Earthing Silaban – Finalist of Museum Silaban Design Open Competition

Desain dari konsep Silaban Membumi “Earthing Silaban” ini mendemonstrasikan kesederhanaan Silaban dengan reduksi arsitektur yang radikal, meredefinisikan museum sebagai ruang yang bermain dengan cahaya, kesederhanaan, ruang – ruang yang humanis namun monumental. Sayembara ini dikerjakan di dalam waktu sekitar 4 hari, waktu yang tidak lama karena kesibukan kami, di dalam proses pengerjaan terdapat saat – saat untuk merefleksikan kembali kejernihan metodologi desain. Dan pilihan – pilihan yang muncul dan disepakati di dalam proses diskusi membuat desain dari Museum ini memberikan titik yang baru di dalam proses perencanaan yang lebih solid dan radikal. 

 

Sayembara ini merupakan eksperimen yang dilakukan untuk memberikan optimalisasi luasan area yang terdesain dengan meletakkan desain massa di sisi yang rawan longsor yang ada di sisi batas bangunan. Lahan gudul yang menjadi lokasi merupakan bekas pertambangan pasir yang merupakan hasil perbuatan penambang yang berusaha menghasilkan keuntungan dari lokasi, mengusahakan yang terbaik yang bisa didapat untuk kepentingannya dan kesejahteraannya.

Seiring dengan perjalanan, dengan contoh di lahan ini, manusia lupa bahwa perlu ada memberi kembali pada alam sehingga lupa untuk mengembalikan apa yang sudah diambil hingga lahan itu menjadi rusak, terbengkalai dan buruk kualitasnya. Oleh karna itu desain dari Earthing Silaban berupaya mengembalikan esensi yaitu kebergunaan dari lahan menjadi hal yang penting untuk memberi makna baru dan kebergunaan baru, yang dimetaforakan dengan sama seperti legenda Tungkot Tunggal Panaluan, yaitu memaknai sebuah kejadian pilu menjadi suatu hal positif dan tidak saling menyalahkan. Bentuk dari Tungko Tunggal Panaluan ini menyiratkan bentuk massa bangunan yang memanjang yang merupakan hasil optimalisasi dari Cut and Fill lahan yang didasarkan kedalam strategi desain arsitektur yang berkelanjutan, efisien, low carbon footprint, dan meminimalisasi dampak lingkungan dengan memperbesar dampak positif dengan mengolah ruang – ruang yang positif.

Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada kesadaran untuk mengobati lahan yang rusak dengan prinsip utama bertitik berat pada respon bangunan yang optimal terhadap konteks dengan menyesuaikan bangunan sebagai bagian dari kontur ikut membantu menguatkan kontur berbukit di bagian belakang site, mengamankan lahan dari kemungkinan adanya longsor. Konsep perencanaan Monumen Friedrich Silaban didasarkan pada beberapa prinsip :

Prinsip pertama bertitik erat pada respon bangunan terhadap konteks tanpa merusak lingkungan, Upaya passive cooling juga dilakukan dengan menggunakan corong untuk menangkap angin. Corong berupa dinding dengan skala ketinggian yang massive agar angin terkumpul secara maksimal tanpa halangan. Selain untuk menangkap angin, dinding yang tinggi juga digunakan untuk pencahayaan alami melalui skylight. Skylight ditempatkan di antara fungsi-fungsi ruang sehingga setiap ruang mendapat akses langsung dengan pencahayaan alami.Lokalitas juga tercermin dalam pemilihan material berupa batu kapur putih.

Prinsip kedua berhubungan dengan kebermanfaatan monumen Friedrich Silaban ini terhadap masyarakat sekitar. Beberapa spot dapat digunakan untuk aktivitas publik, seperti tangga masuk yang dibuat lebar agar dapat digunakan pengunjung untuk duduk-duduk, bersantai atau bisa digunakan untuk platform aktifitas publik (pertemuan, pementasan musik, teater dan lain sebagainya

Prinsip ketiga yaitu memberikan jiwa dan karakteristik Friedrich Silaban ke dalam bangunan, menjadikan monumen Friedrich Silaban ini memiliki sifat seperti Silaban itu sendiri. Penggunaan geometri yang sederhana serta pengunaan skala yang humanistis namun monumental yang merepresentasikan kesederhanaan.

Desain dari konsep Silaban Membumi “Earthing Silaban” ini mendemonstrasikan kesederhanaan Silaban dengan reduksi arsitektur yang radikal, meredefinisikan museum sebagai ruang yang bermain dengan cahaya, kesederhanaan, ruang – ruang yang humanis namun monumental.

Sayembara ini dikerjakan di dalam waktu sekitar 4 hari, waktu yang tidak lama karena kesibukan kami, di dalam proses pengerjaan terdapat saat – saat untuk merefleksikan kembali kejernihan metodologi desain. Dan pilihan – pilihan yang muncul dan disepakati di dalam proses diskusi membuat desain dari Museum ini memberikan titik yang baru di dalam proses perencanaan yang lebih solid dan radikal.

Design Team :
Principal : Realrichsjarief
Team : Alifian Kharisma, Fakhriyah Khairunnisa, Thomas Santoso, Michael Chen, Timbul Simanjorang, Kanigara Ubazti.
.
Juror :
1. Ir. Diana Kusumastuti, MT. / Direktur Bina Penataan Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR
2. Sahat Silaban, SE / Pengagas Monumen Friedrich Silaban
3. Drs. Tonny Sihombing, M.IP / Pemerintah Daerah Kab. Humbang Hasundutan
4. Prof. Ir. Gunawan Tjahjono, IAI., M.Arc., Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
5. Ir. Baskoro Tedjo MSEB,Ph.D / Ikatan Arsitek Indonesia
6. Boy Brahmawanta Sembiring, IAI, AA / Ikatan Arsitek Indonesia Sumatera Utara
7. Setiadi Sopandi, IAI., ST., M.A.rch / Penulis Buku Friedrich Silaban
.
#realricharchitectureworkshop #rawarchitecture #spirit45theriseofasia

The Bare Minimalist Residence, … Bioclimatic house


Finalist of Indonesian Architect Institute Jakarta Award 2012

The project offers the design of a house, perhaps is the most interesting outcome for the RAW Architecture and process brings together the owner and the architect in a unique and mutually supporting relationship. The Bare Minimalist house is one of several projects undertaken with the first client who I  met. The Client, Charles Wiriawan is a naturalist person house demand for one natural house for his first owned home. Early discussions focused on discussion of the program, a definition of naturalist house and budget constraint. The discussions were latterly distilled into a series of ecological approach and solution in narrow lot space, 8m x 24m. The result is a fusion of bold massing avoid the orientation to the west side building by creating one narrow building which allow fresh air circulate from outside – to inside the building.

19 bare - resized_15 19 bare - resized_08 19 bare - resized_01

Developed in response to the local tropical climate, the concept for Bare Minimalist House has been sensitive to seasonal sun path; high humidity levels prevailing winds, area temperatures and precipitation rates specific to the location. Directional wind profiles and solar exposure have been used to help determine the facade design and external building form to achieve lower thermal loads and opportunities for open balconies and natural ventilation.  The house is north-south-East orientated. The living and dining area are located on the north side facing the open space and 2 bedrooms, the master bedrooms to the South-North-East. Each bedroom has a terrace, balcony or veranda. The south-facing veranda spaces have been designed to maximise the useable area in the house. They are activated by opening the 2.85-metre-wide, full-height sliding windows covered by sun shading to several faces that exposed to direct sunlight and by closing an internal curtain, which acts as a thermal curtain. This prevents heat penetrate during whole wet and dry season in hot humid tropical monsoon climate. One void connects each of the floor plan and allow air stacking effect in the house allow 24 hours fresh air flow in the building.

The glass area with external shading is maximised to the south to gain passive solar energy during colder periods. The solid areas of the north side are clad with ceramic tiles in a colour to match the bricks of the existing grain store buildings opposite. District heating is provided for heating; rainwater is collected and distributed to the nearby canal.

Bare Minimalist House will also be a green building in a more literal sense. The top of the house as roof terrace and the ground level will be green spaces, introducing planting and trees to the ground, upper ground, top of the building, and canopy area, irrigated naturally via a rainwater harvesting system.

Fact Sheet :

Owner : Charles Wiriawan

Architect : Realrich Sjarief

Assistant : Bismo Prakoso, Anastasia W, Silvanus Prima

Photograph by : Andhang Rahmat Trihamdhani, Donald Aditya Ephipanius

1st Prize Winner – Kampung Batik National Open Competition

Image

"Batik is a the process of writing a picture or decoration on any media by using the wax as a medium to coloring" (International Batik Convention in Yogyakarta,1997).

Therefore, in designing the “kampung batik”, the design focus on the process, stitching layer upon layer, combining the past and the future, making a harmonious design within cultures, people and the environment meet.

This competition was held by the local government of Semarang to proposed a new design and idea of the “Kampung Batik”. Kampung Batik is located at North Semarang city near the Old Colonial city of Semarang. It expected to become the center of batik , as well as a new tourist destination in Semarang city.

There are several issues during designing this Kampung Batik, they are the complexticity of the residential, lack of open space, and ownership of the building there. The realization of the design is expected to be inexpensive and can benefit all parties.

The design is divided into two phases, where at the first phase, the design propose minimal intervention to a few buildings and the neighborhoods, while continuing to raise funds. The second phase, the proposal offers new identity with the replacement of some buildings, building facades and the addition of a large canopy that stands out for the village. We also made some events proposal to maintain the continuity of the Kampung Batik.

Team Leader : Realrich Sjarief

Team: Randy abimanyu, David Sampurna, Morian Suspriatnadi, Andhang Trihamdani, Suryanaga, Maria Pardede, Indra DN, Mukhammad Ilham

Image

Image

ImageImage

1st Prize Galeri Nasional Indonesia

Bumi bertemu Langit
Bumi bertemu Langit

Desain galeri nasional ini terinspirasi indahnya langit dan hangatnya bumi, dengan intensi senafas dengan bangunan pusaka yang ada di tengah kompleks area Galeri Nasional Indonesia. Bangunan pusaka ini dibingkai dengan galeri yang merupakan representasi dari bumi dengan ekspresi tanaman, dan dilatarbelakangi langit yang adalah gedung perkantoran / administrasi dari bangunan nasional. Lobby diletakkan di gedung pusaka dimana keluar masuk pengunjung harus melalui gedung ini dengan menempatkan jembatan [skybridge] yang menghubungkan gedung galeri dengan gedung pusaka. Plaza penerima ditempatkan di sisi barat Galeri Nasional Indonesia membuka pedestrian masuk ke sisi sungai ciliiwung, disini konsep art plaza ditempatkan sepanjang axis barat – timur yang dilengkapi dengan art store di sisi utara dan selatan.

Slide9 Slide13Slide7 Slide5

Perancangan Galeri Nasional ini didasarkan pada intensi untuk menjaga citra dari bangunan heritage dimana lebar muka lahan yang kecil yakni sebesar 70 m dibandingkan dengan lebar bangunan pusaka yakni sebesar 22 m. Oleh karea itu intervensi desain yang dipilih yaitu landsekap sebagai arsitektur sisi museum yang mengapit bangunan heritage. Konektifitas dipertahankan dengan akses publik dari monas [jalur bawah tanah] ke art shop yang terdapat pada ruang tengah galeri. Di dalam masterplan, isu keterhubungan ini berlanjut ke sisi sungai ciliwung sehingga memungkinkan adanya aktifitas seni di samping sungai. Secara umum pembangunan masterplan terbagi 2 tahap, tahap pertama berfokus pada bagian utama yaitu area galeri nasional. Pada tahap pertama diasumsikan pembebasan lahan masih dalam proses, sehingga pembangunan difokuskan pada pengembangan galeri nasional saja. Tahap pertama dapat berjalan secara mandiri yaitu sebagai fungsi pokok dari galeri nasional . tahap kedua dilakukan pada engembangan berikutnya saat pembebasan lahan sudah terlaksana. Pada tahap kedua, pembangunan dilakukan sebagai pendukung fasilitas galeri. Gedung konvensi, auditorium, dan hotel diletakkan di sisi utara dengan eksposure ke arah monas dan stasiun gambir.Massa bangunan secara umum, merespon 2 aksis utama. Aksis monumen nasional dan bangunan eksisting galeri nasional yang terhubung dengan stasiun gambir. Axis terhadap monas direalisasikan dengan jalur bawah tanah. Bagian depan dan belakang galeri nasional merupakan plaza terbuka yang dibhubungkan sebagai respon terhadap kawasan monas [depan] dan sungai ciliwung[belakang].

Secara umum Galeri Nasional Indonesia ini menggambarkan kesederhanaan arsitektur Indonesia yang selaras dengan alam tempat bersatunya bumi dan langit.

Principal Architect: Realrich Sjarief

Team Member : Happy Marfianta, Apriani Sarashayu, Septrio Effendi, Tatyana Kusumo, Miftahuddin Nurdayat, Maria Vania, Muhammad Iqbal Zuchri, Christiandy Pradangga, Donald Aditya,  dan Mukhamad Ilham

Karya ini dipublikasikan pada bookgazine Archinesia volume 4. Cross-Border Architecture

1st Prize Winner – Vokasi Universitas Indonesia Competition – Depok, Jakarta, Indonesia

national design competition.

” We now accept the fact that learning is a lifelong process of keeping abreast of change. And the most pressing task is to teach people how to learn.” Peter Drucker (1909 – 2005)

panel1 1_resizepanel1 2_resizeplan2_resizepanel1 4_resize
@learning promenade

Konsep desain kompleks vokasi UI ini didasarkan pertimbangan atas 3 aspek, pertama, desain bangunan yang sesuai dengan iklim tropis. Kedua, desain bangunan yang kontekstual dengan pencitraan ui, dan ketiga, desain bangunan yang mampu memanfaatkan potensi lahan semaksimal mungkin. Penataan masterplan didasarkan dari penempatan ‘learning promenade’ di axis utama lahan yang menghubungkan node potensial transit oriented development dari Universitas Indonesia di titik selatan dengan node potensial titik wisata air amphi teater yang ada di sisi utara. Di sepanjang learning promenade ini diletakkan fungsi – fungsi untuk mengaktifasi kehidupan kampus vokasi. Di sini ada mahasiswa yang membaca buku di perpustakaan linear sepanjang learning promenade, disini ada juga café untuk para mahasiswa dan dosen berinteraksi, potensi landsekap yang mengikuti kontur juga bisa di optimalkan.Daerah kompleks vokasi ini juga akan rimbun akan pepohonan diantara massa yang menghadap utara dan selatan sehingga bayangan yang ada akan mereduksi panas dari sinar matahari di lantai dasar.  Vista yang terbentuk ketika memasuki kompleks vokasi dari arah selatan terbentuk dari 3 elemen yaitu : vista menuju amphiteater air, vista transparansi massa gedung perpustakaan di sisi barat juga vista café menuju sungai dengan wisata air, dan vista di sebelah barat berupa alokasi lahan untuk taman obat untuk program kedokteran.

Ide perancangan dari kompleks Vokasi UI merupakan rangkaian dari 3 noda utama yaitu, – Kondisi eksisting yang berbatasan dengan sungai yang membelah dari utara ke selatan yang menjadi bagian interaksi dengan air, – Jalan disisi selatan yang merupakan titik pusat perhentian bus kampus dan – Jalan di sisi barat yang merupakan area servis GKU dan parkir belakang. Pembagian ini didasarkan dari pembagian fungsi-fungsi terbesar dengan anggota terbesar, seperti kedokteran dengan p’rodi baru, hokum, dan vokasi campuran. Hirarki ini juga didasarkan dari pengelompokkan dari ilmu manusia [kedokteran], ilmu etika [hukum], dan ilmu – ilmu umum dengan menghubungkan keseluruhan fungsi dengan gedung kuliah umum. Susunan pengelompokkan diatur berdasarkan besaran ruang yang diestimasikan dengan jumlah mahasiswa di tahun 2013 sejumlah 11700 orang.

Bangunan – bangunan penunjang seperti massa lobby utama diletakkan sepanjang boulevard yang diperuntukkan untuk galeri utama. Massa – massa dihubungkan dengan selasar yang dilengkapi dengan kanopi sedangkan di sisi selatan, diletakkan akomodasi hunian mahasiswa berlantai tingkat rendah dengan aksesibilitas menuju ke kampus vokasi UI.  Daerah landsekap didesain sesuai eksisting dari kampus UI dengan orientasi aktifitas terhadap sungai dengan menghubungkan sisi timur sungai dengan lahan melalui rangkaian jembatan untuk akses pejalan kaki. Lahan parkir diletakkan di sisi barat kompleks Vokasi UI.

‘Bangunan – bangunan di kompleks Vokasi UI juga didesain dengan menggunakan arah orientasi bangunan Utara – Selatan yang sesuai dengan iklim tropis. Keadaan ini meminimalisasi cahaya matahari langsung yang masuk ke bangunan.  Bangunan ini menggunakan konstruksi baja, penggunaan solar panel pada sisi atas bangunan, dan wind turbine di sisi dalam bangunan. Penggunaan batu bata juga mendinginkan suhu bangunan disamping meminimalisasi carbon foot print dengan penggunaan bahan yang re-usable.

Glenn Murcutt  “The light and sounds of land are already there I just make the instrument make the instruments that allow people to perceive these natural qualities.” Perencanaan vokasi ini yaitu berusaha menjawab sebaik mungkin apa yang dibutuhkan oleh program studi Vokasi UI dengan tepat melalui pengolahan potensi konteks lingkungan yang ada.

Team Leader : Realrich Sjarief

Team : Dicke Nazary Akbar Lubis

Juri : Prof. Gunawan T, Baskoro Tejo, A.Tardiyana, A.Hery Fuad dan Syahrir AR

panel1 5_resizedot2

Public Favorite Entry – Looking up, achieving Indonesian Dream

31 August 2008

 

This work is submitted during the exhibition of Indonesian architect in Helar Festival in Bandung Indonesia at 23rd until 31st August 2008. The project is named “Looking up, achieving dreams”. The idea is to give perspective from different view in city planning. By raising football court to the sky, this project gives challenge to make public space in the sky and be a landmark for generating city icon. The objective is to create most romantic city in Indonesia with love. At the end, “Looking up, achieving dreams “gets most favorite entry award in the exhibition.

Reinventing Bandung 1

 


 

 

Konsep menegakkan impian ini ada dalam rangka berpartisipasi dalam pameran Reinventing Bandung “intervensi arsitektur di ruang – ruang hilang Bandung” pada tanggal 23 – 31 agustus 2008. Konsep yang disajikan diharapkan memberikan nuansa yang berbeda dari sudut perencanaan kota Bandung dimana bisa menjadi contoh untuk pengembangan kota berskala sedang yang memiliki integrasi dengan isu ekonomi, ekologi dan sosial. Diharapkan dengan ini bisa mencerdaskan kehidupan masyarakatnya dimulai dari sebuah kegiatan yang sangat sederhana. Yakni kegiatan sehari – hari, dimulai dari bangun, beraktifitas, dan beristirahat. Keseluruhan konsep yang ditampilkan ini, akan membuat Bandung, menjadi kota dunia yang romantis dan tidak akan terlupakan sejak kaki ini melangkah di satu telapak pertama.

 

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>adanya Lapangan Sepakbola di langit dengan standar internasional diletakkan di angkasa sebagai ekspresi dari keterbatasan lahan yang ada di Bandung. Lapangan ini kan menjadi Landmark dari satu – satunya lapangan Sepakbola yang ada di langit di dunia. dari sini kita bisa melihat huruf Bandung di pegunungan parahyangan

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Galeri Seni Urang Internasional Bandung, menampilkan karya seni seniman Bandung. Tempat ini akan terbuka untuk publik dan mengasah sensitifitas masyarakat untuk apresiasi seni. Di Tempat ini akan diadakan pameran seni internasional setiap tahunnya dengan jadwal yang padat

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Pusat Daur Ulang Nasional, sebagai tempat penelitian sampah – sampah dan pusat daur ulang. Bangunan ini berkesan futuristik dan bersih sebagai ekspresi yang kontras dengan sampah dan menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah bagi dunia.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Taman Langit Ketujuh, taman publik dengan orang – orang yang melakukan petak umpet, petak patung, petang jongkok, Galasin, dll. Juga dengan kegiatan yang membuat jantung kita berdebar – debar seperti Bungee Jumping. Melompat dari angkasa dengan mata terbuka ditambah dengan atraksi Balon udara.

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Pasar Seni Bandung Internasional, tempat yang menjual barang – barang kerajinan dan furniture dan merupakan pusat Pedagang Kaki Lima, disini juga terdapat pusat dari Organisasi Pedagang Kaki lima Indonesia dan menjadi salah satu wisata unggulan wisata internasional.

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Stasiun Monorail Cikapundung, stasiun dengan gaya arsitektur parahyangan yang menghubungkan daerah Cikapundung dengan stasiun Dago, Soekarno Hatta, Setia Budi, Dll. Sehingga strategi transportasi kota bandung akan menjadikan angkutan publik yang sangat nyaman dan berkelas internasional sebagai potensi wisata.

<!–[if !supportLists]–>7. <!–[endif]–>Adu Kambing Tahunan Internasional, ajang internasional yang akan disejajarkan dengan pertunjukan matador di Spanyol menarik wisatawan dariseluruh dunia dimana di ajang ini kambing – kambing internasional akan didatangkan untuk berlaga dan memperebutkan trofi bergilir setiap tahunnya.

<!–[if !supportLists]–>8. <!–[endif]–>Pembangkit Listrik Tenaga Angin, pemenuhan tenaga listrik akan juga didukung oleh sistem kincir angin yang diletakkan di daerah pegunungan sekitar bandung. Cara ini dipakai menanggapi langkanya BBM di tahun – tahun mendatang dan membuat kota yang ramah lingkungan dimulai saat ini, berpikir lebih jauh untuk bumi kita.

<!–[if !supportLists]–>9. <!–[endif]–>Sungai Pembuktian Cinta, disini adalah tempat anak muda dan orang tua berkumpul dan bernostalgia mengenai masa dahulu. Suara Gemercik air yang membuat hari ini berdebar – debar dan tidak bisa meninggalkan romantisme ketika mereka mengatakan I love you pada saat pertama kali.

Credit to : Jefferson Barnes : is friend from United States, He graduated from RPI, I met him while I was working in Foster and Partners London, currently he is working for Masdar University, Abu Dhabi in Foster and Partners, Ribkazelia : is a graduate Art Management student of Northumbria Newcastle University, currently she is the representative of Indonesia in Children Creativity Exhibition in Finland.


Reinventing Bandung 2




Exhibition picture

Cendana – Sliced Wood

IMG_20131210_145247
Sliced Wood – Cendana

Pada tahun 1932 Alvaar aalto membuat kursi Paimio yang terinspirasi dari bentuk alam yang organik. Pada waktu masa 1920 penggunaan material besi yang dilengkungkan pada desain furniture banyak dilakukan oleh desainer bauhaus [salah satunya marcel breuer].  Teknologi kayu dilengkungkan yang digabungkan dengan unsur  fungsional. Usaha untuk menanggapi alam kemudian dipecahkan dalam permasalahan fungsional seperti kenyamanan dan estetika menjadi salah satu pemikiran dalam karya ini.

Desain kursi ini memiliki 2 nama Cendana atau Sliced wood [kayu yang terpotong] yang terinspirasi dari bentuk organik dan citra natural dari bebatuan [sesuatu yang kokoh, berdasar, dan dingin). Dimana kayu memiliki sifat yang hangat sehingga memberikan kenyamanan. Hal ini kemudian diterjemahkan ke dalam lapisan kayu yang disusun secara horisontal dengan celah 30 mm untuk memunculkan siluet yang organik dengan kemudahan sistem konstruksi kayu.Jarak – jarak antar kayu memungkinkan untuk membuat siluet berdasarkan posisi duduk dan kenyamanan, dalam hal ini yang dipakai parameter kursi adalah jenis bentuk sofa. Tiap – tiap lapisan terbuat dari lapisan triplek meranti dengan kulit jati 3 mm difinish bulat di tepian.IMG_20131210_145450

Designed by Realrich Sjarief for Biennale Desain dan Kriya 2013 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Built at Design Perfection Workshop