passive cooling juga dilakukan dengan menggunakan corong untuk menangkap angin. Corong berupa dinding dengan skala ketinggian yang massive agar angin terkumpul secara maksimal tanpa halangan. Selain untuk menangkap angin, dinding yang tinggi juga digunakan untuk pencahayaan alami melalui skylight. Skylight ditempatkan di antara fungsi-fungsi ruang sehingga setiap ruang mendapat akses langsung dengan pencahayaan alami.Lokalitas juga tercermin dalam pemilihan material berupa batu kapur putih.

Prinsip kedua berhubungan dengan kebermanfaatan monumen Friedrich Silaban ini terhadap masyarakat sekitar. Beberapa spot dapat digunakan untuk aktivitas publik, seperti tangga masuk yang dibuat lebar agar dapat digunakan pengunjung untuk duduk-duduk, bersantai atau bisa digunakan untuk platform aktifitas publik (pertemuan, pementasan musik, teater dan lain sebagainya

Prinsip ketiga yaitu memberikan jiwa dan karakteristik Friedrich Silaban ke dalam bangunan, menjadikan monumen Friedrich Silaban ini memiliki sifat seperti Silaban itu sendiri. Penggunaan geometri yang sederhana serta pengunaan skala yang humanistis namun monumental yang merepresentasikan kesederhanaan.

Desain dari konsep Silaban Membumi “Earthing Silaban” ini mendemonstrasikan kesederhanaan Silaban dengan reduksi arsitektur yang radikal, meredefinisikan museum sebagai ruang yang bermain dengan cahaya, kesederhanaan, ruang – ruang yang humanis namun monumental.

Sayembara ini dikerjakan di dalam waktu sekitar 4 hari, waktu yang tidak lama karena kesibukan kami, di dalam proses pengerjaan terdapat saat – saat untuk merefleksikan kembali kejernihan metodologi desain. Dan pilihan – pilihan yang muncul dan disepakati di dalam proses diskusi membuat desain dari Museum ini memberikan titik yang baru di dalam proses perencanaan yang lebih solid dan radikal.

Design Team :
Principal : Realrichsjarief
Team : Alifian Kharisma, Fakhriyah Khairunnisa, Thomas Santoso, Michael Chen, Timbul Simanjorang, Kanigara Ubazti.
.
Juror :
1. Ir. Diana Kusumastuti, MT. / Direktur Bina Penataan Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR
2. Sahat Silaban, SE / Pengagas Monumen Friedrich Silaban
3. Drs. Tonny Sihombing, M.IP / Pemerintah Daerah Kab. Humbang Hasundutan
4. Prof. Ir. Gunawan Tjahjono, IAI., M.Arc., Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
5. Ir. Baskoro Tedjo MSEB,Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
6. Boy Brahmawanta Sembiring, IAI, AA / Ikatan Arsitek Indonesia Sumatera Utara
7. Setiadi Sopandi, IAI., ST., M.A.rch / Penulis Buku Friedrich Silaban
.
#realricharchitectureworkshop #rawarchitecture #spirit45theriseofasia

Secretive – The Guild

Setiap pojok di The Guild adalah cerita tentang proses yang terjadi, perubahan tempat, konstruksi, penambahan konstruksi yang seringkali ditandai dengan mutilasi terhadap bentuk – bentuk yang terjadi dengan tujuan eksperimentasi untuk membuat teknik yang semakin ringan, mudah dan murah.

Sudah sekitar hampir 2 tahun diri ini tidak menulis di catatan Mayonnaise Jar, salah satu alasannya adalah membutuhkan waktu untuk mengorientasikan titik awal. Titik awal adalah sebuah proses dimana perlu untuk mereposisikan kembali tujuan untuk menjalani kehidupan sehari – hari yang dilakukan. Setelah 2 tahun ini, baru kali ini bisa memiliki jeda di dalam praktek. Di dalam reposisi tersebut pasti ada hal – hal yang dihindari memutuskan untuk mulai fokus untuk area- area yang menjadi kegembiraan dan kebahagiaan. Laurensia pun sibuk membantu di studio untuk mengatur manajemen studio di sela – sela kesibukannya sebagai dokter gigi. Miraclerich pun mengalami perubahan yang pesat dari 2 tahun menuju 4 tahun, ia sudah bisa mengatur dirinya sendiri, buang air, belajar, mandi ia mencoba untuk mandiri dan tidak bergantung dari kami. Miraclerich sudah bisa mulai makan sendiri dan mulai tidak merepotkan mamanya meskipun ia masih belum bisa tidur sendiri. Dan kakinya masih suka menendang kepala yang seringkali membangunkan di pagi – pagi subuh yang berguna untuk mengingatkan untuk memiliki saat teduh di pagi hari.

.

Perubahan di dalam pekerjaan ini ditandai dengan mulai nampak proyek – proyek dengan klien – klien yang sungguh menghargai apa yang sedang dikerjakan. Hal lain juga terlihat dari selesainya 4 buku RAW Architecture : The Guild, Dancer House, Tectogram, Methodgram yang membantu reposisi titik awal tersebut ke titik yang baru dimana evaluasi beberapa teori yang berbeda bisa dilakukan yakni teori yang membentuk titik awal (origin), teori mengenai penggubahan ruang, teori mengenai tektonika, dan teori mengenai metode desain. ke 4 buku tersebut saya tulis bersama Anas Hidayat, seoarang dalang dari Surabaya. Di titik ini tidak dibutuhkan drama – drama di dalam proyek yang memang tidak perlu. Dengan keseharian yang ada sekarang kebahagiaan bisa dirasakan dengan keseharian bersama laurensia, miracle, dan kawan – kawan sedulur dan beberapa kawan yang bisa langsung dekat meski baru kenal.
.
Setiap pojok di The Guild adalah cerita tentang proses yang terjadi, perubahan tempat, konstruksi, penambahan konstruksi yang seringkali ditandai dengan mutilasi terhadap bentuk – bentuk yang terjadi dengan tujuan eksperimentasi untuk membuat teknik yang semakin ringan, mudah dan murah. Mutilasi adalah sebuah daya eksperimen yang berani untuk memotong, menambah, merubah ulang desain yang sudah terkotak – kotak di dalam iterasi sebelumnya. Mutilasi ini adalah tahap adaptasi total, itulah tahap dimana proses pembuatan karya di antara tegangan industri dan tradisional dimana terciptalah komposisi material natural fiber dan material industri. Proses ini membutuhkan kerelaan untuk menciptakan iterasi dari proses konsep sampai keterbangunan di dalam lingkaran untuk terus belajar dan bereksperimen. The Guild adalah representasi komposisi adaptasi total dengan permainan berbagai material yang berbeda – beda yang dikonstruksikan untuk semakin ringan, mudah, murah.

.

Ada beberapa hal yang saya sangat banggakan di dua tahun ini. Dua tahun ini saya mencoba mencarikan pekerjaan untuk tim pengrajin saya asli Sumedang dan akhirnya berhasil dengan adanya klien – klien yang tertarik untuk bereksperimen. Memang sulit mencari klien yang mau melakukan eksperimen. Saya terkadang mendapatkan proyek renovasi – renovasi kecil untuk mereka selama proyek eksperimen bisa terus dilakukan di tahun pertama, terkadang kami harus mmembantu dapur tukang – tukang kami supaya bisa menyambung hidup. Ada yang keluarganya sakit, ada yang anaknya sakit. Terkadang di dalam pekerjaan juga tidak mudah, banyak juga yang menunggu – nunggu saya, sedangkan saya terkadang masih membutuhkan waktu untuk berpikir.
.

Hal yang lain daerah The Guild, ada di perbatasan Jakarta dan Tangerang berada di lokasi yang cukup jauh dari pusat keramaian. Keramaian yang paling dekat adalah tetangga yang membuka warung kopi sederhana. Lokasi yang terpencil ini membuat The Guild menjadi sebuah tempat yang tersembunyi, tempat yang sempurna untuk saya bisa menarik nafas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta. Daerah ini adalah daerah yang cukup rawan sejak proses konstruksi, seringnya laptop hilang, motor hilang, penjambretan, rumah kemalingan, pencurian alat bangunan sering terjadi. Oleh karena itu dinding yang ada di the guild relatif tinggi. Oleh karena itu di sebelahnya diletakkan perpustakaan anak yang tanpa dinding, tempat ini ada tempat rekonsiliasi ulang dimana dengan adanya banyak anak – anak berkunjung, keamanan dan rajutan sosial akan tumbuh. Program – program berbagi buku terus kami lakukan dan semoga bisa makin membesar dengan banyaknya buku yang dibagikan dan dibaca oleh anak – anak.

.

Di antara seluruh hal – hal baik yang terjadi, Di titik ini fokus berkarya dibutuhkan, melakukan eksperimen – eksperimen arsitektur, mengevaluasi diri melalui spekulasi- spekulasi teori, menjelajah banyak hal yang perlu masih perlu disempurnakan. Di saat ini waktu untuk diri sendiri dibutuhkan supaya bisa melayani lebih baik, oleh karena itu The Guild adalah sebuah tempat yang bisa mewadahi untuk bersembunyi atau ngumpet. Sayup – sayup suara Miraclerich terdengar “papa ya kerja terus , ayo makan ! ” ^^

2 0 2 0 – Perjalanan Mencinta, Hidupku Hidup Kita…

“fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu. fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif. Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.”

“Brakkk !!!” Satu pohon kamboja di courtyard The Guild roboh, pohon ini roboh karena kemarin saya meminta pak Darwat supaya tanahnya bisa diratakan, karena rumputnya akan diganti kerikil untuk mempermudah perawatan. Tinggi kerikil yang cukup tebal 25 cm, membuat genangan air tidak terpapar oleh sinar UV. Ketebalan kerikil tersebut mengakibatkan permukaan kerikil selalu kering dan bersih. permukaan kerikil tersebut juga mengakibatkan plaza yang ada di tengah – tengah The Guild bisa digunakan lebih fleksibel tanpa becek, lembap, dan selalu kering. Kursi – kursi bisa diletakkan begitu saja tanpa takut kaki – kaki kursi kotor tertanam tanah. Besok pohon kamboja yang rubuh tersebut akan ditarik dan diberikan penahan supaya bisa tetap berdiri tegak. Ternyata dedaunan pohon tersebut juga terlalu lebat sehingga perlu dipotong, dan dirapihkan. Saya belajar bahwa di balik keringnya dan bersihnya kerikil yang ada, tersedia jaringan pembuangan yang dipikirkan supaya air tidak tergenang. Di balik rubuhnya pohon yang ada di tengah The Guild, ternyata ada pembelajaran yang signifikan
.
Proses pemotongan tersebut identik dengan proses perapihan keseharian mengorganisasi kehidupan sehari – hari. Dimulai dari barang – barang di sekitar saya sehari hari. Seringkali saya menata file buku supaya teratur meskipun rak yang didesain belum selesai dibuat. Dari pengaturan hal – hal yang kecil tersebut, saya belajar untuk bisa fokus. fokus ke hal penting di hidup kita ^^ tanpa perlu melihat orang lain. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dipercaya oleh Alfred Adler bahwa setiap orang membentuk karakternya melalui pengalamannya, dan membentuk masa depannya melalui intepretasi masa depannya sendiri seperti apabila kamu menginginkan sesuatu sebegitu kuatnya maka semesta akan terbuka untukmu.
.
Di awal – awal tahun 20 20. Saya berkata pada diri saya sendiri untuk “fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu. fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif. Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.” Baru kemarin saya bertemu dengan bu Tresnowati, beliau orang yang mengajarkan saya membuat core high rise tower dengan baik. Di tahun 2003 saya ingat saya duduk di belakang dia pada saya magang di Atelier 6 Arsitek. Kemarin adalah saat – saat saya menggali informasi mengenai Pak Adhi Moersid, Pak Yuswadi Saliya, dan bagaimana ekosistem Atelier 6 bekerja. Saya berharap bahwa ada sesuatu yang bisa saya berikan untuk mereka. Perbincangan mengarah ke bagaimana Bu Tresnowati memiliki arsip yang detail mengenai Taman Ismail Marzuki dan bagaimana relasi antar personal di dalam proyek yang berjalan bertahun – tahun. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa berpraktek di Indonesia, mengerjakan bangunan dengan ruang studio yang memiliki standar internasional tidak mudah dan membutuhkan jam terbang yang solid.
.
Laurensia dan Miraclerich mengingatkan tentang berjalan berdua – dua. Di dalam tahun yang baru 2020, dua nol dua nol, adalah sebuah tahun untuk berdua – dua, bersama – sama, dari dua menjadi puluhan, dari dua menghasilkan kesempurnaan (0) oleh karena itu ingatlah dari diri sendiri kita berdua – dua lalu karya besar akan lahir. Di dalam saya berintepretasi di tahun 2 0 2 0, ayah saya memberikan celetukan. “Jangan lupa cari ilmu , uang, dan dharma, tiada ketiganya, kamu ngga bisa berbuat lebih.” Celetukan beliau sungguh mendasar dan saya belajar untuk selalu mendengarkan dia. Jadi sebelum berdua – dua, cukuplah akan diri sendiri sebelum mengajak orang lain berjalan bersama.
.
Genapilah dirimu sendiri barulah matahari bersinar mengajak pasanganmu untuk mencinta dan awalilah perjalanan 2020 penuh kasih, yuk mari berjalan.
.

image_e6f04363-9990-4fdb-858d-b92388aae0c4.photo-2020-01-01-22-02-59

 

Boonserm Premthada

Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain.

Beberapa bulan ini saya berusaha mencari teman untuk bisa berdiskusi mengenai arsitektur. Arsitektur di dalam pikiran saya adalah sebuah disiplin yang perlu untuk diperjuangkan dan dihayati yang dimulai dari hal yang kecil yang kemudian menjadi besar, merubah orang yang menempatinya termasuk merubah arsiteknya sendiri. satu karya menuju satu karya yang lainnya. Kualitas ditentukan bukan oleh berapa banyaknya kuantitas yang dikerjakan, kualitas diatas kuantitas. Kualitas pun tidak berbanding lurus dengan kepopuleran satu karya tersebut, penilaian satu karya terhadap yang lain muncul dari kekuatan proses pembuatannya. Hal tersebut yang seringkali membuat saya berdecak kagum karena semangat perubahan, semangat kejujuran, semangat untuk tampil dalam semangat eksperimen tanpa takut salah. Arsitek itu adalah manusia yang seharusnya tampil jujur, apa adanya.
.
Melalui Boonserm dan karyanya saya mendapatkan refleksi dari diskusi kita, saya berusaha merefleksikan pembicaraan kita, energi yang besar, keberanian yang besar, yang membuat refleksi terhadap proses untuk terus berbagi ke orang lain untuk menikmati karya yang mampu berbicara dari hati. Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain. Begitu Ia melihat perbedaan violet le duc terhadap john ruskin. Seketika itulah manifestasi antara konteks, teori, metodologi, implementasi menjadi satu kesatuan. Sungguh sebuah titik yang saya apresiasi. Keterbukaan, semangat untuk berbagi, kejujuran dalam berbuat berpikir dan membentuk masa yang sekarang membuat boonserm ada di konteks yang sekarang.
.
Keesokan harinya kami berangkat ke Kantana untuk melihat karyanya. Di dalam karya Kantana ia mengkonstruksi axis yang merupakan jalan masuk dengan bebatuan kerikil, kerikil yang ada tidak basah dan kering. Jalan itu memiliki drainase yang baik. Vista diciptakan dari bentuk bata yang disusun menyerupai candi yang membelah zona – zona yang berbeda. Keesokan harinya, bersama Nantapon, kita menuju karyanya selanjutnya yaitu sebuah pavilion yang memiliki fungsi restaurant, bangunan disini memiliki komposisi tektonika yang meredefiniskan tektonika tangga dan tampak kotak – kotak yang terletak di dalam sebuah kubus yang tersusun di dalam rangka yang dibungkus material triplek. Tangga tersebut menghubungkan mezanine dengan lantai dasar.setelah itu kami berjalan kaki ke bangunan sebelahnya terdapat bangunan yang sedang dibangun konstruksi yang sedang berjalan yang juga didesain oleh Boonserm. Bangunan itu menggunakan konstruksi glasblock yang ditutup sisinya oleh kayu lokal. Antar glassblock di perkuat dengan sambungan besi. Konstruksinya seperti kertas yang dilipat dan duduk di atas konstruksi beton. Setiap massa dipecah yang dihubungkan dengan jembatan, didalam massa tersebut terdapat solid void plat lantai yang menhubungkan secara visual axis dari satu massa menuju massa yang lain, menghadap ke pepohonan dan sungai.
.
Di era sosial media yang begitu cepat, karya arsitektur bukanlah soal jumlah like dan follower tapi adalah soal totalitas menjalani hidup sabatikal yang penuh pengabdian. Seringkali jalannya adalah jalan yang sunyi dan apabila ia menjadi jalan yang ramai biarkan kita membagikan kebaikan untuk orang lain dengan jujur apa adanya. Satu kali ini saya akan berdoa untuk boonserm untuk kebaikan yang dibagikannya ,termasuk untuk saya sendiri yang melewati doa ruang dan waktu. Hidup hanya sementara jalani dengan sungguh- sungguh. Pertemuan kami ditutup dengan sebuah pelukan untuk pesan untuk jangan pernah menyerah.
.
Ekonomi, sosial, lingkungan, manusia membentuk konteks – lahir arsitektur. Pribadi yang sederhana, bertemu orang – orang yang sederhana membuat kembali belajar. Boomserm membuat komposisi kantana dan dua karya lain yang saya kunjungi . Pendekatannya adalah pendekatan yang apa adanya. Arsitektur adalah karya yang memberkati klien, pengguna.
.
Di akhir perjalanan, Nantapon mengundang saya ke Samsen Hotel karya dari Chat Pong. Disitu istri dari Boonserm akan menyajikan dansa Zumba. satu dibalik tarian zumba di satu sisi di depan bangunan hotel, saya melihat ada boonserm, ada nantapon disitu ada murid- murid ada teman2 mereka dan saya melihat ada semangat persaudaraan untuk saling mendukung. Kualitas yang jujur dan jarang ditemui. Boonserm mengajak saya berbicara ke satu sudut ruangan dan ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya di dalam arsitektur. Satu diskusi tersebut merubah persepsi saya mengenai sebuah arti di dalam menjadi arsitek. Bahwa kita harus berjarak untuk bisa menilai, kita harus tekun untuk berproses, kita harus terus melayani sekitar kita. Ciptakanlah karya yang tumbuh dari tanah.
.
Photo of Boonserm’s work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.
.

Sebuah Catatan untuk Pameran Menjadi Arsitek dan Kelas Keprofesian UPH 2017

Theoretical Anxiety and Design Strategies in the Work of Eight Contemporary ArchitSeringkali saya tertidur untuk kemudian terjaga di saat subuh dan kemudian membayangkan apa yang akan dialami murid – murid saya, apakah mereka akan belajar dari materi ini, ataupun sebaliknya, tidur di kelas karena materi ini begitu membosankan. Seperti itulah setiap satu hari di dalam satu minggunya, dari petang menuju dini hari, belajar untuk mengajar, dan mengajar untuk belajar, setiap perputaran iterasi desain, ada kehidupan didalamnya.ects ditulis oleh Rafael Moneo atas dasar ketertarikannya akan dunia teori arsitektur, ia memberikan interpretasi dan analisis terhadap beberapa karya arsitek berdasarkan inovasi teknologi, pendekatan design, dan teori yang dituliskan untuk menjelaskan karya mereka sendiri seperti James Stirling, Robert Venturi, Aldo Rossi, Peter Eisenman, Alvaro Siza, Frank Gehry, Rem Koolhaas, dan Herzog De Meuron. Pada akhirnya Moneo memberikan justifikasi bahwa keseluruhan teori itu tidaklah bisa diaplikasi dengan generalisasi yang bulat – bulat, namun justru kesetiap karya yang didesain oleh arsitek – arsiteknya perlu dilihat lebih detail tanpa perlu terperangkap dalam teori – teori yang digunakan arsitek bersangkutan.

Saya menulis “Ini adalah buku anak – anak didik saya yang akan diluncurkan minggu depan tanggal 16 dilengkapi dengan pameran dengan judul menjadi arsitek di omah library, ada total 59 buku dengan 59 penulis dilengkapi dengan no isbn yang diregistrasi di perpustakaan nasional. Pada waktu pertama, diminta anis dan pak ferry untuk mengisi kelas keprofesian di kampus UPH, ya ok isinya tentang materi keprofesian, namun yang terpenting adalah bagaimana bisa mengetahui tentang keprofesian kalau tidak mencintai profesi ini. Buku ini adalah tentang cinta anak – anak ini terhadap arsitektur dan profesinya, melihat tata laku dan kerumitannya di dalam tulisan yang personal. Mereka 59 orang harapan kita, akan berpameran di omah library yang disiapkan oleh tim omah, dengan kurasi bersama anas hidayat, bangkit mandela , rifandi septiawan nugroho dan saya. Pameran dimulai tanggal 16 desember – awal januari 2018. Kita doakan semoga mereka semakin semangat dan termotivasi ya. ” 

selesai menulis ini, saya tersenyum, dan merasakan kebahagiaan, “fullfilment”

Sudah 3 hari ini saya meluangkan waktu dari senja hari begitu selesai bekerja untuk mempersiapkan pameran anak – anak didik saya di keprofesian UPH. Saya ingat bertemu teman lama untuk mendengarkan dirinya bercerita bahwa Theoretical Anxiety yang di tulis oleh Rafael Moneo akan sangatlah tidak mungkin untuk diajarkan di bangku S1. Mungkin yang dimaksud bukanlah tidak mungkin, namun dalam pikiran saya, perlu dikontekstualkan, atau disesuaikan dengan keadaan mahasiswa yang diajar, siapa dia, darimana asalnya, pernah mengambil mata kuliah apa saja, dan apa jati dirinya. Penyesuaian – penyesuaian tersebut menjadi penting seperti satu lokasi desain dimana pada awal hanyalah ada satu lahan lalu kemudian arsitektur muncul dengan kecantikannya bahwa tidak pernah ada sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, kesadaran akan apa saja yang diketahui menjadi penting, dimana proses pembelajaran pastinya untuk menambah kosa kata dalam memahami kompleksitas, kerumitan, ketidakterdugaan profesi arsitek dimana nanti orang setelah melalui proses belajar, akan lebih mudah untuk beradaptasi secara sengaja atau naluriah.

Sudah 4 bulan saya bersama anak – anak ini dengan jati diri mereka yang unik – unik. Masing – masing punya mimpi untuk bisa sukses, dimana mereka memiliki memori masa lalunya. Ketika saya diminta Pak Ferry dan Anis untuk mengajarkan mereka untuk keprofesian arsitek, saya mencoba untuk menemukan kegelisahan apa yang akan membuat kelas ini signifikan untuk pembelajaran murid – muridnya. Pembelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang memiliki keterbatasan profesi yang mengetahui tata laku, batasan, norma, kesepakatan umum di dunia menjadi penting. Yang saya takutkan adalah kita semua membuang – buang waktu bersama, tidak belajar, tidak tertarik, malah semakin apatis terhadap murid – murid, terhadap pengajarnya.

Theoretical Anxiety and Design Strategies in the Work of Eight Contemporary Architects ditulis oleh Rafael Moneo atas dasar ketertarikannya akan dunia teori arsitektur, ia memberikan interpretasi dan analisis terhadap beberapa karya arsitek berdasarkan inovasi teknologi, pendekatan design, dan teori yang dituliskan untuk menjelaskan karya mereka sendiri seperti James Stirling, Robert Venturi, Aldo Rossi, Peter Eisenman, Alvaro Siza, Frank Gehry, Rem Koolhaas, dan Herzog De Meuron. Pada akhirnya Moneo memberikan justifikasi bahwa keseluruhan teori itu tidaklah bisa diaplikasi dengan generalisasi yang bulat – bulat, namun justru kesetiap karya yang didesain oleh arsitek – arsiteknya perlu dilihat lebih detail tanpa perlu terperangkap dalam teori – teori yang digunakan arsitek bersangkutan.

Semua orang pasti ingin dihargai dan ingin sukses dalam kehidupan. Dihargai karena garis tangannya seperti itu apa adanya dan sukses karena berkecukupan materi dan batin sehingga menjadi manusia yang bahagia. [1] . Saya terus saja berpikir bahwa waktu kita di dunia ini tidaklah lama, setiap momentumnya adalah momentum untuk memberikan yang terbaik karena waktu tidak pernah kembali, dan semuanya pasti akan berakhir. Di dalam 4 bulan yang untuk saya ini beratnya bukan main, setiap minggu adalah minggu untuk kembali ke tumpukan buku yang begitu banyak. Seringkali saya tertidur untuk kemudian terjaga di saat subuh dan kemudian membayangkan apa yang akan dialami murid – murid saya, apakah mereka akan belajar dari materi ini, ataupun sebaliknya, tidur di kelas karena materi ini begitu membosankan. Seperti itulah setiap satu hari di dalam satu minggunya, dari petang menuju dini hari, belajar untuk mengajar, dan mengajar untuk belajar, setiap perputaran iterasi desain, ada kehidupan didalamnya.

Matahari terbit di pagi hari, membawa diri ini bangun lebih pagi dari biasa, hari ini adalah pembukaan pameran, saya berjalan di lorong pameran perpustakaan, memastikan bahwa semua panel tertempel dengan baik, dan 59 buku tersusun dengan rapih, dan saya pun merasa ini adalah sebuah kehormatan untuk diberikan kesempatan bertemu dan membimbing murid – murid saya ini. Kalian luar biasa!

catatan :

[1] Hal ini digaris bawahi oleh Robert Greene dalam bukunya Mastery, bahwa setiap orang perlu belajar mengenai bagaimana menjaga pikiran yang orisinal yang ia sebut Original Mind, dan  menyesuaikan terhadap bagaimana kita harus menghadapi orang – orang di sekitar kita yang dialami sehari – hari yang ia sebut Conventional Mind. Kombinasi dari keduanya ia sebut dimensional mind.

[2] Pembahasan mengenai Theoritical Anxiety di tulis khusus di dalam buku qualities of perception yang ditulis oleh Jeffrey Kipnis.

[x] cover by Pianist Nobuyuki Tsujii at Carnegie Hall his own composition “Elegy for the Victims of the Tsunami

36th Birthday

Laurensia kan mempersiapkan miracle untuk mandi, bersekolah, ke bank, menjemput sekolah, beristirahat, membuat laporan, dan berpraktek, sampai kami bertemu kembali pada waktu makan malam. Oleh karena itu, saya berpikir hal hal sederhana seperti ini, sudah sangat indah untuk dijalani, dan saya sangat bersyukur bisa ditemani oleh istri yang luar biasa baik dan cantik luar dan dalam.

Laurensia kemarin baru berulang tahun ia sekarang berumur 36 tahun. Setiap hari kami bangun pagi – pagi, terkadang jam 5, ataupun jam 6 pagi. Miracle akan bangun sesudahnya untuk meminta digendong ke ruang keluarga kami. Terkadang saya meminta untuk ia jalan sendiri, dari situlah saya percaya nilai kemandirian akan terbentuk. Miracle sekarang sudah berumur 2 tahun lebih, anak berumur 2 tahun, belajar sangat cepat, menyerap dari sekitar cepat sekali, ia meniru, dan disitulah ia akan mencontoh dari sekitarnya, terutama dari orang tuanya dimana kadang – kadang saya pun tidak bisa memiliki semua jawaban dari sebegitu banyak pertanyaan, dan tidak bisa memberikan contoh dari sebegitu banyak keragu – raguan. Dalam perjalanan kami, di setiap saat – saat penting, namanya juga manusia, kadang – kadang timbul keragu – raguan dalam pengambilan keputusan – keputusan. Disitulah saya bertanya ke Laurensia, sebagai penentu terakhir apakah jalan ini sudah benar adanya. Seorang ibu adalah jantung hati keluarga, Roxana Waterson, menggarisbawahi perbedaaan tradisi austronesia mengenai rumah sebagai rahim, ibu adalah sentral dari keluarga dengan ibaratnya, dapur tempat makanan itu disiapkan, Waktu – waktu Laurensia dihabiskan untuk mengatur bagaimana keluarga kami menjalankan aktifitas sehari – hari. saya akan bangun cukup pagi setiap harinya, terkadang menyiapkan daftar dan menggambar untuk dibagikan ke anak – anak studio. Laurensia kan mempersiapkan miracle untuk mandi, bersekolah, ke bank, menjemput sekolah, beristirahat, membuat laporan, dan berpraktek, sampai kami bertemu kembali pada waktu makan malam. Oleh karena itu, saya berpikir hal hal sederhana seperti ini, sudah sangat indah untuk dijalani, dan saya sangat bersyukur bisa ditemani oleh istri yang luar biasa baik dan cantik luar dan dalam.

Hai kawan kita ini manusia biasa… catatan di penghujung tahun 2017

Untuk kawan lama, sahabat kita akan bertemu kembali, suatu waktu di suatu tempat, suka atau tidak suka dalam mimpi dan realitas, dalam ambisi dan kerendahan hati. Pada saat pertemuan nanti, akankah dirimu masih jujur dengan dirimu sendiri, ataukah hanya topeng – topeng yang terlihat seakan – akan dirimu adalah orang yang lain. Yang saya yakini, tidak ada orang lain, topeng itu hanyalah representasi dari diri kita sendiri, sahabat dan teman yang datang dalam satu waktu di satu tempat adalah cerminan dari diri kita yang terdalam, ia akan berjabat tangan, dan memeluk sebagai pertanda bahwa dirimu masih manusia biasa. Oleh karena tersenyumlah, kita ini sama – sama manusia biasa.

Satu orang di depan saya pada waktu itu adalah seseorang yang terkenal, ia adalah fresh graduate dari universitas ternama di Amerika, namanya Diastika ia terkenal karena kepiawaiannya menyanyi. “kak tau ngga dia itu artis” kalimat itu sudah saya dengar berkali – kali dari staff -staff yang bekerja di kantor , dan kehebohan satu kantor karena kedatangan orang di depan saya ini karena citranya atau Imagenya yang memang sudah terbentuk di dunia maya dan nyata. “Apaan sih kalian.” saya biasa menjawab seperti itu, karena menurut saya hal tersebut tidaklah penting sama sekali.

Saya melihat anak ini antusias untuk belajar arsitektur melalui presentasinya mengenai portfolio yang dibawanya dan sudah dilayoutnya dengan apik di atas kertas A3. Setelah mendengar presentasinya, ada 2 hal yang saya sampaikan , pertama lokasi rumahnya yang cukup jauh dari kantor, sehingga menyebabkan waktu pulang pergi setiap harinya akan menghabiskan waktu dan energi, mengingat kondisi kemacetan di Jakarta pada jam – jam khusus. Kedua, saya kemudian mencoba untuk mereferensikan satu senior arsitek yang sangat terkenal karena lokasinya yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya di daerah selatan. Jujur saya berpikir, setiap orang pasti ingin dihargai, namun ketika seseorang dihargai bukan karena apa yang melekat pada kulit atau citra dirinya, namun dihargai akan jati dirinya, maka itu adalah penghargaan tertinggi. Untuk saya orang didepan saya itu, dia hanyalah manusia biasa yang juga ingin berkembang maju menjadi arsitek yang dihargai karena ia arsitek yang memiliki bakat menyanyi juga, bukan hanya dihargai karena image atau citra yang terbentuk. Diastika adalah satu orang yang sudah mengetahui bahwa ia membutuhkan simbol, dan jalan untuk bisa menemukan kesuksesannya.

Sudah satu dua tahun terakhir ini, saya dikelilingi orang – orang yang berkembang bersama – sama dengan saya, mereka membantu saya dalam membesarkan studio yang sudah saya rintis. Saya melihat potensi yang besar dalam diri mereka, mereka membantu untuk memberikan yang terbaik kepada diri mereka sendiri, saya bersyukur atas seluruh kerja keras dan proses yang tidaklah mudah dalam tugas pekerjaan yang dilakukan sehari – hari. Ada yang pergi ada yang datang, setiap hari pun kita bertemu orang yang baru atau kawan lama. Tidaklah ada yang istimewa dalam kehidupan kita. Namun apa yang membuat kehidupan ini begitu istimewa adalah bagaimana kita sendiri merasakan bahwa diri kita ini berkembang setiap saatnya dan penghargaan akan satu sama lain bahwa karakter manusia itu memang unik – unik. Kemudian keseluruhan kehidupan ini akan membuat kita berkontemplasi mengenai keberadaan kita, suka atau tidak suka saat itu akan tiba, dan begitu saat itu tiba, gelap akan datang untuk menyosong matahari yang akan terbit di keesokan harinya.

Banyak hal yang sudah dialami anak – anak muda sekarang ini, banyak juga yang dipelajarinya, dalam rentang waktu yang tidak sebentar dan juga tidak lama. Lama dan sebentar hanya dirinya yang tahu. Namun anak – anak sekarang belajar lebih cepat, generasi yang lebih muda, bekerja lebih cepat, berkembang lebih cepat. Banyak yang bilang itu instan, ya saya tidak percaya, ya memang berbeda toh teknologi, apresiasi, dan semangatnya juga berbeda. Berbeda itu bukan berarti menurun, hanya saja berbeda. Malcom Gladwell mengangkat fenomena seperti ini yang dinamakan matthew effect bahwa semua rejeki itu sudah ditakar, ditentukan, diberikan sebelum kita lahir, kita semua memiliki sebuah latar belakang, keluarga kita, pertemanan ayah dan ibu kita, ataupun perjumpaan yang mungkin terlihat kecil yang mempengaruhi bagaimana kita mendapatkan klien, bersosialisasi dengan orang lain. [1]

Kalau pernah membaca tulisan Paulo Coelho didalam novel yang ditulisnya The Alchemist, ia menggaris bawahi 3 tipe seorang manusia. Tipe pertama adalah orang yang tidak tahu bagaimana untuk sukses, ia bingung dan ragu – ragu dalam menempuh jalan hidupnya. Tipe kedua adalah orang yang mencoba mencari tahu cara untuk sukses, ia juga bingung dan ragu – ragu dalam hidupnya. Tipe ketiga adalah orang yang tidak mengerti cara untuk sukses, ia tidak ragu – ragu, ia sukses. [2] Ketika keinginan kamu begitu besarnya maka semesta akan menuju ke arahmu dan membuka jalan. Namun jiwa – jiwa di dunia ini akan menantangmu, menguji kamu, seberapa siap kamu akan mimpi yang kamu inginkan. Karakter Santiago di dalam novel ini, menggambarkan pribadi yang sedang di dalam perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri di dalam pusaran ia dan orang lain, berkelana ke banyak tempat di dunia. Hidup kita ini seperti di tengah perjalanan, dan perjalanan itu adalah perjalanan milikmu, milikmu sendiri, duniamu sendiri, bersinarlah.

Untuk kawan lama, sahabat kita akan bertemu kembali, suatu waktu di suatu tempat, suka atau tidak suka dalam mimpi dan realitas, dalam ambisi dan kerendahan hati. Pada saat pertemuan nanti, akankah dirimu masih jujur dengan dirimu sendiri, ataukah hanya topeng – topeng yang terlihat seakan – akan dirimu adalah orang yang lain. Yang saya yakini, tidak ada orang lain, topeng itu hanyalah representasi dari diri kita sendiri, sahabat dan teman yang datang dalam satu waktu di satu tempat adalah cerminan dari diri kita yang terdalam, ia akan berjabat tangan, dan memeluk sebagai pertanda bahwa dirimu masih manusia biasa. Oleh karena tersenyumlah, kita ini sama – sama manusia biasa.

Di balik sendu dan cerianya hari natal kali ini di penghujung tahun 2017, diantara berbagai kado natal, dan kue natal yang diterima dan dikirimkan. Selamat Natal dan Tahun baru, semoga damai beserta kita semua. Selamat tidur untuk bangun kembali kawan !

[1] Outliers, Malcolm Gladwell. Tentang Matthew Effect. Biologist often talk about the “ecology” of an organism: the tallest oak in the forest is the tallest no just because it grew from the hardiest acorn l it is the tallest also because no other trees blocked its sunlight, the soil around it was deep an rich, no rabbit chewed through its bark as sapling, and no lumberjack cut it down befor it matured.” pp 20

[2] Ditulis oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist. There are three types of alchemist : those who are vague because the don’t know what they’re doing those who are vague because they do know that the language of alchemy is addressed to the heart and no to the mind…. (The third type is the one) who will never hear about the alchemy, but who will succeed, through the lives they lead, in discovery the philoshoper’s stone.” pp vii

[x] cover by Ryuichi Sakamoto – one of the best pianist in the world

Quality of Character in Architecture

We should praise each other character in quality of works, and there will be a rigorous process of looking through quality innovations and put critical thinking towards shaping architect’s character in every work. By doing that each work should be seen unique and representation of life which human colour nature. if somebody asked about how sustainable, how green, how sensitive the design to the climate. Then I would answer. It’s a basic, the architect should consider those. Now we are discussing at the deeper level, the question is, what is your design character? Great architecture challenges, mediocre cuddles.

In my childhood, there is the very common phrase that I kept in my mind, a phrase which is written in the book titled Outliers “No one who can rise before dawn three hundred sixty days a year fails to make his family rich.” Malcolm Gladwell illustrated in a story which started with the culture of cultivating rice field which was different in west farming which used heavy machinery and culture different in France. One client’s said to me that if you will to work hard, you won’t be starving, your family should not be poor.

“Ninety-nine percent of all human activity described in this and other accounts (of French country life)… took place between late spring and early autumn… entire villages would essentially hibernate from the time of the first snow in November until March or April. “

then he illustrated how things situation is different in Chinese paddies field

“No food without blood and sweat.”
“Farmers are busy, where would grain to get through the winter come from ?”
“in winter, lazy man freezes to death.”

“Don’t depend on heaven for food, but on your own two hands carrying the load”
“Useless to ask about crops, it all depends on hard work and fertilizer.”
“If a man works hard, the land will not be lazy.”

It’s a basic thing, that we should be diligent on working out the problem, to have a work to do, to get income, to live. [1]

How about in architecture. I think it’s shallow to praise each other architect’s work only with the intention of cuddling each others. This cuddling is something to do with others opinion about how much quality work is. Gregorius Grassi stated in explaining his approach towards stylistic based (ism) to work illustrated in Kenneth Frampton’s book poetics of construction. “It is actually pathetic to see the architects of that “heroic” period, and the best among them, trying with difficulty to accommodate themselves to these “isms” experimenting in a perplexed manner because of their fascination with new doctrines, measuring them, only later to realize their ineffectuality.”[3]

We should praise each other character in quality of works, and there will be a rigorous process of looking through quality innovations and put critical thinking towards shaping architect’s character in every work. By doing that each work should be seen unique and representation of life which human colour nature. if somebody asked about how sustainable, how green, how sensitive the design to the climate. Then I would answer. It’s a basic, the architect should consider those. Now we are discussing at the deeper level, the question is, what is your design character? Great architecture challenges, mediocre cuddles.

[1] Outliers, Malcolm Gladwell, pp 274, 275, 278
[2] Poetics of contruction, Kenneth Framption. pp 3
cover by https://www.neuraldesigner.com/images/blog/outlier.jpg

Do you want to push architecture that far ?

At the end, the skill to organise the information, being social to all the parties involved, plus which the architect needs to maintain his or her own tectonics, stated again by Frampton, “The first instance the manifest necessity for architects to maintain their command over the art of building as a spatial and tectonic disciplines” and I will add up still not forgetting their character will be the ultimate answer for the progression in its architect’s life.

“This is individual task but they did it in group imagining all of them will be together supporting each other after graduated. They asked other people, (me) to complete their puzzle imagining themselves as architect. I feel honored, it is a privilege to encourage them, helping them to understand beautiful side of architecture and its profession. Actually i am learning from them and their puzzle.”

Few months, ago I rewatched again The Fountainhead movie, the movie which is directed by King Vidor. It’s based on 1943 novel by Russian-American author Ayn Rand. The movie is about one architect fighting his ideal towards economic value, public perception of the style of what is beauty, being truthful on yourself like do you like the ornament, or do you want the building to be clean to express the rationalism. I did rewatch this movie because I was doing teaching of the profession in UPH. I wanted my student to proud of themselves but not ignorant to the other engineers (MEP, Structural), or any design specialist (landscape, lighting), or even the most important seeking balance of giving and taking to their clients.

Paul Segal in wrote that ” architects are called upon to master huge amounts of complex information, create solutions that are multidimensional… this is not a job that can be done by a pig-headed individualist… The Roark personality is often promoted in architecture school culture as the “true way.” This is damaging to students for many reasons. It teaches that the only desirable goal is to become hat individualistic by forcing his or her beliefs on an ignorant public. ” [1]

Being an architect, we deal with vast information from creating hand sketches in conceptual through design development and construction drawing. It takes how to manage emotions, information, creativity, rules, and put all of those into one beautiful sequence. Edward de Bono who wrote book title How To Have A Beautiful Mind. The book consists how to manage this information by wearing six modes of thinking hats. Bono wrote The white hat indicates a focus on information. The red hat gives full permission for the expression of feelings, emotions and intuition without any need to give the reasons behind the feelings. The black hat is for caution and the focus is on faults, weakness. The yellow hat the focus is on values, benefits.
The green hat sets aside time, space and expectation for creative effort. The blue hat is to do with the organisation of thinking. ” [1] In architecture profession this might include tools, information, models, mathematics, building systems.

These hats might help the architect to understand the process of making architecture which I believe might be coined again the term master builder which might be long forgotten. Kenneth Frampton took Renzo Piano’s phrase which might accentuate the hand of the architect. He stated, ” an Architect must be a craftsman. Of course any tools will fo. These days the tools might include a computer, an experimental model, and mathematics. However, it is still craftmanship – the work of someone who does not separate the work of the mind from the work of the hand. It involves a circular process that draws you from an idea to a drawing, from a drawing to an experiment, from an experiment to a construction, and from construction back to an idea again. For me, this cycle is fundamental to creative work. Unfortunately many have come to accept each of these steps as independent… Teamwork is essential if creative projects are to come about. Teamwork requires an ability to listen and engage in a dialogue. ”

Then after that what’s next, clients are happy, other parties are happy, then how about the architect?

This might be reflected of how deep our reflection in our practice. Do we want to just stay at the surface, or are you willing to push it that far? Some of the genuine example is showed in Frampton, Poetics of Construction book, in a progression of reaching wide span, and reacting to what we called style or -ism such as (cube-ism, modern-ism, or even tropical-ism) which is showing the force of outside architect.

The deepness here is shown in the corporeal metaphor, one term brought by Frampton. It’s about experiencing the space bodily. This is about how to create a space, a concept, a reality of architecture which our perception – mind, body – (five senses), and spiritual side touched by the beauty of the space which in total creates architecture in construction, built work into such beautiful tactile details.

he even continued with 3 different proposition while accentuating for us not losing our own tectonics by telling stories about 1)beauty of hand finish, means each successive touching has communicated in design 2) Shintai-paradoxes of cold concrete and warm people which we are in this world of cold, we fill it with warmness. (3) the concept of Schmarsow and Ponty about space is determined by frontalized progression of the body through space in depth which he showed in Alvaar’s Aalto work Saynatsalo town hall which its tactile contrast entrance from small space to breathtaking space.

At the end, the skill to organise the information, being social to all the parties involved, plus which the architect needs to maintain his or her own tectonics, stated again by Frampton, “The first instance the manifest necessity for architects to maintain their command over the art of building as a spatial and tectonic disciplines” and I will add up still not forgetting their character will be the ultimate answer for the progression in its architect’s life.

Bibliography :

[1] Professional Practice: A Guide to Turning Designs into Buildings, Paul Segal. pp 13,14
[2] Why Architecture Matters, Paul Goldberger
[3] How to have beautiful Mind, Edward De Bono, pp 105,106
[4] Renzo Piano Building Workshop 1964 / 1991: In Search of a balance,” Process ARchitecture(Tokyo) no 799 (1992(. pp.12,14
[5] Frampton, Studies in Tectonic Culture The Poetics of Construction in Nineteenth and Twentieth Century Architecture, pp 10, pp11

Bermain Layang – layang

“Om tolong naikkin layang – layangnya ”
Oo oke, saya kemudian pergi bersama mereka ke taman di dekat rumah. Sudah lama sekali saya tidak main layang – layang kira – kira sudah 20 tahun lebih. Saya coba menaikkan layang- layang tersebut, bisa naik sampai 15 m kemudian turun lagi, kita pun tertawa – tawa berlari – lari menaikkan layang – layang, bergantian satu sama
Lain. Ketika berlari menaikkan layang – layang, terkadang layang layang tersebut berputar – putar. Anak – anak ini adalah harapan kita, mereka hanya perlu teman, cara pandang, dan layang – layang hanyalah sebuah alat dan kehadiran kita untuk menemani mereka dengan bermain – main karena sesungguhnya kita juga perlu bermain – main dan menjadi seperti anak kecil kembali.

Kemarin saya sedang selesai makan pagi menunggu course dari OMAH. Anak – anak kecil datang, menghampiri, menagih “om layang – layangnya mana ?” Saya ingat kira – kira satu bulan yang lalu ketika puasa, saya pernah menjanjikan untuk membelikan layang – layang supaya mereka bisa bermain. Gara – gara kesibukan, saya jarang bertemu mereka.

“Ayo kita beli sekarang ?” saya pada waktu itu ada di lokasi benteng yang tingginya kira – kira 3 m dari jalan utama, pada waktu itu Greg sedang lewat baru datang untuk mempersiapkan course. saya bilang “Greg ada uang ngga,”

“Dek layang – layangnya kalau kita beli itu berapa harganya ? ” mereka jawab ” 2000 , sambil berebutan, gue yang pegang uangnya, gue yang pegang uangnya ” saya bilang sama greg, Greg tolong dikasih 10000 itu ada 4 orang, sisanya lebihin satu buat mereka. Uang pun diberikan oleh Greg. kemudian saya meninggalkan mereka. Kemudian saya terbersit untuk ikut bersama mereka membeli layangan, “eh tunggu” “saya mau ikut.” Kemudian saya dan istri saya ikut ke toko layangan berjalan kaki, melewati jalan setapak selebar 2 m masuk ke gang 1 m, akhirnya tiba ke pembuat layangan, kakek dan nenek penjual layangan, mereka menjual benangnya juga.

Saya tanya ke kakek penjual “Kong harga nya berapa ?”
kakek itu menjawab “1000 pak”

dalam hati saya “asem nih anak – anak, gw diboongin”

Setelah itu saya dan istri saya belikan 20 buah layang – layang dan 5 benang.
saya mulai tanya latar belakang mereka.
satu orang namanya ojon masih TK, satu orang namanya Dillah kelas 1 SD, satu orang namanya Lehan kelas 1 SD, dan satu orang namanya Jasmin kelas 2 SD.

Lehan melapor, om ini si Dillah omongnya jorok sama kotor, saya tanya lo ngomong apa sama anak – anak lain ? ini om dia ngomongnya bang*at dan a*nj*ng sehari – hari. saya bilang eh lo ngapain ngomong jorok begitu lo sekolah ngga ? Mending ngomong “kucing” lebih keren. Mereka pun tertawa,

setelah itu saya bilang ke mereka “eh elo bilang itu terima kasih sama engkong sama nenek, sama semuanya. Ramai – ramai mereka bilang terima kasih.

Setelah selesai membelikan layangan kita berjalan kaki melewat gerombolan anak – anak lain, saya tanya ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?”

“bukan om dia mah cemen, duduknya ajak kaya orang lagi sunatan” saya bilang ke mereka, eh lo kurang ajar, sana sapa anak – anak itu, kasih tanda metal sana sapa.

Kita kemudian berjalan 50 meter lagi, dan melewati satu gerombolan anak yang lain, saya tanya lagi ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?” “bukan om mereka anak jahat, kemarin ngajakin tawuran,” Waduh” dalam hati saya.

Kemudian saya pulang ke kantor, mereka pun pergi. 20 menit kemudian, saya sedang ada di dalam rumah, bibi memanggil, anak – anak itu datang lagi.

“Om tolong naikkin layang – layangnya ”
Oo oke, saya kemudian pergi bersama mereka ke taman di dekat rumah. Sudah lama sekali saya tidak main layang – layang kira – kira sudah 20 tahun lebih. Saya coba menaikkan layang- layang tersebut, bisa naik sampai 15 m kemudian turun lagi, kita pun tertawa – tawa berlari – lari menaikkan layang – layang, bergantian satu sama
Lain. Ketika berlari menaikkan layang – layang, terkadang layang layang tersebut berputar – putar.

Anak – anak ini adalah harapan kita, mereka hanya perlu teman, cara pandang, dan layang – layang hanyalah sebuah alat dan kehadiran kita untuk menemani mereka dengan bermain – main karena sesungguhnya kita juga perlu bermain – main dan menjadi seperti anak kecil kembali.

Berbagi Buku

Setelah itu saya habiskan waktu untuk bercanda memuji mereka kalau mereka anak yang pintar karena setiap anak pada dasarnya pintar, kita diskusi bagaimana cara membuat layangan besar. Kemudian saya bilang, nanti sore kalian datang ya jam 5, saya sediakan buku didalam tempat plastik, saya isikan buku supaya pikiran diisi dengan ilmu pengetahuan. Saya pun minta tolong rezki untuk beli kotak plastik untuk anak-anak. Buku – buku yang sudah dibaca nanti dikembalikan ke kotak atau bisa dibagikan ke temen- temen yang lain.

Kemarin hari sabtu pagi, di depan rumah saya , banyak anak2 jam 5.30 pagi menyalakan bermain, petasan teriak – teriak ada 20 orang. Saya pikir ada apa ini?

Saya turun dan buka pintu dan melihat anak – anak ini. Lalu mereka berlarian, 17 orang kabur tinggal 3 orang, saya bilang :
“dik tolong panggil temen-temennya saya ngga marah. ”

Temen – temennya kemudian datang mungkin setelah memastikan saya tidak marah,

Saat itu di depan saya ada 20 orang, kemudian saya minta mereka duduk,
Saya tanya, “kenapa kalian main petasan pagi – pagi sekali ?” Mereka diam dan saling menyalahkan, “sudah tidak apa-apa”

saya pun duduk, dan bertanya “Kalian tau ngga soal thomas alfa edison?” saya kemudian cerita tentang alfa edison, penemu bohlam lampu , pintarnya einstein dan indahnya bermain layang – layang, ide – ide tentang ilmu pengetahuan dari pengetahuan membaca buku. Saya tanya “kalian sudah baca buku apa? ” satu anak menjawab “buku ipa pak”

Satu orang menyahuti, “ada uangnya ngga pak ? ”

saya bilang ilmu itu mahal harganya, dengan ilmu kita bisa melihat hal yang indah, pergi ke luar negeri, dan untuk menjadi kaya membutuhkan kesabaran, mereka ini anak – anak berumur 6-12 tahun, saya tanya ke mereka “mau ngga sabar untuk belajar sampai 15-20 tahun lagi?” Nanti kalian bisa mendapat uang dari ilmu kalian, setelah itu baru ada uangnya.

“Kalian mau ke paris ? Ke london ? Ke afrika ? Ke Mekkah ?” Mereka jawab “Mauuu”,
ya saya bilang harus sabar belajar, saya pun juga masih belajar untuk bisa kesana.

Setelah itu saya habiskan waktu untuk bercanda memuji mereka kalau mereka anak yang pintar karena setiap anak pada dasarnya pintar, kita diskusi bagaimana cara membuat layangan besar. Kemudian saya bilang, nanti sore kalian datang ya jam 5, saya sediakan buku didalam tempat plastik, saya isikan buku supaya pikiran diisi dengan ilmu pengetahuan. Saya pun minta tolong rezki untuk beli kotak plastik untuk anak-anak. Buku – buku yang sudah dibaca nanti dikembalikan ke kotak atau bisa dibagikan ke temen- temen yang lain.

Kemudian jam 4.00 sore saya sedang mendengar kuliah omah tentang bernard tschumi, saya dipanggil rudi, ada yang nyari katanya, anak-anak kecil datang naik sepeda. Hati saya girang, mereka datang, demi mimpi akan ilmu pengetahuan. ^^ kotak plastik ini adalah harapan untuk anak-anak ini. Isinya ada buku national geographic, komik, buku karya andrea hirata, sudah terbagi baru 15 buah buku. Di stok ada 50 buah buku.

Jadi guys kalau ada yang mau memberikan buku untuk anak2 ini kabarin ya.Dengan membaca buku kita bisa memperluas cakrawala terutama untuk anak – anak yang merupakan harapan kita semua , nanti kita coba buat program yang terkait dengan ini di omah ya, ^^ good morning ya have a great weekend. Semoga damai beserta kita semua.

Loving Architecture like crazy

it’s about using introvert way. Believing for your genious, training yourself hard for passing through 3 stages of mastery: knowing your expedients, practicing your alchemy, and doing your experiments.

I got one email from Itenas students about invitation to do lecture in enterpreneurship in architecture. In the brief, the lecture will be about how to make an architecture business. Not so long, 3 days ago, fellow architects came to my home, Rubi, Dani, Carolina. Rubi has research about enterpreneurship in architecture. The hypothesis is that there are many good architects, but some of them can not survive, or maintaining sustainable design firm. he said he wanted to create community like OMAH for enterpreneurship in architecture, what is why he came to interview, and asked questions, I would say it’s discussion rather than interview, which is like two way. Deep in my mind, i was curious, why always the topics about this, it’s actualy topic which is pretty basic, topic to surviving as architect. But that is okay, let’s talk about it.

Thinking about that topic. There are many topics, or issues, or discussions about how to start being an architect, how to make a design firm, how to do enterpreneurship in architecture. This short article discussed about origins of enterpreneurship and how it links with architecture.

First of all, I was curious, what is the meaning of enterpreneurship. The meaning of enterpreneurship is generally to connect with opportunity by creating professional code and conduct toward best product. if one say, I am good designer, how can I have clients, how can I have network, how can I have jobs, how can I structurize my firm.

There are two types of paradigm toward this definition, it’s up to you which one fits to your character. The first one, I say it’s extrovert way, the media, the business, the product, rational way. It’s about using opportunity from the media, it’s about the power, prestige, and wealth.

I discussed the condition of profession in Indonesia few months ago, I did a small research comparing indonesian practice and United States.

Dalam tabel standar biaya konsultan inkindo 2015 – Disdik DKI Jakarta, terdapat daftar untuk spesifikasi tenaga ahli dengan spesialisasi tertentu [1]. Spesialisasi tertentu ini mengacu ke perancangan gedung dengan kompleksitas tinggi seperti bangunan tinggi, pembangkit listrik, jembatan, dll. Uniknya dan anehnya, di dalam tabel ini tidak terdapat profesi arsitek, sedangkan disebutkan ahli mekanikal elektrikal, teknik lingkungan, teknik sipik, Geoteknik, Geologi. Memang di dalam lampiran tersebut terdapat kata – kata “dan lain – lain” namun disinilah tersirat bahwa, apakah profesi arsitek ini hadir dalam lingkungan jasa konsultan Indonesia. Jawabannya pasti iya, hadir, namun keberpihakan untuk arsitek patut untuk diperjuangkan karena tiga hal penting:

pertama arsitek berfungsi untuk melakukan efisiensi anggaran, dengan optimasi terhadap massa bangunan, luas bangunan, layout ruang, menentukan titik kolom struktur, menentukan jarak sisa untuk saluran mekanikal elektrikal dan pemipaan, dan optimasi penggunaan material. Kedua, arsitek berfungsi untuk mempercepat masa konstruksi bangunan dengan mempertimbangkan cara bangunan tersebut dikonstruksi, ketiga, arsitek bertanggung jawab terhadap tata ruang, dan perijinan bangunan tersebut untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan, yang bisa dipertanggung jawabkan keamanan, kenyamanan berdasarkan good practice, ataupun Standar Nasional Indonesia, ataupun timesaver, neufert data handbook, building metric handbook, ataupun standar – standar lain yang bisa diargumentasikan seperti standar pengamanan terhadap bocornya air, standar pengolahan minyak atau limbah, standar pengolahan air kotor, dan standar penyediaan air bersih dan sambungan antar detail yang mencegah angin, air, ataupun pandangan, terkait dengan privasi pengguna. Sedemikian mengerikannya apabila satu bangunan tidak didesain dengan benar, apalagi bangunan dengan kompleksitas tinggi yang akan digunakan oleh klien dan penggunanya. Kita patut bertanya – tanya, standar seperti apa yang digunakan. Apalagi ditambah apabila kita bertanya – tanya tentang penghargaan sebuah ide – ide dari satu bangunan. Mungkin keadaan ini masih jauh Panggang Dari Api atau kenyataan tidak sesuai harapan.

Professor Danisworo dalam kuliahnya di Omah library, menjelaskan bahwa standar fee untuk arsitek dari tahun ke tahun berkurang dari jaman ia merintis praktek Encona, dahulu pada waktu ia mengerjakan desain bandara udara Halim, uang imbalan balas jasa bersih yang didapat oleh kantor, bisa digunakan untuk membeli satu buah tanah berikut rumah yang besar, di daerah sumur bandung tempat kantor Encona beroperasi. Dari fee yang didapatkan sekarang dibandingkan biaya hidup yang ada, kompetisi yang ada, penghargaan yang ada harus membuat para arsitek menjadi perlu kreatif dalam mensiasati keadaan [2]. Keadaan yang dijelaskan professor Danisworo Hal ini berkebalikan dengan keadaan arsitek – arsitek luar yang masuk ke Indonesia dengan menerapkan fee 10 % – 20 % lebih tinggi dari fee arsitek di negara asalnya, memang disinilah peran marketting, pembentukan branding dan pada akhirnya kualitas menjadi penting. Bahwa adanya kualitas pranata yang mendukung, yang belum membuat profesi arsitek ini tumbuh subur, dan makin kuat. Arsitek Indonesia perlu berjuang dalam keterbatasan.

It’s this way, Peter Piven wrote in book titled starting design firm wrote about 3 types of design firm, the first is, strong idea firm, second, is strong service firm, and the third is strong production firm. Knowing this category will help you to understand the nature of architect. The strong idea is based on one master to give you guidance, and the second is pretty straight forward which sometimes can be seen in hospitality design when we work with a team which service the team of operators, owners, and technicals. The third is treating architect as production factory.

The second type, it’s about using introvert way. Believing for your genious, training yourself hard for passing through 3 stages of mastery: knowing your expedients, practicing your alchemy, and doing your experiments. Antoni Gaudi, Maclaine Pont, and Carlo Scarpa are the three my favourite architects. I kept looking for pilgrimage for their works, and they are the closest way of role model in my heart looking at their process through time with persistance and their design is absolutely beautiful. in this second type, architecture is like doing kisses, hugs, and doing a dharma for your life. It’s more ethical while the driving point is more introvert. or may be this second type is formed when the first type is understood as a basic need, and the second is a way about perfection in mastering product of your works. So what is the importance knowing this ?

I remember reading one passage written by Robi Sularto, that ” architecture is a dharma, not merely a profession.” this words, was carved in my thoughts since then. I actually am quite sad looking the condition in Indonesia while the architects is not appreciated and the architects are not sensitive enough to serve society but it’s common because architects are still surviving through time. I reflect to myself as well, when daily, we are struggling to get the job done, invoice done, and advancing the mastery of our skills. It’s three way of juggling. The way of juggling explained by Deyan Sujic in Biography of Norman Foster by basically, knowing your limit, focussing on your competence, and building great people around you. what I found that enterpreneurship is about to serve others through design eventhough it’s simple project. Serving other like serving yourself, loving architecture like crazy through best attitude and learning so much as you can perfecting your mastery, preparation, preparation , preparation, it’s hardwork !

[1]http://www.simpel.lpse.kemenkeu.go.id/uploadFile/media/51_billing_rate_inkindo_2015%20(1).pdf

[2] professor Danisworo, dalam lecture di Omah Library

Dili East Timor, Facing obstacle in our life.

My wife is always sad when the time I will fly abroad. This time i will go to Dili, East Timor to assist Yoga and Faela of Institute of Transportation and Development Policy. A NGO organisation which is based in New York. I have been working together with them for 5 years now since introduced by Dani, friend from Planology in the past pedestrian project.

Laurensia has helped me to organise the office so far, she juggled in the complexity of the firm while I formed the associates to help me to do better design for the clients. I knew she was sad day ago because I will leave the family for several day.

Miraclerich has grown up into decent toddler, Laurensia taught him well.

 

View this post on Instagram

Miracle learn to walk ^__^

A post shared by Realrich Sjarief (@realrichsjarief) on

We try to teach miracle value of respecting other, and knowing the consequence of his actions. It’s quite hard, I would prefer to do design actually. Last time, he felt down while he ran, in our heart we want to lift him, but instead doing that, we let him to stand by himself. Miracle cried loudly. In middle of the night, Miracle will wake up and cried asking to be moved in our bed. Laurensia was affraid if Miracle will fall down from our bed because our bed does not have any fence. His bed has 80 cm fence. I moved him back to his bed, and he cried loudly, he choked, and finaly slept after that.

The day after that, we did that again, but this time, Laurensia handled it differently. After Miracle woke up in the middle of the night, Laurensia would slept in Miracle’s bed, I will make milk for him, and Laurensia slept with Miracle just for making him feeling safe but it’s still in Miracle’s bed.

I faced this this situation as well, when new thing happened and it’s new experience. We have to adapt, I was lucky to have my family and Laurensia to help me to adapt the situation. It’s been almost a week now, and Miracle can sleep alone in his bed. I’m proud of him and Laurensia helped him to pass through his hardtime.

love,

 

 

 

Greetings from Bu Pauline

Bu Pauline Budianto sent me one video and 2 picture,

she said “Hai Rich, sudah seminggu lebih kami menikmati keindahan hasil karyamu di sekolah AO. Anak2 saya pas lihat pertama kali langsung berbinar matanya…
Katanya: worth it juga ya ma….meninggalkan segala kenyamanan sekolah di belanda….. kalo di Belanda nggak bisa menikmati yg seperti begini.
Thanks Rich! ”

I knew her, for her contributions in the fishermen village at Muara Angke, a part of changes which was proposed during the governance of Basuki T Purnama in Jakarta. I have not still have a chance to meet her in person.

16143100_10210739815627951_5816524469470310579_n 16195365_10210739816027961_110029661047616178_n 16114054_10210739816987985_7687263715221588958_n

Knowing her message, the Honour is for the hardwork for all of people involved,

I remember video sent by Pak Rendy, few weeks ago
It’s a pleasure and honour.
Love,

One Big Family

dscf7267
Preparing the background for family’s photos

Chinese New Year 2017 – The Year of the Rooster – has begun and will last until Feb 15, 2018. The new year, also known as the Spring Festival, is marked by the lunisolar Chinese calendar, so the date changes from year to year. The Chinese zodiac is divided into 12 blocks (or houses) just like its western counterpart, but with the major difference being that each house has a time-length of one year instead of one month.

This year, it’s the Year of the Rooster, the 10th animal in the cycle. The next Year of the Rooster will be in 2029.

My family celebrates Chinese New Year as well. We used to have dinner together at the day before, and at chinese new year all of the member of the big family, uncle, auntie, nephew, niece, cousins, come to our home to have lunch together.

It’s a tradition to be together as a family, giving respect to each other. My Dad told me the importance of levelling in construction this morning, he said, he asked the builder to redo casting the concrete when he found the levelling was not right. The owner questioned him, about why he asked them to redo, destroy and rebuild again which my dad will take the budget by himself.
 

dscf7318
Dad and my Aunts

He said it was for learning, a lesson for his supervisor so he will keep up the standard high with no tolerance.He also said in one morning questioned, which one do you want, be the one who carry or support the weak, or the one who will be carried or supported by other. He also said sometime ago, in family, if there is disagreement, or fight Dad will take side on the weak one, because that is the essence of the family, to understand people as it is, and to help, unite, and be one family.My dad is getting older, his energy may be less than before, I’ve got my lessons, every time I met him.

Happy Chinese New Year, may you and your family be loved by so many great people, and this universe.

dscf7287

Parabolic Plywood Office

 

pk2
The table was arranged by Bu Lisa few days before the photoshoot by Eric Dinardi

Puncak Keemasan Group Office is just published in Archdaily. It’s the effort of truly hardwork and passion by all of the people involved, also with the support by the owner which is been bound to be beautiful memory. In this project the design works with the parabolic and modular shape, exercised into whole series of efficient construction system, efficient architectural finishes, and merged into sequence of experience.

00-langit-langit-kayu00 - Partisi modular kurva.jpg00 - Struktur pohon tumpuk.jpg

We were honoured to work in this project, this project demanded much of time and energy while the construction floor level is not same, it’s tilting, and slanted in 5 cm discrepancy. the construction time demanded to be not more than 3 months. the project struggled to keep on the design and construction going well in the process.

The fabricated module carried to the site one by one, and the project finaly near to completion in the bitter and sweet experience, resulted the picture that Eric took few weeks ago.

But, the most important is, and the honour is to see the owner, PKG group, the staffs happily using the place, and fitting the workspace behaviour into the space into such lovely memory.

I was committed to submit projects to archdaily or dezeen to test and evaluate our quality of work as a part of feedback, and gathering the 1 % of the process as a part of 99% what we have done.

Have a great day all. love you

puncak-keemasan-group-2
The Project is designed for Puncak Keemasan Group, Pak Ferry, Bu Lisa, Pak Sugih, Pak Jimmy, Bu Yohana, Pak Iskander.

puncak-keemasan-group-3puncak-keemasan-group-5

35 di Telok Naga, di alfa dan omega. Hidup ini hidupmu.

“Pak sekolah ini harus selesai di bulan Januari” Bu Lisa berkata satu saat. Di dalam hati, saya menghitung waktu, bulan demi bulan, kira kira hanya tersisa 6 bulan lagi dan sekolah ini baru akan direncanakan.Saya menulis di saat – saat saya berumur 35 tahun dengan rambut putih yang mulai tumbuh, ciuman pembuka dari istri dan anak di awal hari, dan dua buah telur, satu mangkuk apel, bedanya sudah tidak ada lagi teh manis di pagi hari, hanya ada air putih saja. Aneh memang, ada banyak perubahan terjadi di tahun ini, makanan berubah, saya pikir sikap pun berubah, saya ingin yang biasa – biasa dan sederhana saja.

Pagi hari itu Laras, Pak Djatmiko, dan Pak Singgih sudah datang, kemudian kita berangkat ke lokasi Telok Naga, sebuah sekolah yang kami kerjakan namanya sekolah alfa omega.

Banyak sekali masalah muncul di lokasi proyek kira – kira di beberapa bulan yang lalu seperti tidak adanya jalan akses, banjir karena ketinggian lahan ada di bawah permukaan jalan, dan lokasi tidak memiliki listrik dan air. Konstruksinya dibuat dengan kombinasi material struktur baja, beton, bata, bambu, nipah dengan ketinggian 2.1 m diatas permukaan tanah kedalaman rata – rata 1.0 – 1.2 m dari permukaan jalan. Konstruksi atap menggunakan kombinasi kurva paraboloid.

Konstruksi dinding menggunakan batu bata ekspos dengan susunan lubang – lubang, gelap terang yang disusun melengkung tanpa menggunakan kolom praktis. Karena bentuk lengkung ini bata bisa duduk dengan stabil. Prinsip Desain pun secara bertahap tumbuh karena kesulitan – kesulitan yang ada di lokasi.

15937316_1639358176369575_5923909911083250133_o
Enter a caption”Pak sekolah ini harus selesai di bulan Januari” Bu Lisa berkata satu saat. Di dalam hati, saya menghitung waktu, bulan demi bulan, kira kira hanya tersisa 6 bulan lagi dan sekolah ini baru akan direncanakan. Bendera ini ide pak Sugih untuk memberikan 7 buah bendera Indonesia di depan sekolah.  

 

16113359_1638931006412292_8629608652426335682_o
Sekolah dalam proses konstruksi.Pak banyak orang menggantungkan harapannya di sekolah ini, banyak dari mereka yang kembali datang ke sekolah ini dan sekolah ini dekat antara anak yang satu dengan anak yang lain, SD SMP SMA.” Pak Ferry satu saat berkata demikian.

Bu Lisa, Pak Sugih, Pak Jimmy, Pak Iskander, bu Yohana, Pak Ferry, Bu Eunike, Pak Rendy, dan banyak sekali orang silih berganti masuk untuk  berdiskusi dan berkenalan kira – kira 2 tahun yang lalu, terima kasih untuk kepercayaannya. Tidak ada hadiah yang paling membahagiakan selain melihat sekolah ini berjalan di tanggal 17 Januari besok.

Di malam hari kira – kira jam 8 malam, Laurensia menelpon, “Yang kamu dimana” “masih di Telok Naga, ini masih nungguin bu Lisa sama Pak Ferry sapu bersih takut ada yang masih kelewat” jawab saya, Pada waktu itu saya dengan pak Djatmiko, pak Andung, baru menyisir jalan baru yang berlokasi 1 km dari proyek sedang dibangun dengan dan Laras menunggu di bedeng di depan proyek dan ali ada di lapangan.

Laurensia menelpon lagi “Anak – anak sudah nungguin ya di Pizza Hut, sekarang sudah jam 8 malam”

Diri ini pun baru teringat sudah cukup malam, dan dibutuhkan waktu 1 jam lebih untuk ke arah Puri Indah. Diri ini berpamitan dengan Bu Lisa dan Pak Ferry, langsung meluncur ke Puri Indah Mall dengan Ali, Raras. Pak Singgih memilih pulang, pak Djatmiko masih di lapangan, kita harus berbagi – bagi tugas dengan tanggung jawab masing – masing. Di arti alfa yang berarti awalan dan omega yang berarti akhiran. Disitulah ada jeda dan kita semua ada di antara awal dan akhir untuk kemudian siklus pertemuan dan perpisahan terjadi.

img_2642
ini situasi setelah makan, Miracle sudah tidur
ea7f4d9d-4f03-486a-8834-5ead98f8c039.jpg
Miftah dan Asep bawa Ubi Cilembu, ide dari Jajo sama Nida ^^ 

Semoga umur 35, diri ini makin bisa bermanfaat untuk orang lain, terima kasih untuk semuanya Tuhan memberikan cinta dari seluruh orang yang ada di lingkaran terdekat, sehari – hari bertemu, dua hari, ataupun baru bertemu.

pp.jpg
the two my most lovely angel, Laurensia and Miracle, Maaf ya papa sibuk terus, kita jalan – jalan ya akhir minggu ini. 
[1]  Dan terima kasih untuk seluruh anggota tim ditengah dukungan dari tim alfa omega. seluruh anggota yang besar jumlahnya, dan besar sekali dukungannya, tenaga yang dicurahkan dari bermacam – macam orang, bermacam – macam sifat, latar belakang. Love you all

Anxiety caused by uncertainty

http://www.smallfootprintfamily.com/wp-content/uploads/4-7-8-breathing-stop-anxiety.jpg
http://www.smallfootprintfamily.com/wp-content/uploads/4-7-8-breathing-stop-anxiety.jpg

Sometimes we face anxiety, unclear brief in the work flow of the studio while the iterations happen, there are two typical person who will response to this kinda situation. First, the typical person, who will let the coordination going on with no so much clear direction, working with assumption of what the other people think. Second, the typical person who tries to clarify whether the direction is correct, that person will spend much time on calibration, clarification before working, and do the job.

Olivia fox Cabane Illustrated this condition in her book, The charisma Myth, she wrote that For many of us, a state of doubt or uncertainty is an uncomfortable place to be. Robert Leahy, director of the American Institute for Cognitive Therapy, says his patients often report they would rather receive a negative diagnosis than be left in suspense, even tough the uncertainty would still allow hope of a positive outcome. [1]

Book By Olivia
Book By Olivia Fox Cabane, Titled The charisma Myth MAster the Art of Personal Magnetism

Imagine that you are dealing with difficult situation whose outcome is uncertain. You envision a variety ways it could play out and you strategise on how to best deal with each, you imagine several scenarios, rational , logical thing to do. Obviously this condition takes much of your time on uncertainty. Olivia then concluded that our natural discomfort with uncertainty is yet another legacy of our survival instincts. We tend to be more comfortable with what is familiar, which obviously hasn’t killed us yet, that with what is unknown or uncertain, which could turn out to be dangerous.

I think this is happens occasionally where-ever you work, when clients called you, and the intent is not so clear. sometimes it left you in the condition of uncertain, unclear, and waste much of your energy. Olivia wrote concise way of act on how to solve this problem into 3 steps of doing. Step one and two are so so, first is de-stigmatize discomfort, thinking that this condition is common, normal, sometimes happens. Second, is neutralise negativity, there must be fallacy in our thinking, thinking that this condition is like our brain, which has filters for relevant informations, and our mind will present us with a seriously distorted view of reality. This tendency is called negativity bias.

The step three, is the most important. It is called Rewrite Reality. It’s the moment, when the situation is not clear, and you are trying to push, to clarify the information as clear as possible. This technique is not easy, because in order to do this, you have to connect with direct communication by phone, talking directly and avoiding email, indirect communication. The information need to be very clear, and attitude of solving problem and willing to be helpful will be needed.

Suasana Internship di Studio
Suasana Internship di Studio

 

Olivia concluded after these three steps you have can now do phase “putting it together” , while you put all of the informations into several sequence in action. It includes the instructions you can use any time to de-stigmatize discomfort, neutralise negativity ,and rewrite reality. and finally, you are in the condition of comfortable in discomfort, to delve into the sensation of discomfort, which can help you to access your best performance during highly comfortable situations.

Suasana Diskusi di Studio RAW
Suasana Diskusi di Studio RAW

Thank you Olivia for writing such beautiful book. It’s worth learning.

Merry X Mas and Happy Holiday for everybody
Merry X Mas and Happy Holiday for everybody

Istakagrha / RAW Architecture

Article from Archdaily : http://www.archdaily.com/795259/istakagrha-raw-architecture

Save this picture!

Istakagrha / RAW Architecture , © Bambang Purwanto

© Bambang Purwanto

© Ifran Nurdin© Bambang Purwanto© Bambang Purwanto© Ifran Nurdin+31

More Specs

Save this picture!

© Ifran Nurdin

© Ifran Nurdin

Located in Taman Meruya Ilir, West Jakarta region, Istakagrha meaning brick house,Situated in the increasingly crowded West Jakarta area, the 180 sqm house occupies a 150 sqm plot of land, 10m x 15m. Istakagrha is reflected by its name, brick House, it is a small and compact house with a orange painted color on the light weight brick, black colour , and rough concrete texture finishes.The expression creates humble and distinctive look

Save this picture!

© Bambang Purwanto

© Bambang Purwanto

“We have a dream to have a house which like a villa in Bali. A house more than a functional but a place to live and grow with feel of nature, we really love staying in tranquil house” explains homeowner Mr. Ferdian Septiono and Ms. Joice Verawati Realrich Sjarief. The clients are graphic designer who are willing to have a compact sustainable house.

Save this picture!

Section

Section
Save this picture!

Section

Section

The architecture of istakagrha separated inside and outside with the landscape of a barrier wall made by light weight brick. The combination is stacked with pattern of solid void, which provide sense of privacy and security, meanwhile allowing sunlight and air circulation to flow inside the living room. The house faces east side allowing morning sunlight come to the space at 9 am. The stair is placed at the west side, the west side is walled with brick to provide thermal insulation. The air ventilator is placed at the west side of the house above the stair from ground to 1st floor providing fresh air circulation throught air stacking effect. The house has one open air receiving area as anteroom then no more separation wall between living, dining, and cooking which In the living room, the kitchen also takes some importance its final layout is the result of few adjustments based on the owner’s domestic habits. The only enclosed space in the ground floor is guest room, which doubles as a working space and guest bed room. A simple foyer and a light well integrated with stair, and art work is placed after the receiving area at the west side of the building. The first story houses private spaces. At the end of the corridor is 1 bedroom with shared bathroom and a walk-in closet. An simple and functional feel showering area is attached to the bathroom. The material used in this building is choosed based on the best craftmenship available in Jakarta, concrete structure is used because of the cost efficiency, engineered wood is used because of the look and lightness, metal frame for facade and sunshading are used because of durability.

Save this picture!

© Ifran Nurdin

© Ifran Nurdin

3 types of brick was used based on each character. First, is light weight brick, 200 x 600 x 100 mm, for the facade. Light weight brick was chosed because of the lightness, precision and can be easily molded and constructed as facade/ Second, orange brick which is most common material used in Jakarta, The third one is the ceramic brick 50 mm x 150 mm x 10 mm which is used for covering the stair wall as insulation and interior surface. An additional bedroom, bathroom and a stair way to the attic on the 1st floor is linked by a corridor leading to an open space beside the void leading to the stairwell and stair case through compact space. Istakagrha showed an example of small house in Jakarta with small plot of land with sustainable design approach and keeping privacy from out side to inside through simple form which is stacking brick.

Save this picture!

Diagram

Diagram
Click to open map

Location to be used only as a reference. It could indicate city/country but not exact address.

Architects : RAW Architecture
Location : Taman Meruya Ilir, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11620, Indonesia
Client : Mr. Ferdi Septiono and Ms. Joice Verawati and Family
Principal : Realrich Sjarief
Project Team : Bambang Priyono, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Rio Triwardhana, Anton Suryanto, Christiandy Pradangga, Maria Vania. Area180.0 sqm
Project Year2015
Photographs : Bambang Purwanto, Ifran Nurdin
Manufacturers : Alexindo, Philip, Schneider
Supervisors : Sudjatmiko, Singgih Suryanto
Construction Manager : Eddy Bachtiar, Jasno Afif Angga
Structure Engineer : John DjuhaediMaster Carpenter Syarifuddin pudin
Mechanical and Electrical Engineer : Bambang Priyono, Andi, Karim, Hamim
Landscape : Mr. Ferdi Septiono, Ms. Joice Verawati and Family
Plan and Illustrations : Miftahuddin Nurdayat, Tatyana Kusumo, Rimba Harendana

Cradle to Cradle Remaking the Way We Make Things

cradle

Michael Braungart and William Mcdonough wrote in their book Cradle to Cradle Remaking the Way We Make Things. They wrote, imagine what you would come upon today at a typical landfill : old furniture , upholstery, carpets, televisions, and so on as well organic materials like diapers, paper , wood, and food wasters. Most of these products were made from valuable materials that required effort and expense to extract and make, billions of dollars’worth of material assets.

They continued their point that all of those things are heaped in a landfill, where their value is wasted. They are ultimate products of an industrial system that is designed on a linear, one-way cradle – to- the grave model which the resources are extracted, shaped into products, sold, and eventually disposed of in “grave”of some kind, usually a landfill or incinerator. This system in the book is discussed as a system that dominates modern manufacturing, They illustrated that 90 percent of materials extracted to make durable goods in the United States become waste almost immediately. It’s even cheaper to buy a new version than to repair the original item. I felt this as well when I tried to repair some of my computers and printers in the retail store,there is also the lack of skill person who can repair item.

Michael Braungart and William Mcdonough illustrated that the model that we faced is called one size fits all or I called it universal model, one example has been the push to achieve universal design solutions, which emerged as a leading design strategy in the last century. They continued that in the field of architecture, this strategy took the form of the International style movement, advanced during the early decades of the twentieth century by figures such as Ludwig Mies van der Rohe, Walter Gropius, and Le Corbusier, who were reacting against victorian – era styles. Their goal actually was social as well as aesthetic. They wanted to globally replace unsanitary and inequitable housing – fancy , ornate places for the rich : ugly, unhealth places for the poor – with clean minimalist, affordable building unencumbered by distinctions of wealth or class.

They concluded Today what we see is their sealed windows, constantly humming air conditioners, heating systems, lack of daylight and fresh air, and uniform fluorescent lighting. There is always breakdown when it comes to the public, some thinking can be absorbed into a beautiful thing, and some thinking is misleading to bad performance. Even though the originators of the International Style intended to bring hope, but who use the style today mislead the message.

Moreover, The performance sometimes seen is just a style, an appreciation of beauty rather than performance because simply the generalization, the effort of our originator turned to be no effort by its predecessor.

cradle2

[1] Michael Braungart and William Mcdonough, Cradle to Cradle Remaking the Way We Make Things

Team of Leaders

Paul Gustavson and Stewart Liff wrote about How to build a great team in their book, a team of leaders. The idea is about empowering every member to take ownership, demonstrate initiative, and deliver results. They started with a question, how do you create an environment that successfully addresses the many challenges that supervisors and employees deal with while producing outstanding performance ? The answer is simple: You have to create an environment where everyone is a leader. That is , an environment where everyone works together, takes the initiative,assumes ownership, is willing to deal with difficult issues and accepts accountability for the team’s result. It’s basically an environment that is in contrast with one in which the supervisor tries to get everyone to produce [1].

book-team-of-leader

There are 5 stages, the stage one, the team leader interacts with each team member one on one, and the stage five is that the team essentially manages itself, everyone becomes a leader. in This scenario, many of leader will spend most of the time working on higher , cross – functional, and outside issues freeing yourself to work at a broader level. The relationship with the team will be really different. Instead of being a traditional supervisor who manages on a one on one basis, your would teach the team members how to handle these issues and be available to assist the team as needed.

They illustrated with a case study about the general electric plant in Durham, North Carolina. The plan has more than 300 employees, and only one boss the plant manager. All of these employees report to the boss, meaning that for all intents and purposes, they have no supervisor. The teams do not maintain a typical assembly line. Instead , they worked on an engine from start to finish. Moreover, everyone’s work varies on a daily basis, keeping the work interesting, and resulting in a high degree of variety. This work area has no time clock, so team members bring their personal business, meanwhile, the plan manager, the only supervisor in the entire plant sits in an open cubicle in the middle of the factory floor.

The most important are, not everyone can fit into this environment especially “people who expect to take orders.”That is because the plant was designed to be operated by teams of leaders. All of the team are bosses. The people in this workplace are clearly engaged, have high energy, possess multiple skills, and are very motivated. In Addition, they take tremendous pride in their team and the work they perform. The result is the performance of the environment excel and being a leader in the industry. They concluded that the information shared are very important. If it’s limited, the performance will be low, or errors. Meanwhile, the supervisor will have to frequently work to the point of exhaustion since he or she will be trying to control the work of a group of not committed employees, which results on mediocrity.

Then, the key to building leaders, you must determine the knowledge they people you supervise, decide, how to acquire it, then manage its distribution. This is why this book is so important, all of us want to be involved, challenged, and empowered. We want to be part of something that is bigger than us, and all of us want to make a difference. We want to continue to grow and develop. We don’t want to work for a boss who tells us to keep our mouths shut and do as we are told. We don’t want to do work that is boring and inconsequential. A team of leader will both produce the outstanding results and make the work experience much more exciting and enjoyable for everybody and let’s start it now.

[1] Paul Gustavson, and Stewart Liff, Team of Leaders.
Ps: this article is written for a weekly article at studio RAW Architecture – Realrich Architecture Workshop as the commitment from me for development my family in the studio.

challenge
Ambiance of optimism and a team of leaderes will both produce the outstanding results and make the work experience much more exciting and enjoyable for everybody like in Holiday.

Circular windows and pyramidal skylights add playful geometry to Indonesian home by Alyn Griffiths

Honestly I’m so excited that The Guild,  is just published in Dezeen two weeks ago. why I’m so excited, first because If the work could be published there, it’s the first time, I’m curious about the article, which photos they want to use because it’s learning about the eye of design, which one interest them, which one doesn’t interest them. 

the-guild-raw-architecture-realrich-sjarief-architecture-residential-indonesia-jakarta_dezeen_herob

I watched movie titled Genius which The story of follows the story of American Southern writer Thomas Wolfe and his connections with New Yorker Maxwell Perkins, the publisher. Perkins had already previously published works by the great American writers Ernest Hemingway and F. Scott Fitzgerald. [1] I love the character of Perkins in the movie, William Maxwell Evarts “Max” Perkins (20 September 1884 – 17 June 1947), was a book editor of the early 20th century. He is remembered as the editor who discovered and nurtured American authors Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald and Thomas Wolfe. He has been described as the most widely known literary editor of American literature [2]

genius

Sometimes in our creativity process we dig in into ourselfisness, finding our own creativity and forgetting outside world in our mind. The editor with keep ourself grounded, connecting our work with public, so people can admire it with certain way of seeing. I think that is the most rewarding experience to submit some of the works to the publications, to get feedback and critics in front of public.

The writer asked me very simple question such as, Who else lives in the house with you ? Why did you want to have your home and studio in one building? What level of connection and separation did you want to achieve between these different programmes?Why did you choose to use circular and arch-shaped openings throughout the building? Why is there a dental clinic in the building ?

here is the article :
1-dezeen

2-dezeen

3-dezeen

4-dezeen

5-dezeen

6-dezeen

7-dezeen

8-dezeen

9-dezeen

10-dezeen

11-dezeen

12-dezeen

13-dezeen

I love to have someone who can give me feed back, it’s like having pak Anas Hidayat, and David Hutama as sparring partner of thoughts. It’s very important to have someone to watch your back, kick your ass, and give you hot or cold water if your need it eventhough you feel you are okay.

In the birthday of my fellow designer Tolay - he is leaving the office for the greater good. have a blast future ! :)
In the birthday of my fellow designer Tolay – he is leaving the office for the greater good. have a blast future, Lay. We are still fighting as always ! :)

It’s Miracle’s home and my family home, the studio that we love, it’s still on going to change for the benefit for everybody.

Suasana Diskusi di Studio RAW
Suasana Diskusi di Studio RAW

Breakthrough through Innovation

Paul Goldberger discussed in his book “Why architecture matter” that “the new architecture “is often hard to accept. It’s only seldom seen as beautiful. It’s not easy to all of the great architects such as Frank Gehry, Frank Llyod Wright, Corbusier, or Mies Van De Rohe, or other great architects.

Falling Water - Frank Llyod Wright
Falling Water – Frank Llyod Wright

This book “Why architecture matter” showed basically reasons of loving architecture, while there are distortions between architects and people it this case, users, or clients, or visitors, or people that just see it for outside. In this case, the distortions will be shared in this article while I put a reflection, simple one, to connect Bachelard’s Poetics of Space and my experience while designing simple circle window which might illustrate the richness of thoughts in making architecture.

In each case, he illustrated a condition that artist broke through convention and changed our notions of what a culture can produce until their breakthroughs which now pleases us that There were almost always initial unpopular and vastly misunderstood. It’s like imagining, Frank Llyod Wright’s house leak or that Le Corbusier’s weathered badly or that Frank Gehry’s are difficult to construct.

 

in Poissy, a small commune outside of Paris, is one of the most significant contributions to modern architecture in the 20th century, Villa Savoye by Le Corbusier. Completed in 1929, Villa Savoye is a modern take on a French country house that celebrates and reacts to the new machine age.
“in Poissy, a small commune outside of Paris, is one of the most significant contributions to modern architecture in the 20th century, Villa Savoye by Le Corbusier. Completed in 1929, Villa Savoye is a modern take on a French country house that celebrates and reacts to the new machine age. ” http://www.archdaily.com/84524/ad-classics-villa-savoye-le-corbusier
The lower level serves as the maintenance and service programs of the house. One of most interesting aspects of the house is the curved glass façade on the lower level that is formed to match the turning radius of automobiles of 1929 so that when the owner drives underneath the larger volume they can pull into the garage with the ease of a slight turn.
The lower level serves as the maintenance and service programs of the house. One of most interesting aspects of the house is the curved glass façade on the lower level that is formed to match the turning radius of automobiles of 1929 so that when the owner drives underneath the larger volume they can pull into the garage with the ease of a slight turn.
https://en.wikiarquitectura.com/index.php/File:Villa_Savoye_Plata.jpg
Both the lower level and the upper living quarters are based off an open plan idea that provokes the inhabitant to continuously meander between spaces. As an architectural tour de force, Le Corbusier incorporates a series of ramps moving from the lower level all the way to the rooftop garden, which requires the inhabitant to slow down and experience the movement between spaces. https://en.wikiarquitectura.com/index.php/File:Villa_Savoye_Plata.jpg

For example, the example in this book is Le Corbusier’s extraordinary Villa Savoya, completed in 1929 in Poissy, a suburb outside of Paris, was the subject of angry exchanges between the architect and Madame Savoya, who considered the house “uninhabitable.” she lived in it for more than a decade, her discomfort is understandable, It was also happened in Mies Van der Rohe’s case by Edith Farsworth, who like the savoyes commissioned on the greatest houses of the twentieth century and once living in it, found it woefully impractical. Goldberger illustrated that The Savoyes and Edith Farnsworth were unlucky because they had to live woth a work of art at every moment, a nearly impossible task, he stated.

The single-story house consists of eight I-shaped steel columns that support the roof and floor frameworks, and therefore are both structural and expressive. In between these columns are floor-to-ceiling windows around the entire house, opening up the rooms to the woods around it.The windows are what provide the beauty of Mies’ idea of tying the residence with its tranquil surroundings. His idea for shading and privacy was through the many trees that were located on the private site. Mies explained this concept in an interview about the glass pavilion stating, “Nature, too, shall live its own life. We must beware not to disrupt it with the color of our houses and interior fittings. Yet we should attempt to bring nature, houses, and human beings together into a higher unity.” Mies intended for the house to be as light as possible on the land, and so he raised the house 5 feet 3 inches off the ground, allowing only the steel columns to meet the ground and the landscape to extend past the residence. In order to accomplish this, the mullions of the windows also provide structural support for the floor slab. http://www.archdaily.com/59719/ad-classics-the-farnsworth-house-mies-van-der-rohe/5037ddac28ba0d599b000077-ad-classics-the-farnsworth-house-mies-van-der-rohe-image

Goldberger put a premise that the rest of us have the luxury of looking at these houses only when we want to. Some people, of course, are capable only by looking at houses in practical terms. He continued, when the glass house, designed and owned by Philip Johnson completed in 1949, there was a story when one woman visited this then shocking piece of modern architecture and said ” very nice, but I couldn’t live there.” and Philip answered ” I haven’t asked you to, Madam, It was Johnson’s reply.. and then he concluded that few great houses are uplifting works of art to the people who live in them which are often incompatible with the demands of daily life or ordinary people.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/ac/59/da/ac59da282e70cd88b07b87a1a7e2aac1.jpg

As what Gaston Bachelard believed in such poetic of space, the more intimate objects what could be imagined in deeper level, it’s sometimes missunderstood that this premise that private houses are designed for all people. these example illustrated by Goldberger, summed that the conditions were made by and for clients.

The need to include the function is a must. In my case it’s simply like when I decided to have circle window in my family room, the question is, can it be opened, how it will be opened and what are the construction difficulties. When I tried to neglect the functional in my mind and put more into clearer form, I will neglect the opening and choose to make it frameless window, and I believe it’s easier for me but downgrade the window’s performance. It’s simply about working more detail towards functions of how you use the space. The solution was to change the glass into polycarbonate sheet which made the construction finished in just less than a week because the hinge will be smaller, the window will be lighter when I open it, and it will be more practical for the steel welder to construct on site while minimize the building cost.

There are the layers of thoughts that could bridge practical uses and more avant garde ideas. Goldberger’s thought could enhance how the architect, will have the authority to be avant garde but anyway the bridge will make it easy, will position architect ant users in the same ground.

2-dezeen
The Guild s Circle Window at my family room : At the heart of the house is a courtyard with a fish pond with a background of the 3.5 m radius circle window with 3.50 m looking through the family room.

note :
Image of Bachelards quote : https:// s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/ac/59/da/ac59da282e70cd88b07b87a1a7e2aac1.jpg
Featured Image by © Liao Yusheng: http://www.archdaily.com/67321/gehry-residence-frank-gehry

RAW Architecture’s Brava Casa is a Philosophy of Life and Form by Natalina Lopez

Archdaily just published article about Sumarah 99%, The story is about explaining the concept of sumarah, spirit of surrender, I met with Laura Romano while me and my kids went to rumah Turi for visiting.

Here is some introduction that I wrote last time in the exhibition 99 % sumarah :
99% Sumarah adalah refleksi dari dua buah jalan dalam bepikir mengenai definisi sebuah kekuatan sebagai seorang manusia. Pemikiran pertama mendefiniskan kekuatan sebagai sebuah kesempatan untuk menang, bagaimana untuk mendapatkan kekuasaan, dan untuk menjaga kekuasaan. Instalasi ini bertujuan untuk memberikan pemikiran interpretasi, tanpa pernah memberitahukan secara ekplisit, pengunjung harus mengunakan ide ide mereka dan pengalamannya untuk mendefinisikan hal tersebut. Hal itu lah yang membuat pemikiran kedua, yaitu Sumarah menjadi nyata. Sumarah adalah pengajaran spiritual dari jawa. Sumarah adalah seni untuk berpasrah diri, dimana menyerahkan dirimu kepada semesta. Sumarah adalah penyerahan tanpa berharap apapun, dimana rasionalitas menjadi lebur dan tidak meminta apa – apa, menerima keadaan apa adanya. Inilah sebuah kondisi yang paling alamiah.

Sumarah adalah instalasi yang sederhana yang terdiri dari 300 buah kotak berukuran 300 x 300 x 600 mm yang ditumpuk – tumpuk menjadi ruang yang sederhana namun terlihat rumit. Proses pengerjaannya sederhana memakan waktu kurang dari satu hari. Struktur tumpuk adalah sebuah cara yang primitif untuk membuat ruangan, dengan menggabungkan kurva parabolic dan kurva catenary, bangunan ini bisa menahan bebannya sendiri dengan sambungan sesedikit mungkin tanpa pondasi. Sumarah terdiri dari dua buah pintu keluar masuk yang membentuk siluet kurva catenary dimana ketika pengunjung masuk, akan dipertontonkan kehidupan alam, ikan dan tanaman sebagai simbol kehidupan. Dari tampak luar, instalasi ini akan terlihat kompleks membentuk bentuk bukit yang ditumpuk dari material nano technology. Namun dari dalam, memberikan kompleksitas, kehidupan itu sendiri tidak ada yang pernah sama, mendekati kondisi alam yang kompleks dan subtil itulah konsep mendasar dari ruang yang terbentuk. Tanaman – tanaman akan ditanam di udara segar, dan ikan – ikan akan dilepaskan di perairan yang segar sebagai refleksi dari kehidupan yang begitu indah.

Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99 % adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, karya dari arsitek seharusnya terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.

and, the last but not least, here is the article :

RAW Architecture’s Brava Casa is a Philosophy of Life and Form by Natalina Lopez
sumarah

sumarah2

sumarah3

sumarah4

sumarah5

sumarah6Few months ago, after I was invited by pak Cosmas Godjali for being one of the participants of designer’s booth,  I was quite unsure, because of there is no support for making the pavilion, but along the way, pak Cosmas, Kluege, Danpalon, and Artmosphere, and Galaxindo supported to make this pavillion dream come true. here is all the credit for the people.

Sponsored & fabricated by Danpalon – Metsi Inka
Kluege as system integrator
Atmosphere as Lighting designer
Galaxindo as lighting specialista
Event by Casa Bravacasa 2016

 

The Foundation of the Practice By Ariko Ahmad

I met this interesting guy, his name is Ariko Ahmad, he studied in London, and love to write. I met him for one interview for Prestige Magazine. his photographer, took a picture of me. I wasn’t ready and always not fond of photography session. Ariko was actualy cool guy when you talk to him, he has full of enthusiasm, and joy, craving for more information, and very warm. This article is one of the articles that I love, I was quite surprised of the writing, that actualy there were so much information coming from our discussion while we had lunch together, from working with Charles, National Gallery, and bit of profession, and glimpse of our hope for the future.

The title of the article is The Raw Reality, very interesting opening, please check it , hope you enjoy it as I remember the time was passed and always wish Ariko all the best.
lifestyle-web-realrich00004

laras-web-rumah-kotak-kayu-14

please do not comment on my funny picture ha ha ha. I can’t stop laughing, Hey my shape is better than it was pictured now, no more fat belly.

lifestyle-web-realrich00001lifestyle-web-realrich00002lifestyle-web-realrich00003

Ps : I found out that he was not in the Prestige Magazine anymore, probably he sailed to another company, another family, another journey, well I wish all the best for Ariko and Prestige as well, and we will meet again in the future.

From Idea to Innovation – Trial and Error

Tony Crabbe, BusyTony Crabbe illustrated how to learn the lessons in one story in his book title busy. A dutch charity, International Child Support (ICS) wanted to fund a school assistance program in Kenya. Like any charity they had limited resources and wanted to make the maximum impact. They selected twenty five schools at random and supplied them with textbooks, and tested the impact, it made little difference. ICS then, ran second experiments, the gave them illustrated flip charts. the results were disappointing. then They gave the schoolchildren tablets to treat intestinal worms. Worm tablets turned out to be great success , booting height, reducing infection and cutting absenteeism.

This idea is similar when we are facing our own future, we don’t know what is the outcome, what we can do is just to try our best. Some people can say, we spend too much to do on ideas that aren’t working. But look at the evidence, success doesn’t result from making the right guesses in the first place. It comes from trying things and then, identifying what works and what doesn’t keep moving and try stuff out. The true and worth investment is the attitude for never give up and keep on trying.

mihaly-csikszentmihalyis-quotes-7

The other story is from Mihaly Csikszentmihalyi, that he led a team to study ninety – one exceptional individuals, what he found was counter intuitive, that finding solution was easy; the hard part was finding the right question. Once the question had been discovered, ideas flowed freely. it’s similar with Thomas Alfa Edison, the lesson from Edison is that the way to innovate is not through genius and coming up with a single world changing idea, do different things, some stuff will work some stuff won’t. Select the stuff that works and discard the stuff that doesn’t then vary the things again.

Antoniades once pointed out how to be, or the prescriptive to be poetic with inclusivist approach in architecture design process, first to discuss with as many people as you can, second, to get as many view point as you can, and the most important the third, to try as many way of conceptions, options, trial an error.

So when we only have one idea, that means, you are not working hard enough. as Emile-Auguste Chartier Said.” Nothing is more dangerous than an idea when it is the only one you have.”

[1] Crabbe Tony, Busy.
[2] Antoniades, Poetic of Architecture.

Kandalama, Geoffrey Bawa’s later masterpiece and content of being honest

“A building can only be understood by moving around and through it and by experiencing the modulation of the spaces one moves through from outside verandahs, the rooms, passages, courtyards the view from these spaces into othersm,… equally important, the play of light in both garden and innerroom – from shaded inner space to the celebration of light in a courtyard.” Geoffrey Bawa

Kandalama Hotel | Sectional elevation through the hotel showing the relationship of the building to the cliff | Archnet
Kandalama Hotel | Sectional elevation through the hotel showing the relationship of the building to the cliff | Archnet

Several Weeks later I saw one image, a hotel with full of greeneries looks like the building is attached to nature. The Name of the Hotel is Kandalama.

Though the west wing is visible from the entrance road, it was heavily camouflaged by planting in order to minimize its visual impact on the arriving guest so it ultimately does not detract significantly from Bawa's designed approach.
Though the west wing is visible from the entrance road, it was heavily camouflaged by planting in order to minimize its visual impact on the arriving guest so it ultimately does not detract significantly from Bawa’s designed approach.
Being one of Bawa's earlier moves toward minimalism in building detailing, the design of the Kandalama Hotel was shocking to admirers of the vernacular influence visible in his previous projects. However, the subtlety of the architecture itself effectively foregrounds the drama of the cliff-side topography and breathtaking views.
Being one of Bawa’s earlier moves toward minimalism in building detailing, the design of the Kandalama Hotel was shocking to admirers of the vernacular influence visible in his previous projects. However, the subtlety of the architecture itself effectively foregrounds the drama of the cliff-side topography and breathtaking views.
The Kandalama Hotel is a nine-kilometer drive east of the small town of Dambulla. The main entrance lobby is located at the end of a ramped 2.7-kilometer-long private road that branches north from a secondary arterial leading back to the center of town. From the earliest development phase of the project, Bawa was interested in developing a spatial and visual sequence of entry that culminated in the revelation of the distant view of the monument of Sigiriya only after entry to the hotel lobby.
The Kandalama Hotel is a nine-kilometer drive east of the small town of Dambulla. The main entrance lobby is located at the end of a ramped 2.7-kilometer-long private road that branches north from a secondary arterial leading back to the center of town. From the earliest development phase of the project, Bawa was interested in developing a spatial and visual sequence of entry that culminated in the revelation of the distant view of the monument of Sigiriya only after entry to the hotel lobby.
Plan at Entry Level - Archnet
Plan at Entry Level – Archnet

Robson stated If Norman Foster works with hundreds of architects in his firm, Foster and Partners. Geofrey Bawa should not be viewed as a lone genius but rather as someone who operated within a circle of sympathetic friends and collaborators and at the center an ever-changing group of talented associates and assistants.  He also worked closely with a network of highly skilled builders and craftsmen which traditions and practices had been passed down through generations, often developing ideas directly with them on building site. [1]

I did research about Kandalama, found the building performance in archnet which is the world’s largest online databank of Islamic architecture. It was developed at the MIT School of Architecture and Planning in co-operation with the Aga Khan Trust for Culture. It provides users with resources on architecture [1], urban design and development in the Muslim world to all users .

Kandalama shows as example how Bawa’s later approach.Bawa’s earlier works are purely aesthetic and reflect the architect’s evolving personal design philosophy. The Kandalama Hotel follows the model of his later projects, in which the majority of the ornamentation comes from sculptures and artworks by other artists distributed around the building.
The detailing of the architecture itself remains plainly yet harmoniously articulated in neutral tones and natural materials, including white concrete walls, black painted concrete columns, and wood or iron railings and millwork.
The detailing of the architecture itself remains plainly yet harmoniously articulated in neutral tones and natural materials, including white concrete walls, black painted concrete columns, and wood or iron railings and millwork.

The Kandalama Hotel is located in the central dry zone of Sri Lanka, unlike many of Bawa’s other buildings on humid oceanfront sites, and thus its design must adapt to a different climate. While pitched roofs are a necessity in coastal areas that receive heavy rain, the flat roofs at Kandalama function well in a dry climate and are less material-intensive. [2]

This hotel reminds me about Norman Foster when he strived for improving the building performance more than architectural articulation. The Kandalama features innovative building technologies and systems designed to mitigate the environmental impact of the building’s operation on the catchment of the nearby lake. The Kandalama Hotel is an excellent example of how tourist facilities can be integrated into an undeveloped landscape successfully, fostering appreciation for the natural beauty of the setting while minimizing negative environmental consequences.

There were interesting stories and comparison the attitudes of influence and inspiration, among Mies, and Corbusier. Historian Reyner Banham would tell how he had interviewed Le Corbusier in Paris in the late 1950s. he was curious about the inspirations of Corbusier’s mind, Corbusier and Mies van der Roher both working for Peter Behrens in Berlin in 1911 and together they went to hear a lecture on Frank Llyod Wright by Dutch architect Berlage. When questioned by Banham, Corbusier insisted’ Frank Llyod Wright, “I don’t know that name. This was the same Corbusier who in 1912 design his parent house inspired by Frank lyyod Wright. Some architect found that they were orginal and that there genious, self trained, being avant garde and centre of attention. 1912 - Villa Jeanneret-Perret, aka Maison Blanche, aka the White House, 12 Chemin de Pouillerel, La Chaux-de-Fonds, Switzerland.

Robson stated that Geoffrey Bawa did not aspire to be original or Avant – Garde, though many of his buildings were highly innovative. His architecture was not a means of personal expression: he enjoyed the process of causing buildings to be made. Good buildings gave him pleasure and he took pleasure from making buildings that gave others pleasure. He was concerned to make buildings that satisfied the aspirations of their users, which were appropriate to their setting and function [3]

Creating honest design, and performance based design is fundamental for design rather than attitude for being avant-garde, In the term of solving problem, we have to connect with the users, make them happy, nurture them, satisfy the land and the human. It will be good for students to understand and practice them. It’s like Gaston Bachelard’s Poetics of space, he believed in imagination, the best work is to left the imagination and some part of the chest is closed and left for interpretations for admirers. I remember my childhood, with my family, in our family, I was thought by my father and mother, to have perfection in work, nurture the family, while staying real, and honest with everybody. That is why they gave me name realrich. I just think that the word “family” is getting bigger.One of them is student, and another future architect, the other family is Laurensia and cute Miracle who gave me love every day.

the attitude makes the originalism.

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/ArchNet
[2] Robson David, Beyond Bawa, modern masterworks of monsoon asia
[3] Archnet, http://archnet.org/collections/10/sites/3041

Free School of Architecture

RAW Belitung's trip pic by Rio Triwardhana
RAW Belitung’s trip pic by Rio Triwardhana

Few days ago, I went to Belitung with people in studio for outing and relaxation trip. The trip was very relaxing, we had our camaraderie through playing, sharing, and learning new places. The studio has been working really hard for the progress of name RAW. It was fully trip that we gave for the effort given by associates, and designers. Originally when we went out for the trip, it will be a review for the office. We had a review for the 6 years of the office as well, but I won’t tell story in this post now. It will be later, this post is about the moment that truly touched my heart.

one of the momen that touched me when we went to school Muhammadiyah Gantong, there were few children entertaining people with laskar pelangi song, and suddenly we started to sing. After that I went to other classroom, looking and imagining how the learning process happened. The school structure was poorly built, while I could not found the traces of the learning process which is predicted because the location was genuinely made for movie set “Laskar Pelangi” a movie. An Indonesian film adapted from the popular same titled novel by Andrea Hirata.

After that, We went to Museum of Word, an initiative by Andrea Hirata located in Manggar, which quiet far from downtown Tanjung Pandan but the long road was so amazing and enjoyable.
In this house, are showed how Bangka Belitung’s children dreams. looks like, Andrea wants to make this museum as the first Letter Museum in Indonesia which come from the island, who has many population lack read. The museum has so many inspiring quotes form many remarkable people in the world, I just feel that Hirata believe in dream, a dream of better educated people through words.

Word by Hirata itself

RAW Studio People's in front the museum
RAW Studio People’s in front the museum

Word by Hirata itself

The most inspiring part of this museum is at the back of the museum, there is small passage. The passage lead to the free school for belitung children. That is touched my heart. The fundamental of the knowledge is the education, while I feel inspired with the humbleness of the place, the simple seating, enough sunlight, simple structure with light construction made by wood and corrigated zinc.

Last time I was in the hard time how I could contribute to the society even more after establishing Omah Library. Now David is helping me to structure OMAH. Anis also has come back, and furthermore There are Greg, Rezki, Fandi, Ellena, and so many volunteers. We have a plan to establishing a course for omah as a way to get income and ease the load of money that was paid of omah’s operational

cost which vary around 10 million a month. But, this free school is going to be different, and I thought that it will be one the good initiative to connect architecture practice such as design principle, structure system, and mechanical needs with broader people through knowledge what what’s i believe in rooseno’s word, “knowledge is where west and east can meet” creating more beautiful set of world of brothers and sisters through architecture

Free School by Andrea Hirata
Free School by Andrea Hirata

Health is Wealth

“Robin Sharma shared about heart in being leader in his 2010’s publication, the title is about the leader with no title, I think this book is going to be worth to read by architects or all of the poeple to exercise leadeship by leading without title and for us who wanted healthier life.”

being healthier is difficult, it consists of knowing your food, doing your sports, and controling your body.
being healthier is difficult, it consists of knowing your food, doing your sports, and controling your body.

He believed that success is created through the performance of a few small daily disciplines that stack up over time to produce achievements far beyond anything you could have planned for. It’s well known for living legend Rudy Hartono to wake up early in the Morning to start training himself, so he become a champion in Badminton. “Antoni Salim, one of the prominent businessman also always jog every day at the early morning.” says my dad one time. when a year ago I tried to follow Pak Antoni jogging every morning, but it came last for only 1 month, my nike run apps was shut down, my shoes were hung at shelves. I was failed have healthy routines, there was lack of motivation to be healthy. Robin then wrote that Failure, on other hand is just as easy to slip into. Failure’s is nothing more than the inevitable outcome of a few small acts of daily neglect performed consistently over time so that they take you past the point of no return.

Cover book for Robin Sharma's The leader who Had no Title
Cover book for Robin Sharma’s The leader who Had no Title

2 years ago, I still could wake up every morning at 5.00 am until the work took the metabolism of the body, the time of waking up starting to be later, 6.00 am, 7.00 am, until 8.00 am, 9.00 am because of heavy overtime for design submission. by the time, my weight was increased to 74 kg from 67.5 kg. I could not wear any slim fit trousers, and it’s difficult or heavy to move. I thought it was only my psychology.

Then I read one book titled, Originals written by Adam Grant. he wrote when you want to change something, building a condition, system that make you to change, change your behavior, you can’t do it yourself, you need other people. In my mind, I thought, “okay I need a trainer.” I asked Rezki and Greg, that I wanted to do Yoga, and they introduced me to Feliz. Then at bright morning, the yoga started.

Originals written by Adam Grant
Originals by Adam Grant

I was realized when I did yoga with Feliz as a way for having routine exercise. I believe that if the mind could program, at least the metabolism could be adjusted by the routines. It came up that the exercise was really painful from one session to another session until fourth session ,it was more painful. Then I realized, that probably the problem is the nutrition, the food that we eat, resemble the balance of our mind, and spiritual side. Just at Monday, I came up with weight loss program in the office, that every 1 kg loss or gain toward ideal weight, the office will pay 200 k for it. It was quite exciting to start  and to walk the talk is more painful. I was in anger, and couldn’t control emotion, movement, losing energy, body start to tremble for 2 days. My body was suffering. We had a chat in the studio, and Miftah said “no pain no gain kak”

I think that is absolutely right. No pain no gain, even Feliz, our yoga teacher said, she experienced the same thing, started to eat in more healthy. She said even for her, starting yoga is painful even until now, so her body need stretching, the body will tell if we are ready for one pose to another pose.

Some of the people, like Ellena, Miftah lost 3 kilos and more until now, less than a month which is great for them and other people lost 2 kilos, 1 kilo, some of them couldn’t control their appetite and will have to prepare fine – 20 k for paying the excess per kilo.

Sharma wrote ‘Lucky breaks are nothing more than unexpected rewards for intelligent choices we’ve chosen to make. Success doesn’t just happen because someone’s stars line up. Success, both in business and personally is something that’s consciously created. It’s the guaranteed result of a deliberate series of acts that anyone can perform.” How can we not agree with !

And me, After 3 days having eat more healthy, my body was relaxed. in one week, I lost 2 kilos, and in 3 weeks I lost 3 kilos. My body is lighter, feels good, and the most important part, I can do my routine for waking up 5 a.m. in the morning to write this article and I have been doing yoga for almost 3 months, and feel healthier ever ! let’s encouraging each other to be healthier than before.

Note : for the dream team who are encouraging each other.

Our team : let's get healthier
Our team : let’s get healthier

Being Dominant ? phrasing cuala …

“you will never go wong in doing what is right,my young friend, never. if there is one thing I’ve learned about leadership siccess it’s that it lies at the intersection where excellence meets honor.” Robin Sharma

There is one phrase, “juara” meaning champion, some of my fellow staff named it as
“cuala”, one of the phrase that they often mentioned.  I’m curious because It’s weird,  it’s like jokes when people want to mock chinese language they use that alphabet C instead of J to express the accent by chinese people. I’m also curious where did they get that phrase. But anyway, this phenomena is interesting, because some of the people, tend to make it serious, as a way to get dominant, competitive, as a brotherhood, or as individual, allienate themselves, to show that being juara or cuala meaning that they are on top of others. Champion means a person who has defeated or surpassed all rivals in a competition, then what is rival, a person or thing competing with another for the same objective or for superiority in the same field of activity.

Norman Foster, a very talented and well organised architect was in the phase of phrasing cuala or being dominant as well. He did his first studio with team 4 together with Richard Rogers, Sue Rogers, and Wendy Foster. The kept arguing, in the discussion, the ideas could not be integrated, Rogers was keen to expression, the tectonics of building while Foster was more interested on building integration ,building performance, then they were separated in the early years of practice left both of them making their own architecture ideals. Foster went for foster associates, and Rogers for their own. They hired a flat in Hampstead, and the practiced in the other room, the office and living quarter was divided by wall partition. Foster almost went bankrupt while working for HSBC, he kept his office with small group of people in London. He sent Spencer, David, Moshan, Ken, and another people in total of 100 people to Hongkong, he thought that that was their best chance. [1]

“At the time we couldn’t understand why he (Norman) didn’t move to Hongkong with us, We had to keep briefing him on what had happened between visits, but in retrospect he was abolutely right. What Foster always had in mind was the long term future . When the bank was finished he did not want to find himself back where he had been before he won the hongkong competition. “ David Nelson

Then after the HSBC, he had to sacrifice people in his studio because he couldn’t afford them, one of the people even had to redraw some of the old projects, for publications that can attract more works. It was turbulent time for him.  He focussed on the ide of the projects nailed the idea one by one, one of the important milestone is HSBC tower, the firm had not worked on high rise project before, the reputation went up, and some of the next commision gave opportunities for giving more innovation, more ideas, and then perfecting mastery in building performance and integration.

Norman Foster is probably can be justified as cuala or championed for building performance and integration. He found design principle to make the building run more efficient, building system more efficient, and look more sophisticated, and cost more efficient. His chemistry with other people has been remarkable, he has been well known of his persuasive, and effort for making his projects realized. In the book by Deyan Sujic, Sujic wrote that, “Out of every eight competitions he takes part in, only one leads to completed building. And even when it ocmes to the successful projects where the fees get paid, ony one produces abuilding. yet he must not only design it, but lobby for it, help raise money for it, and do his best to sell it as well. … ” and then he continued, the most important message.

He embraced the ideas, not on his position, label, status, wealth. Civilized meaning to think about your positioning by contributing increasing other’s value. he is such open and well connected to his collegeaue, client, and friends. the cuala or champion title, comes from cuala or champion habit, that is connecting with other people, giving your self out to the world, rather than being introvert and detached from other people. Sudjic then wrote as a very beautiful conclusion ‘the process demands the self knowledge needed to stop the architect from failing into the banal trap of the fountainhead complex, losing all touch with reality in a pursuit of a megalomaniac fantasy.” [1]

Deyan Sudjic's work Norman Foster a life in Architecture https://aabookshop.net/wp-content/uploads/2013/09/foster-web-708x1024.jpg
Deyan Sudjic’s work Norman Foster a life in Architecture https://aabookshop.net/wp-content/uploads/2013/09/foster-web-708×1024.jpg

Ref :
[1] Norman Foster Works 1
[2] Sudjic Deyan, Norman Foster A life in architecture. pp 293

Hyper Complexity

In presentation of Balai Purnomo Hadi University Indonesia. Yori Antar as juror, made a comment, “you said that the scheme was simple, but it is complicated, you said it’s complicated but it is simple”

That is threshold of allegory, al·le·go·ryˈaləˌɡôrē/
noun a story, poem, or picture that can be interpreted to reveal a hidden meaning, typically a moral or political one. I think he was right, the scheme was complicated, but it is simple for me. The triangle form which was repeated in circular parti which was engineered for rain water harvesting. The competition ended up us as being finalist in the round, sonny sutanto architect as winner, and pavilion 95 as another finalist, the other participants are Aboday, Atelier Two, Arkonin, Arkitekton Limatama, Duta Cermat Mandiri (Denton Crooker Marshall Indonesia)

here is the news from the committee
rekap-pesertask-pemenang

As a shell, Indonesian culture of what we are in, from the primitive construction to the advanced material innovation. The term of complex bring combinations of maze, a rubic cube showing the path of the creativity in building craftmanship.

I thought that the avant garde which proposed by new generation of Indonesian architect is in big question in society, because of the simplification of its meaning, the generalisation of making architecture as a commodity. Meanwhile, the regionalism in the stream of design brought up. The question then, will be asked by public to the architect, what is the next generation of our era, the future Indonesian Architect.

The hyper complexity rejected singular solution for every aspect, this complexity believe that each of the moment, each of the party, each of the project is unique by its approach driven by the architect. The architect will be at the centre of the paradigms, covering the what should be done, what should not be done. In that sense, the authority of the architect and the authenticity by the architect shall be given by the public. And the appreciation will be even higher than before.

This concept underlines that the concept will focus on 2 layers of thinking :

First, is the internal side of the architect, the creativity side, that architect need to put his or her imagination alive. This process is about the cultivation of experience, the sadness, the happiness. It’s about the trust and belief of the architect and his or her background. The mastery is challenged

Second, is the external side of the architect. The domain of the architecture, which are the clients, the builders, the other specialities consultants, such as mechanical, electrical, structure, quantity surveyor, or even project management. The architect is the heart of the parties, that is why the rational, the mind, and even the spirituality must be connected, every parties need to realise that they are going to the same objective.

After the work is done, then, to show the complexity of the project, the complex, unsingular, clear informations are needed to show the project is not so simple, and well thought, and it’s worth it to show. It’s an act for self criticism for greater good. because appreciationis given not grabbed, appreciation comes from a focus on others. Then, appreciation will follow with reputations.perspektif-3-outdoor-3

Facing Death – Counting Times

I remember last time my uncle passed away, few months ago. we visited him in hospital just a day before he passed away. The doctor asked for our opinion to put ventilator or just to leave him without breath support. It was uneasy experience, we got to choose. Putting ventilator is not easy, it’s painful for him, leaving him without breath support is also uneasy. He had been experiencing his life with cancer for the last 1 year. It had been painful for him.

During my stay at the hospital, I realised so many things, we got sick, and felt so sad because we couldn’t bear to see the losing, the sadness of our big family. I realised that this life need to be ended someday, there will be omega for all of us. I still have 2 beautiful father and mother from my side, and 2 beautiful father and mother from laurensia’s side.

Facing the death, our dignity, money, and love will not be last.

my aunt was faint several times, my cousin, who are younger few years than me, they are still studying in uni now are courageous to support their mother and father. Looking at their experience, seems that turbulence made them stronger.

I asked one of my students about the meaning of the death,his name is Robin,  he had been working to design cemetry.

Is the death something really dark ?
or something really bright ?
is the death the end of journey ?
or is it beginning of the journey ?
to design something great,

we start with process of construction and desconstrution in our head, by reinterpreting our lifes as human being.

The two exhibitions: Architecture without Architects and Deconstructivist Architecture

One of well known exhibition is curated by Bernard Rudofksy titled, architecture without architect with an agenda to explore a exemplars of indigenous architecture, He travelled to some of place, took photograph, and wrote paragraph about the story that was found by him during the trip. We need to put his exhibition context to the year 1960 when Jane Jacobs did critic for city in United States, attacked architect for the responsibility detaching architecture to people in process of making architecture. This exhibition had opportunity to show, architecture, which grew in the people and could change people and had close relationship to the city. The word to sum up the quality of the exhibition was ingenious. The exhibition followed with book titled architecture without architects.


Another example is Deconstructivist Architecture exhibition curated by Philip Johnson and Mark Wigley in New York. This exhibition featured works by Frank Gehry, Daniel Libeskind, Rem Koolhaas, Peter Eisenman, Zaha Hadid, Coop Himmelb(l)au, and Bernard Tschumi. They were new generations of architecture which breaking modern architecture by its product and process. Johnson and Wigley explained the manifesto in several points to conclude the architecture phenomena; they stated that the architects recognized the imperfectability of the modern world and seek to address, in Johnson’s words, the “pleasures of unease.” Obsessed with diagonals, arcs, and warped planes, they intentionally violate the cubes and right angles of modernism. Their projects continue the experimentation with structure initiated by the Russian Constructivists, but the goal of perfection of the 1920s is subverted. Disharmony, fracturing, and mystery displace the traditional virtues of harmony, unity, and clarity. The exhibition includes drawings, models, and site plans for recent projects by Coop Himmelblau, Peter Eisenman, Frank Gehry, Zaha M. Hadld, Rem Koolhaas, Daniel Libeskind, and Bernard Tschumi (11st of projects attached). Their works are preceded by an introductory section of Constructivist paintings and sculptures drawn from the Museum’s collection.

The two exhibitions: Architecture without Architects and Deconstructivist Architecture have strong agendas, informations, that could be beneficial to the public and changed the constellation of architecture in the world.

I think ARA’s Exhibition: Intimacy, in the appraisal of good exhibition’s framework has 4 agendas: first, intimacy tried to minimize the gab of architect and the public, showing with it’s title and the models which can be played by public and workshop by kids, second, it exhibited the layer of the architect’s studio showing by the relics, the things around designers such as, miniatures, or even guitar played by the staffs or else. Third, it tried to exhibit the layers of communications between stakeholders such as principals and other party by notes showing communications inside whataspp group printed and hung on the wall. Fourth, it shows an introduction for ARA’s work through models, text and some diagrams. These 4 layers are combined with an attitude to open their studio for public especially for architects, young designers, students for sharing ideas, discussions, or just for chatting.

The quality of the exhibition as starting is promising. It’s promising because some of the good exhibitions started with 2 main cores: agendas, and attitude, which shows that this exhibition has quality to be judged. For me this exhibition is not an ending, or omega, it is just an introduction or starter or alpha for the next sequel exhibitions which can be continued with more discussions, discourse, and sharing to architecture community in Indonesia and we can hope for architecture appreciation could be better from time to time in Indonesia.

Heart and Agenda for Exhibiting Architecture

What is our current state of Indonesian architecture exhibition. Do we need architecture exhibition? What is the current state of architecture appreciation? In what sense architecture exhibition will provide value to culture, society, and further agenda? Do we have a good reflection of our current paradigm? Is there any good critic attitude?

 

some of th example of ARA’s exhibition

To see the quality of the exhibition, first, it really depends on the agenda of the curator, what the meaning of the exhibition is, Why the exhibition, and How it is executed. Off course some of the curator might think that why do we need an agenda? Why don’t we just exhibit whatever we have, and let public decide? Inside the mastermind of the curator there are various agenda, I don’t believe in there is no agenda in the exhibition, there are only 2 agendas, private of social agenda and There are 2 streams of paradigm, the first one is agenda which is more introvert, to show a set of skill, mastery in architecture. The other is a more extrovert, more social; it’s about showing social agenda to the public. We can refer to David Hutama’s lecture in Omah Library, I summed that architect needs these 3 skills in architect profession: It could be skill as artisan, technician or even social businessperson. The two streams sometimes can be combined depends of the agendas, more introvert or more extrovert, mixed depends more to the curator who is the driver of the exhibition. The exhibition quality depends on the depth of the agenda, and communicating the idea to the public.

Universitas Pelita Harapan once has brought complete set of information of showing mastery and social agenda, in their academic agenda, by exhibition waktu adalah ruang curated by Fernissia Richtia, Robin Hartanto, and Andreas Annex. The exhibition shows a complex stage from basic stage to learn architecture, which was experienced by students by understanding the small: hinge and joint to the big or macro, which is the urban level. There are many details, big scale model, well written explanatory and finally there was book launching to sum up the whole information.

UPH exhibition waktu adalah ruang http://i0.wp.com/www.arsitektur.asia/wp-content/uploads/2015/08/Zona-Tugas-Akhir.jpg
UPH exhibition waktu adalah ruang http://i0.wp.com/www.arsitektur.asia/wp-content/uploads/2015/08/Zona-Tugas-Akhir.jpg

The models in Waktu adalah Ruang Exhibition exhibited with storyboard from intimate to more public project, showing the understanding from micro to macro.

UPH Exhibition Waktu adalah ruang http://media.rooang.com/wp-content/uploads/2015/08/Zona-Kontinum-Kota-Tua.jpg
UPH Exhibition Waktu adalah ruang http://media.rooang.com/wp-content/uploads/2015/08/Zona-Kontinum-Kota-Tua.jpg
“Segar” Adalah sebuah pameran arsitektur yang diselenggarakan untuk meramaikan pemilihan ketua umum Ikatan Arsitek. @adam Anaki Instagram Picture
“Segar” Adalah sebuah pameran arsitektur yang diselenggarakan untuk meramaikan pemilihan ketua umum Ikatan Arsitek. @adam Anaki Instagram Picture

Meanwhile the exhibition in like indobuildtech showing more commercial Agenda and Exhibition Segar showing more political agenda in relation to moment of Indonesian Institute of Architect. Reflecting in this selection process and the empathy to the public. I did critic for some of the exhibition titled Segar few months ago. The curator selected the participant. I was thinking if this exhibition was intended for celebrating the moment of selection of chief of Indonesian Institute of Architects. Deep in my mind I have so many questions, but fundamentally why should we, that we are in Jakarta, which already has reputations, 50 architects or more trying to show existence by having less agenda. It would be great if some of the architects, from outside java, unheard, but has ingenious work and several limitations of information, could be invited to collaborate in exhibition as a part of political agenda to unite architects in Indonesia. In the architecture, architects have their own label, and branding, off course it could be an attraction as the name is announced in the exhibition, but does the content is more important, because the architects who have great branding, started from zero by their amazing work, it’s not instant, it’s long journey, to start the career, some of the architects like Gehry, Mayne, the need 10 years to train and produce body of work.

Hyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors. “In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”
Hyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors.
“In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”

 

Pembelajaran Seumur Hidup

Adalah bukan rahasia lagi bahwa seorang arsitek membutuhkan waktu lama untuk bisa tumbuh. Seorang Frank Gehry yang mendesain Guggenheim Museum di Bilbao, Spanyol, Thom Mayne yang mendesain Bangunan sekolah Copper Union di New York, ataupun Renzo Piano yang mendesain The Shard di London, Inggris, ataupun Norman Foster yang mendesain Reichstag di Jerman membutuhkan 20 – 30 tahun untuk bisa membuat publik memahami prinsip – prinsip desain yang ada kemudian menerimanya. Pencapaian ini bisa dihubungkan dengan penghargaan Pritzker Prize yang sudah diterima arsitek – arsitek tersebut. Pritzker prize adalah sebuah nobel arsitektur, penghargaan untuk arsitek yang menyumbangkan ide -idenya untuk masyarakat. Dari lamanya pembelajaran yang dibutuhkan arsitek, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berusaha untuk membuat tatanan pembelajaran arsitek dari 3 tahun untuk arsitek pratama, 5 tahun untuk arsitek madya, juga 10 tahun untuk arsitek utama. Ketiga tingkatan ini bergantung dari kompleksitas pekerjaan, tinggi bangunan, dan kerumitan sistem bangunan yang muncul untuk membuat bangunan ini berfungsi baik seperti integrasi struktur, mekanikal, elektrikal, pencahayaan, sistem transportasi, sistem kebakaran yang perlu untuk dituangkan kedalam gambar kerja yang terukur sebagai panduan kontraktor untuk bekerja.

Frank Gehry memulai belajar dengan kegagalan, kemudian ia bisa lulus dari jurusan arsitektur dan kemudian magang, ia kemudan mencoba bertahan hidup dengan membaut praktek sendiri dan mendesain bangunan – bangunan komersial. Sehingga pada akhirnya setelah saatnya tiba, ia memutuskan untuk memilih klien, dan mengerjakan pekerjaan yang baik untuk dirinya sendiri, pada akhirnya muncullah desain Guggenheim di BIlbao. Frank Gehry memutuskan untuk belajar menghadapi tantangan di masyarakat, membuktikan bahwa ia mau belajar untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat. Pak Achmad Noerzaman seorang direktur Arkonin juga membutuhkan waktu dalam perjalanannya menjadi seoarang presiden direktur di Arkonin, salah satu biro arsitek terbesar di Indonesia. Ia berangkat dari seseorang yang belajar dari senior – seniornya, melakukan sketsa – sketsa desain, dan membuktikan dari satu proyek ke proyek lainnya, terbangun dan tidak terbangun, konsep sampai gambar kerja sehingga karyanya mewarnai bilangan Jendral Sudirman, Bundaran HI, dan banyak lagi di kota – kota besar di seluruh Indonesia. Ada juga Tan Tjang Ay, yang mendesain bangunan – bangunan yang lebih sederhana, yang lebih menekankan pada sisi – sisi yang lebih detail, melayani klien – klien yang lebih personal dari jasa desain sampai bangunan – bangunan tersebut terbangun dengan inovasi – inovasi penggunaan material lokal dan pengolahan ruang yang efisien.Tidak jauh dari Indonesia, di Indonesia, seorang Laurie Baker, finalis peraih pritzker prize di tahun 2007, membuat desain – desain yang sederhana bersama costford sehingga terdesain rumah sebanyak 35.000 rumah di India. Desain – desain Laurie Baker memiliki sensitifitas terhadap kontur lahan, tipe pondasi, pemilihan jenis material, dan ekspresi yang jujur.

Apresiasi terhadap Arsitek

marketting-firm-inkindo

Dalam tabel standar biaya konsultan inkindo 2015 – Disdik DKI Jakarta, terdapat daftar untuk spesifikasi tenaga ahli dengan spesialisasi tertentu [1]. Spesialisasi tertentu ini mengacu ke perancangan gedung dengan kompleksitas tinggi seperti bangunan tinggi, pembangkit listrik, jembatan, dll. Uniknya dan anehnya, di dalam tabel ini tidak terdapat profesi arsitek, sedangkan disebutkan ahli mekanikal elektrikal, teknik lingkungan, teknik sipik, Geoteknik, Geologi. Memang di dalam lampiran tersebut terdapat kata – kata “dan lain – lain” namun disinilah tersirat bahwa, apakah profesi arsitek ini hadir dalam lingkungan jasa konsultan Indonesia. Jawabannya pasti iya, hadir, namun keberpihakan untuk arsitek patut untuk diperjuangkan karena tiga hal penting:

pertama arsitek berfungsi untuk melakukan efisiensi anggaran, dengan optimasi terhadap massa bangunan, luas bangunan, layout ruang, menentukan titik kolom struktur, menentukan jarak sisa untuk saluran mekanikal elektrikal dan pemipaan, dan optimasi penggunaan material. Kedua, arsitek berfungsi untuk mempercepat masa konstruksi bangunan dengan mempertimbangkan cara bangunan tersebut dikonstruksi, ketiga, arsitek bertanggung jawab terhadap tata ruang, dan perijinan bangunan tersebut untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan, yang bisa dipertanggung jawabkan keamanan, kenyamanan berdasarkan good practice, ataupun Standar Nasional Indonesia, ataupun timesaver, neufert data handbook, building metric handbook, ataupun standar – standar lain yang bisa diargumentasikan seperti standar pengamanan terhadap bocornya air, standar pengolahan minyak atau limbah, standar pengolahan air kotor, dan standar penyediaan air bersih dan sambungan antar detail yang mencegah angin, air, ataupun pandangan, terkait dengan privasi pengguna. Sedemikian mengerikannya apabila satu bangunan tidak didesain dengan benar, apalagi bangunan dengan kompleksitas tinggi yang akan digunakan oleh klien dan penggunanya. Kita patut bertanya – tanya, standar seperti apa yang digunakan.  Apalagi ditambah apabila kita bertanya – tanya tentang penghargaan sebuah ide – ide dari satu bangunan. Mungkin keadaan ini masih jauh Panggang Dari Api atau kenyataan tidak sesuai harapan.

Professor Danisworo dalam kuliahnya di Omah library, menjelaskan bahwa standar fee untuk arsitek dari tahun ke tahun berkurang dari jaman ia merintis praktek Encona, dahulu pada waktu ia mengerjakan desain bandara udara Halim, uang imbalan balas jasa bersih yang didapat oleh kantor, bisa digunakan untuk membeli satu buah tanah berikut rumah yang besar, di daerah sumur bandung tempat kantor Encona beroperasi. Dari fee yang didapatkan sekarang dibandingkan biaya hidup yang ada, kompetisi yang ada, penghargaan yang ada harus membuat para arsitek menjadi perlu kreatif dalam mensiasati keadaan [2]. Keadaan yang dijelaskan professor Danisworo Hal ini berkebalikan  dengan keadaan arsitek – arsitek luar yang masuk ke Indonesia dengan menerapkan fee 10 % – 20 % lebih tinggi dari fee arsitek di negara asalnya, memang disinilah peran marketting, pembentukan branding dan pada akhirnya kualitas menjadi penting. Bahwa adanya kualitas pranata yang mendukung, yang belum membuat profesi arsitek ini tumbuh subur, dan makin kuat. Arsitek Indonesia perlu berjuang dalam keterbatasan.

[1]http://www.simpel.lpse.kemenkeu.go.id/uploadFile/media/51_billing_rate_inkindo_2015%20(1).pdf
[2] professor Danisworo, dalam lecture di Omah Library

Apa Konsekuensi logis UU Arsitek ?

marketting-firm-iai
honorarium fee arsitek berdasarkan IAI

Apa konsekuensi dari pengesahan undang – undang arsitek ? ada 3 ketakutan publik yang terutama bahwa, pertama fee arsitek menjadi meningkat, kedua, paradigma,arsitek menjadi mahal, ketiga, arsitek menjadi tidak sosialis. Fee adalah kesepakatan atas kepercayaan orang yang menyewa arsitek tersebut, dan kemauan sang arsitek untuk berapa ia layak untuk dibayar. Yang dibicarakan ini adalah soal standarisasi yang tercipta apabila ada undang – undang arsitek. Standarisasi ini sifatnya hanya batas bawah, dimana ada alokasi yang layak untuk seorang arsitek bekerja demi keamanan, kenyamanan, keindahan bangunan yang didesain dan akan ada proyek – proyek sosial untuk orang yang membutuhkan dari arsitek. Sebagai ilustrasi di IAI menerapkan batas berdasarkan nilai bangunan, dari 6.5 % – 8 % untuk bangunan kecil di bawah 200 juta, dimana misal rumah dengan nilai bangunan 200 jt, seorang arsitek layak untuk diberikan biaya jasa antara 13.5 juta – 16 juta. Ini sudah termasuk biaya untuk ide – ide, transportasi, dan biaya operasional lainnya. Nilai ini mengecil sampai 1% – 1.5 % ketika proyeknya membesar dan dibeda – bedakan per kesulitan bangunan dari rumah tinggal, bangunan komersial, sekolah, sampai rumah sakit. Nilai ini tidaklah besar, atau kecil sekali dari standar yang ada di Inggris dan Amerika , dimana terdapat standar umum dari 5%, 8 % ,12 % sampai 15 % dari nilai bangunan. Disinilah kesepakatan ini muncul, dan nilai yang diminta oleh IAI kecil sekali dibandingkan dengan contoh yang ada. Mahal itu relatif, namun disinilah pembanding perlu diadakan apabila kita ingin menjadi negara maju, pemikiran logis perlu ada, setidaknya berpikir lebih kritis, seberapa ketertinggalan kita dengan negara lain.

Soal arsitek menjadi tidak sosialis, adalah sebuah kesalahpahaman, ada 3 hal yang mendasari profesionalitas dan tanggung jawab, adanya produk yang dihasilkan, rentang waktu pengerjaan, dan kompesansi biaya yang disepakati. Menjadi seorang arsitek yang sosialis sudah dicanangkan IAI dengan program untuk mendekatkan diri ke masyarakat, ataupun beberapa arsitek sudah mencoba menjadi sosialis dengan caranya sendiri – sendiri. Ada yang menjadi penggiat arsitektur komunitas, ada yang kemudian berkarya dalam pengabdian seperti Y.B. Mangunwijaya. Bahwa memikirkan untuk bangunan yang akan berfungsi dengan baik sudah sangat kompleks, dan untuk menjadi seseoarang yang sosialis adalah panggilan jiwa setiap orang dan merupakan keputusan tiap – tiap orang.

 

Merindukan Titik Awal untuk Bisa Diakui.

Front row, from left to right: Frank Gehry, Charles Moore, Philip Johnson, Stanley Tigerman, and Robert A.M. Stern. Back row, from left to right: Michael Graves, Cesar Pelli, Charles Gwathmey, and Peter Eisenman. Philip Johnson’s AIA Gold Medal acceptance, pictured with his “kids,” Dallas, Texas, 1978. Image © Courtesy Tigerman McCurry Architects (http://www.archdaily.com/780433/interview-with-stanley-tigerman-in-chicago-id-much-rather-have-better-work-than-better-friends)
Camariderie among architects or it’s like motor gang of architects who share and discuss from time to time. Front row, from left to right: Frank Gehry, Charles Moore, Philip Johnson, Stanley Tigerman, and Robert A.M. Stern. Back row, from left to right: Michael Graves, Cesar Pelli, Charles Gwathmey, and Peter Eisenman. Philip Johnson’s AIA Gold Medal acceptance, pictured with his “kids,” Dallas, Texas, 1978. Image © Courtesy Tigerman McCurry Architects (http://www.archdaily.com/780433/interview-with-stanley-tigerman-in-chicago-id-much-rather-have-better-work-than-better-friends)

Kita melihat, mendengarkan, membaca paragraf – paragraf seperti
“Arsitektur adalah sebuah gaya hidup,”
“Arsitektur adalah sebuah ilmu yang tertinggi dalam kebudayaan dalam membentuk manusia,”
“Kematian arsitektur Indonesia”
“Kehilangan identitas dalam arsitektur Indonesia”
“MEA akan tiba, jadi bersiap – siaplah arsitek Indonesia”
“Kearifan lokal dalam arsitektur Indonesia, pentingnya lokalitas ?”

Paragraf – paragraf tersebut kita sering dengarkan di media – media TV, online, ataupun perbincangan sehari – hari di masyarakat, juga lebih – lebih lagi di kalangan para arsitek, para lulusan pendidikan arsitektur, para mahasiswa arsitektur, dan juga di kalangan para akademisi. Arsitek sebagai salah satu profesi diikat oleh adanya hubungan jasa, hubungan timbal balik, hubungan mutualisme dalam hidup bermasyarakat. Apresiasi terhadap para arsitek pun ada bermacam – macam, ada yang dihargai sebagai seorang juru gambar saja, seorang yang memiliki kemampuan untuk membuat cantik satu bangunan. Adajuga yang diapresiasi lebih oleh publik dimana terdapat pengakuan sebagai seorang yang mampu membawa perubahan dengan ketajaman pemikiran, kemampuan analitis. Hal ini terbukti dari banyaknya lulusan pendidikan arsitektur sebagai seorang walikota dengan contoh : Enrique Peñalosa Londoño, seorang walikota Bogota Columbia, Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, seorang politisi, ataupun penggerak sosial, ataupun lebih – lebih lagi sebagai seorang guru kehidupan seperti Laurie Baker di India, ataupun Y.B. Mangunwijaya dalam karya – karyanya semasa ia hidup.

Petirahan Sendangsono designed by Y.B. Mangunwijaya
Petirahan Sendangsono designed by Y.B. Mangunwijaya
CDS - Karya Laurie Baker
CDS – Karya Laurie Baker

Kesalahpahaman terhadap profesi arsitek di internal arsitek dan di masyarakat banyak sekali terjadi sebagai akibat dari tuntutan ekonomi. Tuntutan ini menghimpit lulusan calon – calon arsitek yang sedang magang untuk mendapatkan sertifikasi menjadi arsitek. Hal ini ditambah dengan tingginya kompetisi dalam mencari pekerjaan. Permasalahan ekonomi ini menjadi kompleks ditambah kesalahpahaman masyarakat juga terkadang internal arsitek sendiri bahwa asisten arsitek disamakan dengan arsitek, sebagai perbandingan, bahwa sesekali seorang lulus dari pendidikat arsitektur, ia tidaklah otomatis menjadi seorang arsitek, namun ia adalah sarjana arsitektur lulusan pendidikan arsitektur. ekstrimnya seperti perbandingan seorang sopir angkot dan pembalap. Bahwa untuk diperbolehkan menyetir keduanya wajib hukumnya memiliki Surat Ijin Mengemudi bukan memperbandingkan mengenai siapa yang lebih hebat menyetir. Kesalahpahaman ini muncul dimana – mana, di dalam keluarga, pertemanan sehari – hari, juga relasi antar klien arsitek.

Hal ini berkebalikan di negara – negara persemakmuran, Amerika, dan negara – negara lainnya bahwa tidak semua orang bisa memanggil dirinya arsitek. Di negara kuda besi, Inggris, untuk menjadi seorang arsitek dibutuhkan waktu 5 tahun untuk belajar dan 2 tahun pengalaman kerja dimana calon arsitek harus magang sebagai seorang asisten arsitek. asosiasi arsitek di inggris RIBA(Royal Institute of British Architect) sendiri memvalidasi, sekolah mana saja yang bisa melakukan pendidikan keprofesian [1]. Hal ini berlaku di negara – negara persemakmuran, termasuk mengatur seberapa jauh arsitek asing boleh berpraktek di negaranya, seperti mengatur saham yang dimiliki di dalam perusahaan tidak lebih dari satu pertiga dari keseluruhan saham yang ada, dan wajib untuk memiliki arsitek lokal yang memiliki ijin, sertifikasi sebagai seorang arsitek. [2] Hukum menjadi faktor yang bersifat logis meskipun tidak kualitatif dimana, carut – marut ini salah satunya adalah keterlambatan pengesahan undang – undang arsitek, Undang – undang arsitek wajib hukumnya bagi masyarakat modern yang memiliki kesepahaman dalam definisi arsitek, tata laku arsitek, bagaimana arsitek seharusnya bertanggung jawab terhadap puluhan, ratusan, bahkan ratusan ribu bangunan yang didesain yang memiliki akibat terhadap begitu banyak orang yang menghuninya, sehingga profesionalitas, dan tanggung jawab itu bisa terjadi secara hukum, hitam dan putih.

Bibliography
[1]https://www.architecture.com/RIBA/Becomeanarchitect/Becominganarchitect.aspx
[2] http://www.boa.gov.sg/faq.html

Atika Almira – Pelita Gunadharma di titik 2016

“We fell in love, despite our differences, and once we did, something rare and beautiful was created. For me, love like that has only happened once, and that’s why every minute we spent together has been seared in my memory. I’ll never forget a single moment of it.”
― Nicholas Sparks, The Notebook

Lady mantan sekertaris jendral IMA G berkata sambil setengah bercanda, “Rich mimpi lo sudah tercapai, mezanine Ruang Gunadharma, sudah selesai dibuat sama anak – anak. ” pada waktu itu adalah pelantikan anggota madya, kelulusan sebagai anggota IMA G di tahun 2005 kira – kira sebelas tahun yang lalu . Terus terang sudah beberapa tahun ini, diri ini sibuk di ibu kota Jakarta, dan jarang bersentuhan dengan dunia kemahasiswaan. Tuntutan hidup di Jakarta yang mengukung dari hari Senin dan Jumat, briefing demi briefing, coretan demi coretan mewarnai keseharian. Di hari sabtu dan minggu, omah library juga beraktifitas untuk membuat orang di dalamnya belajar dan belajar menjadi arsitek yang lebih baik lagi.

Kira – kira 15 tahun yang lalu, sekre himpunan terkenal jorok dan bau, sampah plastik, rokok, dan sepeda yang dititipkan tanpa ada yang mengatur. Ruang Himpunan lebih mirip gudang daripada tempat untuk beraktifitas, ruangan ini terletak di dekat pintu keluar, di depan pos satpam dengan tidak memiliki pandangan, cahaya masuk bisa melalui bouvenlie, jendela tinggi, memang beraktifitas di dalam ruang himpunan ini seperti beraktifitas di dalam gudang. Ditambah dengan kotornya ruangan, minimnya program, dan rendahnya kekerabatan, keadaan ini memicu sulitnya mencari orang untuk beraktifitas, dan menjadi individualistis.

Keadaan kemudian berubah begitu banyaknya orang – orang yang aktif, positif, dan diterima di dalam himpunan sehingga pola pikir dari senioritas yang kental berubah menjadi kekerabatan, kekeluargaan dimanayang perantau, memiliki tempat, keluarga baru untuk mendapatkan memori yang manis.

Diri ini ingat bagaimana, menyayangi sekali adik – adik yang baru saja kenal, didalam ikatan kemahasiswaan, di dalam satu janji yang dilontarkan oleh satu junior saya namanya Reza Prima. ia berkata “apabila hanya satu orang yang tinggal, maka hanya aku orangnya, …. karena perubahan akan terjadi apabila kata – kata menjadi nyata.“ Air mata kami semua deras mengucur melihat kesungguhan hatinya ditengah udara dingin yang menusuk dan fisik yang ambruk akibat sudah beberapa hari ini tidak memiliki istirahat yang cukup. Cinta untuk beraktivitas  menjadi hal yang penting, tanpa adanya cinta, kehidupan kemahasiswaan menjadi hambar dan individualistis.

Baru saja sebulan yang lalu, diri ini pulang dari kampus Gajah. Terus terang, diri ini tidak merasakan kehangatan di suasana kampus. Kampus Gajah yang dulunya begitu hangat, kini nampak dingin, mungkin memorinya perlahan – lahan hilang, digantikan oleh memori – memori baru. Generasi sudah berubah.Hal ini dilihat dari banyaknya program – program jurusan yang ditampilkan group kemahasiswaan IMA G, dimana yang dibicarakan kebanyakan adalah soal administrasi perkuliahan, diri ini bertanya – tanya, apakah ini grup jurusan untuk menyebarkan informasi ataukah ini adalah grup kemahasiswaan tempat bersilahturahmi, bertukar gagasan, sharing dari adik – adik ke kakak – kakak dan sebaliknya, sebuah tempat untuk merayakan kegagalan, sebuah tempat untuk membuat memori baru, tanpa mengindahkan menjadi terkenal, menjadi sukses,yang dipikirkan hanyalah untuk kebersamaan. Setidaknya kemarin hanya dua tempat yang menawarkan kehangatan dan memori yang sama, kedai bang edi, dan perpustakaan ITB, tempat dimana terdapat bahan – bahan ilmu mengenai arsitektur tradisional, kuliah lapangan, dan buku – buku teori.

Diri ini teringat kira – kira 2 tahun yang lalu, kedatangan satu rombongan dari Bandung, dipimpin oleh satu orang wanita, sang ketua suku namanya Atika Almira. Ia seperti ibu bagi teman – temannya, mengayomi, duduk di tengah – tengah teman – temannya. Dari teman – temannya diri baru tahu ia adalah  seorang ketua himpunan. baru saja di minggu lalu ia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan menunda kelulusannya. Atika menulis di dalam ceritanya :

screen-shot-2016-10-28-at-8-58-50-amscreen-shot-2016-10-28-at-8-58-58-amscreen-shot-2016-10-28-at-8-59-06-am

Diri ini lega, dan bahagia, ternyata tali silahturahmi masih terjaga di kemahasiswaan arsitektur ITB.

Dear Atika,  diri ini, merasakan kembali memori yang lama kembali muncul. Dari situlah adanya kehangatan di antara memori – memori itu meskipun kita tidak bertemu.
Kenaifan bahwa, kita semua bisa untuk berbuat lebih baik lagi untuk sesuatu yang tanpa pamrih,
kenaifan bahwa adanya perjuangan dimana sepertinya dunia memalingkan mukanya,
kenaifan bahwa memori akan kebersamaan itu sebegitu pentingnya untuk diingat dan dirayakan.

Dirimu sudah menjadi pelita Gunadharma bagi pelita – pelita lain yang sudah dan akan muncul !

vivat – vivat G IMA G tetap jaya.

Suasana Aula Barat desain dari Henri Maclaine Pont
Suasana Aula Barat desain dari Henri Maclaine Pont

Dad Loves

161023 “Bagi seorang anak kecil, Ibu adalah cinta pertamanya, dan Ayah adalah pahlawannya.” Laurensia.

dscf9313
Pekerjaan Menggali tanah setinggi 5 m dibawah permukaan 0.00

“Yang, itu kata daddy basement bawah jangan dibuat, berbahaya nanti airnya bagaimana ?” pada waktu itu, Laurensia sedang bercerita ketika baru pulang dari rumah permata buana, kami biasa makan malam bersama setelah ia selesai praktek dan menjemput miracle di rumah opa, omanya. Diri ini menjawab “tenang saja, semua sudah direncanakan, soal air tinggal kita waterproofing dan pengecekan akan pengecoran.” Ayah saya sedang berusaha mengingatkan dengan caranya tersendiri, menyelidik dahulu, memberikan premise, tantangan, kemudian penyelesaian. Satu pagi ia bercerita mengenai gaya tekan air yang membuat beton kolam yang sedang dicornya di madura patah dan meledak, karena permukaan air yang dangkal. Singkatnya berat kolam renang lebih ringan daripada gaya tekan air, dirinya pun bertanya “apakah ini sudah diperhitungkan ?” Beberapa hari setelahnya, pada waktu kami berkunjung ke rumah permata, ia pun mengingatkan, “jangan lupa saluran listriknya outbow untuk di bawah tanah.”

Situasi seperti itu seringkali terjadi, dan hal – hal yang ditanyakan adalah hal yang mendasar, keamanan, kenyamanan tanpa perlu menjadi seorang avant garde. Avant-garde (pengucapan bahasa Perancis: [avɑ̃ɡaʁd]) berarti “advance guard” atau “vanguard”.[1] Bentuk kata sifat digunakan dalam bahasa Inggris untuk merujuk kepada orang atau karya yang eksperimental atau inovatif, , perlawanan terhadap batas – batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan. Bahasa Ayah saya ini adalah bahasa yang fundamental. Darinya saya belajar untuk menahan diri, memperkuat lagi pondasi, dasar pemahaman untuk menghindari akrobatik perubahan, yang hanya untuk menjadi sekedar berbeda.

 

dad
Dad with Our dog, Brando

 

Ia juga yang sedemikian khawatir ketika diri ini memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dimana hal tersebut menjadi kebanggaannya, sedih, pada waktu prinsip kita menjadi tidak sama. Senyumnya kembali timbul ketika pengakuan muncul dari karya – karya yang mulai terbangun yang berarti menandakan diri ini bisa bertahan hidup di kota Jakarta, ia terus menanyakan mengenai keuangan, apakah cukup untuk membayar gaji, cukup untuk hidup, cukup untuk menabung. Ia juga yang memberikan semangat, ketika satu exhaust fan merk Miele penyok titik karena pekerjaan kontraktor kitchen set satu vendor ternama, yang sebegitu saja luput sekejap . Ayah juga yang memberikan semangat untuk terus bertanggung jawab, bahwa tidak ada artinya apabila kamu untung tapi nama baik hilang, tidak apa – apa, nanti akan ada gantinya yang lebih baik lagi. Dari situlah diri ini belajar untuk bisa menarik garis positif di tengah turbulensi.

Ia juga yang memberikan pemahaman bahwa beton memiliki kelemahan akan retakan, dan potensi terhadap retakan waterproofing, oleh karena itu lapisan batu sangat penting untuk menjaga retakan tidak terjadi. Sebelumnya diri ini melihat lapisan batu dari aspek estetis untuk menghaluskan, dari ayah saya ia memberikan sudut pandang baru dan beberapa vendor waterproofing kemudian memberikan saran – saran mereka hanya untuk melihat satu material, yaitu beton. Tidak terhitung banyaknya dari beberapa material beton, kayu, besi, alumunium, plastik, bambu yang sedang dielobarasi, kita diskusikan, kita tarik benang merahnya, untuk kemudian dibangun di tempat.

Sedemikiannya ia tersenyum ketika diri ini menceritakan atap yang dipelintir di satu project di Telok Naga, memberikan kesan dinamis, naik dan turun, dan menunjukkan foto – foto padanya. Ia pun diam, tidak berkomentar apa – apa. Beberapa hari setelahnya diri ini kembali ngobrol dan bercerita mengenai kesulitan dalam fabrikasi atap yang tidak memeiliki sudut yang sama tersebut, memutar, terpelintir sedikit – sedikit dalam segmen yang menghubungkan titik – titik pertemuan rangka. Ayah pun bercerita mengenai bagaimana Wiratman membuat konstruksi atap bangunan istiqlal, mesjid yang didesain oleh Frederich Silaban, Atap itu didesain dengan pendekatan empiris dimulai dengan membuat maket, dan melakukan ujicoba, pra kiraan tanpa perhitungan yang solid karena konstruksi yang memiliki bentang lebar dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Ia pun menyarankan, “coba kamu buat maketnya”.

atap sekolah alfa omega di Telok Naga, model pertama menggunakan struktur bambu. Model kedua menggunakan struktur besi. Kedua model tersebut menggunakan curva parabloid untuk konstruksi bubungan atap.
atap sekolah alfa omega di Telok Naga, model pertama menggunakan struktur bambu. Model kedua menggunakan struktur besi. Kedua model tersebut menggunakan curva parabloid untuk konstruksi bubungan atap.

 

atap2.jpg
Prototype ke 2

Dari beberapa cerita demi cerita, dedemikiannya diri ini ingin membahagiakannya, membuatnya bangga, biasanya ia hanya diam. Dari Laurensialah diri ini bisa tau, mengenai komentarnya, ayah tidak pernah berbicara langsung, mungkin ia hanya ingin melihat kami anak – anak nya tidak sombong akan pencapaian dan terus berkarya. Dr. Aris satu dokter yang setiap minggunya datang ke rumah kami, dan rumah ayah saya untuk melakukan terapi ke keluarga kita, berbicara, “Ayah sering bertanya mengenai bagaimana Real kabarnya, apa masih sering terapi ? ” ia pun menjawab “ngga pernah, sibuk itu” kita yang membahasnya pun tertawa, dalam hati kecil saya, diri ini kembali diingatkan hal yang terpenting, kesehatan, waktu untuk beristirahat dimana kesibukan semakin padat dan Ayah sepertinya tidak pernah kehilangan itu. Sesambil berkerut Dr. Aris berujar setelah memeriksa diri ini “waduh gawat ini Real”. Dalam hati saya deg – deg an, sesambil iseng menimpali “kita perlu liburan dok.” kita kemudian tertawa.

 

whatsapp-image-2016-10-02-at-4-41-24-pm

 

The process of craftsmanship – learning from Kengo Kuma

161016  Jakarta,”Totality of architectural design includes textures, the soft and hardness of the material, the smell of the material, and the acoustic effect of the material.” Kengo Kuma

img_5042
Kengo Kuma di dermaga cultural village

Di satu pagi Albert salah satu klien yang sudah saya anggap seperti adik sendiri, mengingatkan, “ko jangan lupa untuk meeting tanggal 9 Oktober ya, Kengo Kuma akan datang ke Belitung, nanti kita diskusi. apa koko bisa ?” Kira – kira 4 bulan yang lalu, Albert memiliki ide untuk mengunjungi Kengo Kuma ke Jepang, Kengo Kuma pun tertarik dengan proyek yang sedang kita kerjakan. Dalam hati, diri ini bertanya – tanya, apakah ini mungkin, untuk bekerja bersama di proyek untuk daerah yang terpencil ? Saat itu beberapa kali diskusi di lakukan. Saya ingat ketika ada di Bandung, di satu pojok perpustakaan ITB, ketika sedang mencari buku mengenai christopher alexander, video conference dilakukan. Albert pada saat itu ada di Jepang. “Ko mau ko, Kengo Kumanya.” Dalam hati diri ini melonjak kegirangan, perbincangan dengan beberapa arsitek Jepang lain pun juga dilakukan untuk mencari – cari kemungkinan kolaborasi, meeting pagi – pagi dilakukan karena jadwal arsitek – arsitek ini yang padat. Hanya Kengo Kuma yang bertahan untuk mau terlibat di proyek ini.

Proyek di Belitung memiliki kenangan tersendiri, disinilah kami biasa meluangkan waktu bersama – sama, saya, Laurensia, beserta albert dan keluarganya, pak Agus dan tante Siannie sejak sekitar 5 tahun yang lalu, cerita dimana tidur tanpa penerangan, sepi, nyamuk, dan tanpa akses menjadi makanan sehari – hari. Cerita pun berlanjut, suka dan duka yang dialami mereka dalam menjalankan proyeknya pun sudah disaksikan sampai akhirnya area resort dibuka dan datanglah orang – orang yang mau menginap. Memang tidak mudah memulainya, menjadi yang pertama, sang pionir dimana yang lain seperti ragu – ragu dalam menembus belantara yang liar tanpa infrastruktur yang memadai.

Pagi – pagi di jam 4 pagi, telepon rumah berdering pak Misnu sudah membangunkan, mengingatkan bahwa satu jam lagi harus berangkat.  Baru saja dua hari yang lalu, perjalanan dilakukan ke Bali, pulau dewata untuk memeriksa pekerjaan. Keadaan sekarang tidaklah sama dengan beberapa tahun yang lalu, sekarang sudah ada miracle, senyumnya,tawanya,kelucuannya ataupun tangisnya mewarnai kehidupan kami sehari – hari.

Jakarta di pagi hari, memberikan kehidupannya yang lain, kelembutan dibalik carut – marut pembangunan dan perencanaan infrastruktur kotanya, sebuah kota yang banal atau kasar atau tidak cantik, dipagi – pagi yang cerah, satu pegawai lontong sayur langsung menghampiri di lounge bandara, satu ya mas sama teh manis, sepertinya ia sudah hapal, kami setidaknya bertemu satu kali seminggu.

Kaki ini dilangkahkan di koridor pesawat, kebetulan tempat terdepan diperoleh, disitulah perjumpaan dengan Kengo Kuma. Ia sudah berumur 62 tahun, duduk di pesawat sendirian. “Anda sendirian Kuma san ?” “Staff saya sudah ada di Belitung” katanya singkat sambil ia tersenyum. Ia tertidur sepanjang perjalanan,kemudian ia bercerita ia baru saja pergi ke Ceko untuk membuka pameran Kengo Kuma: Woven di Jaroslav Fragner Gallery di Praha, lengkung matanya dalam, menunjukkan kurangnya ia tidur dan istirahat, nomaden. Ia kemudian menjelaskan orang Jepang banyak sekali belajar dari kebudayaan barat, ia terinspirasi dari karya Yoyogi Stadium, karya Kenzo Tange, dan sekarang banyak orang terinspirasi dengan arsitektur Jepang,  semua saling mempengaruhi.

Memang struktur gedung stadium Yoyogi yang didesain Kenzo Tange begitu indah dengan kabel – kabel tarik dan lembaran metal yang diletakkan diatasnya menyerupai sirip – sirip ataupun daun, mengingatkan pada karya gereja pohsarang dengan struktur genteng yang ditumpukkan di reng batang tarik menyerupai struktur tenda, begitulah maclaine pont mendesain dengan keterbatasan material dan keterbatasan pengetahuan sumber daya manusia.

 

img_0124
Jenis batuan granit berdasarkan kekerasannya.

“Kuma San, who is inspiring your work, your design approach.” Saya bertanya. ia melanjutkan “arsitek favorit saya adalah karya arsitek Antonin Raymond, arsitek dari Ceko, dahulu pernah magang ketika wright mendesain dan mesupervisi desain Meiji Mura dan School of Holy Spirit. Antonin memulai penggunaan beton cetak jauh sebelum arsitek jepang mengelaborasi struktur beton dalam karya – karyanya. Salah satu Muridnya adalah Kunio Maekawa yang merupakan guru dari Kenzo Tange.” Kengo Kuma memiliki satu garis yang berbeda dengan beberapa arsitek yang sedang diangkat di pameran moma, sebuah galeri kelas dunia dimana bangunannya didesain oleh Yoshio Taniguchi berjudul Japanese Constelattion yang dikuratori oleh Pedro Gadanho dan Phoebe Springstubb dimana mengangkat Toyo Ito, SANAA, dan generasi setelahnya yang memberikan pemahaman rasionalis yang kental, membuat sesuatu yang baru, arsitektur menjadi semakin abstrak, semakin ringan, semakin sederhana, semakin murni, semakin alami. Pikiran ini melayang satu saat di Meiji Mura, pada saat summer workshop di nagoya. Meiji Mura didesain dengan detail pola geometris dengan perulangan pola dalam pengolahan 5 jenis material yang berbeda, kombinasi tembaga, bata, beton, besi, dan kayu. Pendekatan romantis terlihat nyata dengan percampuran bata yang melakukan ciri khas Wright.

 

Siangnya kami berkunjung ke satu rumah di perkampungan tradisional membalong selatan, membahas mengenai organisasi layout, budaya orang tinggal di desa, juga material – material pembentuk arsitekturnya. Pertanyaan yang dilontarkan dalam diskusi oleh Kengo Kuma dan timnya adalah bagaimana satu bangunan ini ditinggali. Intinya adalah mengumpulkan artefak dalam proses perencanaan dan tenggelam didalamnya, ia percaya bahwa proses yang sudah terajut, yang baik perlu dipertahankan, sebuah pendekatan empiris dalam berkarya. Proses desain yang maju mundur, menimbang – nimbang apa yang baik dan tidak ini yang membedakan konstelasi empiris dengan arsitek rasionalis diatas. Ada setidaknya 10 buah spesimen kayu dengan beberapa karakter lokalnya yang kita diskusikan, beberapa teknik membuat urat kayu, dan berdiskusi tentang bata tumpuk, material pembentuknya dan bagaimana pengaruh air di kulit bangunan.

Proses ini tumpang tindih, saling bertumpuk, untuk dibuat sintesa desainnya, hal ini memiliki lapisan – lapisan yang tidak mudah untuk diurai, tentunya tidak semudah mengurai diagram Bjarke Ingels, ataupun diagram Junya Ishingami yang singular, homogen, total dalam mendesain. Sebagai seorang manusia, Kengo Kuma bernafas, mendengarkan, merasakan, setidaknya dengan cara itulah ia berkarya dimana baru hanya kulitnya pasti yang diri ini temui, dan saya yakin dalamnya akan lebih indah dari lubang – lubang kecilnya yang mulai dibuka.

“Ko, kita pasti bisa ko.” Albert berulang – ulang berkata, diri ini tersenyum, dan bersyukur, dengan begitu giatnya dia, semesta akan tersenyum, dan Kengo Kuma mungkin saja tersenyum akan kegigihannya, dan kita akan bertemu di ujung jalan yang penuh kenangan.

 

foto bersama di depan rumah tradisional penduduk
foto bersama di depan rumah tradisional penduduk

1 Persen yang Dinanti : Berdialog dengan Anas Hidayat

Jumat 24 Juni 2016
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika kita berjabat tangan, tentunya ada sebuah ikatan yang saling tarik-menarik. Mungkin makin lama makin banyak yang bisa maklum, pasrah, atau rela, bahwa kita membutuhkan paradoks dalam membuat satu argumentasi yang jujur. Tulisan mas Anas banyak memberikan keoptimisan tersendiri, bahwa kita arsitek perlu untuk selalu terus belajar, tanpa henti, semakin kita menginginkan sesuatu semakin banyak pulalah kita harus belajar, ambisi berbanding terbalik dengan lamanya pelajaran. Ketika keinginan itu dituturkan dan dilakukan dengan segitu dalamnya, sebegitu banyaknya juga yang harus dikerjakan. Mungkin tidak ada kata lain untuk arsitektur indonesia, selain kerja keras. Di balik seringnya kekecewaan saya terhadap pranata kita, yang ternyata ujung – ujungnya ke sikap dalam berprofesi, ketulusan hati dalam bekerja, mungkin kita perlu optimis dalam melihat masa depan, tidak dalam kacamata paradoks yang sudah biasa dikerjakan, bekerja melalui gambar, institusi, hukum, kontrak, ataupun hal – hal yang berbau – bau formal. Namun baiknya kita menelisik paradoks dari hal tersebut, tentunya dengan profesionalitas dan etika yang dijunjung tinggi yaitu, nilai kejujuran.

Pak Irianto Purnomo Hadi, sebuah figur yang banyak dihindari oleh beberapa orang – orang muda yang saya temui, ternyata berhati sangat lembut. Mungkin saja penghindaran itu terjadi karena beliau terlalu jujur, dan lugas dalam berkata – kata. Di balik orang – orang seperti ini, tanpa tedeng aling – aling, dengan sikap yang sudah siap akan kritik, tentunya akan pas saja, celakanya begitu kumpulan – kumpulan tidak siap, ya pasti menghindar, karena kurang kerja keras, kurang persiapan, kurang latihan, tapi pingin eksis.

Dari Pak Irianto, sesingkat bicara, ada dua hal yang penting, yang pertama adalah kekerabatan, brotherhood, sekali dua kali, beliau melontarkan cerita tentang pertemanannya dengan Yori Antar, Andra Matin, Sonny Sutanto, dan lain – lain, bahwa di antara mereka tidak ada puja puji berlebihan, dan memang sesuatu dilontarkan apa adanya. Ya memang kumpulannya sudah siap dan mereka sudah seakan – akan mengerti satu sama lain. Pada akhirnya diceritakan ada semangat penjelajahan, atau eksplorasi tanpa henti, hal itulah yang menjadi cikal bakal Arsitek Muda Indonesia. Dan atas nama AMI, label itu lalu terbentuk. Pertanyaannya setelah label itu terbentuk, kemudian apa yang menjadi semangat pertamanya apakah terus ada dan semakin meningkat ? ya mungkin saja ini titipan buat kita – kita ini mas Anas, supaya meneruskan semangat – semangat mereka. setidaknya saya berusaha mencari – cari kerabat yang bisa berjabat tangan, bukan saling mengentuti, saya menemukan nafas ini dalam diri Mas Anas. Dari kekerabatan ini kita berusaha saling meningkatkan diri, seperti kedua pendekar yang saling berlatih hanya sebagai sebuah pemberian untuk hidup yang ada ini, ini konteks mas Anas dengan ndaem,

Yang kedua adalah kedalaman (depth), beliau ucap kali berkata, bahwa menggapai sesuatu yang tidak lengkang jaman,membutuhkan waktu, dan proses latihan yang panjang. Di era sekarang yang semakin cepat, hal – hal ini semakin sulit ditemui, dimana kompetisi menjadi ketat, dan sisi egoisme dari arsitek menjadi kental dan tinggi. Disinilah diskusi berjalan menyenangkan membahas figur – figur arsitek seperti louis kahn, dan beliau juga bertanya, apakah saya suka dengan Scarpa, ya itu desainer yang luar biasa, meninggalkan torehan sejarah arsitektur yang dalam, seorang pendekar byzantine. Dari situ kita membahas mengenai castevechio, satu museum yang dulunya adalah barak, dengan intensi permainan detail, dan penataan ruang pameran, sampai ke bagaimana satu karya lukisan itu ditata dengan pendekatan visual, perspektif, perjalanan pengunjung menikmati satu – persatu karya dimulai dari pintu masuk. Dari kedua ini, saya coba beranikan diri untuk mengajak beliau turun gunung juga untuk berbagi keluh kesahnya ke anak – anak muda, jadi kelembutan dan ketegasannya, dua paradoks ini bisa terbaca dengan lebih baik. Ada dua hal, kekerabatan, dan kedalaman yang menjadi penting dalam pertemuan dengan pendekar gondrong namun lembut hati ini.

Buku Pak Yuswadi Saliya, akan meluncur hari ini ke Surabaya, nanti saya es em es untuk tau alamat njenengan. Coba nanti kasih tau pendapat njenengan apa tentang buku itu, dan kita bisa diskusi bersama, pinginnya, bab per bab, tulisan per tulisan, ha ha. tapi rangkuman aja mas, supaya kita endapkan dan seharusnya ada dialog dengan buku itu. Namun ngomong – ngomong soal pameran kita. tulisan mas sudah asik pol tenan, muantap. Dengan interpretasi dari swarang,

saya suka sekali dengan paragraph ini, kalau namanya suka ya susah ya, karena pakai hati, ngga pakai pikiran, atau malah pakai hidung kaya kata njenengan, ha ha.

“Dalam pandangan s[w]ar[w]ang atau swa-rwang (swa=mandiri, rwang=ruang/ruangan), sarang adalah ruang (buatan dan milik) sendiri, yang dibuat sendiri untuk kemudian ditempati sendiri. Jadi, swa-rwang bukan rwang/ruang untuk ditempati oleh orang lain, tetapi sebuah pergulatan yang bersifat individual, personal.

Ketika seekor burung membangun sarang, itu adalah urusan antara dirinya dengan semesta, sebagai sebuah “ritual” untuk “mengukur” dirinya, yang tak membedakan antara yang alami dan yang buatan, tak membedakan antara insting/naluri dan kesadaran, antara intelejensi dan emosi.

Sedikit cerita tentang burung-burung manyar (dari novel Burung-burung Manyar, karya Y.B. Mangunwijaya):
ketika masa berahi, burung-burung manyar jantan membangun sarang untuk menarik perhatian betina. mereka berlomba untuk membuat sarang yang sebagus mungkin. Hingga pada saatnya si betina memilih, dia akan memilih sarang yang terindah di antara sarang-sarang buatan para jantan itu, dan si pembangun sarang akan menjadi pasangannya. Lucunya, ketika tahu sarangnya tak terpilih, burung-burung manyar jantan lainnya akan merusak sarang buatannya sendiri hingga hancur-lebur, dipreteli dan dilolosi hingga tak berbentuk lagi, mungkin sebagai ekspresi kekecewaan.
Tetapi, burung-burung manyar jantan selalu optimis, dia akan membangun sarang baru lagi dari nol, dengan mengumpulkan bilah daun tebu dan rumput kering, dengan harapan ada burung betina yang memilihnya nanti.

Yang esensial di sini adalah refleksi, berkarya dengan bercermin pada dirinya sendiri, yang hasilnya adalah untuk dirinya sendiri (tetapi nantinya bukan hanya untuk dirinya sendiri), mulat sarira atau “mengukur diri”, yang dalam tahap berikutnya sebagai “persembahan” kepada dunia.
Swa-rwang adalah tempat untuk meraba diri, mempertanyakan entitas dirinya sebagai upaya menempatkan diri dalam konfigurasi agung semesta.”

sebuah pergulatan sendiri, sebagai ajang refleksi untuk persembahan pada semesta.

Nah Sarang lagi dibuat materinya ya mas Anas, Sepertinya kita perlu merangkul kutub yang berbeda jadi begini, saya ingat ada pameran ketukangan yang dipamerkan di Venice Bienalle, yang dikuratori oleh David Hutama, Avianti Armand, Setiadi Sopandi, Ahmad De ni tardiyana, dan Robin Hartanto. Mereka mengkategorikan perkembangan arsitektur melalui bahannya. Yang dalam pandangan saya bahwa karya ini bisa bersifat romantis, pada jiwanya, pada filosofinya, pada pengantarnya, namun untuk produk yang diberikannya, sarang perlu menegaskan bahwa ia berorientasi pada kerja keras, untuk memecahkan masalah. Nah kepikirannya, bahwa framework dari ketukangan itu kita bisa pakai, sekaligus sebagai usaha untuk meneruskan semangat pameran mereka, nah kita – kita yang meneruskan. Jadi yang terpikirkan ada pembahasan tentang kayu, batu, logam, bata, plastik, yang akan dipamerkan adalah gambar – gambar detail saja, sebagai satu sumbangan akan vocabulary untuk yang masih muda – muda, semoga bisa membantu untuk mengarungi profesi yang sedemikian kacau beliau. Jadi rumusnya akan dibagi, resepnya akan dibagi – bagi disini, seluruh perkembangan studio sampai saat ini melalui gambar, video, dan gambar kerja. Ini adalah sebuah tantangan untuk merefleksikan, atau mengkuratori diri kita sendiri yang berguna untuk perkembangan sarang itu sendiri. dengan detail effort yang tertinggi akan muncul karena disitulah dituntut ada konsistensi, dan permainan detail adalah bagaimana kita konsisten dalam bentuk dan intensi desain dari macro sampai titik terakhir begitu pekerjaan itu diselesaikan.

Yang menarik adalah di pengantar, ada beberapa fakta yang kita coba ulas, bahwa dalam pengerjaan 350 proyek yang ada sekarang, yang terbangun hanya sekitar 10 – 15 buah, selama 4 tahun. Jadi kita bisa cerita soal kompleksitas profesi yang memang membutuhkan kesabaran dalam berarsitektur. Kita bisa cerita juga tentang stastitika jumlah adik – adik yang datang dan pergi. di RAW , di DOT, atau di Omah library. sebagai satu jalan untuk melihat satu jalan yang penuh turun naik, tumpang tindih, manuver kiri dan kanan, dan melihat permasalahan yang tidak sederhana. Sarat dengan ledakan informasi, tanpa tedeng aling – aling, tanpa permisi, dan kemudian kita pergi dengan terbirit – birit ha ha ha, semoga tidak dikejar orang – orang. Arsitektur yang kita jalani sehari – hari saya setuju ini urusan profesi, menggapai kesempurnaan dan menghidupi banyak orang dengan inspirasi, dengan kenyamanan, juga dengan fulus yang diciptakannya.

Sumrabah ini menarik mas anas, bagaimana menyebar kemana – mana tanpa intensi khusus untuk itu, namun dengan keinginan untuk berbagi itu pun sudah sebuah intensi ya. Namun bagaimana yang dibagi itu, merasa dikentutin, atau dibelai, itu lain halnya, soal bertemu kekasih dan bertemu godot, yang tidak pernah ada. Saya coba cari referensi yang diberikan mas Anas, Finding Godot, apa ada referensi lain yang bisa dibagi, sayangnya dekonstrusi kimbell saya ngga dapat, sulit untuk dicari.. kembali ke sumrabah, kalau – kalau yang dibagi itu bisa menerima, dan suka, cinta dengan apa yang dibagi, atau sebenarnya mereka sedang menelisik adakah cinta disana, adakah sarang(dalam bahasa korea berarti cinta) itu ada disana, kalau ada , maka mereka (burung – burung manyar ) akan bersiap – siap memadu kasih.

Sedikit cerita lagi mengenai almarhum Heinz Frick, saya kebetulan berkesempatan ke rumahnya dan ke ruang tidur sekaligus ruang kerja dan perpustakaannya. Orangnya rapih sekali, ada map – map, manuscript, yang berisi kliping, dan data statistika dari buku – buku yang dikopi. Dari situlah saya melihat orang ini, adalah seorang akademisi yang bisa mampu memilah – milah informasi dan bekerja sama, dilihat dari banyaknya buku, kualitas buku, dan orang- orang yang diajak bekerja sama dalam pembuatan buku. Dan kemudian kemarin pada waktu saya ke cilacap, kebetulan saya take off dari bandara Halim Perdana Kusuma, disitu ada buku judulnya working clean karya dari Dan Charnas, ia mengetengahkan konsep mise en place, saya tuliskan prefacenya disini ya,

“everyday, ches across the globe churn out enormous amounts of high quality work with efficiency using a system called mise – en – place- a french culinary term that means “putting in place” and signifies an entire life style of readiness and engagement. …. Charnas speels out the 10 major principles of mise – en – place for chefs and non chefs alike : (1) planning is prime (2) arranging spaces and perfecting movements (3) cleaning as you go (4) making first moves) (5) finishing actions (6) slowing down to speed up (7) call and callback (8) open ears and eyes (9) inspect and correct (10) total utilitzation. ”

Ini ada paradigm ekstrim mengenai bagaimana chef bekerja, seperti ada ceritanya si Jimi Yui adalah seorang kitchen desainer terkenal, seperti paradigm biasa, bahwa dapur perlu besar dan lux, membuat setiap chef bergerak dengan mudah. Ini adalah logis, dan bisa dinalar bahwa ini satu kesepakatan yang bisa diterima bersama. Namun Jimi Yui mendesain kitchen untuk chef – chef terkenal di dunia seperti Mario Batali, MAsaharu Morimoto, dan Eric Rippert. Ia mendesain dapur yang sangat efisien, sekecil mungkin, bahkan chef tidak perlu untuk melangkah kemana – mana, ia cukup diam ditempat dan semuanya ada disekitarnya. Hal ini terbukti efisien, tidak membuang waktu, dan akhirnya chef tersebut bisa melakukan hal – hal yang lain, ia membuat stastitika bagaimana chef itu bergerak dan berapa waktu yang terbuang. Nah saya pikir, hal ini ada paradoks dengan apa yang terjadi disekitar kita, terkadang hal – hal yang menjadi kesepakatan bersama, membutuhkan dobrakan, sepertu bagaimana Jimi Yui bekerja. menurut mas Anas bagaimana, mungkin saja bentuk ekstrim studio bisa diredefinisi perlahan – lahan, tentunya dengan niat untuk meningkatkan kualitas.

Saya pikir Mas Anas pun demikian, tulisan – tulisannya mendobrak pemikiran saya, karena soal pikiran itu mudah, rasionalisasinya jelas dan bisa dipelajari namun siapa yang bisa menakar ledakan hati, siapa yang bisa membatasi, apalagi kalau aktornya hanya kita ha ha ha. (maaf mangap terlalu lebar) setelah sumarah, sumrabah, lalu sumringah. ha ha.

Hari ini, sudah akan ada progress untuk instalasi kita, saya akan kirimkan ya, semoga dua tarikan, paradoks, yang terjadi akan membuat kita semakin banyak belajar, dan berkembang, Mas Anas maaf kalau sedikit meledak – ledak, soalnya lama saya belum balas, jadi ide – ide ini menumpuk, baru sekarang disalurkan, Mas kalau sempat kita buat tulisan dialog ini semakin meledak – ledak, saya juga suka sikutan sikutan sampeyan. ha ha.

salam semesta,

Realrich

Rabu, 22 Juni 2016
Dear Mas Realrich Sjarief yang baik,

Selama sekitar tiga minggu setelah pertemuan kita, saya mengalami semacam terpaan gelombang-gelombang yang semakin cepat dalam pusaran. Saya seperti tidak percaya minggu lalu sudah datang ke Jakarta, seperti mimpi saja ketika memberikan lecture di open house-nya RAW/The Guild. Saya juga berpikir, setelah kita saling berkirim email, sampeyan yang arsitek saja masih bisa dan sempat-sempatnya menulis begitu panjang dan bernas. Sedangkan saya yang mengaku architext malah seringkali terlambat menulis, terlalu lama dipendam di kepala dan tak lekas dikeluarkan dalam tulisan (mungkin terlalu banyak pertimbangan, haha, atau kepala saya sudah terlalu kacau, hmmm..)

Saya rasa, tidak banyak arsitek yang bisa melakukan seperti yang sampeyan lakukan (mendesain, menulis, menyeni, dan entah apa lagi). Saya juga percaya, jika arsitek bisa mengungkapkan apa yang ada di kepalanya, maka apa yang dia kerjakan dengan tangannya akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh orang lain. Sebuah kesatuan antara kepala, tangan, kaki, mulut, telinga, mata dan bahkan perut (saya masih yakin juga bahwa arsitektur selalu berurusan dengan perut – selain dengan hati dan otak, seperti sering diajarkan dalam metode perancangan).
Mas Realrich, saya sangat suka dengan cerita-cerita sampeyan tentang para arsitek. Misalnya tentang pak Irianto PH yang katanya mau datang ke kantor sampeyan. Menurut saya, dia tidak sedang melirik ke “sekuntum bunga yang mekar”, tetapi sedang menengok ke “sebuah sarang yang sedang bergejolak” (gejolak positif, bukan negatif), yang menyimpan gelegak pembaruan di arsitektur Indonesia yang sampai saat ini masih mengalami makropsia, kurangnya iklim dialog/diskursus yang bermutu, dll. Ini sarang yang para penghuninya siap nge-trance, dan saya akan terus menunggu ledakan-ledakannya.

Kalau tentang karya terbaik menurut teman sampeyan seperti yang mas Rich ceritakan, yang dipandang secara sempit dari “kacamata kuda”, hmmmm,, saya rasa begitulah cara banyak orang kita dalam melihat karya. Kalau dari pandangan hermeneutik, saya pikir itu sejenis penafsir yang kurang kreatif, yang level horisonnya masih “rendah”, yang ingin membongkar candi dengan kunci inggris, atau ingin menservis arloji memakai pedang samurai (malah terlalu sarkastis, hahaha). Hmmm, saya jadi ingat kata2: “dalam dunia kecap, tidak ada nomer dua (karena semua nomer satu), dalam dunia arsitek, tidak ada nomer satu (karena semua punya nilai/pandangan/karakter sendiri yang jelas tak bisa dibandingkan secara simple saja seperti membandingkan pisang goreng dan kue lemper).”

Senang diceritain buku The Power Paradox-nya Dacher Keltner. Tentang power, yang berseliweran membentuk tegangan-tegangan. Power-nya Machiavelli, Will-nya Nietzsche sampai Desire-nya Deleuze memang menarik untuk diikuti. Sampai-sampai sampeyan membikin antitesisnya: Sumarah (menyerahkan diri). Mungkin nanti akan ada sumeleh (meletakkan hati) atau sumrambah (menyebar ke mana-mana). Antitesis itu membuat tegangan-tegangan akan makin dinamis, membuat pusaran semakin mendebarkan…
O iya, saya belum pernah membaca bukunya pak Yuswadi Saliya yang berjudul “perjalanan malam hari” (sekaligus ngarep dikirimi dari Jakarta, hehehe). Ya memang dalam dunia praksis yang kadang-kadang begitu pragmatis (dan ekonomis), perlu seorang begawan yang selalu mengingatkan, atau membantu merenungkan tentang profesi arsitek. Bukan sebagai (sekedar) pekerjaan belaka, tetapi sebagai panggilan semesta. Kalau kita balik menjadi “perjalanan menuju pagi” bisa jadi lebih seru. Semacam perjalanan “habis gelap terbitlah terang”. Kita memang harus optimis bahwa pagi akan tiba, saatnya beraksi di bawah matahari kesadaran…

Saya kemarin sudah bikin sedikit tulisan tentang “sarang” untuk kolaborasi kita. Mungkin masih belum matang sih, akan saya coba untuk lebih menajamkannya lagi…
salam,

Anas

Kamis, 16 06 16

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika pusaran itu bergerak, dan mungkin saja kejujuran menjadi penting, karena semua hilang arah, karena arsitek kehilangan kuasanya karena percepatan pertumbuhan jaman, dengan gejala – gejala hati yang sombong, dengki dan penuh angkara murka tanpa adanya kuasa. Saya sangat tertarik dengan bahasa hermeneutik sampeyan, dengan tafsir – tafsir yang mendasar yang sebenarnya menyadarkan kita semua, bahwa kita perlu percaya kata hati kita, bahwa kita adalah singa yang ada di alam bebas, bukan singa yang ada di sangkar besi. Penyentuhan presentasi njenengan adalah penyentuhan hati, yang bisa menyentil orang yang pintar menjadi marah, dan tidak terima, dan ketika kita sadar, ternyata yang diarahkan adalah bukan hitung – hitungan belaka, namun ini adalah soal hati.

Soal peran arsitek menjadi 1 %, mungkin kita semua disadarkan untuk harus selalu dekat dengan tanah, karena memang kuasa kita adalah ketika kita masih mengerjakan project tersebut. Ketika karya tersebut selesai dan tuntas peran kita, maka peran arsitek menjadi 1 %, dan memang 1% oleh karena sekarang saya menjadi bisu, mas anas saya tantang untuk mengambil 99 % tersebut dan mengambil alilh peran arsitek, menjadi peran tafsir untuk kebaikan publik.

Mas Anas, baru saja satu adik yang saya kenal mengabarkan bahwa ada satu arsitek senior, yang terkenal emosional, blak – blakan, ganas, dan rupawan dan ganteng, ingin datang mendatangkan satu kantornya ke theguild untuk berkunjung, namanya pak Irianto Purnomo Hadi dari antara architect. Ndalem sangat penasaran kenapa beliau ingin datang, mungkin saja, ini dari tebak – tebak tanpa maksud apa – apa bapak itu penasaran mendengar dari anak kantornya ketika acara kemarin, semesta sedang bergerak, dan sebaiknya kita menyambungnya dengan gegap gempita, gelap atau terang, mungkin saja kita akan bertemu pendekar atau guru yang belum terlihat, tokoh – tokoh baru. Mungkin saja ada tokoh – tokoh yang lain muncul satu persatu, dan memang ini pusaran bergerak saling tarik menarik yang sudah dimulai, ditanggapi dan diteruskan dalam langkah – langkah selanjutnya, syukur – syukur kalau orang – orang itu bisa ikut nge trance dan joged bareng, dan kemudia kita bisa berdialog juga, bermimpi bersama.

Saya ada cerita bertemu teman baik saya di satu acara di pameran di casa kemarin, dan ia bercerita tentang bahasa batu bata yang baru ia lihat, katanya arsitektur itu adalah arsitektur terbaik jaman sekarang, karya itu adalah karya seorang arsitek senior. Saya melihat foto – fotonya, dan sempat takjub, memang itu adalah satu karya yang luar biasa. Luar biasa karena konsistensi permainan detail, pengolahan ruang dalam – luar, terkejut, tenang, dengan permainan – permainan cahaya. Namun, saya kemudian berpikir, apa itu terbaik, dan apa ada yang terbaik ? Apa perlu ada sesuatu yang terbaik ? Kita mendapatkan terbaik mungkin untuk mendapatkan satu contoh yang ekstrim dengan permasalahan yang dipecahkan secara spesifik, tentunya sudut pandang dalam melihat kualitas menjadi penting.

Saya pun iseng saja sebenarnya menimpali, bahwa ia perlu pergi ke India, untuk melihat satu master disana yang sudah membangun 35000 rumah dan memiliki arsitektur yang jujur untuk memecahkan masalah cuaca, konstruksi, pemilihan material, dan pengolahan bahasa arsitektur yang eksotis sarat akan alasan dan intuisi (Laurie Baker) , ataupun ia perlu ke Italia untuk melihat kekayaan detail yang didesain oleh Carlo Scarpa, atau malahan melihat Pohsarang Kediri dengan pembahasan ndoro klepon yang sampeyan tuturkan didalam buku Arsitektur Koprol mengenai lokalitas dan inovasi yang melewati keterbatasannya, atau lebih – lebih lagi arsitektur turen yang dibangun oleh santri – santrinya atas nama cinta. Bahwa ada arsitektur yang berupa – rupa dan unik – unik berbeda dengan arsitektur yang disampaikan tergantung sudut pandang yang ingin diciptakan. Arsitektur unik – unik ini memberikan warna – warna yang berbeda dalam kebudayaan dunia yang pluralistik, oleh karena itu, apakah pantas argumen terbaik itu muncul, mungkin saja, namun argumentasinya kalau hanya simplistis berupa kesan, gambar, tanpa memahami satu gambaran yang utuh adalah mungkin saja benar atau mungkin saja sedang tersesat. Saya melihat dibalik kedigjayaan yang ada, inovasi arsitektur dari gambar tersebut masih bergulat diantara wabi sabi, imperfect but perfect, seperti kevin Mark Low, atau Alvar Aalto, maka saya perlu kesana untuk mengalaminya secara langsung., Pada saat terakhir berdebat, ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak bahwa setelah kita berdiskusi , katanya ia membatasi pembahasan karya yang kita perdebatkan yang hanya ada di Indonesia, dan tidak melihat negara lain, saya merasakan sedang dikentutin, dan itu bau kacang mente, ha ha, inilah sebabnya kalau menilai tanpa sudut pandang, pasti akhir – akhirnya bau kentut akan keluar.

Secara sikap, saya kemudian membayangkan seakan – akan kita ada di jaman 1800 dimana di Inggris taman – taman publik dibatasi oleh pagar – pagar besi dan hanya orang- orang ningrat yang boleh pergi ke taman. Pagar tersebut adalah representasi batasan terhadap informasi, seketika paradigma pembicaraan menjadi sempit sayangnya tanpa sudut pandang mengapa satu karya itu dianggap terbaik, bukan mau – maunya sendiri nilai sini nilai situ, lagian siapa lu siapa gue ? maaf kalau sedikit sarkasme atau sinis.

Terus terang saya sangat bahagia membaca tulisan njenengan yang berjudul The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian , yang memiliki penafsiran seperti itu, saya tidak akan berkomentar apa – apa, hanya bahagia dengan respons yang ada, berarti ada dialog yang semakin intens antara kita, saling babat, tendang. sikut, pukul ataupun belai membelai, dari benci menjadi cinta, dan sebaliknya, dua tegangan yang berbeda.

Mas anas, saya baru mendapatkan buku bagus, yang judulnya The Power Paradox tulisan dari Dacher Keltner, disini ia membahas mengenai, buku machiavelli, the prince mengenai bagaimana mendapatkan kekuatan dunia. Sumarah memberikan antitesi dari apa yang ditulis oleh machiavelli, namun buku yang ditulis oleh Keltner ini, memberikan sebuah perspektif mengenai kekuatan paradox, dari tegangan – tegangan pada kondisi ekstrimnya masing – masing yang ada disitulah muncul kekuatan apabila kita bisa mengambil paradoks yang terjadi. Di balik sebuah krisis ada sebuah peluang, pertanyaannya, dengan sebegitu problem profesi kita, mungkin saja kita belum mengambil manfaat darinya, dengan mempertimbangkan peluang – peluang yang ada.

Dari masalah disitulah adanya manfaat, mungkin saja kuncinya adalah bukan di arsitek tapi di ketukangannya, mungkin saja kuncinya malah di teknologi bangunan, bukan di programming, mungkin saja lebih – lebih lagi kuncinya adalah pola pikir (paradigm) bukan programming, seperti yang dibahas Collin Rowe, apakah kita mendesain programnya dulu, atau bangunannya. Kita semua di tangan manusia – manusia yang disebut arsitek ini, bandul keseimbangan di antara tegangan tersebut bisa dimainkan olehnya, bukan dipermainkan olehnya. Mungkin dari situ perlunya keahlian saja dalam aspek – aspek diluar arsitektur, terutama mengenai hati dalam bersikap, perlunya training yang matang, dan sikap dekat dengan bumi.

Mas Anas sudah pernah membaca buku perjalanan malam hari yang ditulis oleh pak Yuswadi Saliya ? Saya pikir setelah saya membaca buku itu, saya mungkin berkesimpulan, beliau kecewa dan apa iya lagi frustasi ya dengan iklim kita. Kebisaannya dalam tuturkata, melahirkan sebuah tulisan yang berisikan kompleksitas profesi kita yang carut marut yang disusun dengan runtun.Kalau tidak ada nanti bisa saya kirimkan satu dari Jakarta, sepertinya saya punya lebihan di perpustakaan. Sempet saya iseng saja berpikir gimana kalau judulnya kita balik, menjadi perjalanan menuju pagi, seakan – akan ada optimisme untuk arsitektur yang lebih baik lagi, dari situ ada kekreatifitasan untuk menjaga arsitektur kita lebih baik lagi, yang saya yakin dengan arsitektur yang baik, maka profesi akan lebih baik lagi, tentunya dengan landasan hukum, pranata, dsb dsb.

Kondisi kesehatan saya sedang turun, dari acara kemarin sampai ke pekerjaan – pekerjaan yang menuntut kita untuk berkomitmen. Maklum mungkin ini sedang mau lebaran, jadi semua senggol – senggolan, ingin berdialog, saya pikir ini wajar, hanya saja sekarang sedang musim penyakit flu jadi kena juga. Sedikit istirahat pasti bisa membuat segar kembali, apalagi setelah membaca, The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian, saya pun menjadi segar. Mas Anas untuk pameran IndonesiaLand kita nanti saya persiapkan dulu ya, bagaimana kita bisa saling membelah diri, namun rangkaian prosa- prosa ini bisa menjadi satu pelengkap untuk dialog yang manusiawi, karena kita kan manusia ya bukan alien ataupun monster jadi – jadian ha ha ha. Namun sudah jelas nanti kita berkolaborasi ya,

Salam,

Realrich

Dear Mas realrich Sjarief yang baik,

Terimakasih atas cerita-ceritanya yang menyegarkan, tentang Boss Utara dan tentang Andra Matin, juga tentang Pendidik Utara. Lakon-lakon penting yang malang-melintang dalam pusaran arsitektur kita. Saya suka sekali dengan metafor “pusaran” yang sampeyan sampaikan (sejak di Artotel minggu lalu), ada semacam kedinamisan, sekaligus juga permasalahan dan kompleksitas di sana. Hmmm… sampeyan masih sempat-sempatnya menulis panjang di sela-sela kesibukan senin ke senin, rabu ke rabu. Benar-benar Architrance… hehehe…

O iya, saya sangat tertarik untuk tawaran kolaborasinya, ayo kita mulai. Wastumiruda sebenarnya sudah lama ingin turun gunung, hanya menunggu waktu yang tepat saja. Dan rasanya, saat ini adalah waktu yang tepat, ketika saya bertemu dengan seorang Architrance dari Batavia Barat, yang kadar trance-nya sudah mulai menyeruak dalam pusaran.
Saya ingin membahas sedikit tentang celah, atau pintu kecil (ini terpikir dari jalan masuk 60 cm yang sampeyan paparkan). Di Serat Jatimurti (sebuah kitab lama Jawa yang membahas dimensi), ada bahasan tentang Alam Kajaten (Alam Kesejatian), yang menyebutkan bahwa alam kajaten itu merupakan alam yang bisa menampung yang tak terbatas, bahkan bisa menampung seluruh isi semesta.
Saya menafsirkan alam kajaten itu sebagai “pintu” (bisa berupa celah, lorong atau lubang). karena “kekosongan” pintu berbeda dengan “kekosongan” ruang (space). Jika ruang pada hakekatnya berupa volume yang bisa menampung sekian orang (dan bisa sesak, atau penuh), sedangkan pintu bisa dilewati ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan orang, mungkin sampai angka tak terbatas dan tak pernah penuh (karena pintu kodratnya untuk dilewati/dilalui, bukan didiami/diduduki/dikuasai).

Untuk acara hari Minggu, saya tidak ada usulan, saya sudah pas diletakkan di awal, sebagai sebuah pancingan agar penafsir-penafsir lebih bebas mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan. Kalau untuk profil saya, cukup ditulis: Architext saja. Atau kalau mau agak panjang: Architext lulusan S1 (Arsitektur) dan S2 (Perancangan dan Kritik Arsitektur) ITS Surabaya, yang sedang menulis beberapa buku (termasuk Buku 15 Cerita), Dosen (UKDC dan UPN Veteran Jatim Surabaya), dan Dalang Wayang Arek (meskipun jarang manggung, hehe)

Setelah membaca 99% The Guild, rasanya saya ingin cepat-cepat datang untuk melihatnya secara langsung sebagai experiencing. Dari deskripsi sampeyan, saya rasa ini studio yang hidup, yang lahir dan berproses dari pergulatan, dan layak untuk diapresiasi publik. Yang setelah minggu sore besok segera berubah menjadi 1% The Guild, karena arsiteknya Bunuh Diri (hahaha..), dan publik dengan leluasa akan menafsirnya. Ini saya singgung juga di paparan saya untuk acara minggu sore besok.

sampai ketemu di acara besok,
salam,

Anas Hidayat

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Mohon maaf saya baru membalas surat ini. Hari senin dan hari selasa sampai rabu biasa menjadi hantaman terbesar dalam kondisi berpraktek, kita punya inisiasi energi selama hari – hari awal minggu supaya bisa beristirahat di akhir minggu. Sebenarnya dipikir – pikir hidup itu sederhana, dari senin sampai senin, selasa sampai selasa, rabu sampai rabu, dan seterusnya, usaha kita menjalani hidup – hidup ini ya usaha yang untuk bisa hidup saja.

Saya mengidentifikasi wastu miruda dengan njenengan karena memang itu pemikiran, yang saya berandai andai ada pemikiran, perbuatan, hati, setidaknya ini bisa menelisik siapa itu anas hidayat. Mungkin saya ini menurut archilexicon wastumiruda adalah architrance= arsitek kesurupan mas ha ha ha. Terus terang membaca wastumiruda, seperti kembali ke saat – saat subtil, mungkin karena memang ruang hampa itu diciptakan sebagai jeda dalam keseharian, disinilah saya berpikir komunikasi ini menjadi penting.

Minggu kemarin selepas dari Bandung dan Surabaya, saya berkesempatan berkunjung ke satu lakon yang cukup penting, ia bisa kita namakan boss utara selain pendidik utara si David Hutama. Nama si boss ini Sonny Sutanto, unik karena saya menemukan pendekatan yang biasa – biasa dan wajar dalam berproses, beliau memang arsitek yang menangani banyak kasus komersial, namun disitu saya merasakan ada struktur, ada kategori, ada satu pranata yang dibuat dengan baik. Setiap desainer dikotak – kotakan supaya bisa punya otoritas, dan drafter ditempatkan di satu tempat terpusat, si boss ada di tengah – tengah semua dengan akses langsung ke perpustakaan. Detail arsitekturnya diwarnai oleh dekoratif dan quote ada di letakkan di courtyard yang menyatukan fungsi – fungsi yang ada. Yang menarik adalah buku yang diedit oleh David Hutama. Karena buku ini menunjukkan kekompleksitasan profesi arsitek kita di dalam rentang waktu 20 tahun terakhir, sehingga informasinya bisa digunakan untuk kita – kita yang muda ini dalam menapaki profesi kita yang tidak teratur, dan lemah akan apresiasi dalam dan luar.

tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
Proses Pembangunan yang ditampilkan
Proses Pembangunan yang ditampilkan

Ini kontras dengan buku yang baru dikeluarkan oleh Andra Matin, yang simplistis, minim akan informasi, hanya berubah interview satu arah dan minim akan penjelasan gambar dan tekstual. Saya kemudian bertanya – tanya, apakah ini karena cepat – cepat, atau memang saja karakter andra matin yang simplistis dan easy going ataupun yang hangat dan cepat dekat dengan siapapun. Mungkin inilah contoh adanya dua tegangan yang berbeda akan pola pikir yang berbeda juga, saya yakin proses pergumulan perumusan buku Sonny Sutanto sangat besar, dan membutuhkan waktu yang lama. Selepas dari berapapun biaya dijual bukunya, yang saya pikir itu lebih ke dalam hal – hal bisnis dan tidak esensial dalam membicarakan bagaimana satu karya itu dibedah. Saya harus memberikan apresiasi kepada mata air yang mulai muncul satu persatu dengan tegangan – tegangn berbeda . Sayangnya si pendidik utara ini sebentar lagi pergi ke negara kuda besi, saya harus kehilangan teman sepemikiran, oleh karena itu mas Anas jadi semacam, penyegar, semoga kita bisa mendapatkan penyeimbang dalam alfa yang muncul kembali untuk membentuk omega yang akan datang sebentar lagi.

Kembali ke obrolan surat- surat kemarin, kebetulan saya diundang bu Sarah ginting dan Chobib untuk berpameran di Indonesia Land, membuat instalasi lagi. Sebenernya saya capek berpameran ini, karena kondisi praktek yang sudah menyibukkan, namun berpikir juga bahwa ini adalah satu momentum untuk berbagi ke publik, disaat pameran ada kita bisa punya agenda untuk berbuat kebaikan.

Saya berpikir ya mas, kalau – kalau wastumiruda mau turun gunung, ayo kita pameran bersama. saya ajak mas anas hidayat kolaborasi, saya sudah bicarakan dengan Sarah dan Chobib, dan mereka manggut – manggut excited melihat architrance = arsitek kesurupandi depan mereka sepertinya ha ha ha. Kalau mau ya, nanti disiapkan ya text ataupun pemikiran, tentang wastumiruda, kebetulan kita punya banyak jejak – jejak kehidupan di studio saya, jadi mungkin setelah pavillion sumarah kemarin, mungkin bisa jadi kita bisa buat satu instalasi hyper small, hyper complex, maze, terbuat dari kotak – kotak rubik cube, dimana orang masuk diberikan jalan 60 cm, pas tidak lebih tidak kurang, mengikuti alur yang sebenarnya pengunjung tidak mengetahui apa akhirnya. Itulah cerminan budaya kita mungkin, komplekse, disorder order, paradoks. mungkin tekstual bisa mengiringi dan dalang pun bisa mulai berpantun, berdongeng untuk cerita – cerita di masa lalu masa kini dan masa depan.

O Iya hari ini akan diatur sama kantor saya ya untuk tiket surabaya jakarta, dan akomodasi selama disini satu hari, monggo mawon kalau ada usulan mengenai acara, saya buatkan publikasinya 1 2 hari kedepan soal mas anas ya, apa bisa dikirimkan profil njenengan, ya saya buatkan judul lecturenya 1 % yang dinanti, kalau mau diganti silahkan ya:

ada 2 hal yang mau saya share lagi, pertama tulisan soal 99% theguild, dan ada breakdown acara dari website, saya tuliskan satu – satu dibawah ya, yang ketiga ada di attachment itu brosur untuk acara kita di hari minggu

1. 99 % The Guild
99% The Guild adalah refleksi sebuah pemahaman terhadap kondisi dua jalan pemikiran proses desain yang paradoks. Pemahaman pertama diukur dari pergumulan manusia tentang mencipta ruang dari bentuk – bentuk yang sudah pernah diketahui dengan kombinasi bentuk baru yang kemudian dicari kembali kegunaannya dari pengalaman – pengalaman masa lalu. Ini adalah bentuk pelatihan tanpa henti sehingga terkulminasi di dalam momentum begitu desain itu diciptakan sesuai citranya dengan perjalanan panjang. Ini adalah soal definisi sekaligus fungsi supaya mempunyai nilai kejujuran dalam produk dan proses. Disinilah proses kreatifitas selalu berusaha menembus batas dari batasan yang mengelilinginya dari angan – angan dari arsitek menuju coretan garis, seluruh aktualisasi pengalaman dalam coretan – coretan garis pertama, kedua dan seterusnya.

Pemahaman yang kedua adalah ukuran hubungan manusia dari dalam ke luar. Ini adalah cerita bagaimana memanfaatkan segala keterbatasan lokasi, juga manusia – manusia pembuatnya, lokasi dan cuaca yang ada , dan manusia – manusia yang akan menggunakannya. Disinilah ada proses negosiasi dari keterbatasan sumber daya, waktu, dan lebih – lebih lagi keterbatasan pemikiran dengan orang – orang sekitar, disinilah adanya proses transfer ilmu pengetahuan, yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam satu proses yang alamiah dalam proses mencipta arsitektur yang rasionalis juga impulsif, dan intuitif.

The Guild dimulai dari , sebuah studio di dalam garasi berukuran 3 m x 10 m yang memulai titik pertamanya, menorehkan garis, dari satu ruang yang bercat hitam minim akan cahaya, yang memiliki keterbatasan ruang ergonomi yang ekstrim di rumah orang tua saya, dimana batas nyata – nyata terlihat mewarnai derap langkah kawah candra dimuka tersebut . Garasi Itu adalah tempat dimana desain digodok, dari mentah menjadi matang menanti supaya daya energinya bisa diledakkan dalam kekuatan tangis dan tawa dalam kenangan yang sudah menghujam jantung pikiran dari senin menuju senin, dari subuh menuju subuh, dari senja menuju senja, dari hari raya ataupun hari – hari biasa. Kemudian pertanyaan muncul mengenai apalagi bentuknya setelah babak pertama selesai dan babak kedua siap dimainkan ketika memang waktunya sudah tiba untuk pindah ke tempat yang baru.

Proses desain The Guild dimulai dari sebuah kombinasi program rumah, kantor RAW , dan perpustakaan arsitektur omah library yang didesain berupa kotak berukuran 12 m x 12 m menggunakan grid 6 m dengan perhitungan untuk mengurangi sisa bahan konstruksi baja, dengan teritisan panjang, kantilever baja berekspresikan semen, kayu, baja, dan material yang transparan. Permainan terbuka – tertutup didasarkan atas pertimbangan skala ruang dan pertimbangan untuk untuk menangkal cahaya matahari di antara jam 9 pagi sampai jam 4 sore dengan perhitungan bahwa setiap material tersebut punya thermal konduktifitasnya sendiri – sendiri. Pertimbangan tersebut terkulminasi menjadi perhitungan bentuk dari ketinggian, besar dan kecil, penempatan dan sudut – sudutnya pada sisi atas bangunan, pada sisi kulit luar bangunan.

Omah library diletakkan di sisi terluar, perimeter dan setengah di bawah ketinggian 0.00 karena pertimbangan akses publik dan kebutuhannya yang membutuhkan kondisi untuk menjaga buku – buku dari terik matahari, dan temperatur yang konstan dengan sesedikit mungkin menggunakan penghawaan buatan dengan akses akhir adalah sebuah ruang penyatu dari ketiga fungsi yang ada.

Bangunan dibagi kedalam zona publik dan privat seiring dengan bertambahnya lantai, makin ke atas makin privat, dengan pertimbangan akan bangunan yang modular, sirkulasi yang memudahkan orang untuk menggunakannya sesuai dengan 3 program : perpustakaan, studio, dan kediaman. Studio RAW didesain dengan bentuk yang kotak total 3 lantai dengan floor to ceiling sebesar 2.1m dengan permainan solid void, lengkung dan bidang lurus untuk memecahkan floor to ceiling yang cukup pendek. Area desainer, associate, dan administrasi disatukan dengan satu buah ruang tengah berukuran 3 x 6 dengan mezzanine di tengah – tengahnya yang 3 fungsi ini adalah jantung dari kantor arsitek. Ruang prinsipal ada di daerah dekat dengan ruang keluarga, terpisah dari kantor dan disinilah tempat pertemuan kantor dengan pihak luar menghadap ke taman yang merupakan ruang penyatu dari OMAH ruang keluarga dan studio RAW

Akses langsung dari studio RAW dan ruang keluarga yang multifungsi dihubungkan dengan foyer 2 x 2 m dengan pintu masuk yang sama, menunjukkan bahwa orang – orang yang bekerja di dalamnya diterima sebagai satu keluarga besar. Hanya ada satu kamar tidur disini, yang memiliki ruang keluarga sendiri di lantai atas dari ruang keluarga berukuran 4 x 12 m.

Terkadang bisa terlihat ada kenakalan – kenakalan bentuk yang tidak terduga, sebagai interpretasi bahwa arsitektur juga tidak lepas dari mimpi, dan coretan – coretan garis lengkung dan tegas yang, bahwa aktualisasi adalah sebuah fungsi juga dengan takaran yang wajar. Pengolahan – pengolahan detail selanjutnya adalah bagaimana mengaktualisasikan ke dalam fungsi bagaimana struktur dari detail berdiri, bagaimana kemudahan proses perawatan, dan bagaimana menambah efisiensi seperti memperkecil beban dengan memilih material dan bentuk sambungan yang tepat untuk memperkecil biaya dan menambah kompleksitas bahasa detail dalam bentuk yang terpikirkan dan terkomunikasikan dengan tukang – tukang dari waktu ke waktu. Intensi dari detail yang didesain ada 3 , yaitu desain berusaha untuk memperkecil volume barang yang dipakai (efisiensi biaya) , memperbesar celah – celah kretifitas pekerjaan tangan (ketukangan) , memperingan berat dari volume yang didesain (kemudahan prefabrikasi).

Sistem pengairan berjalan secara otomatis, dengan menerapkan zero greywater run off, dan zero storm water run off yang berarti seluruh air ditampung ke dalam bak retensi dengan kapasitas 8 m3 dan bak resapan berukuran 2.75 x 3 m dengan kedalaman 1.5 m yang menyumbang resapan juga ke tetangga yang diletakkan di depan lokasi The guild karena permasalahan banjir yang dihadapi pada saat hujan tiba, menimbulkan genangan air sekitar 500 m2 dengan kedalaman 10 cm di jalan depan.

The Guild adalah sebuah permulaan dari sebuah kantor yang mungkin biasa – biasa saja, desain kantor ini juga tidak spesial, seiringnya waktu, proses, pengunjung, orang – orang pernah , sudah, dan akan datang, menggunakannya dalam porsinya masing – masing bebas untuk berintepretasi, berkhayal, ataupun sedih, dan juga tertawa dalam kesehariannya yang wajar. untuk memberikan pemikiran interpretasi yang tanpa dibuat – buat, dengan seminim mungkin gincu dalam canda tawa ataupun celotehan yang merupakan identitas dari tiap orang – orang yang unik – unik. Disini ’The Guild’ menekankan arsitektur adalah pengajaran semesta mengenai mendapatkan teman, mencipta ruang, dan melepaskan diri sendiri dalam satu proses yang penuh pembelajaran untuk mengenal batas, dan dunia luar tanpa perlu mengharapkan apapun, apalagi tepuk tangan yang megah.

Kita sendiri perlu berkaca cermin dan mata pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kesulitan, problema, dan nafsu yang membelenggunya dengan tertawa dengan mukanya sendiri.

Di dalam dua pusaran pemahaman yang paradoks : dari luar – menuju dalam, dari subtil menuju kontras, dari angan – angan menuju kenyataan, arsitektur the guild kemudian bisa terbentuk. Rahayu kemudian muncul, untuk menemukan keseimbangannya.

Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99 % adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, karya dari arsitek seharusnya terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.

Realrich Sjarief

2. ini break down acara dari website ya :
99% The Guild : Open House

We Glady invited you to come to 99 PercentThe Guild : Open house, new home of RAW, Omah Library, and Residence of realrich and family . Please RSVP, to book your schedule, in

https://docs.google.com/…/1AZG_hziz3wFGyLE9mLUCNqe…/viewform

There will be a lecture by Anas Hidayat titled 1 percent yang dinanti, about the death of the architect after the work is born and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.

The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.

invitation card will be given after RSVP because the space is limited. Thank you, see you allDear Mas Realrich Sjarief yang budiman,

Mohon maaf saya baru bisa membalas surat sampeyan hari ini, kemarin saya baru dari Purwokerto, Jawa Tengah naik KA bolak-balik, untuk mewawancarai salah satu arsitek yang masuk dalam Buku 15 Cerita.

Kembali ke pembicaraan awal kita. Sampeyan sudah membaca Wastumiruda ya, hehe. Dan sampeyan malah mengidentikkan saya dengan Wastumiruda, hmmm.. sebenarnya tidak terlalu identik sih, meski saya akui bahwa saya menggunakan Wastumiruda sebagai corong untuk mengungkapkan ide-ide dan pemikiran saya.

O iya, saya sebetulnya sudah lama mendengar nama sampeyan, tetapi hanya sekilas saja, seperti orang berkendara di jalan dan membaca iklan-iklan yang bertebaran, hanya mata yang membaca, tetapi tak membekas di hati. Baru setelah bertemu hari Kamis minggu lalu, saya baru tahu bahwa sampeyan bukan arsitek sembarangan. Apalagi ketika sampeyan menunjukkan website RAW yang berisi tentang karya-karya/konsep/pemikiran/ide-ide sampeyan. Saya semakin penasaran, saya buka lagi tentang karya sampeyan 99% Sumarah, yang terinspirasi dari candi-candi, tetapi menggunakan material kontemporer, dengan filosofi yang membikin saya berdecak kagum. Sebuah bibit hermenutik yang dahsyat, ketika arsitek menyerahkan karyanya sepenuhnya kepada publik untuk ditafsir, dibaca dan dinikmati, dan sumarah dalam menerima konsekuensinya. Mungkin ini sebuah bibit “bunuh diri” juga, wujud kerendah-hatian seorang arsitek.

Jika saya tinjau dari Archilexicon-nya Wastumiruda, sampeyan bukan hanya seorang arsitek, mungkin malah Architecxt, (dengan c dan x sekaligus), karena sampeyan dengan fasih bisa mengungkapkan ide-ide dan karya-karya sampeyan dalam tulisan, yang mungkin pada saatnya nanti menjadi teori-teori yang berguna bagi kemajuan arsitektur kita. Sampeyan juga seorang Bibliarchitect (arsitek yang bergelut dengan buku-buku) sekaligus Archiographer (yang pandai menjelaskan karya). Juga Architectonaut (penjelajah lintas-jagad arsitektur), karena sampeyan menyukai Yue Min Jun yang menertawakan diri sendiri dalam karyanya, yang juga tahu tentang Sudjojojo, Affandi atau Basuki Abdullah.

Ketika kita saling berbalas surat seperti ini, saya bisa berefleksi dan juga mengasah pemahaman saya. Semoga menjadi awal yang baik. Baru kali ini saya mendapat kawan arsitek yang bisa saling-berbalas dengan surat-surat panjang yang penuh makna dan perenungan.

salam hangat,

Anas

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya seakan menemukan lakon baru dari lembaran – lembaran yang terbaca, cerita mu bukan cerita ngawur, cerita yang menunggu untuk memiliki sebuah keadaan sebagai landasan, seperti sebuah alegori dalam arsitektur yang belum siap untuk dinikmati, saya yakin 200 persen perlahan – lahan buahnya akan tumbuh, dan yang sampeyan tebar adalah benih – benih kebaikan dalam profesi arsitek yang serba individualistis, egois, dan mengecewakan sekarang ini, keadaan apresiasi homogen, dan rendah akal namun tinggi nafsu. Inilah cerminan budaya kita yang semu, kita perlu berkaca pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kebudayaan yang membelenggu kita dengan tertawa.

Apa ya, kejujuran menjadi satu yang dinanti – nanti, apalagi kritik terhadap diri sendiri. Akan ada saatnya, saya berharap, bahwa keseimbangan akan terjadi, dan kekecewaaan ini terobati. Setidaknya saya sudah menemukan salah satu teman seperjalanan, dengan mengucap syukur terhadap semesta yang sedang tersenyum untuk merasakan hangatnya bumi dan indahnya langit. Emosi dan impuls yang sedang tinggi – tingginya ini akan menemukan keseimbangannya kembali ketika kembali ke jalur praktik dan akademisi, berusaha untuk berbuat yang terbaik yang kita punya demi orang lain dalam keseharian kita yang kita cerminkan dalam laku, hati dan nalar,

Tokoh wastumiruda, yang saya baca bukan menghindar dari permasalahan, namun ia menghindar dari nafsu dunia, dan kemudian mencari jati diri ke universalan, yang penuh dengan paradoks, akan baik benar, salah benar, lalu, depan, karena semuanya itu benar yang membedakan adalah sikap kita menebarkan kebaikan yang hakiki. Kita dianugerahi ekpresi seperti affandi, daya karya seperti basuki abdullah, dan semoga hati seperti sudjojono, sebagai pramnya sastra, sama seperti yang mas perbincangkan. Kemarin saya perbincangkan pertemuan kita, kepada adik – adik saya di kantor, dan saya pikir, ini menarik, karena Wastumiruda akan datang ke Jakarta, untuk merayakan kematian kematian. Ada perasaan gegap gempita, karena ada perayaan, seperti ngaben di Bali, perayaan – perayaan ini adalah perayaan publik, komunitas, sebagai kesempatan untuk menebarkan nilai – nilai kebaikan.

Saya kemudian bertanya – tanya, apa yang akan terjadi dimasa depan, apa buah refleksi yang akan menghantam kekreatifitasan, nalar rasa dan logika. Apa ombak yang akan muncul, dan saya akan memberanikan diri untuk mengubur diri dan diam, dan menunggu. Satu lakon rasionalistis ada di tangan teman saya David Hutama, dan satu lakon empiris ada di tangan mas Anas, dua pusaran itu, semoga bisa membawa, hantaman terhebat dalam proses berarsitektur ndalem, dengan kesungguhan untuk bisa berbuat untuk orang lain. Ada saya ingat satu lakon, namanya pak Sunaryo mas Anas, saya ingat ini gara – gara mas juga, karena bertemu bu Sarah Ginting, dan Chobib Duta Hapsoro. Dia matahari dari Priangan selain mas wastumiruda ada juga David Hutama, pendidik dari utara, hanya karena dia tinggal di Jakarta Utara ha ha ha.

Sewaktu itu ia sedang membuat WOT Batu dan kebetualan ndalem diundang untuk menyaksikan 50 % dari karyanya pada saat itu, dan seperti pertemuan kita ini, semesta berbicara. nanti saya kirimkan, ndak untuk niat apa – apa, kalau sudah seneng ya begini tingkahnya ndalem mas,

Selamat pagi salam untuk keluarga njenengan,

Salam Hangat

Realrich

Mas Realrich Sjarief yang baik,

Saya sangat tersanjung membaca surat sampeyan. Saya pun sebenarnya ingin membuat sebuah tulisan tentang pertemuan kita kemarin, tetapi masih sebatas angan-angan, dan kemudian malah keduluan oleh surat sampeyan. Ah, sampeyan teryata lebih “Koprol” daripada saya, hehehe…

Selama sepuluh tahun lebih saya berdiskusi dan mengungkapkan pandangan saya dengan para arsitek, baru sampeyan yang secara lugas menyatakan: sangat menarik! dan itu membuat saya kaget setengah mati. Kalau dalam pola pikir Jawa saya, seperti ada Hawaning Bawana atau “Kekuatan Semesta” yang mempertemukan kita, yang semoga terus menggelinding melewati ranah-ranah baru yang lebih menantang…

Mungkin nanti akan saya tulis di blog saya dalam bentuk cerita dengan tokoh bernama Wastumiruda (wastu=arsitektur, miruda=minggat/menghindar). Meskipun blog saya ini kurang terawat, tetapi paling tidak mas Realrich bisa membaca cerita-cerita “ngawur” saya di: https://wastumiruda.wordpress.com/

salam hormat,

Anas Hidayat
REK! REpublik Kreatif
Surabaya

Kamis 02 Juni 2016

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya habis membaca tulisan – tulisanmu di buku arsitektur Koprol di kereta perjalanan dari Bandung ke Jakarta , dan kebetulan ada 2 tulisan yang menyentuh hati saya. Untung saja kita bertemu di satu pagi di hotel Artotel milik keluarga Radjimin dan rekan – rekannya, kita duduk membicarakan hal yang lain, dan kemudian kita bergurau kemudian kita berdiskusi mengenai hermeneutika dalam arsitektur, saya bersyukur diperkenalkan oleh Andy Rahman dalam pertemuan di pameran studio ARA Intimacy kemarin di hari Rabu tanggal 1 juni 2016

Baiknya saya sudahi kronologis pertemuan kita dan, kembali ke tulisan tersebut, Tulisan yang pertama Hikayat Gereja Pohsarang, Kediri, dan dan yang kedua Pondok Pesantren Turen, Malang: Arsitektur sebagai laku. Ada beberapa hal yang menarik, pertama soal lokalitas, dari tulisan ini saya menemukan teman seperjalanan yang satu nafas, setidaknya dalam apresiasi dalam bentuk tulisan. Di tahun 1939 gereja Pohsarang selesai dibangun, dan itu adalah salah satu karya yang melewati jamannya, mencoba untuk menggali kreativitas terhadap budaya setempat, hasilnya adalah arsitektur yang tidak lekang jaman, mana saya tau bagaimana reng itu bisa digunakan sebagai batang tarik yang menumpu genteng. Bentuknya yang cantik, menandai hasil pergulatan Maclaine Pont terhadap keterbatasan. Disinilah usaha untuk menerobos batas itu terlihat dan ada warna yang serupa dengan stadion yang didesain Frei Otto di Munich dalam diskusi dengan Undi Gunawan satu sore di kampus UPH, disinilah saya percaya arsitektur tidak terbatas akan besar kecil. Ini hanya satu butir dalam banyak sekali butir konsep yang bisa ditelaah di Pohsarang dari macro menuju Micro yang masih tersisa, yang kemudian kita mencoba membayang – bayangkan di jaman itu seperti apa kesulitan dan bagaimana konteks bisa direkonstruk untuk mempelajari apabila kita menghadapi kesulitan di jaman sekarang.

Kemudian tulisan kedua, menjelaskan tentang satu pondok pesantren di Turen, Malang, menandakan bahwa ada juga arsitektur yang tanpa turunan, ada di tengah – tengah kita. Saya mencari – cari terus, dimana di bumi nusantara ini, ada arsitektur tanpa turunan, sebagai hasil dari manifestasi pekerjaan tangan yang tumbuh perlahan – lahan seiring manusianya tumbuh yang ternyata ada juga di Nusantara, di sebuah pesantren.

Untung saja saya membaca 2 tulisan ini sekarang, semesta sedang berbicara karena momentumnya tepat dimana kalau – kalau ada dua pusaran di dalam arsitektur Indonesia. Dimana saja kebudayaan akan paradoksial, dan baru saja pak Cosmas Gojali, dan bu Diana Nazir melontarkan  temanya di bravacasa, Simplexity dan Complexity 2016. Arsitektur Jepang, India dan lain – lain mungkin bisa mewakili kesederhanaan (simplexity) dan kemauan untuk kembali ke alam, dan arsitektur barat, bisa mewakili kekayaan bahasa melalui kompleksitas industrialisasinya, dan kekayaan khasanahnya yang sudah turun menurun di sempurnakan menjadi demikian kompleks dan terintegrasi. Dua buah paradoks yang menggapai keseimbangan itu menghantam bumi nusantara kita. Kalau – kalau saya ibaratkan,  Avianti Armand bisa saja reaktif, ataupun besikap  fenomenologis dengan tulisan – tulisannya, ia akan berdiri di tengah pusaran itu, sedikit bergoyang untuk mencari keseimbangan, dan menyalurkannya sedapat yang ia bisa ke arah yang membutuhkan. Namun Mas Anas yang ada di tengah pusaran paradoks,  tidak berdiri, namun sedang tidur terlentang, di tengah pusaran tidak bergoyang sama sekali, menunggu orang – orang mengangkatnya dengan tetap tidur terlentang  kemudian dalam tulisannya mas Anas membuat saya  menyadari bahwa arsitektur memiliki banyak sudut pandang, dan tidak simplistis. Disinilah arsitek mungkin akan mendapatkan kembali kejayaannya, untuk memiliki otoritas karena gayung itu diberikan sukarela karena publik menyadari bahwa ia memang layak dibuat.

Oleh karena itu, saya tunggu mas Anas di Jakarta untuk turun gunung, untuk merayakan kematian arsitek setelah karyanya selesai, seperti kematian seorang penulis ketika tulisannya sampai ke tangan pembacanya sebagai refleksi untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Realrich

 

Heart of Pedagogy

courtesy of ARA Studio https://thingswedoinara.wordpress.com
courtesy of ARA Studio https://thingswedoinara.wordpress.com
Last few days, I came to ARA exhibition intimacy. A strange feeling, that I got when I entered their new office which was at that time became the gallery space. Erel, Goya, Iwan asked me to come and share about architectural pedagogy in ARA’s Intimacy exhibition. The question raised in my mind , do we need pedagogy, yes off course we need it, but how to create the good practice to transfer the knowledge between the people to the other people, old to young, practician to academic, academic to practician.
Then, this story began,..
Defry Ardianta as moderator of the discussion
Defry Ardianta as moderator of the discussion

The story started from the breed of two type of pedagogy, one is  empiricist, about learning what is already there, the joint,detail, the approach which was proven and second is rationalist view, creating something new which the solution is fresh, and new. I thought probably we are  all finding a roots for being romantic, empiricist while trying creating ratio for our contemporary practice as in our world, both of the them are paradox when it came to reality. It is normal to be equilibrium, paradox is in the need, knowing true and false is needed to get self criticism, without self criticism there is no heart of pedagogy. This is the first point. To be able to get self critics, we need to be open ,and honest. ARA wanted to be honest by opening their studio, sharing their story, and this intimacy, which means getting close to, is one of their agenda, getting close to creating honest story, honest relationship, honest space of culture sharing and learning. Even there are some notebook consists of communication between principals, contractor to see, to show a high grade of transparency even though the message is not clearly noted, why do we need to see the notebook, is there any something important behind it, what the message is can not easily understood by visitors.

I walked to the entrance,and  seeing the note by Ayos Purwoadji, seeing the agenda, setting the frame to be judged. The exhibition started by a series of projects which was broken, dismantled into several smaller block, people can play the massing to create new composition, then they had research about some of the circulations of the building which is abstract. There was initiative to gather elementary kids to play with their massing to show that architecture is fun. The approach of the exhibition is quite unique, there are interaction between the object becoming the act of playing in the very creative side of the design iteration.

When we started to mold our ground creating the similar understanding, about problem, then discussion happens. The collaborative design, was essentially designed for working in more complex project, the more we have to open to other party, the more we have to collaborate especially to structure, mechanical, quantity surveyor, project management, builders, and at the end the collaborate with peers, assistant as a part of body of the firm. The collaboration is the take and give relationship, the act of speaking and the act of listening. There is paradox to create equilibrium, this exhibition is about creating equilibrium of getting close to by creating the same domain to discuss architecture.

As a part of the graduation, transfer knowledge, there will be camariderie among the collegues, which are normal. leaving good memories of practicing architecture. In the ARA Intimacy Exhibtiion at the end of the room, there are relics, property, things that is colouring designer desk, life, creating memory while they worked in the studio. My question expanded about how is the life of their past staffs, designers, what is the relationship between the principals and each of the staff who has resigned. What is their view about architectural pedagogy.

Then, the question then raised that is it an important exhibition ? then, what it the quality of this exhibition. No doubt, that this exhibition is a milestone in Surabaya for creating good community initiatives which is needed for appreciating architecture, but as a content, it is only touching the surfaces of studio culture, which is like appreciating beauty by enjoyment of creativity, that we, architect still have our own space, the house of the architect, home of creativity, there are no product of architecture showed in the exhibition, there are no plan, no elevation, no section, no information except concept models and relics.

There were more stark, banal problem or I can say basic problem of our profession which is uncovered such as knowledge development the transfer of knowledge between principals and the designers, the standard of the working drawing, the logic and fallacy of the ARA’s design approach or even some data, statistic about type of contract, way of legal administration, number of working hours, how big the salary for junior architect and architect  or even the quantity of project which was not built compared to the project which was built.

Probably it’s a too much request for this exhibition and expectation for ARA and i’m so sorry because i’m getting excited for the fruition of this exhibition, nevertheless It’s was a great starting point, hopefully there will be sequel starting with transparency to uncovered at least basic problem. There are always the alpha or beginning of each process, and this is a brilliant start or I can assume promising start of the good pedagogy starting at the heart of pedagogy, an attitude to be honest with intimacy. Reflecting on ARA’s intimate exhibition, we can be optimistic that in few years, hopefully there will be hearted community and the appreciation to architecture is a way more higher than before.

My Little Brother is getting married

Mondrich, my little brother is getting married with Jessica, I hope the best for them.

I heard this song written by Putut Pudyantoro in their wedding titled Kasih (love) the song is beautiful and as a reflection that our life is filled with love.

“Andaikan aku fasih berbicara,
Namun tak punya cinta kasih,
Ku bagai gong yang bergaung.

Andai imanku mampu pindahkan gunung,
Namun tak punya cinta kasih,
Ku tiada berguna.

Kasih itu sabar, murah hati,
Percaya, tak angkuh dan tak dengki.
Kasih itu tak memegahkan diri,
Kasih itu kekal serta abadi.

Andaikan aku mendermakan hartaku,
Namun tak punya cinta kasih,
Tiada berartilah aku.

Kasih itu sabar, murah hati,
Percaya, tak angkuh dan tak dengki.
Kasih itu tak memegahkan diri,
Kasih itu kekal serta abadi.”

Rio has married with Mega now, I do hope the best for them as well. :)

Letting Go

img_5835
Walk with Miracle

I walked quietly in the courtyard of the guild. It was a rainy day, my mind was thinking hard, deciding things was not easy. My body was uncompromised with my thinking at that time because I was really tired, confused, and not thinking clear the situation around me made this mind wondering about what do I want for people, what is the priority about work, life and love. This situation is happening in one project in one sports complex in Jakarta. There are 5 conditions happening that made me leave the project after we finished the design.

So there was a story when I was in the meeting with several architects and operator of the complex, which means discussing the project with deep thoughts and transparency because it is a public project. I asked the professionalism of being an architect to the parties because the first, of course that we need brief, and we need the standard operation of procedure of the sports complex. There is not any of that kind of thing, the brief was poorly prepared by verbal and the design was in the need to finish in several days, it’s like doing sprint, and I was ready with my team to answer the brief. I thought that it was normal for doing something like there is no schedule and there is no initial budget in a public project, the project was started in the beginning of March as far I can recall my memory. Each week became very disorganised, there was no proper brief, the discussion about the budget was not with chemistry. The intent of the project was very heroic in a way that there is no initial budget, and there is no schedule, that is the first and that is the second, and I still think, it is okay, I did it because of the dedication for this architect profession. That is the first and the second.

I was thinking and asking about the responsibility becoming the architect, that in the public project, the selection need to be fair, and judged by the jury, or at least I hope being selected meaning by capability not by because I know some people in the league. I hope that there was a letter, or public announcement, because by having that, people can start an open judgement, I still think it is okay, I did it because the dedication for this profession. That is the third. Then, The project was exercised in two and half months already and using our resources, I was exhausted and my team was exhausted, we didn’t have the resource anymore to work on that project which has cost us 100 million in pay bill and thousands of working time in the team. The three conditions still happened, no budget, no fixed schedule, no public announcement. I was thinking how can I pay the bill, so I need to find projects, calling for friends who can give us work. They were glad to support us, and we can run our projects.

Then, I was called in one afternoon that tomorrow we have to attend a meeting, and there is only very short day to review the documents, the budget prepared by others. The drawing needs to be prepared consists of structure, mechanical, and architecture in the level of working drawing with no budget, and we need to review and prepare. At the end, I as the architect need to sign to that documents. There is small response among the team member of architects, it’s been said that we don’t complain, we just do the work, and everything needs to be done. I was thinking if we were given only 1 – 2 days to review the document, and the situation always happening like this, is it the right way to do the job  ? Can I be responsible for this document ? Have we completely checked it ? or Am I in the middle of the politic’s ripple ?

I remember one discussion with David, he said “You need to drop that project Realrich”, my friend, David talked to me in one evening in WhatsApp. “There is no need to sacrifice for you office and your family, this is not your battle, this is the battle of more senior architect who has established, but you are such elves kind like what Ary said” he mocked me. I also remember watching a video prepared by Anis in Omah in Glenn Murcutt’s interview at the end of the interview,

he said: “If you feel it’s not right, and don’t do it.” That is the fourth, there is a huge risk for sacrificing family and my dear firm looking at previous sports complex which came to hand of government corruption watch.

The fifth is about chemistry, there are well said words that we can be the success because of people around us. If there is no budget, no schedule, no honour, huge risk, and it still can be ok, if there is good chemistry, being backed up by good people, good clients, and full of positive energy, far from the blame game.

I discussed with the associates, and they told me that they weren’t happy we were experiencing this project, I tried to explain that It was my first time handling this kinda project, and I was so sorry for experiencing this, and trying to have a better condition in the office. I was so deeply sorry and was so sad because I didn’t like to disappoint them. I thought they need time, and I need time to recover. I talked to the designers, and seems they were okay with it, even though I knew that they were disappointed as well. It’s never been easy. After that, I told Septrio one of my left wing, my intention, he said something that made realise the priority. “Big brother, there are many people here to be taken care other than working on that project”

So finally my walk in the guild was over, In the name of my professionalism, I have done my best and finished the design, and I quit that project because the priority, Laurensia, Miracle, and my dear office, the advisors, the associates, designers, the supervisors, the builders, the librarians I love them, and I care about them. at that time it was 2 am in the middle of the night, Laurensia woke up, and I told her that I dropped the project, she said: “I am happy.” I felt blessed to be surrounded by them, As what the priority was experienced, the true value of professionalism experienced, what can I expect more ! I have learnt so much in this process. God Bless you all.

Struggles of our Life – Parent- Son – Daughter

 

Micracle is 7 months old now
Micracle is 7 months old now

This is the song for  boy and daugher who is innocent and creating lullaby of beautiful life.

There was a story …

Once upon a time a daughter complained to her father that her life was miserable and that she didn’t know how she was going to make it. She was tired of fighting and struggling all the time. It seemed just as one problem was solved, another one soon followed. Her father, a chef, took her to the kitchen. He filled three pots with water and placed each on a high fire.

Once the three pots began to boil, he placed potatoes in one pot, eggs in the second pot and ground coffee beans in the third pot. He then let them sit and boil, without saying a word to his daughter. The daughter, moaned and impatiently waited, wondering what he was doing. After twenty minutes he turned off the burners. He took the potatoes out of the pot and placed them in a bowl. He pulled the eggs out and placed them in a bowl. He then ladled the coffee out and placed it in a cup.
Turning to her, he asked. “Daughter, what do you see?” “Potatoes, eggs and coffee,” she hastily replied.

“Look closer”, he said, “and touch the potatoes.” She did and noted that they were soft.

He then asked her to take an egg and break it. After pulling off the shell, she observed the hard-boiled egg.

Finally, he asked her to sip the coffee. Its rich aroma brought a smile to her face.
“Father, what does this mean?” she asked.

He then explained that the potatoes, the eggs and coffee beans had each faced the same adversity-the boiling water.

However, each one reacted differently. The potato went in strong, hard and unrelenting, but in boiling water, it became soft and weak.

The egg was fragile, with the thin outer shell protecting its liquid interior until it was put in the boiling water. Then the inside of the egg became hard.

However, the ground coffee beans were unique. After they were exposed to the boiling water, they changed the water and created something new.

“Which one are you?” he asked his daughter. “When adversity knocks on your door, how do you respond? Are you a potato, an egg, or a coffee bean?”

In life, things happen around us, things happen to us, but the only thing that truly matters is how you choose to react to it and what you make out of it. Life is all about leaning, adopting and converting all the struggles that we experience into something positive.Screen Shot 2016-05-29 at 8.50.44 PM

the story was taken from http://www.moralstories.org/struggles-of-our-life/

 

 

 

The Bare Minimalist Residence, … Bioclimatic house


Finalist of Indonesian Architect Institute Jakarta Award 2012

The project offers the design of a house, perhaps is the most interesting outcome for the RAW Architecture and process brings together the owner and the architect in a unique and mutually supporting relationship. The Bare Minimalist house is one of several projects undertaken with the first client who I  met. The Client, Charles Wiriawan is a naturalist person house demand for one natural house for his first owned home. Early discussions focused on discussion of the program, a definition of naturalist house and budget constraint. The discussions were latterly distilled into a series of ecological approach and solution in narrow lot space, 8m x 24m. The result is a fusion of bold massing avoid the orientation to the west side building by creating one narrow building which allow fresh air circulate from outside – to inside the building.

19 bare - resized_15 19 bare - resized_08 19 bare - resized_01

Developed in response to the local tropical climate, the concept for Bare Minimalist House has been sensitive to seasonal sun path; high humidity levels prevailing winds, area temperatures and precipitation rates specific to the location. Directional wind profiles and solar exposure have been used to help determine the facade design and external building form to achieve lower thermal loads and opportunities for open balconies and natural ventilation.  The house is north-south-East orientated. The living and dining area are located on the north side facing the open space and 2 bedrooms, the master bedrooms to the South-North-East. Each bedroom has a terrace, balcony or veranda. The south-facing veranda spaces have been designed to maximise the useable area in the house. They are activated by opening the 2.85-metre-wide, full-height sliding windows covered by sun shading to several faces that exposed to direct sunlight and by closing an internal curtain, which acts as a thermal curtain. This prevents heat penetrate during whole wet and dry season in hot humid tropical monsoon climate. One void connects each of the floor plan and allow air stacking effect in the house allow 24 hours fresh air flow in the building.

The glass area with external shading is maximised to the south to gain passive solar energy during colder periods. The solid areas of the north side are clad with ceramic tiles in a colour to match the bricks of the existing grain store buildings opposite. District heating is provided for heating; rainwater is collected and distributed to the nearby canal.

Bare Minimalist House will also be a green building in a more literal sense. The top of the house as roof terrace and the ground level will be green spaces, introducing planting and trees to the ground, upper ground, top of the building, and canopy area, irrigated naturally via a rainwater harvesting system.

Fact Sheet :

Owner : Charles Wiriawan

Architect : Realrich Sjarief

Assistant : Bismo Prakoso, Anastasia W, Silvanus Prima

Photograph by : Andhang Rahmat Trihamdhani, Donald Aditya Ephipanius

Taking challenges

160501 “After every storm the sun will smile; for every problem there is a solution, and the soul’s indefeasible duty is to be of good cheer. ” William R. Alger

Last few months, we worked on one prestigious project, that made me mulled. It’s a project which consists of several international consultants, builders, and owner. It has high standard of the way building operates. High standard means a condensed manual consists of hundreds pages for architect to read before working on this project and intense interaction among each parties. There is also high level of technical issues because of project’s nature.

The contractor has been asking clarifications until, for us, it’s not necessary to ask every little step to architect because every information is in the construction drawing. at that time I tried to delegate the job to my fellow staffs, partners because of the circumstances that i had to travel to outside Jakarta. The coordination among consultants, builders, and owner went so bad, so the project did not run very well, there were lacking of coordinations, the team had very low chemistry and it seems that project manager was confused about what’s going on. The blaming game began. I felt it’s unnecessary, and thought that we would drop this project to save our position while our position was still safe.

My mind was wondering about path of life, the raindrops, the fear of becoming someone to be blamed, and the risk of being the care taker. I had to slept in the morning and had difficulty to sleep for several days, Miracle cried in the night time, Laurensia said, “miracle can feel, that his father is in trouble, and has many problem in his mind.”. But, I tried to ask myself, for this project which keep bothered my mind, do I want to quit ? do we want to stop ? off course, there will be comfort zone, but come on, the problem just arise, and suddenly you want to stop. Things became very difficult, because of blaming game began, everybody has fear to action, to take lead, if you take the lead,if something goes wrong, you will be blamed. I was in the fear, I tried to ask my fellow friends, nobody there,

then,

I always remember what Laurensia said to me, when i was down, “Honey, if you want to get stronger, you have to face it, I know you can do it. ” ” I know it is very difficult to face it, meaning that you  have to take a risk, but isn’t it same that the time that you came to Indonesia , back from London, or Sydney , or the moment you lost your firm, you finally re run it again. ” We have faced this kinda thing.

img_7766

Then, after that , I decided, and  woke up in the morning, 3 am, read the manual, and reviewing the documents, and start calling clients, consultants, and start to clarify the miscommunication and helping other people in the big team which consists of like 7 parties. Several days were spent in the coordination and clarifications, it surprisingly followed with such a welcoming response from consultants, owners, operators, and the tension was dropped, we started to solve problem and acting like dream team. What I learnt from this process, is simple act, helping others while taking risk to be blamed is giving us, at least for me, happiness, and I feel so grateful because of taking this project, and having this great challenge.

The second story,  I had to move to our new home. Our house, named The guild. The guild was still on construction, and we had to move before the house is ready, the boxes were everywhere in the house. Laurensia was stressed in several days, and for our miracle, the dust was much everywhere in the guild , and the bedroom was quite dirty. If Laurensia, Miracle, and me need to move, the office which is located in the garage will also need to be moved, because my work nature which is always overtime in the daily week. We had spent several days for packing and moving our stuffs and whole office, the designers, technicals, admin, whole office family helped much in moving all of the thing and made the guild ready as much as they can.

The garage office interior was moved,
The garage office interior was moved,
The office family is helping the moving
The office family is helping the moving

We finally moved at one bright Sunday evening, in an unready condition, imperfect, or ongoing in construction. We felt blessed, suddenly the situation changed, suddenly we were so happy. We just realised that we were in our new home,

how we should grateful for all of the process.

… I love you Laurensia and Miracle, thank you for all of the office family who helped the moving process, welcome to our home, have a great day for all of you, bless you all. :) look at them they are so happy, and miracle so cute, hopefully he can walk in next few months, so he can explore, new world, new imagination in his life.

Laurensia and Miracle in the guild
Laurensia and Miracle in the guild

 

 

 

Home Sweet Home

20160306 at Home Sweet Home  “Gratitude can transform common days into thanksgivings, turn routine jobs into joy, and change ordinary opportunities into blessings. “William Arthur Ward

img_4389
design has been changing from time to time in every week, there has been iterations.

 

I am really thankful for all of the situation which is happening around me and family, and beautiful people that I met every day.

In these few months, the economy is quite challenging. I am focussing in small bits design part, and keeping myself busy with upcoming design commission, and ongoing construction. I really want to go to travel to somewhere beautiful, but Miracle is still  4 months old. If we take the trip, he can’t go with us, doctor recommended that his age needs to be 6 months to be safe on the plane. Anyway,  what’s happening in these months? Saturday and Sunday are days for Miracle and Laurensia, while sometimes the time is for studio and omah . In these 4 months, Ordinary things happening every day, I love ordinary, three things which are : first old friend, second about Future life, and the third Ordinary design check up.

First, Old friend, first client, Charles asked me to do renovation for bare minimalist few months ago, it’s about the renovation, refining the crown for ME and redoing bare concrete finishes. We did some renovation for his project, I did small bit design for him, landscape, steel perforated plate detail to allow air coming to the ME space. Meanwhile, Song Chin, the editor from Malaysia asked bare minimalist to be published in his magazine, a couple of interviews, the magazine will be out next months, looking forward to reading it and get feedback from it.

here is new picture of Bare Minimalist, owned by Charles Wiriawan. With new detail joint of polycarbonate using Alumunium to avoid dust and leaking, the roof top of perforated plate detail.
here is new pictures of Bare Minimalist, owned by Charles Wiriawan. With new detail joint of polycarbonate using Aluminium to avoid dust and leaking, the rooftop of perforated plate detail.
new lighting spot installment to support activity.
new lighting spot installment to support activity.

House of  Frans Wirawan, is going to be published soon in local publication endorsed by Karlina from Laras, she and may my client seems to be happy, I’m happy for him. A publication, for me, is just a moment for reflection in our work, the writer justified all of the facts, and created such a story in appreciating architecture. From that point, several perspective might happened, I hope for critics for my work, as what as discussion with fellow architect friends  from time to time, that the evaluation attitude is needed to improve ourself to be better architect.

Second, Sometimes, some blessings happening in ordinary time because of many people helped us, supported us. We have to keep supporting people around us, such as Albert came to me about creating community village in Belitung, how he was so excited to build the village in Membalong area, South of Belitung. He and his dad Pak Agus, wanted to do good, of course, there will be a business premise, but the spirit is good. what we did in the program is to inject artist to the village, by creating, designing, and combining local and designer. hopefully,  this will make the village come to live. We have done the project, nicely, Albert is going to Singapore to bring in their new concept in joint collaboration with IMABARI, hope his project will be built soon. I can understand some of the commercial projects need gimmick marketing, the challenge is always, make the realization. In order to realize the project, the challenge and pressure will be there, the reaction to it, and the positivism will be very important.

Third, Just 2 weeks ago, We were selected by Indonesian Institute of Architect (IAI)  to do the design of Archery area, Football area, and Hockey area in Gelora Bung Karno. The dateline is strict and short. From what I see in the gap, that Architecture programming will be very important, it shows certain standard, budgeting, the flow of people,goods, executive, degree of privacy. At the end, it is about the responsible to be professional. From this point of view, we did a certain study for programming, before starting the design, and doing several scenario of circulation, mass, and activity. It’s like I am very critical about this in the design group with another architect, I did this in a purpose of being responsible for design decision which I think this will support the team with the correct ground, doing grounded design and functional design. It’s about the basic of the design, nothing more.

ca8fc286-8e04-4b21-b5e1-afd056a23ea2
First Briefing 7.:30 at Gelora Bung Karno Administration Office 
img_5777
Second Meeting with Colleague

 

img_5669
Meeting till 2.30 pm morning with Supie Yolodie, Adi Purnomo, Adjienegara, Boy Bhirawa, Maria Rosantina, Deddy Wahjudi, Nelly Daniel, Danang. 

Things, the moment became the blessing in this challenging time. I am really thankful, and appreciate the kindness of all of the support of the family, wherever you are, please take care. We are moving to the guild soon.

 

Rahayu di antara Awal dan Akhir – Untuk Agus

160315 Medan Jawaban untuk https://www.facebook.com/notes/agus-agm/learning-from-the-httpreal-richorg20151225learning-the-opposite-side-of-soejoedi/10156507986260521

Screen Shot 2016-03-15 at 12.54.19 AM

Dear Agus,

Proses untuk bertemu adalah kehendak yang Kuasa. Setiap jalan yang kita jalani adalah kepemilikan semesta. Oleh karena itu saya akan membalas surat Agus dengan rahayu, melengkapi bukan meniadakan, dengan paradigma yang membangun, kita ada di satu meja yang sama tidak berseberangan, meski adakalanya meja yang berseberangan itu bisa terjadi, dan memang saling meniadakan itu perlu juga untuk meniadakan gangguan- gangguan sehingga kita bisa melihat esensi yang dibicarakan.

Dimanapun kita dengan segala sosok yang telah menjadi, di titik omega, titik akhir yang adalah titik sekarang, dan memperbandingkan dengan titik alpha, titik awal di jaman dahulu. Kita ada di titik yang sama, untuk membangun dunia yang lebih baik, kenangan – kenangan masa lalu masih lekat terasa, dan apa yang ada di saat ini adalah sebuah titik awal untuk kenangan di masa depan. Sebenarnya ini semua untuk melepas rasa kangen akan titik alpha, dengan adanya respek terhadap titik mula, sebenarnya kita melakukan kritik diri sendiri akan kesombongan kita di titik omega, karena apa jadinya titik akhir tanpa titik awalan. Apabila itu terjadi mungkin kita sedang lupa landasan, melayang terlalu tinggi yang sebenarnya kita ada di dalam dunia kita sendiri.

Oleh karena itu semoga diri ini bisa menjadi satu pribadi yang menghargai titik awal, tanpa pernah sombong dengan titik akhir. Karena tanpa titik awal apalah kita ini. Justru inilah yang terjadi dalam dunia arsitektur kita, dimana, jalinan titik awal dan titik akhir seringkali terputus, terputus oleh diskomunikasi, kesombongan, keengganan untuk berbicara dari hati ke hati yang sebenarnya urusannya cukup mudah dipetakan.Yuswadi Saliya sudah memang membahas mengenai trinitas dalam karya manusia di semesta, tangan, spiritual dan pikiran. Kerja tangan dari spiritual akan menghasilkan kecintaan dan kepakaran, segala sesuatu yang muncul dari cinta adalah perasaan kasih untuk bisa berbagi, membangun. Selain itu ada juga perasaan obsesi, nafsu yang kerap memunculkan pesan untuk berseberangan, tidak mau kalah. Rahayu mengajarkan keseimbangan, melengkapi untuk mencapai kesempurnaan.

Menilik Soejoedi, adalah soal rasionalitas keilmuan dan menilik Mangunwijaya adalah soal hati dalam menerapkan keilmuan dalam hidupnya menjadi manusia yang mengabdi semesta. Kerasionalitasan kita akan meletakkan lingkup batas kita pada keilmuan, itu adalah dasar tanpa perlu untuk dilebar – lebarkan. Tataran kelimuan memang membutuhkan batas untuk bisa diukur, dibedah, diiris – iris bagian yang enak dan bagian yang tidak enak, salah dan benarnya supaya bisa ditelan dan didudukkan pada tempatnya. Kerja kelimuan adalah kerja tangan dan pikiran. Kerja spiritualitas itu yang kemudian menjadikan Mangunwijaya menjadi manusia semesta, mendudukkan kita dalam kerja spiritual akan menjadikan kita memberikan kepakaran seutuhnya – seluruhnya, tidak setengah, seper empat sepertiga ataupun seper enam, jiwa kita pun akan masuk kedalam kerja kepakaran dalam rahayu, membangun. Mungkin ini kerangka spiritualitas yang muncul setelah alpha (titik awal) menuju omega (titik akhir).

Oleh karena itu agus, saya akan bertanya, kapan kita bertemu lagi ? untuk menggapai omega yang menjadi alpha kembali.

Salam,

dari pribadi yang gelisah.

Realrich Sjarief

the heart that loves is always young
the heart that loves is always young