Kategori
blog

Mengenal Arsitektur Indonesia

Suatu hari di saya bertemu dengan satu kawan saya, ia senior saya yang berumur beberapa tahun diatas saya. Saya belajar menulis, dan mendesain dari dia. Satu saat ia menelpon saya, nadanya gusar seakan – akan seperti baru kejambret di pasar atau seperti rumahnya baru saja kemalingan.

“Bro lu ada waktu gue mau cerita”

Kemudian berceritalah ia mengenai kejadian – kejadian disekitar dia melihat media dan perasaannya. Ia punya perhatian bahwa etalase arsitektur Indonesia hanya milik segelintir orang tertentu, orang yang dominan, orang yang itu – itu saja. Parahnya media juga menselebrasikan hal tersebut. Ia memberikan contoh mengenai beberapa pameran sebagai referensinya bahwa hanya segelintir orang yang dominan yang dimasukkan terkait dengan hegemoni kekuasaan. Yang menariknya justru narasinya berbicara kebalikannya.

“Namun terlepas dari semua itu, kami hanya berharap ada yang dapat kita semua sama-sama pelajari dari penyelenggaraan pameran “Segar” ini. Jika tidak mengenai teknis penyelenggaraannya, dan jika tidak mengenai karya-karya yang ada di dalamnya, paling tidak kita bisa sama-sama belajar mengenai kekerabatan, kesejawatan dan kehangatan yang terjalin dalam tiga hari penyelenggaraannya.” (lihat link diatas Segelintir Wajah Arsitek Indonesia–Pameran “SEGAR” – )

Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup… Kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, …

Mungkin kawan saya ini berpikir bahwa atas nama Arsitektur Indonesia, kenapa yang ikut hanya seputar arsitek yang itu – itu saja, apa yang digunakan atas nama Indonesia. Perasaannya itu malah berkebalikan dengan narasi pamerannya, kok malah begitu sih.

Saya bertanya ke kawan saya ini untuk memancing dari mana asalnya muncul kekesalan ini.

“Bro bukannya wajar hal ini terjadi, kan sah – sah saja satu orang lebih terkenal dari orang lain, kalau memang lu mempermasalahkan ketenaran ?”
.
Ia menjawab, “Bro ini bukan urusan cari duit atau rejeki aja atau urusan cari pamor aja, atau urusan keberuntungan segelintir orang saja. Ini urusan kebanggaan kita bersama. Lu setuju ngga kalau ini urusan Arsitektur Indonesia urusan kita bersama ?” Urusan duit ini dibahas di dalam tulisan Madeg Pandhito.

Di dalam hati saya berkata ke diri saya sendiri, orang ini boleh juga, setidaknya ada dedikasi dirinya untuk orang lain, tulus juga. Lalu saya bertanya ke dia

“lalu lu maunya apa, gimana caranya ?” Saya suka kalau dia sudah menggebu – gebu seperti ini.
.
“Begini bro sejak jaman dulu Indonesia terkenal dengan politik Identitas bro, ini yang perlu kita kritisi.”

“Gue punya caranya bro yang sederhana tapi mengena”
.
“Apa bro ?”
.
“Pertama semua harus tahu bahwa arsitektur itu ngga cuma soal arsitektur bro, ilmu ini punya hubungan dengan disiplin yang lain, ngga autis, ada lingkungan, ada sosial budaya, ada ekonomi, ada juga isu ideologi. Lalu ada beberapa tahapan untuk memajukan isu ini lebih dalam dan luas, kita bisa mengambil contoh di CIAM atau, di Jepang dengan gerakan Metabolist.”

Lalu ? Saya bertanya lagi penasaran dengan isi otaknya. Saya bertanya lagi dengan beberapa lalu, dan akhirnya ia menimpali.
.
“Ya dengan mengerti hal tersebut arsitektur bukan cuma milik kalangan tertentu bro, arsitektur Indonesia itu punya semua orang. Dan kita perlu punya platform yang memiliki nilai itu. Lu tau kan senior gue itu sukanya main politik identitas?”

lha ? lalu saya bilang, lah ujungnya ini tentang personal dong, hubungan elu sama senior lu bro, mana ada urusan sama Arsitektur Indonesia ?
.
ngga usah ngurusin orang lain lah bro kita urusin diri kita sendiri aja lu tau nanti lu juga punya murid,
.
dan ada pepatah bilang kan bro

“Murid jatuh tidak jauh dari gurunya ?”
.
Kawan saya ini menjawab “Asem lu,
setidaknya gue kan mau merubah keadaan bro.”
.
Kemudian saya pun menyambung “Nah karena itu gue bersyukur lu jadi temen gue bro”

Ini adalah diskusi – diskusi sederhana mengenai politik identitas. Saya percaya bahwa hal – hal yang besar dirajut dari semangat – semangat kecil untuk menembus empati yang lebih dari sekedar mencari identitas, yaitu semangat persaudaraan. Dan perasaan bahwa diri saya atau kita bukan siapa – siapa. Apresiasi kita bisa lantunkan ke kawan saya satu ini yang sungguh gelisah akan sebuah perubahan. Perubahan itu perlu ditetapkan dulu di hati. Lalu baru kita cari jalan tengahnya.

Mari yuk..

lalu di Whatsapp grupnya, muncullah satu poster tentang pameran di Rio dan teman saya bergumam, “jancuk”.

dan saya pun membalas, “yess, jadi ada bahasan lagi, jadi saya tunggu responmu kawan. ” cerita ini akan bersambung dan akan ada skenario – skenario lanjutan mengenai Arsitektur Indonesia.

Catatan :

1. Pameran Segar dibahas di https://sugarandcream.co/segelintir-wajah-arsitek-indonesia-pameran-segar/

2. Identitas dibahas oleh Professor Kemas Ridwan Kurniawan di dalam https://www.researchgate.net/publication/322660754_DINAMIKA_ARSITEKTUR_INDONESIA_DAN_REPRESENTASI_’POLITIK_IDENTITAS’_PASCA_REFORMASI

Kategori
lecture

100 + Techno Build | INTERNATIONAL FORUM AND EXHIBITION Ekaterinburg , Russia, 6-8 October 2020

Thank you for the Organizing Committee of the VII International Construction Forum and Expo 100+ TechnoBuild 2020 for the invitation. I will present two topics about Craftmanship – the possibility to shape it to more critical identity and Methodology Grammar. The 100 + expo is a major Russian engineering and construction congress combining conference and exhibition of cutting-edge achievements in the industry that will take place in the city of Ekaterinburg on October 6–8, 2020

see more here :https://forum-100.com/about-forum/

Here is the more detail explanations of the topics,

First one: Redefining High Level of Craftmanship in Local and Global Identity

The issue of Architecture in Indonesia is still a political one. As a country with a history of colonization, the dichotomy of the past and the future is not only about the intervention of technology into the practice of craftsmanship, but also about making sense of our local identities in representing the nation as a whole. With a lot of different faces of local identities, we are still struggling in defining a collective identity in Architecture.
In response to this, the speaker will speak about case study in Realrich Architecture Workshop in the need to be aware of the various issue surrounding their work, which stems from a deeper level of understanding towards crafts and material cultures, and to be able to create a work that is relevant to those issues. Architects also need to be able to work collaboratively with other disciplines towards a solution. This critical approach in practice is what is called a high level of Architecture Craftsmanship. It means to go beyond just one generic architectural layer to the indigenous approach of design solutions.

Methodology Grammar for Sustainable Design, A Reflection on Radical Practice.
  The practice of architecture is never separated from the study of methods. In each project, the design process includes numerous iterations from conceptual until the construction phase, in order to create a methodology to be devised in the future for better design performance. This does not always mean using better technology, but starting from the most simple method of obtaining available data and information available on site. From the various study, research, and design permutations, the most optimal design responding to the brief, site, programming, local environment, and material. The speaker proposed a grammar of methodology to create an optimum method of design which can contextualize design to be adaptable to specific design context. The Methodology is about phasing from conceptual to Implementation of the design, as well as details on site, also become important aspects. The study of the combination of local materials and tectonics with design technology is done in order to create better roots in design which forms radical practice.

see it other speaker, there is Tezuka as well :) : https://forum-100.com/speakers/

Kategori
research

Pandemi dan Pengaruhnya ke Arsitektur

Sepanjang sejarah, perkembangan peradaban dan persebaran manusia diiringi dengan perkembangan penyakit menular mematikan—yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur maupun parasit. Arus globalisasi dan urbanisasi yang menyebabkan perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan, juga pertumbuhan populasi menyebabkan imbas lingkungan yang juga tinggi. Ditambah dengan perjalanan antar wilayah melalui udara yang makin sering, penyebaran penyakit menular menjadi semakin cepat. Beberapa dari kasus-kasus ini memakan korban jiwa yang jumlahnya signifikan dibandingkan dengan total populasi, sehingga disebut pandemik. Hal ini tak jarang mempengaruhi jalannya sejarah, yang mengakibatkan perkembangan ilmu kesehatan (epidemiologi) dan sanitasi, termasuk juga teknologi bangunan dan perkotaan.

Omah Library akan membahas linimasa pandemik yang pernah terjadi di dunia dan implikasi arsitekturalnya, yang dapat dilihat dari perkembangan sejarah ruang mandi dan inovasi toilet, hingga ke desain institusi kesehatan, ruang publik, bahkan pemukiman. Karena penanganan krisis yang disebabkan pandemik sepanjang sejarah bergantung dari sentralisasi oleh negara atau institusi, sering kali tercipta diktum-diktum arsitektural — prinsip yang dilahirkan tanpa adanya atau diperlukannya pembuktian. Diktum-diktum ini menjadi penting untuk ditelusuri kembali melalui penjabaran case study. Diktum sendiri adalah sebuah deklarasi yang bersifat otoriter (atau dari figur yang dapat dipercaya/resmi) tentang sebuah prinsip, proposisi, atau opini.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Inovasi Toilet

Pada kondisi pandemi seperti sekarang, masyarakat dihimbau untuk menerapkan hidup sehat, diantaranya dengan rajin mencuci tangan dan mandi dengan sabun. Mayoritas masyarakat modern memang rutin mandi sebagai pembersih diri namun belum menyadari bahwa mandi sangat erat kaitannya dengan ritual peradaban terdahulu yang mensakralkan elemen kehidupan – air. Diawali tahun 3.000 SM, air digunakan sebagai media pemurnian diri sebelum memasuki tempat suci, mandi menjadi simbol manusia memantaskan diri untuk bertemu Tuhan/Dewa, bertobat, bahkan memulai fase kehidupan baru. Selanjutnya pada tahun 2.800 SM, dimana manusia mulai membawa air kedalam hunian, peradaban bangsa Indus melahirkan prototipe sistem sanitasi perkotaan dengan jalur got terakota. Air bersih dimasukkan kedalam kamar mandi, diolah dan dikondisikan sebagai penghargaan atas peranannya meningkatkan kualitas hidup manusia. Lalu disusul kemunculan bathtub dan flush toilet pertama dengan sistem transportasi air pipa berbentuk kerucut pada tahun 1.700 SM oleh bangsa Minoa di Crete, Yunani.

Keyakinan peradaban kuno akan makna spiritual air memicu transformasi perilaku hidup sehat. Mandi sebagai simbol kemurnian, dan keabadian jiwa, pemberi kesembuhan, dan menjaga kebersihan sebagai kualitas spiritual, tercermin pada perkembangan kamar mandi di tiap peradaban dalam mengolah material lokal, inovasi desain dan teknologi bangunan, serta manajemen sanitasi perkotaan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup yang lebih sehat.

Belajar dari sejarah, masyarakat modern perlu memahami bahwa hidup sehat dimulai dari bagaimana kita menjaga kebersihan air dan sanitasi di rumah. Dengan begitu kita bisa melawan dan menangkal virus/bakteri sumber penyakit, memulai fase hidup baru yang lebih sehat.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, peradaban kuno percaya bahwa wabah penyakit adalah hukuman dari Tuhan, karma dari roh pemusnah. Persepsi tersebut seringkali justru memperburuk penyebaran dan angka kematian, atau menunjuk kambing hitam penyebab krisis. Setelah diketahui bahwa geografi dan perdagangan mempunyai peranan penting dalam penyebaran virus, karantina pun dilakukan. Selain itu, penelitian oleh John Snow menyatakan bahwa wabah kolera tersebar melalui air yang tercemar karena didapati kasus hanya terjadi dari pompa-pompa tertentu. Dari sini kita bisa belajar dari sejarah, (1) ketika pandemik terjadi, cara memutus penyebarannya adalah dengan karantina dan (2) kesehatan diraih dengan menjaga kebersiihan sanitasi khususnya di rumah masing-masing.

Omah Library melakukan penelusuran sejarah perkembangan sanitasi dunia dan menemukan bahwa peradaban terdahulu juga memegang pedoman hidup bersih dan sehat. Air yang diyakini sebagai pemurni jiwa dan raga menjadi tonggak perkembangan ruang mandi dan hal tersebut mempengaruhi jalannya sejarah dan memicu perkembangan ilmu kesehatan dan sanitasi yang memberi peluang munculnya teknologi bangunan dalam konteks kamar mandi dan sistem sanitasi pada ilmu arsitektur.

Kali ini OMAH Library menyuguhkan 3 kasus studi yang menunjukkan kebermanfaatan atas perkembangan teknologi bangunan ruang mandi peradaban terdahalu. Bagaimana ritual pemandian mereka juga memberikan manfaat kepada masyarakat luas mampu menjadi bahan refleksi, apa yang bisa kita lakukan sekarang dan masa datang untuk mengurangi dan mengantisipasi dampak pandemi? Akankah kondisi pandemic akan memicu inovasi kamar mandi dan sanitasi dalam konteks teknologi bangunan pada arsitektur keberlanjutan? Atau kita cukup merubah cara pandang untuk memulai kebiasaan hidup bersih dan sehat

Communal Bath House | Sejarah Pemandian Umum

Perjalanan sejarah communal bath House mulai dari dibukanya pemandian untuk umum hingga transformasi ruang mandi yang dipengaruhi oleh tuntutan untuk menerapkan pola hidup sehat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi mandi bersama telah terjadi sejak peradaban Yunani dan berlanjut ke Romawi yang mulai melestarikan tradisi mandi bersama dengan membuat pemandian umum. Tetapi, tidak lama setelah Romawi membuka pemandian umum, banyak terjadi skandal hingga akhirnya pihak berwenang memutuskan untuk memisahkan ruang mandi menurut jenis kelamin. Dari kebijakan tersebut orang kaya mulai memilih untuk membuat kamar mandi pribadi yang dapat digunakan bersama oleh seluruh anggota keluarga dan tamu. Namun, pemandian umum masih populer dengan adanya layanan pijat dari para ahli. Perkembangan kamar mandi umum mulai meluas hingga ke Komunitas Yahudi, Muslim dan Kristen. Mereka mulai membuat pemandian umum hingga akhirnya masing-masing komunitas memiliki pemandian sendiri yang memodifikasi model pemandian Romawi. Salah satunya tradisi pemandian komunitas Muslim yang disebut dengan Hammam. Begitupun dengan Temazcal yang juga meluas menjadi budaya hingga menjadi fitur utama mayoritas kota-kota di Mesoamerika.

Melihat perkembangan tersebut, Romawi mulai membangun spa dimana inisiasi tersebut disertai dengan promosi pola hidup bersih. Hal ini disebabkan karena selama abad pertengahan, mandi seluruh tubuh adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh kalangan atas. Sehingga secara bertahap kelas atas mulai mempromosikan perlunya kebersihan untuk kalangan kelas bawah. Namun selama abad ke-16, 17 dan 18, konsep pemandian umum dari Yunani dan Romawi mulai menghilang di Eropa karena kebersihan mulai tergantikan dengan wc portabel.

Jika melihat kondisi saat ini, dimana kita dituntut menerapkan pola hidup yang lebih bersih untuk menghindari penyebaran virus. Akankah arsitektur kembali mengeluarkan inovasi yang mengubah teknologi sanitasi dan air bersih untuk menanggapi pandemik kali ini?

Communal Bath House | Sejarah Permandian Umum

Jika berbicara tentang sejarah permandian, kita perlu melihat peradaban kuno yang telah melakukan upacara pemurnian dan ritual dengan air. Salah satunya adalah The Bath of Caracalla yang merupakan contoh permandian komunal yang telah menjadi tradisi penting bagi peradaban Romawi. Kemegahan bangunannya menunjukkan bahwa pada masa kejayaan Romawi, tradisi ini sangat dihormati. Bahkan The Bath of Caracalla diperkirakan mampu melayani hingga 8000 orang mandi setiap harinya. Hal ini membuktikan besarnya dedikasi kekaisaran Romawi terhadap permandian untuk menerapkan pola hidup sehat.

Begitupun juga dengan Temazcal yang merupakan tradisi permandian uap bersifat komunal di Mesoamerika. Ukuranya yang cukup besar untuk menampung setengah populasi kampung menunjukkan bahwa Temazcal memang didedikasikan sebagai ruang bersosial. Bagi masyarakat suku Maya kuno, Temazcal merupakan ritual yang memiliki tujuan kesehatan. Berbeda dengan permandian Romawi, Temascal tidak memiliki larangan secara formal tentang tidak diperpbolehkanya laki-laki dan perempuan mandi bersama dalam satu ruangan. Hal ini sempat mendapat pertentangan dari penjajah Spanyol karena dianggap tempat yang berdosa. Namun dengan kegigihan masyarakat Mesoamerika, tradisi Temazcal masih terjaga hingga saat ini.

Onsen dan Sento Jepang merupakan pemandian yang pada awalnya memiliki akses yang terbatas secara ekonomi dan sosial. Permandian ini pada awalnya bersifat religius. Namun, ketika memasuki abad ke-15, pemandian ini telah menjadi kultur penting bagi masyarakat Jepang hingga mayoritas orang Jepang dapat mengaksesnya.

Dari ketiga case study tentang sejarah perkembangan permandian komunal dapat disimpulkan bahwa konsepnya selalu mengarah kepada pola hidup yang lebih sehat dengan cara menjaga kebersihan. Tentu pandemik kali ini cepat atau lambat akan menjadi pemicu munculnya inovasi perubahan teknologi sanitasi hingga air bersih. Karena memang benar bahwa mulai saat ini kita telah dituntut untuk menjaga kebersihan demi mengurangi penyebaran virus.

Dari Publik ke Privat | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Setiap periode sejarah menyuguhkan berbagai cerita tentang sanitasi dan kebersihan. Pada abad ke 18 M, berbagai negara di Eropa mulai berlomba menciptakan teknologi toilet dan sistem sanitasi terbaik, seperti Inggris yang bangga akan WC/water closet-nya (istilah untuk ruang berisi toilet yang muncul sekitar tahun 1870), Skotlandia dengan bucket-nya (toilet dengan penampung limbah berupa ember), Perancis dengan latrine (istilah untuk jamban yang muncul di Inggris pada pertengahan abad 17), dan Belanda yang masih menggunakan danau alami sebagai toilet. Namun masalah yang timbul selanjutnya adalah bau tidak sedap. Dari titik ini, kita akan melihat bagaimana teknologi hadir untuk meningkatkan kualitas kebersihan dan kesehatan manusia yang juga menyetir perkembangan dikotomi kamar mandi dari ‘publik/privat’ menuju ‘kaya/miskin’. Namun sisi baiknya, teknologi sanitasi dan layout kamar mandi jadi berkembang dan seiring waktu, tiap hunian dapat merasakan kualitas sanitasi yang baik, meningkatkan kebersihan publik dan kesehatan masyarakat.

Masalah yang muncul dalam dunia sanitasi bukan tentang penemuan hal yang benar-benar baru, melainkan upaya penyelesaian dari masalah yang berkelanjutan. Perkembangan ilmu kesehatan juga menjadi katalis perkembangan industri sanitasi. Tidak hanya produk dalam interior kamar mandi saja yang dipikirkan, infrastruktur saluran air juga berperan penting untuk kesehatan dan sanitasi masyarakat. Ketika pondasi flush toilet telah ditemukan oleh Alexander Cummings dan Thomas Twyford hingga memasuki era industrialisasi, yang gencar dikembangkan selanjutnya adalah menemukan teknologi material khususnya produk pipa guna menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.

Perkembangan Toilet dan Kamar Mandi Privat

Perkembangan toilet dan kamar mandi privat erat kaitannya dengan syarat akan kebutuhan kesehatan masyarakat. Rumah -rumah “Victorian” yang sebelumnya tidak membutuhkan kamar mandi khusus karena memang pada saat itu orang Inggris hanya memiliki 1 toilet yang digunakan hingga 100 orang. Oleh sebab itu limbah banyak yang tumpah ke jalan hingga ke sungai yang mengakibatkan puluhan orang meninggal karena penyakit yang ditularkan melalui air, terutama selama wabah kolera tahun 1830-an dan 1850-an. Hingga akhirnya keluar peraturan tentang penyediaan ruang khusus untuk water closet pada tahun 1859 yang menegaskan bahwa bahwa setiap rumah baru wajib memiliki water closet/WC. Sehingga Ilmu dan teknologi yang berkembang pada masanya mampu memfasilitasi hidup bersih dan sehat melalui peraturan yang menjadi standar yang sebelumnya dipicu oleh wabah penyakit kolera.
.
Selain itu, Perang Dunia juga secara tidak langsung berperan dalam pendistribusian teknologi toilet dan perkembangan kamar mandi ke penjuru dunia. Hal ini diesebabkan karena toilet yang dikembangkan oleh Thomas Crapper pada akhir abad ke-19 telah dibawa pulang oleh tentara Amerika yang ditempatkan di luar negeri selama perang dunia 1. Namun sebenarnya teknologi toilet flush sudah digunakan oleh Amerika jauh sebelum terjadinya perang dunia. Namun teknologi itu hanya bisa ditemukan pada rumah-rumah orang kaya dan hotel mewah di Amerika yang dibuktikan oleh adanya 8 flush toilet di Tremont Hotel, Boston yang kemudian berdampak sampai ke perumahan. Pada akhirnya di akhir abad ke-19, gagasan memiliki kamar mandi lengkap dengan wastafel dan fasilitas mandi (bathtub/shower) menjadi populer. Kemudian pada awal abad ke-20, dan kamar mandi menjadi kebutuhan standar di rumah-rumah yang baru dibangun.

Pertanyaan reflektif untuk peradaban kini adalah, apa yang bisa kita lakukan dalam bidang arsitektur sebagai tanggapan pandemi pada tahun 2020 ini?

Diktum Dalam Desain : Pengaruh Ilmu Epidemologi Terhadap Desain

Walaupun perkembangan pipa dan toilet dengan flush yang sudah lama ditemukan, kamar mandi dalam rumah baru menjadi umum di akhir abad ke-19, setelah saluran dan sistem drainase kota yang memadai mulai ada. Perkembangan kamar mandi pun cukup memakan waktu, di awal abad ke-20, hanya ada 1 kamar mandi kecil untuk rumah dengan 4 kamar tidur sekalipun. Desainnya pun masih mengutamakan efisiensi dan privasi.

Baru di tahun 1960-an, dengan meningkatnya kemakmuran pasca-perang dan kultur pop, perkembangan beragam desain perabot kamar mandi mulai ada. Seperti bathtub, karpet berbulu, wallpaper tahan air, hingga jacuzzi yang menjadikan kamar mandi sebagai ajang pertunjukkan kemewahan.
.
Sebelum itu, gaya hidup modern merupakan perkembangan dari kepedulian kepada kesehatan. Salah satunya untuk penanggulangan kasus kolera dan pandemi tuberkulosis yang saat itu membunuh 1 dari 7 orang di AS dan Eropa, yang diperburuk akibat kepadatan di perkotaan pada awal Revolusi Industri.

Arsitektur modern yang identik dengan bangunan warna putih muncul di awal 1900-an, melambangkan kebersihan dan juga simbol antitesis dari kegelapan kota-kota industri. Jendela diperbesar dan jarak antar bangunan diperlebar, untuk menciptakan ruang dengan udara dan sinar matahari yang cukup. Layout perimeter blok dan tipologi courtyard kembali diimplementasikan di perkotaan. Gerakan pendorong perubahan seperti Garden City di Inggris atau Life Reform di Jerman, dan The Ottawa Charter oleh WHO mulai digagas walaupun belum berhasil membawa perubahan yang konkret.

Namun perlu disadari diktum dengan elemen-elemen arsitektural yang ‘menyembuhkan’ ini merupakan reaksi dari zamannya yang kemudian dipatahkan validasi ilmiahnya setelah ditemukan pengobatan medis pada tahun 1950-an. Diktum mulai memiliki sifat dogmatis ketika konteksnya mulai sirna, namun banyak menghasilkan prinsip yang patut dipelajari.

Diktum Arsitektural dan Bangunan “Sehat”

Pernanggulangan pandemi beriringan dengan gaya artistik yang baru melahirkan diktum-diktum arsitektur Modern di abad ke-20, yang menjadi penanda era tersebut. Pengulangan diktum sepertu elemen jendela, balkon, kursi sandar didesain berdasarkan studi antopometri dan penggunaannya. .
Ekspresi progresif ini dapat dilihat di desain Lovell Health House, di mana Neutra mengakomodir semua saran kliennya, seorang dokter yang menulis artikel mengenai hubungan antara ruang domestik dan kesehatan fisik. Desain atap datar dan balkon menjadi umum sebagai tempat berjemur. Desain Paimio Sanatorium merupakan kulminasi pencapaian arsitektur medis dengan prinsip modern ini, yang detilnya bisa terlihat di skala lengkungan lantai ke dinding sekalipun. Geometri dan garis lurus juga menjadi hal yang penting, agar ruang-ruang mudah dibersihkan. Hal inilah yang coba kembali dicetuskan oleh Maggie’s Centres sebagai standar yang harus dimiliki seluruh fasilitas kesehatan. 17 wisma yang dirancang oleh arsitek-arsitek besar diharapkan dapat menjadi contoh yang dipelajari dan ditiru.

Perubahan yang dibawa oleh ilmu sains, terutap epidemiologi ini juga mempengaruhi cara kita berkumpul, membangun pemukiman, bahkan melakukan transaksi. Rantai panjang globalisasi akan terancam digantikan dengan pertukaran barang yang terlokalisasi. Hal ini juga akan menyadarkan bahwa pemukiman, kota, desa, bahkan negara bukanlah entitas-entitas yang bersifat sentral, melainkan merupakan bagian dari sebuah sistem raksasa yang saling terhubungkan. Dalam skala rumah, akan tercipta ruang-ruang pribadi yang memenuhi kebutuhan secara fisik dan psikologis, serta keseimbangan biogenik.

Di masa yang didominasi oleh isolasi, kita diajak untuk berefleksi. Salah satunya dengan melihat kembali apa yang dilakukan para arsitek dalam menghadapi pandemi pada jamannya. Walaupun tidak ada korelasi langsung secara medis, kejadian sebesar pandemi membangkitkan sisi humanis arsitek seperti Aalto untuk menciptakan bangunan yang empatik terhadap penghuninya. Lalu, reaksi seperti apa yang akan diambil arsitek dalam menghadapi pandemik saat ini?

Reaksi Arsitektur Terhadap Pandemi : Studi dari Pandemi yang Pernah Terjadi

Reaksi Arsitektur terhadap pandemik mungkin tidak terjadi secara langsung namun kejadiannya merupakan antiseden yang pasti. Pandemik berhubungan langsung dengan ilmu kesehatan yang ruang lingkupnya global namun dibutuhkan sistem penanganan regional yang lebih detail, menyesuaikan dengan kondisi lokal tiap daerah. Perjalanan reaksi arsitektur terhadap pandemik dimulai dari ruang lingkup publik dan sistem makro, berupa regulasi oleh pemerintah.
.
Regulasi yang lahir atas pertimbangan saran berbagai ahli khususnya bidang kesehatan, merupakan upaya pembentukan behavior/perilaku masyarakat sebagai antisipasi dan mengurangi dampak penyebaran pandemik. Munculnya perilaku baru akan berdampak pada sektor lain yang meliputi ekonomi dan sosio-politik yang akan berimbas pada Urban Design, pada titik ini lah arsitektur akan bereaksi, bahkan hingga detail produk kecil seperti gagang pintu sekalipun.

OMAH Library menelusuri rekam jejak pandemik terdahulu:
.
Kolera, Tifus, Demam Kuning (abad ke-19), Pes/Third Plague (1855-1959), Influenza (1918, 1957, 1968), dan Tuberkulosis (1820-sekarang)
.
Dari ketiganya, muncul reaksi arsitektur secara komprehensif yang meliputi
.
1.infrastruktur kota,
2. teknologi bahan bangunan,
3. layout dan bentuk inovatif pada interior, bahkan memunculkan tipologi bangunan baru.


Pada akhirnya seluruh produk tersebut memiliki konsep dan detail yang berakar pada prinsip kesehatan manusia dan lingkungan. Kesehatan tidak melulu tentang fisik tapi juga psikis yg bisa diwujudkan melalui arsitektur. Melihat kejadian pandemik terdahulu, Biogenic Architecture & Psychological Health dinilai menjadi kunci penting untuk menyetir reaksi arsitektur terhadap pandemik covid-19 kali ini. Ditambah lagi perlunya pembatasan jarak antar manusia di pandemi ini, sistem desentralisasi perlu dikuatkan dan hubungan ketetanggaan butuh dirajut menuju solidaritas bersama.

.

Pada akhirnya, manusia butuh menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.

Teori Praktis Pola Reaksi dari Pandemi

Kemunculan pandemik akan membentuk behavior/perilaku baru sebagai upaya memutus rantai penyebaran dan dampak buruk lainnya. Arsitektur hadir untuk menanggapi dan mencoba mempercepat sekaligus menstabilkan keadaan. Arsitektur sebagai science dan art memiliki peluang untuk maju menghadirkan solusi berupa inovasi desain berbasis ilmu kesehatan dan seni terapan yang mampu meningkatkan kestabilan psikis dan memberi pengalaman ruang spiritual. OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik.
.
Berikut teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik :
.
1.Pandemik: fenomena penyebaran penyakit berskala global, bisa disebabkan oleh virus dan bakteri.
.
2.Behavior: analisa perilaku sebagai konteks perubahan budaya baru.
.
3.Function: pembaharuan kebutuhan ruang/fasilitas berdasarkan pola perilaku user dan standar kesehatan. Kriteria fungsi didasarkan oleh permintaan (behavior). Function sendiri terbagi menjadi 5 kategori utama, yaitu: kantor, rumah tinggal, rumah sakit, fasilitas entertainment, dan kota.
.
4.Creative Thinking: eksplorasi olah bentuk yang tidak lepas dari standar ergonomic.
.
5.Artistic/beauty: elemen keindahan diciptakan ketika standar kebutuhan mendasar telah masiv dipenuhi. .
Creative thinking + beauty adalah solusi yang diberikan oleh arsitek/desainer sebagai tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental melalui ruang binaannya. Mereka berperan merajut standar bentuk dan ergonomi dengan seni dan estetika. .
Memang jejak sejarah menunjukkan tetap akan ada pandemik baru di kemudian hari namun bukan berarti kita pasif dan menerima apa adanya. Arsitek dan desainer justru mampu terlibat dalam keberlanjutan kesehatan masyarakat, menciptakan lingkungan buatan yang bersih, sehat, dan humanis. Dengan mengacu pada pola tersebut, arsitektur mampu bereaksi untuk menciptakan inovasi yang holistik, selalu meningkatkan taraf hidup manusia dan alam pada tiap peradaban dengan mewujudkan self sustain community.

Solusi Bentuk dan Ergonomi dalam Desain

Sebuah desain selalu berawal dari konteks dan berupa solusi yang ditawarkan sesuai dengan tuntutan konteksnya. Pandemi yang selalu membawa perubahan gaya hidup manusia menjadi salah satu pendorong pergerakan dan evolusi desain atau zeitgeist pada masanya. Dengan menggabungkan creative thinking dari segi bentuk dan ergonomi dengan aesthetics/beauty, tercipta desain berupa arsitektur, interior, dan desain produk. Masing-masing tipe desain tersebut memiliki kualitas berbeda yang mempengaruhi pengalaman spasial yang diharapkan berkontribusi dalam pemenuhan kesehatan fisik juga prikologis penggunanya.
.
OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik. Creative thinking yang dilakukan arsitek dan desainer terdahulu dilakukan dengan menganalisa dengan lebih detil elemen-elemen pada bangunan Lovell’s Health House dan Sanatorium Paimio dalam menyikapi tingginya kasus Tuberkulosis pada abad ke-20. Perumusan desain-desain ini bertepatan dengan berkembangnya desan Modern, yang juga merupakan pengharapan dari permulaan gaya hidup baru bagi masyarakat.


Dalam menghadapi pandemi COVID-19 kali ini, OMAH Library mencoba mengajak para desainer muda untuk tidak pasif, melainkan mencoba memproyeksikan perkembangan desain yang mungkin terjadi dengan mempertimbangkan teknologi dan situasi sosial yang terjadi saat ini. Pada akhirnya, ini merupakan sebuah ajakan untuk berefleksi dan ebagai manusia sosial selalu mencoba membuat lingkungan hidup kita menjadi lebih baik —menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.


Credit to the Omah Library’s Research Team

The Research Study is in Alvar Aalto’s Book

Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :

  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa
  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
  2. Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
  3. Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.

Principal : Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Dimas Dwi Mukti P

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
 
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
 
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.

Satria A. Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Kategori
lecture

“Peran Konsep Dalam Perancangan” – Universitas Gunadarma (UG-TV)

Terima kasih kepada Pak Agus Dharma Tohjiwa dan Universitas Gunadarma untk mengundang di acara “proses perancangan arsitektur” tanggal 30/7/20. Ternyata Pak Agus Dharma adalah rekan kerja dari Bu Jolanda Atmadjaja, ternyata dunia kecil ya.

Acara ini diselenggarakan dengan tujuan memberi pengayaan materi kepada mahasiswa Prodi Arsitektur dalam rangka mengikuti proses sertifikasi Standar Kompentensi di bidang Arsitektur berbasis SKKNI no 164 thn 2016. Acara tersebut akan disiarkan secara langsung di UG-TV Universitas Gunadarma. Hal ini sejalan dengan program Kemendikbud yang baru yaitu Kampus Merdeka, untuk menyiapkan peserta didik (mahasiswa) agar menjadi lulusan yang berkompeten dan memiliki keahlian yang diperlukan dalam dunia kerja.

Kategori
blog

Proses Percaya

Proses untuk percaya membutuhkan proses yang tidak sebentar, dari situ pun juga terjadi di dalam studio kami, bagaimana berinteraksi dengan dialog dengan tukang.

“Pak setelah ini kita kerja apa ?”, pak Amud bertanya ke saya ketika satu saat saya berkunjung ke Alfa Omega untuk finalisasi pengecekkan kualitas pekerjaan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan beberapa proyek yang menggunakan material bambu. Hanya saja terkendala beberapa hal, yang pertama : tipe klien yang saya prediksi tidak akan cocok menggunakan material bambu karena ketidaksiapan R +D yang dilakukan di studio, kedua : proyek tersebut hanya mengharapkan bambu sebagai material murah. Saya pun menjawab “Ada pak nanti saya kabari ya.”

Di dalam pikiran saya, saya tidak memiliki kesempatan apapun untuk tukang – tukang ini bekerja. Tetapi masakah relasi yang sudah dimulai di pembangunan sekolah Alfa Omega tidak bisa berlanjut. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau kita persiapkan infrastruktur untuk studio, dimana tim pengrajin bambu ini bisa mendapatkan pekerjaan dan studio bisa mendapatkan manfaat.

Kebetulan kami memiliki sebidang lahan kosong di samping the guild yang selesai di tahun 2016 (lihat proyek The Guild).

The Guild : Realrich Architecture Workshop is like a Roseto that believe on the workshop between the craftsmen and designer for having the best solution in the design

Dari situ saya merencanakan sebuah kerangka kerja untuk studio 10 tahun ke depan, yang relevan ke dalam apa yang kami akan hadapi di keluarga juga proyek terhadap tim ke depannya. Intinya, bahwa untuk dalam jangka waktu 6 bulan, infrastruktur studio perlu siap untuk mengorganisasikan tim menjawab beberapa tantangan ke depan seperti desain, manajemen, struktur, dan desain mekanikal elektrikal dan pemipaan. Untuk itu kita perlu studio yang baik dimana satu sama lain bisa berkomunikasi antar tingkat, memiliki fleksibilitas untuk bisa berubah – ubah, dan tidak mengganggu tetangga dengan apa yang saya rencanakan.

Pada waktu tim bambu ini pindah dari Alfa Omega, barulah saya mengetahui secara detil bagaimana tim ini bekerja. Tim ini bangun pagi di saat subuh untuk berdoa, kemudian mereka menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri, mengasah pisau. Selepas selesai bekerja mereka menghabiskan waktu untuk membuat lampu – lampu, saya merencanakan pada waktu itu untuk mendesain sebuah lampu bambu yang saya beri nama Amud. Selepas jam studio, baru biasanya saya berkesempatan untuk berkunjung ke lokasi proyek ditemani pak Amud.

Ada 3 struktur tukang yang ada di proyek ini , sama seperti proyek Alfa Omega : 1. Kepala Tukang, 2. Tukang, 3. Asisten. Asisten biasanya terdiri dari orang – orang yang masih keluarga atau teman dekat dari tukang yang lebih muda. Desain dari Guha Bambu tidak menggunakan gambar yang semestinya. Desain dibuat dari kesepakatan – kesepakatan yang menggunakan bahasa tubuh, bahasa verbal, dan peragaan langsung. Yang digambar secara langsung hanya grid berjarak 3m dan 3.6 buang sisi barat dan timur

Anatomi dari Guha Bambu : Construction of Guha is elaborated into 9 materials, to sum up, craftmanship experimentation in Realrich Architecture Workshop such as steel, wood, glass, metal, gypsum, bamboo, plastic, stone, and concrete. The layout is flexible, and open while some of the rooms are opened by a minimum of 2 doors allowing further scenarios while the program can be changed. The idea is basically addressing the tropical climate to open north-south and close the facade on the west side. 

Disinilah evolusi dari rumah bambu tersebut, seakan -akan tradisi itu terimplantkan di dalam tubuh The Guild, ia berusaha masuk seperti Rhizoma, namun masih ada di perimeter. Ia berusaha membayangi, langkah – langkah prosedural yang taktis, dan statik di The Guild. Di dalam bangunan Guha setiap harinya adalah ketidak pastian. Saya bisa mengira – ngira seperti apa, seperti membentuk sesuatu yang primitif berdasarkan kepercayaan. Saya harus percaya ke pak Amud juga timnya.

Desain sendiri berada di bawah atap existing yang terbuat dari plastik transparan. Dimana ini adalah bangunan sementara tempat untuk merakit besi yang ditujukan untuk satu proyek di Permata Buana dan di Meruya. Oleh karena itu logika dari bangunan ni adalah logika peneduh. Buat dulu peneduhnya baru selesaikan bawahnya. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan atap bangunan, baru pondasi di buat belakangan, dan sebagainya.

Ada beberapa elemen yang dipertahankan seperti daerah kamar mandi, pipa pembuangan, termasuk hasil – hasil sisa tanah dari The Guild. Hal ini termasuk juga menggunakan hasil – hasil bongkaran perancah untuk dijadikan struktur bangunan baru. Berbeda dengan bangunan Hall Alfa Omega yang menggunakan maket sebagai gambar kerja, asisten saya saja bingung ini gimana bikin maketnya, Adik saya Mondrich juga bingung, “ini gimana bikin denahnya ko.”

Yang menarik adalah proses membuat tangga, saya iseng bicara ke pak Amud. Pak tau buntut Merak, kan itu anggun sekali, lambang cinta. Kita buat seperti itu ya, juga bentuknya mirip daun, sambil saya memperagakan dengan bambu – bambu bekas dan coretan garis yang ada di triplek. Besoknya jadilah bentuk bambu yang intutif.

Yang menarik adalah studio kami baru mendapatkan suplier lem konstruksi dimana lem tersebut bisa menyatukan kedua material yang berbeda menjadi satu. Kami coba menyambung bambu tersebut dengan lem, barulah ditutup dengan anyaman. Memang proses ini adalah proses yang hibrida, campuran, adaptasi. Di dalam proses ini juga ditemukan bagaimana screeding semen menggunakan serbuk kayu bekas dari workshop dicampur dengan lem konstruksi untuk menjaga retak.

Beberapa eksperimen ini baru dipakai di proyek ini, perasaannya seperti terjun dari ketinggian, masuk ke lautan, ditarik oleh gaya gravitasi membuat kita turun dengan kecepatan konstan, mau tidak mau akan masuk ke lautan. Dari situ munculah perasaan – perasaan yang tidak terduga. Hari berikutnya saya melihat mereka melompat – lompat ada sekitar 10 orang untuk menguji kekuatan struktur tersebut. Pada akhirnya saya akan menatap ke pak Amud. Beliau akan menjawab “Tenang aja pak, sudah saya perhitungkan.”

Kategori
blog

Madeg Pandhito, Untuk Siapa, Untuk Apa ?

Ingsun, yang dalam bahasa Jawa berarti kawula, kula, abdi, dalem, ulun, nglulun, Ingwang, mami, kita, ingong, ngong, inyong, dan nyong. Hal ini untuk mempertanyakan keakuan saya di dalam bertata laku.

Beberapa hari terakhir ini saya ragu – ragu untuk menelisik satu terminologi Nusantara. Mengapa ? Sederhananya hal ini menjadi barang perebutan ketika terkait dengan masa depan arsitektur Indonesia. Nusantara sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan benang merah Arsitektur Indonesia. Andrea Peresthu di dalam diskusi soal bagaimana arsitek Indonesia bisa berjalan sejajar dengan arsitek luar negeri ia berkata “work! work! buktikan arsitek indo bisa mendunia spt arsitek irak ini” banyak hal yang perlu dilakukan. Lihat postingan Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion

Dan hal tersebut bisa dimulai dengan memperhatikan suara anak – anak muda supaya mereka bisa didukung akan keberadaannya. Hal ini sifatnya resiprokal , kita mendukung kita akan didukung, apa yang kamu beri itu akan kamu tuai. Melalui literasi dan forum – forum yang memberikan tempat untuk mendengar yang muda, hal ini bisa dimulai. Penting untuk bisa menghargai pribadi yang gelisah, supaya mereka bisa berkembang menembus jamannya, bekerja menurut suara hatinya. Bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya.

Kedua ada cerita tentang hal ini. Saya berdiskusi dengan satu kawan arkeolog (Mbak Mitu namanya), dan membaca beberapa paper. Bahwa ada Politik Identitas yang ada di Arsitektur Indonesia.Hal ini yang kita bisa bahas selanjutnya ya. Saya berdialog dengan mbak Mitu, “Mbak secara etimologinya Nusantara identik dengan kolonialisasi dari Majapahit, lalu apa sebaiknya kita memakai kata ini apabila satu kata itu memiliki makna yang kontradiktif dimana hanya mewakili golongan tertentu, kebudayaan tertentu yang dominan ? Yang hal tersebut rawan menimbulkan konflik horisontal? ” (hal ini dibahas Yasmin Tri Aryani di dalam kerja kuratorialnya di Eindhoven, saya akan bahas ini di lain kesempatan). ini blog beliau : https://katadansketsa.wordpress.com/

Karya Yasmin Tri Aryani di dalam mempertanyakan identitas sebagai obyek komodifikasi.

Mitu kemudian menjelaskan tentang teknik komunikasi supaya tidak memancing polemik, bagaimana memilih judul, menyeleksi isi yang memiliki kedalaman dan menjelaskan dengan contoh – contoh. Kesimpulannya adalah Nusantara sendiri sudah menjadi sebuah terminologi yang awam, mengenai sebuah semangat untuk mencari identitas Indonesia. Yang kedua, ia menjelaskan pentingnya mereferensikan darimana pemahaman nusantara itu berasal, penting untuk meredefinisi istilah – istilah Arsitektur Nusantara, Vernakular, Tradisional dan menghubungkannya dengan disiplin lain seperti arkeologi, antropologi, dan kajian disiplin yang lain.

Saya mendapatkan pembelajaran bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya. Belajar, belajar, dan belajar, menjadi murid kehidupan.

Kenusantaraan sendiri adalah sebuah definisi tentang kesetempatan, sebuah semangat untuk mengolah apa yang ada di dalam lahan, sumber daya manusia dan alam dengan kritis. Sehingga Arsitektur Nusantara sendiri bisa dipandang sebagai sebuah cara pandang menuju ke masa depan, dan banyak mahasiswa bisa melihat “Kenusantaraan” apabila kata itu yang mau dipakai sebagai bingkai ke masa depan.

Salah satu kuncinya ada melebur atau inklusif, bukan dominan atau eksklusif. Dimana semua parameter diperhitungkan, ada dualisme luar diri, dalam diri, dimana hal ini dibahas oleh Antoniades di dalam Poetic of Architecture sebagai sebuah kemauan untuk bereksplorasi. Atau digagas lebih lanjut oleh Apurva Bose ke dalam sikap untuk mau berkorban, mengajar, mengantarkan ilmu ke generasi lebih muda. Hal ini juga tersirat di dalam perjalanan Ki Ageng Suryomentaram, bahwa menjauh dari keramaian memberikan jarak dari keriuh rendahan untuk mendapatkan diri sendiri , dan setelah itu pengembangannya bisa keluar. Hal tersebut dimulai dari prosedur di dalam diri sendiri dahulu, Penguasaan diri. Penguasaan diri ini penting untuk mengenal Arsitektur Indonesia, milik kita bersama dengan lebih baik. Jadi bukan tentang istilah – istilah kulitnya tapi juga tentang isinya. Keduanya sama – sama penting. Jadi mari yuk mengenal Indonesia lebih dalam.

Sebagai Arsitek professional, kita punya tugas – tugas dasar. Hal ini yang saya terus bagikan ketika mengajar, ini lah praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Hal ini disebut praksis. Cara kerja Model Praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Intinya tugas arsitek adalah berkarya dengan eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu ke penerus kita, dunia yang indah untuk arsitek muda. Lihat buku menjadi arsitek untuk mengenal apa itu tugas arsitek.

Di dalam alam profesi arsitek, ada dua buah kutub yang berseberangan dan saling melengkapi, keduanya berjalan beriringan tanpa meninggalkan satu sama lain. Alam pertama adalah Taksu, Taksu adalah sebuah bentuk dari keutuhan. Taksu sendiri ada karena proses repetisi terus menerus, berusaha melakukan evaluasi diri di dalam setiap tahap perancangan. Taksu ada karena proses belajar di dalam sisi seorang arsitek. (Lihat postingan mengenai Aalto)

Kutub kedua adalah Materi, atau mudahnya “Fee/Uang”. Salah satu kawan saya Anas Hidayat bicara soal ini di bagian prolog buku yang saya dan Johannes Adiyanto tulis beberapa bulan yang lalu berjudul “Fee”. Ia menulis “Jika hanya mencari uang saja, jadilah sodagar. Cari selisihnya, dan selesai! arsitek jelas bukan nabi mungkin memang pedagang tetapi yang punya harga diri dan punya nilai-nilai ya, harga diri, itu yang justru tak ternilai yang tak bisa dinominalkan sebagai fee itulah fee-lo-so-fee, phee-losophy.”

Tulisan Prolog Anas Hidayat : Anas Hidayat menjelaskan dengan mudah bagaimana cara menyusun fee sebenarnya didasarkan seberapa besar anda mau menakar diri, dan seberapa besar orang lain menghargai anda, dan terakhir adalah seberapa besar kebahagiaan yang anda dapatkan sampai misal bisa bekerja tanpa bayaran.

Tentunya pembahasan ini terkait kondisi ekonomi setiap orang. Tanpa adanya materi, percuma untuk bicara Taksu. Hal ini sama saja dengan membicarakan Taksu tanpa adanya materi, sama seperti berjalan diatas air, karya luar biasa tidak akan pernah lahir karena karya yang biasa – biasa saja tidak akan pernah lahir.

Dan pastinya semua arsitek ingin melahirkan karya yang luar biasa, tunggu ya ada caranya, nanti akan saya bagi caranya, caranya mudah, satu demi satu, ada prosedurnya. Simak terus ya, nanti dipostingan selanjutnya.

Kemudian di dalam keragu – raguan saya. Saya berdiskusi dengan Prof. Josef Prijotomo. Dan saya berbicara mengatakan “semoga rekan2 bisa makin percaya diri dan mau membentuk logika dan framenya dan kawan2 cukup excited, salam Pak Josef, saya perlu menjaga tenaga dulu jaga kesehatan jg ya. Nanti jgn lupa frame untuk Indonesia sy kontak pak Gunawan pak Yuswadi pada tertarik nanti kita isi ya, ” Pak Josef membalas , di dalam merencanakan wacana untuk arsitektur nusantara, saya sedikit banyak berdiskusi dengan pak Abidin Kusno, saya pikir ia ada dibalik kutub pemikiran Gunawan Tjahjono dan Josef Prijotomo.

Saya kemudian menjelaskan ke beliau bahwa Omah akan mempublikasikan kuliah wacana Nusantara. Ia bersemangat dan mengambarkan hal tersebut akan menggelinding dan tak terhentikan. Ia memuji Abidin Kusno, Omongnya bisa sana halus dan pelan, namun omongannya adalah guntur yang menggelegar. Ia berkata “aku sungguh bahagia punya murid yang mampu lebih dari aku.”

Ia menitipkan juga cara berkomunikasi bahwa berdialog dengan para tetua atau manula mesti pilih waktu atau situasi yg pas. Bahwa bisa saja mereka kurang berkenan dgn orang muda. Ia menceritakan bagaimana ia di coret oleh satu kampus terkenal karena kuatnya budaya penghormatan Juga, jangan posisikan sebagai sebuah pengadilan. Yang muda mungkin tidak merasa mengadili, tapi tidak begitu dengan perasaan para tetua.

Saya menulis seperti ini untuk menggambarkan setiap orang punya eksistensinya sendiri, adalah tugas kami yang muda untuk menyapa, yang tua, adalah tugas yang muda menyambut tongkat yang tua, dan terkadang meminta nasihat. Saya ingat kawan saya M. Cahyo Novianto menuliskan satu kata “Madeg Pandhito”

Karya Tisna Sanjaya “Madeg Pandhito” adalah sebuah metafora dari orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah “pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.

Saya kemudian menulis “Iya saya akan coba jaga semampu saya, semoga menjadi jembatan yang rahayu, Benar tidak ada pengadilan, Saya akan kawal, mengerti. Ini adalah estafet bukan salah menyalahkan, Saya akan highlight ke beberapa orang, Supaya bisa menjaga perasaan, …Seluruh pemateri adalah jembatan Itu highlight saya akan saya kondisikan.”

Kembali ke awal, di balik keragu – raguan akan kelas ini, sebenarnya pertanyaan muncul dari hati saya. “Apa yang ditakutkan ?” Apa bila seorang murid ingin mencari sebuah jawaban, ada baiknya kita melangkah tanpa keragu – raguan, namun apabila yang dicari hanya sebuah ketenaran, ada baiknya urungkan niatmu. Ya saya sudah tau jawabannya.

Bersamaan dengan permenungan tersebut. Satu teman saya Johannes Adiyanto mengirim sebuah puisi yang didapatkan beliau dari satu acara di Malang dari Johannes Widodo.

Anak

oleh Khalil Gibran

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

Mereka lahir lewat engkau,

yang rindu akan dirinya sendiri.

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

namun tidak bagi jiwanya,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap. “

Puisi berjudul Anak dari Khalil Gibran ini menyentuh lubang hati Johannes Adiyanto dan kemudian menyentuh lubang hati kawan – kawan dan pada akhirnya menyentuh lubang hati saya yang sedang ada di alam mimpi.

Lalu sayup – sayup saya kemudian terbangun karena ada kehangatan yang muncul. Ada suara halus menyapa “Anakku, muridku, mari kita berjalan, … kawan – kawan akan turun tangan.”

Kita haturkan Puji Syukur, Rahayu.

Kategori
blog

Craftgram is in Casa Indonesia : Proses Menjadi Mahir

Thank you Casa Indonesia for the synopsis of Craftgram book.

here is the detail of the publication :

Jo Adiyanto serta Realrich Sjarief mencentuskan karya tulisan
bertajuk Craftgram: Craft + Grammatology yang menilik
kehidupan empat arsitek legendaris seperti Le Corbusier,
Antoni Gaudi, Laurie Baker, dan Antonis-Noemi Raymond.
Turut disunting oleh Anas Hidayat, buku ini menekankan
pengetahuan terkait ketekunan serta ketulusan hati dalam
menjalani profesi arsitek berbentuk panduan jitu guna
mencapai kelihaian hakiki.

Kategori
blog

Sumber Kencana Lestari Warehouse

Gudang ini terletak di daerah Cipondoh, Kota Tangerang, salah satu lahan kosong di sisi barat jalan yang padat akan toko material, onderdil, bengkel, dan ruko kecil, terutama di sisi utara lahan. Bangunan ini bersebelahan dekat dengan dealer mobil dan pabrik yang jumlahnya dibawah hitungan jari. Jalan tersebut cukup untuk 2 jalur kendaraan, masing-masing dapat mengakomodasi truk dan terkoneksi dengan beberapa gang dimana perumahan warga.
.
Daerah ini memiliki masalah banjir dimana di sisi timur lahan yang menempel dengan jalan seringkali terendam air hujan. Hal ini dikarenakan lahan yang cenderung datar, sedikit lebih rendah dari jalan dan tidak adanya saluran air kota. Pada jalan tersebut terdapat beberapa bangunan yang memiliki saluran air di pinggir jalan namun tidak terhubung satu dengan yang lain.
.
Pak Sukardi sendiri memiliki karakter religius dan artistik yang diimbangi dengan bu Yeyen yang rasional ia menangani manajerial PT. Sumber Kencana Lestari. Ada 3 kriteria desain di dalam perancangan, Pertama adalah gudang yang fungsional, dan fleksibel yang mampu menampung barang. Kedua, gudang dan kantor yang tidak panas dan mendapatkan cahaya cukup. Ketiga adalah bentuk bangunan yang artistik, untuk menggambarkan karakter yang bersahaja namun penuh kejutan. Hal ini memicu perdebatan dari mana memulai proses desainnya.
.
Pembahasan di proyek ini dibagi kedalam bentuk

  1. Konteks
  2. Pertemuan dengan Klien
  3. Dunia Pertama:Dunia Seni – Biomimesis
  4. Dunia Kedua:Anatomi Bangunan
  5. Dunia Ketiga:Tectonics Grammar
  6. Dunia keempat:Pencahayaan dan Penghawaan Alami

5 hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain.
.

rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien :Sukardi+Yeyen, alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best, @fianali, dan @arlned

.
3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.

Kategori
book writing

Buku Alvar Aalto – “Mati Sakjroning Urip”

Kira – kira di akhir tahun 2018, saya dan Laurensia berkunjung ke Finlandia. Hal itu dilatarbelakangi satu kebetulan yang cukup aneh dan hal tersebut menjadi warna yang penuh kejutan dan spontan. Jadi waktu itu saya selalu meletakkan satu buku di samping tempat tidur, pada waktu itu saya sedang mau memulai membaca buku Space, Time and Architecture karya Siegfried Gideon. Sudah beberapa hari berlalu buku tersebut belum saya baca karena studio RAW sedang padat-padatnya. Tidak tau gimana ceritanya mungkin tersenggol, buku tersebut jatuh terbalik dan ada halaman yang terbuka, disitulah saya melihat sebuah gambar dan narasi mengenai Saynatsalo Townhall. Disitu diceritakan, bahwa ada teknik yang menggunakan komposisi berbagai material yang menimbulkan simfoni material yang mencengangkan. Siegfried Gideon begitu apiknya menyelipkan Aalto di tengah – tengah figur yang lain seperti Corbusier, Frank llyod Wright, dan Jorn Utzon. Figur Alvar Aalto yang membumi terlihat seperti karyanya biasa – biasa saja atau ada perasaan familiar. Karya ini mengundang decak kagum justru karena terlalu biasanya sampai mudah untuk dicerna. Ini adalah satu karya yang saya cari – cari, keindahan adalah pancaran dan pantulan dari arsitektur yang bersahaja. Dari situ saya langsung berbicara ke Laurensia, “kita perlu ke Finlandia akhir tahun ini.”

Akhirnya kami berkesempatan berkunjung ke karya Alvar Aalto, Saynatsalo Townhall, setelah tersesat di hutan pinus akibat diturunkan di perhentian yang jarang dilalui orang

Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan untuk menuangkan pengalaman tersebut di dalam bentuk buku, dan mulai meriset mengenai karir kehidupan Alvar Aalto dan merefleksikan ulang apa yang saya dapatkan di dalam perjalanan melihat karya beliau, ada hal yang magis di dalam hidup Alvar Aalto, bahwa ia melakukan praksis, aksis reaksi penyelesaian masalah dan refleksi akan penyelesaian masalah tersebut, fakta – fakta dan arsip yang ada menjelaskan bahwa kehidupannya erat kaitannya dengan praksis – praksis besar di dunia seperti kejadian ketika ia tidak memiliki proyek, pandemi, perang dunia pertama, perang dunia kedua, pameran di Amerika, menulis, berkumpul dengan kawan – kawannya termasuk bertemu dengan Siegfried Gideon, Le Corbusier, dan Frank llyod Wright dan mempengaruhi cara dan bagaimana ia mendesain. Ini adalah praksis yang manusiawi sekali. Pertanyaannya apa formulanya ?

1 tahun setengah kemudian Buku itu selesai dan diterbitkan Omah library, dan kami dengan bangga mengeluarkan buku baru berjudul Alvar Aalto : The Magic of Architect’s life. Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :

  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
  2. Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
  3. Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.

Saya dibantu oleh Johannes Adiyanto untuk penyuntingan. Ia membuka buku ini dengan definisi dirinya sebagai “Cantrik” dan buku ini ditutup oleh tulisan dari Jolanda Atmadja yang membahas “TAKSU-Dinamika Daya Hidup dalam Keutuhan”, cerita Jolanda membahas mengenai relasi Panca Skandha kedalam keutuhan karya dan bagaimana Taksu itu didapatkan sebagai refleksi penyelesaian terhadap masalah keseharian.

Jolanda Atmadja menulis

“Dinamika Taksu pada akhirnya bergerak dalam rentang yang lebar sesuai kapasitas dan peran kita masing-masing. Akan selalu ada batasan-batasan yang membedakan Taksu kita – sesuai pilihan jalan sebagai rohaniwan, politisi, tenaga medis, pekerja mandiri, akademisi, arsitek, desainer, seniman, petani dan tenaga profesi lain, aktivis sosial, maupun pilihan berkarya di ranah domestik. Pada kondisi optimalnya – Taksu dalam laku berarsitektur merujuk pada Totalitas – yang berproses kembali menjadi energi kehidupan dalam menghadapi konflik keseharian. Keberlanjutan yang ‘hidup’ dengan menjadikan kita bukan sebagai pemeran utama. Menjadikan kita ‘tiada’. Sebagai perantara, pembaca pesan-pesan yang disampaikan oleh semesta. Kenikmatan me’Rasa’ yang berujung pada upaya menjawab kebutuhan dan masalah dasar dalam berarsitektur. Tidak bertujuan utama untuk jadi tontonan, simbol status ataupun melulu komoditi. Kesunyian yang meniadakan, sekaligus melahirkan kekuatan diri. Mati sakjroning urip.”

Tulisan Jolanda menjadi penutup dari buku Alvar Aalto yang menekankan pentingnya menyadari pentingnya jujur di dalam menjalani tata laku yang menjauhkan diri dari kepentingan simbol status, kepentingan ataupun komodifikasi.

Menurut saya refleksi yang menggambarkan bagaimana sikap untuk menjalani tata laku tersebut disimpulkan oleh Johannes Adiyanto di dalam catatan editorial bagaimana bersikap tulus dengan cinta.

Johannes Adiyanto menulis “Ada dua hal —menurut saya— yang dapat dipelajari dari buku Alvar Aalto ini. Pertama, pembaca dapat menemukan proses kehidupan percintaan Aalto dengan arsitektur. Aalto tidak sekedar menempatkan arsitektur sebagai sebuah profesi semata (cinta agape), tapi proses kehidupannya pada setiap tahapnya selalu mengembangkan diri untuk mampu mencintai arsitektur (cinta Philautia), sehingga dapat dikatakan proses percintaan Aalto dengan arsitektur telah sampai pada titik cinta pragma, sebuah cinta yang teruji oleh ruang dan waktu. Cinta pragma ini dapat dicapai jika seseorang mampu menerima kehidupannya sebagai sebuah proses cinta agape, sebuah cinta yang tanpa pamrih. Apapun yang dilakukan demi hal yang dia cintai.”

Di balik ruang kerja saya dilapisi cermin, saya bisa melihat Alvar Aalto yang melihat dari belakang, disebelahnya ada Johannes Adiyanto dan Romo Mangunwijaya yang merangkulnya dan tersenyum.

Mereka berbisik – bisik,

“Mati sakjroning urip.”

Nglakoni Mati Sajroning Urip. Dalam falsafah Jawa ungkapan “nglakoni mati sakjroning urip” rasanya tidak terlalu asing. Ungkapan itu sendiri bermakna bahwa seyogyanya manusia bisa mematikan segenap hawa nafsunya dalam menjalani kehidupan.


Credit to the Team, It’s Collaborative work

Penulis: Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Editor: Johannes Adiyanto

Johannes Adiyanto, lahir sebagai anak pertama pada bulan September 1974 beristri Veronica Dwi Yantina yang dinikahinya tahun 2005. Jo – biasa dia dipanggil – menyelesaikan studi doktoralnya di ITS dengan tema Konsekuensi Filsafat Jawa pada Arsitektur Jawa. Kecintaannya pada filsafat terjadi karena koleksi bacaan dari Bapaknya, Erasmus Prijotjahjono dan koleksi kaset wayang dari Eyang, Gerardus Soewandi yang kesemuanya menuju pada satu pemahaman tentang budaya Jawa dan filsafat masyarakat Jawa. Kecintaan akan filsafat juga ditunjang dengan kecintaan akan buku. Hal inilah yang menuntun Jo bertemu dengan ‘juragan buku’ dari gua Omah, Realrich Sjarief. Kecintaan mereka berdua akan buku dan arsitektur membawa mereka merangkai kata dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh Omah Library. Dalam buku-buku mereka yang bertema arsitektur seringkali tidak berbicara teknis semata, namun menjelajah jauh mendalam seperti seorang penjelajah ilmu. Jo selalu menyebut dirinya sebagai cantrik, seorang murid yang tidak berhenti mencari dan mencari pengetahuan dan ilmu. Buku Alvar Aalto sebuah tapak pencahariannya.

Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Dimas Dwi Mukti P

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
 
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
 
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.

Satria A. Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.

Epilog.

Jolanda Atmadjaja
Pemerhati permasalahan keseharian
.Lulusan desain interior Institut Seni Indonesia Yogyakarta
dan Institut Teknologi Bandung

Kategori
blog

Heavenrich, selamat datang Surga

Ketika Kehamilan Laurensia sudah memasuki minggu ke 38, minggu tersebut adalah minggu kelahiran anak kami. Ini adalah kehamilan yang ke 6 bagi Laurensia. Laurensia sudah terbiasa dengan pulang pergi ke dokter kandungan untuk menanyakan kondisi kehamilan untuk kemudian pulang dengan kesedihan, begitupun kali ini kami pulang dengan ketakutan, takut karena kondisi bayi kami dan masa depan yang tidak bisa terprediksi, kehamilan kedepan, dan persentase keberhasilan yang rendah yang menjadi ketakutan kami.

Miraclerich lah yang mengatakan ke kami bahwa bayi kami adalah laki – laki bukan perempuan seperti USG yang dilakukan ke dokter kandungan ke Laurensia sebelumnya. Setiap malam, ia mendoakan adiknya supaya tetap sehat, di tengah – tengah suntikan yang perlu dilakukan setiap hari ke perut Laurensia, senyum, pelukan, doa Miracle menjadi senyum tersendiri bagi Laurensia. saya percaya bahwa “Tuhan mendengarkan doa dari anak – anaknya.”

Dulu Cherry, anak pertama kami, di dalam ketiadannya menyisakan kesedihan, lubang yang menganga ketika ia tiada. Saya percaya anak Tuhan tetap menjadi malaikat. Mata ini berair ketika mendengar doa Laurensia. “Tuhan apabila masih diberikan kesempatan, berikanlah satu orang malaikatmu untuk menemani kami.”

Berulang kali Laurensia menanyakan tentang nama anak kedua namun saya tidak menjawab karena nama itu muncul karena nama Heaven atau surga itu ibaratnya ada di antara kehidupan dan kematian. Mungkin saya hanya tidak rela kehilangan orang – orang yang saya cintai karena makna ganda tersebut. Saya hanya terlalu jauh berpikir antara makna surga dan dunia. ya nama bayi kami Heavenrich panggilannya even yang berarti begitu ia muncul surga akan datang ke sekitar dirinya. Heaven, heaven, nama yang mengingatkan tempat dimana anak – anak yang menjadi malaikat.

Hari itu, hari rabu pagi kami menginap satu malam dengan protokol COVID, pergi ke rumah sakit Graha Kedoya dengan masker, ia masuk ke kamar operasi jam 06:00 pagi, perawat mempersiapkan dan kami berdoa.

Keesokan dini hari, Laurensia pun dibawa ke ruang operasi dan saya ditemani pak Misnu menunggu di ruang tunggu di depan pintu ruang operasi. Saat – saat itu adalah saat – saat terlama untuk menunggu, waktu sekarang berhenti. Saya ingat Pak Misnu yang sudah ikut keluarga kami dari saya belum lahir, totalnya lebih dari 38 tahun dan sekarang membantu saya dan Laurensia. Ia sudah seperti ayah saya sendiri. Ia ada di dalam kelahiran Miraclerich, ketika saya rapat pertama di dalam perintisan studio, ia menemani menemui klien pertama, menemani proyek terbangun pertama, ia juga yang menemani untuk ikut survei ke daerah Taman Villa Meruya, tempat tinggal kami sekarang. Dan sekarang ia menemani saya lagi. Pak Misnu ada di saat kami sedih dan bahagia. Saat – saat ini saya tidak mau berandai – andai hanya berdoa semoga semua bisa selesai dengan baik.

10 menit berlalu,..

20 menit,…

30 menit,…

45 menit,…

50 menit,..

kemudian ada panggilan

“Pak, bayinya sudah keluar.”

Suster perawat memanggil, dan disitu sudah ada dokter Bertha yang menunggu dan menjelaskan bahwa semua baik – baik saja.

Heavenrich sudah lahir, berkulit putih bersih dengan berat badan 3.3 kg. 1 jam kemudian, Laurensia keluar dan saya pun bersyukur. Hari yang baru untuk keluarga kecil kami. Matahari bersinar cerah, setelah berkat (Miracle) hadir di dalam curahan Tuhan yang berlimpah (rich) kemudian surga pun datang ke dunia, kami adalah orang yang beruntung bisa dititipkan malaikat Tuhan untuk memberikan kidung surga.

Terima kasih Dokter kandungan kami namanya Dr. Raditya Wratsangka. Sungguh saya bersyukur semua bisa selesai dengan baik dan sekilas saya bisa melihat di samping dokter Bertha, Cherry muncul menemani dan menjaga Heaven.

Kamu sudah besar ya nak, papa kangen kamu, terima kasih ya sudah menemani mama dan adikmu.

Kategori
lecture

Unpredictable Event Throught Resilience Architecture

View this post on Instagram

with @rawarchitecture_best

A post shared by Arsitektur & Perencanaan UNTAR (@arch.plan_untar) on

Thank you the University of Tarumanagara for Hosting this dedicated for its students, I’ll be really grateful to discuss and share some of the recent issues about how the architecture profession can get opportunity from this crisis.

From the committee, the discussion will be casual. Bincang Senang Ala Arsitek Salah satu arsitek dari RAW Architecture Firm dan juga seorang akademisi yang menjadi sorotan beberapa tahun terakhir, karena karya dan “wadah” interaktif yang beliau ciptakan “OMAH” library menjadikan Pak Realrich sangat dikenal khususnya di kalangan mahasiswa.


Instagram live ini diadakan untuk menyediakan sebuah tayangan casual mendidik yang dapat diakses oleh mahasiswa-mahasiswa aktif atau bahkan calon mahasiswa yang juga tempat menampung pertanyaan dan keresahan isu kekinian. Mengingat dalam situasi pandemi ini Jurusan Arsitektur dan
Perencanaan mengajak bintang tamu berbincang santai mengenai topik tertentu dari sudut pandang bintang tamu. Juga adanya kumpulan pertanyaan dari mahasiswa yang di rangkum dan akan Host tanyakan.

.

Greetings!

In order to provide and facilitate a casual yet fun discussion of architecture in this current situation on social media, especially Instagram.

Department of Architecture and Planning Faculty of Engineering Tarumanagara University presents a series of interesting Casual Discussions on this Instagram.

Topic:
“Unpredictable Event Throught Resilience Architecture”

With the speakers, of course you are waiting for. Don’t forget to join Instagram Live on the official Instagram account of the Department of Architecture and Planning:
@arch.plan_untar

Guest Star: Realrich Sjarief @rawarchitecture_best

Don’t miss it.

#arsitekturuntar#jurusanarsitekturdanperencanaan

Kategori
juror

Sharing Tugas Akhir YACP

Bebas Biaya, terbuka untuk umum (kuota 40 orang)

Materi sharing diberikan oleh:
1. Christiano Junior Benavides T. dari Universitas Khatolik Widya Mandira, Kupang
Dengan judul tugas akhir: Pusat Perbelanjaan Oe-Cusse Timor Leste, dengan Tema Arsitektur Kontemporer

2. Achmad Safar dari Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dengan judul tugas akhir: Kampung Deret Mangasa di Bantaran Sungai Jeneberang

3. Lidya Ametha dari Universitas Sumatera Utara
Dengan judul tugas akhir: Perancangan Pusat Kegiatan Pemuda di Kawasan Pengembangan Cagar Budaya Pulo Brayan Bengkel dengan Pendekatan Biofilik dalam Arsitektur

Hari/tanggal pelaksanaan: Sabtu 18 Juli 2020
Waktu: 15.30-18.30 WIB

Link untuk mendaftar: bit.ly/YACPSTA1 (link on our bio)
Konfirmasi setelah mengisi form harap mengkonfirmasi ke nomor 0852-3040-5012 melalui whatsapp.

Pendaftaran akan ditutup pada Kamis, 17 Juli 2020 pukul 23:59 WIB atau jika jumlah pendaftar sudah memenuhi kuota yang tersedia, maka akan ada pemberitaan selanjutnya mengenai penutupan pendaftaran forum sharing ini.

Supported by @yyaf_id
Media Partner: @pamiy_jogja@nba.jogja
#YACP#yogyakarta

Kategori
blog

Harris+Tiffany House


Rumah ini didesain dalam jangka waktu 1 tahun yang membentuk proses di desain Rumah Harris + Tiffany. Di dalam awal proses sempat dibicarakan apa perlu rumah ini dihancurkan atau bisa tidak menggunakan hal – hal yang sudah ada. Dari diskusi yang muncul, rumah ini pada akhirnya menggunakan sebagian pondasi dan dinding yang lama sehingga biaya konstruksi bisa ditekan dengan optimal. Ibaratnya rumah baru yang berdiri (mengangkangi|memayungi) di atas struktur yang lama.

Rumah ini terlilhat tidak biasa, namun setiap pertimbangan desainnya memiliki prosedur di dalam keputusan desain yang terkait dengan seni dan sains bangunan yang dibahas di dalam 7 cerita:


1. Proses yang Panjang
2. Eksplorasi Bentuk
3. Translasi 3 buah dunia
4. Alam Fantasi : Stereotomic Artist
5. Alam Imajinasi : Diskursus
6. Alam Realisasi : Peta Konstruksi
7. Peta Metode Desain
Ketujuh hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain. #rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien @harris_go@twidjojono , alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best@fianal, dan @viviysantosa_
.
3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.

Kategori
lecture

Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang

Eksposisi #5
Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang
Jumat, 19 Juni 2020
15.30-18.00

Narasi

Hasil Rekaman Kuliah dari Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat


Ide desain merupakan buah pikiran setiap arsitek; output dari setiap proses kreatif yang runut dan sistematis
dalam merespon konteks yang dihadapi. Dalam proses pengembangan sebuah ide, setiap arsitek merespon
limitasi, batas/batas (consraints) & potensi sebuah konteks, menggunakan Pendekatan dan Metode yang
secara kreatif berkembang menjadi visi dan diterapkan menjadi susunan strategi desain. Keunikan inilah yang
memberikan karakter sebuah karya arsitektur dan yang membedakan antara satu karya dengan karya lainnya.
Dari narasi tersebut, melalui #eksposisi 5: Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang, kita akan
menggali pemahaman karya arsitektur melalui sudut pandang bagaimana Ide Arsitektur diproduksi oleh sang
arsitek. Pendekatan apa yang dilakukan untuk memahami dengan spesifik realita sebuah proyek?, dan Metode
apa saja yang digunakan untuk menterjemahkan solusi dari realita yang dihadapinya?. Diskusi ini akan
mendalami proses kreatif perancangan desain arsitektur lebih dari sekedar tahapan Konsep, Skematik dan
Konstruksi. Sehingga, kesadaran dalam proses merancang terutama kesadaran dalam mengambil keputusan –
keputusan sebuah proses desain tidak hanya berdasar pada intuisi yang tak terukur atau bahkan berlandas
pada wangsit.

Sekretariat:
Jl. Brantas No. 23 Bandung
40114
Indonesia
http://www.iaijabar.org

Member of :
UIA
International Union of Architects
ARCASIA
Architects Regional Council Asia

Mobile &WA :
+62 8122123175
SMS center :
+62 857 2121 7559
e-Mail: sekretariat@iaijabar.org

Eksposisi #5
Pendekatan dan Metode dalam Proses Merancang
Jumat, 19 Juni 2020
15.30-18.00

Run-Down
10:00 Pendaftaran ditutup
15:10 Panitia, moderator dan pembicara standby di zoom
15:15 Admin membagikan link zoom di wa, partisipan menunggu di waiting room sambil membaca rules
15:25 Host memasukkan para partisipan dan memulai rekaman
15:30 Moderator membuka acara, narasi singkat tentang topik dan membacakan cv singkat setiap
pembicara.
15:35 Sambutan ketua IAI Jawa Barat
15:40 Pemaparan eksposisi
15:45 Pembicara 1 : Sonny Sutanto (45 menit)
16:30 Pembicara 2: Realrich Sjarief (45 menit)
17:15 Tanya jawab dipandu oleh moderator, host menyaring pertanyaan yang datang lewat chat.
17:50 Pembacaan kesimpulan oleh moderator dan foto bersama oleh host
18:00 Acara selesai

Kategori
lecture

Shifting Paradigm In Architecture

READY FOR OUR NEXT #sundaysharing,
DON’T FORGET TO SEND US DM TO GET THE LINK. .
.
.
Come join us in a #sundaysharing session with @artriapratomo on
.
.
.
SHIFTING PARADIGM IN ARCHITECTURE
New Problem, New Demand, New Protocol
Sunday, June 14, 2020, at 16:00
.
.
.
We will have a discussion with Realrich Sjarief- RAW Architecture @rawarchitecture_best and Andesh Tomo-Andesh Tomo Desain @andeshtomo
@andesh.tomo.desain .
.
.
Due to a limited space, please send us DM for RSVP. We will send the zoom link on Sunday, June 14, 2020 at 14:00

If you have questions, kindly mention on the comment section of this post
.
.
.
#sundaysharing #designstoriesid #artriapratomo #realrichsjarief #rawarchitecture #andeshtomo #andeshyomodesain #paradigmshift #newproblem #newdemand #newprotocol #newnormal #newapproach #designphilosophy #designmethodology #architect #arsitekindonesia #economiccrisis #shareexperience #discussion #zoomsession

Kategori
blog

Etos

There’s only one thing more precious than our time and that’s who we spend it on.”-Leo Christopher

Ibu saya selalu menemani ayah saya ketika bekerja. Saya ingat ayah saya bercerita ketika ibu dan ayah saya menghadap ke Teddy Boen di pagi – pagi justru ketika Pak Teddy belum ke kantor. Pak Teddy pun terkejut melihat ayah ibu saya disana, intinya mereka ingin mendiskusikan beberapa tagihan tambahan karena memang diperlukan. Dan benar saja Pak Teddy selalu mengingat ibu dan ayah saya. Mereka selalu berpesan bahwa bangun pagi – pagi, selalu ada rejeki untuk orang yang bersiap – siap dan tak kenal menyerah, biasa jam 5.00 mereka sudah bangun dan menunggu untuk ngopi atau ngeteh bersama.

Ada alasan kenapa saya membuat kisah tentang ayah dan ibu yang memang adalah dasar kami berpraktik yakni sederhana, tidak bertele – tele dan tetap personal. Ibu saya atau seringnya dipanggil ama sama cucu – cucunya ini paling gokil, ia adalah ibu ketua RT yang pernah mimpin demo bersama warga gara – gara gorong – gorong air ditutup sama pemerintah. Untuk saya, ibu kami ini adalah ibu yang terbaik di dunia dan saya mendapatkan energinya semangatnya yang ngga bisa diam. Didiemin sedikit ssstttt “Eh tau – tau udah manjat lemari dia ngejer cicak.” Lol. Hal tersebut membuat hal tersebut juga turun ke Miraclerich punya energi yang luar biasa alias tidak bisa diam. Ibu saya selalu menemani ayah saya, mencatat administrasi, sembari mengurus keperluan rumah tangga kami, termasuk mengajarkan aturan yang disiplin tanpa mengikat. Ia menghargai waktu dan mereka memilih dengan siapa mereka meluangkan waktu. Laurensia sekarang juga membantu kami di dalam pengaturan studio yang tidak mudah.

Studio @rawarchitecture_best pun dibentuk dengan energi yang seperti itu, sebuah prinsip energi yang positif, desain seperti mempersiapkan sebuah hidangan makanan, preparation, preparation, preparation. Waktu yang panjang dilakukan untuk pengecekan – pengecekan gambar. Setiap pagi saya mencoba untuk mengecek

kesiapan setiap hari, meskipun tidak mudah untuk menerapkan hal tersebut di tim besar, segala sesuatu yang dimulai dari hal yang sederhana akan membuahkan hasilnya positif. Setelah ini baru saya akan menyajikan proses berkarya studio kami, setelah mengetahui etos yang merupakan titik awal studio yang berisi anak – anak muda yang sungguh saya banggakan.

.

Kategori
blog

INDE Award 2020 – Bayangan Sebuah Proses

Cinta yang terbaik muncul lebih karena terbiasa, tulus tanpa pretensi. Contohnya studio arsitek adalah simbol, profesi adalah simbol, prestasi adalah simbol. Seperti layaknya simbol ia punya dua sisi mata uang yang selalu kontradiktif. Satu sisi ia memberikan penghargaan juga memberikan kenanaran akan lupa diri, atau mudahnya satu sisi memberikan kedekatan dan di sisi lainnya memberikan jarak dari kegembiraan penjelajahan. Hal ini diibaratkan perjalanan menjembatani simbol menuju hal yang esensial/mengakar. Salah satu hal yang perlu dipikirkan bisa jadi hal – hal yang non-esensial (biasa) itulah yang esensial, membuat perjalanan menjadi penuh dengan kegembiraan paradoks di dua sisi mata koin yang berbeda.

Salah satu cara yang bisa diterapkan dengan kontemplatif adalah menembus 7 lapisan “chanel” desain ke atas : relasi klien, estetik, ekpresi, wacana publik, lokalitas, pragma. Juga menembus 7 lapisan ke bawah : bentuk, kulit, kerangka, reprogram, MEP, material, kawruh jiwa. Kerja kriya (pemikiran tulisan ataupun karya dan jiwa ada di tengah – tengah). Penembusan lapisan – lapisan tersebut muncul dari inisiatif penjelajahan yakni kegembiraan berproses (dilampirkan di post mengenai progress tahun demi tahun).

Terkadang hasil dari proses itu tidak datang cepat, dibalik ketidak pastian menunggu hasil tersebut muncul perasaan cemas, bingung, tertekan. Sebenarnya hal tersebut wajar, contohnya di balik kegembiraan sebuah hasil yang muktahir sebenernya rasa “gembira” tersebut terkait dengan “bayangan” yang muncul di dalam sebuah proses. Saya sadar seperti halnya karakter Kabar gembira yang juga memiliki kabar sedih, begitupun juga karakter kabar sedih yang memiliki kabar gembira. Kedua hal tersebut memberikan bayangan – bayangan yang perlu diberikan jarak untuk menemukan inti diri kembali. Di balik berbagai hambatan akan covid 19 yang nyata- nyata memberikan sebuah perubahan yang mau tidak mau harus diamini, memang kita semua, termasuk saya sendiri harus berubah, beradaptasi menuju new upnormal (meningkat) bukan abnormal.

Ada kabar gembira untuk rekan-rekan saya di studio dan klien – klien dari panitia INDE Award 2020, bahwa @rawarchitecture_best masuk nominasi. Yang bisa saya lakukan adalah mengucap syukur lalu kembali jalan lagi, menyadari dibalik kabar gembira juga muncul bayang bayang badai yang masih belum selesai, kita bertransformasi menuju new upnormal. Yuk.

Kategori
blog

Elang Teluk Betung

Ini ayah saya, namanya Asnawi Sjarief, opa kami, yang ngga segesit ibu saya tapi matanya tajam seperti elang.Ia adalah seorang pemain bulutangkis yang sempat jadi elang Teluk Betung, meskipun badannya kecil ia terkenal dengan jumping smashnya. Ia menyaksikan kehebatan satu legenda pelatih Indonesia Tong Sin Fu dalam melatih reflek, teknik bermain dengan etos berlatih tinggi sampai berkelahi ketika harus mempertahankan prinsip hidupnya. Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade, piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.

Seorang ayah adalah pelita bagi anak – anaknya, begitupun ayah saya yang sudah disebut opa oleh cucu2nya. Saya sangat kangen sekali untuk berkunjung ke tempat ayah saya hanya untuk sekedar mendengarkan ia mengulangi kisah – kisah hidupnya bertemu orang – orang luar biasa termasuk ketika ia membicarakan terus Teddy Boen dan menanyakan ke saya, kamu sudah kontak pak Teddy Boen ?

Akhirnya saya bertemu pak Teddy sebelum pada saat itu sata bertemu almarhum pak Adhi Moersid. Saya diceritakan mengenai prinsip – prinsip hidup berelasi dengan engineer dan menegaskan bahwa empati, hati diperlukan di dalam menjalani praktik. Ternyata beliau adalah insinyur struktur dari Said Naum, yang merupakan partner almarhum Pak Adhi Moersid dan Atelier 6 Arsitek. Teddy Boen hanya berkata your dad is really good person, teliti dalam bekerja dan tidak omong besar. Hidup ini memang berputar seperti pasir di pantai kadang ia tertarik ke dasar lautan mendalami prinsip hidup untuk kembali ke daratan mendalami bahwa semua hal ini terelasi.Le Corbusier memahami ini di dalam gambaran saat – saat dirinya bermain di pantai dan menemukan poetic objet, dari situ ia memahami bahasa alam melalui kerang, bentuk alam.

Setelah saya selesai menemui almarhum Adhi Moersid dan Teddy Boen. Pak Teddy menitipkan 10 buah buku dan prototipe rumah tahan gempa yang berguna untuk masyarakat yang adalah dokumen publik

saya kembali ke rumah ayah saya. Saya ingat ia menyambut ke depan dan langsung menanyakan , gimana sudah bertemu ? Saya mengiyakan dan melihat matanya berbinar – binar.

Kategori
blog

Mindful Project

“Wisdom says we are nothing. Love says we are everything. Between these two our life flows.” – Jack Kornfield
.
Kemarin saya bertemu Hendrick Hengki,ia datang ke The Guild, sudah lama saya tidak bertemu dengan dia. ia aktif di dalam Mindfull Project, sebuah gerakan meditasi yang melayani orang- orang yang membutuhkan ketenangan di dalam bekerja, dan membutuhkan ketenangan di dalam menjalani keseharian. Ia adalah salah seorang yang berbakat dan saya ingat karena Tugas Akhirnya yang menggabungkan kesatuan jiwa, tubuh, dan akal sebuah kesatuan di dalam desain sebuah tempat peribadatan.
.
Saya menyapanya, untuk menanyakan kabar – kabarnya, proyek apa yang sedang ia kerjakan, mendesain beberapa proyek termasuk memperhitungkan fengshuinya. Ia kemudian berbicara “Kak mau saya bantu liat Feng Shui bangunan ini (The Guild) ? ” kemudian ia menjelaskan teori energi, berdasarkan tanggal lahir, bulan lahir. Ia pun meneruskan dan memberikan saran, tempat duduk kakak sebaiknya dipindah kesini kak, ke sisi timur supaya lebih harmonis. Tempat tidur pun harus dirubah kesini. Perubahan – perubahan yang diusulkan tidak terlalu banyak, namun saya terkesan karena keinginannya untuk membantu saya, keluarga, dan studio. Ia datang untuk bertegur sapa, menciptakan perubahan. Ia pun bilang kak, ini efeknya tidak akan langsung, butuh beberapa waktu.
.
Kita di dalam hidup memiliki jalan masing – masing, di tengah persimpangan kita bertemu dan berpisah, bertemu dan berpisah kembali. Di dalam pertemuan itu ada setiap pembelajaran, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri begitu melihat murid, sahabat kita berkembang dengan caranya masing – masing, keunikannya masing – masing. Harmoni muncul menampakkan bahasanya.
.
Sunyata in the architecture, how to make holistic experience :) Hendrick Tanuwidjaja grows his mindful project has shared his valuable view for us, me and fam, thank you :)
.

Kategori
blog

5 Levels of Architecture Mastery

Tahun ini umur saya 38 adalah saat – saat yang membuat saya bersyukur karena dikelilingi keluarga dan teman yang luar biasa. Bisa berkarya, bisa terus belajar, bisa terus berbagi. Rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk merayakan ulang tahun yang sederhana. Terima kasih Laurensia, dokter gigi terbaik yang menemani langkah – langkah, juga malaikat kecil kami Miraclerich. Malaikat – malaikat kecil yang menjaga langkah kita sebagai orang tua untuk memberikan contoh dan teladan yang baik. Masalah – masalah terus muncul di sekitar kita, dinamisnya pekerjaan arsitek, perjumpaan setiap hari dengan orang – orang yang berbeda, dan ekspektasi desain yang terus berkembang, lalu bagaimana menata tingkatannya untuk menuju sebuah penguasaan yang mumpuni ?
.
Miraclerich, adalah anak pertama kami, ia hidup di dalam lingkungan arsitektur yang kreatif yang dikeliling dengan staff – staff saya di kantor. Tiga kali dalam satu minggu Ia menemani Laurensia ketika berangkat untuk berpraktek, ia biasa dititipkan di orang tua kami untuk menemani orang tua kami yang kangen dengan cucunya. Hal yang paling saya takutkan adalah apabila Miraclerich tumbuh sebagai anak yang egois dan lepas dari konteksnya sebagai makhluk sosial. Dimana kami tidak bisa mengatur Miracle setiap saat seperti mengatur apa yang ia lihat, interaksi apa yang ia lakukan, siapa saja temannya. Miracle sekarang sudah bersekolah, ia berumur 4 tahun. Laurensia berusaha untuk mengatur jadwal Miracle supaya ia bisa mengerti pentingnya pengaturan waktu, mengerti kewajiban untuk belajar mengeja atau menulis dan haknya untuk bermain – main. Terkadang ia meminta ijin untuk menonton youtube, gadget, ataupun bermain – main dengan motoriknya. Di balik cepatnya informasi on-line (Internet of Things) yang ada sekarang ini, Jonah Berger memberikan beberapa informasi bahwa interaksi offline masih memegang peranan penting untuk menunjang sebuah kesuksesan. Ia berkesimpuan bahwa cepatnya informasi tidak membuat manusia kehilangan posisinya sebagai makhluk sosial.
.
Di tahun 2019, kegiatan sehari – hari saya lakukan dengan kegiatan praktek sebagai arsitek, menulis, mendesain, dan mengajar. Di semester pertama 2020 ini, saya mengajar mata kuliah strategi arsitektur berkelanjutan. Sebelum itu, saya menulis buku Methodgram dibantu oleh Anas Hidayat sebagai teman berdiskusi dan rekan penulis, juga Jo Adiyanto sebagai penyunting yang membantu meruntunkan pemikiran saya yang rhizomatik (bercabang – cabang). Hal yang ditulis tersebut berdasarkan dari 7 tahap metodologi desain untuk arsitektur berkelanjutan. Hal ini didapatkan sebagai pengetahuan dasar ketika kerja di Foster and Partners, London yang menurut saya penting untuk dibagikan di dalam membentuk metodologi arsitektur yang berkelanjutan. Metodologi desain berguna karena bisa memetakan permasalahan desain, menyederhanakan permasalahan yang kompleks di dalam skala bangunan yang semakin besar, tim yang semakin beragam, dan waktu yang terbatas. Hal tersebut dimulai dari :

1. Konteks, pemahaman site yang menyeluruh
2. Massa bangunan yang responsif
3. Selubung kulit bangunan
4. konfigurasi ruang dalam
5. Optimalisasi desain sistem mekanikal, elektrikal, dan pemipaan
6. Optimalisasi penggunaan energi dan air
7. Material yang ramah lingkungan

Ketujuh hal tersebut membentuk sebuah hasil relasi antara klien dan arsitek dari analisa tapak, brief, program, desain, dan implementasi. Desain hanyalah satu aspek dari 5 aspek tersebut, hal tersebut merujuk kepada kata “kontekstual” untuk memberikan tanggapan dari lahan, pengguna, dan ilmu desain untuk sendiri melalui analisa ulang terhadap metodologi desain yang dimiliki sebelumnya. Keseluruhan pengalaman ini, ternyata saling terkait satu sama lain membentuk kemajuan yang saling mempengaruhi. Metodologi desain penting untuk bisa dikuasai. Satu saat ketika saya berdiskusi dengan teman saya Nantapon di Bangkok di dalam perjalanan ke Ayuthaya. Ia bertanya mengenai tingkatan kemumpunian seorang arsitek. Saya berusaha merangkum apa yang saya alami, dan menjelaskan ke Nantapon mengenai 5 tingkat kemumpunian.

Tahap pertama adalah, tahap pengenalan diri sendiri untuk mengakui siapa kita, apa yang membentuk kita dan menghargai orang – orang yang membuat kita seperti sekarang untuk membuat kita memulai fase tekun dalam bekerja, cinta dalam berbuat, sebuah perayaan untuk tradisi berbuat dengan sikap untuk selalu belajar, tekun, dan rendah hati, sebuah sikap pengabdian…

Tahap kedua adalah tahap memodifikasi ruang, yang salah satunya adalah teknik sterotomik (melubangi), hal ini dimerupakan proyeksi garis tangan. Proyeksi garis tangan ini adalah sebuah aktualisasi diri yang membutuhkan keberanian untuk menempuh resiko untuk menembus stereotipe bentuk – bentuk yang sudah menjadi asumsi dasar desain…

Tahap ketiga adalah tahap menguasai tektonika grammar, sebuah teknik penguasaan detail di tahap implementasi yang fokus kepada optimalisasi bahan, waktu pengerjaan, dan penemuan alat untuk mempermudah sistem kerja…

Tahap keempat adalah tahap metodologi, dimana desain bisa menyelesaikan masalah yang sulit dan kompleks dengan cara dan strategi yang sederhana …

Tahap kelima adalah evaluasi total, sebuah tahap memutarbalik atau melawan metodologi sendiri, tektonika yang sudah terbangun, ruang yang sudah dicipta, dan titik awal yang menjadi identitas arsitek
.
Menuju fase lahir kembali … membantu orang lain untuk menemukan jalannya masing – masing
.
Hari ini adalah Tahun baru bulan, adalah saat – saat dimana berkumpulnya keluarga, reuni, dan penanda musim semi dimulai. Betapapun jauhnya seseorang dari rumahnya, setiap orang filosofinya akan berusaha untuk pulang untuk makan bersama. Kemarin saya sampai sedikit terlambat untuk berkumpul bersama keluarga, karena perlu untuk mengunjungi satu pekerjaan di Jakarta Pusat. Ayah saya sudah menunggu untuk sedikit ngobrol dan sedikit berdiskusi tentang proyek – proyek, dari beliau saya belajar untuk sabar, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, fokus ke hal – hal yang dasar dan sederhana untuk berkarya. Untuk kami, saat – saat ini adalah saat dimana bulan datang, inilah saat untuk menghargai orang tua, bertemu saudara – saudara dan belajar untuk berbagi di dalam amplop kantong merah merupakan pertanda hati atau cinta yang berisi sebuah harapan untuk keberuntungan, kesuksesan, kesehatan di masa depan untuk kawan – kawan semua dimana semoga kantongnya semakin tebal, jiwanya semakin mulia, dan hidup semakin bahagia menuju ke bulan. Tuhan tolong berkati teman – teman semua supaya selalu dimudahkan jalannya diberi kesuksesan berupa : kesehatan dan rejeki, dan pertemanan yang selama – lamanya dan diberikan sebuah fase untuk lahir kembali.
.
Salam dari kami sekeluarga @laurensiayudith + miraclerich ^^
.

Kategori
award publication

Earthing Silaban – Finalist of Museum Silaban Design Open Competition

 

Sayembara ini merupakan eksperimen yang dilakukan untuk memberikan optimalisasi luasan area yang terdesain dengan meletakkan desain massa di sisi yang rawan longsor yang ada di sisi batas bangunan. Lahan gudul yang menjadi lokasi merupakan bekas pertambangan pasir yang merupakan hasil perbuatan penambang yang berusaha menghasilkan keuntungan dari lokasi, mengusahakan yang terbaik yang bisa didapat untuk kepentingannya dan kesejahteraannya.

Seiring dengan perjalanan, dengan contoh di lahan ini, manusia lupa bahwa perlu ada memberi kembali pada alam sehingga lupa untuk mengembalikan apa yang sudah diambil hingga lahan itu menjadi rusak, terbengkalai dan buruk kualitasnya. Oleh karna itu desain dari Earthing Silaban berupaya mengembalikan esensi yaitu kebergunaan dari lahan menjadi hal yang penting untuk memberi makna baru dan kebergunaan baru, yang dimetaforakan dengan sama seperti legenda Tungkot Tunggal Panaluan, yaitu memaknai sebuah kejadian pilu menjadi suatu hal positif dan tidak saling menyalahkan. Bentuk dari Tungko Tunggal Panaluan ini menyiratkan bentuk massa bangunan yang memanjang yang merupakan hasil optimalisasi dari Cut and Fill lahan yang didasarkan kedalam strategi desain arsitektur yang berkelanjutan, efisien, low carbon footprint, dan meminimalisasi dampak lingkungan dengan memperbesar dampak positif dengan mengolah ruang – ruang yang positif.

Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada kesadaran untuk mengobati lahan yang rusak dengan prinsip utama bertitik berat pada respon bangunan yang optimal terhadap konteks dengan menyesuaikan bangunan sebagai bagian dari kontur ikut membantu menguatkan kontur berbukit di bagian belakang site, mengamankan lahan dari kemungkinan adanya longsor. Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada beberapa prinsip :

Prinsip pertama bertitik erat pada respon bangunan terhadap konteks tanpa merusak lingkungan, Upaya passive cooling juga dilakukan dengan menggunakan corong untuk menangkap angin. Corong berupa dinding dengan skala ketinggian yang massive agar angin terkumpul secara maksimal tanpa halangan. Selain untuk menangkap angin, dinding yang tinggi juga digunakan untuk pencahayaan alami melalui skylight. Skylight ditempatkan di antara fungsi-fungsi ruang sehingga setiap ruang mendapat akses langsung dengan pencahayaan alami.Lokalitas juga tercermin dalam pemilihan material berupa batu kapur putih.

Prinsip kedua berhubungan dengan kebermanfaatan monumen Friedrich Silaban ini terhadap masyarakat sekitar. Beberapa spot dapat digunakan untuk aktivitas publik, seperti tangga masuk yang dibuat lebar agar dapat digunakan pengunjung untuk duduk-duduk, bersantai atau bisa digunakan untuk platform aktifitas publik (pertemuan, pementasan musik, teater dan lain sebagainya

Prinsip ketiga yaitu memberikan jiwa dan karakteristik Friedrich Silaban ke dalam bangunan, menjadikan monumen Friedrich Silaban ini memiliki sifat seperti Silaban itu sendiri. Penggunaan geometri yang sederhana serta pengunaan skala yang humanistis namun monumental yang merepresentasikan kesederhanaan.

Desain dari konsep Silaban Membumi “Earthing Silaban” ini mendemonstrasikan kesederhanaan Silaban dengan reduksi arsitektur yang radikal, meredefinisikan museum sebagai ruang yang bermain dengan cahaya, kesederhanaan, ruang – ruang yang humanis namun monumental.

Sayembara ini dikerjakan di dalam waktu sekitar 4 hari, waktu yang tidak lama karena kesibukan kami, di dalam proses pengerjaan terdapat saat – saat untuk merefleksikan kembali kejernihan metodologi desain. Dan pilihan – pilihan yang muncul dan disepakati di dalam proses diskusi membuat desain dari Museum ini memberikan titik yang baru di dalam proses perencanaan yang lebih solid dan radikal.

Design Team :
Principal : Realrichsjarief
Team : Alifian Kharisma, Fakhriyah Khairunnisa, Thomas Santoso, Michael Chen, Timbul Simanjorang, Kanigara Ubazti.
.
Juror :
1. Ir. Diana Kusumastuti, MT. / Direktur Bina Penataan Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR
2. Sahat Silaban, SE / Pengagas Monumen Friedrich Silaban
3. Drs. Tonny Sihombing, M.IP / Pemerintah Daerah Kab. Humbang Hasundutan
4. Prof. Ir. Gunawan Tjahjono, IAI., M.Arc., Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
5. Ir. Baskoro Tedjo MSEB,Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
6. Boy Brahmawanta Sembiring, IAI, AA / Ikatan Arsitek Indonesia Sumatera Utara
7. Setiadi Sopandi, IAI., ST., M.A.rch / Penulis Buku Friedrich Silaban
.
#realricharchitectureworkshop #rawarchitecture #spirit45theriseofasia

Kategori
blog

Secretive – The Guild

Sudah sekitar hampir 2 tahun diri ini tidak menulis di catatan Mayonnaise Jar, salah satu alasannya adalah membutuhkan waktu untuk mengorientasikan titik awal. Titik awal adalah sebuah proses dimana perlu untuk mereposisikan kembali tujuan untuk menjalani kehidupan sehari – hari yang dilakukan. Setelah 2 tahun ini, baru kali ini bisa memiliki jeda di dalam praktek. Di dalam reposisi tersebut pasti ada hal – hal yang dihindari memutuskan untuk mulai fokus untuk area- area yang menjadi kegembiraan dan kebahagiaan. Laurensia pun sibuk membantu di studio untuk mengatur manajemen studio di sela – sela kesibukannya sebagai dokter gigi. Miraclerich pun mengalami perubahan yang pesat dari 2 tahun menuju 4 tahun, ia sudah bisa mengatur dirinya sendiri, buang air, belajar, mandi ia mencoba untuk mandiri dan tidak bergantung dari kami. Miraclerich sudah bisa mulai makan sendiri dan mulai tidak merepotkan mamanya meskipun ia masih belum bisa tidur sendiri. Dan kakinya masih suka menendang kepala yang seringkali membangunkan di pagi – pagi subuh yang berguna untuk mengingatkan untuk memiliki saat teduh di pagi hari.

.

Perubahan di dalam pekerjaan ini ditandai dengan mulai nampak proyek – proyek dengan klien – klien yang sungguh menghargai apa yang sedang dikerjakan. Hal lain juga terlihat dari selesainya 4 buku RAW Architecture : The Guild, Dancer House, Tectogram, Methodgram yang membantu reposisi titik awal tersebut ke titik yang baru dimana evaluasi beberapa teori yang berbeda bisa dilakukan yakni teori yang membentuk titik awal (origin), teori mengenai penggubahan ruang, teori mengenai tektonika, dan teori mengenai metode desain. ke 4 buku tersebut saya tulis bersama Anas Hidayat, seoarang dalang dari Surabaya. Di titik ini tidak dibutuhkan drama – drama di dalam proyek yang memang tidak perlu. Dengan keseharian yang ada sekarang kebahagiaan bisa dirasakan dengan keseharian bersama laurensia, miracle, dan kawan – kawan sedulur dan beberapa kawan yang bisa langsung dekat meski baru kenal.
.
Setiap pojok di The Guild adalah cerita tentang proses yang terjadi, perubahan tempat, konstruksi, penambahan konstruksi yang seringkali ditandai dengan mutilasi terhadap bentuk – bentuk yang terjadi dengan tujuan eksperimentasi untuk membuat teknik yang semakin ringan, mudah dan murah. Mutilasi adalah sebuah daya eksperimen yang berani untuk memotong, menambah, merubah ulang desain yang sudah terkotak – kotak di dalam iterasi sebelumnya. Mutilasi ini adalah tahap adaptasi total, itulah tahap dimana proses pembuatan karya di antara tegangan industri dan tradisional dimana terciptalah komposisi material natural fiber dan material industri. Proses ini membutuhkan kerelaan untuk menciptakan iterasi dari proses konsep sampai keterbangunan di dalam lingkaran untuk terus belajar dan bereksperimen. The Guild adalah representasi komposisi adaptasi total dengan permainan berbagai material yang berbeda – beda yang dikonstruksikan untuk semakin ringan, mudah, murah.

.

Ada beberapa hal yang saya sangat banggakan di dua tahun ini. Dua tahun ini saya mencoba mencarikan pekerjaan untuk tim pengrajin saya asli Sumedang dan akhirnya berhasil dengan adanya klien – klien yang tertarik untuk bereksperimen. Memang sulit mencari klien yang mau melakukan eksperimen. Saya terkadang mendapatkan proyek renovasi – renovasi kecil untuk mereka selama proyek eksperimen bisa terus dilakukan di tahun pertama, terkadang kami harus mmembantu dapur tukang – tukang kami supaya bisa menyambung hidup. Ada yang keluarganya sakit, ada yang anaknya sakit. Terkadang di dalam pekerjaan juga tidak mudah, banyak juga yang menunggu – nunggu saya, sedangkan saya terkadang masih membutuhkan waktu untuk berpikir.
.

Hal yang lain daerah The Guild, ada di perbatasan Jakarta dan Tangerang berada di lokasi yang cukup jauh dari pusat keramaian. Keramaian yang paling dekat adalah tetangga yang membuka warung kopi sederhana. Lokasi yang terpencil ini membuat The Guild menjadi sebuah tempat yang tersembunyi, tempat yang sempurna untuk saya bisa menarik nafas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta. Daerah ini adalah daerah yang cukup rawan sejak proses konstruksi, seringnya laptop hilang, motor hilang, penjambretan, rumah kemalingan, pencurian alat bangunan sering terjadi. Oleh karena itu dinding yang ada di the guild relatif tinggi. Oleh karena itu di sebelahnya diletakkan perpustakaan anak yang tanpa dinding, tempat ini ada tempat rekonsiliasi ulang dimana dengan adanya banyak anak – anak berkunjung, keamanan dan rajutan sosial akan tumbuh. Program – program berbagi buku terus kami lakukan dan semoga bisa makin membesar dengan banyaknya buku yang dibagikan dan dibaca oleh anak – anak.

.

Di antara seluruh hal – hal baik yang terjadi, Di titik ini fokus berkarya dibutuhkan, melakukan eksperimen – eksperimen arsitektur, mengevaluasi diri melalui spekulasi- spekulasi teori, menjelajah banyak hal yang perlu masih perlu disempurnakan. Di saat ini waktu untuk diri sendiri dibutuhkan supaya bisa melayani lebih baik, oleh karena itu The Guild adalah sebuah tempat yang bisa mewadahi untuk bersembunyi atau ngumpet. Sayup – sayup suara Miraclerich terdengar “papa ya kerja terus , ayo makan ! ” ^^

Kategori
blog

2 0 2 0 – Perjalanan Mencinta, Hidupku Hidup Kita…

“Brakkk !!!” Satu pohon kamboja di courtyard The Guild roboh, pohon ini roboh karena kemarin saya meminta pak Darwat supaya tanahnya bisa diratakan, karena rumputnya akan diganti kerikil untuk mempermudah perawatan. Tinggi kerikil yang cukup tebal 25 cm, membuat genangan air tidak terpapar oleh sinar UV. Ketebalan kerikil tersebut mengakibatkan permukaan kerikil selalu kering dan bersih. permukaan kerikil tersebut juga mengakibatkan plaza yang ada di tengah – tengah The Guild bisa digunakan lebih fleksibel tanpa becek, lembap, dan selalu kering. Kursi – kursi bisa diletakkan begitu saja tanpa takut kaki – kaki kursi kotor tertanam tanah. Besok pohon kamboja yang rubuh tersebut akan ditarik dan diberikan penahan supaya bisa tetap berdiri tegak. Ternyata dedaunan pohon tersebut juga terlalu lebat sehingga perlu dipotong, dan dirapihkan. Saya belajar bahwa di balik keringnya dan bersihnya kerikil yang ada, tersedia jaringan pembuangan yang dipikirkan supaya air tidak tergenang. Di balik rubuhnya pohon yang ada di tengah The Guild, ternyata ada pembelajaran yang signifikan
.
Proses pemotongan tersebut identik dengan proses perapihan keseharian mengorganisasi kehidupan sehari – hari. Dimulai dari barang – barang di sekitar saya sehari hari. Seringkali saya menata file buku supaya teratur meskipun rak yang didesain belum selesai dibuat. Dari pengaturan hal – hal yang kecil tersebut, saya belajar untuk bisa fokus. fokus ke hal penting di hidup kita ^^ tanpa perlu melihat orang lain. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dipercaya oleh Alfred Adler bahwa setiap orang membentuk karakternya melalui pengalamannya, dan membentuk masa depannya melalui intepretasi masa depannya sendiri seperti apabila kamu menginginkan sesuatu sebegitu kuatnya maka semesta akan terbuka untukmu.
.
Di awal – awal tahun 20 20. Saya berkata pada diri saya sendiri untuk “fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu. fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif. Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.” Baru kemarin saya bertemu dengan bu Tresnowati, beliau orang yang mengajarkan saya membuat core high rise tower dengan baik. Di tahun 2003 saya ingat saya duduk di belakang dia pada saya magang di Atelier 6 Arsitek. Kemarin adalah saat – saat saya menggali informasi mengenai Pak Adhi Moersid, Pak Yuswadi Saliya, dan bagaimana ekosistem Atelier 6 bekerja. Saya berharap bahwa ada sesuatu yang bisa saya berikan untuk mereka. Perbincangan mengarah ke bagaimana Bu Tresnowati memiliki arsip yang detail mengenai Taman Ismail Marzuki dan bagaimana relasi antar personal di dalam proyek yang berjalan bertahun – tahun. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa berpraktek di Indonesia, mengerjakan bangunan dengan ruang studio yang memiliki standar internasional tidak mudah dan membutuhkan jam terbang yang solid.
.
Laurensia dan Miraclerich mengingatkan tentang berjalan berdua – dua. Di dalam tahun yang baru 2020, dua nol dua nol, adalah sebuah tahun untuk berdua – dua, bersama – sama, dari dua menjadi puluhan, dari dua menghasilkan kesempurnaan (0) oleh karena itu ingatlah dari diri sendiri kita berdua – dua lalu karya besar akan lahir. Di dalam saya berintepretasi di tahun 2 0 2 0, ayah saya memberikan celetukan. “Jangan lupa cari ilmu , uang, dan dharma, tiada ketiganya, kamu ngga bisa berbuat lebih.” Celetukan beliau sungguh mendasar dan saya belajar untuk selalu mendengarkan dia. Jadi sebelum berdua – dua, cukuplah akan diri sendiri sebelum mengajak orang lain berjalan bersama.
.
Genapilah dirimu sendiri barulah matahari bersinar mengajak pasanganmu untuk mencinta dan awalilah perjalanan 2020 penuh kasih, yuk mari berjalan.
.

image_e6f04363-9990-4fdb-858d-b92388aae0c4.photo-2020-01-01-22-02-59

 

Kategori
blog

Boonserm Premthada

Beberapa bulan ini saya berusaha mencari teman untuk bisa berdiskusi mengenai arsitektur. Arsitektur di dalam pikiran saya adalah sebuah disiplin yang perlu untuk diperjuangkan dan dihayati yang dimulai dari hal yang kecil yang kemudian menjadi besar, merubah orang yang menempatinya termasuk merubah arsiteknya sendiri. satu karya menuju satu karya yang lainnya. Kualitas ditentukan bukan oleh berapa banyaknya kuantitas yang dikerjakan, kualitas diatas kuantitas. Kualitas pun tidak berbanding lurus dengan kepopuleran satu karya tersebut, penilaian satu karya terhadap yang lain muncul dari kekuatan proses pembuatannya. Hal tersebut yang seringkali membuat saya berdecak kagum karena semangat perubahan, semangat kejujuran, semangat untuk tampil dalam semangat eksperimen tanpa takut salah. Arsitek itu adalah manusia yang seharusnya tampil jujur, apa adanya.
.
Melalui Boonserm dan karyanya saya mendapatkan refleksi dari diskusi kita, saya berusaha merefleksikan pembicaraan kita, energi yang besar, keberanian yang besar, yang membuat refleksi terhadap proses untuk terus berbagi ke orang lain untuk menikmati karya yang mampu berbicara dari hati. Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain. Begitu Ia melihat perbedaan violet le duc terhadap john ruskin. Seketika itulah manifestasi antara konteks, teori, metodologi, implementasi menjadi satu kesatuan. Sungguh sebuah titik yang saya apresiasi. Keterbukaan, semangat untuk berbagi, kejujuran dalam berbuat berpikir dan membentuk masa yang sekarang membuat boonserm ada di konteks yang sekarang.
.
Keesokan harinya kami berangkat ke Kantana untuk melihat karyanya. Di dalam karya Kantana ia mengkonstruksi axis yang merupakan jalan masuk dengan bebatuan kerikil, kerikil yang ada tidak basah dan kering. Jalan itu memiliki drainase yang baik. Vista diciptakan dari bentuk bata yang disusun menyerupai candi yang membelah zona – zona yang berbeda. Keesokan harinya, bersama Nantapon, kita menuju karyanya selanjutnya yaitu sebuah pavilion yang memiliki fungsi restaurant, bangunan disini memiliki komposisi tektonika yang meredefiniskan tektonika tangga dan tampak kotak – kotak yang terletak di dalam sebuah kubus yang tersusun di dalam rangka yang dibungkus material triplek. Tangga tersebut menghubungkan mezanine dengan lantai dasar.setelah itu kami berjalan kaki ke bangunan sebelahnya terdapat bangunan yang sedang dibangun konstruksi yang sedang berjalan yang juga didesain oleh Boonserm. Bangunan itu menggunakan konstruksi glasblock yang ditutup sisinya oleh kayu lokal. Antar glassblock di perkuat dengan sambungan besi. Konstruksinya seperti kertas yang dilipat dan duduk di atas konstruksi beton. Setiap massa dipecah yang dihubungkan dengan jembatan, didalam massa tersebut terdapat solid void plat lantai yang menhubungkan secara visual axis dari satu massa menuju massa yang lain, menghadap ke pepohonan dan sungai.
.
Di era sosial media yang begitu cepat, karya arsitektur bukanlah soal jumlah like dan follower tapi adalah soal totalitas menjalani hidup sabatikal yang penuh pengabdian. Seringkali jalannya adalah jalan yang sunyi dan apabila ia menjadi jalan yang ramai biarkan kita membagikan kebaikan untuk orang lain dengan jujur apa adanya. Satu kali ini saya akan berdoa untuk boonserm untuk kebaikan yang dibagikannya ,termasuk untuk saya sendiri yang melewati doa ruang dan waktu. Hidup hanya sementara jalani dengan sungguh- sungguh. Pertemuan kami ditutup dengan sebuah pelukan untuk pesan untuk jangan pernah menyerah.
.
Ekonomi, sosial, lingkungan, manusia membentuk konteks – lahir arsitektur. Pribadi yang sederhana, bertemu orang – orang yang sederhana membuat kembali belajar. Boomserm membuat komposisi kantana dan dua karya lain yang saya kunjungi . Pendekatannya adalah pendekatan yang apa adanya. Arsitektur adalah karya yang memberkati klien, pengguna.
.
Di akhir perjalanan, Nantapon mengundang saya ke Samsen Hotel karya dari Chat Pong. Disitu istri dari Boonserm akan menyajikan dansa Zumba. satu dibalik tarian zumba di satu sisi di depan bangunan hotel, saya melihat ada boonserm, ada nantapon disitu ada murid- murid ada teman2 mereka dan saya melihat ada semangat persaudaraan untuk saling mendukung. Kualitas yang jujur dan jarang ditemui. Boonserm mengajak saya berbicara ke satu sudut ruangan dan ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya di dalam arsitektur. Satu diskusi tersebut merubah persepsi saya mengenai sebuah arti di dalam menjadi arsitek. Bahwa kita harus berjarak untuk bisa menilai, kita harus tekun untuk berproses, kita harus terus melayani sekitar kita. Ciptakanlah karya yang tumbuh dari tanah.
.
Photo of Boonserm’s work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.
.

Kategori
blog

Sebuah Catatan untuk Pameran Menjadi Arsitek dan Kelas Keprofesian UPH 2017

Saya menulis “Ini adalah buku anak – anak didik saya yang akan diluncurkan minggu depan tanggal 16 dilengkapi dengan pameran dengan judul menjadi arsitek di omah library, ada total 59 buku dengan 59 penulis dilengkapi dengan no isbn yang diregistrasi di perpustakaan nasional. Pada waktu pertama, diminta anis dan pak ferry untuk mengisi kelas keprofesian di kampus UPH, ya ok isinya tentang materi keprofesian, namun yang terpenting adalah bagaimana bisa mengetahui tentang keprofesian kalau tidak mencintai profesi ini. Buku ini adalah tentang cinta anak – anak ini terhadap arsitektur dan profesinya, melihat tata laku dan kerumitannya di dalam tulisan yang personal. Mereka 59 orang harapan kita, akan berpameran di omah library yang disiapkan oleh tim omah, dengan kurasi bersama anas hidayat, bangkit mandela , rifandi septiawan nugroho dan saya. Pameran dimulai tanggal 16 desember – awal januari 2018. Kita doakan semoga mereka semakin semangat dan termotivasi ya. ” 

selesai menulis ini, saya tersenyum, dan merasakan kebahagiaan, “fullfilment”

Sudah 3 hari ini saya meluangkan waktu dari senja hari begitu selesai bekerja untuk mempersiapkan pameran anak – anak didik saya di keprofesian UPH. Saya ingat bertemu teman lama untuk mendengarkan dirinya bercerita bahwa Theoretical Anxiety yang di tulis oleh Rafael Moneo akan sangatlah tidak mungkin untuk diajarkan di bangku S1. Mungkin yang dimaksud bukanlah tidak mungkin, namun dalam pikiran saya, perlu dikontekstualkan, atau disesuaikan dengan keadaan mahasiswa yang diajar, siapa dia, darimana asalnya, pernah mengambil mata kuliah apa saja, dan apa jati dirinya. Penyesuaian – penyesuaian tersebut menjadi penting seperti satu lokasi desain dimana pada awal hanyalah ada satu lahan lalu kemudian arsitektur muncul dengan kecantikannya bahwa tidak pernah ada sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, kesadaran akan apa saja yang diketahui menjadi penting, dimana proses pembelajaran pastinya untuk menambah kosa kata dalam memahami kompleksitas, kerumitan, ketidakterdugaan profesi arsitek dimana nanti orang setelah melalui proses belajar, akan lebih mudah untuk beradaptasi secara sengaja atau naluriah.

Sudah 4 bulan saya bersama anak – anak ini dengan jati diri mereka yang unik – unik. Masing – masing punya mimpi untuk bisa sukses, dimana mereka memiliki memori masa lalunya. Ketika saya diminta Pak Ferry dan Anis untuk mengajarkan mereka untuk keprofesian arsitek, saya mencoba untuk menemukan kegelisahan apa yang akan membuat kelas ini signifikan untuk pembelajaran murid – muridnya. Pembelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang memiliki keterbatasan profesi yang mengetahui tata laku, batasan, norma, kesepakatan umum di dunia menjadi penting. Yang saya takutkan adalah kita semua membuang – buang waktu bersama, tidak belajar, tidak tertarik, malah semakin apatis terhadap murid – murid, terhadap pengajarnya.

Theoretical Anxiety and Design Strategies in the Work of Eight Contemporary Architects ditulis oleh Rafael Moneo atas dasar ketertarikannya akan dunia teori arsitektur, ia memberikan interpretasi dan analisis terhadap beberapa karya arsitek berdasarkan inovasi teknologi, pendekatan design, dan teori yang dituliskan untuk menjelaskan karya mereka sendiri seperti James Stirling, Robert Venturi, Aldo Rossi, Peter Eisenman, Alvaro Siza, Frank Gehry, Rem Koolhaas, dan Herzog De Meuron. Pada akhirnya Moneo memberikan justifikasi bahwa keseluruhan teori itu tidaklah bisa diaplikasi dengan generalisasi yang bulat – bulat, namun justru kesetiap karya yang didesain oleh arsitek – arsiteknya perlu dilihat lebih detail tanpa perlu terperangkap dalam teori – teori yang digunakan arsitek bersangkutan.

Semua orang pasti ingin dihargai dan ingin sukses dalam kehidupan. Dihargai karena garis tangannya seperti itu apa adanya dan sukses karena berkecukupan materi dan batin sehingga menjadi manusia yang bahagia. [1] . Saya terus saja berpikir bahwa waktu kita di dunia ini tidaklah lama, setiap momentumnya adalah momentum untuk memberikan yang terbaik karena waktu tidak pernah kembali, dan semuanya pasti akan berakhir. Di dalam 4 bulan yang untuk saya ini beratnya bukan main, setiap minggu adalah minggu untuk kembali ke tumpukan buku yang begitu banyak. Seringkali saya tertidur untuk kemudian terjaga di saat subuh dan kemudian membayangkan apa yang akan dialami murid – murid saya, apakah mereka akan belajar dari materi ini, ataupun sebaliknya, tidur di kelas karena materi ini begitu membosankan. Seperti itulah setiap satu hari di dalam satu minggunya, dari petang menuju dini hari, belajar untuk mengajar, dan mengajar untuk belajar, setiap perputaran iterasi desain, ada kehidupan didalamnya.

Matahari terbit di pagi hari, membawa diri ini bangun lebih pagi dari biasa, hari ini adalah pembukaan pameran, saya berjalan di lorong pameran perpustakaan, memastikan bahwa semua panel tertempel dengan baik, dan 59 buku tersusun dengan rapih, dan saya pun merasa ini adalah sebuah kehormatan untuk diberikan kesempatan bertemu dan membimbing murid – murid saya ini. Kalian luar biasa!

catatan :

[1] Hal ini digaris bawahi oleh Robert Greene dalam bukunya Mastery, bahwa setiap orang perlu belajar mengenai bagaimana menjaga pikiran yang orisinal yang ia sebut Original Mind, dan  menyesuaikan terhadap bagaimana kita harus menghadapi orang – orang di sekitar kita yang dialami sehari – hari yang ia sebut Conventional Mind. Kombinasi dari keduanya ia sebut dimensional mind.

[2] Pembahasan mengenai Theoritical Anxiety di tulis khusus di dalam buku qualities of perception yang ditulis oleh Jeffrey Kipnis.

[x] cover by Pianist Nobuyuki Tsujii at Carnegie Hall his own composition “Elegy for the Victims of the Tsunami

Kategori
publication

Alfa Omega Featuring in Construction + Magazine for Issue No. 14

  

Kategori
projects

Project 13 – Tresno

Located on the outskirts of Tangerang, Karawaci, one of the cities next to Jakarta, Tresno is the design of a simple tropical house in Jakarta. It’s simultaneously designed by the Geomancy principle creating 9 squares of the grid which forbids and allows some functions in the zoning such as the area of the north is for master bedroom and south for the kid’s bedroom. The squares consist of the 3.6 m x 3.6 grid in 9 square boxes with cantilevered space to allow pool, garden, and connection from ground floor to 1st floor flows from service level on the ground floor to living level on 1st floor and at the end to more private level on the 2nd-floor plan. The orientation of the sunlight is studied so the exposure is minimum from the west side facade by having a solid wall and minimum opening. the ground floor and 1st-floor functions to open to the garden. The landscape of “The Pucuk Merah trees” functions as barrier sunlight, and creating a microclimate in the periphery of the site providing microclimate.

At the center of the house, there is a skylight design based on the elaboration of the Tumpang Sari technique which was done in Guha. Basically it is a way to provide air stacking effect to cool the inside atrium space. The atrium connects bedrooms, kitchen, living room. Tumpang Sari is a form of traditional Architecture in Java, that the house is an act of prayer towards life for positive contribution, no pretension, life learning. In this case, the learning curve of understanding the basic needs of grids, modules, and atrium functions are key aspects.

The design uses craftsmen who polished the concrete from the previous projects such as The Guild project before with module 600 mm width x 1200 mm, length to avoid cracking between joints. The steel welder who comes from Subang, West Java combines the lightness of perforated metal and crafted to create a layer of shadow and privacy. The perforated steel is positioned as wall and floor plate in the indoor mezzanine level and outdoor balcony. An idea is a functional approach plus expression raw, rough, and honest material in combination with steel, concrete, and wood plus landscape and lighting and at the end in a combination of tradition.

Kategori
projects

Project 12 – Guha Bambu

The new project, named Guha Bambu is on the east side. This building stands in the lot of 7.5 x 26 m size consisted of new 3 levels Bamboo structure, 2 levels of the basement. The technique to build the structure is elaborated from the experimental school of the alfa omega project. The technique separates the steel plane truss structure as a roof and bamboo structure to hold the 3-floor plate under the steel structure roof.

Kategori
projects

Project 11 – Guha

Guha is a combination of new and renovation projects based on previously “The Guild” located in Taman Villa Meruya. The Project consists of Omah Library, Dental Clinic, residence, and Realrich Sjarief’s studio named Guha Bambu, The studio is Realrich Architecture Workshop (well known by name of RAW Architecture). The renovation section is consisted of adding sequences for adding elaborated programs for Omah Library such as more storage for bookshelves, bookstore, and gallery. The circulation is designed to separate the public and private which is solved by separating the access at the entrance. The new project, named Guha Bambu is on the east side. This building stands in the lot of 7.5 x 26 m size consisted of new 3 levels Bamboo structure, 2 levels of the basement. The technique to build the structure is elaborated from the experimental school of the Alfa Omega project. The technique separates the steel plane truss structure as a roof and bamboo structure to hold the 3-floor plate under the steel structure roof.

Construction of Guha is elaborated into 9 materials, to sum up, craftmanship experimentation in Realrich Architecture Workshop such as steel, wood, glass, metal, gypsum, bamboo, plastic, stone, and concrete. The layout is flexible, and open while some of the rooms are opened by a minimum of 2 doors allowing further scenarios while the program can be changed. The idea is basically addressing the tropical climate to open north-south and close the facade on the west side. The Facade is basically basic material, concrete, vertical louver by steel and bamboo. The program it self challenge the typical housing in Indonesia to be mixed with more micro business programs such as education, even coffee shop in the future by maintaining the privacy and opening itself to the public. The construction is done by generations of craftsmen from west java which integrate some traditional fish mouth joint in bamboo construction and more modern construction methods such as steel and construction.

Kategori
projects

Project 10 – National Gallery of Indonesia

Realrich Architecture Workshop is awarded the first place in a competition for the National Gallery of Indonesia in Jakarta. Seeking to form a connection with the 2 heritage building, their proposal for a Gallery complex, entitled “Nature + Sky,” derives its form from the continuity from public and private spaces.

The heritage building, built during the Dutch-Indies government era, will be framed with a gallery with an expression of greeneries with museum underneath the landscape. The building frames the office tower as a background.

The lobby is located in the heritage building, making this building a hub for entrance and egress. A sky bridge connects the heritage building with the gallery building that frames it. The reception plaza is located at the western side of the Galeri Nasional Indonesia. An art plaza concept will be built along the east-west axis, and art stores will be located at the bridge where the axis the north-south and east-west met.

The project is divided into two components to demarcate public and private programming. First, In the lower level, gallery and retail space comprised of a permanent gallery, temporary gallery, art shops, a cafe, and meeting room are housed within a courtyard with a bridge to connect the heritage building and the new extension. Additional public interaction is encouraged through the inclusion of areas for hosting live workshops. Second, Above these functions, the private programming – consisting of operational office, library, and rooftop garden terraces is designed. The installation of these serves as an abstract nod to the region’s vernacular style of vertical wooden cladding.

In general, the building masses of the Galeri Nasional Indonesia complex respond to two main axes. The Monas axis and the Galeri Nasional heritage building which was connected to the Gambir train station. The Monas axis is realized through the construction of an underground tunnel. The front and rear side of the Galeri Nasional complex hold interconnected open plazas as a response to the Monas area (at the front) and the Ciliwung River (at the rear). The Galeri Nasional Indonesia depicts the simplicity of Indonesian architecture in harmony with nature where earth and sky merge.

Kategori
projects

Project 09 – Dancer House

Located in The Green Precinct, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Dancer House (well known by Kampono House) sited on the corner of the complex facing west and south. Its total area is 319 sqm, and having land shaped round. The design use this existing situation to emphasize the land potential of scenery and continuous attributes by juxtapositioning axial line and curvature lines, both in the interior and exterior part. The concept is elaborated from the previous Realrich Architecture Workshop’s project such as the Wood Box project, the project is a new way of how intuition, iterations, and functions shape its form.

From outside, the house shows its extroverted while from inside, neatly put dwelling program kept family activities intact and still private. Land orientation influences the design process as an opportunity to maximize lighting reception and vistas. Double height window standing still an upfront side that facing Southwest, which shaded by 2 existing Albizia Chinensis trees. The design process changes in a flow/continuous manner into final shape following its ground and scenery, as to resemble a dancing house, which was inspired by Mrs. Adhisty’s profession as a dancer.

Entering the house, an open plan living room welcomed inhabitants and visitors. The ground floor ceiling is extended to maximize its spaciousness by a height of 4 meters. On top of the living room, the airflow mechanism consists of air stacking effect, -a lightwell, with a size of 180×180 cm and periphery opening as cross air circulation. The swimming pool is located on the second floor to guard user’s privacy, this position is achieved by raising the level of ground for about 2 m above, with land cut-and-fill method. Its positioned below curvature roof and having outmost scenery of the entire neighborhood.

The roof garden is placed at the rooftop to insulate the building from heat. This space also serves as a relaxing place for an immediate garden party. Below on the first floor, there is 3 bedroom beside central stair. Two-bedroom are designed in 18 sqm for children, adjoining to terrace from curvature component. The master bedroom has a bigger area of 30 sqm, with a walk-through closet for clothes and powder area, adjoining master study, and facing directly to the swimming pool.

Photography by Eric Dinardi

The dance floor is placed on the same floor between the master and kid’s rooms. This space also works as a second living room for the family. The service floor and the wet kitchen are located in the semi-basement floor, along with utilities as Genset and wáter pump.

The material used in the house consisted of local cream Tulungagung marble, solid Merbau wood, and steel pipe for handrailing. For handrailing, it is designed vertically placed each in 80 mm distance, put horizontally for kid’s safety. It used local ceramic for service floor and coated bare concrete for outdoor finishes.

Dancer House is one example of a project which exercises the modification of form and program with open plan circulation, in the tropical climate of Bumi Serpong Damai Tangerang, Indonesia.

Kategori
projects

Project 08 – Alfa Omega

Alpha Omega school is an educational building with the spirit of locality. Located on Tangerang city, it sat on 11700 sqm area with the prior condition of the swamp and paddy field. The design responded to this unstable soil condition by raising structure to 2.1 m high above the ground. The site itself was chosen as part of the design scheme, —corresponding to its natural surroundings, in order to give children a sense of closeness to nature, thus invoking outdoor-learning experience.
(The building integrates 4 modular buildings, with an efficient access point in one central courtyard, due to limitation of local land zoning of what can be built and what can not be built.)

photography by Eric Dinardi

The solution to answer the brief of the project is to create an optimum collaboration, or bridge relationship in the economic and creative process of construction in two important levels of masonry steel and bamboo construction which can enrich the economic impact of the surrounding.
Steel structure, not only for its ability to hold structural load effectively but is also chosen for its construction speed and vigorous durability. The whole building based on this framework, from foundation to roof component. Steel in its variation from thickness to treatments, opening chances in versatile details of the design. While bamboo, on the other hand, is a flexible matter that requires little maintenance in long-range which always available in that area. This availability also related to brick and concretes in that area. The structure is combined with bamboo for the roof to create a parabolic shape which enhances the character of Nipah which can be tilted or bent while keeping the cost constraint on budget. The brick is stacked in solid void pattern to allow cross air circulation in the facade. Meanwhile the polished bare concrete is used as floor finishes as its durability for a daily school activity.

Another target of the project is to create a collaborative bonding within people and its buildings. Initiating a healthy social cycle with local involvement has proven to unlocked the collective creative process of the construction. This achieved by hiring diverse local craftsmen, rather than employing prime developers. This project completed by local stone masonry, to steel welder from the Salembaran area, and bamboo craftsmen from the Sumedang area. Each has its originality, without losing its ubiquitous understanding of school design.

The local craftsmanship is the answer of 3 problem, which is: 1. Optimum resource, 2. Time constraint, 3. Manpower. The material resources can be found within 5 km from the site to accelerate development while reducing the carbon footprint at the same time.

In 4 months range, the craftsman is categorized into two types:

(1) Light structure, which is concentrated on the roof. Constructed by a triangular light steel frame per 600 mm, man-powered by 40 Sumedang craftsman. Its low-cost material had reduced 30 % initial budget, using bamboo and Nipah entirely.


(2) The heavy structure is built for modular classrooms by Salembaran craftsman constructing masonry and steel framework. By the first 2 months, light structure craftsmen had constructed dock, followed by roof and ceiling details. In followed 4 months they joined in heavy structure part. The school is built in 4 months’ time.

atap sekolah alfa omega di Telok Naga, model pertama menggunakan struktur bambu. Model kedua menggunakan struktur besi. Kedua model tersebut menggunakan curva parabloid untuk konstruksi bubungan atap.

The school designed as a passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation in its construction. The open-high ceiling designed as an airing pathway, followed by porous solid-void brick on each side of the classroom’s wall. This way, interior airflow is circulated optimally without the necessity to use the air conditioner. For heat problem, the structure on top of the corridor is cantilevered by 2000 mm to create natural sunshade while providing protection from heavy rainfall. Nipah’s roof, brick’s solid void facade, bamboo’s ceiling, and concrete’s floor finishes provide low thermal conductivity materials that allow the building to cool down in an average whole year, interior temperature to 27-celsius degree. it the opening in the building designed for 100 percent daylight until afternoon, and 100 percent LED in the night time.

Kategori
projects

Project 07 – The Guild

Located at the corner of the Street at Villa Meruya residential precinct, The guild shows its introvert side with the solid and high border wall, the solid fence without a gap to peek. As if to withdraw from the noisy Jakarta city and build its own sanctuary, the guild is solid from the outside but open on the inside. The Building consists of one residence, living room, studio a place to work for Realrich Architecture Workshop, Omah Library, one open courtyard, and a kitchen. The entrance is introduced by concrete, steel, glass, and polycarbonate sheet. The access from public and private is separated by an open-air corridor. The access to the House and the Studio are separated by 2 x 2 m foyer.

photography by Eric Dinardi

The bedroom is located on the 1st floor while the other program is located on the ground floor. The circulation is interlocked to give easy access for the owner to access the studio below. Living room and also the dining room with a total area of 35 sqm located on the ground floor, while the more private family rooms are located on the first floor and limited by the void of stairs to separate family area and the studio.

Hot west-east tropical sunlight is blocked by placing a solid wall and bathroom while the facade is open to the north-south orientation. Several pyramids shaped form is also introduced to allow sunlight coming to the middle of the building and allowing fresh air circulation through the small gaps in between glass and concrete. The building system uses an automatic watering system that applies zero greywater runoff and zero stormwater runoff. It means the whole water is collected to the retention basin with 8 m3 capacity and 2.75 x 3 m of catchment basin with 1,5 m of depth that also contributes the catchment to the neighbor.

photography by Eric Dinardi

The studio consists of 6 x 6 m square shapes, a small void. The small void has a tapered skylight made of concrete with several small gaps to provide light and air circulation. The library named Omah which is open at the weekend has a size of 3,4 x 12,3 m. It is sunken at perimeter area, half below the height of 0:00 meters considering public access and the needs that require a condition to keep books from the sun and constant temperature with the minimum possible to use the air conditioner. At the heart of the house is a courtyard with a fish pond with a background of the 3.5 m radius circle window with 3.50 m looking through the family room. The Guild is one example of a project which exercises the modification of form and program with interlocked circulation in the tropical climate of Jakarta, Indonesia.