Kategori
project

Earthing Silaban – Finalist of Museum Silaban Design Open Competition

 

Sayembara ini merupakan eksperimen yang dilakukan untuk memberikan optimalisasi luasan area yang terdesain dengan meletakkan desain massa di sisi yang rawan longsor yang ada di sisi batas bangunan. Lahan gudul yang menjadi lokasi merupakan bekas pertambangan pasir yang merupakan hasil perbuatan penambang yang berusaha menghasilkan keuntungan dari lokasi, mengusahakan yang terbaik yang bisa didapat untuk kepentingannya dan kesejahteraannya.

Seiring dengan perjalanan, dengan contoh di lahan ini, manusia lupa bahwa perlu ada memberi kembali pada alam sehingga lupa untuk mengembalikan apa yang sudah diambil hingga lahan itu menjadi rusak, terbengkalai dan buruk kualitasnya. Oleh karna itu desain dari Earthing Silaban berupaya mengembalikan esensi yaitu kebergunaan dari lahan menjadi hal yang penting untuk memberi makna baru dan kebergunaan baru, yang dimetaforakan dengan sama seperti legenda Tungkot Tunggal Panaluan, yaitu memaknai sebuah kejadian pilu menjadi suatu hal positif dan tidak saling menyalahkan. Bentuk dari Tungko Tunggal Panaluan ini menyiratkan bentuk massa bangunan yang memanjang yang merupakan hasil optimalisasi dari Cut and Fill lahan yang didasarkan kedalam strategi desain arsitektur yang berkelanjutan, efisien, low carbon footprint, dan meminimalisasi dampak lingkungan dengan memperbesar dampak positif dengan mengolah ruang – ruang yang positif.

Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada kesadaran untuk mengobati lahan yang rusak dengan prinsip utama bertitik berat pada respon bangunan yang optimal terhadap konteks dengan menyesuaikan bangunan sebagai bagian dari kontur ikut membantu menguatkan kontur berbukit di bagian belakang site, mengamankan lahan dari kemungkinan adanya longsor. Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada beberapa prinsip :

Prinsip pertama bertitik erat pada respon bangunan terhadap konteks tanpa merusak lingkungan, Upaya passive cooling juga dilakukan dengan menggunakan corong untuk menangkap angin. Corong berupa dinding dengan skala ketinggian yang massive agar angin terkumpul secara maksimal tanpa halangan. Selain untuk menangkap angin, dinding yang tinggi juga digunakan untuk pencahayaan alami melalui skylight. Skylight ditempatkan di antara fungsi-fungsi ruang sehingga setiap ruang mendapat akses langsung dengan pencahayaan alami.Lokalitas juga tercermin dalam pemilihan material berupa batu kapur putih.

Prinsip kedua berhubungan dengan kebermanfaatan monumen Friedrich Silaban ini terhadap masyarakat sekitar. Beberapa spot dapat digunakan untuk aktivitas publik, seperti tangga masuk yang dibuat lebar agar dapat digunakan pengunjung untuk duduk-duduk, bersantai atau bisa digunakan untuk platform aktifitas publik (pertemuan, pementasan musik, teater dan lain sebagainya

Prinsip ketiga yaitu memberikan jiwa dan karakteristik Friedrich Silaban ke dalam bangunan, menjadikan monumen Friedrich Silaban ini memiliki sifat seperti Silaban itu sendiri. Penggunaan geometri yang sederhana serta pengunaan skala yang humanistis namun monumental yang merepresentasikan kesederhanaan.

Desain dari konsep Silaban Membumi “Earthing Silaban” ini mendemonstrasikan kesederhanaan Silaban dengan reduksi arsitektur yang radikal, meredefinisikan museum sebagai ruang yang bermain dengan cahaya, kesederhanaan, ruang – ruang yang humanis namun monumental.

Sayembara ini dikerjakan di dalam waktu sekitar 4 hari, waktu yang tidak lama karena kesibukan kami, di dalam proses pengerjaan terdapat saat – saat untuk merefleksikan kembali kejernihan metodologi desain. Dan pilihan – pilihan yang muncul dan disepakati di dalam proses diskusi membuat desain dari Museum ini memberikan titik yang baru di dalam proses perencanaan yang lebih solid dan radikal.

Design Team :
Principal : Realrichsjarief
Team : Alifian Kharisma, Fakhriyah Khairunnisa, Thomas Santoso, Michael Chen, Timbul Simanjorang, Kanigara Ubazti.
.
Juror :
1. Ir. Diana Kusumastuti, MT. / Direktur Bina Penataan Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR
2. Sahat Silaban, SE / Pengagas Monumen Friedrich Silaban
3. Drs. Tonny Sihombing, M.IP / Pemerintah Daerah Kab. Humbang Hasundutan
4. Prof. Ir. Gunawan Tjahjono, IAI., M.Arc., Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
5. Ir. Baskoro Tedjo MSEB,Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
6. Boy Brahmawanta Sembiring, IAI, AA / Ikatan Arsitek Indonesia Sumatera Utara
7. Setiadi Sopandi, IAI., ST., M.A.rch / Penulis Buku Friedrich Silaban
.
#realricharchitectureworkshop #rawarchitecture #spirit45theriseofasia

Kategori
thoughts

1 Persen yang Dinanti : Berdialog dengan Anas Hidayat

Jumat 24 Juni 2016
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika kita berjabat tangan, tentunya ada sebuah ikatan yang saling tarik-menarik. Mungkin makin lama makin banyak yang bisa maklum, pasrah, atau rela, bahwa kita membutuhkan paradoks dalam membuat satu argumentasi yang jujur. Tulisan mas Anas banyak memberikan keoptimisan tersendiri, bahwa kita arsitek perlu untuk selalu terus belajar, tanpa henti, semakin kita menginginkan sesuatu semakin banyak pulalah kita harus belajar, ambisi berbanding terbalik dengan lamanya pelajaran. Ketika keinginan itu dituturkan dan dilakukan dengan segitu dalamnya, sebegitu banyaknya juga yang harus dikerjakan. Mungkin tidak ada kata lain untuk arsitektur indonesia, selain kerja keras. Di balik seringnya kekecewaan saya terhadap pranata kita, yang ternyata ujung – ujungnya ke sikap dalam berprofesi, ketulusan hati dalam bekerja, mungkin kita perlu optimis dalam melihat masa depan, tidak dalam kacamata paradoks yang sudah biasa dikerjakan, bekerja melalui gambar, institusi, hukum, kontrak, ataupun hal – hal yang berbau – bau formal. Namun baiknya kita menelisik paradoks dari hal tersebut, tentunya dengan profesionalitas dan etika yang dijunjung tinggi yaitu, nilai kejujuran.

Pak Irianto Purnomo Hadi, sebuah figur yang banyak dihindari oleh beberapa orang – orang muda yang saya temui, ternyata berhati sangat lembut. Mungkin saja penghindaran itu terjadi karena beliau terlalu jujur, dan lugas dalam berkata – kata. Di balik orang – orang seperti ini, tanpa tedeng aling – aling, dengan sikap yang sudah siap akan kritik, tentunya akan pas saja, celakanya begitu kumpulan – kumpulan tidak siap, ya pasti menghindar, karena kurang kerja keras, kurang persiapan, kurang latihan, tapi pingin eksis.

Dari Pak Irianto, sesingkat bicara, ada dua hal yang penting, yang pertama adalah kekerabatan, brotherhood, sekali dua kali, beliau melontarkan cerita tentang pertemanannya dengan Yori Antar, Andra Matin, Sonny Sutanto, dan lain – lain, bahwa di antara mereka tidak ada puja puji berlebihan, dan memang sesuatu dilontarkan apa adanya. Ya memang kumpulannya sudah siap dan mereka sudah seakan – akan mengerti satu sama lain. Pada akhirnya diceritakan ada semangat penjelajahan, atau eksplorasi tanpa henti, hal itulah yang menjadi cikal bakal Arsitek Muda Indonesia. Dan atas nama AMI, label itu lalu terbentuk. Pertanyaannya setelah label itu terbentuk, kemudian apa yang menjadi semangat pertamanya apakah terus ada dan semakin meningkat ? ya mungkin saja ini titipan buat kita – kita ini mas Anas, supaya meneruskan semangat – semangat mereka. setidaknya saya berusaha mencari – cari kerabat yang bisa berjabat tangan, bukan saling mengentuti, saya menemukan nafas ini dalam diri Mas Anas. Dari kekerabatan ini kita berusaha saling meningkatkan diri, seperti kedua pendekar yang saling berlatih hanya sebagai sebuah pemberian untuk hidup yang ada ini, ini konteks mas Anas dengan ndaem,

Yang kedua adalah kedalaman (depth), beliau ucap kali berkata, bahwa menggapai sesuatu yang tidak lengkang jaman,membutuhkan waktu, dan proses latihan yang panjang. Di era sekarang yang semakin cepat, hal – hal ini semakin sulit ditemui, dimana kompetisi menjadi ketat, dan sisi egoisme dari arsitek menjadi kental dan tinggi. Disinilah diskusi berjalan menyenangkan membahas figur – figur arsitek seperti louis kahn, dan beliau juga bertanya, apakah saya suka dengan Scarpa, ya itu desainer yang luar biasa, meninggalkan torehan sejarah arsitektur yang dalam, seorang pendekar byzantine. Dari situ kita membahas mengenai castevechio, satu museum yang dulunya adalah barak, dengan intensi permainan detail, dan penataan ruang pameran, sampai ke bagaimana satu karya lukisan itu ditata dengan pendekatan visual, perspektif, perjalanan pengunjung menikmati satu – persatu karya dimulai dari pintu masuk. Dari kedua ini, saya coba beranikan diri untuk mengajak beliau turun gunung juga untuk berbagi keluh kesahnya ke anak – anak muda, jadi kelembutan dan ketegasannya, dua paradoks ini bisa terbaca dengan lebih baik. Ada dua hal, kekerabatan, dan kedalaman yang menjadi penting dalam pertemuan dengan pendekar gondrong namun lembut hati ini.

Buku Pak Yuswadi Saliya, akan meluncur hari ini ke Surabaya, nanti saya es em es untuk tau alamat njenengan. Coba nanti kasih tau pendapat njenengan apa tentang buku itu, dan kita bisa diskusi bersama, pinginnya, bab per bab, tulisan per tulisan, ha ha. tapi rangkuman aja mas, supaya kita endapkan dan seharusnya ada dialog dengan buku itu. Namun ngomong – ngomong soal pameran kita. tulisan mas sudah asik pol tenan, muantap. Dengan interpretasi dari swarang,

saya suka sekali dengan paragraph ini, kalau namanya suka ya susah ya, karena pakai hati, ngga pakai pikiran, atau malah pakai hidung kaya kata njenengan, ha ha.

“Dalam pandangan s[w]ar[w]ang atau swa-rwang (swa=mandiri, rwang=ruang/ruangan), sarang adalah ruang (buatan dan milik) sendiri, yang dibuat sendiri untuk kemudian ditempati sendiri. Jadi, swa-rwang bukan rwang/ruang untuk ditempati oleh orang lain, tetapi sebuah pergulatan yang bersifat individual, personal.

Ketika seekor burung membangun sarang, itu adalah urusan antara dirinya dengan semesta, sebagai sebuah “ritual” untuk “mengukur” dirinya, yang tak membedakan antara yang alami dan yang buatan, tak membedakan antara insting/naluri dan kesadaran, antara intelejensi dan emosi.

Sedikit cerita tentang burung-burung manyar (dari novel Burung-burung Manyar, karya Y.B. Mangunwijaya):
ketika masa berahi, burung-burung manyar jantan membangun sarang untuk menarik perhatian betina. mereka berlomba untuk membuat sarang yang sebagus mungkin. Hingga pada saatnya si betina memilih, dia akan memilih sarang yang terindah di antara sarang-sarang buatan para jantan itu, dan si pembangun sarang akan menjadi pasangannya. Lucunya, ketika tahu sarangnya tak terpilih, burung-burung manyar jantan lainnya akan merusak sarang buatannya sendiri hingga hancur-lebur, dipreteli dan dilolosi hingga tak berbentuk lagi, mungkin sebagai ekspresi kekecewaan.
Tetapi, burung-burung manyar jantan selalu optimis, dia akan membangun sarang baru lagi dari nol, dengan mengumpulkan bilah daun tebu dan rumput kering, dengan harapan ada burung betina yang memilihnya nanti.

Yang esensial di sini adalah refleksi, berkarya dengan bercermin pada dirinya sendiri, yang hasilnya adalah untuk dirinya sendiri (tetapi nantinya bukan hanya untuk dirinya sendiri), mulat sarira atau “mengukur diri”, yang dalam tahap berikutnya sebagai “persembahan” kepada dunia.
Swa-rwang adalah tempat untuk meraba diri, mempertanyakan entitas dirinya sebagai upaya menempatkan diri dalam konfigurasi agung semesta.”

sebuah pergulatan sendiri, sebagai ajang refleksi untuk persembahan pada semesta.

Nah Sarang lagi dibuat materinya ya mas Anas, Sepertinya kita perlu merangkul kutub yang berbeda jadi begini, saya ingat ada pameran ketukangan yang dipamerkan di Venice Bienalle, yang dikuratori oleh David Hutama, Avianti Armand, Setiadi Sopandi, Ahmad De ni tardiyana, dan Robin Hartanto. Mereka mengkategorikan perkembangan arsitektur melalui bahannya. Yang dalam pandangan saya bahwa karya ini bisa bersifat romantis, pada jiwanya, pada filosofinya, pada pengantarnya, namun untuk produk yang diberikannya, sarang perlu menegaskan bahwa ia berorientasi pada kerja keras, untuk memecahkan masalah. Nah kepikirannya, bahwa framework dari ketukangan itu kita bisa pakai, sekaligus sebagai usaha untuk meneruskan semangat pameran mereka, nah kita – kita yang meneruskan. Jadi yang terpikirkan ada pembahasan tentang kayu, batu, logam, bata, plastik, yang akan dipamerkan adalah gambar – gambar detail saja, sebagai satu sumbangan akan vocabulary untuk yang masih muda – muda, semoga bisa membantu untuk mengarungi profesi yang sedemikian kacau beliau. Jadi rumusnya akan dibagi, resepnya akan dibagi – bagi disini, seluruh perkembangan studio sampai saat ini melalui gambar, video, dan gambar kerja. Ini adalah sebuah tantangan untuk merefleksikan, atau mengkuratori diri kita sendiri yang berguna untuk perkembangan sarang itu sendiri. dengan detail effort yang tertinggi akan muncul karena disitulah dituntut ada konsistensi, dan permainan detail adalah bagaimana kita konsisten dalam bentuk dan intensi desain dari macro sampai titik terakhir begitu pekerjaan itu diselesaikan.

Yang menarik adalah di pengantar, ada beberapa fakta yang kita coba ulas, bahwa dalam pengerjaan 350 proyek yang ada sekarang, yang terbangun hanya sekitar 10 – 15 buah, selama 4 tahun. Jadi kita bisa cerita soal kompleksitas profesi yang memang membutuhkan kesabaran dalam berarsitektur. Kita bisa cerita juga tentang stastitika jumlah adik – adik yang datang dan pergi. di RAW , di DOT, atau di Omah library. sebagai satu jalan untuk melihat satu jalan yang penuh turun naik, tumpang tindih, manuver kiri dan kanan, dan melihat permasalahan yang tidak sederhana. Sarat dengan ledakan informasi, tanpa tedeng aling – aling, tanpa permisi, dan kemudian kita pergi dengan terbirit – birit ha ha ha, semoga tidak dikejar orang – orang. Arsitektur yang kita jalani sehari – hari saya setuju ini urusan profesi, menggapai kesempurnaan dan menghidupi banyak orang dengan inspirasi, dengan kenyamanan, juga dengan fulus yang diciptakannya.

Sumrabah ini menarik mas anas, bagaimana menyebar kemana – mana tanpa intensi khusus untuk itu, namun dengan keinginan untuk berbagi itu pun sudah sebuah intensi ya. Namun bagaimana yang dibagi itu, merasa dikentutin, atau dibelai, itu lain halnya, soal bertemu kekasih dan bertemu godot, yang tidak pernah ada. Saya coba cari referensi yang diberikan mas Anas, Finding Godot, apa ada referensi lain yang bisa dibagi, sayangnya dekonstrusi kimbell saya ngga dapat, sulit untuk dicari.. kembali ke sumrabah, kalau – kalau yang dibagi itu bisa menerima, dan suka, cinta dengan apa yang dibagi, atau sebenarnya mereka sedang menelisik adakah cinta disana, adakah sarang(dalam bahasa korea berarti cinta) itu ada disana, kalau ada , maka mereka (burung – burung manyar ) akan bersiap – siap memadu kasih.

Sedikit cerita lagi mengenai almarhum Heinz Frick, saya kebetulan berkesempatan ke rumahnya dan ke ruang tidur sekaligus ruang kerja dan perpustakaannya. Orangnya rapih sekali, ada map – map, manuscript, yang berisi kliping, dan data statistika dari buku – buku yang dikopi. Dari situlah saya melihat orang ini, adalah seorang akademisi yang bisa mampu memilah – milah informasi dan bekerja sama, dilihat dari banyaknya buku, kualitas buku, dan orang- orang yang diajak bekerja sama dalam pembuatan buku. Dan kemudian kemarin pada waktu saya ke cilacap, kebetulan saya take off dari bandara Halim Perdana Kusuma, disitu ada buku judulnya working clean karya dari Dan Charnas, ia mengetengahkan konsep mise en place, saya tuliskan prefacenya disini ya,

“everyday, ches across the globe churn out enormous amounts of high quality work with efficiency using a system called mise – en – place- a french culinary term that means “putting in place” and signifies an entire life style of readiness and engagement. …. Charnas speels out the 10 major principles of mise – en – place for chefs and non chefs alike : (1) planning is prime (2) arranging spaces and perfecting movements (3) cleaning as you go (4) making first moves) (5) finishing actions (6) slowing down to speed up (7) call and callback (8) open ears and eyes (9) inspect and correct (10) total utilitzation. ”

Ini ada paradigm ekstrim mengenai bagaimana chef bekerja, seperti ada ceritanya si Jimi Yui adalah seorang kitchen desainer terkenal, seperti paradigm biasa, bahwa dapur perlu besar dan lux, membuat setiap chef bergerak dengan mudah. Ini adalah logis, dan bisa dinalar bahwa ini satu kesepakatan yang bisa diterima bersama. Namun Jimi Yui mendesain kitchen untuk chef – chef terkenal di dunia seperti Mario Batali, MAsaharu Morimoto, dan Eric Rippert. Ia mendesain dapur yang sangat efisien, sekecil mungkin, bahkan chef tidak perlu untuk melangkah kemana – mana, ia cukup diam ditempat dan semuanya ada disekitarnya. Hal ini terbukti efisien, tidak membuang waktu, dan akhirnya chef tersebut bisa melakukan hal – hal yang lain, ia membuat stastitika bagaimana chef itu bergerak dan berapa waktu yang terbuang. Nah saya pikir, hal ini ada paradoks dengan apa yang terjadi disekitar kita, terkadang hal – hal yang menjadi kesepakatan bersama, membutuhkan dobrakan, sepertu bagaimana Jimi Yui bekerja. menurut mas Anas bagaimana, mungkin saja bentuk ekstrim studio bisa diredefinisi perlahan – lahan, tentunya dengan niat untuk meningkatkan kualitas.

Saya pikir Mas Anas pun demikian, tulisan – tulisannya mendobrak pemikiran saya, karena soal pikiran itu mudah, rasionalisasinya jelas dan bisa dipelajari namun siapa yang bisa menakar ledakan hati, siapa yang bisa membatasi, apalagi kalau aktornya hanya kita ha ha ha. (maaf mangap terlalu lebar) setelah sumarah, sumrabah, lalu sumringah. ha ha.

Hari ini, sudah akan ada progress untuk instalasi kita, saya akan kirimkan ya, semoga dua tarikan, paradoks, yang terjadi akan membuat kita semakin banyak belajar, dan berkembang, Mas Anas maaf kalau sedikit meledak – ledak, soalnya lama saya belum balas, jadi ide – ide ini menumpuk, baru sekarang disalurkan, Mas kalau sempat kita buat tulisan dialog ini semakin meledak – ledak, saya juga suka sikutan sikutan sampeyan. ha ha.

salam semesta,

Realrich

Rabu, 22 Juni 2016
Dear Mas Realrich Sjarief yang baik,

Selama sekitar tiga minggu setelah pertemuan kita, saya mengalami semacam terpaan gelombang-gelombang yang semakin cepat dalam pusaran. Saya seperti tidak percaya minggu lalu sudah datang ke Jakarta, seperti mimpi saja ketika memberikan lecture di open house-nya RAW/The Guild. Saya juga berpikir, setelah kita saling berkirim email, sampeyan yang arsitek saja masih bisa dan sempat-sempatnya menulis begitu panjang dan bernas. Sedangkan saya yang mengaku architext malah seringkali terlambat menulis, terlalu lama dipendam di kepala dan tak lekas dikeluarkan dalam tulisan (mungkin terlalu banyak pertimbangan, haha, atau kepala saya sudah terlalu kacau, hmmm..)

Saya rasa, tidak banyak arsitek yang bisa melakukan seperti yang sampeyan lakukan (mendesain, menulis, menyeni, dan entah apa lagi). Saya juga percaya, jika arsitek bisa mengungkapkan apa yang ada di kepalanya, maka apa yang dia kerjakan dengan tangannya akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh orang lain. Sebuah kesatuan antara kepala, tangan, kaki, mulut, telinga, mata dan bahkan perut (saya masih yakin juga bahwa arsitektur selalu berurusan dengan perut – selain dengan hati dan otak, seperti sering diajarkan dalam metode perancangan).
Mas Realrich, saya sangat suka dengan cerita-cerita sampeyan tentang para arsitek. Misalnya tentang pak Irianto PH yang katanya mau datang ke kantor sampeyan. Menurut saya, dia tidak sedang melirik ke “sekuntum bunga yang mekar”, tetapi sedang menengok ke “sebuah sarang yang sedang bergejolak” (gejolak positif, bukan negatif), yang menyimpan gelegak pembaruan di arsitektur Indonesia yang sampai saat ini masih mengalami makropsia, kurangnya iklim dialog/diskursus yang bermutu, dll. Ini sarang yang para penghuninya siap nge-trance, dan saya akan terus menunggu ledakan-ledakannya.

Kalau tentang karya terbaik menurut teman sampeyan seperti yang mas Rich ceritakan, yang dipandang secara sempit dari “kacamata kuda”, hmmmm,, saya rasa begitulah cara banyak orang kita dalam melihat karya. Kalau dari pandangan hermeneutik, saya pikir itu sejenis penafsir yang kurang kreatif, yang level horisonnya masih “rendah”, yang ingin membongkar candi dengan kunci inggris, atau ingin menservis arloji memakai pedang samurai (malah terlalu sarkastis, hahaha). Hmmm, saya jadi ingat kata2: “dalam dunia kecap, tidak ada nomer dua (karena semua nomer satu), dalam dunia arsitek, tidak ada nomer satu (karena semua punya nilai/pandangan/karakter sendiri yang jelas tak bisa dibandingkan secara simple saja seperti membandingkan pisang goreng dan kue lemper).”

Senang diceritain buku The Power Paradox-nya Dacher Keltner. Tentang power, yang berseliweran membentuk tegangan-tegangan. Power-nya Machiavelli, Will-nya Nietzsche sampai Desire-nya Deleuze memang menarik untuk diikuti. Sampai-sampai sampeyan membikin antitesisnya: Sumarah (menyerahkan diri). Mungkin nanti akan ada sumeleh (meletakkan hati) atau sumrambah (menyebar ke mana-mana). Antitesis itu membuat tegangan-tegangan akan makin dinamis, membuat pusaran semakin mendebarkan…
O iya, saya belum pernah membaca bukunya pak Yuswadi Saliya yang berjudul “perjalanan malam hari” (sekaligus ngarep dikirimi dari Jakarta, hehehe). Ya memang dalam dunia praksis yang kadang-kadang begitu pragmatis (dan ekonomis), perlu seorang begawan yang selalu mengingatkan, atau membantu merenungkan tentang profesi arsitek. Bukan sebagai (sekedar) pekerjaan belaka, tetapi sebagai panggilan semesta. Kalau kita balik menjadi “perjalanan menuju pagi” bisa jadi lebih seru. Semacam perjalanan “habis gelap terbitlah terang”. Kita memang harus optimis bahwa pagi akan tiba, saatnya beraksi di bawah matahari kesadaran…

Saya kemarin sudah bikin sedikit tulisan tentang “sarang” untuk kolaborasi kita. Mungkin masih belum matang sih, akan saya coba untuk lebih menajamkannya lagi…
salam,

Anas

Kamis, 16 06 16

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika pusaran itu bergerak, dan mungkin saja kejujuran menjadi penting, karena semua hilang arah, karena arsitek kehilangan kuasanya karena percepatan pertumbuhan jaman, dengan gejala – gejala hati yang sombong, dengki dan penuh angkara murka tanpa adanya kuasa. Saya sangat tertarik dengan bahasa hermeneutik sampeyan, dengan tafsir – tafsir yang mendasar yang sebenarnya menyadarkan kita semua, bahwa kita perlu percaya kata hati kita, bahwa kita adalah singa yang ada di alam bebas, bukan singa yang ada di sangkar besi. Penyentuhan presentasi njenengan adalah penyentuhan hati, yang bisa menyentil orang yang pintar menjadi marah, dan tidak terima, dan ketika kita sadar, ternyata yang diarahkan adalah bukan hitung – hitungan belaka, namun ini adalah soal hati.

Soal peran arsitek menjadi 1 %, mungkin kita semua disadarkan untuk harus selalu dekat dengan tanah, karena memang kuasa kita adalah ketika kita masih mengerjakan project tersebut. Ketika karya tersebut selesai dan tuntas peran kita, maka peran arsitek menjadi 1 %, dan memang 1% oleh karena sekarang saya menjadi bisu, mas anas saya tantang untuk mengambil 99 % tersebut dan mengambil alilh peran arsitek, menjadi peran tafsir untuk kebaikan publik.

Mas Anas, baru saja satu adik yang saya kenal mengabarkan bahwa ada satu arsitek senior, yang terkenal emosional, blak – blakan, ganas, dan rupawan dan ganteng, ingin datang mendatangkan satu kantornya ke theguild untuk berkunjung, namanya pak Irianto Purnomo Hadi dari antara architect. Ndalem sangat penasaran kenapa beliau ingin datang, mungkin saja, ini dari tebak – tebak tanpa maksud apa – apa bapak itu penasaran mendengar dari anak kantornya ketika acara kemarin, semesta sedang bergerak, dan sebaiknya kita menyambungnya dengan gegap gempita, gelap atau terang, mungkin saja kita akan bertemu pendekar atau guru yang belum terlihat, tokoh – tokoh baru. Mungkin saja ada tokoh – tokoh yang lain muncul satu persatu, dan memang ini pusaran bergerak saling tarik menarik yang sudah dimulai, ditanggapi dan diteruskan dalam langkah – langkah selanjutnya, syukur – syukur kalau orang – orang itu bisa ikut nge trance dan joged bareng, dan kemudia kita bisa berdialog juga, bermimpi bersama.

Saya ada cerita bertemu teman baik saya di satu acara di pameran di casa kemarin, dan ia bercerita tentang bahasa batu bata yang baru ia lihat, katanya arsitektur itu adalah arsitektur terbaik jaman sekarang, karya itu adalah karya seorang arsitek senior. Saya melihat foto – fotonya, dan sempat takjub, memang itu adalah satu karya yang luar biasa. Luar biasa karena konsistensi permainan detail, pengolahan ruang dalam – luar, terkejut, tenang, dengan permainan – permainan cahaya. Namun, saya kemudian berpikir, apa itu terbaik, dan apa ada yang terbaik ? Apa perlu ada sesuatu yang terbaik ? Kita mendapatkan terbaik mungkin untuk mendapatkan satu contoh yang ekstrim dengan permasalahan yang dipecahkan secara spesifik, tentunya sudut pandang dalam melihat kualitas menjadi penting.

Saya pun iseng saja sebenarnya menimpali, bahwa ia perlu pergi ke India, untuk melihat satu master disana yang sudah membangun 35000 rumah dan memiliki arsitektur yang jujur untuk memecahkan masalah cuaca, konstruksi, pemilihan material, dan pengolahan bahasa arsitektur yang eksotis sarat akan alasan dan intuisi (Laurie Baker) , ataupun ia perlu ke Italia untuk melihat kekayaan detail yang didesain oleh Carlo Scarpa, atau malahan melihat Pohsarang Kediri dengan pembahasan ndoro klepon yang sampeyan tuturkan didalam buku Arsitektur Koprol mengenai lokalitas dan inovasi yang melewati keterbatasannya, atau lebih – lebih lagi arsitektur turen yang dibangun oleh santri – santrinya atas nama cinta. Bahwa ada arsitektur yang berupa – rupa dan unik – unik berbeda dengan arsitektur yang disampaikan tergantung sudut pandang yang ingin diciptakan. Arsitektur unik – unik ini memberikan warna – warna yang berbeda dalam kebudayaan dunia yang pluralistik, oleh karena itu, apakah pantas argumen terbaik itu muncul, mungkin saja, namun argumentasinya kalau hanya simplistis berupa kesan, gambar, tanpa memahami satu gambaran yang utuh adalah mungkin saja benar atau mungkin saja sedang tersesat. Saya melihat dibalik kedigjayaan yang ada, inovasi arsitektur dari gambar tersebut masih bergulat diantara wabi sabi, imperfect but perfect, seperti kevin Mark Low, atau Alvar Aalto, maka saya perlu kesana untuk mengalaminya secara langsung., Pada saat terakhir berdebat, ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak bahwa setelah kita berdiskusi , katanya ia membatasi pembahasan karya yang kita perdebatkan yang hanya ada di Indonesia, dan tidak melihat negara lain, saya merasakan sedang dikentutin, dan itu bau kacang mente, ha ha, inilah sebabnya kalau menilai tanpa sudut pandang, pasti akhir – akhirnya bau kentut akan keluar.

Secara sikap, saya kemudian membayangkan seakan – akan kita ada di jaman 1800 dimana di Inggris taman – taman publik dibatasi oleh pagar – pagar besi dan hanya orang- orang ningrat yang boleh pergi ke taman. Pagar tersebut adalah representasi batasan terhadap informasi, seketika paradigma pembicaraan menjadi sempit sayangnya tanpa sudut pandang mengapa satu karya itu dianggap terbaik, bukan mau – maunya sendiri nilai sini nilai situ, lagian siapa lu siapa gue ? maaf kalau sedikit sarkasme atau sinis.

Terus terang saya sangat bahagia membaca tulisan njenengan yang berjudul The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian , yang memiliki penafsiran seperti itu, saya tidak akan berkomentar apa – apa, hanya bahagia dengan respons yang ada, berarti ada dialog yang semakin intens antara kita, saling babat, tendang. sikut, pukul ataupun belai membelai, dari benci menjadi cinta, dan sebaliknya, dua tegangan yang berbeda.

Mas anas, saya baru mendapatkan buku bagus, yang judulnya The Power Paradox tulisan dari Dacher Keltner, disini ia membahas mengenai, buku machiavelli, the prince mengenai bagaimana mendapatkan kekuatan dunia. Sumarah memberikan antitesi dari apa yang ditulis oleh machiavelli, namun buku yang ditulis oleh Keltner ini, memberikan sebuah perspektif mengenai kekuatan paradox, dari tegangan – tegangan pada kondisi ekstrimnya masing – masing yang ada disitulah muncul kekuatan apabila kita bisa mengambil paradoks yang terjadi. Di balik sebuah krisis ada sebuah peluang, pertanyaannya, dengan sebegitu problem profesi kita, mungkin saja kita belum mengambil manfaat darinya, dengan mempertimbangkan peluang – peluang yang ada.

Dari masalah disitulah adanya manfaat, mungkin saja kuncinya adalah bukan di arsitek tapi di ketukangannya, mungkin saja kuncinya malah di teknologi bangunan, bukan di programming, mungkin saja lebih – lebih lagi kuncinya adalah pola pikir (paradigm) bukan programming, seperti yang dibahas Collin Rowe, apakah kita mendesain programnya dulu, atau bangunannya. Kita semua di tangan manusia – manusia yang disebut arsitek ini, bandul keseimbangan di antara tegangan tersebut bisa dimainkan olehnya, bukan dipermainkan olehnya. Mungkin dari situ perlunya keahlian saja dalam aspek – aspek diluar arsitektur, terutama mengenai hati dalam bersikap, perlunya training yang matang, dan sikap dekat dengan bumi.

Mas Anas sudah pernah membaca buku perjalanan malam hari yang ditulis oleh pak Yuswadi Saliya ? Saya pikir setelah saya membaca buku itu, saya mungkin berkesimpulan, beliau kecewa dan apa iya lagi frustasi ya dengan iklim kita. Kebisaannya dalam tuturkata, melahirkan sebuah tulisan yang berisikan kompleksitas profesi kita yang carut marut yang disusun dengan runtun.Kalau tidak ada nanti bisa saya kirimkan satu dari Jakarta, sepertinya saya punya lebihan di perpustakaan. Sempet saya iseng saja berpikir gimana kalau judulnya kita balik, menjadi perjalanan menuju pagi, seakan – akan ada optimisme untuk arsitektur yang lebih baik lagi, dari situ ada kekreatifitasan untuk menjaga arsitektur kita lebih baik lagi, yang saya yakin dengan arsitektur yang baik, maka profesi akan lebih baik lagi, tentunya dengan landasan hukum, pranata, dsb dsb.

Kondisi kesehatan saya sedang turun, dari acara kemarin sampai ke pekerjaan – pekerjaan yang menuntut kita untuk berkomitmen. Maklum mungkin ini sedang mau lebaran, jadi semua senggol – senggolan, ingin berdialog, saya pikir ini wajar, hanya saja sekarang sedang musim penyakit flu jadi kena juga. Sedikit istirahat pasti bisa membuat segar kembali, apalagi setelah membaca, The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian, saya pun menjadi segar. Mas Anas untuk pameran IndonesiaLand kita nanti saya persiapkan dulu ya, bagaimana kita bisa saling membelah diri, namun rangkaian prosa- prosa ini bisa menjadi satu pelengkap untuk dialog yang manusiawi, karena kita kan manusia ya bukan alien ataupun monster jadi – jadian ha ha ha. Namun sudah jelas nanti kita berkolaborasi ya,

Salam,

Realrich

Dear Mas realrich Sjarief yang baik,

Terimakasih atas cerita-ceritanya yang menyegarkan, tentang Boss Utara dan tentang Andra Matin, juga tentang Pendidik Utara. Lakon-lakon penting yang malang-melintang dalam pusaran arsitektur kita. Saya suka sekali dengan metafor “pusaran” yang sampeyan sampaikan (sejak di Artotel minggu lalu), ada semacam kedinamisan, sekaligus juga permasalahan dan kompleksitas di sana. Hmmm… sampeyan masih sempat-sempatnya menulis panjang di sela-sela kesibukan senin ke senin, rabu ke rabu. Benar-benar Architrance… hehehe…

O iya, saya sangat tertarik untuk tawaran kolaborasinya, ayo kita mulai. Wastumiruda sebenarnya sudah lama ingin turun gunung, hanya menunggu waktu yang tepat saja. Dan rasanya, saat ini adalah waktu yang tepat, ketika saya bertemu dengan seorang Architrance dari Batavia Barat, yang kadar trance-nya sudah mulai menyeruak dalam pusaran.
Saya ingin membahas sedikit tentang celah, atau pintu kecil (ini terpikir dari jalan masuk 60 cm yang sampeyan paparkan). Di Serat Jatimurti (sebuah kitab lama Jawa yang membahas dimensi), ada bahasan tentang Alam Kajaten (Alam Kesejatian), yang menyebutkan bahwa alam kajaten itu merupakan alam yang bisa menampung yang tak terbatas, bahkan bisa menampung seluruh isi semesta.
Saya menafsirkan alam kajaten itu sebagai “pintu” (bisa berupa celah, lorong atau lubang). karena “kekosongan” pintu berbeda dengan “kekosongan” ruang (space). Jika ruang pada hakekatnya berupa volume yang bisa menampung sekian orang (dan bisa sesak, atau penuh), sedangkan pintu bisa dilewati ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan orang, mungkin sampai angka tak terbatas dan tak pernah penuh (karena pintu kodratnya untuk dilewati/dilalui, bukan didiami/diduduki/dikuasai).

Untuk acara hari Minggu, saya tidak ada usulan, saya sudah pas diletakkan di awal, sebagai sebuah pancingan agar penafsir-penafsir lebih bebas mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan. Kalau untuk profil saya, cukup ditulis: Architext saja. Atau kalau mau agak panjang: Architext lulusan S1 (Arsitektur) dan S2 (Perancangan dan Kritik Arsitektur) ITS Surabaya, yang sedang menulis beberapa buku (termasuk Buku 15 Cerita), Dosen (UKDC dan UPN Veteran Jatim Surabaya), dan Dalang Wayang Arek (meskipun jarang manggung, hehe)

Setelah membaca 99% The Guild, rasanya saya ingin cepat-cepat datang untuk melihatnya secara langsung sebagai experiencing. Dari deskripsi sampeyan, saya rasa ini studio yang hidup, yang lahir dan berproses dari pergulatan, dan layak untuk diapresiasi publik. Yang setelah minggu sore besok segera berubah menjadi 1% The Guild, karena arsiteknya Bunuh Diri (hahaha..), dan publik dengan leluasa akan menafsirnya. Ini saya singgung juga di paparan saya untuk acara minggu sore besok.

sampai ketemu di acara besok,
salam,

Anas Hidayat


Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Mohon maaf saya baru membalas surat ini. Hari senin dan hari selasa sampai rabu biasa menjadi hantaman terbesar dalam kondisi berpraktek, kita punya inisiasi energi selama hari – hari awal minggu supaya bisa beristirahat di akhir minggu. Sebenarnya dipikir – pikir hidup itu sederhana, dari senin sampai senin, selasa sampai selasa, rabu sampai rabu, dan seterusnya, usaha kita menjalani hidup – hidup ini ya usaha yang untuk bisa hidup saja.

Saya mengidentifikasi wastu miruda dengan njenengan karena memang itu pemikiran, yang saya berandai andai ada pemikiran, perbuatan, hati, setidaknya ini bisa menelisik siapa itu anas hidayat. Mungkin saya ini menurut archilexicon wastumiruda adalah architrance= arsitek kesurupan mas ha ha ha. Terus terang membaca wastumiruda, seperti kembali ke saat – saat subtil, mungkin karena memang ruang hampa itu diciptakan sebagai jeda dalam keseharian, disinilah saya berpikir komunikasi ini menjadi penting.

Minggu kemarin selepas dari Bandung dan Surabaya, saya berkesempatan berkunjung ke satu lakon yang cukup penting, ia bisa kita namakan boss utara selain pendidik utara si David Hutama. Nama si boss ini Sonny Sutanto, unik karena saya menemukan pendekatan yang biasa – biasa dan wajar dalam berproses, beliau memang arsitek yang menangani banyak kasus komersial, namun disitu saya merasakan ada struktur, ada kategori, ada satu pranata yang dibuat dengan baik. Setiap desainer dikotak – kotakan supaya bisa punya otoritas, dan drafter ditempatkan di satu tempat terpusat, si boss ada di tengah – tengah semua dengan akses langsung ke perpustakaan. Detail arsitekturnya diwarnai oleh dekoratif dan quote ada di letakkan di courtyard yang menyatukan fungsi – fungsi yang ada. Yang menarik adalah buku yang diedit oleh David Hutama. Karena buku ini menunjukkan kekompleksitasan profesi arsitek kita di dalam rentang waktu 20 tahun terakhir, sehingga informasinya bisa digunakan untuk kita – kita yang muda ini dalam menapaki profesi kita yang tidak teratur, dan lemah akan apresiasi dalam dan luar.

tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
Proses Pembangunan yang ditampilkan
Proses Pembangunan yang ditampilkan

Ini kontras dengan buku yang baru dikeluarkan oleh Andra Matin, yang simplistis, minim akan informasi, hanya berubah interview satu arah dan minim akan penjelasan gambar dan tekstual. Saya kemudian bertanya – tanya, apakah ini karena cepat – cepat, atau memang saja karakter andra matin yang simplistis dan easy going ataupun yang hangat dan cepat dekat dengan siapapun. Mungkin inilah contoh adanya dua tegangan yang berbeda akan pola pikir yang berbeda juga, saya yakin proses pergumulan perumusan buku Sonny Sutanto sangat besar, dan membutuhkan waktu yang lama. Selepas dari berapapun biaya dijual bukunya, yang saya pikir itu lebih ke dalam hal – hal bisnis dan tidak esensial dalam membicarakan bagaimana satu karya itu dibedah. Saya harus memberikan apresiasi kepada mata air yang mulai muncul satu persatu dengan tegangan – tegangn berbeda . Sayangnya si pendidik utara ini sebentar lagi pergi ke negara kuda besi, saya harus kehilangan teman sepemikiran, oleh karena itu mas Anas jadi semacam, penyegar, semoga kita bisa mendapatkan penyeimbang dalam alfa yang muncul kembali untuk membentuk omega yang akan datang sebentar lagi.

Kembali ke obrolan surat- surat kemarin, kebetulan saya diundang bu Sarah ginting dan Chobib untuk berpameran di Indonesia Land, membuat instalasi lagi. Sebenernya saya capek berpameran ini, karena kondisi praktek yang sudah menyibukkan, namun berpikir juga bahwa ini adalah satu momentum untuk berbagi ke publik, disaat pameran ada kita bisa punya agenda untuk berbuat kebaikan.

Saya berpikir ya mas, kalau – kalau wastumiruda mau turun gunung, ayo kita pameran bersama. saya ajak mas anas hidayat kolaborasi, saya sudah bicarakan dengan Sarah dan Chobib, dan mereka manggut – manggut excited melihat architrance = arsitek kesurupandi depan mereka sepertinya ha ha ha. Kalau mau ya, nanti disiapkan ya text ataupun pemikiran, tentang wastumiruda, kebetulan kita punya banyak jejak – jejak kehidupan di studio saya, jadi mungkin setelah pavillion sumarah kemarin, mungkin bisa jadi kita bisa buat satu instalasi hyper small, hyper complex, maze, terbuat dari kotak – kotak rubik cube, dimana orang masuk diberikan jalan 60 cm, pas tidak lebih tidak kurang, mengikuti alur yang sebenarnya pengunjung tidak mengetahui apa akhirnya. Itulah cerminan budaya kita mungkin, komplekse, disorder order, paradoks. mungkin tekstual bisa mengiringi dan dalang pun bisa mulai berpantun, berdongeng untuk cerita – cerita di masa lalu masa kini dan masa depan.

O Iya hari ini akan diatur sama kantor saya ya untuk tiket surabaya jakarta, dan akomodasi selama disini satu hari, monggo mawon kalau ada usulan mengenai acara, saya buatkan publikasinya 1 2 hari kedepan soal mas anas ya, apa bisa dikirimkan profil njenengan, ya saya buatkan judul lecturenya 1 % yang dinanti, kalau mau diganti silahkan ya:

ada 2 hal yang mau saya share lagi, pertama tulisan soal 99% theguild, dan ada breakdown acara dari website, saya tuliskan satu – satu dibawah ya, yang ketiga ada di attachment itu brosur untuk acara kita di hari minggu

1. 99 % The Guild
99% The Guild adalah refleksi sebuah pemahaman terhadap kondisi dua jalan pemikiran proses desain yang paradoks. Pemahaman pertama diukur dari pergumulan manusia tentang mencipta ruang dari bentuk – bentuk yang sudah pernah diketahui dengan kombinasi bentuk baru yang kemudian dicari kembali kegunaannya dari pengalaman – pengalaman masa lalu. Ini adalah bentuk pelatihan tanpa henti sehingga terkulminasi di dalam momentum begitu desain itu diciptakan sesuai citranya dengan perjalanan panjang. Ini adalah soal definisi sekaligus fungsi supaya mempunyai nilai kejujuran dalam produk dan proses. Disinilah proses kreatifitas selalu berusaha menembus batas dari batasan yang mengelilinginya dari angan – angan dari arsitek menuju coretan garis, seluruh aktualisasi pengalaman dalam coretan – coretan garis pertama, kedua dan seterusnya.

Pemahaman yang kedua adalah ukuran hubungan manusia dari dalam ke luar. Ini adalah cerita bagaimana memanfaatkan segala keterbatasan lokasi, juga manusia – manusia pembuatnya, lokasi dan cuaca yang ada , dan manusia – manusia yang akan menggunakannya. Disinilah ada proses negosiasi dari keterbatasan sumber daya, waktu, dan lebih – lebih lagi keterbatasan pemikiran dengan orang – orang sekitar, disinilah adanya proses transfer ilmu pengetahuan, yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam satu proses yang alamiah dalam proses mencipta arsitektur yang rasionalis juga impulsif, dan intuitif.

The Guild dimulai dari , sebuah studio di dalam garasi berukuran 3 m x 10 m yang memulai titik pertamanya, menorehkan garis, dari satu ruang yang bercat hitam minim akan cahaya, yang memiliki keterbatasan ruang ergonomi yang ekstrim di rumah orang tua saya, dimana batas nyata – nyata terlihat mewarnai derap langkah kawah candra dimuka tersebut . Garasi Itu adalah tempat dimana desain digodok, dari mentah menjadi matang menanti supaya daya energinya bisa diledakkan dalam kekuatan tangis dan tawa dalam kenangan yang sudah menghujam jantung pikiran dari senin menuju senin, dari subuh menuju subuh, dari senja menuju senja, dari hari raya ataupun hari – hari biasa. Kemudian pertanyaan muncul mengenai apalagi bentuknya setelah babak pertama selesai dan babak kedua siap dimainkan ketika memang waktunya sudah tiba untuk pindah ke tempat yang baru.

Proses desain The Guild dimulai dari sebuah kombinasi program rumah, kantor RAW , dan perpustakaan arsitektur omah library yang didesain berupa kotak berukuran 12 m x 12 m menggunakan grid 6 m dengan perhitungan untuk mengurangi sisa bahan konstruksi baja, dengan teritisan panjang, kantilever baja berekspresikan semen, kayu, baja, dan material yang transparan. Permainan terbuka – tertutup didasarkan atas pertimbangan skala ruang dan pertimbangan untuk untuk menangkal cahaya matahari di antara jam 9 pagi sampai jam 4 sore dengan perhitungan bahwa setiap material tersebut punya thermal konduktifitasnya sendiri – sendiri. Pertimbangan tersebut terkulminasi menjadi perhitungan bentuk dari ketinggian, besar dan kecil, penempatan dan sudut – sudutnya pada sisi atas bangunan, pada sisi kulit luar bangunan.

Omah library diletakkan di sisi terluar, perimeter dan setengah di bawah ketinggian 0.00 karena pertimbangan akses publik dan kebutuhannya yang membutuhkan kondisi untuk menjaga buku – buku dari terik matahari, dan temperatur yang konstan dengan sesedikit mungkin menggunakan penghawaan buatan dengan akses akhir adalah sebuah ruang penyatu dari ketiga fungsi yang ada.

Bangunan dibagi kedalam zona publik dan privat seiring dengan bertambahnya lantai, makin ke atas makin privat, dengan pertimbangan akan bangunan yang modular, sirkulasi yang memudahkan orang untuk menggunakannya sesuai dengan 3 program : perpustakaan, studio, dan kediaman. Studio RAW didesain dengan bentuk yang kotak total 3 lantai dengan floor to ceiling sebesar 2.1m dengan permainan solid void, lengkung dan bidang lurus untuk memecahkan floor to ceiling yang cukup pendek. Area desainer, associate, dan administrasi disatukan dengan satu buah ruang tengah berukuran 3 x 6 dengan mezzanine di tengah – tengahnya yang 3 fungsi ini adalah jantung dari kantor arsitek. Ruang prinsipal ada di daerah dekat dengan ruang keluarga, terpisah dari kantor dan disinilah tempat pertemuan kantor dengan pihak luar menghadap ke taman yang merupakan ruang penyatu dari OMAH ruang keluarga dan studio RAW

Akses langsung dari studio RAW dan ruang keluarga yang multifungsi dihubungkan dengan foyer 2 x 2 m dengan pintu masuk yang sama, menunjukkan bahwa orang – orang yang bekerja di dalamnya diterima sebagai satu keluarga besar. Hanya ada satu kamar tidur disini, yang memiliki ruang keluarga sendiri di lantai atas dari ruang keluarga berukuran 4 x 12 m.

Terkadang bisa terlihat ada kenakalan – kenakalan bentuk yang tidak terduga, sebagai interpretasi bahwa arsitektur juga tidak lepas dari mimpi, dan coretan – coretan garis lengkung dan tegas yang, bahwa aktualisasi adalah sebuah fungsi juga dengan takaran yang wajar. Pengolahan – pengolahan detail selanjutnya adalah bagaimana mengaktualisasikan ke dalam fungsi bagaimana struktur dari detail berdiri, bagaimana kemudahan proses perawatan, dan bagaimana menambah efisiensi seperti memperkecil beban dengan memilih material dan bentuk sambungan yang tepat untuk memperkecil biaya dan menambah kompleksitas bahasa detail dalam bentuk yang terpikirkan dan terkomunikasikan dengan tukang – tukang dari waktu ke waktu. Intensi dari detail yang didesain ada 3 , yaitu desain berusaha untuk memperkecil volume barang yang dipakai (efisiensi biaya) , memperbesar celah – celah kretifitas pekerjaan tangan (ketukangan) , memperingan berat dari volume yang didesain (kemudahan prefabrikasi).

Sistem pengairan berjalan secara otomatis, dengan menerapkan zero greywater run off, dan zero storm water run off yang berarti seluruh air ditampung ke dalam bak retensi dengan kapasitas 8 m3 dan bak resapan berukuran 2.75 x 3 m dengan kedalaman 1.5 m yang menyumbang resapan juga ke tetangga yang diletakkan di depan lokasi The guild karena permasalahan banjir yang dihadapi pada saat hujan tiba, menimbulkan genangan air sekitar 500 m2 dengan kedalaman 10 cm di jalan depan.

The Guild adalah sebuah permulaan dari sebuah kantor yang mungkin biasa – biasa saja, desain kantor ini juga tidak spesial, seiringnya waktu, proses, pengunjung, orang – orang pernah , sudah, dan akan datang, menggunakannya dalam porsinya masing – masing bebas untuk berintepretasi, berkhayal, ataupun sedih, dan juga tertawa dalam kesehariannya yang wajar. untuk memberikan pemikiran interpretasi yang tanpa dibuat – buat, dengan seminim mungkin gincu dalam canda tawa ataupun celotehan yang merupakan identitas dari tiap orang – orang yang unik – unik. Disini ’The Guild’ menekankan arsitektur adalah pengajaran semesta mengenai mendapatkan teman, mencipta ruang, dan melepaskan diri sendiri dalam satu proses yang penuh pembelajaran untuk mengenal batas, dan dunia luar tanpa perlu mengharapkan apapun, apalagi tepuk tangan yang megah.

Kita sendiri perlu berkaca cermin dan mata pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kesulitan, problema, dan nafsu yang membelenggunya dengan tertawa dengan mukanya sendiri.

Di dalam dua pusaran pemahaman yang paradoks : dari luar – menuju dalam, dari subtil menuju kontras, dari angan – angan menuju kenyataan, arsitektur the guild kemudian bisa terbentuk. Rahayu kemudian muncul, untuk menemukan keseimbangannya.

Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99 % adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, karya dari arsitek seharusnya terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.

Realrich Sjarief

2. ini break down acara dari website ya :
99% The Guild : Open House

We Glady invited you to come to 99 PercentThe Guild : Open house, new home of RAW, Omah Library, and Residence of realrich and family . Please RSVP, to book your schedule, in

https://docs.google.com/…/1AZG_hziz3wFGyLE9mLUCNqe…/viewform

There will be a lecture by Anas Hidayat titled 1 percent yang dinanti, about the death of the architect after the work is born and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.

The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.

invitation card will be given after RSVP because the space is limited. Thank you, see you allDear Mas Realrich Sjarief yang budiman,

Mohon maaf saya baru bisa membalas surat sampeyan hari ini, kemarin saya baru dari Purwokerto, Jawa Tengah naik KA bolak-balik, untuk mewawancarai salah satu arsitek yang masuk dalam Buku 15 Cerita.

Kembali ke pembicaraan awal kita. Sampeyan sudah membaca Wastumiruda ya, hehe. Dan sampeyan malah mengidentikkan saya dengan Wastumiruda, hmmm.. sebenarnya tidak terlalu identik sih, meski saya akui bahwa saya menggunakan Wastumiruda sebagai corong untuk mengungkapkan ide-ide dan pemikiran saya.

O iya, saya sebetulnya sudah lama mendengar nama sampeyan, tetapi hanya sekilas saja, seperti orang berkendara di jalan dan membaca iklan-iklan yang bertebaran, hanya mata yang membaca, tetapi tak membekas di hati. Baru setelah bertemu hari Kamis minggu lalu, saya baru tahu bahwa sampeyan bukan arsitek sembarangan. Apalagi ketika sampeyan menunjukkan website RAW yang berisi tentang karya-karya/konsep/pemikiran/ide-ide sampeyan. Saya semakin penasaran, saya buka lagi tentang karya sampeyan 99% Sumarah, yang terinspirasi dari candi-candi, tetapi menggunakan material kontemporer, dengan filosofi yang membikin saya berdecak kagum. Sebuah bibit hermenutik yang dahsyat, ketika arsitek menyerahkan karyanya sepenuhnya kepada publik untuk ditafsir, dibaca dan dinikmati, dan sumarah dalam menerima konsekuensinya. Mungkin ini sebuah bibit “bunuh diri” juga, wujud kerendah-hatian seorang arsitek.

Jika saya tinjau dari Archilexicon-nya Wastumiruda, sampeyan bukan hanya seorang arsitek, mungkin malah Architecxt, (dengan c dan x sekaligus), karena sampeyan dengan fasih bisa mengungkapkan ide-ide dan karya-karya sampeyan dalam tulisan, yang mungkin pada saatnya nanti menjadi teori-teori yang berguna bagi kemajuan arsitektur kita. Sampeyan juga seorang Bibliarchitect (arsitek yang bergelut dengan buku-buku) sekaligus Archiographer (yang pandai menjelaskan karya). Juga Architectonaut (penjelajah lintas-jagad arsitektur), karena sampeyan menyukai Yue Min Jun yang menertawakan diri sendiri dalam karyanya, yang juga tahu tentang Sudjojojo, Affandi atau Basuki Abdullah.

Ketika kita saling berbalas surat seperti ini, saya bisa berefleksi dan juga mengasah pemahaman saya. Semoga menjadi awal yang baik. Baru kali ini saya mendapat kawan arsitek yang bisa saling-berbalas dengan surat-surat panjang yang penuh makna dan perenungan.

salam hangat,

Anas


Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya seakan menemukan lakon baru dari lembaran – lembaran yang terbaca, cerita mu bukan cerita ngawur, cerita yang menunggu untuk memiliki sebuah keadaan sebagai landasan, seperti sebuah alegori dalam arsitektur yang belum siap untuk dinikmati, saya yakin 200 persen perlahan – lahan buahnya akan tumbuh, dan yang sampeyan tebar adalah benih – benih kebaikan dalam profesi arsitek yang serba individualistis, egois, dan mengecewakan sekarang ini, keadaan apresiasi homogen, dan rendah akal namun tinggi nafsu. Inilah cerminan budaya kita yang semu, kita perlu berkaca pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kebudayaan yang membelenggu kita dengan tertawa.

Apa ya, kejujuran menjadi satu yang dinanti – nanti, apalagi kritik terhadap diri sendiri. Akan ada saatnya, saya berharap, bahwa keseimbangan akan terjadi, dan kekecewaaan ini terobati. Setidaknya saya sudah menemukan salah satu teman seperjalanan, dengan mengucap syukur terhadap semesta yang sedang tersenyum untuk merasakan hangatnya bumi dan indahnya langit. Emosi dan impuls yang sedang tinggi – tingginya ini akan menemukan keseimbangannya kembali ketika kembali ke jalur praktik dan akademisi, berusaha untuk berbuat yang terbaik yang kita punya demi orang lain dalam keseharian kita yang kita cerminkan dalam laku, hati dan nalar,

Tokoh wastumiruda, yang saya baca bukan menghindar dari permasalahan, namun ia menghindar dari nafsu dunia, dan kemudian mencari jati diri ke universalan, yang penuh dengan paradoks, akan baik benar, salah benar, lalu, depan, karena semuanya itu benar yang membedakan adalah sikap kita menebarkan kebaikan yang hakiki. Kita dianugerahi ekpresi seperti affandi, daya karya seperti basuki abdullah, dan semoga hati seperti sudjojono, sebagai pramnya sastra, sama seperti yang mas perbincangkan. Kemarin saya perbincangkan pertemuan kita, kepada adik – adik saya di kantor, dan saya pikir, ini menarik, karena Wastumiruda akan datang ke Jakarta, untuk merayakan kematian kematian. Ada perasaan gegap gempita, karena ada perayaan, seperti ngaben di Bali, perayaan – perayaan ini adalah perayaan publik, komunitas, sebagai kesempatan untuk menebarkan nilai – nilai kebaikan.

Saya kemudian bertanya – tanya, apa yang akan terjadi dimasa depan, apa buah refleksi yang akan menghantam kekreatifitasan, nalar rasa dan logika. Apa ombak yang akan muncul, dan saya akan memberanikan diri untuk mengubur diri dan diam, dan menunggu. Satu lakon rasionalistis ada di tangan teman saya David Hutama, dan satu lakon empiris ada di tangan mas Anas, dua pusaran itu, semoga bisa membawa, hantaman terhebat dalam proses berarsitektur ndalem, dengan kesungguhan untuk bisa berbuat untuk orang lain. Ada saya ingat satu lakon, namanya pak Sunaryo mas Anas, saya ingat ini gara – gara mas juga, karena bertemu bu Sarah Ginting, dan Chobib Duta Hapsoro. Dia matahari dari Priangan selain mas wastumiruda ada juga David Hutama, pendidik dari utara, hanya karena dia tinggal di Jakarta Utara ha ha ha.

Sewaktu itu ia sedang membuat WOT Batu dan kebetualan ndalem diundang untuk menyaksikan 50 % dari karyanya pada saat itu, dan seperti pertemuan kita ini, semesta berbicara. nanti saya kirimkan, ndak untuk niat apa – apa, kalau sudah seneng ya begini tingkahnya ndalem mas,

Selamat pagi salam untuk keluarga njenengan,

Salam Hangat

Realrich

Mas Realrich Sjarief yang baik,

Saya sangat tersanjung membaca surat sampeyan. Saya pun sebenarnya ingin membuat sebuah tulisan tentang pertemuan kita kemarin, tetapi masih sebatas angan-angan, dan kemudian malah keduluan oleh surat sampeyan. Ah, sampeyan teryata lebih “Koprol” daripada saya, hehehe…

Selama sepuluh tahun lebih saya berdiskusi dan mengungkapkan pandangan saya dengan para arsitek, baru sampeyan yang secara lugas menyatakan: sangat menarik! dan itu membuat saya kaget setengah mati. Kalau dalam pola pikir Jawa saya, seperti ada Hawaning Bawana atau “Kekuatan Semesta” yang mempertemukan kita, yang semoga terus menggelinding melewati ranah-ranah baru yang lebih menantang…

Mungkin nanti akan saya tulis di blog saya dalam bentuk cerita dengan tokoh bernama Wastumiruda (wastu=arsitektur, miruda=minggat/menghindar). Meskipun blog saya ini kurang terawat, tetapi paling tidak mas Realrich bisa membaca cerita-cerita “ngawur” saya di: https://wastumiruda.wordpress.com/

salam hormat,

Anas Hidayat
REK! REpublik Kreatif
Surabaya

Kamis 02 Juni 2016

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya habis membaca tulisan – tulisanmu di buku arsitektur Koprol di kereta perjalanan dari Bandung ke Jakarta , dan kebetulan ada 2 tulisan yang menyentuh hati saya. Untung saja kita bertemu di satu pagi di hotel Artotel milik keluarga Radjimin dan rekan – rekannya, kita duduk membicarakan hal yang lain, dan kemudian kita bergurau kemudian kita berdiskusi mengenai hermeneutika dalam arsitektur, saya bersyukur diperkenalkan oleh Andy Rahman dalam pertemuan di pameran studio ARA Intimacy kemarin di hari Rabu tanggal 1 juni 2016

Baiknya saya sudahi kronologis pertemuan kita dan, kembali ke tulisan tersebut, Tulisan yang pertama Hikayat Gereja Pohsarang, Kediri, dan dan yang kedua Pondok Pesantren Turen, Malang: Arsitektur sebagai laku. Ada beberapa hal yang menarik, pertama soal lokalitas, dari tulisan ini saya menemukan teman seperjalanan yang satu nafas, setidaknya dalam apresiasi dalam bentuk tulisan. Di tahun 1939 gereja Pohsarang selesai dibangun, dan itu adalah salah satu karya yang melewati jamannya, mencoba untuk menggali kreativitas terhadap budaya setempat, hasilnya adalah arsitektur yang tidak lekang jaman, mana saya tau bagaimana reng itu bisa digunakan sebagai batang tarik yang menumpu genteng. Bentuknya yang cantik, menandai hasil pergulatan Maclaine Pont terhadap keterbatasan. Disinilah usaha untuk menerobos batas itu terlihat dan ada warna yang serupa dengan stadion yang didesain Frei Otto di Munich dalam diskusi dengan Undi Gunawan satu sore di kampus UPH, disinilah saya percaya arsitektur tidak terbatas akan besar kecil. Ini hanya satu butir dalam banyak sekali butir konsep yang bisa ditelaah di Pohsarang dari macro menuju Micro yang masih tersisa, yang kemudian kita mencoba membayang – bayangkan di jaman itu seperti apa kesulitan dan bagaimana konteks bisa direkonstruk untuk mempelajari apabila kita menghadapi kesulitan di jaman sekarang.

Kemudian tulisan kedua, menjelaskan tentang satu pondok pesantren di Turen, Malang, menandakan bahwa ada juga arsitektur yang tanpa turunan, ada di tengah – tengah kita. Saya mencari – cari terus, dimana di bumi nusantara ini, ada arsitektur tanpa turunan, sebagai hasil dari manifestasi pekerjaan tangan yang tumbuh perlahan – lahan seiring manusianya tumbuh yang ternyata ada juga di Nusantara, di sebuah pesantren.

Untung saja saya membaca 2 tulisan ini sekarang, semesta sedang berbicara karena momentumnya tepat dimana kalau – kalau ada dua pusaran di dalam arsitektur Indonesia. Dimana saja kebudayaan akan paradoksial, dan baru saja pak Cosmas Gojali, dan bu Diana Nazir melontarkan  temanya di bravacasa, Simplexity dan Complexity 2016. Arsitektur Jepang, India dan lain – lain mungkin bisa mewakili kesederhanaan (simplexity) dan kemauan untuk kembali ke alam, dan arsitektur barat, bisa mewakili kekayaan bahasa melalui kompleksitas industrialisasinya, dan kekayaan khasanahnya yang sudah turun menurun di sempurnakan menjadi demikian kompleks dan terintegrasi. Dua buah paradoks yang menggapai keseimbangan itu menghantam bumi nusantara kita. Kalau – kalau saya ibaratkan,  Avianti Armand bisa saja reaktif, ataupun besikap  fenomenologis dengan tulisan – tulisannya, ia akan berdiri di tengah pusaran itu, sedikit bergoyang untuk mencari keseimbangan, dan menyalurkannya sedapat yang ia bisa ke arah yang membutuhkan. Namun Mas Anas yang ada di tengah pusaran paradoks,  tidak berdiri, namun sedang tidur terlentang, di tengah pusaran tidak bergoyang sama sekali, menunggu orang – orang mengangkatnya dengan tetap tidur terlentang  kemudian dalam tulisannya mas Anas membuat saya  menyadari bahwa arsitektur memiliki banyak sudut pandang, dan tidak simplistis. Disinilah arsitek mungkin akan mendapatkan kembali kejayaannya, untuk memiliki otoritas karena gayung itu diberikan sukarela karena publik menyadari bahwa ia memang layak dibuat.

Oleh karena itu, saya tunggu mas Anas di Jakarta untuk turun gunung, untuk merayakan kematian arsitek setelah karyanya selesai, seperti kematian seorang penulis ketika tulisannya sampai ke tangan pembacanya sebagai refleksi untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Realrich

 

Kategori
primary thoughts

Heart of Pedagogy

courtesy of ARA Studio https://thingswedoinara.wordpress.com
courtesy of ARA Studio https://thingswedoinara.wordpress.com
Last few days, I came to ARA exhibition intimacy. A strange feeling, that I got when I entered their new office which was at that time became the gallery space. Erel, Goya, Iwan asked me to come and share about architectural pedagogy in ARA’s Intimacy exhibition. The question raised in my mind , do we need pedagogy, yes off course we need it, but how to create the good practice to transfer the knowledge between the people to the other people, old to young, practician to academic, academic to practician.
Then, this story began,..
Defry Ardianta as moderator of the discussion
Defry Ardianta as moderator of the discussion

The story started from the breed of two type of pedagogy, one is  empiricist, about learning what is already there, the joint,detail, the approach which was proven and second is rationalist view, creating something new which the solution is fresh, and new. I thought probably we are  all finding a roots for being romantic, empiricist while trying creating ratio for our contemporary practice as in our world, both of the them are paradox when it came to reality. It is normal to be equilibrium, paradox is in the need, knowing true and false is needed to get self criticism, without self criticism there is no heart of pedagogy. This is the first point. To be able to get self critics, we need to be open ,and honest. ARA wanted to be honest by opening their studio, sharing their story, and this intimacy, which means getting close to, is one of their agenda, getting close to creating honest story, honest relationship, honest space of culture sharing and learning. Even there are some notebook consists of communication between principals, contractor to see, to show a high grade of transparency even though the message is not clearly noted, why do we need to see the notebook, is there any something important behind it, what the message is can not easily understood by visitors.

I walked to the entrance,and  seeing the note by Ayos Purwoadji, seeing the agenda, setting the frame to be judged. The exhibition started by a series of projects which was broken, dismantled into several smaller block, people can play the massing to create new composition, then they had research about some of the circulations of the building which is abstract. There was initiative to gather elementary kids to play with their massing to show that architecture is fun. The approach of the exhibition is quite unique, there are interaction between the object becoming the act of playing in the very creative side of the design iteration.

When we started to mold our ground creating the similar understanding, about problem, then discussion happens. The collaborative design, was essentially designed for working in more complex project, the more we have to open to other party, the more we have to collaborate especially to structure, mechanical, quantity surveyor, project management, builders, and at the end the collaborate with peers, assistant as a part of body of the firm. The collaboration is the take and give relationship, the act of speaking and the act of listening. There is paradox to create equilibrium, this exhibition is about creating equilibrium of getting close to by creating the same domain to discuss architecture.

As a part of the graduation, transfer knowledge, there will be camariderie among the collegues, which are normal. leaving good memories of practicing architecture. In the ARA Intimacy Exhibtiion at the end of the room, there are relics, property, things that is colouring designer desk, life, creating memory while they worked in the studio. My question expanded about how is the life of their past staffs, designers, what is the relationship between the principals and each of the staff who has resigned. What is their view about architectural pedagogy.

Then, the question then raised that is it an important exhibition ? then, what it the quality of this exhibition. No doubt, that this exhibition is a milestone in Surabaya for creating good community initiatives which is needed for appreciating architecture, but as a content, it is only touching the surfaces of studio culture, which is like appreciating beauty by enjoyment of creativity, that we, architect still have our own space, the house of the architect, home of creativity, there are no product of architecture showed in the exhibition, there are no plan, no elevation, no section, no information except concept models and relics.

There were more stark, banal problem or I can say basic problem of our profession which is uncovered such as knowledge development the transfer of knowledge between principals and the designers, the standard of the working drawing, the logic and fallacy of the ARA’s design approach or even some data, statistic about type of contract, way of legal administration, number of working hours, how big the salary for junior architect and architect  or even the quantity of project which was not built compared to the project which was built.

Probably it’s a too much request for this exhibition and expectation for ARA and i’m so sorry because i’m getting excited for the fruition of this exhibition, nevertheless It’s was a great starting point, hopefully there will be sequel starting with transparency to uncovered at least basic problem. There are always the alpha or beginning of each process, and this is a brilliant start or I can assume promising start of the good pedagogy starting at the heart of pedagogy, an attitude to be honest with intimacy. Reflecting on ARA’s intimate exhibition, we can be optimistic that in few years, hopefully there will be hearted community and the appreciation to architecture is a way more higher than before.

Kategori
project

The Bare Minimalist Residence, … Bioclimatic house


Finalist of Indonesian Architect Institute Jakarta Award 2012

The project offers the design of a house, perhaps is the most interesting outcome for the RAW Architecture and process brings together the owner and the architect in a unique and mutually supporting relationship. The Bare Minimalist house is one of several projects undertaken with the first client who I  met. The Client, Charles Wiriawan is a naturalist person house demand for one natural house for his first owned home. Early discussions focused on discussion of the program, a definition of naturalist house and budget constraint. The discussions were latterly distilled into a series of ecological approach and solution in narrow lot space, 8m x 24m. The result is a fusion of bold massing avoid the orientation to the west side building by creating one narrow building which allow fresh air circulate from outside – to inside the building.

19 bare - resized_15 19 bare - resized_08 19 bare - resized_01

Developed in response to the local tropical climate, the concept for Bare Minimalist House has been sensitive to seasonal sun path; high humidity levels prevailing winds, area temperatures and precipitation rates specific to the location. Directional wind profiles and solar exposure have been used to help determine the facade design and external building form to achieve lower thermal loads and opportunities for open balconies and natural ventilation.  The house is north-south-East orientated. The living and dining area are located on the north side facing the open space and 2 bedrooms, the master bedrooms to the South-North-East. Each bedroom has a terrace, balcony or veranda. The south-facing veranda spaces have been designed to maximise the useable area in the house. They are activated by opening the 2.85-metre-wide, full-height sliding windows covered by sun shading to several faces that exposed to direct sunlight and by closing an internal curtain, which acts as a thermal curtain. This prevents heat penetrate during whole wet and dry season in hot humid tropical monsoon climate. One void connects each of the floor plan and allow air stacking effect in the house allow 24 hours fresh air flow in the building.

The glass area with external shading is maximised to the south to gain passive solar energy during colder periods. The solid areas of the north side are clad with ceramic tiles in a colour to match the bricks of the existing grain store buildings opposite. District heating is provided for heating; rainwater is collected and distributed to the nearby canal.

Bare Minimalist House will also be a green building in a more literal sense. The top of the house as roof terrace and the ground level will be green spaces, introducing planting and trees to the ground, upper ground, top of the building, and canopy area, irrigated naturally via a rainwater harvesting system.

Fact Sheet :

Owner : Charles Wiriawan

Architect : Realrich Sjarief

Assistant : Bismo Prakoso, Anastasia W, Silvanus Prima

Photograph by : Andhang Rahmat Trihamdhani, Donald Aditya Ephipanius

Kategori
thoughts

Architecture Survival Guide

160306, 04.00 am, OMAH Library, Love and compassion are necessities, not luxuries. Without them humanity cannot survive. Dalai Lama

garageI did lecture a month ago with just a good will for young architect. I got so much thing, nurtured by clients, being happy with the process being architect. I do love architecture, there are much about 3 story in the process : forming expedients, practicing alchemy, and practicing experiments. that session was my first time, thinking about profession.

The story of survival, comes when the resource is not enough. Based on last discussion in the little prince, there is little desperation among the young architect, they are very optimistic. They talked about the respect to the master, that they are willing to learn so much thing for being architect not even from one person, but from many person. They won’t give up, but interestingly, there are various job that was discussed such as junior urban designer and as architectural assistant while their scope of work is different. Architect is a certified profession in Indonesia, it’s like doctor, lawyer, accountant while urban designer is new, the product is more into vision and guideline. Being architect need to be social and contemplative as well, it depends on the your own value as an architect.

As a person who will be young architect might wonder on how the process of selection of an architect, this will answer how to get client: [1]

NB A survey by the RIBA in 2014 (Ref RIBA Journal February 2014) revealed that the most common methods of appointing architects were :
Direct appointment 50%
Competitive fee bid or financial tender only 21%
Framework agreement with or without further competition for specific projects 10%
Invited competitive interview (no pre-qualification questionnaire PQQ) 4%
Expression of interest / PQQ only (no design work) 3%
Expression of interest / PQQ followed by competitive interview (no design work) 3%
Expression of interest / PQQ followed by design competition 2%
Invited design competition (no PQQ) 1%
Open design competition 1%
Other 4%

Smaller practices tended to be appointed mostly by direct appointment (61%), whereas this was less common for larger practices (25%). So it’s pretty clear that architect need to be social person. In order to be social there are various book that is best pick : Outliers written by Malcolm Gladwell, Good to Great written by Jim Collins

In forming how to get selected , architect need to show his design work by portfolio, and set of quotation or even if it is based on trust, the quotation could be adjusted but it really depends on chemistry between architect and owner.

Even, Traditionally there are 3 standard ways an architect may charge: [1] as I mean standard, that is to be noted, that some of the contract and circumstance can be varied and modified as nature of the project changes.

1. A percentage of the build cost. This requires that an approximate build cost can be estimated (so that an appropriate percentage can be calculated) and that the scope and nature of the services required from the architect are known.

2. Lump sum fee. This is popular for home owners and small clients as it gives certainty about the total cost at the outset. Lump sum fees are appropriate where the scope of work required is well known when the appointment is made. If the nature of the appointment or of the project varies beyond agreed limits, then the fee may need to be re-negotiated.

3. Hourly rate. This is generally reserved for work where it is difficult to define the scope of services required or the nature of the project when the appointment is made. It is important in this case that fees are capped to a maximum that can be charged without prior agreement and that detailed records of hours worked are kept.

A percentage of build cost is the reasonable and most fair option but it needs the collaboration with the construction industry in best team to put the building in more efficient way and more advanced integration building system. Lump sum fee is picked because of the nature of the project is still unknown, the capability of the consultant and the contractor is unknown. Hourly rate is picked because the trust is small or the work is small. That is why I love to work on site, build on site, work with builder directly forming a relationship, craftmanship, social connection, or economic problem.

Good practice of architect firm was discussed by Bob Miklos, “There is a prevailing understanding of what is appropriate on a percentage basis,” notes Bob Miklos, a partner in Boston’s Design LAB. “We use a percentage … to establish the fee that becomes a fixed fee, to see if we’re in the ballpark.” This can range from 9 to 10 percent for new construction and basic services and consulting to 10 to 12 percent for renovations “in a good year,” Miklos says, while commercial projects ratchet down to 5 to 7 percent. (Renovation projects get higher fees because architects must investigate and document existing conditions that will be preserved, worked around, modified, or added on to.) [2] The standard is much lower in Indonesia while the billing is based on month and non personal cost

There are 2 various type of client :
1. Sympathetic client : this is friend for life who appreciate architecture.
2. Distrustful client : this is the harder part when there is compromise, actually it’s about alchemy process between architect clients.
3. Swing client : architect need to explain, share informations needed about technical and more to the design, also the nature of the project for client’s need.

choosing architect is a very difficult job,because client and architect need to be collaborate, and the expectation is high from the both side to create a beautiful and meaningful project for clients and for life of an architect. It’s worth it.

Peter Wangkar is one of my sympathetic client, who appreciate work of architecture. Here is the project in BSD, it is about a sanctuary of his life, he worked hard for his life, and he would like to have a functional house sited in the beautiful site, facing very nice view. The form is curve and used for framing view.
Peter Wangkar is one of my sympathetic client, who appreciated our work of architecture. Here is the project in BSD, it is about a sanctuary of his life, he worked hard for his life, and he would like to have a functional house sited in the beautiful site, facing very nice view. The form is curve and used for framing view. Our studio is working hard for fruition of this house, by investing time to provide detail, and further study of elevation section and more to detail.

Screen Shot 2016-03-05 at 9.02.57 AM

 

[1] http://www.designingbuildings.co.uk/wiki/Architect’s_fees
[2] http://www.architectmagazine.com/practice/architectural-fees-whats-your-time-worth_o

Kategori
primary thoughts

Project : realist and Expressionist house, the dancer and rationalist.

160203 Jakarta at OMAH beta, ” You are everything that is, your thoughts, your life, your dreams come true. You are everything you choose to be. You are as unlimited as the endless universe, ” Shad Helmstetter. 

dancer

Have you designed the building that dances ? this question echoed in my mind between the argument of concept and reality. Can we nail this concept. I was so afraid of walking on something unseen, we have not done this kind of approach before. Stephen J. Dubner argued if we loose ourself in the surrounding, be prepared with data, and amount of effort, whatever we do with such preparation, we will be ready.

The thought was coming that after seeing united dancer, a group led by bu Dhisti, merely thinking about inside out, form and idea, rational and emotion. We said to this couple, give us time to think about the concept of your house. Then, the proposal consists of 3 solutions, one was the plain box combined with strong axis, another one was combination of the playful boxes. We have tried these first 2 iterations in the previous project. But the third one, the curvy shapes option was the one that was unique, dare to be different, defy the stereotype, deconstruct our own thinking. The organisation of the design was broken in 3 parts, the entrance – services , living – foyer , and bed – pool. The curved wall divided each parts creating silhouette of form that dances. After several more iterations, the house starting to get its grid, and the form captured view by its blade. I was hoping that this house going to be great for them, for this couple.Anthony C. Antoniades discussed these impulsive, emotion, condition as inclusivity.

He stated that inclusivity can be treated through a number of approaches: [1]
1. through the inclusion of as many people as possible, to get scrutinise over and over.
2. through the inclusion of as many diverse point as possible with regard to what has been perceived and appreciated as good in architecture to achieve the optimum value. I think both of them are paradox, combining the thoughts to get the design right is massive work and critical thinking. The 5 point from Greene might be useful to break down this : innovation, mastery, authenticity, guts, and ethic.
3. through the inclusion as many ways of conception as possible, this is achieved by many design iterations, exercise, which is the most important part.

He looked at the many intangible and tangible channels one can harness in creating architectural design. By opening up architecture to the full range of creative influences, he tries to help readers produce designs that are richer on spatial, sensual, spiritual, and environmental levels. The book studied the topic of poetic of architecture in several section or sub object such as, intangible channels to architectural creativity divided by the process of creativity, metaphor, paradoxes, transformation, the obscure, poetry and literature, the exotic and multicultural. and more to tangible channels to architectural creativity such as : history, mimesis and literal interpretation, geometry, material, the role, association with other art, architectural biographies.  he categorized 3 way of poetic: the traditional, the arbitrary, and the contemplative.

I hope that the Building that dances represent the third way, the contemplative. We have been spending many design iterations, to get the form right, the angle, the function, and efficiency on construction. The design got matured by exercise by thinking the bolt and the screw, it was called the stage of creative pregnancy by Socrates. Where all the seeds of success (or not) are planted. The question is do we have patience and perfection in the phase of construction just to keep design and perfecting into the inclusivist attitude.

 

dancer3
the image of the house after several iteration, the curve is reorganised into axial planning

dancer2
view from the pool side

Screen Shot 2016-03-06 at 7.47.58 PM
The further iteration of playing with the form to break the scale.

Screen Shot 2016-03-06 at 7.47.49 PM
The further iteration of playing with the form to break the scale.

Screen Shot 2016-03-06 at 7.47.26 PM
First initial sketch of the house

Screen Shot 2016-03-06 at 7.46.58 PM
Basic principle of the zoning
The Dream Team is :
Size : 350 sqm area
Owner : Mirza and Adhisty  
Collaborators : Miftahuddin Nurdayat, Tatyana Kusumo, Rio Triwardhana, Septrio, Rofianisa Nurdin, Hardiyanto Agung Nugroho.
Structure engineer: John Djuhedi
Supervisor : Sudjatmiko, Jasno Afif Angga, Yudi Atang

Kategori
DAILY primary thoughts

Little Prince – Where are you ?

30 01 2016 East Java, “Watch and see the courses of stars as if you run with them, and continually dwell in mind upon the changes of the elements into one another, for these imaginations wash away the foulness of life on the ground.” Marcus Aurelius.
Screen Shot 2016-01-30 at 8.49.30 PM

img_4944

 

Rimba had birthday few days ago, we went to Puri Mall to celebrate his birthday. His fiance told me in some short chat that there was frustration in him, he was down sometimes, comparing himself with other. Sometimes he wanted to quit being an architect. I know for sure he will become good architect, he has capability to think in the deeper layer.

Nowadays when we are in the high speed of information era, there is problem in this society, this social media society, like what Zygmunt Bauman stated  “Social media are a trap” He argued that social media is a trap, the difference between a community and a network is that you belong to a community, but a network belongs to you. You feel in control. You can add friends if you wish, you can delete them if you wish. You are in control of the important people to whom you relate. People feel a little better as a result, because loneliness, abandonment, is the great fear in our individualist age. But it’s so easy to add or remove friends on the internet that people fail to learn the real social skills, which you need when you go to the street, when you go to your workplace, where you find lots of people who you need to enter into sensible interaction with.

… Social media don’t teach us to dialogue because it is so easy to avoid controversy… But most people use social media not to unite, not to open their horizons wider, but on the contrary, to cut themselves a comfort zone where the only sounds they hear are the echoes of their own voice, where the only things they see are the reflections of their own face. Social media are very useful, they provide pleasure, but they are a trap. [1] I think this is about digesting the information in this high speed era, the network is strong but the relationship is not strong. by having stronger relationship, we can care between each other, support each other.

Last sunday Greg told me the same thing, he sometimes want to quit as an architect. I know for sure he will become good architect because he is thoughtful and curious about new ideas. I couldn’t answer him, I was in silent, asked him to be patience, asked for his understanding that learning architecture takes time. It is a marathon, not a sprint. Rezki also asked after that, about if he did interior work, does it affect his career as an architect, well , Carlo Scarpa started his career as exhibition and interior design, he was acknowledged as architect just before he died. He is one of the greatest architect ever.

Feeling wanna quit is normal. I feel it as well time to time. Last time we had a project that we had worked on for several years. we put really effort into it for almost 3 years, then one time, the owner selected another architect because he paired with another investor without letting me know. At that time I felt devastated, dissapointed, angry nervous as well, but I couldn’t angry to anyone, it’s not my temper. I wanted to quit. At that time, I couldn’t do anything,

But, just after that we got another project from another client which is so fabulous, and that client is one of the best client ever who trusted us, and we made one of the most beautiful work ever.

The process is about to do your best and let it go, it is the process that is most difficult, much thing about bitter story. I am still looking, trying to have a patience as architect. Sometimes it’s hard.

I found this antidote for finding our ownself. It is a book written by Antoine de Saint – Exupery, the title is the little prince. The cover reminded me about this condition, and Miracle. I fell in love with this book. It is beautiful book about philosophical story of love and friendship, a reflection on how to distinguish what matters and what does not. There are 6  stories of him visiting asteroids when the he meet numbers of different people.

each of which was inhabited by a foolish, narrow-minded adult,

“First is the king who shows adult like to command and order, everything needs to be in order, lil prince then comments “grown ups really are very strange.

second,he meet the man who like to be praised, he is show off,

third,he meet the drunk man who wants to forget his shame

Fourth,he meet the man who count stars which has no purpose other than to count the stars. The stars resemble the wealth. It shows grown ups are greed

Fifth, he meet the lamplighter, resemble the time to rest, it may not be important as the others, but it is the friendliest compare to the others.

Sixth, he meet with the geographer, who wrote down the permanent facts, but he is not an explorer, he need people to explore the world, and it is the most important part.

Seventh, he goes to earth, where all of the character are there.”

People, said the little prince they dive into express trains, but they don’t know what they are looking for, They get restless and go around in circles. The story about this little prince, reminded me about the most important part in our life, our closest one, our passion. what matter and what does not. We just need to find our own little prince, a person who never give us answer when we question him, and we will know the answer by ourself, time will tell.

Little Prince : “I am looking for friends. What does that mean — tame?”

“It is an act too often neglected,” said the fox. “It means to establish ties.”

“To establish ties?”

“Just that,” said the fox. “To me, you are still nothing more than a little boy who is just like a hundred thousand other little boys. And I have no need of you. And you, on your part, have no need of me. To you I am nothing more than a fox like a hundred thousand other foxes. But if you tame me, then we shall need each other. To me, you will be unique in all the world. To you, I shall be unique in all the world….”

― Antoine de Saint-Exupéry, The Little Prince

Time to go back to my home, I miss my Mircale and Laurensia so much. Laurensia sent this photo to me during trip :) Hallo :)

img_4995
[1] http://elpais.com/elpais/2016/01/19/inenglish/1453208692_424660.html
[2] https://en.wikipedia.org/wiki/The_Little_Prince

Kategori
primary thoughts

Learning the Opposite Side of Soejoedi to Hasan Poerbo

Bandung – Paris van Java, 151217. ” It belongs to the imperfection of everything human that man can only attain his desire by passing through its opposite.” Soren Kierkegaard

img_4204

“I think you have to go to outside the country again to learn the opposite.”
Agus said it quietly when we had discussion during lunch at Bandung. At that time, RAW had project in Bandung that was about ground breaking, a small house for Rusda. I had few hours before going back to Jakarta, I went to Bandung with Pak Djatmiko and Pak Misnu.

Agus and me had lunch together at one cafe near ITB. Few years back in 2002, Agus was a librarian in Architecture Department Institute Technology of Bandung, and I was still a student at that time. We were introduced by Gunawan Tanuwidjaja. Agus was from Cibangkong, he said the area was well known as one of the densest neighbourhood in the world. Together with Gunawan, we made one small group who had a dream to provide digital library at that time, we were naive, tried to document some of the knowledge with limited resources, and using our spare time.

Agus tried to make a point when I listened to what he said. He was just someone who love architecture so much, believe on such ideal thing that humanity should colour architecture. He was just not as confident as before, sometimes he said that he is not an architect, he should not critize architecture. However, people critise because they have point to say, one view point, starting with an argument, going to another argument, label comes second.

Agus started his argument by describing the time I had worked in Foster and Partners, few years back, then worked on doing architecture at RAW. He concluded that experience resembled Soejoedi in one side. Soejoedi was one of the prominent architect few decades back in Indonesia, he mastered the modernist language, based on rationalist approach, ratio supremacy. then he continued,

“You are complete just if you try to understand
the heart of the architect,
not the ratio…
You need to go learning again,
someday,…
to learn the opposite side,
being complete like Mangunwijaya. “

then, Agus continued that the opposite side is resembled by Hasan Poerbo. A great father of public housing few decades back who had deep concern on technique to provide housing for people. He was the person who challenge the prototype of urban housing in Indonesia. Agus continued,

“forgive me
but I am not an architect,
I wanted to critize some of the prominent architects,
look at the joint,
look at the material met,
It is not special,
so why I bother to praise it.”

Agus was right, from my point of view, he was honest about how he feel about architecture that he had seen. Its his blink ability judged the quality of the process.

I remember one time we went to Sendang Sono, Wisma Kuwera, both of them was designed by Mangunwijaya, and church of Pohsarang that was designed by maclaine pont (together with family). I look at the joint, the construction was honest, humble, and creative to answer efficiency, function, less about the fashion. There will be function and there will be fashion, all of us are seeking for equilibrium.


After that we had discussion about rural studio, a studio that was found by Samuel Mockbee. I also remember about Studio Mumbai which consists on a group of Indian architects and craftsmen, all resident artisans of Studio Mumbai, headed by Bijoy Jain, one of India’s foremost architects. in my rational thought I thought that the approach of being architect will be same, whoever the client is, however the context will be different, the budget, the attitude, the material, the expectation would be different but the approach will be similar. In my heart thought, I think that the design process will be quite different, we need to approach the another side by much heart, to understand the deeper layer of who is in charge with the project. The craftsmen on field, the very specific expenditure which can drive specific experiments, deeper layer of innovations, the bolt and join, to answer Agus critics.

There were times that it looks like that there are opposite sides.
one time, …
I was in the train
going to somewhere place.
I started to look around,
why there was nobody around.
and asking
why is nobody here ?
I saw strangers in the strange train.
I don’t know anybody here

Suddenly I woke up
and many people were there,

Laurensia was there,
Miracle was there,
people in the studio were there,
people in the workshop were there,
people in the library were there,
many close friends were there.
many strangers were there

I saw Agus was there.
he asked
“Good morning, how are you ?.. “
destiny,
coincidental,
fate,
perfection,
every part has a partner,
we are not alone

Kategori
thoughts

My Garden of Dreams and Memory – Writings for Baccarat Indonesia

2010, Japan “Beauty surrounds us, but usually we need to be walking in a garden to know it.” – Rumi
1

The writing for Baccarat Indonesia was just published, it was written when we had trip to  Japan few years ago during summer studio, by Professor James Weirick. The trip was about travelling to 4 different cities (Kyoto, Nagoya, Tokyo, some remote area such as Shirakawa, Mt. Gifu, and new site of Imperial Hotel by Frank Lloyd Wright). The brief from Editorial team was about telling story about garden. So the story is about  the zen garden, and story about beautiful garden of versailes, the idea was about explaining garden of the east and garden of the west. Those are two different standing point, one is more about the logic, power of man, another is about the spiritual being, reflection to blend with nature.

Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang mendidih, dengarlah suara alam, burung – burung yang berkicau, suara air yang menetes, suara kaki orang yang berjalan, alam sesungguhnya berbicara, rasakan kesempurnaan dalam ketidak sempurnaan, mata ini menatap ke arah huruf kaligrafi jepang yang ada di depanku, kemudian wanita di depan ku berkata, prinsip ini melandasi budaya Jepang pada upacara minum teh, yaitu Simple dan Rustic.

Tak heran semua yang ada di Jepang terlihat begitu sederhana dalam kesehariannya meskipun jejak – jejak modernisasinya juga terasa dimana – mana. Konstruksi Detail – detail kuil yang terbawa dari jaman dinasti Tang China, berubah menjadi sederhana dan tampil apa adanya.dengan warna – warna alam. Berbeda dengan China yang menggunakan warna – warna cerah untuk kuil – kuilnya. Di Kyoto, kuil2 dijaga kelestariannya, di jaga kesempurnaannya setiap 30 tahun, mereka tetap berbicara dengan alamnya dengan kondisi yang terbaik untuk anak cucu mereka untuk melestarikan budaya. Hal ini juga terasa dalam retakan – retakan budaya yang ada di Ubud, Bali yang menyisakan secercah kenangannya akan kualitas spiritual yang masih tersisa.

Musim gugur, di bulan november, saat yang sangat indah dimana pepohonan mulai menunjukkan warna-warninya. Gingko dengan warna kekuning-keemasannya, Mapple degan warna merah kekuningannya, maupun Sakura yang berwarna kecoklatan. Berjalan – jalan ke 4 kota yang berbeda, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka. Tokyo, Nagoya, Osaka dengan densitas yang sangat tinggi. Karya maestro – maestro designer Jepang yang bertaburang antara kota2 ini menjadikan kota ini menarik sebagai objek arsitektural ataupun relasinya dengan tata ruang kota. Juga Kyoto, kota yang sangat indah dengan kuil2 shinto dan buddha, menunjukkan transisi dari artifisial ke alam.Dari Jepang aku belajar lebih mencintai budaya, alam dan kesungguhan untuk berkarya. Dari totalitas yang ada, belajar untuk mengembangkan rasio dan rasa, pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya terbaik. Di balik rasio yang bisa didapatkan dari negeri barat, dari budaya timur kita mendapatkan pelajaran rasa dari Jepang, negara yang cantik, dan indah dalam keseharian.

Dari budaya barat dan timur, dari penataan istana Versailes dengan desain taman baroque yang simetris, dengan geometri yang teratur, sampai kepada taman Ryoanji di Kyoto, ataupun taman di desain tata lansekap Bali yang menghadirkan tanaman kamboja dengan berbagai jenisnya. Bahwa pada hakikatnya perencanaan ini untuk menyediakan bunga kamboja sehari – harinya yang dibutuhkan untuk berdoa den meminta rejeki ataupun untuk bersyukur akan rahmat yang diberikan. Bunga ini kemudian semerbak dengan wanginya yang harum. Dari sinilah kita mengetahui kegunaan kamboja di lain sifatnya yang mudah untuk dibiakan, dipotong pada pangkalnya ditanam di media tanah, ia pun akan hidup tanpa perlu air yang banyak.

Ataupun taman vertical pun muncul dalam lingkungan hidup kota yang padat, yang dipopulerkan oleh Peter Blanc, seorang desainer lansekap dari Perancis yang membuat eksplorasi yang sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya, seperti yang ada di gua pindul, ataupun ada di lereng – lereng gunung, dengan memadukan tanaman tersebut di media yang vertikal, dimana hal tersebut dicoba untuk diterapkan dengan pengairan yang baik, dengan sistem yang bisa memadukan dengan keterbatasan tempat.

Taman, adalah sebuah anatomi yang penting dalam sebuah bangunan, layaknya sebuah badan manusia, taman adalah satu hal yang adalah tempat untuk mengembalikan 5 indra kita sebagai manusia, dengan mencium semerbak wangi bunga, atau wanginya daun pohon kayu putih yang bisa tumbuh di lahan yang tidak memiliki banyak air. Ataupun melihat hijaunya daun, merasakan hangatnya rerumputan di kaki kita, mendengar gemericik air dan suara burung – burung, ataupun mengecap manisnya buah – buah yang dihasilkan dari taman.

Di lain itu, taman tidak hanya memiliki parameter terhadap time and space, ataupun economy and ethic, untuk menunjukkan kemewahan, atau, sekedar tempat yang harus ada, atau function and aesthetic, tempat yang cantik – cantikan saja. Tamun taman bisa dikombinasikan sebagai tempat untuk pesta kebun, sebagai place and event, tempat yang merupakan kenangan bagi orang – orang yang datang.

Sederhananya di dalam sebuah rumah, dimana taman yang ini begitu indah adalah taman yang bisa membuat kita berkontemplasi secara puitis terhadap alam. Taman tidak hanya berfungsi sebagai estetika saja, atau sebagai resapan saja yang membuat bumi ini lebih hidup, namun taman ini bisa meninggalkan dan membawa sisi spiritualitas kita lebih tinggi, dengan daun – daun yang berjuta warnanya, dengan susunan batu yang ditata begitu cantiknya, dengan pemilihan tanaman yang diatur dengan kegunaan dan warna warninya. kenangan bagi keluarga mengingat hakikat kita sebagai manusia yang seutuhnya, melebur kepada alam untuk mengingat waktu kita semua yang sedang menghitung mundur, dan tidak perlu tergesa – gesa menikmati perjalanan ini.

“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William Soeryadjaya, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun. “untuk ke bintang, alami kerja keras yang luar biasa dan menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”

This storywas inspired so much by om William, his humbleness towards life explained in his biography which make us  admires him. I remember talking to Ditri, managerial editor of Baccarat, time flies, relationship happened, it madr use started to think, and wake up in this beautiful world, beautiful landscape, how grateful we should be in this world.


3

Kategori
primary thoughts

Young People Speak up

I have much to say why my reputation should be rescued from the load of false accusation and calumny which has been heaped upon it. -Robert Emmet

Screen Shot 2015-12-11 at 7.51.01 AMYesterday I was quite surprised seeing the post on Facebook about the work of my student, Evan Kriswandi, Gideon Sutanto, Reynold Adiputra, Michael Jo . They got 2nd prize for Sinar mas Competition. There was people questioned about the scheme that my students worked on, the scheme was questioned on its originality, presumably it was questioned as similar with the other people works who had won the second and first prize of other competition few years ago. This question was about ethic, not about the scheme, but to see the ethic, one can analyse the scheme and think about the brief of the competition, which was quite different and the result was different at all. By looking at the premise, the question failed, it became rhetoric, I would think that It’s accusition. It’s not fair for my students.

Few hours, after the discussion in his post. Avianti Armand wrote in her timeline, a note for herself which I think is valid for this context that the questions should be analysed with further data before we posted it to public, social media before we judged people. Because if those premise failed before we accused other, the writer will look stupid. She wrote it as a note for herself, but actually I feel so sad.

I feel sad for all of these unimportant debate, discussion or whatsoever.

I feel sad because of the effort of 2 months work made by the students, their good name was judged based on one false interpretation. I followed their effort each week, watching the scheme scrutinised over and over, deconstructed over and over, looking it over, and I looked at the process. What if I wasn’t there, I wasn’t there looking, was there any people to back them up ? what if this thing happen in other area ? Do we actually have that ethic to appreciate others ? do we have the intention to build good relationship on building good profession.

I feel sad because, is it really our level of understanding architecture deep enough to innovate ? I felt so dizzy, and quite angry of this debate and waited for objective discussion came in. and waiting for more positive people will join the debate. I feel sad because, the road of becoming architect for this young students, still long way, and they faced reality that judgement, accusition will color their path. It’s not only to my students, but for all of the young people.

But at the end, I am feeling happy that the have faced this situation in their young age, their first few days after graduation so they can wake up. I feel happy to support the young people like them, to grow because I have been helped by number of fantastic altruistic people, to help my practice grow. I have been helped by number of positive support by people surrounding me. So young people, keep on fighting, don’t be afraid to speak your words. be brave ! I am at your back, the objective is not to hate people personality, but to discourage judgement and to spread more love of architecture. after all architecture is not only profession, but it’s more than that.

Screen Shot 2015-12-11 at 8.11.58 AM

Kategori
primary thoughts

Allegory in Architecture

Screen Shot 2015-09-20 at 5.43.03 PM

“Frank, why you design your house like this ?”
“because I like it”
“so you don’t like my project”
“I don’t like it”
“so why you worked on that project”
“because I did it for living”
“you shouldn’t do that then”
“yes, I won’t do that anymore”

that was a concise transcript from the interview of Frank Gehry, in a book by Barbara Isenberg. After that situation, the client left Gehry, and Gehry was terrified for his future, how he would pay his staff without his client. He had difficulty to explain his ideals to the clients, and the clients did not value his design approach. It turned out that Gehry was okay, and the client was okay. Gehry finaly built, Bilbao, and finaly he designed Louis Vuitton Foundation. The client was even more successful, it was happy ending story.

I have another story in just past month.

“The design of the building is below my criteria, this is not sustainable building.”

One time, one man who was the coordinator said it in my first meeting with him . At that time, I was wondering why did he said that, did he know the design intent from the beginning ? did he know the value that was extracted during meeting with clients ? I was angry and argued, that the building is sustainable, and we have got the design approach right from the beginning.

after our explanation, he just noticed that he didn’t get the latest drawing done by us, what he got is the latest drawing done by the previous consultant. I was angry and sounded quite hard, because of the judgement from him without further analysis. I think this is always happened, to get the judgement by its cover. This is problem when people has difficulty to know architect’s intent. I felt sorry because I kind of angry and the situation was not to comfortable for both of us.

Louis Kahn contemplated a romantic picture when he designed the Salk Insitute in California. Scientist would walk up and down between the laboratory building and the plazal the would engage in heated debates about the problems of the world; they would pause to “chalk an equation or draw a diagram” on the slabs of slate that Kahn had placed there for their convenienve. But as Arthur Danto has observed that no bodey was ever there nobode but architectural touris. Kahn was almost hopeless in his romanticicsm, hoped people would rist the the architecture but rarely did or do. [1]

Ironically in architecture without architects, Rudofsky discussed that architecture is not made or designed by individuals or groups intentionally to produce meaning. It happens in Parc de la villete in Paris that the meaning is understandable only if people, through text and narrative know how is understandable by public. This is our home work to explain our idea to the other people other than architect. After that the narrative will come alive as what it was designed. If we have enough experience, the allegory will be decreased if we are more sensitive,of maybe even increased if we lack of information, and disrespect to the other.

The last part is all about alchemy with other people, which proves that my experience with the project management is a process to face other, to explain the architecture, to be patience with the gab of knowledge, to be patience with the judgement, because sometimes it’s just happen in the wrong timing, and wrong place, made by future friends, a fragment of happy ending. I just remember piece by Jaya Suprana played by Priscilla Yosephanie. The title of the piece is Fragmen.

[1] Danto, Arthur. Philosophizing Art : Selected Essays, Berkeley : University of California Press.
[2] Rudofsky, Bernard, Architecture without architect.

Kategori
primary thoughts

Men at Work

“Far and away the best prize that life has to offer is the chance to work hard at work worth doing.” -Theodore Roosevelt

Screen Shot 2015-11-03 at 9.23.56 PM

There was one competition of high rise building,  we tried to push new ideas, spending time quite a bit to solve the planning. We proposed about having integrated atrium connecting office, meeting, and public space on one linear space connected by building facing north to south and respecting the scale and treatment of the heritage building adjacent. We did several workshop, testing bits pieces,  in order to learn much from this project.

Personally I really don’t care about winning or losing this project, there were 3 things in my mind working on this competition : First, to test the strength of process and production of our current team right now, Is the chemistry and coordination strong enough ? . Second, is to have fulfilment session to address the people in the studio, trying to appreciate their time and idea. The third, is to commit myself that this is great learning curve, and obviously we do, I really do learn in this project, for the calculation of the energy in the building, the execution of ideas, and the most difficult part, how to make the design work in terms of operational. In this third idea, the learning curve is exercised, and we need to be confident that our process were great.

In many design exercises, people tend to ask for answers. I really believe dan there are hunger of explorations in the most creative people. This creative people, whom I called them restless spirits, tend to be more cooperative, less – self centred and more willing to help other people. I tried to help them grow, nurturing their ideas. Facing all of the people in the studio, looking at the effort, reminded me of Gretchen Rubin when she asked, what did I do in our spare time ? She found that her co clerks at the supreme court : they read law journals for fun, they talked about cases during their lunch hours, they felt energised by their efforts. They showed enthusiasm.

Enthusiasm is more important to mastery than innate ability, it turns out because the single most important element in developing an expertise is your willingness to practise, you’re better off pursuing a profession that comes easily and that you love because that’s where you will be more eager to practice and thereby ear a competitive advantage. I really enjoy the fun of failure. Let’s not afraid to fail.

Many people worked very hard, I looked at them on 5 a.m in the morning, everybody were very tired, and was sleeping. I felt a sleep quite bit of times at desk, sleeping- waking in the need to wake up and did the model for the development. In my mind, I remember few years back, when me and Iyok, were at the studio of DP Architect in Singapore, just both of us, turning off the lights of the studio. 

Actually, I felt guilty to have people staying this late in the office. Suddenly the face of one of the Rimba popped up in my messenger, and telling about how grateful he was, and how much he learnt in this project, and willing to push more.
I have been so fortunate to be accompany with all of beautiful people in RAW studio, there are two things matter most, first who are willing to try premise by premise, testing it, sometimes right and sometimes wrong. let the process flow. I thanked all of these efforts. Second, I looked at the product, and felt very happy with the result, and will give my best thoughts, ideas, to give the best appreciations to their efforts in this moment, this time. It’s commitment to appreciate the process.

[1] Rubin, Gretchen. The Happiness Project.
Screen Shot 2015-11-03 at 9.23.43 PM

Kategori
primary thoughts

Journey To the East – Awakening the Roots

1
Today is friday night,  I was thinking about the next lecture on omah series, in collaboration with UPH Architecture and Konteks. This is about the first phase of mastery by greene, it’s deep observation.

Le Corbusier wrote book titled Journey to the East as travel diary that the twenty-four-year-old Charles-Édouard Jeanneret (Le Corbusier) kept during his formative journey through Southern, Central, and Eastern Europe in 1911. It’s about his experience in contact with vernacular architecture, the mosque complexes, the Acropolis, and the Parthenon.

Le Corbusier’s story is very much a story of awakening and a voyage of discoveries, recording a seven-month journey that took him from Berlin through Vienna, Budapest, Bucharest, Istanbul, Athos, Athens, Naples, and Rome, among other places. Le Corbusier considered this journey the most significant of his life. Hearing the lecturer in this short course, is like having a pilgrimage trip from best teachers and professors in this course. I never been to Corbusier’s work, but reading this, I would love to observer some of his works.

This deep observation phase was well known phase for architects, like Antonie Predock, Frank Gehry, carlo scarpa, or even Tadao Ando. To be a master, period of deep observation is the critical point. As Bernard Schumi said in Virilio’s book Landscape as events, there will be person who will be need to share his understanding, wisdom, bringing map so every matters will be shiny in crystal clear for especially to understand the wisdom of the east, very heart of Indonesian specialities. This is the position of the lecturer who will present journey to the east short course.

The process of deep observation is divided to 5 topics , Education, Traditional – Contemporary Architecture, Sustainable design in tropical climate, and materiality in indonesian context – awakening the modern craftmanship. The course is set by  5 considerations on how we learn the forming of education of an architect, understanding our traditional wisdom, reflecting on our current contemporary issues, innovating through sustainable architecture, and the last mastering the architecture and the technology and science of material in form making. 

There are 5 – friends, thinkers, and professors that will be the presenter, person who will deliver the thoughts about journey to the east. David Hutama, Setia Sopandi, Avianti Armand, Tiyok Prasetyoadi and Adi Purnomo. David is one of the best to explain the condition of education of architects in indonesia, he is the one who proposed Pak Cung, one architect, historian, lecturer, currator of several exhibition and Bu Vivi, writer, architect, lecturer. Pak Tiyok, co founder GBCI, architect, and community leader and Pak Mamo, writer, architect, and lecturer to join the board. They are very busy people, I am glad they will to help this short course for the restless spirit.

I remember quote from Erich Fromm which fills me full of curiosity in this deep observation phase

“Let your mind start a journey thru a strange new world. Leave all thoughts of the world you knew before. Let your soul take you where you long to be…Close your eyes let your spirit start to soar, and you’ll live as you’ve never lived before.”

Screen Shot 2015-10-31 at 12.42.19 AM

[1] https://mitpress.mit.edu/books/journey-east
[2] Greene, Robert. Mastery

Kategori
primary thoughts

Growing Mind – Awaking the Third Drive


There are two types of mindset, fixed mindset, and growth mindset. people with a fixed mindset believe that you are stuck with however much intelligence you’re born with. They would agree with this statement: “If you have to work hard, you don’t have ability. If you have ability, things come naturally to you.” When they fail, these kids feel trapped. They start thinking they must not be as talented or smart as everyone’s been telling them. They avoid challenges, fearful that they won’t look smart.

people with a growth mindset believe that intelligence can be cultivated: the more learning you do, the smarter you become. These kids understand that even geniuses must work hard. When they suffer a setback, they believe they can improve by putting in more time and effort. They value learning over looking smart. They persevere through difficult tasks.

I had talk with Rio, he wanted to open coffee store, he, his girlfriend, like coffee so much. I knew they had business before, Terminal Kopi, and they still have a dream to enjoy their passion in coffee making. Even he tried to explain to me how to make good coffee in several steps. how different little steps to stir coffee will make much difference on the taste, Hearing him, it’s like hearing somebody in joy, I just wonder how he wanted to grow bit by bit considering his young age. He had this growth mindset while some people are just afraid of challenges, fear of the future.

Growth is what the people with the second mindset, growth mindset believe in. It’s what we are in the architecture trying to learn by putting time and effort. Off course the ability will be challenged.

This mindset was well explained by Daniel H. Pink in his book Drive. He introduced three drives in human behaviour, first drive is, the basic drive to survive, to overcome, hunger, drank to quench their thirst. Second drive is, the punishment and reward drive, it’s basically drives from external environment for example like if you raise our pay we would work harder. The third drive, is the learning and explore drives. Human beings seek out novelty and challenges, to explore and to learn. The third drive was more fragile than the other two, it needed the right environment to survive.

Deci wrote in Pink’s book, when money is used as an external reward for some activity, the subjects lose intrinsic interest for the activity, rewards can deliver a short term boost, like caffeine, when the effect wears off, it can reduce a person’s longer term motivation to continue the project. Pink showed example of the closing of the paid Encarta encyclopedia by Microsoft and triumph of wikipedia, open source encyclopedia. The Third drive, is about to push ourself in learning and exploration state, awaking the our creative side.

I remember rio as my self in the beginning of something new, I remember about spirit of cooking by Jakusho Kwong. He stated,

“there is a spirit that we should not lose, an whether we’re just making things up as we go along or someone is right there showing us the way, that spirit holds something important for us in our everyday life.”

Go Rio Go  ! :)  Let’s support him

Screen Shot 2015-10-28 at 10.55.33 PM

[1]Tracy Cutchlow, Why Some Kids Try Harder and Some Kids Give Up, http://www.huffingtonpost.com/tracy-cutchlow/why-some-kids-try-harder-and-some-kids-give-up_b_5826816.html
[2] Pink, Daniel. Drive the surprising truth about what motivates us
[3] Kwong, JAkusho. No Beginning, no End, the intimate heart of Zen.

Kategori
primary thoughts

Partnership means Family

Business-Partners2What does partnership means ? From Merriam Webster dictionary stated that partnership is the state of being partners or a relationship between partners or a business that is owned by partners. Even further this definition is elaborated in IRS website. It stated the relationship existing between two or more persons who join to carry on a trade or business. Each person contributes money, property, labor or skill, and expects to share in the profits and losses of the business. [2] or from Wikipedia A partnership is an arrangement where parties, known as partners, agree to cooperate to advance their mutual interests. The partners in a partnership may be individuals, businesses, interest-based organizations, schools, governments or combinations organizations may partner together to increase the likelihood of each achieving their mission and to amplify their reach. [3]

What is business means ? from Merriam Webster, the definition is the activity of making, buying, or selling goods or providing services in exchange for money or work that is part of a job or the amount of activity that is done by a store, company, factory, etc.

During this end year crisis, what I say is, it’s not a crisis of money, but crisis of positive mentality. I think that right now, the regulation is getting more organised, There are certainty, orders. It’s one of the good factor in creating great nation. Many people complained about the crisis, Indonesia is such a depressing society. Glenn Hajadi, tutor friend from high street studio once said to me that the situation is now more challenging. 3 things is my mind, hearing him that we have to work harder than before, we have to be more critical with whatever resource that we have, and last one, we have to be free from fear. But other than that, life is just so beautiful to be experience, not by fear, but by joy.

Go travel, as far as you can, go thinking , and wander as unique as you can, experience your life by yourself, there unique path for you. I met Pak Bambang Purwanto, one fotographer, and collaborator in Home Diary Magazine. He told me story about his family and his son, and his experience in taking photographs, and suddenly I remember about Strange Details  by Michael Caldwell and we discuss about the character of the architects whom he remembered during his photograph session. I was fortunate to hear his story and support about OMAH. It’s like hearing from patron or clients and colleagues who have been supporting what I have been doing. The feel is precious, because I feel being trusted. It’s everything, being like a family. It’s feel as great as having trust from the associates and the designers in the studio.

I have been friend with Scott, for few years, since I was in DP Architects, we were in the same page, of push pull bar. I feel that it was such in serendipity that he was in WATG (Wimberly Whisenand Allison Tong & Goo) for hospitality projects, and I found RAW few years back. I trusted him as the partner of RAW International since few months back because of 3 reasons. First, that my capacity on running project has limitation, so I have to be very honest about my time. Architecture is a long time process, and prove it is more challenging when we have to get the direction, budget, coordination, it’s all about team work. Second, Scott has strong capability on understanding about building, knowing how it will work in terms of integration between space, form, facade, structure, mechanical, electrical and plumbing. RAW international hopefully running well [finger crossed], with some of overseas projects, we are getting there, the project is being exercised over and over. Third, we have been friends for years, still keep in touch, the relationship is personal, I treated him as like my family, let’s growing bit by bit this time.

The partnership should amplify what I have been doing in the firm. I need time with my family as well. He said it to Yudith, he would like to help me so we can have more time with our family.How can I not agree with him. trust is partnership. Deep down,  is the feel like you have family. So What do you think ?

Scotts lecture8

[1]http://www.merriam-webster.com/dictionary/partnership
[2]https://www.irs.gov/Businesses/Small-Businesses-&-Self-Employed/Partnerships
[3]https://en.wikipedia.org/wiki/Partnership

Kategori
primary thoughts

Students and The Spirit of the Young

IMG_2726

I remember Denise Tjokrosaputro asked about originality in Indonesian Architecture, she shared her concern about copy and paste culture in our architecture, or what we can assume, lack of originality, her question drove further about the education of architecture, how we did teach the students to have their originality. It was fresh question about 2 things, the process of established architect practice and  process of the becoming  an architect.

In my subtle moment, when I rethinking all of the complexity in what is happening. I just believe the 2 things, first, it is the paradigm that we are having is the culture of fear. second, we need to honestly know about the development of mastering art of architecture.

I will try to describe the second one, because it’s easier. It’s straight forward, Greene agreed with me stated there are three stage to process mastery, first , deep observation – the passive mode, second the skills acquisition – the practice mode, third, the experimentation – the active mode. These three stages are full cycle of iteration for mastering architecture. The first and the second phase are a phase of wanderer, having apprenticeship, culminations of learning curve by previous mentors. and The third phase is the phase of actualisation. This is common when we can read in outliers that we have to acquire 10000 hours of practice, trial and error for mastering skills. Da Vinci once wrote, “one can have no smaller or greater mastery than mastery of oneself” , how can I not agree with him.

The first one, is not so easy to explained, explaining about paradigm is not easy because it consists of economy, politics, philosophy, culture. It combines the past, looking at the breakdown, and try to understand this complex situation. But in short way, Our situation could be described by tagore’s poem, it happens in India almost 100 years ago, the poem of Tagore titled where the mind is without fear. here it is:

“Where the mind is without fear
and the head is held high,
where knowledge is free.
Where the world has not been broken up into fragments by narrow domestic walls.
Where words come out from the depth of truth,
where tireless striving stretches its arms toward perfection.
Where the clear stream of reason has not lost it’s way
into the dreary desert sand of dead habit.
Where the mind is led forward by thee
into ever widening thought and action.
In to that heaven of freedom, my father,
Let my country awake.”

There were so many times, students were asking approvals of their design, they were asking for motivations, they were asking for respects, and later they could accept our guidance because they felt appreciated, nurtured, honoured. Students, they like young flowers, which is ready to bloom, which is beautiful, which show promising about the future. I always said to students that I teach for. They shouldn’t worry about mark, The should keep their inner voice high. Gandhi has proved it this poem could awake his disciples. But in here fundamentality i want to ask, are we in the culture of fear ? I would like to invert Tagore’s poem,

“Where the mind is with fear
are our mind is in fear ?
and the head is helf low ?
where knowledge is not free ?
where the world has been broken up into fragments by narrow domestic walls. ?
where words is not come out from the depth of truth, ?
where tireless striving stretches its arms toward neglection ?
where the clear stream of reason has lost it’s way ?
into the dreary desert sand of dead habit.
where the mind is not led forward by thee
into ever widening thought and action.
In to that hell of freedom, my father,
Let my country …. ?“

The question is in our mind, and the answer is in our mind. It will refresh the society, I will ask for just little imperfection, for just appreciating all of the young spirits, the perfection in imperfection. Are we in the culture of fear ? Am I in the culture of fear. I do hope the mind is without fear every day, every action, every words because I am one of the students as well.

Kategori
primary thoughts

Landscape as Events

Angelus Novus, Paul Klee, source from : http://www.fucinemute.it/wp-content/uploads/2012/03/alfbenj-2.jpg
Angelus Novus, Paul Klee, source from : http://www.fucinemute.it/wp-content/uploads/2012/03/alfbenj-2.jpg

“Walter Benjamin once wrote, “A Klee painting named ‘Angelus Novus’ shows an angel looking as though he is about to move away from something he is fixedly contemplating. His eyes are staring, his mouth is open, his wings are spread. This is how one pictures the angel of history. His face is turned towards the past. Where we perceive a chain of events, he sees a single catastrophe which keeps piling wreckage upon wreckage and hurls it at his feet.” [1]

Today this theological vision no longer belongs to the angel of history. It has become the vision of each and every one of us” Tschumi argued in his foreword of Paul Virilio’s book titled Landscape of Events. The idea of this book shows a chain of events which resembles our culture, the fear of the future has been outstripped by fear of the past. He even accentuated, the recession of the history entails the retreat of knowledge, the retirement of progress. everything vanishes, Ethical and political ideals, the durability of societies. The book consists of ideas which are accidents, sadness, harsh truth, showing facts that shape our history.

There is a way of survive from Bernard Tschumi’s clairvoyant of Virilio’s A Landscape of Events, by looking at our spiritual self, cultivating whats good in our body and mind mastery, to spread our skill of shaping greater built environment. I believe architecture is powerful enough to change the events to the future its natural state of humanity which every people deserve to living peacefully.

About the past 

Talking further about Virilio’s Landscape of Events. Bernard Schumi argued that the time is running fast, and the culture which learn from failure, having the antidote. What happens now is when the breakdown is even faster than before, we don’t have time to learn from our failure, and the guardian of time, Angelus Novus, losing his position, as historian losing their position. In this time we just have to depend on ourself to critise every situation best on every moments, it’s about welcoming the era of moment of accidents. In one history what I can say about comes about one thoughts.
 
“apa gunanya sejarah
apabila …
kita tidak bisa memanfaatkannya, …

apabila …
tidak ada pelajaran yang bisa dipetik darinya, …

mungkin kita tidak ada
tetapi bisa dipakai
untuk generasi yang akan datang
yang lebih pintar

untuk bisa memanfaatkan
apa yang kita tidak bisa tangkap

dari sejarah itu sendiri …
dari prasasti itu sendiri …
dari …

tumpukan bata yang hidup …

dari daun yang lembut …

dan bata yang keras …
 

Bibliography
[1] Virilio, Paul, and Julie Rose. A Landscape Of Events. Cambridge, Mass.: MIT Press, 2000. Print.pp xii

Kategori
thoughts

Terracing Landscape House

Screen Shot 2015-10-25 at 7.35.06 AM
The series of landscape combining 3 wooden wrapped massing faces north to south in-sequence with micro landscape. #rawarchitecture  ‘each nation, in short, has its own way of building, according to the materials afforded and the habits of the country.’ Marcus Vitruvius Pollio, Book II, Chapter 1,

Robert Holden and Jamie Liversedge discussed the importance of using local materials as a way to achieve sustainable design.
They discussed that each city traditionally tended to have its own set of paving materials. In London, granite setts and kerbs were the standard nineteenth- century street paving made by Yorkstone (a sand stone). Amsterdam is still a city of narrow brick paviors…. This bioclimatic house constituted parts of understanding the basic of architecture beginning with some issues to create piece of architecture in first part is as issue on fundamental, water management, reduce reuse and recycle. It’s all about Sustainability, and issues on attitude on materials. Second part is the general principle which highlights the properties of raw materials, and clearvuoyant structure and reasonable mechanics. Third part is building material which introduces the materials used in building, stone concrete , brick, metals, timber, glass, plastics and some non convention materials old and new.Fourth part is the elements looks at built element ranging from earth works and top soil, retaining structures, walls, paving and water bodies which covers 60 percent of the site. Fifth part is, assembly which decribes the assembly of built component : corridor , spacious living room, reasonable room size, service core, and view to the landscape.

IMG_2076

Kategori
thoughts

Dematerilization Moments

I went to Istakagrha, and suddenly I remember about one book title In Praise of Shadows by Junichiro Tanizaki.

I was thinking of structure integrity in forming stability by double curvature. It’s inspired by Richard Serra works’ the matter of time which has been exhibited by Guggenheim Museum Bilbao.

I went to the guild, just in silence and wander about much more beautiful things.

I went to the the front door of our garage office looking to the mailbox. No status quo is needed.

Kategori
thoughts

Between Machiavelli’s and Romanof’s there is Monk who Sold His Ferrari

IMG_1940

Have you read this wonderful book ? It was written by Robin Sharma, It’s about journey of one man, Peter to  conquer the world in  his experience guided by Julian, a monk who sold his Ferrari.

It’s a book combined by what Machiavelli’s book titled The Prince which was given as birthday present from Yusni Aziz. Machiavelli wrote “It must be understood, then, that there are two ways of fighting: one with laws, the other with force; the first way befits mankind, the second befits beast; but since very often does not suffice, one needs to have recourse to the second. and so prince needs to know when to act as a beast and when a man…. it is necessary for a prince to make use of both natures: one without the other cannot survive.[machiavelli:51]

First, he filled his books with advice, idea which is practical on how to get power, retain power. That draws all of the readers, to think our one self interest that ignoring this book and its ideas won’t be beneficial. Next, he explained historical anecdotes, throughout his writing to explain his ideas. He used the characters in his story to spread his ideas. Finally Machiavelli’s used stark, banal language to give his style of writing. Instead of finding their minds slowing and stopping, the readers are enlightened to go beyond their thought and take actions. He left his writing open ended, never telling people exactly what to do in which they must use their own ideas and experiences with power to fill in his writing.

another book is by Laura Romanof which was bought from trip to Solo with RAW people, the book title is Sumarah spiritual wisdom from Java, it’s about art of surrender, losing your self to universe.

Laura mentioned ” The third stage (of spiritual practice) os that of sumarah, of unconditional surrender, of total abandon… here the actual act of faith disappears and is gradually substituted by its fruits : one abandons oneself to the process in complete and absolute acceptance of what is given, no longer asking for anything, no lone utilising the power of the will, no longer invoking faith. This is an absolutely neutral condition where there is no longer any need for effort.” [Romanof:34]

She also had concern that youth of Indonesia, and in particular Java are turning to modernity and feel little attraction to the old ways. She hoped together with Pak Ary and Pak Wondo to preserve the tradition to future generations. As what she believes is as same like what I believe, when the tide turns in Java, as it always eventually does, interest may be reawakened about the old ways. Eventually One friend Vani, one writer who works for Asri, wrote beautiful thoughts for the house that was designed few years ago, Rumah Jawa. She wrote and noted that the story of the house, which I belive that Rumah Jawa design process and its product is also a process of Sumarah to learn the way Subiyanto family relationship with others, a spiritual journey to know the family.

My last and biggest, insight builds on the previous. This year has been hard, as I have said, but I have experienced periods of sheer elation, times when I could hardly believe what I was doing and how much happiness it gave me. Our son will be born on mid of November. We are very excited to spend time with him, watch him grow. There was one moment when our future clients came to our office. He talked about new projects, and suddenly asked about our family, and he prayed for our family. I felt so blessed. Many people prayed for our son, that he will be someone who can bring joy, miracle to everybody near him. Hopefully the day will be as I remember as bright as the white shirt that was might be symbolized as hope from all of beloved team.

bibliography :
1. Machiavelli, Niccolò, and W. K Marriott. The Prince. [Waiheke Island]: Floating Press, 2008. Print. pp 51
2. Romanof, Laura, Alan H Feinstein, and Catherine Bearfield. Sumarah. Print.pp 34

Kategori
thoughts

Scattered Boxes – House for Rusda and Nurul

Saturday, 08082015, ““A house can have integrity, just like a person,’ said Roark, ‘and just as seldom.”
― Ayn Rand, The Fountainhead

IMG_1165
Architecture is just so magical, by playing simple form, the result could be unexpected, here we have experimentation with box, simple box, a module, which is played in the linear site facing Bandung.
The scheme consists of multiple small scattered boxes facing valley of Bandung, view of city light and view of surrounding pine trees. The modular boxes has several layer of stories such as construction and craftmanship issue which we try to limit the project to three to four meter module divided to 3 categories (main, transition, services) and several sub categories (living, bed, stairs) which the creates their own partiis. the second intention is to enhance such comfortable climate of Bandung , which has cool breeze, comfortable weather ranged from 20 – 22 degree to 27 degree – 28 degree celciuse which encouraged to open the openings, and skylight innovating with cross air circulation and airstacking effect. The third one is the act of considering limitation on expenditures such as the carbon foot print and thermal conductivity in the site which brings the use of selection of material which has the low thermal conductivity.

I met this one couple few weeks ago, they are young, full of promises. They have a dream to live in one beautiful house. I think they are mixture of wanderer , dreamer but has concern of realistic consideration. This journey of this beautiful, scattered natural boxes made by brick and liquid stones are just begun, hopefully it will be happy ending like what we dream for.
“we have spectacular view mas” Rusda said to me before. During our last site survey a month ago , “Look at the view, ” nurul said to me. They were right, the view was spectacular. It has two main points of view, to the valley and another will be to the hill when we can see pine trees. This time we will go for small little boxes which has spectacular view, ressesed, extruded dancing at the mountain with its soul.

Thank you for my dream team RAW for assisting in this project various people to test the premise over and over (Miftah, Tatyana, Rofi, Ali, Agung).

Kategori
primary thoughts

Carlo Scarpa, maturation of the alchemy, the experiments, the expedients. – thinking for OMAH

Today, I discussed with Greg about what to share to the restless spirit in OMAH. I was thinking Carlo Scarpa, one venetian master architect, Wright from Europe, and Laurie Baker who was known for his unique climatic and traditional approach of architecture in Kerala, India.

We will do both, analysis of Scarpa, and Baker for their alchemy, expenditures, and experiments.

Alchemy means a seemingly magical process of transformation, creation, or combination. Experiments means a scientific procedure undertaken to make a discovery, test a hypothesis, or demonstrate a known fact. Expedients means Advantage that you have in your design process.

Modern architectural culture has exalted and bewailed the lost organic unity of craftsmanship, finding this a justification of its own adherence to the stylistic codes of standardization. Against this Carlo Scarpa sets the volatility of his own culture and his sympathy with things; his designs seek to redeem his metier as a state of freedom from time, which might be regarded as primitive if this were sufficient to express its initiatory element.

In addition, Scarpa’s details are opposed to the banalization imposed on architectural inventiveness by -usability. The reduction of form to mere expression of function, to mere “washability”, as Ernst Bloch affirms, is rejected in Scarpa’s designs. Scarpa seems to understand that composition does not mean annulling this difference but displaying it. This is true of his use of both materials and technologies, but also of the forms of work that the design employs, stimulating and educating their inner procedures. His designs confronts this gap and emphasizes it. Between design and craft work or manual labour there is a substantive difference, which must not be ignored. (francesco dal co)

The inner procedures might called us to the process of thinking, record of craftmanship, the architect’s biography, which stated by Michael Caldwell in strange details, resulting as a masterpiece work.
maturation of the alchemy, the experiments, the expedients

Carlo Scarpa

Kategori
primary thoughts

Follies of Creativity

RAW progress – Morning Visit #rawarsitektur #rawarchitecture hopefully will finish this in 1 month time :)

IMG_0809

Kategori
thoughts

Notes for exhibition – Bravacasa in Pacific Place

Judul Foto : Lihat Karyaku Persembahanku
Judul Foto : Dream team’s pants


Disini RAW pameran dengan 3 studio yang lain, ada Studio Dasar, Highstreet Studio, dan Tim tiga. Saya kemudian berpikir, apa arti berpameran. Pameran karya tepatnya bukan, pameran asal gagah – gagahan, atau asal keren, atau asal beken, atau asal terkenal. Oleh karena itu, foto ini diletakkan di pameran, untuk mengajak melihat hasil kerja, bukan hanya gagah – gagahan, satu tim menghadap ke karya untuk mengajak menyelami karya kita.


 

Kategori
thoughts

Building Nation Legacy through Architecture Fundametal – writing for Baccarat Indonesia

 

“I cannot believe that the purpose of life is to be “Happy.” I think the purpose of life us to be useful, to be responsible, to be compassionate. It is, above all, to matter : to count, to stand for something, to have made some difference that you have lived at all.” Leo C. Rosten 

Oscar Niemeyer,  Lucio Costa, seorang arsitek dan  perencana kota  mendesain kota Brasilia dan bangunan pemerintahan di pusat kota yang berbentuk lambang negara Brazil, dengan lambang burung Garuda,yang memiliki langgam yang modern dengan bentuk – bentuk geometris sebagai cara untuk meniciptakan citra kota brasilia yang maju. Brasilia sukses dalam menciptakan citra kota yang indah dengan coretan –  coretan garis karya Oscar Niemeyer yang tegas dan monumental. Presiden Soekarno pernah melakukan hal yang serupa dimana ia yakin bahwa lingkungan tempat kita tinggal akan membentuk visi, sebuah konsepsi besar mengenai wajah kota dengan pengembangan – pengembangan mercusuar seperti hotel indonesia, senayan, gedung DPR-MPR yang didesain oleh Soejoedi. Disini terlihat bahwa membangun kota seringkali ditandai dengan merubah wajah kota dengan pembangunan arsitekturnya. Disini arsitektur kemudian menjadi satu cara untuk meningkatkan citra diri. Meskipun dibalik citra kota Brasilia yang indah, perencanaan jalan yang masih berorientasi pada mobil membuat kota tersebut tidak ramah terhadap pejalan kaki, sepi dari pejalan kaki, sehingga menyebabkan kualitas interaksi antar penduduk berlangsung introvert, berbeda dengan yang terjadi di San Paolo ataupun Rio Janeiro. Disinilah kita melihat apakah citra itu menjadi sedemikian penting ? semanis luarnya ? lalu apa itu kualitas yang elementer dan kualitas yang fundamental ?

3 tahun yang lalu kami mendesainkan Arum Dalu Resort untuk Pak Agus Supramono dan keluarganya. Resort berada di tengah hutan dengan jarak 2 jam di daerah membalong, selatan Belitung. Kesulitan yang tinggi mewarnai pengerjaan pembangunan seperti kesulitan akan kualitas tukang dan penyediaan tukang untuk membangun, juga kesulitan akan jenis bahan yang terbatas dalam pembangunan. Desain dimulai  dari renovasi 10 buah resort yang sudah dibuat sebelumnya. Keadaan selanjutnya tidak mudah karena kondisi infrasturktur yang terbatas,  dimana tidak ada listrik, tidak ada sinyal untuk bisa berkomunikasi, daerah yang masih hutan dengan jalan yang berupa tanah liat yang seringkali membuat kendaraan tergelincir dan perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Alhasil proyek diselesaikan dalam waktu 3 tahun dan sebagian besar waktu pembangunan dihabiskan tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Solusi terhadap krisis pada waktu pembangunan dipecahkan dengan sistem konstruksi prefabrikasi yang tinggi dengan cetakan material batuan sintetis yang dikhususkan dari batuan dan pasir setempat. Disini air ditampung untuk untuk digunakan kembali, dan efisiensi energi ditingkatkan dengan menggunakan energi dari penghawaan udara dan penggunaan energi matahari. Sistem konstruksi bangunan baru menggunakan bahan konstruksi alumunium yang ringan,  yang dibungkus anyaman rotan sintetis yang ada di setiap cabana yang ada di 10 villa. Pekerja didatangkan untuk menganyam rotan di tempat, tidak cukup disitu, pengolahan – pengolahan sampah, pembibitan tanaman melalui proses hidroponik dan aeroponik, dipadukan dengan sistem integrasi arsitektur ke dalam bangunannya menjadi cerita villa dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang modern secara fundamental dalam menangani krisis. Arsitektur kemudian muncul dalam anyaman, dan detail – detail yang terselesaikan baik dalam citra bangunan yang dialasi dengan hal yang fundamental.

Kemudian saya teringat kira – kira setengah tahun yang lalu, kami dipanggil kembali untuk mendesain galeri nasional, satu proyek yang kami menangkan dari kompetisi nasional kira – kira 2 tahun yang lalu, alasannya adalah tampak galeri nasional untuk di bagian bangunan tinggi 10 lantai kini menjadi 16 lantai dengan kotak kaca dinilai tidak merepresentasikan galeri nasional, panitia dan tim DED sudah mencoba untuk membuat kulit bangunan, berupa wayang, batik,tanam – tanaman  atau apapun itu yang berkaitan dengan kulit bangunan. Desain prinsip bangunan adalah kotak kaca yang dibungkus – bungkus dengan berbagai pendekatan.

Disinilah saya tersadar dalam pergumulan proses desain bahwa, Desain bisa didekati melalui dua buah kualitas, yang pertama desain yang bersifat gimmick atau elementer dan desain yang bersifat mendalam atau fundamental. Dimanakah paradigma desain kita sekarang ini ? apakah kita puas dengan bungkus – membungkus ? melihat satu bangunan dari kulitnya saja ?

Desain dari galeri nasional tentu saja akan merepresentasikan wajah bangsa Indonesia, sederhana namun indah, wajah yang tidak cukup puas untuk diam di kotak kaca, wajah yang tidak cukup puas untuk berhenti di satu titik, wajah desain yang penuh dengan lompatan. Oleh karena itu desain galeri nasional sebaiknya didekati dengan pendekatan yang fundamental terhadap karakter bangsa yang menghargai alam, keterbukaan, dan kesederhanaan melalui material dan sistem konstruksi yang  penuh dengan lompatan untuk menyelesaikan masalah kebutuhan ruang dan tidak hanya merancang tampak seperti wayang, atau diberikan elemen batik atau apapun itu yang berkaitan hanya di kulit yang lepas dari stigma kebarat-baratan atau ketimur-timuran.

Desain yang fundamental akan menarik elemen alam dengan lekukannya yang dinamis, untuk kemudian melangkah ke dalam satu titik yang penuh kejutan dimana secara filosofis langit akan menjadi tanah, dan tanah akan menjadi langit. Disitulah mungkin saya mendapatkan pelajaran bahwa hal – hal arsitektural bisa digunakan untuk membangun bangsa, untuk menemukan citra diri yang terhakiki dalam representasi bangunannya di bumi Indonesia tanpa dikotomi barat – timur. Identitas bangsa itu akan muncul dengan sendirinya melalui desain yang fundamental.bahkan alam pun tidak tegak lurus dalam tarikan garis – garisnya. Desain yang semoga menjadi fundamental pun mulai dicoretkan.

lalu

Ketika merefleksikan judul diatas membangun negeri melalui arsitektur, ada banyak sekali parameter untuk bisa membangun negeri melalui arsitektur dan tentunya desain yang baik akan menyelesaikan permasalahan secara fundamental, bukan elementer saja. MIchael Caldwell berkata ada 3 hal yang bisa dirasakan dari karya seorang master arsitek secara fundamental, ia membedah karya master arsitek Carlo Scarpa, Mies Van De Rohe, Frank Llyod Wright, dan Louis Kahn dimana ia menyimpulkan hal yang mendetail yang membuat bangunan yang diciptakan arsitek – arsitek tersebut menjadi master piece. Pertama bahwa arsitekturnya memiliki kepekaan terhadap lokalitas, vernakular, memakai sumber daya yang ada di lokasi secara kreatif lekat dimana bangunan itu berada seperti juga bumi Indonesia dengan berbagai potensi material dan budaya ketukangannya. Yang kedua bahwa arsitekturnya memiliki solusi untuk memuliakan sekitarnya, di kota dan di desa untuk menghubungkan fungsi secara kreatif dari hubungan manusia dengan manusia dan merayakan keindahannya melalui ruang -ruang terbentuknya dan elemen – elemen arsitekturnya , yang ketiga yang terpenting, bahwa arsiteknya berusaha dengan segala sumber daya yang dimilikinya, mendorong dengan kerja keras yang luar biasa untuk hasil yang semaksimal mungkin demi tercapainya kualitas bangunan yang dipercayainya.

Sejauh mata memandang, telinga mendengar, dan hati ini merasakan, saya pun rindu untuk langkanya fundamental arsitektur, dan mulai untuk membangunnya setidaknya dari tulisan ini.

Brrrrrrrrrrr [dingin datang]

Kategori
thoughts

Best Office in the World 2015 session


Many people have been working hard in the studio, this year we are going to rock the world. 4 Years ago, Roseto was introduced as one concept for creating this creative studio. Roseto is a place where it has own rules, detaching itself from the ourside world which is banal, wild, unpredicted. I’m gratefully happy, How can I not smile to the people who have been helping me in the studio, thank you all.I

DSCF8166 - Copy (2)

 

The summer workshop 2015 is just now started. Hope all of students enjoy the program. here they are with another ordinary picture with colourful world, I just can’t stop smiling looking at their motivation letter, look at it here www.raw.co.id/summerarchitectureworkshop

 

Kategori
thoughts

Apakah perlu arsitek asing ? kita belum mampu ya ? – Discussion

Elisa Sutanudjaja Tepat 1 bln lalu menulis soal kegemaran kota2 sok2an pny cultural district super wah … Kok mau kejadian ya hahaha smile emoticon
http://www.rappler.com/…/96046-potensi-kawasan-seni…

Membangun potensi kawasan seni dan budaya di Jakarta
Apa ‘resep’ terpenting untuk membangun Jakarta…
RAPPLER.COM
June 27 at 5:07pm · Like

Risca Surono Lebih ‘for show’ sepertinya..
June 27 at 6:27pm · Like

Vitex Grandis Walkot bdg pan arsitek kelas dunia , produk lokal kemampuan global #ea
June 27 at 6:39pm · Like

Cicies Palguno Zaha eta?
June 27 at 9:14pm · Like

Agus Ekomadyo Buat fans nya MU thn 2000an lbh kenal Louis Zaha….tag penggemar MU Ismail Al Anshori, ahhhh…😀
June 27 at 9:52pm · Like

Ismail Al Anshori MU itu klub divisi apa ya? Ga kenal tuh.
June 27 at 9:56pm · Like · 1

Agus Ekomadyo Wah, sorry Il, jamannya Louis Zaha berduet dgn Ruud van Nasgitelroy, kykny kamu belum lahir, ya…hi3x
June 27 at 9:58pm · Like

Dory Ardiantoko Purnawarman Duit siapa konstruksinya nanti?haha…
June 27 at 11:16pm · Like

Ismail Al Anshori Bisa minta ke Agung Podomoro. *ups!
June 27 at 11:17pm · Like · 1

Riko Arsiananta Bilbao effect..
June 28 at 3:39am · Like · 1

Muhammad Herryanto adakah arsitek indonesia yg pengalaman merancang gedung pertunjukan ?
June 28 at 5:54am · Like

Ismail Al Anshori Ada. Termasuk kita juga punya ahli2 akustik utk gedung pertunjukan.
June 28 at 9:53am · Like · 4

Kategori
thoughts

The Strange Ressurection of Architecture Critisicm writing for Gallery

tulisan ini dipersiapkan untuk majalah galeri, Universitas Diponegoro – # 1 Reborn Architecture. video mengenai brione cemetry yang didesain carlo scarpa ditampilkan, karena karya tersebut memiliki paradoks, mengenai depth soal kebangkitan, cinta, dan kematian, yang sesuai dengan artikel ini yang membahas mengenai kebangkitan kritik arsitektur

Fraser dan Hodgins berpendapat bahwa jurnalistik pada dasarnya adalah segala bentuk yang terkait dengan pembuatan berita dan ulasan mengenai berita yang disampaikan ke publik ataupun lebih – lebih lagi ada unsur gagasan untuk kepentingan publik, tanggung jawab yaitu dalam rangka membela kebenaran dan keadilan. Namun seberapa benar, dan seberapa adil terkait dengan informasi adalah satu dan dua hal yang kompleks untuk bisa dijelaskan dimana kebenaran disini terkait dengan transparasi dan hasil analisa yang kemudian bisa dipertanggung jawabkan kepada publik yang membaca. Untuk bisa melakukan pertanggungjawaban, seorang jurnalis memerlukan sebuah sikap dan kemampuan untuk memahami, menjelaskan, menganalisa dan mengevaluasi gagasan sehingga pada titik yang tertinggi disinilah pentingnya kritik dalam arsitektur sebagai bentuk jurnalisme yang memangku kepentingan publik.[1]

Dua hari ini saya membaca buku yang ditulis oleh Martin Pawley, judulnya The Strange Death of Architecture Criticism  (kematian yang aneh dari kritik arsitektur), dengan pengantar ditulis oleh Norman Foster. Apakah ini pertanda dari kematian dalam cerita arsitektur ? Martin menjelaskan latar belakang penulisan artikel tersebut karena budaya publikasi yang kental dengan sikap berjualan seperti :  menonjolkan gambaran – gambaran cantik saja, berita – berita baik saja. Di tulisan ini memberikan argumentasi bahwa lambat laun kritik arsitektur akan mati, hilang, karena sifat dasar arsitek yang menafikan elemen – elemen pembentuk satu proyek seperti : plagiarisme, kurangnya penghargaan terhadap kerja tim, elemen – elemen pembentuk seperti uang , waktu dan pada kontraktor, hubungan antar klien, meskipun saya sendiri tidak sepenuhnya setuju karena lapisan tanggung proyek yang kompleks, dan tingkat pemahaman publik yang tidak sama, namun katakanlah ini Martin sedang mengingatkan arsitek dan publik apa yang sedang terjadi, inilah jurnal arsitektur, perlunya memberikan reaksi terhadap apa yang menjadi kondisi awal. [2]

Jurnalisme dalam arsitektur perlu untuk menelisik lebih dalam dari sekedar klaim – klaim atau kulit atau  permukaan, menyibak tirak yang tertutup untuk memberikan kesimpulan yang menunjukkan kredibilitas penulisnya. Dari kacamata jurnalisme, seorang arsitek jenius, atau seseorang biasa – biasa saja menjadi sama. Kondisi dunia yang tidak sama, sarat dengan kekuasaan ini dijelaskan dalam buku yang ditulis Machiavelli, berjudul the prince (sang pangeran), mengenai hubungan antar manusia, bagaimana proses manusia meraih kekuasaan, memperbesar kekuasaan dan kemudian mempertahankan kekuasaan, atau setidaknya itu pula yang diulas oleh robert greene dalam bukunya yang berjudul The 33 Strategies Of War (33 strategi berperang) , karena budaya menegasikan, menutupi, mematikan, menjadi insting dasar manusia untuk hidup. Disinilah fakta, cerita, ataupun deskripsi produk dan proses yang jujur yang dibahas oleh jurnalisme yang  membentuk cerita yang utuh, bisa dipahami, diraih intisarinya untuk mendobrak kesombongan kekuasaan, dan kondisi stagnan menjadi penting. Cerita yang diharapkan adalah cerita kesedihan atau bisa juga kebahagiaan mengenai produk dan proses bangunan dengan segala inovasi dan penemuan – penemuan kreatif, untuk menjelaskan pertanyaan bahwa apakah arsitektur kita sekarang benar – benar menjawab permasalahan, dan memberikan gagasangagasan baru ? [3]

Jurnalisme arsitektur yang menjawab permasalahan untuk memperbaiki satu kondisi awal (domain), menjadi penting, [4] karena layaknya kehidupan, setiap sendi – sendi hasil dari kriya manusia dalam satu bangunan tercermin dalam cerita arsitektur yang dibuatnya dan perlunya evolusi sebagai dasar untuk memperbaiki kondisi awal. Dari situ lah esensi dasar jurnalisme ada, untuk membuat sebuah cerita yang bisa dibaca, dan menggugah fantasi kecil pembaca. Jurnalisme dalam Arsitektur itu pada dasarnya bisa didekati dengan  dua hal  yaitu produk, dan proses. Produk bisa diwakilkan dalam pendekatan penjelasan yang sinkronik , mengacu pada hasil, tanpa mempertimbangkan proses, membedah melalui sistem. Proses bisa diwakilkan dalam penjelasan yang diakronik, atau kronologis, mencoba untuk mengetahui lebih dalam dengan runtutan sejarah. Disinilah dua buah pendekatan linguistik dan semiotik yang dibahas oleh Ferdinand Saussure bisa digunakan, pendekatan diakronik dan sinkronik [5]

Para sejarahwan seperti P.Leslie Waterhouse dalam bukunya the story of architecture di tahun 1901, menceritakan sudut pandang arsitektur secara diakronik dari segi sejarah, dimana ia membagi sejarah ke dalam 9 titik sejarah berdasarkan ideologi, ornamen, perencanaan ruang, ataupun anteseden yang dianggap mewakili setiap fase sejarah, seperti : arsitektur mesir, arsitektur yunani, arsitektur roma dan etruscan, arsitektur nasrani, arsitektur muslim, arsitektur romanesque, arsitektur gothic, arsitektur renaissance dan terakhir arsitektur modern. [6] kemudian Setiadi Sopandi  didalam bukunya pengantar sejarah arsitektur membuat telaah diakronik dari segi sistem bangunan dengan memberikan tema konstruksi bangunan berupa : gundukan dan tumpukan, tiang dan balok, busur dan kubah, geomoteri dan teori.[7]  Saya menilai buku Setiadi Sopandi lekat dengan jembatan antara dunia praktis dan akademis dimana ia mencoba untuk mengolah informasi kedalam dimensi untuk mudah diaplikasikan dari sudut pandang sistem konstruksi. Disinilah adanya dialektika dalam penulisan sejarah arsitektur, proses jurnalistik bisa dimulai dari membuat referensi, mengumpulkan data secara diakronik atau membuat analisa secara sinkronik. Dua contoh pembahasan ide – ide dari pembahasan secara sinkronik bisa terlihat seperti yang dibuat heino engel dalam bukunya Tragsysteme (sistem struktur)  yang menjelaskan 5 buah klasifikasi (form,vector, cross section, surface, dan height), yang sangat sederhana untuk membedah seluruh struktur yang ada di dunia konstruksi, dengan mengklasifikasikan bagaimana beban tekan dan tarik, momen dan perilaku material dalam membuat bentuk sebuah bangunan. [8] Contoh lainnya bisa dilihat dari buku architecture without architect (arsitektur tanpa arsitek) yang ditulis oleh Bernard Rudofsky, mengenai arsitektur yang orisinal, asli, penuh dengan inovasi, kreatif, yang sudah ada sejak jaman primitif. [9]

Slide009
Tragsystem, illustrated by Heino Engels

Hyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors.   “In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”
Hyderabad, Sindh, southern Pakistan; not Hyderabad, Andhra Pradesh, south India. Images from Bernard Rudofsky, Architecture without Architects, New York, Museum of Modern Art, 1964: windscoops (called bad-gir by Rudofsky, müg by Wikipedia) on the roofs of buildings, which channel air into their interiors.
“In multistoried houses they reach all the way down, doubling as intramural telephones. Although the origin of this contraption is unknown, it has been in use for at least five hundred years.”
Dari kedua pendekatan ini ada sah – sah saja untuk dipilih atau digabungkan yang bisa digunakan untuk sudut pandang dalam memulai. Namun lebih jauh lagi Jurnalisme dalam arsitektur ini diharapkan memiliki kedalaman pemikiran  yang diibaratkan membaca satu tulisan seperti mencicipi satu buah yang akan dimakan. Kita mengharapkan bisa mencicipi daging buah tersebut, menembus kulit untuk kemudian merasakan manis dan pahitnya. Proses merasakan ini bisa dirasakan melalui tingkat kedalaman informasi yang diberikan dan tingkat fantasi yang melibatkan atau memanjakan indera perasa pembaca . Sehingga ketika membaca sebuah jurnal dalam arsitektur, kita seperti mengalami satu perjalanan yang luar biasa indahnya, seperti saat kita mengalami ruang – ruang arsitektur yang begitu indahnya dalam produk dan proses. Ruang -ruang yang dibentuk oleh jurnalistik, akan membangkitkan kecintaan kita pada sastra, sehingga arsitektur yang didesain akan bisa bercerita dengan sendirinya melalui tulisan.

Apabila Martin Pawley memilih untuk menulis mengenai kematian kritik arsitektur, saya lebih berpikir optimis, bahwa inilah saat – saat kebangkitan jurnalistik dalam arsitektur dengan memahami, menjelaskan, menganalisa, dan mengkritik arsitektur Indonesia. Saya akan menunggu Martin Pawley dari kutub yang berseberangan.

[1]Komunikasipraktis.com,. ‘Pengertian Jurnalistik: Daftar Definisi Jurnalistik | Komunikasi Praktis’. N.p., 2015. Web. 2 May 2015.
untuk memahami definisi dasar jurnalistik,pendapat dari fraser, menjelaskan struktur dasar jurnalistik dan pendapat dari hodgins menjelaskan pentingnya kebenaran dan keadilan dalam jurnalistik.
[2] Pawley, Martin, and David Jenkins. The Strange Death Of Architectural Criticism. London: Black Dog Pub., 2007. pp 330,331
[3] Baca juga dua buah buku yang membahas mengenai bagaimana manusa mempengaruhi manusia lain dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan. Machiavelli, Niccolò, and W. K Marriott. The Prince. [Waiheke Island]: Floating Press, 2008. Print. dan Greene, Robert. The 33 Strategies Of War. New York: Viking, 2006. Print.
[4] Lihat kuliah David Hutama di Halaman http://www.omah-library.com yang membahas tentang kreativitas dalam arsitektur. David menjelaskan orang – orang kreatif sebagai agen evolusi. Saya menilai dimensi kreativitas kedapan kepentingan publik dan pentingnya evolusi ke dalam jurnalisme dalam arsitektur.
[5] baca juga latar belakang dari ahli linguistik, semiotik, Ferdinand De Saussure Egs.edu,. ‘Ferdinand De Saussure- Swiss Linguist And Philosopher – Biography’. N.p., 2015. Web. 2 May 2015.
[6] Waterhouse, P. Leslie, and R. A Cordingley. The Story Of Architecture. London: Batsford, 1950. Print.
[7]Sopandi, Setiadi.Sejarah Arsitektur Sebuah Pengantar. Jakarta: UPH Press, 2015. Print.
[8]Engel, Heino. Tragsysteme. Ostfildern-Ruit: Gerd Hatje Publishers, 1997. Print.
[9]Rudofsky, Bernard. Architecture Without Architects. New York: Museum of Modern Art; distributed by Doubleday, Garden City, N.Y, 1964. Print.
Kategori
thoughts

Integration

I was touched by brion tomb by carlo scarpa, the quoestion would be could we do even better than him in terms of effort,and beauty of craftmanship. by integrating what chales waldheim thought in his book, by integration of water sensitive urban design creating water sensitive architecture (Waldheim, Charles. The Landscape Urbanism Reader. New York: Princeton Architectural Press, 2006. Print.)
 

Kategori
thoughts

Practicing Urban Design

while preparing lecture for student of Trisakti, in one venue title Metamorfosa 2015, I was thinking to  share the thinking Jonathan Barnett about how to design a place in be predicting behaviour setting, or Le Corbusier about the importance of rationalism, influencing by paradigm, or even Jon Lang about compexity of public realm issues in urban design by three issues, procedures, products, and paradigms in urban design.

Kategori
thoughts

Geometry interplayed by simple form – process of thinking

Kategori
thoughts

Smart Home, Smarter than you ? writing for Baccarat Indonesia

Screen Shot 2015-04-30 at 11.34.20 PM

At the beginning of this month, I wrote one article for Baccarat Indonesia. The idea was to rethink the idea of smart home, is the home smarter than us the people living inside or the other way around. I remember one storey of Ben Copper in movie titled smart home. It was the story of the home who is become smarter than the owner. The owner, Ben Copper asked the house to take care of him, and the result is the house overprotected him.

“Di Tahun 1998, Ben Cooper yang saat itu berumur 13 tahun dan keluarganya mengalami kesulitan untuk mengatur hidup mereka, mengatur rumah, mengatur tugas– tugas sekolah dan mengatur pekerjaannya. Ben remaja tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri seperti anak lainnya, termasuk untuk bermain basket, satu olahraga yang disenanginya. Suatu ketika Ben dan keluarganya memenangkan sebuah rumah pintar yang dinamakan Pat, sekaligus diperkenalkan dengan penciptanya, Sara Barnes. Pat mampu menyelesaikan tugas– tugas yang dilakukan Ben untuk mengatur rumah. Tidak puas dengan program yang dimiliki Pat, Ben memprogram kembali rumah tersebut untuk “seolah-olah” menjadi seorang ibu bagi keluarganya, membuat Pat mengatur kehidupan mereka, termasuk mengatur jadwal dan membuat keputusan! Secara perlahan, Pat mengubah dirinya sendiri dan tidak mengijinkan keluarga tersebut keluar rumah. Di akhir cerita Ben berhasil meyakinkan Pat bahwa dia tidak nyata dan ia bukan manusia. Akhirnya mereka kembali terbebas, dan Pat diprogram ulang untuk kembali ke kondisi awal. Ini adalah satu cerita dari film “Smart Home” yang dirilis tahun 1999. Di era tersebut banyak film bertema kepintaran sebuah rumah, satu kecerdasan buatan, satu lingkungan yang memudahkan manusia yang kemudian manusia itu sendiri terbelenggu dalam teknologi yang diciptakannya. Saya kemudian bertanya–tanya apakah kegiatan memelihara rumah itu sedemikian sulitnya untuk bisa dilakukan sendiri dan dinikmati.”

Then I compared the story with story of Ferdi and Joice, both of them are my clients, creative people who works as graphic designer. I think they are smart people, and become smarter living in their home

“Teringat juga dalam satu saat, kira–kira dua tahun yang lalu, saya bertemu dengan Ferdi dan Joice, mereka meminta saya menjadi arsitek rumah impian mereka di atas lahan 150 meter persegi yang kemudian diberi nama Istakagrha. Pasangan ini kreatif dan keduanya berprofesi sebagai desainer grafis. Ferdi dan Joice menginginkan rumah yang natural, memandang ke alam dengan suasana vila di Bali, tempat mereka mungkin menghabiskan waktu terbaik bersama. Rumah ini memiliki ruang–ruang lapang yang berbeda dengan rumah yang ditempati sebelumnya yang terkesan sempit karena tersekat-sekat akibat pengaturan rumah yang tidak efisien.

Saya pun mendesain konsep teknologi sederhana Smart Home di mana rumah tersebut memiliki konsep teknologi penghawaan alami dengan sirkulasi udara silang dan air stacking effect yang menghadap ke arah Timur dan memberikan sisinya yang tertutup untuk menghadap ke arah Barat. Di sisi Timur terdapat taman sebesar satu pertiga tanah mereka yang seluas 50 meter persegi merangkap garasi luar. Di taman ini diberikan satu latar belakang dengan teknologi konstruksi tumpuk, bata ringan yang disusun dengan lubang sebesar 5 cm dan berselang–seling untuk menjaga privasi. Di taman ini dibingkailah sebuah ruang keluarga, tempat mereka menghabiskan waktu bersama. Di area ruang keluarga terdapat dapur bersih dengan desain yang fungsional, mudah dirawat, dan terlihat mewah namun sederhana untuk memasak dengan kompor gas karena mereka biasa menghabiskan waktu untuk masak sendiri dan makan bersama. Mereka kemudian bercerita bahwa sejak rumah ini selesai dibangun dan ditempati, mereka menghabiskan waktu lebih lama di rumah tersebut dibandingkan dengan berpergian ke mal. Mereka mulai mengundang teman–teman untuk menghabiskan waktu bersama, sehingga ada nilai kebersamaan yang dibangun. Mereka pun menjadi lebih peka bahwa sisi matahari yang menghadap Barat itu akan memberikan panas yang
terik di jam 3 sore. Teknologi yang dipakai di sini adalah teknologi yang sederhana dengan penerapan fisika bangunan untuk mengembalikan hunian yang dekat ke alam dengan seminimal mungkin menggunakan mesin untuk mengatur kehidupan manusia. Ferdi dan Joice adalah pengatur kehidupan mereka di Istakagrha.”

Then the result was

“Saya kemudian bertanya–tanya mengenai apa itu Smart Home? Apa yang sebenarnya dibangun di dalamnya? Sebuah keluarga yang berproses untuk menguasai teknologi ataukah teknologi yang lebih pintar daripada manusia yang kemudian menguasai keluarga tersebut? Dari situlah mungkin kita mendapatkan cerita–cerita yang mendalam mengenai bagaimana kita tinggal dan hidup di rumah tersebut. Cerita yang unik ketika si penghuni dimudahkan dan belajar tanpa henti di dalam runtutan teknologi di dalam rumah yang indah.”

Then I was thinking, technology could be integrated with system, structure, to recall what we think science in architecture, I think the book by Heinrio Eingels, one of my favourite about building structure system, might be useful to determine how structure address the space in wide span, tall building, or functional model. I remember last time I had lectured in University of Petra about the importance of knowing this science of making form and space, science of architecture

1] the quoted section in the article was published in Baccarat Indonesia, this month edition.

Screen Shot 2015-04-30 at 11.15.54 PM

Kategori
primary thoughts

Frame – Reflection of Tectonics

Kita perlu mempertanyakan apakah kotak itu harus selalu tegak lurus menghadap lot jalan yang biasa berbentuk tegak lurus, atau apakah ia bisa merepresentasikan keinginan untuk manusia untuk hidup, berkreasi, dan tinggal didalamnya. Ketika satu bentuk itu ada, ia ada berdasarkan coretan garis diantara dua kerangka, garis- garis penuh pertimbangan yang taktis, terukur juga garis – garis emosional, dimana ada ketakutan kekuatan di dalam diri. 2 garis itu bersatu dalam satu pertunjukkan yang hidup ketika manusia mulai mendesain, manusia mulai berpikir tentang nalar, dimana ada kebutuhan, ada pemahaman mengenai karakter, ada visi mengenai bagaimana bangunan itu akan dibangun, bagaimana kehidupan itu akan dibangun.

Saat yang lalu bertemu dengan beberapa klien, beberapa dari mereka adalah satu keluarga yang ingin hidup bersama tinggal di dalam satu rumah yang terpecah – pecah menjadi beberapa kelompok bangunan namun ingin tetap terhubung satu dengan yang lain. Ada satu prinsip keterdekatan dan keterjauhan, ingin ada jarak namun tetap dekat, terhubung, seperti hubungan manusia, paradoks yang dimainkan. Arsitektur pun seperti itu, satu buah ruang besar dengan ketinggian 2 lantai  tanpa kolom, disinilah mereka bisa berkumpul, menonton TV, makan bersama, memasak bersama, bersosialisasi bersama. Ruang – ruang tidur di sebarkan di sekitar ruang keluarga dengan menghadap ke taman. Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, apa bentuk dasar yang dipakai ? saya berpikir susunan beberapa kerangka yang memiliki keterdekatan dan keterjauhan yang dipisahkan oleh taman akan baik, tarian beberapa buah kotak.

Didalam satu kerangka yang ada, terdapat keterdekatan dan keterjauhan, terdapat ledakan kreatifitas tanpa batas, yang diselami lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap harinya bangunan itu didesain menjadi lebih baik dan lebih baik lagi oleh manusia. Hal ini wajar terjadi dalam relasi  manusia, begitupun juga relasi tarian yang ada dalam ledakan – ledakan di dalam bangunan. Apabila bangunan membentuk manusia didalamnya, begitupun arti satu bangunan dalam kehidupan manusia atau lebih dalam disinilah hidup seorang manusia baru saja dimulai untuk belajar hidup yang lebih baik. Apakah kita perlu terkungkung dalam satu garis yang tegas, dengan perencanaan yang axial. Karena kita hidup dalam sistem, dimana ada satu keteraturan yang mengatur dengan pola – pola  yang tegas di dalam kerangka yang ada, setiap orang begitupun bangunan berhak untuk hidup dalam ledakan emosinya, ledakan kreatifitasannya. Begitulah hidup saya pikir, hidup dalam kerangka dan keinginan manusia adalah lepas dari kerangka itu. Sebuah keinginan yang terus berujung dari awal hidup sampai kematian, begitupun juga manusia, begitupun juga bangunan.

Kategori
thoughts

Traditional Home in Modernity – writing for Baccarat Indonesia

Tulisan ini ditampilkan di Baccarat edisi akhir tahun 2014

Screen Shot 2015-02-19 at 7.34.25 AM

Di tahun 1990 Pameran AMI [Arsitek Muda Indonesia] menandai satu titik kritis dimana desain yang rasionalis ataupun yang sering disebut – sebut sebagai gaya minimalis menjadi sejarah di dalam arsitektur Indonesia. Desain rasionalis ditandai dengan garis – garis yang geometris, penuh pertimbangan untuk menjawab kebutuhan fungsional dan estetika yang tinggi. Hal ini menandai pergeseran nilai – nilai tentang apa yang dianggap baik oleh Arsitek Muda Indonesia sebagai reaksi terhadap menjamurnya rumah bergaya mediterania, klasik, ataupun tradisional yang menjamur pada waktu itu. 14 tahun kemudian, setelah pameran AMI tersebut, rumah – rumah yang rasionalis ini menjamur dimana – mana, gaya rasionalis menjadi satu tren pasar yang sensual untuk disukai oleh masyarakat. Hal ini ditambah dengan perubahan gaya hidup orang – orang yang lebih individual juga terjadi hal ini ditandai dengan tendensi berkurangnya rumah nukleus, rumah yang terdiri dari beberapa generasi di dalamnya. Mungkin 20 tahun yang lalu kita masih biasa dengan tradisi bapak ibu, kakek nenek, cucu cucu tinggal di dalam satu rumah. Sebuah situasi dimana canda gurau, tegur sapa terjadi secara dekat di dalam satu rumah yang ditinggali bersama – sama. Untuk ini kita bisa catat adanya pergeseran gaya hidup, pergeseran budaya, pegeseran dari tradisional menjadi modern, pergeseran dari komunal menjadi individual. Tergerusnya rumah nukleus ini menjadi satu hal yang patut untuk dicatat dan tumbuhnya rumah – rumah berukuran lebih kecil menjadi pertanda akan satu perubahan yang nyata. Pertanyaannya kemudian untuk siapa ? dan untuk apa ? satu rumah itu ada.

Untuk siapa ?

Romantisme akan keluarga yang menyatukan hubungan menjadi satu dasar utama dalam membina kesuksesan. Orang yang tinggal bersama – sama, menurut penelitian di Amerika orang – orang mengalami interaksi manusia dengan manusia terbukti akan hidup lebih lama. Catatan ini ditujukan sebagai ada korelasi dari gaya hidup / budaya ke dalam satu parameter yang hakiki, seberapa lama kita hidup, ternyata semangat kebersamaan [spirit togetherness] yang menjadi satu ciri khas yang baik dalam masyarakat kita, ternyata memiliki harta yang terpenting dalam hidup setiap orang yakni, seberapa lama kita hidup atau seberapa banyak usia yang kita punya.

Tren meningkatnya nilai individualistis ini di kota – kota besar seperti Jakarta mungkin juga dipicu oleh kurangnya tempat untuk berekspresi dan berkumpul, sehingga ada dimensi seperti ini yang mempengaruhi kualitas manusia yang menghargai arsitektur yang menghargai kebersamaan. Di tengah – tengah mulai berbenahnya Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Bogor, dan kota – kota lain. Kita di hadapkan kepada pertanyaan mengenai rumah, satu kumpulan ruang tempat kita menghabiskan sebagian waktu di dalam hidup kita, nilai apakah yang akan kita pupuk didalam rumah tersebut. Tentu saja banyak rumah yang memiliki kualitas tinggi, kualitas tinggi itu menerobos kungkungan tradisional dan modern. Ia mampu tegak berdiri di tengah kungkungan permintaan jaman, sehingga lambat laun rumah tersebut dicintai oleh orang – orang yang menghuninya atau bahkan hanya sekadar mengunjunginya karena kualitas yang terdapat didalamnya.

Untuk apa ?

Buku yang ditulis oleh Bernard Rudofsky, Architecture Without Architects bisa menjadi satu rujukan dimana menjelaskan mengenai beberapa karya rumah tinggal di tungkwan Honan, Cina misal, adalah satu rumah di bawah tanah sebagai satu usaha untuk menghindari udara dingin dan terpaan badai taufan dimana temperatur bisa turun drastis, ataupun rumah – rumah petak di Hdyrabad Pakistan dengan fitur cerobong angin untuk mendinginkan udara pada ruang di dalam dimana udara panas mengalir ke atas karena kelembapan yang rendah. Terdapat satu garis yang menyatukan beberapa bangunan yang dibahas yaitu bangunan yang diciptakan adalah satu jawaban akan kebutuhan mendasar manusia. Hal ini juga terlihat dalam rumah – rumah adat di indonesia misal rumah Batak Karo, Toba dimana bangunan dibuat panggung untuk menghindari binatang buas dan menjaga kesehatan karena konstruksi yang tersedia adalah konstruksi kayu. Ataupun Keben yang ditujukan sebagai lumbung padi yang berupa rumah panggung sekaligus menunjukkan simbol kekayaan materi pemilik rumah tersebut.

Rumah – rumah tradisional Indonesia juga merupakan respon terhadap satu kebutuhan mendasar untuk hidup nyaman dengan keterbatasan material, teknik membangun yang ada pada jamannya. Di era modern ini dimana kebutuhan mendasar manusia sudah tercukupi kemudian apa lagi yang harus dijawab oleh arsitektur tropis Indonesia. Abraham Maslow dalam penjelasan mengenai teori bagaimana alam semesta mencukupi kebutuhan manusia, bahwa ternyata kebutuhan yang paling utama adalah kebutuhan untuk mengekspresikan diri. Di titik ini, esensi apa yang mau dijawab dalam desain menjadi tidak sederhana lagi, ia menjadi kompleks karena terkait dengan pemaknaan untuk apa kita hidup dimana hal ini berbeda dari satu orang dan orang yang lain. Keberagaman ini yang tercampur aduk dalam modernitas sekarang ini, dimana orang mempertanyakan batas seberapa tradisional dan seberapa modern satu desain, dua hal yang bertolak belakang. Ingin terlihat baru juga terlihat lama, ingin terlihat berat juga terlihat ringan, ingin melihat masa lalu juga melihat masa depan.

Lalu ?

Manusia memang seakan – akan bingung dengan apa yang diinginkan dengan segala keinginannya terus menerus berubah, tradisional menuju modern. Menurut saya semuanya ini dimulai dari satu usaha untuk membuat desain yang lebih baik daripada sebelumnya. Perlu kita lihat rumah Millard karya dari Frank Llyod Wright seluas 220 m2 untuk Alice Millard di tahun 1906, kira – kira hampir seratus tahun yang lalu. Rumah yang didesain untuk menonjolkan sisi ketukangan [craftmanship] dengan material beton yang dicetak menyerupai motif sehingga menjadi tema dalam perancangannya selain pengalaman ruang yang merespon sisi selatan yang terbuka terhadap matahari mengingat posisinya di daerah Amerika Utara yang ada di Lintang Utara sehingga matahari selalu datang dari arah selatan. Frank llyod Wright ingin membuktikan bahwa ia juga bisa berkreasi dengan material yang sederhana yaitu beton. Rumah ini menjadi satu penanda di Los Angeles dan menjadi satu karya yang menjadi contoh akan membuat satu hal yang belum ada di daerah tersebut sebelumnya yang memecahkan hal – hal mendasar seperti pentingnya sinar matahari, udara yang masuk di pori – pori motif beton yang ada sampai kepada hal – hal yang bersifat keindahan, dibanggakan oleh orang – orang lain, tidak hanya pemiliknya. Kalau misalnya desain Millard house sudah dibangun sejak tahun 1923, lalu kita di tahun 2014, ditanyakan dengan satu pertanyaan, bisakah kita membuat yang lebih baik lagi. Mengenai rumah tradisional di jaman modern ini, saya kemudian ingat satu kalimat dari Daniel Liebeskind, “To provide meaningful architecture is not to parody history but to articulate it.” Be Authentic, be honest with yourself dan ajakannya kemudian adalah membuat karya yang lebih baik dari masa lalu.

Screen Shot 2014-08-29 at 1.04.08 PM

Diskusi di OMAH, mengenai Architecture Without Architect.

Kategori
thoughts

House for Ferdi and Joice-Weaving Brick

I met Ferdi and Joice, our client a year ago. They were couple with full of optimism, having ideal that their house will be compact, small and comfortable for them, 3 bedrooms mixed with small office for their small graphic design home atelier in 150 square meter piece of land [10 x 15 m] . That moment was the process of long architectural sketches.

IMG_1949

The design for the house consisted of several layer introducing series of weaving brick technique to provide sense of privacy in the facade which face east. I discovered that ready or customized roster would be solution for the wall. But the question was, could it be even more efficient, or could we make another solution, which was unique, which was also honest, showing masonry expression. The stacking or manipulation techniques or even I called it weaving technique was tricky because it did need to be efficient in material making and construction which means that the material need to be ready and that would not be special customized. I thought that the material would be light weight brick, the reason was simple, First, because the module was the biggest module 20 x 60 compared to red brick, and second, because it was easy to manipulate because the character was brittle. The brick was cut into 3 pieces, so we can have another module of 20 x 20, then by stacking the brick, leaving 5 cm gab we get sense of privacy leaving air circulation. The simple solution was better than using customized roster or even ready roster in term of efficiency.

 

 

 

Kategori
DAILY thoughts

The Question of Good Tropical House ? Why and What ?

Tropical house was defined by location of house which was in tropical monsoon climate. Tropical monsoon climate is a condition of area which has temperature 18 degree celcius in every month of the whole year [1]. In Indonesia, The tropical climate is classified in we tropical monsoon climate which means In some instances, up to (and sometimes in excess of) 1,000 mm of precipitation is observed per month for two or more consecutive months. By understanding the context of tropical monsoon climate, we could understand why and what good tropical house is needed, basically it’s for far more creating energy efficient, far more comfortable space for living, far more improving quality of architecture of house in tropical monsoon climate, far more improving understanding of people that by having good design, we are doing far more sustainable practice.

Then, The question is what is the intervention, or design technique which is needed for tropical house. The question brought forward the discussion of criteria, condition of what’s good and how to achieve those conditions.

[1] McKnight, Tom L; Hess, Darrel (2000). “Climate Zones and Types: The Köppen System”. Physical Geography: A Landscape Appreciation. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. pg. 208.

Kategori
thoughts

Ilusi dalam Realitas

“We live in a wonderful world that is full of beauty, charm and adventure. There is no end to the adventures we can have if only we seek them with our eyes open.” — Jawaharal Nehru

Pathway to Village - Ubud
Pathway to Village – Ubud
300814 Ubud. Terkait dengan perjalanan di pertengahan tahun 2014 ini terkait dengan beberapa hal yang tidak terduga, antara realitas dan ilusi, masa depan dan masa lalu, kesedihan dan kegembiraan, masalah dan solusi. Usaha ini terkait dalam perjalanan untuk menyibak jawaban akan pertanyaan – pertanyaan untuk hidup lebih baik terkait dengan beberapa catatan terkait dengan fenomena yang ditemui untuk menyibak tirai ilusi dan menemukan realitas.

Pentingnya keilmuan – untuk apa ?

Di dalam buku mengenai Roosseno, Roosseno Jembatan dan Menjembatani, dibahas mengenai bagaimana dunia timur berlomba – lomba dengan dunia barat adalah meningkatkan keilmuan kita bahwa harapan Roosseno supaya dunia timur bisa bertemu dengan dunia barat dari segi keilmuan. Pak Budi, satu orang kontraktor, menjelaskan bagaimana struktur pra tekan dari Roosseno telah dipatenkan di Perancis dan dipakai dalam desain beberapa jembatan di daerah. Dari sini Ada Hasrat untuk memulai hal yang baru yang dimulai dari keheranan dan kecintaan akan profesi. Hal yang mungkin saja ada dewasa ini namun belum membudaya. Sebagai mana begitulah contohnya isu mengenai isu rumah murah dan bagaimana diskusi kita mengenai kritisi desain rumah – rumah murah, pertanyaan – pertanyaan mengenai sistem apa yang digunakan, biaya yang digunakan, material yang digunakan, sehingga hal – hal ini bisa memperkaya keilmuan. Mungkin kritisi ini bersifat falsifikasi, dimana berusaha untuk mencari tahu dimana salahnya, untuk kemudian bisa menaikan tingkatan bidang keilmuan yang lebih tinggi. Bukan berarti harus mencari tahu dimana salahnya, namun memang cara – cara ini bisa digunakan untuk selalu mendobrak batas yang ada daripada cara – cara membenarkan diri sendiri atau yang lazim disebut dengan verifikasi, cara memuji diri sendiri, membenarkan satu hipotesis dan menyibakkan tirai ilusi. Misal rumah murah yang didesain dengan material – material murah, mungkin diskusi soal sistem konstruksi yang mengefisienkan harga bangunan akan lebih memperkaya keilmuan teknologi bangunan daripada fenomena rumah yang menggunakan material murah, tidak sesuai standar keamanan dan kenyamanan. Kita kemudian belajar setiap material dengan harganya, mahal dan murah pun memiliki batas dan ketepatan guna untuk bisa dipergunakan dalam desain.

Berbicara mengenai sistem konstruksi kita berbicara mengenai model, prototipe yang mungkin secara ideal bisa dipahami bagaimana sejauh mana ini bisa tepat guna dengan kerugian dan keuntungannya. Teks book building construction illustrated yang ditulis oleh Francis D.K. Ching pun mungkin bisa diperkaya dengan khazanah realitas yang baru dimulai dari bagaimana tiap tiap elemen berkerja sesuai dengan realitas yang ada misal konstruksi kayu, besi, beton, kelebihan dan kekurangannya terkait keterbatasan bahan, jenis desain yang dimunculkan, ekspresi arsitektural yang didapat, ataupun terobosan desain yang ada, dengan beberapa penemuan misalkan sambungan konstruksi bambu yang digagas oleh Andry widyajatmiko dalam bukunya, ataupun karya sambungan yang diulas dalam setiap edisi dari buku Detail terbitan Birkhauser, ada bermacam – macam jenis sambungan dari plastik sampai kayu. Cara yang cukup mudah mungkin bisa terlihat dalam struktur pesawat terbang yang efisien, ringan, dengan luas penampang sekecil mungkin, usaha untuk meminimalkan ini pun wajib adanya dalam penerapan pengembangan prototipe ini untuk menentukan ambang batas kritis tentunya dengan perencanaan yang matang dan sistematis [sinkronik] bukan hanya pendekatan desain yang pragmatis.

Maraknya budaya berkumpul, meminta perhatian – untuk apa ?

Arsitek Muda Indonesia sudah memulai pada tahun 1990 untuk mencoba meredefinisikan kembali arsitektur yang lebih baik pada jamannya dengan pendekatan yang rasionalis. Jong Arsitek sebagai wadah arsitek muda mencoba menyambung eksistensialnya dengan media digital, mencoba mewadahi jembatan arsitek generasi selanjutnya dari AMI. Kemudian munculnya beberapa komunitas sebelum dan sesudahnya seperti belajar desain, biang desain, Indonesia Berkebun , dan sebagainya. Pertanyaan lebih dalam kemudian apa yang kita dapat dari budaya berkumpul, dan menamakan satu kumpulan dengan satu buah label. Mungkin kita bisa melihat bagaimana orang – orang yahudi maju dalam keilmuan karena kebiasaan untuk berkumpul dan belajar bersama. Belajar bersama ini menjadi penting karena disinilah menjadi ajang untuk bertukar pendapat, menyamakan visi untuk kemudian meredefinisikan visinya kembali. Memang ada saja godaan untuk membuat eksistensial tiap – tiap kelompok menjadi lebih tinggi namun budaya untuk belajar ini yang baik untuk dipertahankan. Yang patut untuk selalu menjadi perenungan adalah, apa sumbangannya terhadap bidang keilmuan yang ada. Seperti satu bangunan tingkat tinggi yang memiliki core bangunannya, semakin tinggi bangunan itu, core bangunan pun dituntut untuk bisa mewadahi jalur sirkulasi vertikal dengan segala pengetahuan didalamnya mengenai keamanan, kenyamanan dan juga keindahannya dalam segala manfaatnya. Pada akhirnya pertanyaan mengenai apa yang dihasilkan dari setiap budaya berkumpul ini yang ditunggu – tunggu sebagai tanggung jawab dari eksistensi yang lebih tinggi setiap saatnya.

Pengertian pentingnya pemahaman

Menjadi paham berarti bisa mengerti bagaimana pemecahan masalah itu dilakukan dengan cara yang diakronik ataupun sinkronik. Pemecahan masalah diakronik adalah pendekatan dengan mengerti sejarah, apa yang bisa dipelajari dari sejarah, apa yang sudah ada. Khasanah mengenai contoh – contoh yang sudah baik sehingga bisa dibakukan menjadi satu prototipe, model yang bisa dipelajari untuk diperbaiki menjadi lebih baik menjadi satu catatan yang bisa memperkaya kualitas desain arsitektur Indonesia. Oleh karena itu, budaya membaca dan menulis menjadi penting, begitupun budaya menulis dalam arsitektur untuk meningkatkan pemahaman teori dan praktik yang memperkaya keragaman dalam realitas yang ada. Pemahaman ini kemudian terekam dalam tulisan – tulisan yang lebih baik daripada masa lalu.

Bisa juga pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan sinkronik yaitu memecahkan masalah yang ada didepan mata dengan segala keahlian yang kita punyai secara langsung dan bersifat sistemik seperti mendesain satu buah mixed used dengan grid 8,4 m kali 8,4 m ataupun 10,5 m karena pertimbangan floor to floor yang tinggi, dengan ruang mekanikal elektrikal di bawah ceiling dan fungsi parkir mobil di daerah titik terbawah bangunan. Hal ini bisa dipelajari dengan menambah jam terbang, dan memikirkan pemecahan masalah melalui desain ruang – ruang yang ada, ataupun sebagai contoh mendesain ruang kelas dengan sistem struktur bay structure dengan titik – titik kolom sebagai pendukung strukturalnya, sebuah solusi yang efisien terkait dengan modul ruang 84 m2 yang menyusun batang tubuh bangunan dengan tipe koridor tunggal [single loaded corridor], ataupun tipe koridor ganda [double loaded corridor]. Hal – hal yang bersifat teknis ini adalah usaha untuk membuat bangunan berjalan dengan baik diselaraskan dengan pengetahuan disiplin ilmu yang lain, fisika bangunan, teknologi bangunan, pemahaman struktur. Pada akhirnya memang arsitek akan berkerjasama dengan orang – orang yang memiliki pemahaman lebih di bidangnya.

Munculnya kedewasaan

Pada akhirnya titik untuk menjadi paham adalah menjadi manusia yang dewasa, dimana manusia dituntut untuk menyebarkan kebaikan dalam etikanya. Terlebih lagi arsitek dengan segala potensinya sebagai pembawa kebaikan peradaban untuk selalu memikirkan pola hidup manusia yang tinggal di dalam bangunan yang dirancangnya. Dalam contoh kedewasaan ini terlihat jelas dalam desain tata lansekap Bali yang menghadirkan tanaman kamboja dengan berbagai jenisnya. Bahwa pada hakikatnya perencanaan ini untuk menyediakan bunga kamboja sehari – harinya yang dibutuhkan untuk berdoa den meminta rejeki ataupun untuk bersyukur akan rahmat yang diberikan. Bunga ini kemudian semerbak dengan wanginya yang harum. Dari sinilah kita mengetahui kegunaan kamboja di lain sifatnya yang mudah untuk dibiakan, dipotong pada pangkalnya ditanam di media tanah, ia pun akan hidup tanpa perlu air yang banyak.

Sistem ngaben yang ada di Bali dengan pembakaran mayat untuk ditebar ke laut menunjukkan gaya hidup yang berkelanjutan jauh sebelum brundtland commision menerapkan pentingnya isu ekologis dalam dunia di tahun 1987 ataupun buku Silent Spring yang ditulis Rachel Carson mengenai turunnya kualitas lingkungan. Di Bali orang – orang yang mampu secara finansial membiayai sendiri ngaben mereka, namun ada juga ngaben massal, bergotong royong membiayai ngaben mereka sendiri ataupun ketika biaya masih belum cukup mayat dikubur dahulu untuk kemudian ketika secara finansial cukup, peristiwa ngaben dilakukan. Hal ini didasarkan pada prinsip – prinsip untuk menghargai kehidupan, dari debu menjadi debu juga dan memberikan dirinya ke alam.

Screen Shot 2014-09-01 at 11.20.14 PM
lukisan karya Antonio Blanco
Lukisan karya Mario Blanco, anak dari pelukis Antonio Blanco yang menyiratkan arti kehidupan dengan pralambang teko, kelapa, gamelan. Teko adalah pralambang kehidupan, dengan air sebagai pusat utamanya dimana masyarakat Bali tidak mengenal cangkir pada awalnya, mereka minum dari teko. Air penting di dalam tatanan kehidupan sehingga setiap daerahnya memiliki penjaga air untuk bisa didistribusikan merata, dan sumber mata air disucikan seperti Tirta Emphul, sebagai titipan yang maha kuasa. Kelapa melambangkan setiap bagiannya dari akar buah sampai daunnya yang bisa digunakan. Gamelan melambangkan bahwa untuk bisa bernyanyi, dan menghibur orang ia perlu bersusah – susah dipukul – pukul oleh orang yang memainkannya.

Melihat kota Jakarta dengan sungainya, penjagaan airnya, apalagi kegunaan manusianya, ataupun caranya bersenang – senang, mungkin ada baiknya kita melihat lagi kebijaksanaan leluhur kita, setidaknya dari pulau Bali, untuk melihat masa lalu saja kita masih enggan bagaimana membuat sesuatu yang lebih baik. Ketiga pralambang dari lukisan Mario Blanco itu melambangkan kehidupan,untuk menjaga arti kehidupan, guna kehidupan, dan tidak lupa untuk bersenang – senang dan menghibur orang lain. Dari hal yang sederhana kita bisa menggali kebaikan dalam manusia. Begitupun juga keilmuan yang ada dalam berarsitektur untuk membuat kehidupan manusia yang lebih baik dan menebarkan kebaikan. Mungkin memang karena hal – hal yang baik itu Bali disebut pulau para dewa.

IMG_1669

Note :
  1. Dalam perjalanan ke Bali kali ini saya membawa dua buah buku, yang pertama buku mengenai Roosseno Jembatan, menjembatani, didalamnya terdapat pidato roosseno dalam pengukuhannya sebagai guru besar ITB, mengenai bagaimana kita harus bersikap dalam mengejar ketertinggalan kita dengan dasar yang sederhana. Yang kedua adalah buku wewancara dengan louis Kahn, conversation with students dimana didalamnya terdapat kuliah singkatnya Architecture White light black shadow.
  2. Informasi mengenai tradisi Ngaben dan Perletakkan Kamboja saya dapatkan dari bincang – bincang dengan Pak Made, sahabat yang menemani dalam perjalanan ke Denpasar dan Ubud.
  3. Antonio Blanco adalah pelukis ekspresionis yang menikah dengan Nyi Rondji, seorang penari Bali. Lukisan – lukisannya banyak yang memuja kehidupan, dan wanita sebagai pusat karyanya. Mario Blanco adalah anak dari Antonio, ia terkenal dengan lukisannya yang memiliki falsafah kehidupan, lukisan yang saya temui di bali adalah satu karyanya yang dipigurai berbentuk teko menjelaskan tentang arti kehidupan.

     

 

Kategori
primary thoughts

Piece of White Light Black Shadow [Louis Kahn Lecture]

There were reasons to share Louis Kahn lecture for all of us. First, it showed the fundamental of the responsibility that architect should do, the ethic that we must always improve, and the passion for excellence which people should seize from the Architect. I discovered that the fundamentals taught Louis Kahn is the starter to be more beautiful than it was or at least that’s our duty to create the best institution of man we could offer.

White Light Black Shadow
…We were talking this afternoon
of the three aspects of teaching architecture.
Actually, I believe that I do not really teach architecture
but that i teach myself.
These, however, are the three aspects:
The first aspect is professional.
As a professional you have the obligation of
learning your conduct in all relationships…
in institutional relationships,
and in your relationship with men who
entrust you with work.
In this regard, you must know the distinction
between science and technology.
The rules of aesthetics also constitute professional knowledge.
As a professional, you are obliged to translate
the program of a client into that of the spaces of
the institution this building is to serve.
You might say it is a space order,
or a space-realm of this activity of man
which is your professional responsibility.
A man should not take the program
and simply give it to the client
as though he were filling a doctor prescription.
Another aspect is training a man to express himself.
This is his own prerogative.
He must be given the meaning of philosophy,
the meaning of belief, the meaning of faith.
He must know the other arts…
architect must learn that they have other rights…
their own rights.
To learn this, to understand this,
is giving the man the tools for making the incredible
that which nature cannot make.
The tools make a psychological validity,
not just a physical validity,
because man, unlike nature, has choice.
Louis I Kahn Conversations with Students, Architecture at Rice 26, Princeton Architectural Press. pp31-32 

Kategori
primary thoughts

RAW Lecture : Working Ideas in Business

We have a venue – mini brown bag in office, please do come if you wanna come. It’s free :)

“Being good in business is the most fascinating kind of art. Making money is art and working is art and good business is the best art.”
Andy Warhol

4th Lecture : Working Ideas in Business. There were times when people started defining business by simply delivering good product to the customer or client. It started by establishing one relationship to another relationship between architect and clients. In this lecture we will discuss about the experience bringing business into worth living relationship between clients, architects, and between people inside the firm. We invited students and fresh graduates for our mini brown bag. It’s about sharing entrepreneurship in architecture. It’s all discussing the answer of :

1) What or How is the core of relationship between clients and architect ?
2) What is needed for establishing architecture studio ?
3) What or How is the challenge given by the reality ?
4) Why the ethic is important ? or what is the ethic to maintain relationship ?

The discussion will be held at RAW Office at 6.30 pm [16.30] on 28th August 2014 . The material will be explained briefly by Realrich followed by open discussion among participants.

Kindly make your reservation to tatyana@raw.co.id or ilham@raw.co.id as soon as possible (seats are limited) Thanks and see you !

http://raw.co.id/?p=1384

 

Kategori
thoughts

Experimentation by Digital Computation and Analog Process in Architecture

My friend Dani Hermawan will share his experience on digital computation in Architecture. It’s all about creating innovation in architecture. This is the 3rd lecture for Architecture Summer Workshop that we conduct in office.

Screen Shot 2014-08-21 at 8.37.32 PM
Here is the publication :

Please Join Our Venue for This Friday 22nd August 2014 at 18.30 in Summer Pavilion. The third lecture for Architecture Summer Workshop.

Topic “Experimentation by Digital Computation and Analog Process in Architecture”

Dani Hermawan who is an architect and researcher based in Jakarta will introduce topic Experimentation in Architecture in the focus of Digital Computation in Innovation process in Architecture.

As a Co-Director of Formologix Lab, He interested and explores the collaborative potential of digital design and fabrication techniques related to architecture and product design -through various modes: parametric design, scripting, and fabrication.

Dani pursued his Master of Architecture in digital architecture from Dessau Institute of Architecture, Bauhaus-Dessau, Germany (2008) under supervision of Mathias Del Campo (SPAN/Austria) and Daniel Dendra (anotherArchitect-Berlin). For his Bachelor of Architecture, he was graduated from Parahyangan University, Indonesia (2004).

As practitioner, he credits his early architectural experience with the practices at Larascipta Architects, collaborative experience with Daniel Dendra at anotherArchitect, Berlin, and currently worked as a digital design, modeling and fabrication consultant for several architecture offices.
As academia, he taught design studios at Parahyangan Catholic University and currently, he actively teaches design studio, workshop and seminar at Pelita Harapan University.

The Analog process will be introduced briefly by Realrich Sjarief

Kindly make your reservation to tatyana@raw.co.id or ilham@raw.co.id as soon as possible (seats are limited)

Thanks and see you!

Kategori
DAILY primary thoughts

Ahmad Rida Soemardi

“Learn from me, for as I teach, I learn from you as well! Always be accountable to yourself and take complete responsibility for your own life. No one can do as much for you, as you can do for yourself…”
― James A. Murphy

Beliau datang di sidang ke 3 di masa – masa tugas akhir hampir 10 tahun yang lalu , di pertengahan jalan proses di tugas akhir, di tengah perjalanannya untuk menempuh PHD di Australia, ia pulang. Kita sendiri ada ber 4 dengan teman – teman satu kelompok yang lain, ada Nisa, Gamma, dan Herman dengan Pembimbing pribadi diri ini adalah pak Baskoro Tedjo. Pada waktu itu hari – hari  asistensi dengan beliau diisi dengan mencoba memecahkan kesulitan yang ada di bangunan lengkung yang bertabrakan dengan axis yang tegas. Kemudian beliau berkata, “saya tahu kamu pasti bisa, coba kamu lihat Christian De Pontzamparc.” Baru juga tahu ada arsitek yang bernama demikian, dan lebih merasa bersemangat karena beliau antusias dan yakin akan apa yang sedang dcari. Inilah satu titik awal, dimana kepercayaan diri itu mulai ada dalam perancangan tugas akhir.

Beliau pun ada ketika pada akhir sidang, semua sudah selesai, beliau menanyakan bagaimana perasaan setelah melewati sidang ini didepan penguji – penguji yang lain. Pada akhirnya beliau berdiri dan bertepuk tangan. Tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan momentum seperti itu. Beliau pun ada ketika hari demi hari berdiskusi sebagai tempat untuk pulang. Beliau ada disitu. Begitupun ketika berpapasan, bersalaman bercanda gurau menjadi satu kebiasaan, ia selalu berkata, “I know you will do the best.”

Beliau juga ada pada saat diri ini meneruskan S2 di Australia, pak Tata meneruskan S3 dan diri ini  dengan S2. Ada juga saat – saat yang berkesan dimana kita diminta mbak Ade Tinamei untuk membuat video untuk ultah PSUD juga untuk pak Danisworo, berkeliling ke satu jurusan mencari Prof Jon Lang, Alex Tzanes, ataupun staff – staff yang lain untuk membuat jaringan baru.

Pada waktu itu, terkaget bukan kepalang diberi tahu satu adik di kantor bahwa, Pak Tata meninggal. Kesedihan pun datang. Beliau yang selalu ada untuk tempat pulang. Pak Tata sendiri ada pada waktu S2 di Sydney, sekitar seminggu satu kali biasa kami makan siang sambil ngobrol apapun, akademis ataupun pengalaman konyol sehari – hari. Dari situ beliau menempatkan dirinya sebagai satu pribadi yang penuh kehangatan. Pak Tata adalah satu pribadi yang suka untuk mendengarkan sekitarnya, sehingga terkadang- kadang ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.

Kali ini Diri ini kembali tidak bisa hadir pada acara Tribute to Ahmad Rida Soemardi pada saat Artepolis kemarin karena ada hal yang benar – benar mendesak di Jakarta. Kali lain pun  tidak bisa menepati janji untuk bertemu dengan pak Tata dan berterima kasih untuk segala ilmu yang diberikannya, apalagi teladan sikap yang ditunjukkannya dengan tanpa kompromi. Tulisan ini dibuat untuk bisa berterima kasih terhadap pak Tata, ada usahanya dalam memberikan kebaikan terhadap orang lain, dan membuat terpacu untuk meneruskan yang baik yang sudah beliau rintis. Untuk meneruskan perjuangan pak Tata akan ketulusannya untuk mendidik dan berbuat tanpa pamrih. Pribadi ini adalah satu pribadi yang langka, seorang guru yang seutuhnya yang dicintai.

Tidak banyak orang yang bisa meledakkan semangat seseorang dalam berkarya, seperti seorang guru kepada muridnya, ia tidak berharap banyak, ia hanya berharap yang diajarkannya bisa diamalkan yang kalau – kalau memungkinkan untuk terbang tinggi dan beruntung bisa mendapatkan seorang guru seperti beliau. Terima kasih Pak Tata, tulisan ini hanya ingin membuat orang mengenal , dan meneruskan pengajaran Pak Tata, sama seperti apa yang akan coba teruskan apa yang sudah diajarkan.

There comes a point in your life when you realize who really matters, who never did, and who always will.
– Unknown

terima kasih juga untuk panitia Artepolis yang sudah berkerja sangat keras untuk meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Pak Tata. Pak Aswin Indraprastha, Bu Indah Widiastuti, Indra, Reina, dkk [maaf tidak bisa menyebutkan satu persatu]

from : Reina's picture https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152583259119407&set=a.10152584872884407&type=1&theater
from : Reina’s picture https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152583259119407&set=a.10152584872884407&type=1&theater

ini foto dari Dania Pratiwi, Alma keponakan Pak Tata dalam acara Tribute to Pak Tata

https://www.facebook.com/raripratiwi/media_set?set=a.10152584872884407.510564406&type=3

Screen Shot 2014-08-19 at 4.01.04 PM

Kategori
DAILY thoughts

Summer Architecture Workshop – The Guild

“To provide meaningful architecture is not to parody history but to articulate it.” – Daniel Libeskind

Lyons Inn, the AA’s first home, http://www.aaschool.ac.uk/AALIFE/LIBRARY/aahistory.php
Lyons Inn, the AA’s first home, http://www.aaschool.ac.uk/AALIFE/LIBRARY/aahistory.php
Satu adik  bertanya mengenai apa maksudnya untuk membuat Summer Architecture Workshop 20 orang untuk mahasiswa yang dimulai dari July dan Agustus. Pikiran ini masuk ke dalam satu rasionalitas ini mungkin satu usaha menjembatani dunia praktik ke dalam pendidikan arsitektur. Teringat 5 orang dari universitas Gunadarma yang beberapa bulan lalu datang, tergambar mengenai bagaimana tingginya kemauan mereka untuk berkembang dan belajar arsitektur. Kita ingat ke belakang, Architecture association, Berlage Insitute, ataupun Bartlett School of Architecture. Sejarah Architectural Association menjelaskan bahwa :

The Architectural Association School of Architecture in London, commonly referred to as the AA, is the oldest independent school of architecture in the UK and one of the most prestigious and competitive in the world. The Architectural Association was founded in London in 1847 by a group of young articled pupils as a reaction against the prevailing conditions under which architectural training could be obtained. Unlike continental models such as the French L’Ecole des Beaux Arts, which imparted a degree of state-direction and control on architectural education, Britain with its liberal democracy and traditional fear of powerful centralised government had adopted a system of articled pupilage, whereby large premiums were advanced to private architects in return for imparting an education and training. This practise was rife with vested interests and open to abuse, dishonesty and incompetence. Against this backdrop, correspondence from two articled pupils, Robert Kerr and Charles Gray (aged just 23 and 18, respectively) were published in the Builder of 1846 proposing that if the state could not interfere with the private interest of architects by providing a systematic course of training, then perhaps the students themselves could … An existing, small association of architectural draughtsmen was rapidly absorbed and the first formal meeting held under the name of the Architectural Association was subsequently held in May 1847 in the premises of one of the oldest of the Inns of Chancery, Lyons Inn. [1]

Ataupun Berlage Insitute

The Berlage Center for Advanced Studies in Architecture and Urban Design—or “The Berlage” for short builds upon the legacy of the Berlage Institute, a groundbreaking educational-cultural platform for study, encounter, and debate that operated from 1990 to 2012. From its beginning in Aldo van Eyck’s restored orphanage building in Amsterdam, then more recently at J. J.P. Oud’s former bank building in Rotterdam, and now at its present-day home at the Delft University of Technology’s Faculty of Architecture, the Berlage continues to meet the challenges of globally oriented practice by expanding the range of education architects and urban designers receive and by redefining the methods, instruments, and approaches of research and design practice.[2]

Ataupun Workshop yang dilakukan oleh Bartlet

This year the Bartlett School of Architecture hosted again Leopold Primary School, a local school from Harlesden, north-west London, for a one-day creative workshop. Starting with a visit to the 2014 Bartlett Summer Show, the group of 10 and 11 year-old pupils explored and challenged their understanding of architecture and the built environment though a collective drawing exercise. Starting with their own private space at their home, expressed through the medium of a plan and a section, the children demonstrated their spatial awareness and their ability to translate their knowledge into a drawn form. After this they were encouraged to combine their experiences and ideas in a collective drawing, expanding the individual horizon and challenging their perception of private and public spaces. The exercise aimed to promote their own creativity, their sensibility towards the environment and to unlock a very personal approach in expressing their ideas through drawing and sketching. [3]

Pemilihan ketiganya mungkin berdasar bahwa ketiga sekolah tersebut memiliki kegelisahannya masing – masing yang merupakan reaksi dari kebutuhan untuk melekatkan keahlian berarsitektur dalam tatanan yang lebih kritis dimana AA School, Berlage Insitute, dan Bartlett School of architecture adalah sebuah reaksi dari kegelisahan akan pendidikan arsitektur yang lebih baik, yang dekat dengan keprofesian, dimana ada sistem terbuka yang terpusat pada kebutuhan mahasiswa untuk pendidikan arsitektur yang lebih baik. Pertanyaannya kemudian proses berarsitektur seperti apa yang mungkin bisa dijembatani, mungkin yang pertama adalah proses untuk menjembatani keragaman berpraktek dalam dialog yang intensif dan kritis antara kemampuan motoris dan sensorik dalam diri peserta workshop. Peserta summer workshop ini secara kebetulan ada dari berbagai macam universitas, ada yang dari ITS, ITB, Unpar, Petra, UGM ataupun dari Malaysia yaitu Malaya University. Dari hal tersebut, ada 4 hal utama yang mungkin bisa dibagi lebih lanjut, yaitu yang pertama, mengenai kemampuan motorik, berpikir melalui kemampuan menggambar, yang kedua memperluas keragaman cara pandang berarsitektur melalui pengetahun mengenai anteseden dan preseden yang terjadi dalam sejarah arsitektur ataupun dalam sesi diskusi antar peserta dan pembicara, Ivan dari NUS CSAC dan Rizki dari Office for Metropolitan Architecture Hongkong. Selanjutnya, bagaimana melakukan inovasi, terobosan dalam pergulatan perenungan desain pun bisa menjadi penting sebagai point ketiga. Yang terakhir yaitu bagaimana memahami dunia bisnis arsitektur, dan menariknya kepada pengertian bahwa arsitektur sebagai satu disiplinyang memiliki keterkaitan dengan pergerakan displin ilmu lainnya. Untuk itu di perlukan satu paviliun, karena keterbatasan tempat yang ada. Satu hal yang diuji coba yaitu bentuk lengkung yang sederhana.Diri ini  melihat – lihat pavilion yang sudah dibuat oleh Architecture Association dan ETH dengan tinggi 2.5 m dan lebar 11 m.

http://www.archdaily.com/221650/pavilion-emtech-aa-eth/

Kemudian Metropole Parasol yang didesain oleh J. Mayer H. Architects pun bisa menjadi satu hal yang bisa dijadikan best practice  untuk mendasari pergerakan para rasionalis berpikir dalam menghasilkan satu bentuk yang natural. Dengan konteks dalam melihat jumlah orang yang ada sekitar 12 – 30 orang dengan keterbatasan tempat yang ada sekitar lebar 2.5 m dan panjang 11 m memerlukan satu bentuk yang sederhana yang memecahkan masalah fungsional yang ada ditambah dengan keinginan bentuk yang dinamis. kriterianya bisa jadi modular, bisa dipindah – pindah, dan dikerjakan oleh tukang dalam waktu 2 minggu, tentunya dengan biaya yang seefisien mungkin. Oleh karena itu bentuk yang diambil adalah bentuk yang simpel, kurva catenary sederhana yang ditopang oleh berat materialnya sendiri yang dikonstruksi oleh tukang kayu dengan berat yang seringan mungkin. Satu bentuk lengkung dengan sambungan baut yang terdiri dari berpuluh – puluh kotak 2 tipe kotak yang modular. Lalu apa ? semoga bisa membawa kebaikan untuk mahasiswa yang mau belajar lebih baik lagi disini termasuk untuk diri ini sendiri.

“There are no rules of architecture for a castle in the clouds.” – Gilbert K. Chesterton

prefab plywood
prefab plywood
Credit to my team who help to make this happen all, especially  : Tatyana Kusumo, Apriady Satria Triwardhana, including the poster, thank you folks.  Thank you for Ivan Nasution and Rizki Supratman for sharing material for the workshop

Bibliography

1. http://www.aaschool.ac.uk/AALIFE/LIBRARY/aahistory.php

2. http://www.theberlage.nl/institute/history

3. http://www.bartlett.ucl.ac.uk/architecture/news/bartlett-young-architects-workshopScreen Shot 2014-07-29 at 12.22.54 AM

Kategori
DAILY primary thoughts

Seniman Sunaryo, Matahari dari Priangan

IMG_20140109_210401

Langit, langit, dirimu begitu biru, satu saat dirimu begitu mendung, apa pesanmu, kucoba menangkap

satu orang berbisik, dunia tidak sama lagi

Bumi, bumi, dirimu begitu hangat, satu saat dirimu begitu dingin, apa pesanmu, kucoba menangkap

satu orang berbisik, dunia tidak sama lagi

Satu saat kutangkap pesan langitan, dan pesan tanah ini, katanya jaman sudah berubah

tidak seperti dulu ketika satu dekade lalu begitu hangat di bumi priangan

teman seperjalananku dalam menatap langit dan menapak bumi berkata, 

mungkin ini pesan langitan, arahan bumi, mengenai birunya langit, dan hangatnya tanah

Ketika jaman silih berganti, ketika sang gunadharma menua, muncul pertanyaannya

apa yang bisa dipertahankan, apa yang kemudian berubah, manifesto fisik apa yang bisa diperbuat untuk mempertahankannya

usia tidak akan pernah sama, masa lalu, detik, menit, jam hari, bulan, tahun, berangsur dengan satu jentik jari antara masa lalu dan masa kini. 

Manusia punya umur, kalau ia beruntung bisalah ia mendapatkan 100 tahun, 

Langitan oh langitan apa pesanmu terhadap daging, otot yang membalut tulang yang digerakkan oleh akal dan hati.

namun 

Langit diam, bumi pun juga diam.

Satu Orang berbisik, akan tiba waktu, untuk menggerakkan kembali otot, daging, tulang,

seperti jaman dahulu, ketika jaman masih sama, ketika gunadharma belum menua

kenangan demi kenangan antara masa lalu, dan masa depan, bergerak berputar

orang yang berbisik tidak hanya satu, mereka beramai – ramai

ramai – ramai yang meributkan dunia tidak sama,

diri ini menengadah ke langit, dan duduk merasakan bumi, 

Namun langit masih diam, bumi pun diam

langit masih saja mendung, bumi pun masih dingin 

Kemudian satu waktu sosok itu muncul, 

satu anomali dalam dunia, 

dalam keriputnya ia membalas paradoks antara tangan dan akal, antara masa lalu dan masa depan,

antara solid dan void, antara dinamis dan statis

keabadian, warisan menjadi tujuannya untuk berbagi dengan tangannya yang sudah tidak sekuat dulu, 

boleh jadi dalam balutan daging otot tulang ia lelah, namun cobalah lihat matanya, saya tidak berani

Satu saat saya berkesempatan melihat hatinya, mencoba menebak – nebak apa mau orang tua ini,

tak dinyana 

ternyata hari itu saya belajar mengenai kehidupan, dan apa pesan untuk hadir di dunia ini, 

bahwa totalitas menjadi manusia adalah mengabdi kepada alam semesta, alam dan masyarakat,

menjalani semuanya dengan harapan adanya secercah nilai yang bisa dibagikan kepada orang lain.

yaitu semangat, hati, ketulusan untuk berbuat dalam hidup yang singkat ini.

orang tua yang mengajarkan bahwa spirit itu yang akan ditebarkan

itu yang abadi yang bukan hanya menyentuh akal namun juga hati terdalam. 

Senin depan keadaan mungkin berubah dalam hidup ini, dengan inspirasi yang diterbitkannya,

biar saya saja yang menamakan orang tua ini matahari dari priangan.

satu saat, mendung berangsur – angsur hilang, langit itu kembali biru,

diri ini jongkok meraba tanah, bumi kembali hangat.

“selamat datang”, kata orang tua itu.

terima kasih,

Orang tua itu, Seniman Sunaryo

Bandung,  31 May 2014, Realrich

Kategori
thoughts

Summer Pavillion – in one month to go

20140525-164711-60431201.jpgThe Summer Pavillion is on progress, we have 1 month to finish it. Probably something interesting will come up from this summer pavilion, made from almost 80 stacking box, in module. Hopefully it will be finished on time, because I don’t have other working place for people who will join summer course on July.

prefab plywood
prefab plywood
Kategori
thoughts

Man and His Home

Setiap orang dalam langkah hidupnya di dunia ini pasti membutuhkan rumah. Rumah adalah satu tempat dimana kita bisa pulang, mengekspresikan diri kita dalam sudut – sudut yang paling pribadi. Rumah adalah representasi dari orang yang tinggal didalamnya, terlihat dari wujud citra diri arsitektur yang ada di bangunan tersebut, apakah ia hidup sendiri, hidup dengan keluarga kecilnya, ataupun hidup dengan satu keluarga besarnya.

Citra diri ini terlihat dari hal yang yang besar sampai titik yang terkecil seperti Denah bangunan, sirkulasi antar ruang sampai elemen yang terkecil seperti di rumah ayah saya di Jakarta yang dibangun oleh dirinya sendiri. Gagang pintu yang membentuk kehidupan bagaimana pintu itu dibuka sehari – hari atapun bel rumah itu yang berbentuk unik dari material besi dengan gantungan bandul untuk membunyikannya yang bersuara seperti lonceng sapi. Suaranya lantang sampai jarak 5 rumah pun masih terdengar. Secara filosofis bel itu menjawab citra dirinya yang harus bersuara lantang memanggil penghuni untuk keluar dan menyapa orang lain yang datang untuk beramah tamah. Tampak rumah ayah saya bersifat fungsional dengan jendela kelipatan 60 cm dan bouvenlie setinggi 60 cm sebagai tempat keluar masuknya udara. Bentuk atap seperti Joglo menjanji satu kepraktisan turunnya air secara baik dengan kemiringan material genteng 30 dan 60 derajat dan sisi fungsional dimana di dalam atap joglo tersebut masih ada satu ruangan gudang. Rumah ini sejalan dengan pribadi ayah saya yang fungsional dan berhati – hati dalam menjalani hidup.

Hal tersebut adalah hasil dari Proses diskusi untuk membuat denah rumah, tampak rumah, sampai pemilihan gagang pintu, jenis pintu, pola dan jenis lantai, pola dan jenis plafond antar pemilik rumah dan arsiteknya menjadi satu proses yang membentuk citra diri arsitektur bangunan. Kalau – kalau pemilik rumah itu adalah arsitek bangunannya, terjadilah dialog itu didalam dirinya sendiri.

Romo Y.B. Mangunwijaya membahas ini dalam buku yang ditulisnya berjudul Wastu Citra berdasarkan ide bahwa setiap bangunan hendaknya memiliki citra khusus / image yang sesuai dengan identitas untuk apa bangunan itu dibangun sehingga bangunan menjadi memiliki citra diri. Buku ini menjadi landasan dalam berbuat, bahwa di dalam karya satu bangunan yang baik, cerminan citra ini menjadi satu hal yang jujur menjelaskan siapa yang menghuni, siapa arsiteknya yang mendesain, siapa yang membangun, dan bagaimana bangunan tersebut berdiri di atas alam dengan rentang waktunya tersendiri, yakni rentang waktu proses.

Rumah Glass House di conecticut milik arsitek Philip Johnson menunjukkan citra yang transparan, ringan dengan material baja, rumah ini memiliki konsep transparansi ke taman sebagai latar belakang rumah tersebut. Rumah ini l berukuran 9.8 x 17 m dengan keseluruhan dinding kaca dan ekspresi solid hanya ditunjukkan oleh ekspresi toilet di tengah – tengah bangunan. Philip Johnson hidup sendirian, tidak memiliki pelayan, sehari – hari ia ditemani oleh alam, lukisan dan buku – bukunya. Karya Philip Johnson ini , Glass House menjadi satu lambang modernisme yang menurut Nicolai Ouroussoff, seorang kritikus arsitektur menilai ini adalah satu rumah yang paling terkenal di Amerika, yang menjadi salah satu tonggak dalam sejarah arsitektur modern pada tahun 1949 di dalam jurnal architectural review.

Citra itu terbentuk atas satu proses yang panjang dimana satu bangunan setidaknya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dibangun dimana beton pun membutuhkan waktu untuk mengering setidaknya selama 21 hari, baja membutuhkan waktu untuk fabrikasi lebih lama dalam perencanaan yang kemudian bisa terakumulasi lebih cepat dalam proses perakitannya.

Proses pembentukan arsitektur adalah satu rajutan yang kompleks dengan segala elemen pembentuknya. Saya pikir ada dua elemen terutama dalam menentukan citra satu bangunan. Yang pertama, satu pemahaman yang utuh mengenai kualitas satu bangunan, satu citra diri arsitektur yang utuh adalah satu permulaan, dari jaman peradaban jaman ketika vitruvius menanamkan pentingnya estetika, utilitas, dan kekuatan struktur. Ataupun ketika jaman mulai berubah yang secara filsuf mulai terbentuk ideologi – ideologi yang membentuk bagaimana satu ruang itu dibentuk. Arsitektur mulai membawakan pesan dalam kekuatan desain bangunan yang dirancangnya.

Yang kedua adalah jati diri klien yang meminta arsitek tersebut untuk didesainkan rumahnya. Dibalik semua rajutan yang kompleks diatas. Setiap orang yang memiliki rumah memiliki satu impian untuk diwujudkan dari masa ia kecil sampai dewasa, sampai mampu untuk mengekspresikan dirinya di atas bangunan yang dihuninya. Seorang klien adalah satu figur yang sangat penting. Arsitek bisa sukses karena klien yang dilayaninya mampu bermimpi mengenai rumah yang disukainya. Setiap klien dalam berkerjasama dengan seorang arsitek perlu untuk menyampaikan kebutuhannya, preferensi pribadinya dalam membayangkan rumah pribadinya. Proses tarik menarik akan terwujudnya rumah idamannya ini membentuk satu interaksi yang saling memberi dan menerima. Satu desain rumah bisa jadi bersifat konservatif, mengikuti romantisme jaman seperti rumah neo kolonial dengan repetisi kolom – kolomnya yang tegas, ataupun rumah yang merepresentasikan kebutuhan pemiliknya yang dimulai dari perancangan yang membentuk ruang – ruang yang unik di dalamnya.

Oleh karena itu, kekuatan yang ada dibalik karya arsitektur adalah satu proses yang panjang dari membangun satu bangunan yang abadi atau tak lekang jaman dimana ketika kualitas proses tersebut sedemikian tingginya jadilah seseorang yang menghuni rumah tersebut akan mendapatkan perjalanan yang demikian indahnya dalam memahami dunia arsitektur. Dan kemudian arsitek pada akhirnya bisa berbangga hati bangunan yang didesainnya membawa kedamaian untuk penggunanya. Seperti kata John Ruskin, “When love and skill work together, expect a masterpiece.”

tulisan ini di publish di majalah baccarat edisi Mei – Juni 2014

Kategori
thoughts

Empati

Jakarta 16 Maret 2014

“Someone secretly bury a berry in the side road and when a small sprout grows, the secret code is the passport, to the forest a wonderful journey will begin – Joe Hisaishi”

DSCN0716

Di awal tahun 2014 di bumi pertiwi ini, mengenai arsitektur, dunia yang semakin hiruk pikuk, responsif, dinamis dengan informasi yang begitu banyaknya membuat diri ini berpikir apakah diskursus yang terjadi dalam hati yang pribadi, tempat perenungan untuk berbuat, mendesain masih terjadi dengan dalam atau sungguh – sungguh sekarang ini, di masa yang serba cepat ini ? Loncatan – loncatan inovasi arsitektur menjadi suatu gerakan politis dimana kedalamannya dipertanyakan sehingga kejujuran pun lebih lebih lagi dicari – cari begitu gencarnya dengan provokasi yang gencar di berbagai media informasi. Lucunya ada yang menjawabnya dengan pertanyaan retoris yang menimbulkan kesan sinis, kurang berempati dengan generalisasi berlebihan, juga penuh alasan sebab akibat. Saya pikir hal tersebut tidak akan menimbulkan empati yang mendalam dari manusia lain, namun ironilah yang muncul akibat salah membaca pesan ataupun menyesatkan logika. Saya pun ingin ikut menuangkan pendapat.

Kita sebagai arsitek perlu berbuat inovasi terhadap disiplin ilmu kita yang terdiri dari berbagai macam olah ruang, olah rasa. Olah ruang ini tidaklah seseksi gerakan politis, atau ideologi berlebihan seperti yang dicari oleh orang – orang filsuf, namun akan memberikan kenyamanan pada pengguna, berfokuslah kepada klien anda, apa kebutuhannya, luangkan waktu untuk merenungkannya dan jawablah, renungkanlah lagi, dan jujurlah pada diri sendiri. Arsitek adalah profesi yang melayani dengan empati. Dari situlah ia akan dihargai dengan dasarnya yang kuat, fondasinya yang matang seperti bangunan yang kuat diterpa kemajuan jaman dengan kepiawaian yang teruji [sense of mastery].

Perumusan teori mengenai kebutuhan manusia ini sudah bertumpuk banyaknya, hanya saja solusi yang kreatif dari arsitek untuk memecahkan masalah kebutuhan ini yang ditunggu tunggu dengan berbagai kompleksitas bangunan yang dirancang dengan isu – isu pemakaian bangunan dengan performa yang sebaik – baiknya. Kultur budaya manusia ini akan berubah lebih baik ketika olah ruang memang memiliki maksud yang baik, memiliki nilai guna, memiliki inovasi yang mencerahkan dengan kebolehan desain yang lebih baik dari masa sebelumnya. Dan semoga saja bentuknya seksi dan mengundang decak kagum sesama kita, disinilah olah rasa itu mulai muncul, rasa yang disukai sesama, terkadang rasa itu bisa angkuh, sombong, ataupun rendah hati ataupun sederhana, itu adalah hasil proses panjang berpraktek, dan itu sah – sah saja ditengah anggapan miring orang lain yang terkadang merupakan gerakan politis yang berdasarkan emosi tanpa empati. Sehingga yang muncul adalah cita rasa yang otentik [Authenticity] dari pribadi arsitek itu sendiri.

Ketika kepiawaian itu sudah teruji kemudian pembuktian empati ini pada dasarnya adalah pembuktian untuk membuka diri terhadap etika yang terdalam dari pribadi arsitek. Yang kalau – kalau pembacaan arsitek ini sudah sedemikian dalam, dicaplah ia sebagai sang radikal ataupun sang konservatif secara sendirinya, pembawa angin perubahan dan ketentraman arsitektur yang lebih baik.

Lalu lambat laun mungkin profesi arsitek akan semakin dihargai dengan sendirinya sebagai salah satu penentu peradaban jaman.

Keyakinan, empati yang lebih luas

Di tengah – tengah gerakan politis diatas. Saya mempertanyakan keyakinan yang semu ? Satu saat diri ini bertemu satu kawan lama, untuk mengingat masa – masa lalu, bahwa manusia itu berubah. Ada satu orang teman yang sudah berubah keyakinannya akan jaman yang sudah berubah, ada juga teman yang sudah semakin matang dengan kehidupannya dan keyakinan hidupnya. Mengenai keyakinan, diri ini sendiri masih mencari arti kehidupan yang hakiki tanpa menghakimi, yang terbaik yang bisa diberikan untuk sesama ini. Diri ini tidak pernah sekalipun berkata diri ini seorang katolik, ataupun katolik yang pernah membantu jemaat kristen untuk melakukan perjamuan, ataupun membantu panti asuhan muslim yang membutuhkan, ataupun membantu teman – teman Budha ataupun Hindu. Keyakinan itu ada untuk memperbaiki kehidupan manusia, namun relativitas yang ada inilah yang membuat pemahaman dan persepsi setiap orang tidak sama. Banyak juga pribadi – pribadi yang memanfaatkan agama demi dirinya sendiri.

Diri ini dibesarkan di universitas yang majemuk, plural, dengan romantisme kegiatan berhimpun yang heterogen dengan keyakinan, ideologi, pemikiran yang berbeda – beda. Namun saya ingat orang – orang yang didalamnya adalah para pemimpi yang ideal, mendambakan hidup bersama yang lebih baik. Dalam canda, senda gurau, justru saya menemukan cinta kasih, Tuhan itu di dalam diri teman – teman yang muslim, Adalah Adi namanya, Xenia namanya, ataupun Yulia namanya, ketiga orang berjilbab  ditambah teman – teman lain yang musim yang teguh untuk melakukan sholat 5 waktu juga mengajarkan arti persaudaraan yang tulus dan begitu dalam membekas, dalam teman – teman kristen yang tulus melakukan perjamuan ketika jumlah mereka hanya kurang dari 7 orang saja mengajarkan semangat tulus memuji Tuhan, ataupun teman – teman Hindu yang teguh setiap pagi berangkat ke pura untuk berdoa dan mendoakan semesta yang lebih baik sebelum memulai pekerjaan mereka, ataupun cinta kasih tulus tanpa pamrih yang ditujukan oleh orang – orang budha dengan merawat viharanya dan menahan dirinya. Mereka mengajarkan perbuatan cinta kasih yang tulus untuk sesama.

Saya mendoakan selalu teman – teman masa lalu – masa depan, teman – teman terkasih untuk bisa teguh menyebarkan tindakan cinta kasih kepada sesama.

derich

 

Kategori
DAILY thoughts

#2 Etika

130301 Jakarta “How well you live comes down to how much you love. The heart is wiser than the head. Trust it. Follow it
table

Satu teman berkata,”In order to succeed you have to kill your father.”

kemudian sambungnya lagi  “termasuk juga hal itu terjadi anak saya, ia selalu membantah saya, kita tidak cocok, selalu tidak sejalan dengan saya, anak saya adalah seorang pengacara”, ia sampai berkata, “ayo tanya apa yang saya tidak tahu.” anak itu kasar dan kami selalu berargumentasi untuk saling mengalahkan, untuk menentukan siapa yang benar – siapa yang nomor satu. Ini masalah antar ayah-anak.

Betapa kompetitifnya hidup orang ini ? Kompetisi memang mewarnai hidup kita, namun apakah harus sekeras itu ? atau apakah itu jalan yang terbaik menjalaninya ? Mungkin bagaimana generativitas atau cara pandang yang positif perlu direnungi, Post dan Neimark menulis “Beri ia ikan dan ia akan makan hari ini; ajari orang itu menangkap ikan dan dia akan makan seumur hidup.” Saat kita merawat orang lain agar hidup mereka berkembang dalam berbagai cara yang misterius dan tidak terduga, kita menyampaikan cinta kasih. Cinta kasih mungkin salah satu hal yang dilupakan di atas, seharusnya pandangan – pandangan di atas tersebut tidak perlu terjadi. Hari itu  sore – sore, satu teman menelpon menelepon, “Pak, kok project kita sudah ada di internet ya, berbeda dengan yang kita obrolkan, padahal kita belum publish project ini, mohon ini dilihat ya.” kemudian Diri ini  mengkontak beberapa orang yang merupakan alumni dan relasi – relasi kantor untuk melihat hal ini, dan meminta mereka untuk membantu menyelesaikan hal ini. Ternyata Ada satu orang menyebarkan informasi tersebut dalam website pribadinya, tanpa ijin. Diri ini terus terang terhenyak dengan hal ini dan tersadar bahwa internet adalah sebuah medan informasi yang tanpa batas, dimana juga terdapat nilai – nilai apa yang bisa dilakukan apa yang tidak bisa dilakukan.

Saya berpikir dengan seluruh kecepatan informasi yang ada, kita perlu berhati – hati dalam menghargai sesama, etika perlu dibangun di masa yang serba cepat ini. Social media, Facebook, Twitter, WordPress, dsb. Dengan segala kecepatan informasi yang ditawarkan sebenarnya merupakan satu ruang bersama, sebuah rumah – rumah yang adakalanya ia diijinkan untuk masuk dan adakalanya juga ia tidak diijinkan untuk masuk. Disini ruang publik diibaratkan  seperti sebuah persimpangan jalan yang dilalui orang – orang dengan billboard besar di samping – sampingnya. Informasi yang ditawarkan tentu banyak orang yang membaca di bill board tersebut. Masalahnya adalah sering orang tidak menyadari ini. Bahwa social media adalah ruang publik yang juga memiliki etika penyampaian informasi. Dalam ruang publik ini pun kita memiliki tanggung jawab.

“Facebook’s News Feed an Epic Fail ? Former employee Katherine Losse : The day we launched News Feed felt, without exaggeration, like a minor Vietnam… Email after email of the thousands we received that day told graphically of the betrayal and evisceration the users felt… Technology is the perfect alibi. Facebook doesn’t hurt people : people hurt people . This is true. But as Facebook makes it possible to do things faster, more efficiently, more cheaply, it makes it possible to hurt people faster, more efficiently, with less cost to themselves. It removes any sense of direct responsibility for our behavior, for how what we do makes others feel. With Facebook, you can act and be seen acting without ever having to look anyone who is watching you in the eye, or look at them at all. The boys Kings, 2012 [taken from Billionaire Boy, Mark Zuckerberg in his own words, ‘Hacker. Dropout. CEO’]

Melihat satu kejadian ini kebelakang, berpikir mengenai hubungan antar-manusia bahwa seseorang yang berkerja secara penuh waktu di dalam  satu ikatan kerja, adalah pribadi yang belajar dan berkerja dengan permintaan, ia berkerja dalam satu tim besar dan kecil yang terikat dengan norma – norma yang terdapat didalamnya. Ia juga terikat dengan nilai untuk menjaga nama baik, kelanggengan hubungan dengan etika terbaik untuk membina hubungan yang selama – lamanya.  Adapun terkait dengan hal – hal norma – norma, perlu meminta ijin untuk menampilkan dalam ruang publik. Diri ini pun bersikap demikin dengan seluruh orang tempat diri ini mengikat hubungan perkerjaan dengan atasan juga dengan bawahan, orang – orang yang memberikan kepercayaan dan dengan rekan sejawat.

“Etika adalah seni memperhatikan hak – hak dan perasaan orang lain,… pengorbanan yang kita lakukan demi hidup bersama, demi perjalanan kita bersama orang lain, dan dari cinta dan respek akan konsep bahwa memang ada orang lain. “Stephen Post, dan Jill Neimark.

Pikiran ini melayang mengenai hubungan manusia dengan manusia, Dulu harus mempersiapkan presentasi untuk acara lomba desain sekitar 9 tahun yang lalu, sesaat sebelum wisuda. Ingat bagaimana belajar memakai dasi, memakai lengan panjang, meminjam sabuk kepunyaan bapak. Ingat bagaimana juri berkata, “Melihat penampilan kamu, saya jadi pingin muntah, seperti professor, .” Generalisasi pun terjadi, Diri ini hanya terdiam, tersenyum, dan kemudian mencoba mempresentasikan karya sebaik mungkin. Diri ini ingat bagaimana bertemu kembali dengan juri tersebut, kemudian berbincang – bincang, setelah kita mengenal lebih dalam, rasa suka bertambah, dan rasa tidak suka pun berkurang. Diri ini pun merasa dekat dengan juri tersebut. Tidak ada ketidakcocokan apabila kita bisa berkomunikasi dengan baik. Merasa dekat, berbicara dengan tulus, dan berkomunikasi selayaknya keluarga.

Diri ini juga teringat akan satu film yang disukai, “Forest Gump”. Forest Gump adalah seorang  pekerja keras namun memiliki etika yang tinggi dalam kehidupannya, sikapnya terhadap keluarga dan teman – teman yang dicintainya. Ia berkerja keras untuk itu dan akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan, cinta, keyakinan, kemudian menjaganya sepenuh hati. Diri ini pun merenungi arti dalam menjalani hidup ini. 

 satu teman terbaik bercerita mengenai keadaan di kantornya, salah satu kantor terbaik. Bagaimana wakilnya di kantor cabang mengerjakan pekerjaan – pekerjaan pribadi mereka menggunakan fasilitas kantor tanpa sepengetahuannya, kemudian memiliki proyek bayangan, proyek ilegal,  kemudian terciptalah sistem kantor di dalam kantor tanpa sepengetahuan dengan staff – staff kantor berkerja untuk wakil kantor tersebut. Diri ini berpikir bagaimana itu bisa terjadi ? Kabar ini tercium ke relasi – relasi terdekatnya, teman – teman seprofesi, dan sahabat yang terkadang merangkap sebagai klien, sementara kita membantu mengingatkan sahabatku supaya hal – hal baik yang terjadi dalam ketidakpedulian pihak – pihak lain pada etika.

Di satu saat satu teman terbaik berkata  bahwa dalam hidup ini untuk kaya ada 3 hal. Menjadi Kaya, kaya yang pertama, adalah kaya akan relasi,tidak boleh sombong.  kaya yang kedua adalah kaya akan ilmu pengetahuan, tidak boleh berhenti belajar, yang ketiga kaya akan iman, terus berdoa dan bersyukur akan nikmat karunia yang diberikan. Intensi dari membangun etika adalah membangun ketiga kekayaan ini. Kaya relasi, kaya pengetahuan, dan kaya akan niat baik. Seketika diri ini ingat,

Pelajaran mengenai etika  tidak disangka – sangka muncul ketika berkunjung ke Shirakawa Go, satu perkampungan tradisional Jepang untuk menginap disana untuk satu malam. Diri ini ingat waktu itu salju turun, dan koper ini pun sudah tidak bisa ditarik lagi, rodanya membeku. Kita berjalan setengah kilometer untuk ke Ryokan, satu penginapan tradisional. Saat itu suhu udara sudah minus dibawah o derajat celcius. Diri ini ingat bagaimana kekhawatiran akan istri, kondisinya yang sedang mengandung. Satu hal yang membuat diri ini merasa bersalah membuatnya berjalan capai. :(

Kami sudah ditunggu pemilik rumah, dipersilahkan masuk, diberikan handuk, kemudian dipertunjukkan letak kamar tidur kami. Rumah itu berisi tiga kamar tidur, kebetulan 2 kamar tidur lainnya diisi oleh 2 keluarga Jepang. Diri ini ingat gendang di perut sudah mulai ditabuh, sembari kami menghangatkan badan, kami menunggu makan malam. Saat – saat yang ditunggu – tunggu adalah makan malam, perut kami yang sudah lapar. Kami disuguhi hidangan Kaiseki, hidangan satu set menu khas Jepang. Ada satu orang di keluarga Jepang di sebelah meja kami membantu kami, karena kami tidak mengerti bagaimana cara makan hidangan ini, sang anak membantu menghidangkan teh kepada Laurensia, dan diri ini, Kemudian sang anak menghidangkan teh tersebut ke ayahnya sendiri, dan ia meletakkan poci tersebut. Kemudian Giliran ayahnya, menuangkan teh untuk anaknya. Kejadian itu berlangsung berulang – ulang pada keluarga yang lain, mereka saling menuangkan teh untuk yang lain begitu gelasnya kosong, namun tidak untuk mereka sendiri.

Diri ini bertanya – tanya kenapa sang anak tidak mengambil untuk dirinya sendiri ? … begitu diajarkan mengenai tata cara makan malam, dalam budaya Jepang. Ternyata  cara kita makan, menghindari untuk mengambil minuman kita sendiri adalah filosofi bagaimana kita bisa mementingkan kepentingan orang lain, selain diri kita sendiri, hidangkan untuk orang lain lalu letakkan, biarkan orang lain yang menghidangkan untuk kita. Cara makan ini mengajarkan kita mengenai filosofi “respecting others” menghargai orang lain. 

“The Japanese consider it an important part of hospitality to keep their guest’ glasses full, bu it is thought to be impolite to fill your own. Instead, you must wait for others to notice that your glass is empty so they can fill it for you.” Ayame

Diri ini juga berpikir mengenai tradisi timur, tradisi orang Indonesia, Jawa, yang memulai kebiasaan dengan memanggil nama “ayah makan, ibu makan, kakak makan.” bahwa mungkin etika adalah satu aspek yang sangat penting dalam kita bersikap, mewarnai hidup  kita dengan sesama.

Satu kalimat dari Julian dalam suratnya kepada Jonathan dalam buku yang ditulis Robin sharma, The monk who sold his ferrari,  dalam satu perenungan panjang dalam perhentian 3 bulan ini untuk mengajarkan diri ini untuk lebih bertanggung jawab, lebih beretika,

Live with kindness… how we treat someone defines how we treat everyone, including ourselves. If we disrespect another , we disrespect ourselves. If we are mistrusful of others, we are distrustful of ourselves… with every person we engage in everything we do, we must be kinder than expected, more generous than anticipated, more positive than we thought possible. Every moment in front of another human being is an opportunity to express our highest values and to influence some one with our humanity. We can make the world better, one person at a time. :) 

Puji Tuhan semoga kita semua mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. Terima kasih Tuhan :) Semoga hidup akan semakin baik untuk kita jalani.

 

Kategori
primary thoughts

One Note to Thinking Drawing Working Drawing Class – one class of UPH Architecture

Arum dalu - detail2

Dear Class,

I hope you do well. I was thinking to write a note, a simple one, to conclude what we have worked on in the class. I was thinking that the effort of practicing architecture needs many hours, much time. I believe there are arguably nobody knows on how much the time that is needed to practice design. I think that is one question we might need to ask our self as designer.  How much is needed?

Grumpy architect will say I work too much in architecture, its unfriendly profession, waste too much time. Positive architect will say I still have many things to learn. I wish that we have more than 24 hours in a day, I wish more, hunger for more learning, more thinking, more for thoughtful action.

So I never say that this class as working drawing class only. I would say its thinking drawing – working drawing class. The reason is simple because it involves the understanding of knowledge to build architecture, Knowledge of creating space. I think that we can’t draw one working drawing if we don’t know how to draw, part of it about knowing what you want to draw. It’s about knowledge of understanding the earth, the universe, the universal law to the most detail part of the constructions. The word thinking taught us about our body of knowledge, the knowledge to make a good space. So far we have gone to several built design which was designed by architects, built by builder. We have learnt how to draw one design which was pushed harder not only pragmatic intention but a design that is responding to express the beauty of constructions, the beauty of the material, the beauty of the honesty of covering the structure, the property of the material .To invent the art of building, you need to master the knowledge, the knowledge of the materials, the beauty of it, even higher knowledge that is the beauty of the space which is limitless for architect.

Another part is about exercising your hand to be skillful, on top of the invention of the CAD to answer the market needs in the name of efficiency. I do believe that the center of the practice is the human touch, your hand. I favor one quote from one of my favorite architect he stated

“Works of Architecture are discovered, not designed. The creative process is a path of discovery.  The hand makes drawings and arrives at solutions before the mind has even comprehended them. It is very important to me to make buildings that work like instruments. They respond to light, to the movements of the air, to prospect, to the needs of comfort. Like musical instrument, they produce the sounds and the tones of the composer. But I’m not the composer. Nature is the composer. The light and sounds of the land are already there. I just make instruments that allow people to perceive this natural qualities.1 

he is Glenn Murcutt, I think it is indeed true in the experience of practicing architecture. The architect’s hand need to be trained from the very beginning. That’s why some of the task given every week during the class drove your hand drawing skill.

I hope what you all learn hopefully can help the understanding the thinking behind the drawing, one tool that is a bridge between our design thinking to the builders. I think it’s not easy in one stage to understand the fingerprints of finishing materials, about the tectonics the construction of the materials, about the economic logic behind using the material, about defining how to use materials gently. It’s one fulfilling experience for architects.

Learning from the past and creating the future are both knowledge we have to master. The process itself is not easy but training your hand, your knowledge and your mind has been always my concern.

I must say congratulations for staying in the class to the willingness to open your architect’s eyes. The eyes of the willingness for opening new idea, like what Bjarke Ingels wrote “YES is more”. I do believe there is one culture above all of the design culture, the culture of creating passion inside us as an architect. You need to train this as it will show in your character, later on it will help shaping  your chemistry with your client and your peers.

To the people in the class, thank you for the exploration that you showed, I do hope that you had such great learning curve, like what I had in class with you.

Best wishes,

Realrich

glenn
I visited Glenn’s exhibition at Museum of Sydney

376443_10151054072006240_1993132537_npicture by Bunga Yuridespuspita

Kategori
primary thoughts

House of Lake’s View

Designed for a prominent bussiness man family, this house was conceived as a modern rationalist house with neo modernist influence. Located in a quiet prestigious residential neighbourhood of Alam sutera, a satelitte city one hour west of Jakarta. The house consists of clustering of buildings arranged by wonderful vistas of the site to the lake. The overall composisiton ties these buildings together in a harmonious arrangement, informed by the chinese belief that nature is at its most beautiful when considered in relation to the man-made. The landscape itself arranged by several vistas and cluster of plantings reflecting the Indonesian tropical Landscape, the landscape of the tropical climate.

The circulation through the building is organised aroung a sequence of views that progressively move in hierarchy to more private area. The attention of to the play of lifht and shadow, created through a combination of materials and artificial and natural light is fundamendal to the design of the house and evokes the quietude of such a retreat house which stated by its gentle architecture.

Kategori
primary thoughts

Cinematic Garden residence

20120715-124349.jpg I just designed one house called cinematic landscape house, what is cinematic ? It’s based on the sequenctial view approach in designing the space. Each corridor has each view to capture. The corridor and the opening relates itself to the openspace which is connect the house to the outside.

20120715-225555.jpg

20120715-225639.jpg