Kategori
blog

Mengenal Arsitektur Indonesia

Suatu hari di saya bertemu dengan satu kawan saya, ia senior saya yang berumur beberapa tahun diatas saya. Saya belajar menulis, dan mendesain dari dia. Satu saat ia menelpon saya, nadanya gusar seakan – akan seperti baru kejambret di pasar atau seperti rumahnya baru saja kemalingan.

“Bro lu ada waktu gue mau cerita”

Kemudian berceritalah ia mengenai kejadian – kejadian disekitar dia melihat media dan perasaannya. Ia punya perhatian bahwa etalase arsitektur Indonesia hanya milik segelintir orang tertentu, orang yang dominan, orang yang itu – itu saja. Parahnya media juga menselebrasikan hal tersebut. Ia memberikan contoh mengenai beberapa pameran sebagai referensinya bahwa hanya segelintir orang yang dominan yang dimasukkan terkait dengan hegemoni kekuasaan. Yang menariknya justru narasinya berbicara kebalikannya.

“Namun terlepas dari semua itu, kami hanya berharap ada yang dapat kita semua sama-sama pelajari dari penyelenggaraan pameran “Segar” ini. Jika tidak mengenai teknis penyelenggaraannya, dan jika tidak mengenai karya-karya yang ada di dalamnya, paling tidak kita bisa sama-sama belajar mengenai kekerabatan, kesejawatan dan kehangatan yang terjalin dalam tiga hari penyelenggaraannya.” (lihat link diatas Segelintir Wajah Arsitek Indonesia–Pameran “SEGAR” – )

Sugih tanpa bandha, kaya tanpa harta. Kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup… Kita juga dituntut sebelumnya mau melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, bahkan tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, dalam kehidupan kita, budi baik kita, akan senantiasi diingat orang lain, …

Mungkin kawan saya ini berpikir bahwa atas nama Arsitektur Indonesia, kenapa yang ikut hanya seputar arsitek yang itu – itu saja, apa yang digunakan atas nama Indonesia. Perasaannya itu malah berkebalikan dengan narasi pamerannya, kok malah begitu sih.

Saya bertanya ke kawan saya ini untuk memancing dari mana asalnya muncul kekesalan ini.

“Bro bukannya wajar hal ini terjadi, kan sah – sah saja satu orang lebih terkenal dari orang lain, kalau memang lu mempermasalahkan ketenaran ?”
.
Ia menjawab, “Bro ini bukan urusan cari duit atau rejeki aja atau urusan cari pamor aja, atau urusan keberuntungan segelintir orang saja. Ini urusan kebanggaan kita bersama. Lu setuju ngga kalau ini urusan Arsitektur Indonesia urusan kita bersama ?” Urusan duit ini dibahas di dalam tulisan Madeg Pandhito.

Di dalam hati saya berkata ke diri saya sendiri, orang ini boleh juga, setidaknya ada dedikasi dirinya untuk orang lain, tulus juga. Lalu saya bertanya ke dia

“lalu lu maunya apa, gimana caranya ?” Saya suka kalau dia sudah menggebu – gebu seperti ini.
.
“Begini bro sejak jaman dulu Indonesia terkenal dengan politik Identitas bro, ini yang perlu kita kritisi.”

“Gue punya caranya bro yang sederhana tapi mengena”
.
“Apa bro ?”
.
“Pertama semua harus tahu bahwa arsitektur itu ngga cuma soal arsitektur bro, ilmu ini punya hubungan dengan disiplin yang lain, ngga autis, ada lingkungan, ada sosial budaya, ada ekonomi, ada juga isu ideologi. Lalu ada beberapa tahapan untuk memajukan isu ini lebih dalam dan luas, kita bisa mengambil contoh di CIAM atau, di Jepang dengan gerakan Metabolist.”

Lalu ? Saya bertanya lagi penasaran dengan isi otaknya. Saya bertanya lagi dengan beberapa lalu, dan akhirnya ia menimpali.
.
“Ya dengan mengerti hal tersebut arsitektur bukan cuma milik kalangan tertentu bro, arsitektur Indonesia itu punya semua orang. Dan kita perlu punya platform yang memiliki nilai itu. Lu tau kan senior gue itu sukanya main politik identitas?”

lha ? lalu saya bilang, lah ujungnya ini tentang personal dong, hubungan elu sama senior lu bro, mana ada urusan sama Arsitektur Indonesia ?
.
ngga usah ngurusin orang lain lah bro kita urusin diri kita sendiri aja lu tau nanti lu juga punya murid,
.
dan ada pepatah bilang kan bro

“Murid jatuh tidak jauh dari gurunya ?”
.
Kawan saya ini menjawab “Asem lu,
setidaknya gue kan mau merubah keadaan bro.”
.
Kemudian saya pun menyambung “Nah karena itu gue bersyukur lu jadi temen gue bro”

Ini adalah diskusi – diskusi sederhana mengenai politik identitas. Saya percaya bahwa hal – hal yang besar dirajut dari semangat – semangat kecil untuk menembus empati yang lebih dari sekedar mencari identitas, yaitu semangat persaudaraan. Dan perasaan bahwa diri saya atau kita bukan siapa – siapa. Apresiasi kita bisa lantunkan ke kawan saya satu ini yang sungguh gelisah akan sebuah perubahan. Perubahan itu perlu ditetapkan dulu di hati. Lalu baru kita cari jalan tengahnya.

Mari yuk..

lalu di Whatsapp grupnya, muncullah satu poster tentang pameran di Rio dan teman saya bergumam, “jancuk”.

dan saya pun membalas, “yess, jadi ada bahasan lagi, jadi saya tunggu responmu kawan. ” cerita ini akan bersambung dan akan ada skenario – skenario lanjutan mengenai Arsitektur Indonesia.

Catatan :

1. Pameran Segar dibahas di https://sugarandcream.co/segelintir-wajah-arsitek-indonesia-pameran-segar/

2. Identitas dibahas oleh Professor Kemas Ridwan Kurniawan di dalam https://www.researchgate.net/publication/322660754_DINAMIKA_ARSITEKTUR_INDONESIA_DAN_REPRESENTASI_’POLITIK_IDENTITAS’_PASCA_REFORMASI

Kategori
blog

Proses Percaya

Proses untuk percaya membutuhkan proses yang tidak sebentar, dari situ pun juga terjadi di dalam studio kami, bagaimana berinteraksi dengan dialog dengan tukang.

“Pak setelah ini kita kerja apa ?”, pak Amud bertanya ke saya ketika satu saat saya berkunjung ke Alfa Omega untuk finalisasi pengecekkan kualitas pekerjaan. Saya sebenarnya sudah menyiapkan beberapa proyek yang menggunakan material bambu. Hanya saja terkendala beberapa hal, yang pertama : tipe klien yang saya prediksi tidak akan cocok menggunakan material bambu karena ketidaksiapan R +D yang dilakukan di studio, kedua : proyek tersebut hanya mengharapkan bambu sebagai material murah. Saya pun menjawab “Ada pak nanti saya kabari ya.”

Di dalam pikiran saya, saya tidak memiliki kesempatan apapun untuk tukang – tukang ini bekerja. Tetapi masakah relasi yang sudah dimulai di pembangunan sekolah Alfa Omega tidak bisa berlanjut. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau kita persiapkan infrastruktur untuk studio, dimana tim pengrajin bambu ini bisa mendapatkan pekerjaan dan studio bisa mendapatkan manfaat.

Kebetulan kami memiliki sebidang lahan kosong di samping the guild yang selesai di tahun 2016 (lihat proyek The Guild).

The Guild : Realrich Architecture Workshop is like a Roseto that believe on the workshop between the craftsmen and designer for having the best solution in the design

Dari situ saya merencanakan sebuah kerangka kerja untuk studio 10 tahun ke depan, yang relevan ke dalam apa yang kami akan hadapi di keluarga juga proyek terhadap tim ke depannya. Intinya, bahwa untuk dalam jangka waktu 6 bulan, infrastruktur studio perlu siap untuk mengorganisasikan tim menjawab beberapa tantangan ke depan seperti desain, manajemen, struktur, dan desain mekanikal elektrikal dan pemipaan. Untuk itu kita perlu studio yang baik dimana satu sama lain bisa berkomunikasi antar tingkat, memiliki fleksibilitas untuk bisa berubah – ubah, dan tidak mengganggu tetangga dengan apa yang saya rencanakan.

Pada waktu tim bambu ini pindah dari Alfa Omega, barulah saya mengetahui secara detil bagaimana tim ini bekerja. Tim ini bangun pagi di saat subuh untuk berdoa, kemudian mereka menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri, mengasah pisau. Selepas selesai bekerja mereka menghabiskan waktu untuk membuat lampu – lampu, saya merencanakan pada waktu itu untuk mendesain sebuah lampu bambu yang saya beri nama Amud. Selepas jam studio, baru biasanya saya berkesempatan untuk berkunjung ke lokasi proyek ditemani pak Amud.

Ada 3 struktur tukang yang ada di proyek ini , sama seperti proyek Alfa Omega : 1. Kepala Tukang, 2. Tukang, 3. Asisten. Asisten biasanya terdiri dari orang – orang yang masih keluarga atau teman dekat dari tukang yang lebih muda. Desain dari Guha Bambu tidak menggunakan gambar yang semestinya. Desain dibuat dari kesepakatan – kesepakatan yang menggunakan bahasa tubuh, bahasa verbal, dan peragaan langsung. Yang digambar secara langsung hanya grid berjarak 3m dan 3.6 buang sisi barat dan timur

Anatomi dari Guha Bambu : Construction of Guha is elaborated into 9 materials, to sum up, craftmanship experimentation in Realrich Architecture Workshop such as steel, wood, glass, metal, gypsum, bamboo, plastic, stone, and concrete. The layout is flexible, and open while some of the rooms are opened by a minimum of 2 doors allowing further scenarios while the program can be changed. The idea is basically addressing the tropical climate to open north-south and close the facade on the west side. 

Disinilah evolusi dari rumah bambu tersebut, seakan -akan tradisi itu terimplantkan di dalam tubuh The Guild, ia berusaha masuk seperti Rhizoma, namun masih ada di perimeter. Ia berusaha membayangi, langkah – langkah prosedural yang taktis, dan statik di The Guild. Di dalam bangunan Guha setiap harinya adalah ketidak pastian. Saya bisa mengira – ngira seperti apa, seperti membentuk sesuatu yang primitif berdasarkan kepercayaan. Saya harus percaya ke pak Amud juga timnya.

Desain sendiri berada di bawah atap existing yang terbuat dari plastik transparan. Dimana ini adalah bangunan sementara tempat untuk merakit besi yang ditujukan untuk satu proyek di Permata Buana dan di Meruya. Oleh karena itu logika dari bangunan ni adalah logika peneduh. Buat dulu peneduhnya baru selesaikan bawahnya. Jadi tahap pertama adalah menyelesaikan atap bangunan, baru pondasi di buat belakangan, dan sebagainya.

Ada beberapa elemen yang dipertahankan seperti daerah kamar mandi, pipa pembuangan, termasuk hasil – hasil sisa tanah dari The Guild. Hal ini termasuk juga menggunakan hasil – hasil bongkaran perancah untuk dijadikan struktur bangunan baru. Berbeda dengan bangunan Hall Alfa Omega yang menggunakan maket sebagai gambar kerja, asisten saya saja bingung ini gimana bikin maketnya, Adik saya Mondrich juga bingung, “ini gimana bikin denahnya ko.”

Yang menarik adalah proses membuat tangga, saya iseng bicara ke pak Amud. Pak tau buntut Merak, kan itu anggun sekali, lambang cinta. Kita buat seperti itu ya, juga bentuknya mirip daun, sambil saya memperagakan dengan bambu – bambu bekas dan coretan garis yang ada di triplek. Besoknya jadilah bentuk bambu yang intutif.

Yang menarik adalah studio kami baru mendapatkan suplier lem konstruksi dimana lem tersebut bisa menyatukan kedua material yang berbeda menjadi satu. Kami coba menyambung bambu tersebut dengan lem, barulah ditutup dengan anyaman. Memang proses ini adalah proses yang hibrida, campuran, adaptasi. Di dalam proses ini juga ditemukan bagaimana screeding semen menggunakan serbuk kayu bekas dari workshop dicampur dengan lem konstruksi untuk menjaga retak.

Beberapa eksperimen ini baru dipakai di proyek ini, perasaannya seperti terjun dari ketinggian, masuk ke lautan, ditarik oleh gaya gravitasi membuat kita turun dengan kecepatan konstan, mau tidak mau akan masuk ke lautan. Dari situ munculah perasaan – perasaan yang tidak terduga. Hari berikutnya saya melihat mereka melompat – lompat ada sekitar 10 orang untuk menguji kekuatan struktur tersebut. Pada akhirnya saya akan menatap ke pak Amud. Beliau akan menjawab “Tenang aja pak, sudah saya perhitungkan.”

Kategori
blog

Madeg Pandhito, Untuk Siapa, Untuk Apa ?

Ingsun, yang dalam bahasa Jawa berarti kawula, kula, abdi, dalem, ulun, nglulun, Ingwang, mami, kita, ingong, ngong, inyong, dan nyong. Hal ini untuk mempertanyakan keakuan saya di dalam bertata laku.

Beberapa hari terakhir ini saya ragu – ragu untuk menelisik satu terminologi Nusantara. Mengapa ? Sederhananya hal ini menjadi barang perebutan ketika terkait dengan masa depan arsitektur Indonesia. Nusantara sebenarnya adalah sebuah usaha untuk menemukan benang merah Arsitektur Indonesia. Andrea Peresthu di dalam diskusi soal bagaimana arsitek Indonesia bisa berjalan sejajar dengan arsitek luar negeri ia berkata “work! work! buktikan arsitek indo bisa mendunia spt arsitek irak ini” banyak hal yang perlu dilakukan. Lihat postingan Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion

Dan hal tersebut bisa dimulai dengan memperhatikan suara anak – anak muda supaya mereka bisa didukung akan keberadaannya. Hal ini sifatnya resiprokal , kita mendukung kita akan didukung, apa yang kamu beri itu akan kamu tuai. Melalui literasi dan forum – forum yang memberikan tempat untuk mendengar yang muda, hal ini bisa dimulai. Penting untuk bisa menghargai pribadi yang gelisah, supaya mereka bisa berkembang menembus jamannya, bekerja menurut suara hatinya. Bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya.

Kedua ada cerita tentang hal ini. Saya berdiskusi dengan satu kawan arkeolog (Mbak Mitu namanya), dan membaca beberapa paper. Bahwa ada Politik Identitas yang ada di Arsitektur Indonesia.Hal ini yang kita bisa bahas selanjutnya ya. Saya berdialog dengan mbak Mitu, “Mbak secara etimologinya Nusantara identik dengan kolonialisasi dari Majapahit, lalu apa sebaiknya kita memakai kata ini apabila satu kata itu memiliki makna yang kontradiktif dimana hanya mewakili golongan tertentu, kebudayaan tertentu yang dominan ? Yang hal tersebut rawan menimbulkan konflik horisontal? ” (hal ini dibahas Yasmin Tri Aryani di dalam kerja kuratorialnya di Eindhoven, saya akan bahas ini di lain kesempatan). ini blog beliau : https://katadansketsa.wordpress.com/

Karya Yasmin Tri Aryani di dalam mempertanyakan identitas sebagai obyek komodifikasi.

Mitu kemudian menjelaskan tentang teknik komunikasi supaya tidak memancing polemik, bagaimana memilih judul, menyeleksi isi yang memiliki kedalaman dan menjelaskan dengan contoh – contoh. Kesimpulannya adalah Nusantara sendiri sudah menjadi sebuah terminologi yang awam, mengenai sebuah semangat untuk mencari identitas Indonesia. Yang kedua, ia menjelaskan pentingnya mereferensikan darimana pemahaman nusantara itu berasal, penting untuk meredefinisi istilah – istilah Arsitektur Nusantara, Vernakular, Tradisional dan menghubungkannya dengan disiplin lain seperti arkeologi, antropologi, dan kajian disiplin yang lain.

Saya mendapatkan pembelajaran bahwa mengenal Arsitektur Indonesia sendiri begitu penting, sekaligus membuka mata akan pentingnya eksplorasi dan belajar lintas golongan dan teritori juga sama pentingnya. Belajar, belajar, dan belajar, menjadi murid kehidupan.

Kenusantaraan sendiri adalah sebuah definisi tentang kesetempatan, sebuah semangat untuk mengolah apa yang ada di dalam lahan, sumber daya manusia dan alam dengan kritis. Sehingga Arsitektur Nusantara sendiri bisa dipandang sebagai sebuah cara pandang menuju ke masa depan, dan banyak mahasiswa bisa melihat “Kenusantaraan” apabila kata itu yang mau dipakai sebagai bingkai ke masa depan.

Salah satu kuncinya ada melebur atau inklusif, bukan dominan atau eksklusif. Dimana semua parameter diperhitungkan, ada dualisme luar diri, dalam diri, dimana hal ini dibahas oleh Antoniades di dalam Poetic of Architecture sebagai sebuah kemauan untuk bereksplorasi. Atau digagas lebih lanjut oleh Apurva Bose ke dalam sikap untuk mau berkorban, mengajar, mengantarkan ilmu ke generasi lebih muda. Hal ini juga tersirat di dalam perjalanan Ki Ageng Suryomentaram, bahwa menjauh dari keramaian memberikan jarak dari keriuh rendahan untuk mendapatkan diri sendiri , dan setelah itu pengembangannya bisa keluar. Hal tersebut dimulai dari prosedur di dalam diri sendiri dahulu, Penguasaan diri. Penguasaan diri ini penting untuk mengenal Arsitektur Indonesia, milik kita bersama dengan lebih baik. Jadi bukan tentang istilah – istilah kulitnya tapi juga tentang isinya. Keduanya sama – sama penting. Jadi mari yuk mengenal Indonesia lebih dalam.

Sebagai Arsitek professional, kita punya tugas – tugas dasar. Hal ini yang saya terus bagikan ketika mengajar, ini lah praksis, pendekatan aksi reaksi antara metode desain dan refleksi atas metode tersebut. Hal ini disebut praksis. Cara kerja Model Praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Intinya tugas arsitek adalah berkarya dengan eksploratif, puitis, dan mempersiapkan transfer ilmu ke penerus kita, dunia yang indah untuk arsitek muda. Lihat buku menjadi arsitek untuk mengenal apa itu tugas arsitek.

Di dalam alam profesi arsitek, ada dua buah kutub yang berseberangan dan saling melengkapi, keduanya berjalan beriringan tanpa meninggalkan satu sama lain. Alam pertama adalah Taksu, Taksu adalah sebuah bentuk dari keutuhan. Taksu sendiri ada karena proses repetisi terus menerus, berusaha melakukan evaluasi diri di dalam setiap tahap perancangan. Taksu ada karena proses belajar di dalam sisi seorang arsitek. (Lihat postingan mengenai Aalto)

Kutub kedua adalah Materi, atau mudahnya “Fee/Uang”. Salah satu kawan saya Anas Hidayat bicara soal ini di bagian prolog buku yang saya dan Johannes Adiyanto tulis beberapa bulan yang lalu berjudul “Fee”. Ia menulis “Jika hanya mencari uang saja, jadilah sodagar. Cari selisihnya, dan selesai! arsitek jelas bukan nabi mungkin memang pedagang tetapi yang punya harga diri dan punya nilai-nilai ya, harga diri, itu yang justru tak ternilai yang tak bisa dinominalkan sebagai fee itulah fee-lo-so-fee, phee-losophy.”

Tulisan Prolog Anas Hidayat : Anas Hidayat menjelaskan dengan mudah bagaimana cara menyusun fee sebenarnya didasarkan seberapa besar anda mau menakar diri, dan seberapa besar orang lain menghargai anda, dan terakhir adalah seberapa besar kebahagiaan yang anda dapatkan sampai misal bisa bekerja tanpa bayaran.

Tentunya pembahasan ini terkait kondisi ekonomi setiap orang. Tanpa adanya materi, percuma untuk bicara Taksu. Hal ini sama saja dengan membicarakan Taksu tanpa adanya materi, sama seperti berjalan diatas air, karya luar biasa tidak akan pernah lahir karena karya yang biasa – biasa saja tidak akan pernah lahir.

Dan pastinya semua arsitek ingin melahirkan karya yang luar biasa, tunggu ya ada caranya, nanti akan saya bagi caranya, caranya mudah, satu demi satu, ada prosedurnya. Simak terus ya, nanti dipostingan selanjutnya.

Kemudian di dalam keragu – raguan saya. Saya berdiskusi dengan Prof. Josef Prijotomo. Dan saya berbicara mengatakan “semoga rekan2 bisa makin percaya diri dan mau membentuk logika dan framenya dan kawan2 cukup excited, salam Pak Josef, saya perlu menjaga tenaga dulu jaga kesehatan jg ya. Nanti jgn lupa frame untuk Indonesia sy kontak pak Gunawan pak Yuswadi pada tertarik nanti kita isi ya, ” Pak Josef membalas , di dalam merencanakan wacana untuk arsitektur nusantara, saya sedikit banyak berdiskusi dengan pak Abidin Kusno, saya pikir ia ada dibalik kutub pemikiran Gunawan Tjahjono dan Josef Prijotomo.

Saya kemudian menjelaskan ke beliau bahwa Omah akan mempublikasikan kuliah wacana Nusantara. Ia bersemangat dan mengambarkan hal tersebut akan menggelinding dan tak terhentikan. Ia memuji Abidin Kusno, Omongnya bisa sana halus dan pelan, namun omongannya adalah guntur yang menggelegar. Ia berkata “aku sungguh bahagia punya murid yang mampu lebih dari aku.”

Ia menitipkan juga cara berkomunikasi bahwa berdialog dengan para tetua atau manula mesti pilih waktu atau situasi yg pas. Bahwa bisa saja mereka kurang berkenan dgn orang muda. Ia menceritakan bagaimana ia di coret oleh satu kampus terkenal karena kuatnya budaya penghormatan Juga, jangan posisikan sebagai sebuah pengadilan. Yang muda mungkin tidak merasa mengadili, tapi tidak begitu dengan perasaan para tetua.

Saya menulis seperti ini untuk menggambarkan setiap orang punya eksistensinya sendiri, adalah tugas kami yang muda untuk menyapa, yang tua, adalah tugas yang muda menyambut tongkat yang tua, dan terkadang meminta nasihat. Saya ingat kawan saya M. Cahyo Novianto menuliskan satu kata “Madeg Pandhito”

Karya Tisna Sanjaya “Madeg Pandhito” adalah sebuah metafora dari orang tua yang bijaksana, tinggal di sebuah “pertapaan” dan selalu bersedia memberi nasihat kepada siapa pun yang membutuhkan.

Saya kemudian menulis “Iya saya akan coba jaga semampu saya, semoga menjadi jembatan yang rahayu, Benar tidak ada pengadilan, Saya akan kawal, mengerti. Ini adalah estafet bukan salah menyalahkan, Saya akan highlight ke beberapa orang, Supaya bisa menjaga perasaan, …Seluruh pemateri adalah jembatan Itu highlight saya akan saya kondisikan.”

Kembali ke awal, di balik keragu – raguan akan kelas ini, sebenarnya pertanyaan muncul dari hati saya. “Apa yang ditakutkan ?” Apa bila seorang murid ingin mencari sebuah jawaban, ada baiknya kita melangkah tanpa keragu – raguan, namun apabila yang dicari hanya sebuah ketenaran, ada baiknya urungkan niatmu. Ya saya sudah tau jawabannya.

Bersamaan dengan permenungan tersebut. Satu teman saya Johannes Adiyanto mengirim sebuah puisi yang didapatkan beliau dari satu acara di Malang dari Johannes Widodo.

Anak

oleh Khalil Gibran

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

Mereka lahir lewat engkau,

yang rindu akan dirinya sendiri.

tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,

namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

namun tidak bagi jiwanya,

yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap. “

Puisi berjudul Anak dari Khalil Gibran ini menyentuh lubang hati Johannes Adiyanto dan kemudian menyentuh lubang hati kawan – kawan dan pada akhirnya menyentuh lubang hati saya yang sedang ada di alam mimpi.

Lalu sayup – sayup saya kemudian terbangun karena ada kehangatan yang muncul. Ada suara halus menyapa “Anakku, muridku, mari kita berjalan, … kawan – kawan akan turun tangan.”

Kita haturkan Puji Syukur, Rahayu.

Kategori
blog

Craftgram is in Casa Indonesia : Proses Menjadi Mahir

Thank you Casa Indonesia for the synopsis of Craftgram book.

here is the detail of the publication :

Jo Adiyanto serta Realrich Sjarief mencentuskan karya tulisan
bertajuk Craftgram: Craft + Grammatology yang menilik
kehidupan empat arsitek legendaris seperti Le Corbusier,
Antoni Gaudi, Laurie Baker, dan Antonis-Noemi Raymond.
Turut disunting oleh Anas Hidayat, buku ini menekankan
pengetahuan terkait ketekunan serta ketulusan hati dalam
menjalani profesi arsitek berbentuk panduan jitu guna
mencapai kelihaian hakiki.

Kategori
blog

Sumber Kencana Lestari Warehouse

Gudang ini terletak di daerah Cipondoh, Kota Tangerang, salah satu lahan kosong di sisi barat jalan yang padat akan toko material, onderdil, bengkel, dan ruko kecil, terutama di sisi utara lahan. Bangunan ini bersebelahan dekat dengan dealer mobil dan pabrik yang jumlahnya dibawah hitungan jari. Jalan tersebut cukup untuk 2 jalur kendaraan, masing-masing dapat mengakomodasi truk dan terkoneksi dengan beberapa gang dimana perumahan warga.
.
Daerah ini memiliki masalah banjir dimana di sisi timur lahan yang menempel dengan jalan seringkali terendam air hujan. Hal ini dikarenakan lahan yang cenderung datar, sedikit lebih rendah dari jalan dan tidak adanya saluran air kota. Pada jalan tersebut terdapat beberapa bangunan yang memiliki saluran air di pinggir jalan namun tidak terhubung satu dengan yang lain.
.
Pak Sukardi sendiri memiliki karakter religius dan artistik yang diimbangi dengan bu Yeyen yang rasional ia menangani manajerial PT. Sumber Kencana Lestari. Ada 3 kriteria desain di dalam perancangan, Pertama adalah gudang yang fungsional, dan fleksibel yang mampu menampung barang. Kedua, gudang dan kantor yang tidak panas dan mendapatkan cahaya cukup. Ketiga adalah bentuk bangunan yang artistik, untuk menggambarkan karakter yang bersahaja namun penuh kejutan. Hal ini memicu perdebatan dari mana memulai proses desainnya.
.
Pembahasan di proyek ini dibagi kedalam bentuk

  1. Konteks
  2. Pertemuan dengan Klien
  3. Dunia Pertama:Dunia Seni – Biomimesis
  4. Dunia Kedua:Anatomi Bangunan
  5. Dunia Ketiga:Tectonics Grammar
  6. Dunia keempat:Pencahayaan dan Penghawaan Alami

5 hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain.
.

rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien :Sukardi+Yeyen, alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best, @fianali, dan @arlned

.
3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.

Kategori
blog

Heavenrich, selamat datang Surga

Ketika Kehamilan Laurensia sudah memasuki minggu ke 38, minggu tersebut adalah minggu kelahiran anak kami. Ini adalah kehamilan yang ke 6 bagi Laurensia. Laurensia sudah terbiasa dengan pulang pergi ke dokter kandungan untuk menanyakan kondisi kehamilan untuk kemudian pulang dengan kesedihan, begitupun kali ini kami pulang dengan ketakutan, takut karena kondisi bayi kami dan masa depan yang tidak bisa terprediksi, kehamilan kedepan, dan persentase keberhasilan yang rendah yang menjadi ketakutan kami.

Miraclerich lah yang mengatakan ke kami bahwa bayi kami adalah laki – laki bukan perempuan seperti USG yang dilakukan ke dokter kandungan ke Laurensia sebelumnya. Setiap malam, ia mendoakan adiknya supaya tetap sehat, di tengah – tengah suntikan yang perlu dilakukan setiap hari ke perut Laurensia, senyum, pelukan, doa Miracle menjadi senyum tersendiri bagi Laurensia. saya percaya bahwa “Tuhan mendengarkan doa dari anak – anaknya.”

Dulu Cherry, anak pertama kami, di dalam ketiadannya menyisakan kesedihan, lubang yang menganga ketika ia tiada. Saya percaya anak Tuhan tetap menjadi malaikat. Mata ini berair ketika mendengar doa Laurensia. “Tuhan apabila masih diberikan kesempatan, berikanlah satu orang malaikatmu untuk menemani kami.”

Berulang kali Laurensia menanyakan tentang nama anak kedua namun saya tidak menjawab karena nama itu muncul karena nama Heaven atau surga itu ibaratnya ada di antara kehidupan dan kematian. Mungkin saya hanya tidak rela kehilangan orang – orang yang saya cintai karena makna ganda tersebut. Saya hanya terlalu jauh berpikir antara makna surga dan dunia. ya nama bayi kami Heavenrich panggilannya even yang berarti begitu ia muncul surga akan datang ke sekitar dirinya. Heaven, heaven, nama yang mengingatkan tempat dimana anak – anak yang menjadi malaikat.

Hari itu, hari rabu pagi kami menginap satu malam dengan protokol COVID, pergi ke rumah sakit Graha Kedoya dengan masker, ia masuk ke kamar operasi jam 06:00 pagi, perawat mempersiapkan dan kami berdoa.

Keesokan dini hari, Laurensia pun dibawa ke ruang operasi dan saya ditemani pak Misnu menunggu di ruang tunggu di depan pintu ruang operasi. Saat – saat itu adalah saat – saat terlama untuk menunggu, waktu sekarang berhenti. Saya ingat Pak Misnu yang sudah ikut keluarga kami dari saya belum lahir, totalnya lebih dari 38 tahun dan sekarang membantu saya dan Laurensia. Ia sudah seperti ayah saya sendiri. Ia ada di dalam kelahiran Miraclerich, ketika saya rapat pertama di dalam perintisan studio, ia menemani menemui klien pertama, menemani proyek terbangun pertama, ia juga yang menemani untuk ikut survei ke daerah Taman Villa Meruya, tempat tinggal kami sekarang. Dan sekarang ia menemani saya lagi. Pak Misnu ada di saat kami sedih dan bahagia. Saat – saat ini saya tidak mau berandai – andai hanya berdoa semoga semua bisa selesai dengan baik.

10 menit berlalu,..

20 menit,…

30 menit,…

45 menit,…

50 menit,..

kemudian ada panggilan

“Pak, bayinya sudah keluar.”

Suster perawat memanggil, dan disitu sudah ada dokter Bertha yang menunggu dan menjelaskan bahwa semua baik – baik saja.

Heavenrich sudah lahir, berkulit putih bersih dengan berat badan 3.3 kg. 1 jam kemudian, Laurensia keluar dan saya pun bersyukur. Hari yang baru untuk keluarga kecil kami. Matahari bersinar cerah, setelah berkat (Miracle) hadir di dalam curahan Tuhan yang berlimpah (rich) kemudian surga pun datang ke dunia, kami adalah orang yang beruntung bisa dititipkan malaikat Tuhan untuk memberikan kidung surga.

Terima kasih Dokter kandungan kami namanya Dr. Raditya Wratsangka. Sungguh saya bersyukur semua bisa selesai dengan baik dan sekilas saya bisa melihat di samping dokter Bertha, Cherry muncul menemani dan menjaga Heaven.

Kamu sudah besar ya nak, papa kangen kamu, terima kasih ya sudah menemani mama dan adikmu.

Kategori
blog

Harris+Tiffany House


Rumah ini didesain dalam jangka waktu 1 tahun yang membentuk proses di desain Rumah Harris + Tiffany. Di dalam awal proses sempat dibicarakan apa perlu rumah ini dihancurkan atau bisa tidak menggunakan hal – hal yang sudah ada. Dari diskusi yang muncul, rumah ini pada akhirnya menggunakan sebagian pondasi dan dinding yang lama sehingga biaya konstruksi bisa ditekan dengan optimal. Ibaratnya rumah baru yang berdiri (mengangkangi|memayungi) di atas struktur yang lama.

Rumah ini terlilhat tidak biasa, namun setiap pertimbangan desainnya memiliki prosedur di dalam keputusan desain yang terkait dengan seni dan sains bangunan yang dibahas di dalam 7 cerita:


1. Proses yang Panjang
2. Eksplorasi Bentuk
3. Translasi 3 buah dunia
4. Alam Fantasi : Stereotomic Artist
5. Alam Imajinasi : Diskursus
6. Alam Realisasi : Peta Konstruksi
7. Peta Metode Desain
Ketujuh hal ini menggarisbawahi pola dasar pemikiran yang saling terajut di dalam referensi dan metode desain. #rawarchitecturebest adalah cerita dimana saya (Realrich) menghargai arsitektur dan proses, tim, klien @harris_go@twidjojono , alam, saudara, guru dan sahabat yang sudah membantu selama ini. Terima kasih untuk tim saya yang luar biasa, hugs. Yuk buat karya yang baik dan memuaskan,tq ya. #realricharchitectureworkshop Design Team (Current) : @rawarchitecture_best@fianal, dan @viviysantosa_
.
3d Artist oleh @ed.visualization thanks ed for the great visualizations.

Kategori
blog

Etos

There’s only one thing more precious than our time and that’s who we spend it on.”-Leo Christopher

Ibu saya selalu menemani ayah saya ketika bekerja. Saya ingat ayah saya bercerita ketika ibu dan ayah saya menghadap ke Teddy Boen di pagi – pagi justru ketika Pak Teddy belum ke kantor. Pak Teddy pun terkejut melihat ayah ibu saya disana, intinya mereka ingin mendiskusikan beberapa tagihan tambahan karena memang diperlukan. Dan benar saja Pak Teddy selalu mengingat ibu dan ayah saya. Mereka selalu berpesan bahwa bangun pagi – pagi, selalu ada rejeki untuk orang yang bersiap – siap dan tak kenal menyerah, biasa jam 5.00 mereka sudah bangun dan menunggu untuk ngopi atau ngeteh bersama.

Ada alasan kenapa saya membuat kisah tentang ayah dan ibu yang memang adalah dasar kami berpraktik yakni sederhana, tidak bertele – tele dan tetap personal. Ibu saya atau seringnya dipanggil ama sama cucu – cucunya ini paling gokil, ia adalah ibu ketua RT yang pernah mimpin demo bersama warga gara – gara gorong – gorong air ditutup sama pemerintah. Untuk saya, ibu kami ini adalah ibu yang terbaik di dunia dan saya mendapatkan energinya semangatnya yang ngga bisa diam. Didiemin sedikit ssstttt “Eh tau – tau udah manjat lemari dia ngejer cicak.” Lol. Hal tersebut membuat hal tersebut juga turun ke Miraclerich punya energi yang luar biasa alias tidak bisa diam. Ibu saya selalu menemani ayah saya, mencatat administrasi, sembari mengurus keperluan rumah tangga kami, termasuk mengajarkan aturan yang disiplin tanpa mengikat. Ia menghargai waktu dan mereka memilih dengan siapa mereka meluangkan waktu. Laurensia sekarang juga membantu kami di dalam pengaturan studio yang tidak mudah.

Studio @rawarchitecture_best pun dibentuk dengan energi yang seperti itu, sebuah prinsip energi yang positif, desain seperti mempersiapkan sebuah hidangan makanan, preparation, preparation, preparation. Waktu yang panjang dilakukan untuk pengecekan – pengecekan gambar. Setiap pagi saya mencoba untuk mengecek

kesiapan setiap hari, meskipun tidak mudah untuk menerapkan hal tersebut di tim besar, segala sesuatu yang dimulai dari hal yang sederhana akan membuahkan hasilnya positif. Setelah ini baru saya akan menyajikan proses berkarya studio kami, setelah mengetahui etos yang merupakan titik awal studio yang berisi anak – anak muda yang sungguh saya banggakan.

.

Kategori
blog

INDE Award 2020 – Bayangan Sebuah Proses

Cinta yang terbaik muncul lebih karena terbiasa, tulus tanpa pretensi. Contohnya studio arsitek adalah simbol, profesi adalah simbol, prestasi adalah simbol. Seperti layaknya simbol ia punya dua sisi mata uang yang selalu kontradiktif. Satu sisi ia memberikan penghargaan juga memberikan kenanaran akan lupa diri, atau mudahnya satu sisi memberikan kedekatan dan di sisi lainnya memberikan jarak dari kegembiraan penjelajahan. Hal ini diibaratkan perjalanan menjembatani simbol menuju hal yang esensial/mengakar. Salah satu hal yang perlu dipikirkan bisa jadi hal – hal yang non-esensial (biasa) itulah yang esensial, membuat perjalanan menjadi penuh dengan kegembiraan paradoks di dua sisi mata koin yang berbeda.

Salah satu cara yang bisa diterapkan dengan kontemplatif adalah menembus 7 lapisan “chanel” desain ke atas : relasi klien, estetik, ekpresi, wacana publik, lokalitas, pragma. Juga menembus 7 lapisan ke bawah : bentuk, kulit, kerangka, reprogram, MEP, material, kawruh jiwa. Kerja kriya (pemikiran tulisan ataupun karya dan jiwa ada di tengah – tengah). Penembusan lapisan – lapisan tersebut muncul dari inisiatif penjelajahan yakni kegembiraan berproses (dilampirkan di post mengenai progress tahun demi tahun).

Terkadang hasil dari proses itu tidak datang cepat, dibalik ketidak pastian menunggu hasil tersebut muncul perasaan cemas, bingung, tertekan. Sebenarnya hal tersebut wajar, contohnya di balik kegembiraan sebuah hasil yang muktahir sebenernya rasa “gembira” tersebut terkait dengan “bayangan” yang muncul di dalam sebuah proses. Saya sadar seperti halnya karakter Kabar gembira yang juga memiliki kabar sedih, begitupun juga karakter kabar sedih yang memiliki kabar gembira. Kedua hal tersebut memberikan bayangan – bayangan yang perlu diberikan jarak untuk menemukan inti diri kembali. Di balik berbagai hambatan akan covid 19 yang nyata- nyata memberikan sebuah perubahan yang mau tidak mau harus diamini, memang kita semua, termasuk saya sendiri harus berubah, beradaptasi menuju new upnormal (meningkat) bukan abnormal.

Ada kabar gembira untuk rekan-rekan saya di studio dan klien – klien dari panitia INDE Award 2020, bahwa @rawarchitecture_best masuk nominasi. Yang bisa saya lakukan adalah mengucap syukur lalu kembali jalan lagi, menyadari dibalik kabar gembira juga muncul bayang bayang badai yang masih belum selesai, kita bertransformasi menuju new upnormal. Yuk.

Kategori
blog

Elang Teluk Betung

Ini ayah saya, namanya Asnawi Sjarief, opa kami, yang ngga segesit ibu saya tapi matanya tajam seperti elang.Ia adalah seorang pemain bulutangkis yang sempat jadi elang Teluk Betung, meskipun badannya kecil ia terkenal dengan jumping smashnya. Ia menyaksikan kehebatan satu legenda pelatih Indonesia Tong Sin Fu dalam melatih reflek, teknik bermain dengan etos berlatih tinggi sampai berkelahi ketika harus mempertahankan prinsip hidupnya. Tong Sin Fu sekarang melatih Lin Dan, dan kaliber dunia lainnya menjadi juara dunia. Dulu om Tong sempat melatih Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, Hariyanto Arbi, Hendrawan. Ia melatih murid2nya untuk meraih puluhan gelar juara termasuk 3 olimpiade, piala Thomas, Uber dan banyak piala lainnya. Untuk saya figur Tong Sin Fu dan Ayah saya adalah figur dasar bagaimana arsitek perlu memiliki prinsip hidup dan latihan yang intensif.

Seorang ayah adalah pelita bagi anak – anaknya, begitupun ayah saya yang sudah disebut opa oleh cucu2nya. Saya sangat kangen sekali untuk berkunjung ke tempat ayah saya hanya untuk sekedar mendengarkan ia mengulangi kisah – kisah hidupnya bertemu orang – orang luar biasa termasuk ketika ia membicarakan terus Teddy Boen dan menanyakan ke saya, kamu sudah kontak pak Teddy Boen ?

Akhirnya saya bertemu pak Teddy sebelum pada saat itu sata bertemu almarhum pak Adhi Moersid. Saya diceritakan mengenai prinsip – prinsip hidup berelasi dengan engineer dan menegaskan bahwa empati, hati diperlukan di dalam menjalani praktik. Ternyata beliau adalah insinyur struktur dari Said Naum, yang merupakan partner almarhum Pak Adhi Moersid dan Atelier 6 Arsitek. Teddy Boen hanya berkata your dad is really good person, teliti dalam bekerja dan tidak omong besar. Hidup ini memang berputar seperti pasir di pantai kadang ia tertarik ke dasar lautan mendalami prinsip hidup untuk kembali ke daratan mendalami bahwa semua hal ini terelasi.Le Corbusier memahami ini di dalam gambaran saat – saat dirinya bermain di pantai dan menemukan poetic objet, dari situ ia memahami bahasa alam melalui kerang, bentuk alam.

Setelah saya selesai menemui almarhum Adhi Moersid dan Teddy Boen. Pak Teddy menitipkan 10 buah buku dan prototipe rumah tahan gempa yang berguna untuk masyarakat yang adalah dokumen publik

saya kembali ke rumah ayah saya. Saya ingat ia menyambut ke depan dan langsung menanyakan , gimana sudah bertemu ? Saya mengiyakan dan melihat matanya berbinar – binar.

Kategori
blog

Mindful Project

“Wisdom says we are nothing. Love says we are everything. Between these two our life flows.” – Jack Kornfield
.
Kemarin saya bertemu Hendrick Hengki,ia datang ke The Guild, sudah lama saya tidak bertemu dengan dia. ia aktif di dalam Mindfull Project, sebuah gerakan meditasi yang melayani orang- orang yang membutuhkan ketenangan di dalam bekerja, dan membutuhkan ketenangan di dalam menjalani keseharian. Ia adalah salah seorang yang berbakat dan saya ingat karena Tugas Akhirnya yang menggabungkan kesatuan jiwa, tubuh, dan akal sebuah kesatuan di dalam desain sebuah tempat peribadatan.
.
Saya menyapanya, untuk menanyakan kabar – kabarnya, proyek apa yang sedang ia kerjakan, mendesain beberapa proyek termasuk memperhitungkan fengshuinya. Ia kemudian berbicara “Kak mau saya bantu liat Feng Shui bangunan ini (The Guild) ? ” kemudian ia menjelaskan teori energi, berdasarkan tanggal lahir, bulan lahir. Ia pun meneruskan dan memberikan saran, tempat duduk kakak sebaiknya dipindah kesini kak, ke sisi timur supaya lebih harmonis. Tempat tidur pun harus dirubah kesini. Perubahan – perubahan yang diusulkan tidak terlalu banyak, namun saya terkesan karena keinginannya untuk membantu saya, keluarga, dan studio. Ia datang untuk bertegur sapa, menciptakan perubahan. Ia pun bilang kak, ini efeknya tidak akan langsung, butuh beberapa waktu.
.
Kita di dalam hidup memiliki jalan masing – masing, di tengah persimpangan kita bertemu dan berpisah, bertemu dan berpisah kembali. Di dalam pertemuan itu ada setiap pembelajaran, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri begitu melihat murid, sahabat kita berkembang dengan caranya masing – masing, keunikannya masing – masing. Harmoni muncul menampakkan bahasanya.
.
Sunyata in the architecture, how to make holistic experience :) Hendrick Tanuwidjaja grows his mindful project has shared his valuable view for us, me and fam, thank you :)
.

Kategori
blog

5 Levels of Architecture Mastery

Tahun ini umur saya 38 adalah saat – saat yang membuat saya bersyukur karena dikelilingi keluarga dan teman yang luar biasa. Bisa berkarya, bisa terus belajar, bisa terus berbagi. Rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk merayakan ulang tahun yang sederhana. Terima kasih Laurensia, dokter gigi terbaik yang menemani langkah – langkah, juga malaikat kecil kami Miraclerich. Malaikat – malaikat kecil yang menjaga langkah kita sebagai orang tua untuk memberikan contoh dan teladan yang baik. Masalah – masalah terus muncul di sekitar kita, dinamisnya pekerjaan arsitek, perjumpaan setiap hari dengan orang – orang yang berbeda, dan ekspektasi desain yang terus berkembang, lalu bagaimana menata tingkatannya untuk menuju sebuah penguasaan yang mumpuni ?
.
Miraclerich, adalah anak pertama kami, ia hidup di dalam lingkungan arsitektur yang kreatif yang dikeliling dengan staff – staff saya di kantor. Tiga kali dalam satu minggu Ia menemani Laurensia ketika berangkat untuk berpraktek, ia biasa dititipkan di orang tua kami untuk menemani orang tua kami yang kangen dengan cucunya. Hal yang paling saya takutkan adalah apabila Miraclerich tumbuh sebagai anak yang egois dan lepas dari konteksnya sebagai makhluk sosial. Dimana kami tidak bisa mengatur Miracle setiap saat seperti mengatur apa yang ia lihat, interaksi apa yang ia lakukan, siapa saja temannya. Miracle sekarang sudah bersekolah, ia berumur 4 tahun. Laurensia berusaha untuk mengatur jadwal Miracle supaya ia bisa mengerti pentingnya pengaturan waktu, mengerti kewajiban untuk belajar mengeja atau menulis dan haknya untuk bermain – main. Terkadang ia meminta ijin untuk menonton youtube, gadget, ataupun bermain – main dengan motoriknya. Di balik cepatnya informasi on-line (Internet of Things) yang ada sekarang ini, Jonah Berger memberikan beberapa informasi bahwa interaksi offline masih memegang peranan penting untuk menunjang sebuah kesuksesan. Ia berkesimpuan bahwa cepatnya informasi tidak membuat manusia kehilangan posisinya sebagai makhluk sosial.
.
Di tahun 2019, kegiatan sehari – hari saya lakukan dengan kegiatan praktek sebagai arsitek, menulis, mendesain, dan mengajar. Di semester pertama 2020 ini, saya mengajar mata kuliah strategi arsitektur berkelanjutan. Sebelum itu, saya menulis buku Methodgram dibantu oleh Anas Hidayat sebagai teman berdiskusi dan rekan penulis, juga Jo Adiyanto sebagai penyunting yang membantu meruntunkan pemikiran saya yang rhizomatik (bercabang – cabang). Hal yang ditulis tersebut berdasarkan dari 7 tahap metodologi desain untuk arsitektur berkelanjutan. Hal ini didapatkan sebagai pengetahuan dasar ketika kerja di Foster and Partners, London yang menurut saya penting untuk dibagikan di dalam membentuk metodologi arsitektur yang berkelanjutan. Metodologi desain berguna karena bisa memetakan permasalahan desain, menyederhanakan permasalahan yang kompleks di dalam skala bangunan yang semakin besar, tim yang semakin beragam, dan waktu yang terbatas. Hal tersebut dimulai dari :

1. Konteks, pemahaman site yang menyeluruh
2. Massa bangunan yang responsif
3. Selubung kulit bangunan
4. konfigurasi ruang dalam
5. Optimalisasi desain sistem mekanikal, elektrikal, dan pemipaan
6. Optimalisasi penggunaan energi dan air
7. Material yang ramah lingkungan

Ketujuh hal tersebut membentuk sebuah hasil relasi antara klien dan arsitek dari analisa tapak, brief, program, desain, dan implementasi. Desain hanyalah satu aspek dari 5 aspek tersebut, hal tersebut merujuk kepada kata “kontekstual” untuk memberikan tanggapan dari lahan, pengguna, dan ilmu desain untuk sendiri melalui analisa ulang terhadap metodologi desain yang dimiliki sebelumnya. Keseluruhan pengalaman ini, ternyata saling terkait satu sama lain membentuk kemajuan yang saling mempengaruhi. Metodologi desain penting untuk bisa dikuasai. Satu saat ketika saya berdiskusi dengan teman saya Nantapon di Bangkok di dalam perjalanan ke Ayuthaya. Ia bertanya mengenai tingkatan kemumpunian seorang arsitek. Saya berusaha merangkum apa yang saya alami, dan menjelaskan ke Nantapon mengenai 5 tingkat kemumpunian.

Tahap pertama adalah, tahap pengenalan diri sendiri untuk mengakui siapa kita, apa yang membentuk kita dan menghargai orang – orang yang membuat kita seperti sekarang untuk membuat kita memulai fase tekun dalam bekerja, cinta dalam berbuat, sebuah perayaan untuk tradisi berbuat dengan sikap untuk selalu belajar, tekun, dan rendah hati, sebuah sikap pengabdian…

Tahap kedua adalah tahap memodifikasi ruang, yang salah satunya adalah teknik sterotomik (melubangi), hal ini dimerupakan proyeksi garis tangan. Proyeksi garis tangan ini adalah sebuah aktualisasi diri yang membutuhkan keberanian untuk menempuh resiko untuk menembus stereotipe bentuk – bentuk yang sudah menjadi asumsi dasar desain…

Tahap ketiga adalah tahap menguasai tektonika grammar, sebuah teknik penguasaan detail di tahap implementasi yang fokus kepada optimalisasi bahan, waktu pengerjaan, dan penemuan alat untuk mempermudah sistem kerja…

Tahap keempat adalah tahap metodologi, dimana desain bisa menyelesaikan masalah yang sulit dan kompleks dengan cara dan strategi yang sederhana …

Tahap kelima adalah evaluasi total, sebuah tahap memutarbalik atau melawan metodologi sendiri, tektonika yang sudah terbangun, ruang yang sudah dicipta, dan titik awal yang menjadi identitas arsitek
.
Menuju fase lahir kembali … membantu orang lain untuk menemukan jalannya masing – masing
.
Hari ini adalah Tahun baru bulan, adalah saat – saat dimana berkumpulnya keluarga, reuni, dan penanda musim semi dimulai. Betapapun jauhnya seseorang dari rumahnya, setiap orang filosofinya akan berusaha untuk pulang untuk makan bersama. Kemarin saya sampai sedikit terlambat untuk berkumpul bersama keluarga, karena perlu untuk mengunjungi satu pekerjaan di Jakarta Pusat. Ayah saya sudah menunggu untuk sedikit ngobrol dan sedikit berdiskusi tentang proyek – proyek, dari beliau saya belajar untuk sabar, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain, fokus ke hal – hal yang dasar dan sederhana untuk berkarya. Untuk kami, saat – saat ini adalah saat dimana bulan datang, inilah saat untuk menghargai orang tua, bertemu saudara – saudara dan belajar untuk berbagi di dalam amplop kantong merah merupakan pertanda hati atau cinta yang berisi sebuah harapan untuk keberuntungan, kesuksesan, kesehatan di masa depan untuk kawan – kawan semua dimana semoga kantongnya semakin tebal, jiwanya semakin mulia, dan hidup semakin bahagia menuju ke bulan. Tuhan tolong berkati teman – teman semua supaya selalu dimudahkan jalannya diberi kesuksesan berupa : kesehatan dan rejeki, dan pertemanan yang selama – lamanya dan diberikan sebuah fase untuk lahir kembali.
.
Salam dari kami sekeluarga @laurensiayudith + miraclerich ^^
.

Kategori
blog

Secretive – The Guild

Sudah sekitar hampir 2 tahun diri ini tidak menulis di catatan Mayonnaise Jar, salah satu alasannya adalah membutuhkan waktu untuk mengorientasikan titik awal. Titik awal adalah sebuah proses dimana perlu untuk mereposisikan kembali tujuan untuk menjalani kehidupan sehari – hari yang dilakukan. Setelah 2 tahun ini, baru kali ini bisa memiliki jeda di dalam praktek. Di dalam reposisi tersebut pasti ada hal – hal yang dihindari memutuskan untuk mulai fokus untuk area- area yang menjadi kegembiraan dan kebahagiaan. Laurensia pun sibuk membantu di studio untuk mengatur manajemen studio di sela – sela kesibukannya sebagai dokter gigi. Miraclerich pun mengalami perubahan yang pesat dari 2 tahun menuju 4 tahun, ia sudah bisa mengatur dirinya sendiri, buang air, belajar, mandi ia mencoba untuk mandiri dan tidak bergantung dari kami. Miraclerich sudah bisa mulai makan sendiri dan mulai tidak merepotkan mamanya meskipun ia masih belum bisa tidur sendiri. Dan kakinya masih suka menendang kepala yang seringkali membangunkan di pagi – pagi subuh yang berguna untuk mengingatkan untuk memiliki saat teduh di pagi hari.

.

Perubahan di dalam pekerjaan ini ditandai dengan mulai nampak proyek – proyek dengan klien – klien yang sungguh menghargai apa yang sedang dikerjakan. Hal lain juga terlihat dari selesainya 4 buku RAW Architecture : The Guild, Dancer House, Tectogram, Methodgram yang membantu reposisi titik awal tersebut ke titik yang baru dimana evaluasi beberapa teori yang berbeda bisa dilakukan yakni teori yang membentuk titik awal (origin), teori mengenai penggubahan ruang, teori mengenai tektonika, dan teori mengenai metode desain. ke 4 buku tersebut saya tulis bersama Anas Hidayat, seoarang dalang dari Surabaya. Di titik ini tidak dibutuhkan drama – drama di dalam proyek yang memang tidak perlu. Dengan keseharian yang ada sekarang kebahagiaan bisa dirasakan dengan keseharian bersama laurensia, miracle, dan kawan – kawan sedulur dan beberapa kawan yang bisa langsung dekat meski baru kenal.
.
Setiap pojok di The Guild adalah cerita tentang proses yang terjadi, perubahan tempat, konstruksi, penambahan konstruksi yang seringkali ditandai dengan mutilasi terhadap bentuk – bentuk yang terjadi dengan tujuan eksperimentasi untuk membuat teknik yang semakin ringan, mudah dan murah. Mutilasi adalah sebuah daya eksperimen yang berani untuk memotong, menambah, merubah ulang desain yang sudah terkotak – kotak di dalam iterasi sebelumnya. Mutilasi ini adalah tahap adaptasi total, itulah tahap dimana proses pembuatan karya di antara tegangan industri dan tradisional dimana terciptalah komposisi material natural fiber dan material industri. Proses ini membutuhkan kerelaan untuk menciptakan iterasi dari proses konsep sampai keterbangunan di dalam lingkaran untuk terus belajar dan bereksperimen. The Guild adalah representasi komposisi adaptasi total dengan permainan berbagai material yang berbeda – beda yang dikonstruksikan untuk semakin ringan, mudah, murah.

.

Ada beberapa hal yang saya sangat banggakan di dua tahun ini. Dua tahun ini saya mencoba mencarikan pekerjaan untuk tim pengrajin saya asli Sumedang dan akhirnya berhasil dengan adanya klien – klien yang tertarik untuk bereksperimen. Memang sulit mencari klien yang mau melakukan eksperimen. Saya terkadang mendapatkan proyek renovasi – renovasi kecil untuk mereka selama proyek eksperimen bisa terus dilakukan di tahun pertama, terkadang kami harus mmembantu dapur tukang – tukang kami supaya bisa menyambung hidup. Ada yang keluarganya sakit, ada yang anaknya sakit. Terkadang di dalam pekerjaan juga tidak mudah, banyak juga yang menunggu – nunggu saya, sedangkan saya terkadang masih membutuhkan waktu untuk berpikir.
.

Hal yang lain daerah The Guild, ada di perbatasan Jakarta dan Tangerang berada di lokasi yang cukup jauh dari pusat keramaian. Keramaian yang paling dekat adalah tetangga yang membuka warung kopi sederhana. Lokasi yang terpencil ini membuat The Guild menjadi sebuah tempat yang tersembunyi, tempat yang sempurna untuk saya bisa menarik nafas sejenak dari hiruk pikuknya Jakarta. Daerah ini adalah daerah yang cukup rawan sejak proses konstruksi, seringnya laptop hilang, motor hilang, penjambretan, rumah kemalingan, pencurian alat bangunan sering terjadi. Oleh karena itu dinding yang ada di the guild relatif tinggi. Oleh karena itu di sebelahnya diletakkan perpustakaan anak yang tanpa dinding, tempat ini ada tempat rekonsiliasi ulang dimana dengan adanya banyak anak – anak berkunjung, keamanan dan rajutan sosial akan tumbuh. Program – program berbagi buku terus kami lakukan dan semoga bisa makin membesar dengan banyaknya buku yang dibagikan dan dibaca oleh anak – anak.

.

Di antara seluruh hal – hal baik yang terjadi, Di titik ini fokus berkarya dibutuhkan, melakukan eksperimen – eksperimen arsitektur, mengevaluasi diri melalui spekulasi- spekulasi teori, menjelajah banyak hal yang perlu masih perlu disempurnakan. Di saat ini waktu untuk diri sendiri dibutuhkan supaya bisa melayani lebih baik, oleh karena itu The Guild adalah sebuah tempat yang bisa mewadahi untuk bersembunyi atau ngumpet. Sayup – sayup suara Miraclerich terdengar “papa ya kerja terus , ayo makan ! ” ^^

Kategori
blog

2 0 2 0 – Perjalanan Mencinta, Hidupku Hidup Kita…

“Brakkk !!!” Satu pohon kamboja di courtyard The Guild roboh, pohon ini roboh karena kemarin saya meminta pak Darwat supaya tanahnya bisa diratakan, karena rumputnya akan diganti kerikil untuk mempermudah perawatan. Tinggi kerikil yang cukup tebal 25 cm, membuat genangan air tidak terpapar oleh sinar UV. Ketebalan kerikil tersebut mengakibatkan permukaan kerikil selalu kering dan bersih. permukaan kerikil tersebut juga mengakibatkan plaza yang ada di tengah – tengah The Guild bisa digunakan lebih fleksibel tanpa becek, lembap, dan selalu kering. Kursi – kursi bisa diletakkan begitu saja tanpa takut kaki – kaki kursi kotor tertanam tanah. Besok pohon kamboja yang rubuh tersebut akan ditarik dan diberikan penahan supaya bisa tetap berdiri tegak. Ternyata dedaunan pohon tersebut juga terlalu lebat sehingga perlu dipotong, dan dirapihkan. Saya belajar bahwa di balik keringnya dan bersihnya kerikil yang ada, tersedia jaringan pembuangan yang dipikirkan supaya air tidak tergenang. Di balik rubuhnya pohon yang ada di tengah The Guild, ternyata ada pembelajaran yang signifikan
.
Proses pemotongan tersebut identik dengan proses perapihan keseharian mengorganisasi kehidupan sehari – hari. Dimulai dari barang – barang di sekitar saya sehari hari. Seringkali saya menata file buku supaya teratur meskipun rak yang didesain belum selesai dibuat. Dari pengaturan hal – hal yang kecil tersebut, saya belajar untuk bisa fokus. fokus ke hal penting di hidup kita ^^ tanpa perlu melihat orang lain. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dipercaya oleh Alfred Adler bahwa setiap orang membentuk karakternya melalui pengalamannya, dan membentuk masa depannya melalui intepretasi masa depannya sendiri seperti apabila kamu menginginkan sesuatu sebegitu kuatnya maka semesta akan terbuka untukmu.
.
Di awal – awal tahun 20 20. Saya berkata pada diri saya sendiri untuk “fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu. fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif. Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.” Baru kemarin saya bertemu dengan bu Tresnowati, beliau orang yang mengajarkan saya membuat core high rise tower dengan baik. Di tahun 2003 saya ingat saya duduk di belakang dia pada saya magang di Atelier 6 Arsitek. Kemarin adalah saat – saat saya menggali informasi mengenai Pak Adhi Moersid, Pak Yuswadi Saliya, dan bagaimana ekosistem Atelier 6 bekerja. Saya berharap bahwa ada sesuatu yang bisa saya berikan untuk mereka. Perbincangan mengarah ke bagaimana Bu Tresnowati memiliki arsip yang detail mengenai Taman Ismail Marzuki dan bagaimana relasi antar personal di dalam proyek yang berjalan bertahun – tahun. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa berpraktek di Indonesia, mengerjakan bangunan dengan ruang studio yang memiliki standar internasional tidak mudah dan membutuhkan jam terbang yang solid.
.
Laurensia dan Miraclerich mengingatkan tentang berjalan berdua – dua. Di dalam tahun yang baru 2020, dua nol dua nol, adalah sebuah tahun untuk berdua – dua, bersama – sama, dari dua menjadi puluhan, dari dua menghasilkan kesempurnaan (0) oleh karena itu ingatlah dari diri sendiri kita berdua – dua lalu karya besar akan lahir. Di dalam saya berintepretasi di tahun 2 0 2 0, ayah saya memberikan celetukan. “Jangan lupa cari ilmu , uang, dan dharma, tiada ketiganya, kamu ngga bisa berbuat lebih.” Celetukan beliau sungguh mendasar dan saya belajar untuk selalu mendengarkan dia. Jadi sebelum berdua – dua, cukuplah akan diri sendiri sebelum mengajak orang lain berjalan bersama.
.
Genapilah dirimu sendiri barulah matahari bersinar mengajak pasanganmu untuk mencinta dan awalilah perjalanan 2020 penuh kasih, yuk mari berjalan.
.

image_e6f04363-9990-4fdb-858d-b92388aae0c4.photo-2020-01-01-22-02-59

 

Kategori
blog

Boonserm Premthada

Beberapa bulan ini saya berusaha mencari teman untuk bisa berdiskusi mengenai arsitektur. Arsitektur di dalam pikiran saya adalah sebuah disiplin yang perlu untuk diperjuangkan dan dihayati yang dimulai dari hal yang kecil yang kemudian menjadi besar, merubah orang yang menempatinya termasuk merubah arsiteknya sendiri. satu karya menuju satu karya yang lainnya. Kualitas ditentukan bukan oleh berapa banyaknya kuantitas yang dikerjakan, kualitas diatas kuantitas. Kualitas pun tidak berbanding lurus dengan kepopuleran satu karya tersebut, penilaian satu karya terhadap yang lain muncul dari kekuatan proses pembuatannya. Hal tersebut yang seringkali membuat saya berdecak kagum karena semangat perubahan, semangat kejujuran, semangat untuk tampil dalam semangat eksperimen tanpa takut salah. Arsitek itu adalah manusia yang seharusnya tampil jujur, apa adanya.
.
Melalui Boonserm dan karyanya saya mendapatkan refleksi dari diskusi kita, saya berusaha merefleksikan pembicaraan kita, energi yang besar, keberanian yang besar, yang membuat refleksi terhadap proses untuk terus berbagi ke orang lain untuk menikmati karya yang mampu berbicara dari hati. Semua orang bisa berbicara banyak melalui kata, namun arsitek berbicara melalui karya. Karya yang dalam berbicara melalui dirinya sendiri, kemudian arsitek meletakkan dirinya di dalam sepatu orang lain. Begitu Ia melihat perbedaan violet le duc terhadap john ruskin. Seketika itulah manifestasi antara konteks, teori, metodologi, implementasi menjadi satu kesatuan. Sungguh sebuah titik yang saya apresiasi. Keterbukaan, semangat untuk berbagi, kejujuran dalam berbuat berpikir dan membentuk masa yang sekarang membuat boonserm ada di konteks yang sekarang.
.
Keesokan harinya kami berangkat ke Kantana untuk melihat karyanya. Di dalam karya Kantana ia mengkonstruksi axis yang merupakan jalan masuk dengan bebatuan kerikil, kerikil yang ada tidak basah dan kering. Jalan itu memiliki drainase yang baik. Vista diciptakan dari bentuk bata yang disusun menyerupai candi yang membelah zona – zona yang berbeda. Keesokan harinya, bersama Nantapon, kita menuju karyanya selanjutnya yaitu sebuah pavilion yang memiliki fungsi restaurant, bangunan disini memiliki komposisi tektonika yang meredefiniskan tektonika tangga dan tampak kotak – kotak yang terletak di dalam sebuah kubus yang tersusun di dalam rangka yang dibungkus material triplek. Tangga tersebut menghubungkan mezanine dengan lantai dasar.setelah itu kami berjalan kaki ke bangunan sebelahnya terdapat bangunan yang sedang dibangun konstruksi yang sedang berjalan yang juga didesain oleh Boonserm. Bangunan itu menggunakan konstruksi glasblock yang ditutup sisinya oleh kayu lokal. Antar glassblock di perkuat dengan sambungan besi. Konstruksinya seperti kertas yang dilipat dan duduk di atas konstruksi beton. Setiap massa dipecah yang dihubungkan dengan jembatan, didalam massa tersebut terdapat solid void plat lantai yang menhubungkan secara visual axis dari satu massa menuju massa yang lain, menghadap ke pepohonan dan sungai.
.
Di era sosial media yang begitu cepat, karya arsitektur bukanlah soal jumlah like dan follower tapi adalah soal totalitas menjalani hidup sabatikal yang penuh pengabdian. Seringkali jalannya adalah jalan yang sunyi dan apabila ia menjadi jalan yang ramai biarkan kita membagikan kebaikan untuk orang lain dengan jujur apa adanya. Satu kali ini saya akan berdoa untuk boonserm untuk kebaikan yang dibagikannya ,termasuk untuk saya sendiri yang melewati doa ruang dan waktu. Hidup hanya sementara jalani dengan sungguh- sungguh. Pertemuan kami ditutup dengan sebuah pelukan untuk pesan untuk jangan pernah menyerah.
.
Ekonomi, sosial, lingkungan, manusia membentuk konteks – lahir arsitektur. Pribadi yang sederhana, bertemu orang – orang yang sederhana membuat kembali belajar. Boomserm membuat komposisi kantana dan dua karya lain yang saya kunjungi . Pendekatannya adalah pendekatan yang apa adanya. Arsitektur adalah karya yang memberkati klien, pengguna.
.
Di akhir perjalanan, Nantapon mengundang saya ke Samsen Hotel karya dari Chat Pong. Disitu istri dari Boonserm akan menyajikan dansa Zumba. satu dibalik tarian zumba di satu sisi di depan bangunan hotel, saya melihat ada boonserm, ada nantapon disitu ada murid- murid ada teman2 mereka dan saya melihat ada semangat persaudaraan untuk saling mendukung. Kualitas yang jujur dan jarang ditemui. Boonserm mengajak saya berbicara ke satu sudut ruangan dan ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya di dalam arsitektur. Satu diskusi tersebut merubah persepsi saya mengenai sebuah arti di dalam menjadi arsitek. Bahwa kita harus berjarak untuk bisa menilai, kita harus tekun untuk berproses, kita harus terus melayani sekitar kita. Ciptakanlah karya yang tumbuh dari tanah.
.
Photo of Boonserm’s work, I always touched by humbleness and openness, there come honesty and strong body of work.
.

Kategori
blog

Sebuah Catatan untuk Pameran Menjadi Arsitek dan Kelas Keprofesian UPH 2017

Saya menulis “Ini adalah buku anak – anak didik saya yang akan diluncurkan minggu depan tanggal 16 dilengkapi dengan pameran dengan judul menjadi arsitek di omah library, ada total 59 buku dengan 59 penulis dilengkapi dengan no isbn yang diregistrasi di perpustakaan nasional. Pada waktu pertama, diminta anis dan pak ferry untuk mengisi kelas keprofesian di kampus UPH, ya ok isinya tentang materi keprofesian, namun yang terpenting adalah bagaimana bisa mengetahui tentang keprofesian kalau tidak mencintai profesi ini. Buku ini adalah tentang cinta anak – anak ini terhadap arsitektur dan profesinya, melihat tata laku dan kerumitannya di dalam tulisan yang personal. Mereka 59 orang harapan kita, akan berpameran di omah library yang disiapkan oleh tim omah, dengan kurasi bersama anas hidayat, bangkit mandela , rifandi septiawan nugroho dan saya. Pameran dimulai tanggal 16 desember – awal januari 2018. Kita doakan semoga mereka semakin semangat dan termotivasi ya. ” 

selesai menulis ini, saya tersenyum, dan merasakan kebahagiaan, “fullfilment”

Sudah 3 hari ini saya meluangkan waktu dari senja hari begitu selesai bekerja untuk mempersiapkan pameran anak – anak didik saya di keprofesian UPH. Saya ingat bertemu teman lama untuk mendengarkan dirinya bercerita bahwa Theoretical Anxiety yang di tulis oleh Rafael Moneo akan sangatlah tidak mungkin untuk diajarkan di bangku S1. Mungkin yang dimaksud bukanlah tidak mungkin, namun dalam pikiran saya, perlu dikontekstualkan, atau disesuaikan dengan keadaan mahasiswa yang diajar, siapa dia, darimana asalnya, pernah mengambil mata kuliah apa saja, dan apa jati dirinya. Penyesuaian – penyesuaian tersebut menjadi penting seperti satu lokasi desain dimana pada awal hanyalah ada satu lahan lalu kemudian arsitektur muncul dengan kecantikannya bahwa tidak pernah ada sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, kesadaran akan apa saja yang diketahui menjadi penting, dimana proses pembelajaran pastinya untuk menambah kosa kata dalam memahami kompleksitas, kerumitan, ketidakterdugaan profesi arsitek dimana nanti orang setelah melalui proses belajar, akan lebih mudah untuk beradaptasi secara sengaja atau naluriah.

Sudah 4 bulan saya bersama anak – anak ini dengan jati diri mereka yang unik – unik. Masing – masing punya mimpi untuk bisa sukses, dimana mereka memiliki memori masa lalunya. Ketika saya diminta Pak Ferry dan Anis untuk mengajarkan mereka untuk keprofesian arsitek, saya mencoba untuk menemukan kegelisahan apa yang akan membuat kelas ini signifikan untuk pembelajaran murid – muridnya. Pembelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang memiliki keterbatasan profesi yang mengetahui tata laku, batasan, norma, kesepakatan umum di dunia menjadi penting. Yang saya takutkan adalah kita semua membuang – buang waktu bersama, tidak belajar, tidak tertarik, malah semakin apatis terhadap murid – murid, terhadap pengajarnya.

Theoretical Anxiety and Design Strategies in the Work of Eight Contemporary Architects ditulis oleh Rafael Moneo atas dasar ketertarikannya akan dunia teori arsitektur, ia memberikan interpretasi dan analisis terhadap beberapa karya arsitek berdasarkan inovasi teknologi, pendekatan design, dan teori yang dituliskan untuk menjelaskan karya mereka sendiri seperti James Stirling, Robert Venturi, Aldo Rossi, Peter Eisenman, Alvaro Siza, Frank Gehry, Rem Koolhaas, dan Herzog De Meuron. Pada akhirnya Moneo memberikan justifikasi bahwa keseluruhan teori itu tidaklah bisa diaplikasi dengan generalisasi yang bulat – bulat, namun justru kesetiap karya yang didesain oleh arsitek – arsiteknya perlu dilihat lebih detail tanpa perlu terperangkap dalam teori – teori yang digunakan arsitek bersangkutan.

Semua orang pasti ingin dihargai dan ingin sukses dalam kehidupan. Dihargai karena garis tangannya seperti itu apa adanya dan sukses karena berkecukupan materi dan batin sehingga menjadi manusia yang bahagia. [1] . Saya terus saja berpikir bahwa waktu kita di dunia ini tidaklah lama, setiap momentumnya adalah momentum untuk memberikan yang terbaik karena waktu tidak pernah kembali, dan semuanya pasti akan berakhir. Di dalam 4 bulan yang untuk saya ini beratnya bukan main, setiap minggu adalah minggu untuk kembali ke tumpukan buku yang begitu banyak. Seringkali saya tertidur untuk kemudian terjaga di saat subuh dan kemudian membayangkan apa yang akan dialami murid – murid saya, apakah mereka akan belajar dari materi ini, ataupun sebaliknya, tidur di kelas karena materi ini begitu membosankan. Seperti itulah setiap satu hari di dalam satu minggunya, dari petang menuju dini hari, belajar untuk mengajar, dan mengajar untuk belajar, setiap perputaran iterasi desain, ada kehidupan didalamnya.

Matahari terbit di pagi hari, membawa diri ini bangun lebih pagi dari biasa, hari ini adalah pembukaan pameran, saya berjalan di lorong pameran perpustakaan, memastikan bahwa semua panel tertempel dengan baik, dan 59 buku tersusun dengan rapih, dan saya pun merasa ini adalah sebuah kehormatan untuk diberikan kesempatan bertemu dan membimbing murid – murid saya ini. Kalian luar biasa!

catatan :

[1] Hal ini digaris bawahi oleh Robert Greene dalam bukunya Mastery, bahwa setiap orang perlu belajar mengenai bagaimana menjaga pikiran yang orisinal yang ia sebut Original Mind, dan  menyesuaikan terhadap bagaimana kita harus menghadapi orang – orang di sekitar kita yang dialami sehari – hari yang ia sebut Conventional Mind. Kombinasi dari keduanya ia sebut dimensional mind.

[2] Pembahasan mengenai Theoritical Anxiety di tulis khusus di dalam buku qualities of perception yang ditulis oleh Jeffrey Kipnis.

[x] cover by Pianist Nobuyuki Tsujii at Carnegie Hall his own composition “Elegy for the Victims of the Tsunami

Kategori
blog

RAW featuring in Kompas.com article for WAF nomination

 

Full link

Kategori
blog

Seminar Nasional ARCHDAY 2018, Realrich Sjarief berkontribusi sebagai juri

 

Selamat Pagi!
Salam satu garis!
Archday 2018 mempersembahkan Seminar Nasional “RTH ANTARA KITA DAN KOTA”

Banjarbaru merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki pertumbuhan penduduk tidak merata. Sesuai dengan amanat gubernur H. Sahbirin Noor bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berfungsi sebagai penambah estetika kota, menjadikan cadangan suatu lahan di masa mendatang, serta menjadi manfaat ekologi yang memenuhi kebutuhan warga Banjarbaru. Ruang Terbuka Hijau merupakan suatu kawasan yang harus disesuaikan dengan Undang – Undang No. 26 Tahun 2007 yang berisikan tentang tata ruang.
Akan diadakan pada :
Kamis, 18 Oktober 2018
Pukul 08.00 – 16.00 WITA
di Gedung Bina Satria Banjarbaru

Pembicara :
Ary Indra (Arsitek, Founder ABODAY)
Realrich Sjarief (Arsitek, Founder+Principal RAW Architecture)

 

https://deskgram.net/p/1887179554176832522_729645112

Kategori
blog

Sayembara Milenial Berkarya 2018, Realrich Sjarief berkontribusi sebagai juri

Kompetisi infrastruktur berbasis kebaikan sosial yang mengajak anak muda untuk membuat ide infrastruktur sederhana, guna menyelesaikan masalah sosial di sekitar. Bukan cuma buat anak teknik atau arsitektur aja! Di sini semua anak muda bebas untuk memberikan ide terbaik.

Kompetisi ini didukung penuh oleh Sitos.id, situs e-commerce untuk material building dari Semen Indonesia Group, dalam perwujudan ide infrastruktur sederhana guna menyelesaikan masalah sosial di sekitar.

 

https://www.kompetisi.millennialsberkarya.com

Kategori
blog

Archifest 2018 Singapore, Design for People; Brochure & Program update

 

 

Archifest 2018 Design for Life Brochure M

Archifest is an internationally-acclaimed festival which draws the interest of those both inside and outside of the Design industry. The theme that Yann Folain from Wy-To Architect envisioned for this year is “Design for Life”. It broadly encompasses the Architect’s vision to respond to the true needs of humanity. It is necessary for design to give back to the community and enrich human life as a whole.

Each year, Archifest hosts a series of events held in various locations in Singapore including the Archifest Pavilion under the categories of Archi-Interfaces, Conference, Conversations, Archicraft and Architours. These pillars of the festival work hand-in-hand to elaborate on the three sub-themes: Design for People, Design for Time and Design for Environment. Please find attached the text introducing the Theme of the Festival comprehensively.

More information: http://www.archifest.sg

 

Kategori
blog

Realrich Sjarief Interview on Education Method, Featured on Taiwan Architecture

 

Kategori
blog

The Guild Featuring in C3 magazine

 

Kategori
blog

Book of Cerita 15 Arsitek Muda Review by by Qabila Dzulhasri Z. Edited by Dinda Mundakir

Full Links

We delighted that Archinesia has reviewed one of the publication about 15 cerita arsitek muda (Story of 15 Young Architect) which featured one of our work, Rumah Kotak Kayu. Archinesia is Based in Jakarta, Indonesia.

Archinesia is an architectural publication that specialises in architectural development in Southeast Asia, providing the thinking behind inspirational buildings shaping the region today. Archinesia combines book and magazine, covering an unparalleled selection of current projects in the region, yet provides one comprehensive subject as a cover theme to encourage dialogue and discussion. It’s published twice a year, with the latest trends and perspective of Southeast Asian Architecture. Archinesia is a project by Imaji, established in 2010 by Imelda Akmal, a renowned architecture writer, is a publishing company focusing on books about architecture and design

Kategori
blog

“Eco-Friendly School on Water” – Alfa Omega featured in Arkitera

full link

Kategori
blog

OMAH Library featuring in The Jakarta Post news portal

Full link

Kategori
blog

Wirawan House featuring in Archello website

full link

Kategori
blog

Realrich Sjarief featuring “In a Jakarta Minute” Podcast

https://soundcloud.com/inajakartaminute/001-realrich-sjarief

Kategori
blog

Arfest UKI 20180607

 

Project : Arfest UKI 2018
Type: Lecture

Date: 07-06-2018
Info:

Presentation’s draft outlines:

  1. Inverted version of development graph from Deliberate Practice method, suggested that architect’s development followed low-to-high curving pattern which always repeated on next phase.
  2. In its intersection between original pattern and architect lies a “defining moment.”
  3. Argue that the most proper attitude in which phase is Sumarah.
  4. The importance of achieving dimensional mind in mentioned phase.
  5. Entering the phase of hyper focus aka “flow”, the phase gained even more accelerated pacing.
  6. The pacing development on illustrated point become more intense, which inevitably creating a full circle diagram.
Kategori
blog

36th Birthday

Laurensia kemarin baru berulang tahun ia sekarang berumur 36 tahun. Setiap hari kami bangun pagi – pagi, terkadang jam 5, ataupun jam 6 pagi. Miracle akan bangun sesudahnya untuk meminta digendong ke ruang keluarga kami. Terkadang saya meminta untuk ia jalan sendiri, dari situlah saya percaya nilai kemandirian akan terbentuk. Miracle sekarang sudah berumur 2 tahun lebih, anak berumur 2 tahun, belajar sangat cepat, menyerap dari sekitar cepat sekali, ia meniru, dan disitulah ia akan mencontoh dari sekitarnya, terutama dari orang tuanya dimana kadang – kadang saya pun tidak bisa memiliki semua jawaban dari sebegitu banyak pertanyaan, dan tidak bisa memberikan contoh dari sebegitu banyak keragu – raguan. Dalam perjalanan kami, di setiap saat – saat penting, namanya juga manusia, kadang – kadang timbul keragu – raguan dalam pengambilan keputusan – keputusan. Disitulah saya bertanya ke Laurensia, sebagai penentu terakhir apakah jalan ini sudah benar adanya. Seorang ibu adalah jantung hati keluarga, Roxana Waterson, menggarisbawahi perbedaaan tradisi austronesia mengenai rumah sebagai rahim, ibu adalah sentral dari keluarga dengan ibaratnya, dapur tempat makanan itu disiapkan, Waktu – waktu Laurensia dihabiskan untuk mengatur bagaimana keluarga kami menjalankan aktifitas sehari – hari. saya akan bangun cukup pagi setiap harinya, terkadang menyiapkan daftar dan menggambar untuk dibagikan ke anak – anak studio. Laurensia kan mempersiapkan miracle untuk mandi, bersekolah, ke bank, menjemput sekolah, beristirahat, membuat laporan, dan berpraktek, sampai kami bertemu kembali pada waktu makan malam. Oleh karena itu, saya berpikir hal hal sederhana seperti ini, sudah sangat indah untuk dijalani, dan saya sangat bersyukur bisa ditemani oleh istri yang luar biasa baik dan cantik luar dan dalam.

Kategori
blog

Spirit 45 Book Launching

Project : Spirit 45 Book Launching
Type: Lecture

Date: 07-05-2018
Info: Presentation’s outline about Le Corbusier Life & Works

Kategori
blog

Bamboo Castle Interpretation

Project : Bamboo Castle Open House
Type: Lecture

Date: 07-05-2018
Info: Interpretation made by Soesanto Santoso, Lecturer from UNTAR & Podomoro.

Kategori
blog

Guest House (GH) Melawai, Jakarta

Project: Guest House (GH) Melawai, Jakarta
Type: Resort & Hospitality

Date: 07-05-2018
Info: Early sketch & construction plan.

Kategori
blog

15 Cerita Arsitek Muda Roadshow

15 Cerita Arsitek roadshow akan ada di Jakarta dengan pengisi acara : Gayuh Budi; penggagas buku, Anas Hidayat; penulis buku, Ginanjar dan Realrich pengisi buku plus (ini yang penting) pembahas Jo Adiyanto yang khusus datang dari Palembang untuk mengulas dan mengupas buku yang telah menggebrak perbukuan arsitektur Indonesia di awal tahun 2018

Kategori
blog

Realrich Sjarief featuring in book “15 Cerita Arsitek Muda Indonesia” by Anas Hidayat, Andy Rahman, and Gayuh Budi Utomo

Kategori
blog

SPIRIT_45: the Rise of Asia and Our French Odyssey

Click here to visit event’s website

ACARA
“Spirit 45 – The Rise of Asia”
lokasi : Grand Royal Regency G3-11 Wage Taman Sidoarjo, Kantor Andyrahman Architect.
Sabtu, 28 April 2018

RUN DOWN
08.30 – 08:55 : Registrasi.
08.55 – 09.00 : Pembukaan (Andy Rahman).
09.00 – 09.45 : Iconoloci: an Unfinished Manifesto (Eka Swadiansa).
09.45 – 10.00 : Tanya Jawab Sesi 1.
10.00 – 10.45 : Thoughts: the Secret Library of Le Corbusier (Realrich Sjarief).
10.45 – 11.00 : Tanya Jawab Sesi 2.
11.30 – 12.30 : Ishoma.
12.30 – 12.45 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 1.
12.45 – 13.00 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 2.
13.00 – 14.30 : Pilgrimage: the Eye, the Experience, and the Discourses (Andy Rahman).
14.30 – 14.45 : Tanya Jawab Sesi 3.
14.45 – 14.55 : Contextual Retrospective: Critiques to the Le Corbusier of Our Time (Eka Swadiansa).
14.55 – 15.00 : Penutupan (Andy Rahman).

KONTAK DAN INFORMASI
Secretariat of Spirit 45 :
[1] Andy Rahman East Java. email : andyrahman_architect@hotmail.com
[2] Eka Osa Swadiansa. Bali. email. mr_eka_swadiansa@yahoo.com
[3] Realrich Sjarief. Jakarta, email : omahlibrary.reservation@gmail.com
W. http://www.spirit45.org

“SPIRIT_45: the Rise of Asia and Our French Odyssey”,
Andyrahman Architect, Grand Royal Regency G3-11 Wage Taman Sidoarjo, Jawa Timur,
Sabtu, 28 April 2018.

SPIRIT_45 adalah sebuah sesi dialog, momen diskursus, dan wahana apresiasi arsitektur. Andy Rahman, Eka Swadiansa dan Realrich Sjarief bertemu dan berdiskusi, merefleksikan pemikiran Arsitektur Indonesia dalam praktek keseharian biro masing-masing. Konsep/realisasi, abstrak/detail, besar/kecil, kesederhanaan/kompleksitas, visi desain/teknik keterbangunan –semua prihal praktek arsitektur dalam lingkup keterbatasan biro muda- dilakukan sebagai sebuah usaha dalam menjawab pertanyaan tema besar konferensi “The Rise of Asia in Global History and Perspective”. Menghasilkan pemikiran kolektif sementara; sebuah perjalanan bersama yang kemudian terus dipikirkan, direnungkan, dan dicari kembali maknanya – kenapa, untuk apa, dan untuk siapa. Acara SPIRIT_45: the Rise of Asia adalah sebuah jabat tangan yang lebih erat, kesempatan untuk berdiskusi lebih dalam, momentum untuk saling memberi dan menerima. Pencarian lebih lanjut terhadap makna dari sebuah kebersamaan.

Secretariat of Spirit 45 :
[1] Jakarta, Taman Amarilis 2 no 15 Kompleks Taman Villa Meruya
[2] East Java, Perumahan Grand Royal Regency Blok G3 No 11,, Wage, Taman, Wage, Taman, Wage, Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61257

Kategori
blog

Jayaboard Design Competition 2018, with Realrich Sjarief as main Jury.

USG Boral – Jayaboard held a Design Competition 2018 with topic “Design resort & Hotel”. The topic will be translated into design by participant from all around Indonesia. In which the competition open for public that relates to architecture and interior design. Industry This competition were aimed to inspire public about resort design and hospitality in Indonesia, with Realrich Sjarief acted as main judge.

Read competition’s background and research by Realrich Sjarief here

 

Kategori
blog

(DE)TAIL Architecture Workshop by Tarumanagara University, with Realrich Sjarief as main speaker

A detailed examination of the hottest areas of architectural design today. Over the past decade, digital tools have radically transformed the design, practice, and construction of architecture. But behind the photorealistic renderings of projects that are never built is an entire body of design research that informs the latest innovations in design and construction. Through sharings by researcher, educator and profesional architect of the digital revolution, this new part of workshop takes its cue from the practice of mass-customization, one of the most important design and retail trends of recent years, to consider how variations on the same design idea can be applied to a broad spectrum of architectural, engineering, and construction solutions in based of bachelor architecture students standard.

Kategori
blog

School of Alfa Omega by KOMPAS Newspaper,

Kategori
blog

Dan Anak-anak Pun Belajar dengan Gembira… – Alfa Omega featured in KOMPAS newspaper

Featured article written by Fellycia Novka Kuaranita

Terik yang menyengat itu sama sekali tak menguapkan energi anak-anak di Sekolah Alfa Omega. Mereka berlarian di lorong, dolanan gobak sodor, atau menyiangi rumput di lahan berkebun. Sekolah tak pernah membosankan karena kerap cara mereka belajar adalah dengan bermain.

Di dalam kelas, keriangan yang sama juga terasa. Bangku-bangku tak melulu ditata berjajar ke belakang; susunannya lebih cair. Anak-anak tak harus duduk dengan tertib dan hening. Alih-alih, kita menemukan mereka bergerak aktif, entah untuk mengungkapkan pendapat sambil memperagakan sesuatu, berdiskusi, atau sesekali kompak mengucap salam ketika kedatangan tamu.

sekolah alfa omega
Anak-anak sedang menyiangi rumput di salah satu lahan berkebun sekolah.

Di Sekolah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Alfa Omega yang terletak di Salembaran, Teluk Naga, Tangerang, ini anak-anak merasa bebas mengekspresikan diri. Jenjang pendidikan sekolah ini merentang dari tingkat kelompok bermain sampai sekolah menengah atas.

Seluruh kegiatan dan kebebasan anak untuk bermain di sekolah ini adalah bagian dari metode pembelajaran. Lisa Sanusi, pendiri sekolah ini, sempat mempelajari sistem pendidikan di Finlandia dan Jepang. Ia mengambil kesimpulan, pendidikan harus menyenangkan, membentuk karakter, dan mampu memberi bekal soft skills atau kompetensi praktis yang dapat diterapkan dalam keseharian. Untuk itu, anak mesti pertama-tama menyukai sekolah.

sekolah alfa omega
Seorang anak berlari dengan riang di jembatan bambu yang menghubungkan pintu masuk dengan gedung sekolah.

“Dulu saya tidak suka sekolah,” kenang Lisa sambil tertawa. “Sekarang, kami ingin anak-anak berbahagia ketika sekolah dan merasa ini rumahnya. Kami ingin membangun generasi yang suka sekolah, suka belajar, dan menyukai Indonesia,” imbuhnya.

Bersama timnya, Lisa mengembangkan metode pendidikan yang mampu menyeimbangkan kemampuan akademik (hard skills) dengan keterampilan nonakademik (soft skills). Kurikulum yang berlaku nasional diajarkan berbarengan dengan beragam pelatihan, antara lain pertanian, eksperimen sains, menjahit, memasak, dan pertukangan.

sekolah alfa omega
Para siswa asyik bermain bersama guru mereka di lapangan sekolah.

Selain itu, bakat dan minat anak-anak ini juga disalurkan lewat bermacam ekstrakurikuler, seperti teater, musik, paduan suara, dan seni visual. Sekolah juga tak memberikan pekerjaan rumah agar waktu yang dimiliki anak-anak di rumah bisa digunakan untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Sebelum pindah ke sekolah baru seluas tiga hektar di Salembaran pada 2017 itu, Alfa Omega yang berdiri sejak 2011 beroperasi di sebuah ruko di kawasan Cikokol, Tangerang. Alfa Omega mulanya adalah PAUD yang dibangun untuk mereka yang kurang mampu. Sampai sekarang, semangat melayani itu menjadi nadi Sekolah Alfa Omega.https://www.youtube.com/embed/gzAuyEs0oDs

“Dari mereka yang belajar di sini, 80 persen anak biayanya disubsidi oleh sekolah.  Sementara itu, orangtua yang mampu membayar penuh juga dapat mengikuti program orangtua asuh untuk membiayai siswa lain. Selain keringanan biaya pendidikan, anak-anak yang mengikuti program subsidi mendapat makan siang dari dapur umum kami,” kata Lisa.

Karakteristik dan latar belakang anak-anak yang bersekolah di sini pun begitu beragam. Mereka datang dari berbagai daerah di Jakarta. Ada yang tinggal dekat dengan sekolah, sampai yang rumahnya berjarak kira-kira 30 kilometer dari Salembaran. Alfa Omega juga menjadi tempat belajar bagi anak-anak panti asuhan atau mereka yang putus sekolah.

“Ada beberapa anak yang mulanya trauma bersekolah, sekarang justru sangat betah di sekolah. Mereka suka bermain di sini bahkan ketika jam pelajaran sudah berakhir. Kadang-kadang, kami sampai harus mematikan listrik agar anak-anak mau pulang,” cerita Lisa sambil tertawa.

Arsitektur berkelanjutan

Dengan konsep pendidikan seperti yang dicita-citakan Lisa dan tim Alfa Omega, arsitektur dan lingkungan sekolah menjadi pendukung penting bagi tercapainya tujuan pendidikan. Arsitektur itu mesti mampu menyokong ragam aktivitas anak dan memungkinkan tumbuh kembang anak optimal, misalnya dengan ruang-ruang terbuka dan sirkulasi udara yang baik. Realrich Sjarief, arsitek Sekolah Alfa Omega, bercerita tentang proses membangun sekolah ini.

sekolah alfa omega
Bagian dalam bangunan kantin dengan arsitektur bambu.

“Sekolah ini dibangun di atas lahan yang berawa. Waktu kami masuk pertama kali, lahannya tergenang air setinggi satu meter. Konstruksinya harus yang ringan, tetapi tahan lama. Selain itu, kami juga ingin mengakomodasi visi sekolah dengan bangunan yang lebih terbuka dan alami,” ujar Realrich.

Keterbatasan lahan ini justru memicu proses kreatif karena harus menjembatani persoalan desain, teknik konstruksi, material, dan budget yang tersedia. Sekolah Alfa Omega lantas dirancang dengan mengintegrasikan empat bangunan modular, yang memiliki akses ke lapangan tengah.

Material utama bangunan ini adalah bambu, batu bata, dan baja. Baja dipilih karena kekuatan dan keawetannya. Bambu lantaran fleksibilitas dan sifatnya yang ramah lingkungan. Suplai bambu yang banyak diambil dari daerah sekitar pun memangkas jarak distribusi dan mengurangi jejak karbon. Atap bangunan dari nipah, yang ramah lingkungan sekaligus murah.

sekolah alfa omega
Kantin menjadi salah satu bangunan ikonik PKBM Alfa Omega.

Sekolah Alfa Omega dirancang dengan sistem pendinginan bangunan pasif, yang mengandalkan ventilasi silang alami dari konstruksinya. Langit-langit yang terbuka menjadi jalur sirkulasi, juga celah yang dibentuk dari penyusunan batu bata di setiap sisi dinding kelas.

Dengan begini, aliran udara interior bisa tersirkulasi dengan optimal tanpa membutuhkan pendingin ruangan. Atap nipah, fasad bata, langit-langit bambu, dan lantai beton adalah material yang memungkinkan iklim mikro bangunan terjaga. Dalam setahun, temperatur interior bangunan ini rata-rata 27 derajat celcius.

Perpaduan metode pembelajaran, lingkungan, dan arsitektur Sekolah Alfa Omega memungkinkan anak untuk belajar dengan lebih efektif. Dan yang terpenting, dengan lebih gembira.

[FELLYCIA NOVKA KUARANITA]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 20 April 2018

repost from https://klasika.kompas.id/baca/anak-anak-belajar-dengan-gembira-di-sekolah-alfa-omega/

Kategori
blog

Realrich Sjarief interview in KAYYU Magazine

Kategori
blog

Hai kawan kita ini manusia biasa… catatan di penghujung tahun 2017

Satu orang di depan saya pada waktu itu adalah seseorang yang terkenal, ia adalah fresh graduate dari universitas ternama di Amerika, namanya Diastika ia terkenal karena kepiawaiannya menyanyi. “kak tau ngga dia itu artis” kalimat itu sudah saya dengar berkali – kali dari staff -staff yang bekerja di kantor , dan kehebohan satu kantor karena kedatangan orang di depan saya ini karena citranya atau Imagenya yang memang sudah terbentuk di dunia maya dan nyata. “Apaan sih kalian.” saya biasa menjawab seperti itu, karena menurut saya hal tersebut tidaklah penting sama sekali.

Saya melihat anak ini antusias untuk belajar arsitektur melalui presentasinya mengenai portfolio yang dibawanya dan sudah dilayoutnya dengan apik di atas kertas A3. Setelah mendengar presentasinya, ada 2 hal yang saya sampaikan , pertama lokasi rumahnya yang cukup jauh dari kantor, sehingga menyebabkan waktu pulang pergi setiap harinya akan menghabiskan waktu dan energi, mengingat kondisi kemacetan di Jakarta pada jam – jam khusus. Kedua, saya kemudian mencoba untuk mereferensikan satu senior arsitek yang sangat terkenal karena lokasinya yang relatif dekat dengan tempat tinggalnya di daerah selatan. Jujur saya berpikir, setiap orang pasti ingin dihargai, namun ketika seseorang dihargai bukan karena apa yang melekat pada kulit atau citra dirinya, namun dihargai akan jati dirinya, maka itu adalah penghargaan tertinggi. Untuk saya orang didepan saya itu, dia hanyalah manusia biasa yang juga ingin berkembang maju menjadi arsitek yang dihargai karena ia arsitek yang memiliki bakat menyanyi juga, bukan hanya dihargai karena image atau citra yang terbentuk. Diastika adalah satu orang yang sudah mengetahui bahwa ia membutuhkan simbol, dan jalan untuk bisa menemukan kesuksesannya.

Sudah satu dua tahun terakhir ini, saya dikelilingi orang – orang yang berkembang bersama – sama dengan saya, mereka membantu saya dalam membesarkan studio yang sudah saya rintis. Saya melihat potensi yang besar dalam diri mereka, mereka membantu untuk memberikan yang terbaik kepada diri mereka sendiri, saya bersyukur atas seluruh kerja keras dan proses yang tidaklah mudah dalam tugas pekerjaan yang dilakukan sehari – hari. Ada yang pergi ada yang datang, setiap hari pun kita bertemu orang yang baru atau kawan lama. Tidaklah ada yang istimewa dalam kehidupan kita. Namun apa yang membuat kehidupan ini begitu istimewa adalah bagaimana kita sendiri merasakan bahwa diri kita ini berkembang setiap saatnya dan penghargaan akan satu sama lain bahwa karakter manusia itu memang unik – unik. Kemudian keseluruhan kehidupan ini akan membuat kita berkontemplasi mengenai keberadaan kita, suka atau tidak suka saat itu akan tiba, dan begitu saat itu tiba, gelap akan datang untuk menyosong matahari yang akan terbit di keesokan harinya.

Banyak hal yang sudah dialami anak – anak muda sekarang ini, banyak juga yang dipelajarinya, dalam rentang waktu yang tidak sebentar dan juga tidak lama. Lama dan sebentar hanya dirinya yang tahu. Namun anak – anak sekarang belajar lebih cepat, generasi yang lebih muda, bekerja lebih cepat, berkembang lebih cepat. Banyak yang bilang itu instan, ya saya tidak percaya, ya memang berbeda toh teknologi, apresiasi, dan semangatnya juga berbeda. Berbeda itu bukan berarti menurun, hanya saja berbeda. Malcom Gladwell mengangkat fenomena seperti ini yang dinamakan matthew effect bahwa semua rejeki itu sudah ditakar, ditentukan, diberikan sebelum kita lahir, kita semua memiliki sebuah latar belakang, keluarga kita, pertemanan ayah dan ibu kita, ataupun perjumpaan yang mungkin terlihat kecil yang mempengaruhi bagaimana kita mendapatkan klien, bersosialisasi dengan orang lain. [1]

Kalau pernah membaca tulisan Paulo Coelho didalam novel yang ditulisnya The Alchemist, ia menggaris bawahi 3 tipe seorang manusia. Tipe pertama adalah orang yang tidak tahu bagaimana untuk sukses, ia bingung dan ragu – ragu dalam menempuh jalan hidupnya. Tipe kedua adalah orang yang mencoba mencari tahu cara untuk sukses, ia juga bingung dan ragu – ragu dalam hidupnya. Tipe ketiga adalah orang yang tidak mengerti cara untuk sukses, ia tidak ragu – ragu, ia sukses. [2] Ketika keinginan kamu begitu besarnya maka semesta akan menuju ke arahmu dan membuka jalan. Namun jiwa – jiwa di dunia ini akan menantangmu, menguji kamu, seberapa siap kamu akan mimpi yang kamu inginkan. Karakter Santiago di dalam novel ini, menggambarkan pribadi yang sedang di dalam perjalanan untuk mengenali dirinya sendiri di dalam pusaran ia dan orang lain, berkelana ke banyak tempat di dunia. Hidup kita ini seperti di tengah perjalanan, dan perjalanan itu adalah perjalanan milikmu, milikmu sendiri, duniamu sendiri, bersinarlah.

Untuk kawan lama, sahabat kita akan bertemu kembali, suatu waktu di suatu tempat, suka atau tidak suka dalam mimpi dan realitas, dalam ambisi dan kerendahan hati. Pada saat pertemuan nanti, akankah dirimu masih jujur dengan dirimu sendiri, ataukah hanya topeng – topeng yang terlihat seakan – akan dirimu adalah orang yang lain. Yang saya yakini, tidak ada orang lain, topeng itu hanyalah representasi dari diri kita sendiri, sahabat dan teman yang datang dalam satu waktu di satu tempat adalah cerminan dari diri kita yang terdalam, ia akan berjabat tangan, dan memeluk sebagai pertanda bahwa dirimu masih manusia biasa. Oleh karena tersenyumlah, kita ini sama – sama manusia biasa.

Di balik sendu dan cerianya hari natal kali ini di penghujung tahun 2017, diantara berbagai kado natal, dan kue natal yang diterima dan dikirimkan. Selamat Natal dan Tahun baru, semoga damai beserta kita semua. Selamat tidur untuk bangun kembali kawan !

[1] Outliers, Malcolm Gladwell. Tentang Matthew Effect. Biologist often talk about the “ecology” of an organism: the tallest oak in the forest is the tallest no just because it grew from the hardiest acorn l it is the tallest also because no other trees blocked its sunlight, the soil around it was deep an rich, no rabbit chewed through its bark as sapling, and no lumberjack cut it down befor it matured.” pp 20

[2] Ditulis oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist. There are three types of alchemist : those who are vague because the don’t know what they’re doing those who are vague because they do know that the language of alchemy is addressed to the heart and no to the mind…. (The third type is the one) who will never hear about the alchemy, but who will succeed, through the lives they lead, in discovery the philoshoper’s stone.” pp vii

[x] cover by Ryuichi Sakamoto – one of the best pianist in the world

Kategori
blog

Quality of Character in Architecture

In my childhood, there is the very common phrase that I kept in my mind, a phrase which is written in the book titled Outliers “No one who can rise before dawn three hundred sixty days a year fails to make his family rich.” Malcolm Gladwell illustrated in a story which started with the culture of cultivating rice field which was different in west farming which used heavy machinery and culture different in France. One client’s said to me that if you will to work hard, you won’t be starving, your family should not be poor.

“Ninety-nine percent of all human activity described in this and other accounts (of French country life)… took place between late spring and early autumn… entire villages would essentially hibernate from the time of the first snow in November until March or April. “

then he illustrated how things situation is different in Chinese paddies field

“No food without blood and sweat.”
“Farmers are busy, where would grain to get through the winter come from ?”
“in winter, lazy man freezes to death.”

“Don’t depend on heaven for food, but on your own two hands carrying the load”
“Useless to ask about crops, it all depends on hard work and fertilizer.”
“If a man works hard, the land will not be lazy.”

It’s a basic thing, that we should be diligent on working out the problem, to have a work to do, to get income, to live. [1]

How about in architecture. I think it’s shallow to praise each other architect’s work only with the intention of cuddling each others. This cuddling is something to do with others opinion about how much quality work is. Gregorius Grassi stated in explaining his approach towards stylistic based (ism) to work illustrated in Kenneth Frampton’s book poetics of construction. “It is actually pathetic to see the architects of that “heroic” period, and the best among them, trying with difficulty to accommodate themselves to these “isms” experimenting in a perplexed manner because of their fascination with new doctrines, measuring them, only later to realize their ineffectuality.”[3]

We should praise each other character in quality of works, and there will be a rigorous process of looking through quality innovations and put critical thinking towards shaping architect’s character in every work. By doing that each work should be seen unique and representation of life which human colour nature. if somebody asked about how sustainable, how green, how sensitive the design to the climate. Then I would answer. It’s a basic, the architect should consider those. Now we are discussing at the deeper level, the question is, what is your design character? Great architecture challenges, mediocre cuddles.

[1] Outliers, Malcolm Gladwell, pp 274, 275, 278
[2] Poetics of contruction, Kenneth Framption. pp 3
cover by https://www.neuraldesigner.com/images/blog/outlier.jpg

Kategori
blog

OPEN HOUSE 99% Kastil Bambu Indonesia

Hallo Restless Spirit.

OMAH Library mengundang untuk diskusi, sharing oleh Fernisia Richtia dan Adhi Moersid. Fernisia akan berbagi mengenai ruang senggang, dan Adhi Moersid akan berbagi mengenai suka duka kehidupan sebagai seorang arsitek di dalam selang waktu open house sederhana Rumah Bambu yang didesain oleh RAW Architecture diiringi dengan penjelasan mengenai pameran menjadi arsitek, peluncuran buku menjelang pertengahan desember sampai awal januari.

99% Rumah Bambu adalah representasi dari mimpi rumah yang dibangun oleh material masa depan yang digambarkan dengan misterius, tidak terduga, dan terjadi secara perlahan – lahan. Masa depan itu selalu tidak bisa ditebak, seperti air dan awan, seperti mimpi dan kenyataan yang selalu berubah tergantung dari saat sekarang dari awal menuju akhir. Rumah Bambu sendiri bisa dikonstruksi dengan cara pendekatan. Sebuah cara yang digunakan Wiratman di dalam menyelesaikan bentuk kubah di mesjid Istiqlal desain dari Silaban, ataupun cara dari Michaelangelo dalam membuat St. Peter Basilica. Konstruksi rumah bambu yang disebut sebagai kastil bambu ini diselesaikan dengan jangka waktu 4 bulan, 3 lantai diatas menggunakan struktur bambu dengan program yang bisa berubah – rubah ruangan se luas mungkin sefleksibel mungkin ditambah dengan pemisahan konstruksi atap yang menggantung di dinding luar bangunan. Konstruksi bangunan dibawah atap dan konstruksi di bawah tanah menggunakan material beton dan konstruksi baja untuk meningkatkan efisiensi konstruksi.

Material struktur lantai atas yang dipakai adalah sebagian besar bambu – bambu kecil dengan diameter 8 – 10 cm dan bambu pengokong balok utama sebesar 12 -15 cm setinggi 3 lantai , bambu – bambu yang sering digunakan untuk membuat perancah dengan ketersediaan material bambu yang berjarak kurang dari 1 km dari lokasi pembuatan. karakter, dimensi batang bambu yang digunakan menjadikan konstruksinya membentuk kolom rumpun jadi kolom besar yang terdiri dari bambu kecil yang disatukan. Dalam beberapa kali iterasi desain, Bambu ini sangat cepat sekali untuk dikonstruksi, materialnya mudah didapat, kuat dan efisien jadi cukup cocok untuk perubahan – perubahan yang ada seperti penambahan struktur, pengurangan struktur, penggantian bambu yang memiliki kualitas kurang baik. Disinilah fleksibilitas material yang didukung oleh ketukangan orang – orang yang membangun menjadi sebuah lingkaran kerjasama yang tidak terputus.

Fernisia Richtia adalah seorang pengajar di Universitas Pelita Harapan. Ia pernah menjadi kurator pada pameran UPH waktu adalah ruang. Ia berkerja di Monokroma Architect, pernah magang di brio Sonny Sutanto Architect.

Adhi Moersid, arsitek peraih Aga Khan Award untuk Masjid Said Naum, dan IAI Jakarta 2017 Gold Medal. Beliau aktif dalam organisasi international dan Nasional. Adhi Moersid, bersama Darmawan Prawirohardjo, Robi Sularto, N. Siddhartha, Iman Sunario, dan Yuswadi Saliya mendirikan Biro Arsitek Atelier Enam (1968).

Jadwal Kegiatan

9th Desember 2017

10.45 Penjelasan Program OMAH 2017 – 2018
11:00 Ruang Senggang oleh Fernisia Richtia
13:00 Pengalaman suka dan duka (bitter sweet experience) oleh Adhi Moersid

bit.ly/99BambooCastle

Terima kasih dan sampai jumpa!

Salam,

Kategori
blog

Do you want to push architecture that far ?

“This is individual task but they did it in group imagining all of them will be together supporting each other after graduated. They asked other people, (me) to complete their puzzle imagining themselves as architect. I feel honored, it is a privilege to encourage them, helping them to understand beautiful side of architecture and its profession. Actually i am learning from them and their puzzle.”

Few months, ago I rewatched again The Fountainhead movie, the movie which is directed by King Vidor. It’s based on 1943 novel by Russian-American author Ayn Rand. The movie is about one architect fighting his ideal towards economic value, public perception of the style of what is beauty, being truthful on yourself like do you like the ornament, or do you want the building to be clean to express the rationalism. I did rewatch this movie because I was doing teaching of the profession in UPH. I wanted my student to proud of themselves but not ignorant to the other engineers (MEP, Structural), or any design specialist (landscape, lighting), or even the most important seeking balance of giving and taking to their clients.

Paul Segal in wrote that ” architects are called upon to master huge amounts of complex information, create solutions that are multidimensional… this is not a job that can be done by a pig-headed individualist… The Roark personality is often promoted in architecture school culture as the “true way.” This is damaging to students for many reasons. It teaches that the only desirable goal is to become hat individualistic by forcing his or her beliefs on an ignorant public. ” [1]

Being an architect, we deal with vast information from creating hand sketches in conceptual through design development and construction drawing. It takes how to manage emotions, information, creativity, rules, and put all of those into one beautiful sequence. Edward de Bono who wrote book title How To Have A Beautiful Mind. The book consists how to manage this information by wearing six modes of thinking hats. Bono wrote The white hat indicates a focus on information. The red hat gives full permission for the expression of feelings, emotions and intuition without any need to give the reasons behind the feelings. The black hat is for caution and the focus is on faults, weakness. The yellow hat the focus is on values, benefits.
The green hat sets aside time, space and expectation for creative effort. The blue hat is to do with the organisation of thinking. ” [1] In architecture profession this might include tools, information, models, mathematics, building systems.

These hats might help the architect to understand the process of making architecture which I believe might be coined again the term master builder which might be long forgotten. Kenneth Frampton took Renzo Piano’s phrase which might accentuate the hand of the architect. He stated, ” an Architect must be a craftsman. Of course any tools will fo. These days the tools might include a computer, an experimental model, and mathematics. However, it is still craftmanship – the work of someone who does not separate the work of the mind from the work of the hand. It involves a circular process that draws you from an idea to a drawing, from a drawing to an experiment, from an experiment to a construction, and from construction back to an idea again. For me, this cycle is fundamental to creative work. Unfortunately many have come to accept each of these steps as independent… Teamwork is essential if creative projects are to come about. Teamwork requires an ability to listen and engage in a dialogue. ”

Then after that what’s next, clients are happy, other parties are happy, then how about the architect?

This might be reflected of how deep our reflection in our practice. Do we want to just stay at the surface, or are you willing to push it that far? Some of the genuine example is showed in Frampton, Poetics of Construction book, in a progression of reaching wide span, and reacting to what we called style or -ism such as (cube-ism, modern-ism, or even tropical-ism) which is showing the force of outside architect.

The deepness here is shown in the corporeal metaphor, one term brought by Frampton. It’s about experiencing the space bodily. This is about how to create a space, a concept, a reality of architecture which our perception – mind, body – (five senses), and spiritual side touched by the beauty of the space which in total creates architecture in construction, built work into such beautiful tactile details.

he even continued with 3 different proposition while accentuating for us not losing our own tectonics by telling stories about 1)beauty of hand finish, means each successive touching has communicated in design 2) Shintai-paradoxes of cold concrete and warm people which we are in this world of cold, we fill it with warmness. (3) the concept of Schmarsow and Ponty about space is determined by frontalized progression of the body through space in depth which he showed in Alvaar’s Aalto work Saynatsalo town hall which its tactile contrast entrance from small space to breathtaking space.

At the end, the skill to organise the information, being social to all the parties involved, plus which the architect needs to maintain his or her own tectonics, stated again by Frampton, “The first instance the manifest necessity for architects to maintain their command over the art of building as a spatial and tectonic disciplines” and I will add up still not forgetting their character will be the ultimate answer for the progression in its architect’s life.

Bibliography :

[1] Professional Practice: A Guide to Turning Designs into Buildings, Paul Segal. pp 13,14
[2] Why Architecture Matters, Paul Goldberger
[3] How to have beautiful Mind, Edward De Bono, pp 105,106
[4] Renzo Piano Building Workshop 1964 / 1991: In Search of a balance,” Process ARchitecture(Tokyo) no 799 (1992(. pp.12,14
[5] Frampton, Studies in Tectonic Culture The Poetics of Construction in Nineteenth and Twentieth Century Architecture, pp 10, pp11

Kategori
blog

The Guild

Located at the corner of the Street at Villa Meruya residential precinct, The guild shows its introvert side with the solid and high border wall, the solid fence without a gap to peek. As if to withdraw from the noisy Jakarta city and build its own sanctuary, the guild is solid from the outside but open on the inside.

The Building consists of one master bedroom, living room, studio a place to work , a library, one open courtyard and a kitchen. The entrance is introduced by concrete, steel, glass and polycarbonate sheet. The access from public and private is separated by open air corridor. The access to the House and the Studio are separated by 2 x 2 m foyer. The bedroom is located on the 1st floor while the other program is located on the ground floor. The circulation is interlocked to give ease access for the owner to access the studio below. Living room and also the dining room with total area of 35 sqm located on ground floor, while the more private family rooms are located on the first floor and limited by the void of stairs to separate family area and the studio. Hot west – east tropical sunlight is blocked by placing solid wall and bathroom while the facade is open to the north-south orientation. Several pyramids shaped form is also introduced to allow sunlight coming to the middle of the building and allowing fresh air circulation through the small gaps in between glass and concrete. The building system uses an automatic watering system that applies zero greywater runoff and zero storm water runoff. It means the whole water is collected to the retention basin with 8 m3 capacity and 2.75 x 3 m of catchment basin with 1,5 m of depth that also contribute the catchment to the neighbor.

The studio is consist of 6 x 6 m square shape, a small void. The small void has a tapered skylight made of concrete with several small gaps to provide light and air circulation. The library named Omah which is open at the weekend has the size of 3,4 x 12,3 m. It is sunken at perimeter area, half below the height of 0:00 meters considering public access and the needs that require a condition to keep books from the sun and constant temperature with the minimum possible to use the air conditioner. At the heart of the house is a courtyard with a fish pond with a background of the 3.5 m radius circle window with 3.50 m looking through the family room. The Guild is one example of project which exercise the modification of form and program with interlocked circulation in the tropical climate of Jakarta, Indonesia.

Kategori
blog

School Of Alfa Omega

Alfa Omega school is an educational building with spirit of locality. Located on Tangerang city, it sat on 11700 sqm area with the prior condition of swamp and paddy field. The design responded this unstable soil condition by raising structure to 2.1 m high above the ground. The site itself was chosen as part of design scheme, -corresponding to its natural surroundings, in order to give children sense of closeness to nature, thus invoking outdoor-learning experience.

(The building integrates 4 modular buildings, with efficient access point in one central court yard, due to limitation of local land zoning of what can be built and what can not be built.) The solution to answer the brief of the project is to create an optimum collaboration, or bridge relationship in economic and creative process of construction in two important levels of masonry steel and bamboo construction which can enrich the economic impact of surrounding.

Steel structure, not only for its ability to hold structural load effectively, is also chosen for its construction speed and vigorous durability. The whole building based on this framework, from foundation to roof component. Steel in its variation from thickness to treatments, opening chances in versatile details of design. While bamboo, on the other hand, are flexible matter that requires little maintance in long range which always available in that area. This availability also related to brick and concretes in that area.

The structure is combined with bamboo for roof to create parabolic shape which enhance the character of Nipah which can be tilted or bent while keeping the cost constraint on budget. The brick is stacked in solid void pattern to allow cross air circulation in the facade. Meanwhile the polished bare concrete is used as floor finishes as its durability for daily school activity.

The structure is combined with bamboo for roof to create parabolic shape which enhance the character of Nipah which can be tilted or bent while keeping the cost constraint on budget. The brick is stacked in solid void pattern to allow cross air circulation in the facade. Meanwhile the polished bare concrete is used as floor finishes as its durability for daily school activity.

The local craftsmanship are the answer of 3 problem, which is: 1. Optimum resource, 2. Time constraint, 3. Manpower. Material resource can be found within 5 km from site to accelerate development while reducing carbon footprint at the same time.

In 4 months range, the craftsman are categorized into two types: (1) Light structure, which is concentrated on roof. Constructed by triangular light steel frame per 600 mm, manpowered by 40 Sumedang craftsman. It’s low-cost material had reduced 30 % initial budget, using bamboo and Nipah entirely. (2) Heavy structure is built for modular classrooms by Salembaran craftsman constructing masonry and steel framework. By first 2 months, light structure craftsman had constructed dock, followed by roof and ceiling details. In followed 4 month they joined in heavy structure part. The school is built in 4 months time.

The school designed as passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation in its construction. The open high ceiling designed as airing pathway, followed by porous solid-void brick on each side of classroom’s wall. This way, interior air flow are circulated optimally without necessity to use air conditioner.

The school designed as passive cooling building, which relied heavily on natural cross air ventilation in its construction. The open high ceiling designed as airing pathway, followed by porous solid-void brick on each side of classroom’s wall. This way, interior air flow are circulated optimally without necessity to use air conditioner.

Kategori
blog

Bermain Layang – layang

Kemarin saya sedang selesai makan pagi menunggu course dari OMAH. Anak – anak kecil datang, menghampiri, menagih “om layang – layangnya mana ?” Saya ingat kira – kira satu bulan yang lalu ketika puasa, saya pernah menjanjikan untuk membelikan layang – layang supaya mereka bisa bermain. Gara – gara kesibukan, saya jarang bertemu mereka.

“Ayo kita beli sekarang ?” saya pada waktu itu ada di lokasi benteng yang tingginya kira – kira 3 m dari jalan utama, pada waktu itu Greg sedang lewat baru datang untuk mempersiapkan course. saya bilang “Greg ada uang ngga,”

“Dek layang – layangnya kalau kita beli itu berapa harganya ? ” mereka jawab ” 2000 , sambil berebutan, gue yang pegang uangnya, gue yang pegang uangnya ” saya bilang sama greg, Greg tolong dikasih 10000 itu ada 4 orang, sisanya lebihin satu buat mereka. Uang pun diberikan oleh Greg. kemudian saya meninggalkan mereka. Kemudian saya terbersit untuk ikut bersama mereka membeli layangan, “eh tunggu” “saya mau ikut.” Kemudian saya dan istri saya ikut ke toko layangan berjalan kaki, melewati jalan setapak selebar 2 m masuk ke gang 1 m, akhirnya tiba ke pembuat layangan, kakek dan nenek penjual layangan, mereka menjual benangnya juga.

Saya tanya ke kakek penjual “Kong harga nya berapa ?”
kakek itu menjawab “1000 pak”

dalam hati saya “asem nih anak – anak, gw diboongin”

Setelah itu saya dan istri saya belikan 20 buah layang – layang dan 5 benang.
saya mulai tanya latar belakang mereka.
satu orang namanya ojon masih TK, satu orang namanya Dillah kelas 1 SD, satu orang namanya Lehan kelas 1 SD, dan satu orang namanya Jasmin kelas 2 SD.

Lehan melapor, om ini si Dillah omongnya jorok sama kotor, saya tanya lo ngomong apa sama anak – anak lain ? ini om dia ngomongnya bang*at dan a*nj*ng sehari – hari. saya bilang eh lo ngapain ngomong jorok begitu lo sekolah ngga ? Mending ngomong “kucing” lebih keren. Mereka pun tertawa,

setelah itu saya bilang ke mereka “eh elo bilang itu terima kasih sama engkong sama nenek, sama semuanya. Ramai – ramai mereka bilang terima kasih.

Setelah selesai membelikan layangan kita berjalan kaki melewat gerombolan anak – anak lain, saya tanya ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?”

“bukan om dia mah cemen, duduknya ajak kaya orang lagi sunatan” saya bilang ke mereka, eh lo kurang ajar, sana sapa anak – anak itu, kasih tanda metal sana sapa.

Kita kemudian berjalan 50 meter lagi, dan melewati satu gerombolan anak yang lain, saya tanya lagi ke si ojon “eh ini temen lo bukan ?” “bukan om mereka anak jahat, kemarin ngajakin tawuran,” Waduh” dalam hati saya.

Kemudian saya pulang ke kantor, mereka pun pergi. 20 menit kemudian, saya sedang ada di dalam rumah, bibi memanggil, anak – anak itu datang lagi.

“Om tolong naikkin layang – layangnya ”
Oo oke, saya kemudian pergi bersama mereka ke taman di dekat rumah. Sudah lama sekali saya tidak main layang – layang kira – kira sudah 20 tahun lebih. Saya coba menaikkan layang- layang tersebut, bisa naik sampai 15 m kemudian turun lagi, kita pun tertawa – tawa berlari – lari menaikkan layang – layang, bergantian satu sama
Lain. Ketika berlari menaikkan layang – layang, terkadang layang layang tersebut berputar – putar.

Anak – anak ini adalah harapan kita, mereka hanya perlu teman, cara pandang, dan layang – layang hanyalah sebuah alat dan kehadiran kita untuk menemani mereka dengan bermain – main karena sesungguhnya kita juga perlu bermain – main dan menjadi seperti anak kecil kembali.

Kategori
blog

Berbagi Buku

Kemarin hari sabtu pagi, di depan rumah saya , banyak anak2 jam 5.30 pagi menyalakan bermain, petasan teriak – teriak ada 20 orang. Saya pikir ada apa ini?

Saya turun dan buka pintu dan melihat anak – anak ini. Lalu mereka berlarian, 17 orang kabur tinggal 3 orang, saya bilang :
“dik tolong panggil temen-temennya saya ngga marah. ”

Temen – temennya kemudian datang mungkin setelah memastikan saya tidak marah,

Saat itu di depan saya ada 20 orang, kemudian saya minta mereka duduk,
Saya tanya, “kenapa kalian main petasan pagi – pagi sekali ?” Mereka diam dan saling menyalahkan, “sudah tidak apa-apa”

saya pun duduk, dan bertanya “Kalian tau ngga soal thomas alfa edison?” saya kemudian cerita tentang alfa edison, penemu bohlam lampu , pintarnya einstein dan indahnya bermain layang – layang, ide – ide tentang ilmu pengetahuan dari pengetahuan membaca buku. Saya tanya “kalian sudah baca buku apa? ” satu anak menjawab “buku ipa pak”

Satu orang menyahuti, “ada uangnya ngga pak ? ”

saya bilang ilmu itu mahal harganya, dengan ilmu kita bisa melihat hal yang indah, pergi ke luar negeri, dan untuk menjadi kaya membutuhkan kesabaran, mereka ini anak – anak berumur 6-12 tahun, saya tanya ke mereka “mau ngga sabar untuk belajar sampai 15-20 tahun lagi?” Nanti kalian bisa mendapat uang dari ilmu kalian, setelah itu baru ada uangnya.

“Kalian mau ke paris ? Ke london ? Ke afrika ? Ke Mekkah ?” Mereka jawab “Mauuu”,
ya saya bilang harus sabar belajar, saya pun juga masih belajar untuk bisa kesana.

Setelah itu saya habiskan waktu untuk bercanda memuji mereka kalau mereka anak yang pintar karena setiap anak pada dasarnya pintar, kita diskusi bagaimana cara membuat layangan besar. Kemudian saya bilang, nanti sore kalian datang ya jam 5, saya sediakan buku didalam tempat plastik, saya isikan buku supaya pikiran diisi dengan ilmu pengetahuan. Saya pun minta tolong rezki untuk beli kotak plastik untuk anak-anak. Buku – buku yang sudah dibaca nanti dikembalikan ke kotak atau bisa dibagikan ke temen- temen yang lain.

Kemudian jam 4.00 sore saya sedang mendengar kuliah omah tentang bernard tschumi, saya dipanggil rudi, ada yang nyari katanya, anak-anak kecil datang naik sepeda. Hati saya girang, mereka datang, demi mimpi akan ilmu pengetahuan. ^^ kotak plastik ini adalah harapan untuk anak-anak ini. Isinya ada buku national geographic, komik, buku karya andrea hirata, sudah terbagi baru 15 buah buku. Di stok ada 50 buah buku.

Jadi guys kalau ada yang mau memberikan buku untuk anak2 ini kabarin ya.Dengan membaca buku kita bisa memperluas cakrawala terutama untuk anak – anak yang merupakan harapan kita semua , nanti kita coba buat program yang terkait dengan ini di omah ya, ^^ good morning ya have a great weekend. Semoga damai beserta kita semua.

Kategori
blog

OPEN HOUSE 99% Alfa Omega School Salembaran Tangerang Indonesia

Dear Restless Spirit.

We Glady invited you to come to Open House, open interpretation, and open disscusion for 99 Percent School of Alfa and Omega : Open House, new home of Children and Teachers with big dream, of PKBM Alfa Omega. Please RSVP to this link: https://bit.ly/RSVP_AO to book your schedule, on 10th June 2017. Invitation card will be given after RSVP because the space is limited.

There will be a sharing about the brief by Lisa Sanusi as the owner, a lecture by Anas Hidayat, and sharing process by Realrich Sjarief. Anas’s lecture will be the main course which titled 5 Seloki Perjalanan Arsitektur, about the 5 phase of creativity of the architect’s life and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.

The term 99 % is a process of almost finished which every work designed by RAW Architecture is always faced by natural state where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.

The schedule will follow as:
10th June 2017,
15:00 Owner’s Perspective by Lisa Sanusi
15:30 Lecture by Anas Hidayat: 5 Seloki Perjalanan
16:30 Experiencing Process By Realrich Sjarief
18.00 Buka Puasa Bersama

Thank you, and see you all

Kategori
blog

Kelompok 1 – AGTS

Jenifer Hartanto – “Gud”

Fiona – “amazing!”

Regan Natheniel – “Keren banget, beda dari yang lain.”

Stasha – “Good :D”

Vivian – “Gua <3”