Kategori
Writings - Critiques - Interpretations

Keegoisan Pencipta by Badi Bastian

Selalu menjadi pengalaman yang baru dan meyenangkan untuk melihat langsung suatu hasil karya yang dibuat oleh arsitek-arsitek favorit saya. Selalu ada cerita yang menarik dibalik sebuah karya-karya tangan penyeni. Dan selalu ada ilmu baru yang tanpa sengaja saya dapatkan. Seluruh bagian ruangan tidak akan terlewatkan dari pandangan saya. Detail-detail arsitektural yang tidak lupa saya sentuh dan selalu memunculkan keinginan untuk bertanya. 

Bagi saya, 99% The Guild merupakan sebuah karya dengan keegoisan dari penciptanya. filosofi yang sangat kuat dan padu, yang tidak terpikirkan oleh penikmat desain sebelumya. Sentuhan-sentuhan desainnya yang akan selalu menimbulkan persepsi berbeda bagi siapa saja yang melihatnya. Biarpun begitu, pro dan kontra yang timbul dapat dipertanggungjawabkan keegoisannya.
What if 1 percent would change the whole 99 percent?

Jawabannya sudah pasti tidak mungkin.

Bagi saya, 1% ini merupakan kesempatan untuk berkhayal dan mengibaratkan siapapun yang berkhayal adalah seorang penciptanya. 1% ini merupakan suatu pelengkap yang akan memberikan rasa keseluruh sudut-sudut bangunan The Guild ini sehingga mendekati kata sempurna. Saya mengibaratkan 1% ini adalah sebuah es batu pada segelas air dingin. Ada atau tidaknya es batu ini, air dingin di gelas tersebut tetaplah dingin. Bisa dibilang Bangunan 99% The Guild ini sudah selesai. Dan 1 persennya hanya sebagai penyempurna saja.
Cukup sulit bagi saya untuk memberanikan diri memberikan kritik melalui persepsi saya pribadi. Selalu terbenak bahwa saya bukanlah orang dengan pengetahuan yang teramat luas dan merasa orang yang paling tahu segalanya. Akan selalu ada kritikan di setiap karya yang sudah jadi. Akan selalu ada sesuatu hal yang dapat dikembangkan ketika karya sudah jadi. Dan akan ada pengetahuan yang baru setelah karya sudah jadi. Semua karya-karya yang sudah jadi dapat dijadikan sebuah input untuk karya-karya selanjutnya. Dengan demikian, Walaupun tetap ada kontra yang terlintas dikepala saya sebagai seorang mahasiswa arsitektur yang amatir, saya sangat appreciate dan tetap kagum dengan pencapaian Pak Realrich Sjarief.

Keegoisan Berkarya

Hal ini terlihat jelas dan terpampang nyata dengan sangat dominannya dinding dengan tekstur beton (concrete texture) yang sangat menguasai seluruh bangunan. Sebagian orang akan mengatakan dinding seperti itu akan membosankan, dan sebagian orang juga akan mengatakan dinding dengan tekstur seperti itu akan memberikan kesan alami yang maksimal. Mungkin memang, hal tersebut balik lagi kepada selera si penciptanya dan filosofinya. Tetapi bagaimana pun, akan selalu muncul persepsi yang berbeda, pro atapun kontra, suka ataupun tidak suka, antara orang awam dengan penciptanya. Menurut saya, pemberian dinding bercatkan putih di beberapa sisi bangunan (ruang) akan membuat keseimbangan, antara kesan alami yang maksimal, dan bangunan yang lebih rasional.
Unik dan Berani

Pintu, jendela, kaca mati, juga bukaan-bukaan lainnya menjadi keunikan tersendiri pada bangunan The Guild ini. Pasalnya bangunan-bangunan kontemporer yang pada umumnya tidak didominasi dengan lengkungan-lengkungan, kini malah didominasi komponen berlengkung yang cukup konsisten. Juga tertampak dari luar bangunan, The Guild ini memiliki bentuk Candi-candi diatasnya seperti kastil. Menurut saya pribadi, ini sangat unik, juga sangat berani untuk membuat suatu desain yang konsiten seperti ini. 
Sekilas terlihat dari luar, gayanya yang sangat introvert sangat berbeda dengan desain didalamnya. Banyak bukaan-bukaan besar yang membuat suasana bangunan berlawanan dengan apa yang orang-orang lihat dari luar. Hal ini cukup unik karena akan menimbulkan persepsi yang berbeda antara diluar dan didalam.
Kesederhanaan yang tidak sederhana

Tidak seperti bangunan kontemporer pada umumnya, The Guild ini memiliki banyak detail, tetapi sekilas terlihat sederhana dan simpel. Dari mulai pintu, jendela, tangga, hingga warna lampu yang bisa membuat kesan hangat di malam hari. Menurut saya, The Guild ini sangat kaya akan detail-detail arsitekturalnya. Teknik-teknik pada setiap detailnya memberikan suatu pengetahuan yang baru. Kesederhanaannya juga bukan sekedar simplicity, tetapi juga memiliki makna dan filosofi tersendiri.

Badi Bastian

Kategori
Writings - Critiques - Interpretations

Terlena Dalam Khayalan by Rezki Dikaputra

Curahan pribadi…

Pembicaraan mengenai 1% ini lebih kepada persepsi saya ketika berkunjung di open house karya Realrich Sjarief yang dijuluki “The Guild”.

Tema yang dipakai pada acara tersebut adalah 99% dan 1%, berbicara mengenai pencapaian seorang arsitek terhadap karyanya.

Dalam konteks ini, The Guild diasumsikan merupakan hasil tempa para perancang dan pembangunnya, di bawah naungan visi sang arsiteknya yang “seakan” belum selesai, dianalogikan dengan angka 99% dan dengan serta merta menyerahkan nasib keberhasilannya kepada sesuatu yang tidak terukur, yakni perasaan si klien, penataran para pengunjung, dan juga kemungkinan untuk kembali dikembangkan; 1% yang tersisa merupakan toleransi atau juga bentuk keterbukaan terhadap pandangan persepsi orang yang luar maupun dalam.

1% merupakan kesempatan, begitu saya mendengar mengenai konsep tersebut, saya merasa 1% ini sebuah wadah yang terasa sangat luas untuk saya, sebagai orang di luar untuk dapat mengkritisi sekaligus bertanya secara bebas terhadap sang pembuatnya., yang pertama kali terngiang adalah bahwa saya tidak merasakan apapun mengenai value “1” tersebut. Namun, rasio yang terkesan dramatik tersebut sempat membuat saya bertanya-tanya; 1% yang melambangkan langkah akhir menuju nilai sempurna apakah yang sufficient.

Perihal mengenai rasio ini pun rasanya bersambung hingga puncak acara, banyak audiensi yang merasa perbandingan 99% dan 1% ini merupakan sebuah takaran yang tidak normal, sebuah analogi yang mungkin kurang cocok ketika profesi mereka (mayoritas arsitektur) hanya dituliskan atau diberi nilai sesuai value tersebut. Sebuah perdebatan terjadi, yang beradu hanyalah persepsi, digerakkan oleh perspektif masing-masing individual.

Pembicaraan lambat-laun berubah arah, dari value 1% seperti apa yang dinanti menjadi suatu hal yang sensitif mengenai profesi arsitek.

Friksi yang terjadi dimungkinkan ketika kesempatan 1% itu justru muncul sehingga memancing daya tarik bagi audiens untuk kemudian bertanya-tanya dan memperdebatkan apa sebetulnya yang dinanti, dan mungkin 5-10 tahun lagi kita akan mendengar perdebatan yang berbeda lagi, sebuah notion yang baru dari obyek yang sama.

Saya adalah seorang yang selalu merasa bersemangat ketika mengerjakan sesuatu, terutama pada fase-fase awal. Merencanakan, memimpikan dan mengkhayal tentang hal-hal indah ketika pekerjaan tersebut selesai dengan baik. Ironisnya, seringkali saya tidak berhasil mewujudkan hal-hal indah tersebut sesuai dengan apa yang saya harapkan, saya kadang lupa dengan hasil akhir yang dibayangkan di awal, terlalu seibuk mengulik hal-hal kecil yang mungkin tidak begitu berpengaruh pada gambaran besar

Sulit untuk beranjak fokus pada hal yang lebih penting karena takut “tidak sempurna”, paham yang rasanya semakin saya yakin bahwa itu tidak sepenuhnya benar.

Saya rasa 1% melambangkan sebuah value yang tadi terjadi ketika saya sedang bekerja menuju sebuah target, 1% adalah value yang harus saya berikan pada persepsi di luar “saya” sebagai inisiator. Sebuah kerelaan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu namun tetap percaya pada gambaran besar.

Analogi tersebut membuat saya merasa memiliki harapan. 1% bagi saya adalah harapan, realitas yang harus diberikan kepada orang lain, dalam hal ini bisa saja pengguna rumah,dll. Berapa pun angkanya sebetulnya tidak menjadi masalah, tapi notion yang terus berkembang datang dari perspektif yang berbeda-beda ini yang memang sufficient untuk saya, hal ini yang mungkin akan membuat sebuah mimpi tetap hidup.

Menapak, 1% membuat saya lebih bersemangat, membuat saya harus sadar saya harus keluar dari khayalan yang menyenangkan tersebut, bukan untuk membuangnya, melainkan kesadaran akan ada ranah publik yang akan masuk ke dalam mimpi tersebut, akan ada friksi yang akan membuat gambaran besar visi/ karya menjadi relevan, tidak subyektif.

Saya rasa ketika friksi yang dinanti itu terjadi, mimpi tersebut bisa menjadi sempurna layaknya angka 100%, khayalan yang menjadi realita.

Pak Anas Hidayat menganalogikan value 1% seperti ini, “Jika anda sudah menargetkan akan mencoba dicium oleh 100 wanita dan ketika sampai di titik dimana 99 wanita sudah menampar anda, anda belum gagal. Semua ditentukan dengan yang 1 wanita tersisa. Apabila anda berhasil dicium oleh 1 wanita dari 100, anda tetap berhasil”.

Seperti halnya semua orang termasuk Pak Anas Hidayat dan juga Pak Realrich Sjarief sang pembuat rumah tersebut. Jangan pernah menyerah dalam usaha mewujudkan mimpi walau hanya 1% tersisa, well, angka yang tetap terasa penuh harapan untuk saya, yang sedang menuju khayalan indah tersebut.

RZ

Kategori
Writings - Critiques - Interpretations

Ruang Benteng Arsitek yang Berbagi by Levin Sebastian

DINDING. Dinding tinggi, massif, tertutup pemisah yang kuat dan jelas. Seolah tak ingin bergaul dengan lingkungannya. Seolah terpisah dengan dunia di sekitarnya. Seperti berada di dimensi lain, dinding itu seolah menghalangi apapun yang hendak menginvasi, memberi rasa aman bagi apapun yang ada di dalamnya.

BATAS. Terbayang ruang ruang dengan hirarki yang kuat dan keras setelah melihat tegasnya batas antara wilayah desain dan lingkungannya, seperti kota kota benteng dimana yang empunya kekuasaan duduk di tempat paling tinggi memantau semua yang ada dalam teritorinya. Namun ruang tercipta justru sebaliknya, tidak ada titik henti ataupun ujung dalam hirarki. Seluruhnya membentuk lingkaran seolah menyiratkan sailing ketergantungannya yang ada di atas dan di bawah, yang terpelajar dan masi belajar, yang sudah bijaksana dan yang masih mencari tempatnya di dunia.

KUIL. Mungkin ruang benteng yang tercipta malah menciptakan nuansa kuil. Rasa aman dan nyaman membuat semua orang merasa tidak takut untuk berekspresi dan bertidak. Dibalik dinding itu, kita seperti berada di dalam perasingan, dimana kita dapat melupakan apa yang terjadi di luar dan focus dengan apa yang ingin kita gapai. Selayaknya biksu dalam masa semedinya, pergi ke kuil jauh di atas gunung, terisolasi dari dunia, mungkin seperti inilah hasil ruang benteng yang tercipta. Dan mungkin itu juga harapan yang ingin terjadi, manusia yang masuk “benteng” dapat melupakan sementara apa yang terjadi di luar, focus dengan pencariannya, namun seperti biksu biksu, mereka akan kembali ke masyarakat dan berbakti melayani masyarakat.

TERITORI. Ruang yang saling berbagi dan mau berinteraksi, namun hanya dalam lingkungan tertentu, seperti Gated Community, bersifat eksklusif terhadap yang lain namun sangat inklusif terhadap sesamanya. Penciptaan suasana Defensible Space yang sangat pun terjadi pada ruang yang teritorinya jelas. Menjadi hal yang menarik bagaimana penghunsi “benteng” nantinya akan berinteraksi dengan sesamanya, dengan lingkungannya, dan dengan penciptanya. Apakah akan bersifat tidak peduli dengan keindahan lingkungan sekitarnya, tidak terlihat juga dari dalam “benteng”? Apakah malah menjadi kuil yang dihormati oleh lingkungan sekitarnya ?

Kategori
Writings - Critiques - Interpretations

Rumah Sang Penghuni Waktu by Rifandi Septiawan Nugroho

“Ko disuruh makan dulu ko…”

Aku tersenyum tiap kali mendengar bibi memanggil kak Rich (panggilan akrab untuk Realrich Sjarief) dengan teriakan setengah sungkan dari luar ruangannya yang luasnya kurang lebih 9 meter persegi di ujung depan garasi rumah orang tuanya, kantor lama RAW. Dengan tampak lusuh karena baru pulang meeting dengan klien, ia menjawab “iya sebentar”. Biasanya teriakan itu terdengar di sela-sela waktu kak Rich sedang berdiskusi dengan Miftah dan Tatyana (duo design associate di RAW), sedang asistensi dengan salah satu desainer, atau sedang membicarakan hal penting dengan kami semua. Tak jarang diskusi berlangsung hingga larut malam, ia pun baru beranjak makan setelah semua urusan selesai dibicarakan. Tanpa sadar satu dua jam telah berlalu sejak panggilan makan malam pertama dari si bibi.

“Ko disuruh makan dulu ko…” Lagi-lagi bibi memanggilnya. Wajah muram mulai tampak perlahan dari rautnya.

Sedari sulitnya memenuhi panggilan makan malam bersama keluarga saja bisa dibayangkan betapa padatnya aktivitas yang dilaluinya. Kesehariannya dihabiskan dengan berkutat pada waktu – tenggat proyek, tanda tangan kontrak, meeting, terbang dari satu kota ke kota lain, cek progress pekerjaan lapangan, dan terkadang harus memenuhi undangan kuliah di kampus-kampus. Pada hari Sabtu dan Minggu juga masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, beragam agenda di perpustakaan OMAH Library mungkin baginya adalah relaksasi dari aktivitas proyek yang melelahkan. Lalu apakah itu berarti rumah baginya adalah sekedar ruang untuk transit? Menjadi tempatnya untuk pulang dan beristirahat setelah terpental-pental dari satu tempat ke tempat lainnya dengan cepat. Kemudian harus bangun lebih pagi untuk melakukan aktivitas serupa setiap harinya.

Mari melihat dari apa yang terjadi di dalam rancangan rumah barunya. Ketika pertama kali ditanya, kenapa rumah ini dinamakan “The Guild”? Sederhana saja jawabnya, itu hanya terinspirasi dari istilah yang ada di video game, sebutan yang digunakan untuk perkumpulan. Ia pun berangan-angan rumahnya adalah tempat yang terbuka untuk orang dapat berkumpul, baik untuk bekerja, berdiskusi, dan beragam kegiatan dengan niat baik lainnya. Ia mengimpikan sebuah bangunan yang compact untuk merangkum semua kegiatan yang diperlukannya. Maka tidak perlu heran, implikasinya adalah tanah yang seluas sekitar 650 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 420 meter persegi, dua per tiga dari bagian massa bangunannya didedikasikan untuk publik – kantor, workshop, omah, halaman luas untuk diskusi, dan klinik dokter gigi istrinya. Sementara untuk ruang hunian sendiri, hanya ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi utama. Kamar tidur bibi (asisten rumah tangga) diletakan sejajar dengan kamar tidur utama, didesain memiliki skylight yang menjadikan kamar terkesan megah. “Bibi harus dapat tempat yang spesial”, katanya.

Banyak kejadian menarik, baik sebelum pindah atau selama aku menghuni di rumah ini. Pada saat masih dibangun misalnya, tentang proses membuat geometri aneh yang ada di studio, sempat terlintas pertanyaan dari kepalaku bagaimana bisa muncul bentuk lengkung dan lingkaran dan untuk apa itu dibuat? Semuanya terjadi dengan improvisasi dan eksekusi di lapangan, dengan gambar kerja seadanya. Ide-ide muncul karena keinginan untuk menantang para tukang yang sangat lihai. “Mereka semua itu orang pinter, kalau tidak dikasih pekerjaan yang rumit mereka akan bosan”, begitu kata kak Rich. Bentuk akhir bangunan ini terkesan campur aduk. Para tukang pun puas dengan apa yang dikerjakannya.

Setelah menghuni pun demikian. Tidak hanya bentuk yang membingungkan, begitu juga program ruangnya. Aku terheran-heran jika teringat tentang bibi pernah terkunci setelah selesai dari kamar mandi tengah malam. Kamar mandi ini letaknya jauh dari kamar bibi, ada di sisi terluar ruang kantor yang ada di lantai satu, sedangkan kamar bibi ada di lantai dua. Bibi malam itu menangis, sembari aku kebingungan dalam hati, apa pentingnya skylight yang megah kalau bibi lebih butuh kamar mandi gumamku. Bukan kali pertama aku mendengar keluhannya, aku pun sempat tertawa waktu bibi masak di dapur dan kebingungan harus meletakan masakan yang baru matang dimana. Maklum, dapurnya sangat kecil, kitchen setnya hanya cukup untuk satu kompor dan satu kitchen sink. Akhirnya, meja tambahan pun ditambahkan. Bibi pun memaafkan kami yang malahan mengunci ruangan kantor malam itu tanpa ingat dia ada di kamar mandi. Rumah itu memang tempat untuk berbagi cerita lucu bukan?

Aku, sebagai salah satu penghuni rumah yang lain ini sengaja menghindar dari rayuan bentuk kurvatur, lingkaran, kastil. kotak, coakan, dan berbagai geometri yang bercampur aduk di dalam rumahnya karena tidak cukup penting bagiku keberadaannya. Hal yang lebih menarik bagiku justru adalah pertanyaan, untuk apa itu dibuat semacam itu? Jawabannya tidak lebih dari pemaknaan-pemaknaan yang dikarangnya sendiri. Bentuk lingkaran baginya adalah kesempurnaan, kurvatur baginya adalah bukaan yang seperlunya, berundak baginya adalah tumpangsari, undakan di tiap pintu masuk baginya adalah berhati-hatilah ketika masuk ruangan, lantai dan dinding yang difinish acian baginya adalah pietra serena dan stucco lucido, susunan grc melayang pada dinding adalah representasi dari strange details dan yang menarik adalah saat ditanya apa maksud dari bentuk menyerupai kastil? Jawabannya adalah tanpa intensi apapun tiba-tiba menjadi seperti itu. Menariknya, segala ledakan geometri yang ada di dalam bangunan yang sudah sulit-sulit dibuat itu malahan berusaha ditutupi dari bagian luar agar tidak mencolok jika dilihat tetangga dengan menggunakan beberapa material tambahan. Maka bagi saya rumahnya adalah implikasi dari ambisi pribadi, angan-angan yang belum tercapai, dan juga harapan bersiratkan sejuta makna yang tentunya mengandung kebaikan yang diimpikannya.

Sebagai seorang arsitek muda yang kehidupannya berkutat dengan tekanan waktu (dan tentunya masih ada keinginan untuk terus berkembang), rumah ini adalah candu bagi dirinya. Semua hal yang telah dirancangnya memang sengaja untuk dilihat dari dalam, refleksi bagi dirinya melihat beragam eksperimentasi dalam karya yang dihuni sendiri. Ia berusaha untuk jujur tidak menutupi segala proses yang telah dilalui dalam membangun rumah ini, baik ketercapaian maupun kegagalan. Dialog dengan tukang pun masih berlanjut hingga hari ini. Rumah ini tidak akan pernah selesai, sampai tidak ada lagi masalah yang muncul. Ketika ia sudah menyadarinya, pastinya ia orang yang sudah banyak belajar dari kejujurannya. Ia menularkan kejujuran itu kepada kami, para penghuni rumah yang lain untuk terus belajar tanpa takut bereksperimentasi.

“Yaal, makan dulu yuk…” Bibi mulai kelelahan memanggilnya. Terpaksa Kak Yudith menggantikannya. Dengan panggilan suara lembut khas dirinya biasanya membuat Kak Rich takluk dan segera beranjak dari aktivitasnya.

“Iya-iya, sebentar ya…” Jawabnya. Akhirnya ia beranjak masuk untuk makan sambil berkata santun pada kami, “Saya makan dulu ya…”

Perlu diakui, terpaksa aku pun harus menyebut diriku “penghuni yang lain” rumah ini, lantaran waktu yang ku habiskan di the guild lebih banyak ketimbang di rumahku sendiri. Lebih dari dua belas jam ku habiskan di sini. Cukup njelimet memang membicarakan perihal rumah, apalagi tentang rumah arsitek. Tak terasa ini sudah pukul satu pagi. Seharian kuhabiskan waktuku di rumahnya sampai-sampai aku kesulitan mencari waktu untuk diriku sendiri, paling tidak membicarakan tentang rumahnya itu. Aku harus segera pulang ke rumahku dan harus segera menyelesaikan seluruh tulisanku. Aku ingin segera beranjak ke ranjang tidurku.

*ditulis di rumahku*

 

Kategori
Writings - Critiques - Interpretations

Rumah dan kantor baru untuk Realrich dan anak-anak RAW by Tatyana Kusumo

Waktu itu tidak terbayang akan jadi seperti apa, karena dari awal perencanaannya sangat sederhana dan fokus utama memang ke proyek kantor bukan ke proyek The Guild ini. Masih ingat waktu pertama kali bertanya kepada Realrich akan arti The Guild, usaha saya yang pertama adalah mencari arti katanya di website.

The Guild = Serikat pekerja

Hmm, memang sih kita adalah pekerja yang terkumpul dibawah naungan RAW, pekerja yang cukup abstrak dan dengan latar belakang yang cukup berbeda dengan tujuan yang sama. Dan bangunan ini memang menggambarkan The Guild itu sendiri. Sudah lihat denahnya Sudah lihat tempat tinggalnya dan kantornya Ya area privasinya cukup kecil dibandingkan dengan area kantor. Mungkin karena namanya The Guild atau mungkin fokus utamanya memang lebih ke ruang dan detail arsitekturnya. Toh banyak ruangan-ruangan di areal banteng yang nantinya bisa jadi apa saja. Lalu kalau dilihat dari perjalanan pembuatannya, terlalu
banyak perubahan dari rencana awal baik secara desain maupun konstruksi, namun sepertinya proses pembuatan The Guild memang di nikmati oleh Realrich dan timnya. Kayaknya memang harusnya berproses arsitektur harusnya seperti ini deh

Lucunya anak-anak desainer yang terlibat di proyek ini ibarat teh, dicelup-celup, kalau sudah jadi tehnya tinggal diangkat,kalau mau bikin teh lagi, ya celup lagi yang baru ditambah bekas yang tadi kalau masih bagus. Karena pengetahuan saya dalam proyek ini juga masih tambal sulam, dan mungkin The Guild akan tercipta apabila pengetahuan seluruh team disini
digabungkan.

Waktu pertama kali pindah, agak aneh juga ya karena terbiasa dengan kantor garasi kesayangan di pulau ayer 1 yang senggol
dikit bacok. Sedangkan di The Guild sepertinya jauh lebih manusiawi untuk anak-anak RAW dan mungkin memang sudah waktunya untuk seperti ini . Apalagi berbagai macam detailnya dapat dipelajari langsung untuk desainer yang sangat jarang dapat kesempatan kelapangan.

Proses yang terjadi dalam bangunan ini bukan hanya proses pencarian dan pembelajaran, namun juga proses pengedukasian bagi mereka yang berpotensi di bidangnya untuk naik tingkat berikutnya dengan bahasa kerennya craftmenship baik bagi Realrich, team DOT Workshop, team RAW, team OMAH, dan juga untuk mereka yang datang kemari. Bahwa The Guild sebagai wadah untuk mengakomodasi mereka yang berpotensi dan bersemangat akan arsitektur. Selamat datang di The Guild, selamat belajar dan berbagi.

Kategori
Writings - Critiques - Interpretations

1% Cendol by Alhamdamar Mudafiq

Siang itu saya menikmati waktu lenggang yang tidak seberapa di sebuah warung sebelah kantor, yang, dijuluki Si Benteng oleh para penghuni-nya. Saya anak baru, saya cuma magang disana, beruntungnya saya masuk awal bulan Mei saat si Benteng baru dilahirkan dan mulai dihuni sebagaimana fungsinya. Walaupun, belum sepenuhnya bisa merangkak bahkan berjalan. Kami penghuni-nya yang menuntun adek Benteng kemudian memberinya tirai pada bagian tubuhnya yang tersengat panas matahari, menghiasnya dengan pernak-pernik agar sang adik terlihat menarik untuk para tamu yang silih berganti berkunjung untuk menengoknya.Ya Seperti yang saya bilang, saya cuma anak baru. Baru kenal bapaknya, ndoro Sugih. Baru dapat kepercayaan dari beliau untuk turut menuntun anaknya yang baru lahir, mengisi ruang dalam rekam jejak hidupnya nanti. Itu kenapa saya lebih sering keluar dibanding penghuni si Benteng yang lain. Saya masih ingin kenal si Benteng lebih jauh, mulai dari mengamatinya dari warung sebelah, dari pos satpam perumahan, atau dari depan rumah tetangga yang berada di seberangnya. Warung sebelah, tempat yang paling sering saya kunjungi untuk menatap si Benteng. Kadang pagi sebelum mulai masuk kantor, kalau lagi datang pagi, saya mampir untuk seruput kopi panas sambil ngudud. Duduk diam, termenung di bale kayu depan warung yang tak beratap. Dari sini sesekali menyipitkan mata kalau menatap lurus pada pucuk-pucuk pelindung kepala si Benteng. Pucuk-pucuk penangkal petir yang gagah menusuk lagit seperti menantang dunia tempat ia dilahirkan.

Dari sini juga terlihat topi-topi cerobong udara/cahaya si Benteng yang begitu lugas berkata, kalau mereka berfungsi dengan baik memberi cukup penerangan alami untuk si Benteng. Memberi cukup ruang untuk melepas udara panas yang mengganggu si Benteng. Sementara dari warung ini juga, komentar para tetangga tentang si Benteng sering jadi perbincangan yang menarik. Pemilik warung, lebih banyak berkomentar tentang proses kelahiran si Benteng. Menurutnya prosesnya sangat panjang, kurang lebih menghabiskan waktu selama tiga tahun. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya mengamati proses tersebut. Yang selalu jadi pertanyaan untuknya adalah, bagaimana nanti rupanya si Benteng ; kapan hari kelahirannya . Tapi yang paling penting, pertanyaannya sekarang saat si benteng sudah resmi terlahir di dunia dan mulai bisa berinteraksi. Si pemilik warung punya pertanyaan, si Benteng sudah lahir .Seorang ibu pemuilik kontrakan di sebelah warung pun sesekali menanyai saya tentang si Benteng. Mas, bapaknya si Benteng suka matematika ya Anaknya kok bisa berwujud seperti itu Kayak rumus matematika, ya Saya ngeliatnya kayak ada bentuk kerucut, tabung, dan bidang bidang masif yang tegas .

Sementara saya Cuma bisa tersenyum, mengiyakan komentar sang ibu pemilik kontrakan itu. Tak lama setelah meresponnya, bapak tua penjual cendol yang mengaku tiap kamis lewat di samping tempat si Benteng bersemayam menyambar komentarnya.Katanya, bapaknya seorang arsitek ya Si ndoro Sugih Tenanan itu, kan Kok anaknya seperti itu ya Buat saya gak menarik, Mas. Kita kan butuh warna untuk memanjakan mata.Kalau warnanya hijau, pasti saya suka , ujar bapak tua penjual cendol sambil meninggalkan gerobak pikul cendolnya, lalu duduk di sebelah saya