Kategori
research

Pandemi dan Pengaruhnya ke Arsitektur

Sepanjang sejarah, perkembangan peradaban dan persebaran manusia diiringi dengan perkembangan penyakit menular mematikan—yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur maupun parasit. Arus globalisasi dan urbanisasi yang menyebabkan perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan, juga pertumbuhan populasi menyebabkan imbas lingkungan yang juga tinggi. Ditambah dengan perjalanan antar wilayah melalui udara yang makin sering, penyebaran penyakit menular menjadi semakin cepat. Beberapa dari kasus-kasus ini memakan korban jiwa yang jumlahnya signifikan dibandingkan dengan total populasi, sehingga disebut pandemik. Hal ini tak jarang mempengaruhi jalannya sejarah, yang mengakibatkan perkembangan ilmu kesehatan (epidemiologi) dan sanitasi, termasuk juga teknologi bangunan dan perkotaan.

Omah Library akan membahas linimasa pandemik yang pernah terjadi di dunia dan implikasi arsitekturalnya, yang dapat dilihat dari perkembangan sejarah ruang mandi dan inovasi toilet, hingga ke desain institusi kesehatan, ruang publik, bahkan pemukiman. Karena penanganan krisis yang disebabkan pandemik sepanjang sejarah bergantung dari sentralisasi oleh negara atau institusi, sering kali tercipta diktum-diktum arsitektural — prinsip yang dilahirkan tanpa adanya atau diperlukannya pembuktian. Diktum-diktum ini menjadi penting untuk ditelusuri kembali melalui penjabaran case study. Diktum sendiri adalah sebuah deklarasi yang bersifat otoriter (atau dari figur yang dapat dipercaya/resmi) tentang sebuah prinsip, proposisi, atau opini.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Inovasi Toilet

Pada kondisi pandemi seperti sekarang, masyarakat dihimbau untuk menerapkan hidup sehat, diantaranya dengan rajin mencuci tangan dan mandi dengan sabun. Mayoritas masyarakat modern memang rutin mandi sebagai pembersih diri namun belum menyadari bahwa mandi sangat erat kaitannya dengan ritual peradaban terdahulu yang mensakralkan elemen kehidupan – air. Diawali tahun 3.000 SM, air digunakan sebagai media pemurnian diri sebelum memasuki tempat suci, mandi menjadi simbol manusia memantaskan diri untuk bertemu Tuhan/Dewa, bertobat, bahkan memulai fase kehidupan baru. Selanjutnya pada tahun 2.800 SM, dimana manusia mulai membawa air kedalam hunian, peradaban bangsa Indus melahirkan prototipe sistem sanitasi perkotaan dengan jalur got terakota. Air bersih dimasukkan kedalam kamar mandi, diolah dan dikondisikan sebagai penghargaan atas peranannya meningkatkan kualitas hidup manusia. Lalu disusul kemunculan bathtub dan flush toilet pertama dengan sistem transportasi air pipa berbentuk kerucut pada tahun 1.700 SM oleh bangsa Minoa di Crete, Yunani.

Keyakinan peradaban kuno akan makna spiritual air memicu transformasi perilaku hidup sehat. Mandi sebagai simbol kemurnian, dan keabadian jiwa, pemberi kesembuhan, dan menjaga kebersihan sebagai kualitas spiritual, tercermin pada perkembangan kamar mandi di tiap peradaban dalam mengolah material lokal, inovasi desain dan teknologi bangunan, serta manajemen sanitasi perkotaan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup yang lebih sehat.

Belajar dari sejarah, masyarakat modern perlu memahami bahwa hidup sehat dimulai dari bagaimana kita menjaga kebersihan air dan sanitasi di rumah. Dengan begitu kita bisa melawan dan menangkal virus/bakteri sumber penyakit, memulai fase hidup baru yang lebih sehat.

Ritual dan Permandian | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, peradaban kuno percaya bahwa wabah penyakit adalah hukuman dari Tuhan, karma dari roh pemusnah. Persepsi tersebut seringkali justru memperburuk penyebaran dan angka kematian, atau menunjuk kambing hitam penyebab krisis. Setelah diketahui bahwa geografi dan perdagangan mempunyai peranan penting dalam penyebaran virus, karantina pun dilakukan. Selain itu, penelitian oleh John Snow menyatakan bahwa wabah kolera tersebar melalui air yang tercemar karena didapati kasus hanya terjadi dari pompa-pompa tertentu. Dari sini kita bisa belajar dari sejarah, (1) ketika pandemik terjadi, cara memutus penyebarannya adalah dengan karantina dan (2) kesehatan diraih dengan menjaga kebersiihan sanitasi khususnya di rumah masing-masing.

Omah Library melakukan penelusuran sejarah perkembangan sanitasi dunia dan menemukan bahwa peradaban terdahulu juga memegang pedoman hidup bersih dan sehat. Air yang diyakini sebagai pemurni jiwa dan raga menjadi tonggak perkembangan ruang mandi dan hal tersebut mempengaruhi jalannya sejarah dan memicu perkembangan ilmu kesehatan dan sanitasi yang memberi peluang munculnya teknologi bangunan dalam konteks kamar mandi dan sistem sanitasi pada ilmu arsitektur.

Kali ini OMAH Library menyuguhkan 3 kasus studi yang menunjukkan kebermanfaatan atas perkembangan teknologi bangunan ruang mandi peradaban terdahalu. Bagaimana ritual pemandian mereka juga memberikan manfaat kepada masyarakat luas mampu menjadi bahan refleksi, apa yang bisa kita lakukan sekarang dan masa datang untuk mengurangi dan mengantisipasi dampak pandemi? Akankah kondisi pandemic akan memicu inovasi kamar mandi dan sanitasi dalam konteks teknologi bangunan pada arsitektur keberlanjutan? Atau kita cukup merubah cara pandang untuk memulai kebiasaan hidup bersih dan sehat

Communal Bath House | Sejarah Pemandian Umum

Perjalanan sejarah communal bath House mulai dari dibukanya pemandian untuk umum hingga transformasi ruang mandi yang dipengaruhi oleh tuntutan untuk menerapkan pola hidup sehat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi mandi bersama telah terjadi sejak peradaban Yunani dan berlanjut ke Romawi yang mulai melestarikan tradisi mandi bersama dengan membuat pemandian umum. Tetapi, tidak lama setelah Romawi membuka pemandian umum, banyak terjadi skandal hingga akhirnya pihak berwenang memutuskan untuk memisahkan ruang mandi menurut jenis kelamin. Dari kebijakan tersebut orang kaya mulai memilih untuk membuat kamar mandi pribadi yang dapat digunakan bersama oleh seluruh anggota keluarga dan tamu. Namun, pemandian umum masih populer dengan adanya layanan pijat dari para ahli. Perkembangan kamar mandi umum mulai meluas hingga ke Komunitas Yahudi, Muslim dan Kristen. Mereka mulai membuat pemandian umum hingga akhirnya masing-masing komunitas memiliki pemandian sendiri yang memodifikasi model pemandian Romawi. Salah satunya tradisi pemandian komunitas Muslim yang disebut dengan Hammam. Begitupun dengan Temazcal yang juga meluas menjadi budaya hingga menjadi fitur utama mayoritas kota-kota di Mesoamerika.

Melihat perkembangan tersebut, Romawi mulai membangun spa dimana inisiasi tersebut disertai dengan promosi pola hidup bersih. Hal ini disebabkan karena selama abad pertengahan, mandi seluruh tubuh adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh kalangan atas. Sehingga secara bertahap kelas atas mulai mempromosikan perlunya kebersihan untuk kalangan kelas bawah. Namun selama abad ke-16, 17 dan 18, konsep pemandian umum dari Yunani dan Romawi mulai menghilang di Eropa karena kebersihan mulai tergantikan dengan wc portabel.

Jika melihat kondisi saat ini, dimana kita dituntut menerapkan pola hidup yang lebih bersih untuk menghindari penyebaran virus. Akankah arsitektur kembali mengeluarkan inovasi yang mengubah teknologi sanitasi dan air bersih untuk menanggapi pandemik kali ini?

Communal Bath House | Sejarah Permandian Umum

Jika berbicara tentang sejarah permandian, kita perlu melihat peradaban kuno yang telah melakukan upacara pemurnian dan ritual dengan air. Salah satunya adalah The Bath of Caracalla yang merupakan contoh permandian komunal yang telah menjadi tradisi penting bagi peradaban Romawi. Kemegahan bangunannya menunjukkan bahwa pada masa kejayaan Romawi, tradisi ini sangat dihormati. Bahkan The Bath of Caracalla diperkirakan mampu melayani hingga 8000 orang mandi setiap harinya. Hal ini membuktikan besarnya dedikasi kekaisaran Romawi terhadap permandian untuk menerapkan pola hidup sehat.

Begitupun juga dengan Temazcal yang merupakan tradisi permandian uap bersifat komunal di Mesoamerika. Ukuranya yang cukup besar untuk menampung setengah populasi kampung menunjukkan bahwa Temazcal memang didedikasikan sebagai ruang bersosial. Bagi masyarakat suku Maya kuno, Temazcal merupakan ritual yang memiliki tujuan kesehatan. Berbeda dengan permandian Romawi, Temascal tidak memiliki larangan secara formal tentang tidak diperpbolehkanya laki-laki dan perempuan mandi bersama dalam satu ruangan. Hal ini sempat mendapat pertentangan dari penjajah Spanyol karena dianggap tempat yang berdosa. Namun dengan kegigihan masyarakat Mesoamerika, tradisi Temazcal masih terjaga hingga saat ini.

Onsen dan Sento Jepang merupakan pemandian yang pada awalnya memiliki akses yang terbatas secara ekonomi dan sosial. Permandian ini pada awalnya bersifat religius. Namun, ketika memasuki abad ke-15, pemandian ini telah menjadi kultur penting bagi masyarakat Jepang hingga mayoritas orang Jepang dapat mengaksesnya.

Dari ketiga case study tentang sejarah perkembangan permandian komunal dapat disimpulkan bahwa konsepnya selalu mengarah kepada pola hidup yang lebih sehat dengan cara menjaga kebersihan. Tentu pandemik kali ini cepat atau lambat akan menjadi pemicu munculnya inovasi perubahan teknologi sanitasi hingga air bersih. Karena memang benar bahwa mulai saat ini kita telah dituntut untuk menjaga kebersihan demi mengurangi penyebaran virus.

Dari Publik ke Privat | Sejarah Ruang Mandi dan Toilet

Setiap periode sejarah menyuguhkan berbagai cerita tentang sanitasi dan kebersihan. Pada abad ke 18 M, berbagai negara di Eropa mulai berlomba menciptakan teknologi toilet dan sistem sanitasi terbaik, seperti Inggris yang bangga akan WC/water closet-nya (istilah untuk ruang berisi toilet yang muncul sekitar tahun 1870), Skotlandia dengan bucket-nya (toilet dengan penampung limbah berupa ember), Perancis dengan latrine (istilah untuk jamban yang muncul di Inggris pada pertengahan abad 17), dan Belanda yang masih menggunakan danau alami sebagai toilet. Namun masalah yang timbul selanjutnya adalah bau tidak sedap. Dari titik ini, kita akan melihat bagaimana teknologi hadir untuk meningkatkan kualitas kebersihan dan kesehatan manusia yang juga menyetir perkembangan dikotomi kamar mandi dari ‘publik/privat’ menuju ‘kaya/miskin’. Namun sisi baiknya, teknologi sanitasi dan layout kamar mandi jadi berkembang dan seiring waktu, tiap hunian dapat merasakan kualitas sanitasi yang baik, meningkatkan kebersihan publik dan kesehatan masyarakat.

Masalah yang muncul dalam dunia sanitasi bukan tentang penemuan hal yang benar-benar baru, melainkan upaya penyelesaian dari masalah yang berkelanjutan. Perkembangan ilmu kesehatan juga menjadi katalis perkembangan industri sanitasi. Tidak hanya produk dalam interior kamar mandi saja yang dipikirkan, infrastruktur saluran air juga berperan penting untuk kesehatan dan sanitasi masyarakat. Ketika pondasi flush toilet telah ditemukan oleh Alexander Cummings dan Thomas Twyford hingga memasuki era industrialisasi, yang gencar dikembangkan selanjutnya adalah menemukan teknologi material khususnya produk pipa guna menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.

Perkembangan Toilet dan Kamar Mandi Privat

Perkembangan toilet dan kamar mandi privat erat kaitannya dengan syarat akan kebutuhan kesehatan masyarakat. Rumah -rumah “Victorian” yang sebelumnya tidak membutuhkan kamar mandi khusus karena memang pada saat itu orang Inggris hanya memiliki 1 toilet yang digunakan hingga 100 orang. Oleh sebab itu limbah banyak yang tumpah ke jalan hingga ke sungai yang mengakibatkan puluhan orang meninggal karena penyakit yang ditularkan melalui air, terutama selama wabah kolera tahun 1830-an dan 1850-an. Hingga akhirnya keluar peraturan tentang penyediaan ruang khusus untuk water closet pada tahun 1859 yang menegaskan bahwa bahwa setiap rumah baru wajib memiliki water closet/WC. Sehingga Ilmu dan teknologi yang berkembang pada masanya mampu memfasilitasi hidup bersih dan sehat melalui peraturan yang menjadi standar yang sebelumnya dipicu oleh wabah penyakit kolera.
.
Selain itu, Perang Dunia juga secara tidak langsung berperan dalam pendistribusian teknologi toilet dan perkembangan kamar mandi ke penjuru dunia. Hal ini diesebabkan karena toilet yang dikembangkan oleh Thomas Crapper pada akhir abad ke-19 telah dibawa pulang oleh tentara Amerika yang ditempatkan di luar negeri selama perang dunia 1. Namun sebenarnya teknologi toilet flush sudah digunakan oleh Amerika jauh sebelum terjadinya perang dunia. Namun teknologi itu hanya bisa ditemukan pada rumah-rumah orang kaya dan hotel mewah di Amerika yang dibuktikan oleh adanya 8 flush toilet di Tremont Hotel, Boston yang kemudian berdampak sampai ke perumahan. Pada akhirnya di akhir abad ke-19, gagasan memiliki kamar mandi lengkap dengan wastafel dan fasilitas mandi (bathtub/shower) menjadi populer. Kemudian pada awal abad ke-20, dan kamar mandi menjadi kebutuhan standar di rumah-rumah yang baru dibangun.

Pertanyaan reflektif untuk peradaban kini adalah, apa yang bisa kita lakukan dalam bidang arsitektur sebagai tanggapan pandemi pada tahun 2020 ini?

Diktum Dalam Desain : Pengaruh Ilmu Epidemologi Terhadap Desain

Walaupun perkembangan pipa dan toilet dengan flush yang sudah lama ditemukan, kamar mandi dalam rumah baru menjadi umum di akhir abad ke-19, setelah saluran dan sistem drainase kota yang memadai mulai ada. Perkembangan kamar mandi pun cukup memakan waktu, di awal abad ke-20, hanya ada 1 kamar mandi kecil untuk rumah dengan 4 kamar tidur sekalipun. Desainnya pun masih mengutamakan efisiensi dan privasi.

Baru di tahun 1960-an, dengan meningkatnya kemakmuran pasca-perang dan kultur pop, perkembangan beragam desain perabot kamar mandi mulai ada. Seperti bathtub, karpet berbulu, wallpaper tahan air, hingga jacuzzi yang menjadikan kamar mandi sebagai ajang pertunjukkan kemewahan.
.
Sebelum itu, gaya hidup modern merupakan perkembangan dari kepedulian kepada kesehatan. Salah satunya untuk penanggulangan kasus kolera dan pandemi tuberkulosis yang saat itu membunuh 1 dari 7 orang di AS dan Eropa, yang diperburuk akibat kepadatan di perkotaan pada awal Revolusi Industri.

Arsitektur modern yang identik dengan bangunan warna putih muncul di awal 1900-an, melambangkan kebersihan dan juga simbol antitesis dari kegelapan kota-kota industri. Jendela diperbesar dan jarak antar bangunan diperlebar, untuk menciptakan ruang dengan udara dan sinar matahari yang cukup. Layout perimeter blok dan tipologi courtyard kembali diimplementasikan di perkotaan. Gerakan pendorong perubahan seperti Garden City di Inggris atau Life Reform di Jerman, dan The Ottawa Charter oleh WHO mulai digagas walaupun belum berhasil membawa perubahan yang konkret.

Namun perlu disadari diktum dengan elemen-elemen arsitektural yang ‘menyembuhkan’ ini merupakan reaksi dari zamannya yang kemudian dipatahkan validasi ilmiahnya setelah ditemukan pengobatan medis pada tahun 1950-an. Diktum mulai memiliki sifat dogmatis ketika konteksnya mulai sirna, namun banyak menghasilkan prinsip yang patut dipelajari.

Diktum Arsitektural dan Bangunan “Sehat”

Pernanggulangan pandemi beriringan dengan gaya artistik yang baru melahirkan diktum-diktum arsitektur Modern di abad ke-20, yang menjadi penanda era tersebut. Pengulangan diktum sepertu elemen jendela, balkon, kursi sandar didesain berdasarkan studi antopometri dan penggunaannya. .
Ekspresi progresif ini dapat dilihat di desain Lovell Health House, di mana Neutra mengakomodir semua saran kliennya, seorang dokter yang menulis artikel mengenai hubungan antara ruang domestik dan kesehatan fisik. Desain atap datar dan balkon menjadi umum sebagai tempat berjemur. Desain Paimio Sanatorium merupakan kulminasi pencapaian arsitektur medis dengan prinsip modern ini, yang detilnya bisa terlihat di skala lengkungan lantai ke dinding sekalipun. Geometri dan garis lurus juga menjadi hal yang penting, agar ruang-ruang mudah dibersihkan. Hal inilah yang coba kembali dicetuskan oleh Maggie’s Centres sebagai standar yang harus dimiliki seluruh fasilitas kesehatan. 17 wisma yang dirancang oleh arsitek-arsitek besar diharapkan dapat menjadi contoh yang dipelajari dan ditiru.

Perubahan yang dibawa oleh ilmu sains, terutap epidemiologi ini juga mempengaruhi cara kita berkumpul, membangun pemukiman, bahkan melakukan transaksi. Rantai panjang globalisasi akan terancam digantikan dengan pertukaran barang yang terlokalisasi. Hal ini juga akan menyadarkan bahwa pemukiman, kota, desa, bahkan negara bukanlah entitas-entitas yang bersifat sentral, melainkan merupakan bagian dari sebuah sistem raksasa yang saling terhubungkan. Dalam skala rumah, akan tercipta ruang-ruang pribadi yang memenuhi kebutuhan secara fisik dan psikologis, serta keseimbangan biogenik.

Di masa yang didominasi oleh isolasi, kita diajak untuk berefleksi. Salah satunya dengan melihat kembali apa yang dilakukan para arsitek dalam menghadapi pandemi pada jamannya. Walaupun tidak ada korelasi langsung secara medis, kejadian sebesar pandemi membangkitkan sisi humanis arsitek seperti Aalto untuk menciptakan bangunan yang empatik terhadap penghuninya. Lalu, reaksi seperti apa yang akan diambil arsitek dalam menghadapi pandemik saat ini?

Reaksi Arsitektur Terhadap Pandemi : Studi dari Pandemi yang Pernah Terjadi

Reaksi Arsitektur terhadap pandemik mungkin tidak terjadi secara langsung namun kejadiannya merupakan antiseden yang pasti. Pandemik berhubungan langsung dengan ilmu kesehatan yang ruang lingkupnya global namun dibutuhkan sistem penanganan regional yang lebih detail, menyesuaikan dengan kondisi lokal tiap daerah. Perjalanan reaksi arsitektur terhadap pandemik dimulai dari ruang lingkup publik dan sistem makro, berupa regulasi oleh pemerintah.
.
Regulasi yang lahir atas pertimbangan saran berbagai ahli khususnya bidang kesehatan, merupakan upaya pembentukan behavior/perilaku masyarakat sebagai antisipasi dan mengurangi dampak penyebaran pandemik. Munculnya perilaku baru akan berdampak pada sektor lain yang meliputi ekonomi dan sosio-politik yang akan berimbas pada Urban Design, pada titik ini lah arsitektur akan bereaksi, bahkan hingga detail produk kecil seperti gagang pintu sekalipun.

OMAH Library menelusuri rekam jejak pandemik terdahulu:
.
Kolera, Tifus, Demam Kuning (abad ke-19), Pes/Third Plague (1855-1959), Influenza (1918, 1957, 1968), dan Tuberkulosis (1820-sekarang)
.
Dari ketiganya, muncul reaksi arsitektur secara komprehensif yang meliputi
.
1.infrastruktur kota,
2. teknologi bahan bangunan,
3. layout dan bentuk inovatif pada interior, bahkan memunculkan tipologi bangunan baru.


Pada akhirnya seluruh produk tersebut memiliki konsep dan detail yang berakar pada prinsip kesehatan manusia dan lingkungan. Kesehatan tidak melulu tentang fisik tapi juga psikis yg bisa diwujudkan melalui arsitektur. Melihat kejadian pandemik terdahulu, Biogenic Architecture & Psychological Health dinilai menjadi kunci penting untuk menyetir reaksi arsitektur terhadap pandemik covid-19 kali ini. Ditambah lagi perlunya pembatasan jarak antar manusia di pandemi ini, sistem desentralisasi perlu dikuatkan dan hubungan ketetanggaan butuh dirajut menuju solidaritas bersama.

.

Pada akhirnya, manusia butuh menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.

Teori Praktis Pola Reaksi dari Pandemi

Kemunculan pandemik akan membentuk behavior/perilaku baru sebagai upaya memutus rantai penyebaran dan dampak buruk lainnya. Arsitektur hadir untuk menanggapi dan mencoba mempercepat sekaligus menstabilkan keadaan. Arsitektur sebagai science dan art memiliki peluang untuk maju menghadirkan solusi berupa inovasi desain berbasis ilmu kesehatan dan seni terapan yang mampu meningkatkan kestabilan psikis dan memberi pengalaman ruang spiritual. OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik.
.
Berikut teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik :
.
1.Pandemik: fenomena penyebaran penyakit berskala global, bisa disebabkan oleh virus dan bakteri.
.
2.Behavior: analisa perilaku sebagai konteks perubahan budaya baru.
.
3.Function: pembaharuan kebutuhan ruang/fasilitas berdasarkan pola perilaku user dan standar kesehatan. Kriteria fungsi didasarkan oleh permintaan (behavior). Function sendiri terbagi menjadi 5 kategori utama, yaitu: kantor, rumah tinggal, rumah sakit, fasilitas entertainment, dan kota.
.
4.Creative Thinking: eksplorasi olah bentuk yang tidak lepas dari standar ergonomic.
.
5.Artistic/beauty: elemen keindahan diciptakan ketika standar kebutuhan mendasar telah masiv dipenuhi. .
Creative thinking + beauty adalah solusi yang diberikan oleh arsitek/desainer sebagai tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental melalui ruang binaannya. Mereka berperan merajut standar bentuk dan ergonomi dengan seni dan estetika. .
Memang jejak sejarah menunjukkan tetap akan ada pandemik baru di kemudian hari namun bukan berarti kita pasif dan menerima apa adanya. Arsitek dan desainer justru mampu terlibat dalam keberlanjutan kesehatan masyarakat, menciptakan lingkungan buatan yang bersih, sehat, dan humanis. Dengan mengacu pada pola tersebut, arsitektur mampu bereaksi untuk menciptakan inovasi yang holistik, selalu meningkatkan taraf hidup manusia dan alam pada tiap peradaban dengan mewujudkan self sustain community.

Solusi Bentuk dan Ergonomi dalam Desain

Sebuah desain selalu berawal dari konteks dan berupa solusi yang ditawarkan sesuai dengan tuntutan konteksnya. Pandemi yang selalu membawa perubahan gaya hidup manusia menjadi salah satu pendorong pergerakan dan evolusi desain atau zeitgeist pada masanya. Dengan menggabungkan creative thinking dari segi bentuk dan ergonomi dengan aesthetics/beauty, tercipta desain berupa arsitektur, interior, dan desain produk. Masing-masing tipe desain tersebut memiliki kualitas berbeda yang mempengaruhi pengalaman spasial yang diharapkan berkontribusi dalam pemenuhan kesehatan fisik juga prikologis penggunanya.
.
OMAH Library kali ini mencoba menyusun teori praktis pola reaksi arsitektur terhadap pandemik guna melahirkan inovasi desain sebagai tanggapan pandemik. Creative thinking yang dilakukan arsitek dan desainer terdahulu dilakukan dengan menganalisa dengan lebih detil elemen-elemen pada bangunan Lovell’s Health House dan Sanatorium Paimio dalam menyikapi tingginya kasus Tuberkulosis pada abad ke-20. Perumusan desain-desain ini bertepatan dengan berkembangnya desan Modern, yang juga merupakan pengharapan dari permulaan gaya hidup baru bagi masyarakat.


Dalam menghadapi pandemi COVID-19 kali ini, OMAH Library mencoba mengajak para desainer muda untuk tidak pasif, melainkan mencoba memproyeksikan perkembangan desain yang mungkin terjadi dengan mempertimbangkan teknologi dan situasi sosial yang terjadi saat ini. Pada akhirnya, ini merupakan sebuah ajakan untuk berefleksi dan ebagai manusia sosial selalu mencoba membuat lingkungan hidup kita menjadi lebih baik —menyadari bahwa hidup merupakan eksistensi secara harmonis dengan diri sendiri, makhluk hidup lain, dan lingkungan.


Credit to the Omah Library’s Research Team

The Research Study is in Alvar Aalto’s Book

Buku ini Berisi tentang bagaimana studio Alvar Aalto dan relasi dengan dirinya bekerja dan seperti apa di dalamnya. Buku ini adalah salah satu refleksi dari perjalanan karya Alvar Aalto yang mendesain dengan inklusif, sebuah pendekatan yang mampu menembus batas imajinasi. Alvar Aalto adalah seorang arsitek yang memanifestasikan totalitas desain dari arsitektur, interior, sampai produk desain di Paimio Sanatorium yang terelasi dengan pandemi TBC dan Viipuri Library. Buku ini berisi mengenai :

  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa
  1. Strategi arsitek di dalam menghadapi pandemik masa kini dan masa lalu.
  2. Metode mendesain dari Alvar Aalto yang mampu menembus batas kanon tren dengan 3 pendekatan : Gesamtkunstwerk, Free Curve, dan Arsitektur Monumental
  3. Pada akhirnya ini merujuk kepada kesimpulan : arsitek ini memulai karirnya dengan kegagalan, sifat mau belajar, berpikiran terbuka, berprinsip teguh, dan akhirnya kejeniusan itu datang sebagai buah dari kerja keras.

Principal : Realrich Sjarief

Realrich Sjarief mendirikan Realrich Architecture Workshop di tahun 2011. Ia juga aktif di DOT Workshop, yang berfokus pada penelitian tektonika, dan Perpustakaan OMAH, kelompok penelitian dan perpustakaan umum yang menampung sekitar 1.500 buku arsitektur dan menyelenggarakan publik berkala acara tentang wacana arsitektur kontemporer. Ia menulis
beberapa buku bersama dengan Johannes Adiyanto, bersama-sama menjadi cantrik yang haus akan ilmu. Realrich Sjarief aktif mengajar di beberapa universitas di Indonesia, dan kerap kali memberikan kuliah umum di Australia, Singapore, Filipina, India. Bersama RAW Architecture ia memenangkan beberapa kompetisi desain, termasuk Kompetisi Galeri Nasional Indonesia, finalis dari Museum Silaban, IAI Jakarta Award di tahun 2017 dengan karya Omah Library, Finalis World Architecture Festival Award 2018, Fibra Award 2019, dan Kohler Award 2018 untuk karya Sekolah Alfa Omega. RAW Architecture di tahun 2018-2019 adalah long listed world emerging architect. Baru-baru ini RAW Architecture juga mendapatkan nominasi Emerging Architect di Asia Pacific Design Award 2020.

Tim Omah Library : Penulisan, Riset, dan Layout

Amelia Mega Djaja

Amelia Mega Djaja adalah salah satu periset dan pustakawan OMAH Library, pernah terlibat dalam penulisan buku berjudul “Craftgram: Craft + Grammatology” dan “Alvar Aalto: The Magic of Architect’s Life,” dan juga sebagai koordinator Kri(s)tik Book Club 2019. Lulus dari S1 jurusan arsitektur pada tahun 2016 dari The University of Sheffield, dengan disertasi mengenai narasi arsitektur poskolonial di Jakarta tahun 1960an.

Sebelum bergabung di OMAH, Amel memiliki pengalaman bekerja selama 3 tahun sebagai desainer, antara lain dalam proyek Alun-Alun Cicendo Bandung (2017, di bawah Florian Heinzelmann), juga sebagai koordinator tim Sayembara Kantor Bupati Sleman yang mendapat juara 2 (IAI 2018, di bawah Ary Indra).

Menurutnya, arsitektur bisa menjadi medium dalam melakukan pembacaan dan analisis mengenai kultur, sejarah, lingkungan maupun dimensi sosial yang lebih luas. Karena ketertarikannya untuk mendalami hal tersebut, saat ini Amel juga merupakan salah satu pegiat ASF-Indonesia yang aktif dalam fasilitasi dan diskusi mengenai komunitas informal kota Jakarta.

Dimas Dwi Mukti P

Dimas Dwi Mukti Purwanto, lahir di Madiun 7 Maret 1996. Lulus dari Akademi Teknik Arsitektur YKPN Yogyakarta tahun 2018 dan sekarang sedang melanjutkan studi S1 di Universitas Mercu Buana Jakarta untuk melanjutkan cita – citanya.
 
Beberapa pengalaman yang mempengaruhi pemikiran Dimas adalah ketika menjadi volunteer yang bertugas sebagai tim riset Venice Architecture Biennale 2018 bersama tim pavillion Indonesia pada tahun 2017, ketika menjadi tim desain revitalisasi desa Krapyak di Pekalongan bersama Studio Akanoma dalam mendampingi World Bank pada tahun 2018, dan ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi juru gambar PT. Waskita Karya dalam proyek tol Pemalang – Batang pada tahun 2018. Kemudian Dimas juga pernah bekerja di PT. Kreasi Nusa Studio sebagai desainer interior dimana banyak mengerjakan proyek – proyek kantor, residensial hingga komersial sepanjang tahun 2019. Untuk saat ini Dimas sedang belajar dan bekerja sebagai pustakawan dan juga periset di Omah Library. Salah satu prestasi yang pernah Dimas raih adalah juara 3 dalam kompetisi desain ruang publik yang bertema Unexpected Space di tahun 2018.
 
Dimas adalah orang yang tidak pintar – pintar amat namun memiliki keinginan yang kuat untuk bisa membanggakan bangsa Indonesia sebagai arsitek yang baik sehingga hal itulah yang selalu membuatnya mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan belajar lebih dalam lagi.

Kirana Ardya Garini

Lulus dari jurusan Teknik Arsitektur pada tahun 2017, Kirana A. Garini memiliki pengalaman bekerja di konsultan arsitektur PT Tripatra Konsultan di Yogyakarta yang khusus menangani proyek pemerintahan.

Kirana sempat bergabung dalam Housing Resource Center Yogyakarta dengan fokus penanganan kampung kota Kali Code Yogyakarta dengan output berupa profil kawasan.

Kirana senang bereksperimen dengan desain produk, khususnya yang dapat digunakan di ruang publik. Ia pernah membuat Pringgam (pring-gamelan), prototipe produk bermain bagi anak usia SD di taman kota Surabaya, berbahan bambu, memadukan sistem alat box musik dan gamelan. Produk tersebut sengaja didesain untuk beberapa penggunan sebagai tanggapan atas minim nya interaksi sosial anak di kota urban yang cenderung terikat pada gadget mereka. Karya tersebut mendapat penghargaan juara 1 pada sayembara Play MORPH yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur ITS, Surabaya bersama dengan 2 orang dalam timnya.

Kirana sangat tertarik dengan arsitektur untuk publik, yang mengutamakan kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas, desain universal, multi dimensi dan multi disiplin, serta bersinggungan dengan kebijakan publik, politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu saat ini Kirana memilih bergabung sebagai Researcher Librarian di OMAH Library. Kirana berharap dapat melatih ketajaman observasi dan berpikir lebih dalam guna mengkoneksikan sejarah dan teori, mampu membuka wacana, membangun kritik, dan menakar kebijakan publik yang kontekstual.

Selama di OMAH Library, Kirana terlibat dalam berbagai riset yang diantaranya diterbitkan dalam bentuk buku, seperti: Methodgram, Craftgram, Sejarah Arsitektur untuk Mahasiswa, dan yang terbaru, buku Alvar Aalto: the magic of architects life.

Satria A. Permana

Satria A. Permana is currently working at OMAH Library, observing and researching architecture discourse in Indonesia. He graduated from the school of architecture in Universitas Islam Indonesia. His thesis about “Recoding the Code’s Urban Kampong”, has led him to put his concern on developing urban kampong design language, which also aided him to gain several prizes in architecture and urban design competition such as merit award in FuturArc Prize 2019 and nominated in Student Charrette World Architecture Festival 2016. Besides architecture and design, he spends half of his life observing the worlds in writings and photography which could be found at http://www.medium.com/@satriaap. In 2020, he co-authored with Realrich Sjarief a book titled The Secret of Architect’s Life. He is available to reach by email at satriaap@live.com or Instagram @satria__ap.