Loving Architecture like crazy

it’s about using introvert way. Believing for your genious, training yourself hard for passing through 3 stages of mastery: knowing your expedients, practicing your alchemy, and doing your experiments.

I got one email from Itenas students about invitation to do lecture in enterpreneurship in architecture. In the brief, the lecture will be about how to make an architecture business. Not so long, 3 days ago, fellow architects came to my home, Rubi, Dani, Carolina. Rubi has research about enterpreneurship in architecture. The hypothesis is that there are many good architects, but some of them can not survive, or maintaining sustainable design firm. he said he wanted to create community like OMAH for enterpreneurship in architecture, what is why he came to interview, and asked questions, I would say it’s discussion rather than interview, which is like two way. Deep in my mind, i was curious, why always the topics about this, it’s actualy topic which is pretty basic, topic to surviving as architect. But that is okay, let’s talk about it.

Thinking about that topic. There are many topics, or issues, or discussions about how to start being an architect, how to make a design firm, how to do enterpreneurship in architecture. This short article discussed about origins of enterpreneurship and how it links with architecture.

First of all, I was curious, what is the meaning of enterpreneurship. The meaning of enterpreneurship is generally to connect with opportunity by creating professional code and conduct toward best product. if one say, I am good designer, how can I have clients, how can I have network, how can I have jobs, how can I structurize my firm.

There are two types of paradigm toward this definition, it’s up to you which one fits to your character. The first one, I say it’s extrovert way, the media, the business, the product, rational way. It’s about using opportunity from the media, it’s about the power, prestige, and wealth.

I discussed the condition of profession in Indonesia few months ago, I did a small research comparing indonesian practice and United States.

Dalam tabel standar biaya konsultan inkindo 2015 – Disdik DKI Jakarta, terdapat daftar untuk spesifikasi tenaga ahli dengan spesialisasi tertentu [1]. Spesialisasi tertentu ini mengacu ke perancangan gedung dengan kompleksitas tinggi seperti bangunan tinggi, pembangkit listrik, jembatan, dll. Uniknya dan anehnya, di dalam tabel ini tidak terdapat profesi arsitek, sedangkan disebutkan ahli mekanikal elektrikal, teknik lingkungan, teknik sipik, Geoteknik, Geologi. Memang di dalam lampiran tersebut terdapat kata – kata “dan lain – lain” namun disinilah tersirat bahwa, apakah profesi arsitek ini hadir dalam lingkungan jasa konsultan Indonesia. Jawabannya pasti iya, hadir, namun keberpihakan untuk arsitek patut untuk diperjuangkan karena tiga hal penting:

pertama arsitek berfungsi untuk melakukan efisiensi anggaran, dengan optimasi terhadap massa bangunan, luas bangunan, layout ruang, menentukan titik kolom struktur, menentukan jarak sisa untuk saluran mekanikal elektrikal dan pemipaan, dan optimasi penggunaan material. Kedua, arsitek berfungsi untuk mempercepat masa konstruksi bangunan dengan mempertimbangkan cara bangunan tersebut dikonstruksi, ketiga, arsitek bertanggung jawab terhadap tata ruang, dan perijinan bangunan tersebut untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan, yang bisa dipertanggung jawabkan keamanan, kenyamanan berdasarkan good practice, ataupun Standar Nasional Indonesia, ataupun timesaver, neufert data handbook, building metric handbook, ataupun standar – standar lain yang bisa diargumentasikan seperti standar pengamanan terhadap bocornya air, standar pengolahan minyak atau limbah, standar pengolahan air kotor, dan standar penyediaan air bersih dan sambungan antar detail yang mencegah angin, air, ataupun pandangan, terkait dengan privasi pengguna. Sedemikian mengerikannya apabila satu bangunan tidak didesain dengan benar, apalagi bangunan dengan kompleksitas tinggi yang akan digunakan oleh klien dan penggunanya. Kita patut bertanya – tanya, standar seperti apa yang digunakan. Apalagi ditambah apabila kita bertanya – tanya tentang penghargaan sebuah ide – ide dari satu bangunan. Mungkin keadaan ini masih jauh Panggang Dari Api atau kenyataan tidak sesuai harapan.

Professor Danisworo dalam kuliahnya di Omah library, menjelaskan bahwa standar fee untuk arsitek dari tahun ke tahun berkurang dari jaman ia merintis praktek Encona, dahulu pada waktu ia mengerjakan desain bandara udara Halim, uang imbalan balas jasa bersih yang didapat oleh kantor, bisa digunakan untuk membeli satu buah tanah berikut rumah yang besar, di daerah sumur bandung tempat kantor Encona beroperasi. Dari fee yang didapatkan sekarang dibandingkan biaya hidup yang ada, kompetisi yang ada, penghargaan yang ada harus membuat para arsitek menjadi perlu kreatif dalam mensiasati keadaan [2]. Keadaan yang dijelaskan professor Danisworo Hal ini berkebalikan dengan keadaan arsitek – arsitek luar yang masuk ke Indonesia dengan menerapkan fee 10 % – 20 % lebih tinggi dari fee arsitek di negara asalnya, memang disinilah peran marketting, pembentukan branding dan pada akhirnya kualitas menjadi penting. Bahwa adanya kualitas pranata yang mendukung, yang belum membuat profesi arsitek ini tumbuh subur, dan makin kuat. Arsitek Indonesia perlu berjuang dalam keterbatasan.

It’s this way, Peter Piven wrote in book titled starting design firm wrote about 3 types of design firm, the first is, strong idea firm, second, is strong service firm, and the third is strong production firm. Knowing this category will help you to understand the nature of architect. The strong idea is based on one master to give you guidance, and the second is pretty straight forward which sometimes can be seen in hospitality design when we work with a team which service the team of operators, owners, and technicals. The third is treating architect as production factory.

The second type, it’s about using introvert way. Believing for your genious, training yourself hard for passing through 3 stages of mastery: knowing your expedients, practicing your alchemy, and doing your experiments. Antoni Gaudi, Maclaine Pont, and Carlo Scarpa are the three my favourite architects. I kept looking for pilgrimage for their works, and they are the closest way of role model in my heart looking at their process through time with persistance and their design is absolutely beautiful. in this second type, architecture is like doing kisses, hugs, and doing a dharma for your life. It’s more ethical while the driving point is more introvert. or may be this second type is formed when the first type is understood as a basic need, and the second is a way about perfection in mastering product of your works. So what is the importance knowing this ?

I remember reading one passage written by Robi Sularto, that ” architecture is a dharma, not merely a profession.” this words, was carved in my thoughts since then. I actually am quite sad looking the condition in Indonesia while the architects is not appreciated and the architects are not sensitive enough to serve society but it’s common because architects are still surviving through time. I reflect to myself as well, when daily, we are struggling to get the job done, invoice done, and advancing the mastery of our skills. It’s three way of juggling. The way of juggling explained by Deyan Sujic in Biography of Norman Foster by basically, knowing your limit, focussing on your competence, and building great people around you. what I found that enterpreneurship is about to serve others through design eventhough it’s simple project. Serving other like serving yourself, loving architecture like crazy through best attitude and learning so much as you can perfecting your mastery, preparation, preparation , preparation, it’s hardwork !

[1]http://www.simpel.lpse.kemenkeu.go.id/uploadFile/media/51_billing_rate_inkindo_2015%20(1).pdf

[2] professor Danisworo, dalam lecture di Omah Library

1 Persen yang Dinanti : Berdialog dengan Anas Hidayat

Jumat 24 Juni 2016
Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika kita berjabat tangan, tentunya ada sebuah ikatan yang saling tarik-menarik. Mungkin makin lama makin banyak yang bisa maklum, pasrah, atau rela, bahwa kita membutuhkan paradoks dalam membuat satu argumentasi yang jujur. Tulisan mas Anas banyak memberikan keoptimisan tersendiri, bahwa kita arsitek perlu untuk selalu terus belajar, tanpa henti, semakin kita menginginkan sesuatu semakin banyak pulalah kita harus belajar, ambisi berbanding terbalik dengan lamanya pelajaran. Ketika keinginan itu dituturkan dan dilakukan dengan segitu dalamnya, sebegitu banyaknya juga yang harus dikerjakan. Mungkin tidak ada kata lain untuk arsitektur indonesia, selain kerja keras. Di balik seringnya kekecewaan saya terhadap pranata kita, yang ternyata ujung – ujungnya ke sikap dalam berprofesi, ketulusan hati dalam bekerja, mungkin kita perlu optimis dalam melihat masa depan, tidak dalam kacamata paradoks yang sudah biasa dikerjakan, bekerja melalui gambar, institusi, hukum, kontrak, ataupun hal – hal yang berbau – bau formal. Namun baiknya kita menelisik paradoks dari hal tersebut, tentunya dengan profesionalitas dan etika yang dijunjung tinggi yaitu, nilai kejujuran.

Pak Irianto Purnomo Hadi, sebuah figur yang banyak dihindari oleh beberapa orang – orang muda yang saya temui, ternyata berhati sangat lembut. Mungkin saja penghindaran itu terjadi karena beliau terlalu jujur, dan lugas dalam berkata – kata. Di balik orang – orang seperti ini, tanpa tedeng aling – aling, dengan sikap yang sudah siap akan kritik, tentunya akan pas saja, celakanya begitu kumpulan – kumpulan tidak siap, ya pasti menghindar, karena kurang kerja keras, kurang persiapan, kurang latihan, tapi pingin eksis.

Dari Pak Irianto, sesingkat bicara, ada dua hal yang penting, yang pertama adalah kekerabatan, brotherhood, sekali dua kali, beliau melontarkan cerita tentang pertemanannya dengan Yori Antar, Andra Matin, Sonny Sutanto, dan lain – lain, bahwa di antara mereka tidak ada puja puji berlebihan, dan memang sesuatu dilontarkan apa adanya. Ya memang kumpulannya sudah siap dan mereka sudah seakan – akan mengerti satu sama lain. Pada akhirnya diceritakan ada semangat penjelajahan, atau eksplorasi tanpa henti, hal itulah yang menjadi cikal bakal Arsitek Muda Indonesia. Dan atas nama AMI, label itu lalu terbentuk. Pertanyaannya setelah label itu terbentuk, kemudian apa yang menjadi semangat pertamanya apakah terus ada dan semakin meningkat ? ya mungkin saja ini titipan buat kita – kita ini mas Anas, supaya meneruskan semangat – semangat mereka. setidaknya saya berusaha mencari – cari kerabat yang bisa berjabat tangan, bukan saling mengentuti, saya menemukan nafas ini dalam diri Mas Anas. Dari kekerabatan ini kita berusaha saling meningkatkan diri, seperti kedua pendekar yang saling berlatih hanya sebagai sebuah pemberian untuk hidup yang ada ini, ini konteks mas Anas dengan ndaem,

Yang kedua adalah kedalaman (depth), beliau ucap kali berkata, bahwa menggapai sesuatu yang tidak lengkang jaman,membutuhkan waktu, dan proses latihan yang panjang. Di era sekarang yang semakin cepat, hal – hal ini semakin sulit ditemui, dimana kompetisi menjadi ketat, dan sisi egoisme dari arsitek menjadi kental dan tinggi. Disinilah diskusi berjalan menyenangkan membahas figur – figur arsitek seperti louis kahn, dan beliau juga bertanya, apakah saya suka dengan Scarpa, ya itu desainer yang luar biasa, meninggalkan torehan sejarah arsitektur yang dalam, seorang pendekar byzantine. Dari situ kita membahas mengenai castevechio, satu museum yang dulunya adalah barak, dengan intensi permainan detail, dan penataan ruang pameran, sampai ke bagaimana satu karya lukisan itu ditata dengan pendekatan visual, perspektif, perjalanan pengunjung menikmati satu – persatu karya dimulai dari pintu masuk. Dari kedua ini, saya coba beranikan diri untuk mengajak beliau turun gunung juga untuk berbagi keluh kesahnya ke anak – anak muda, jadi kelembutan dan ketegasannya, dua paradoks ini bisa terbaca dengan lebih baik. Ada dua hal, kekerabatan, dan kedalaman yang menjadi penting dalam pertemuan dengan pendekar gondrong namun lembut hati ini.

Buku Pak Yuswadi Saliya, akan meluncur hari ini ke Surabaya, nanti saya es em es untuk tau alamat njenengan. Coba nanti kasih tau pendapat njenengan apa tentang buku itu, dan kita bisa diskusi bersama, pinginnya, bab per bab, tulisan per tulisan, ha ha. tapi rangkuman aja mas, supaya kita endapkan dan seharusnya ada dialog dengan buku itu. Namun ngomong – ngomong soal pameran kita. tulisan mas sudah asik pol tenan, muantap. Dengan interpretasi dari swarang,

saya suka sekali dengan paragraph ini, kalau namanya suka ya susah ya, karena pakai hati, ngga pakai pikiran, atau malah pakai hidung kaya kata njenengan, ha ha.

“Dalam pandangan s[w]ar[w]ang atau swa-rwang (swa=mandiri, rwang=ruang/ruangan), sarang adalah ruang (buatan dan milik) sendiri, yang dibuat sendiri untuk kemudian ditempati sendiri. Jadi, swa-rwang bukan rwang/ruang untuk ditempati oleh orang lain, tetapi sebuah pergulatan yang bersifat individual, personal.

Ketika seekor burung membangun sarang, itu adalah urusan antara dirinya dengan semesta, sebagai sebuah “ritual” untuk “mengukur” dirinya, yang tak membedakan antara yang alami dan yang buatan, tak membedakan antara insting/naluri dan kesadaran, antara intelejensi dan emosi.

Sedikit cerita tentang burung-burung manyar (dari novel Burung-burung Manyar, karya Y.B. Mangunwijaya):
ketika masa berahi, burung-burung manyar jantan membangun sarang untuk menarik perhatian betina. mereka berlomba untuk membuat sarang yang sebagus mungkin. Hingga pada saatnya si betina memilih, dia akan memilih sarang yang terindah di antara sarang-sarang buatan para jantan itu, dan si pembangun sarang akan menjadi pasangannya. Lucunya, ketika tahu sarangnya tak terpilih, burung-burung manyar jantan lainnya akan merusak sarang buatannya sendiri hingga hancur-lebur, dipreteli dan dilolosi hingga tak berbentuk lagi, mungkin sebagai ekspresi kekecewaan.
Tetapi, burung-burung manyar jantan selalu optimis, dia akan membangun sarang baru lagi dari nol, dengan mengumpulkan bilah daun tebu dan rumput kering, dengan harapan ada burung betina yang memilihnya nanti.

Yang esensial di sini adalah refleksi, berkarya dengan bercermin pada dirinya sendiri, yang hasilnya adalah untuk dirinya sendiri (tetapi nantinya bukan hanya untuk dirinya sendiri), mulat sarira atau “mengukur diri”, yang dalam tahap berikutnya sebagai “persembahan” kepada dunia.
Swa-rwang adalah tempat untuk meraba diri, mempertanyakan entitas dirinya sebagai upaya menempatkan diri dalam konfigurasi agung semesta.”

sebuah pergulatan sendiri, sebagai ajang refleksi untuk persembahan pada semesta.

Nah Sarang lagi dibuat materinya ya mas Anas, Sepertinya kita perlu merangkul kutub yang berbeda jadi begini, saya ingat ada pameran ketukangan yang dipamerkan di Venice Bienalle, yang dikuratori oleh David Hutama, Avianti Armand, Setiadi Sopandi, Ahmad De ni tardiyana, dan Robin Hartanto. Mereka mengkategorikan perkembangan arsitektur melalui bahannya. Yang dalam pandangan saya bahwa karya ini bisa bersifat romantis, pada jiwanya, pada filosofinya, pada pengantarnya, namun untuk produk yang diberikannya, sarang perlu menegaskan bahwa ia berorientasi pada kerja keras, untuk memecahkan masalah. Nah kepikirannya, bahwa framework dari ketukangan itu kita bisa pakai, sekaligus sebagai usaha untuk meneruskan semangat pameran mereka, nah kita – kita yang meneruskan. Jadi yang terpikirkan ada pembahasan tentang kayu, batu, logam, bata, plastik, yang akan dipamerkan adalah gambar – gambar detail saja, sebagai satu sumbangan akan vocabulary untuk yang masih muda – muda, semoga bisa membantu untuk mengarungi profesi yang sedemikian kacau beliau. Jadi rumusnya akan dibagi, resepnya akan dibagi – bagi disini, seluruh perkembangan studio sampai saat ini melalui gambar, video, dan gambar kerja. Ini adalah sebuah tantangan untuk merefleksikan, atau mengkuratori diri kita sendiri yang berguna untuk perkembangan sarang itu sendiri. dengan detail effort yang tertinggi akan muncul karena disitulah dituntut ada konsistensi, dan permainan detail adalah bagaimana kita konsisten dalam bentuk dan intensi desain dari macro sampai titik terakhir begitu pekerjaan itu diselesaikan.

Yang menarik adalah di pengantar, ada beberapa fakta yang kita coba ulas, bahwa dalam pengerjaan 350 proyek yang ada sekarang, yang terbangun hanya sekitar 10 – 15 buah, selama 4 tahun. Jadi kita bisa cerita soal kompleksitas profesi yang memang membutuhkan kesabaran dalam berarsitektur. Kita bisa cerita juga tentang stastitika jumlah adik – adik yang datang dan pergi. di RAW , di DOT, atau di Omah library. sebagai satu jalan untuk melihat satu jalan yang penuh turun naik, tumpang tindih, manuver kiri dan kanan, dan melihat permasalahan yang tidak sederhana. Sarat dengan ledakan informasi, tanpa tedeng aling – aling, tanpa permisi, dan kemudian kita pergi dengan terbirit – birit ha ha ha, semoga tidak dikejar orang – orang. Arsitektur yang kita jalani sehari – hari saya setuju ini urusan profesi, menggapai kesempurnaan dan menghidupi banyak orang dengan inspirasi, dengan kenyamanan, juga dengan fulus yang diciptakannya.

Sumrabah ini menarik mas anas, bagaimana menyebar kemana – mana tanpa intensi khusus untuk itu, namun dengan keinginan untuk berbagi itu pun sudah sebuah intensi ya. Namun bagaimana yang dibagi itu, merasa dikentutin, atau dibelai, itu lain halnya, soal bertemu kekasih dan bertemu godot, yang tidak pernah ada. Saya coba cari referensi yang diberikan mas Anas, Finding Godot, apa ada referensi lain yang bisa dibagi, sayangnya dekonstrusi kimbell saya ngga dapat, sulit untuk dicari.. kembali ke sumrabah, kalau – kalau yang dibagi itu bisa menerima, dan suka, cinta dengan apa yang dibagi, atau sebenarnya mereka sedang menelisik adakah cinta disana, adakah sarang(dalam bahasa korea berarti cinta) itu ada disana, kalau ada , maka mereka (burung – burung manyar ) akan bersiap – siap memadu kasih.

Sedikit cerita lagi mengenai almarhum Heinz Frick, saya kebetulan berkesempatan ke rumahnya dan ke ruang tidur sekaligus ruang kerja dan perpustakaannya. Orangnya rapih sekali, ada map – map, manuscript, yang berisi kliping, dan data statistika dari buku – buku yang dikopi. Dari situlah saya melihat orang ini, adalah seorang akademisi yang bisa mampu memilah – milah informasi dan bekerja sama, dilihat dari banyaknya buku, kualitas buku, dan orang- orang yang diajak bekerja sama dalam pembuatan buku. Dan kemudian kemarin pada waktu saya ke cilacap, kebetulan saya take off dari bandara Halim Perdana Kusuma, disitu ada buku judulnya working clean karya dari Dan Charnas, ia mengetengahkan konsep mise en place, saya tuliskan prefacenya disini ya,

“everyday, ches across the globe churn out enormous amounts of high quality work with efficiency using a system called mise – en – place- a french culinary term that means “putting in place” and signifies an entire life style of readiness and engagement. …. Charnas speels out the 10 major principles of mise – en – place for chefs and non chefs alike : (1) planning is prime (2) arranging spaces and perfecting movements (3) cleaning as you go (4) making first moves) (5) finishing actions (6) slowing down to speed up (7) call and callback (8) open ears and eyes (9) inspect and correct (10) total utilitzation. ”

Ini ada paradigm ekstrim mengenai bagaimana chef bekerja, seperti ada ceritanya si Jimi Yui adalah seorang kitchen desainer terkenal, seperti paradigm biasa, bahwa dapur perlu besar dan lux, membuat setiap chef bergerak dengan mudah. Ini adalah logis, dan bisa dinalar bahwa ini satu kesepakatan yang bisa diterima bersama. Namun Jimi Yui mendesain kitchen untuk chef – chef terkenal di dunia seperti Mario Batali, MAsaharu Morimoto, dan Eric Rippert. Ia mendesain dapur yang sangat efisien, sekecil mungkin, bahkan chef tidak perlu untuk melangkah kemana – mana, ia cukup diam ditempat dan semuanya ada disekitarnya. Hal ini terbukti efisien, tidak membuang waktu, dan akhirnya chef tersebut bisa melakukan hal – hal yang lain, ia membuat stastitika bagaimana chef itu bergerak dan berapa waktu yang terbuang. Nah saya pikir, hal ini ada paradoks dengan apa yang terjadi disekitar kita, terkadang hal – hal yang menjadi kesepakatan bersama, membutuhkan dobrakan, sepertu bagaimana Jimi Yui bekerja. menurut mas Anas bagaimana, mungkin saja bentuk ekstrim studio bisa diredefinisi perlahan – lahan, tentunya dengan niat untuk meningkatkan kualitas.

Saya pikir Mas Anas pun demikian, tulisan – tulisannya mendobrak pemikiran saya, karena soal pikiran itu mudah, rasionalisasinya jelas dan bisa dipelajari namun siapa yang bisa menakar ledakan hati, siapa yang bisa membatasi, apalagi kalau aktornya hanya kita ha ha ha. (maaf mangap terlalu lebar) setelah sumarah, sumrabah, lalu sumringah. ha ha.

Hari ini, sudah akan ada progress untuk instalasi kita, saya akan kirimkan ya, semoga dua tarikan, paradoks, yang terjadi akan membuat kita semakin banyak belajar, dan berkembang, Mas Anas maaf kalau sedikit meledak – ledak, soalnya lama saya belum balas, jadi ide – ide ini menumpuk, baru sekarang disalurkan, Mas kalau sempat kita buat tulisan dialog ini semakin meledak – ledak, saya juga suka sikutan sikutan sampeyan. ha ha.

salam semesta,

Realrich

Rabu, 22 Juni 2016
Dear Mas Realrich Sjarief yang baik,

Selama sekitar tiga minggu setelah pertemuan kita, saya mengalami semacam terpaan gelombang-gelombang yang semakin cepat dalam pusaran. Saya seperti tidak percaya minggu lalu sudah datang ke Jakarta, seperti mimpi saja ketika memberikan lecture di open house-nya RAW/The Guild. Saya juga berpikir, setelah kita saling berkirim email, sampeyan yang arsitek saja masih bisa dan sempat-sempatnya menulis begitu panjang dan bernas. Sedangkan saya yang mengaku architext malah seringkali terlambat menulis, terlalu lama dipendam di kepala dan tak lekas dikeluarkan dalam tulisan (mungkin terlalu banyak pertimbangan, haha, atau kepala saya sudah terlalu kacau, hmmm..)

Saya rasa, tidak banyak arsitek yang bisa melakukan seperti yang sampeyan lakukan (mendesain, menulis, menyeni, dan entah apa lagi). Saya juga percaya, jika arsitek bisa mengungkapkan apa yang ada di kepalanya, maka apa yang dia kerjakan dengan tangannya akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh orang lain. Sebuah kesatuan antara kepala, tangan, kaki, mulut, telinga, mata dan bahkan perut (saya masih yakin juga bahwa arsitektur selalu berurusan dengan perut – selain dengan hati dan otak, seperti sering diajarkan dalam metode perancangan).
Mas Realrich, saya sangat suka dengan cerita-cerita sampeyan tentang para arsitek. Misalnya tentang pak Irianto PH yang katanya mau datang ke kantor sampeyan. Menurut saya, dia tidak sedang melirik ke “sekuntum bunga yang mekar”, tetapi sedang menengok ke “sebuah sarang yang sedang bergejolak” (gejolak positif, bukan negatif), yang menyimpan gelegak pembaruan di arsitektur Indonesia yang sampai saat ini masih mengalami makropsia, kurangnya iklim dialog/diskursus yang bermutu, dll. Ini sarang yang para penghuninya siap nge-trance, dan saya akan terus menunggu ledakan-ledakannya.

Kalau tentang karya terbaik menurut teman sampeyan seperti yang mas Rich ceritakan, yang dipandang secara sempit dari “kacamata kuda”, hmmmm,, saya rasa begitulah cara banyak orang kita dalam melihat karya. Kalau dari pandangan hermeneutik, saya pikir itu sejenis penafsir yang kurang kreatif, yang level horisonnya masih “rendah”, yang ingin membongkar candi dengan kunci inggris, atau ingin menservis arloji memakai pedang samurai (malah terlalu sarkastis, hahaha). Hmmm, saya jadi ingat kata2: “dalam dunia kecap, tidak ada nomer dua (karena semua nomer satu), dalam dunia arsitek, tidak ada nomer satu (karena semua punya nilai/pandangan/karakter sendiri yang jelas tak bisa dibandingkan secara simple saja seperti membandingkan pisang goreng dan kue lemper).”

Senang diceritain buku The Power Paradox-nya Dacher Keltner. Tentang power, yang berseliweran membentuk tegangan-tegangan. Power-nya Machiavelli, Will-nya Nietzsche sampai Desire-nya Deleuze memang menarik untuk diikuti. Sampai-sampai sampeyan membikin antitesisnya: Sumarah (menyerahkan diri). Mungkin nanti akan ada sumeleh (meletakkan hati) atau sumrambah (menyebar ke mana-mana). Antitesis itu membuat tegangan-tegangan akan makin dinamis, membuat pusaran semakin mendebarkan…
O iya, saya belum pernah membaca bukunya pak Yuswadi Saliya yang berjudul “perjalanan malam hari” (sekaligus ngarep dikirimi dari Jakarta, hehehe). Ya memang dalam dunia praksis yang kadang-kadang begitu pragmatis (dan ekonomis), perlu seorang begawan yang selalu mengingatkan, atau membantu merenungkan tentang profesi arsitek. Bukan sebagai (sekedar) pekerjaan belaka, tetapi sebagai panggilan semesta. Kalau kita balik menjadi “perjalanan menuju pagi” bisa jadi lebih seru. Semacam perjalanan “habis gelap terbitlah terang”. Kita memang harus optimis bahwa pagi akan tiba, saatnya beraksi di bawah matahari kesadaran…

Saya kemarin sudah bikin sedikit tulisan tentang “sarang” untuk kolaborasi kita. Mungkin masih belum matang sih, akan saya coba untuk lebih menajamkannya lagi…
salam,

Anas

Kamis, 16 06 16

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Ketika pusaran itu bergerak, dan mungkin saja kejujuran menjadi penting, karena semua hilang arah, karena arsitek kehilangan kuasanya karena percepatan pertumbuhan jaman, dengan gejala – gejala hati yang sombong, dengki dan penuh angkara murka tanpa adanya kuasa. Saya sangat tertarik dengan bahasa hermeneutik sampeyan, dengan tafsir – tafsir yang mendasar yang sebenarnya menyadarkan kita semua, bahwa kita perlu percaya kata hati kita, bahwa kita adalah singa yang ada di alam bebas, bukan singa yang ada di sangkar besi. Penyentuhan presentasi njenengan adalah penyentuhan hati, yang bisa menyentil orang yang pintar menjadi marah, dan tidak terima, dan ketika kita sadar, ternyata yang diarahkan adalah bukan hitung – hitungan belaka, namun ini adalah soal hati.

Soal peran arsitek menjadi 1 %, mungkin kita semua disadarkan untuk harus selalu dekat dengan tanah, karena memang kuasa kita adalah ketika kita masih mengerjakan project tersebut. Ketika karya tersebut selesai dan tuntas peran kita, maka peran arsitek menjadi 1 %, dan memang 1% oleh karena sekarang saya menjadi bisu, mas anas saya tantang untuk mengambil 99 % tersebut dan mengambil alilh peran arsitek, menjadi peran tafsir untuk kebaikan publik.

Mas Anas, baru saja satu adik yang saya kenal mengabarkan bahwa ada satu arsitek senior, yang terkenal emosional, blak – blakan, ganas, dan rupawan dan ganteng, ingin datang mendatangkan satu kantornya ke theguild untuk berkunjung, namanya pak Irianto Purnomo Hadi dari antara architect. Ndalem sangat penasaran kenapa beliau ingin datang, mungkin saja, ini dari tebak – tebak tanpa maksud apa – apa bapak itu penasaran mendengar dari anak kantornya ketika acara kemarin, semesta sedang bergerak, dan sebaiknya kita menyambungnya dengan gegap gempita, gelap atau terang, mungkin saja kita akan bertemu pendekar atau guru yang belum terlihat, tokoh – tokoh baru. Mungkin saja ada tokoh – tokoh yang lain muncul satu persatu, dan memang ini pusaran bergerak saling tarik menarik yang sudah dimulai, ditanggapi dan diteruskan dalam langkah – langkah selanjutnya, syukur – syukur kalau orang – orang itu bisa ikut nge trance dan joged bareng, dan kemudia kita bisa berdialog juga, bermimpi bersama.

Saya ada cerita bertemu teman baik saya di satu acara di pameran di casa kemarin, dan ia bercerita tentang bahasa batu bata yang baru ia lihat, katanya arsitektur itu adalah arsitektur terbaik jaman sekarang, karya itu adalah karya seorang arsitek senior. Saya melihat foto – fotonya, dan sempat takjub, memang itu adalah satu karya yang luar biasa. Luar biasa karena konsistensi permainan detail, pengolahan ruang dalam – luar, terkejut, tenang, dengan permainan – permainan cahaya. Namun, saya kemudian berpikir, apa itu terbaik, dan apa ada yang terbaik ? Apa perlu ada sesuatu yang terbaik ? Kita mendapatkan terbaik mungkin untuk mendapatkan satu contoh yang ekstrim dengan permasalahan yang dipecahkan secara spesifik, tentunya sudut pandang dalam melihat kualitas menjadi penting.

Saya pun iseng saja sebenarnya menimpali, bahwa ia perlu pergi ke India, untuk melihat satu master disana yang sudah membangun 35000 rumah dan memiliki arsitektur yang jujur untuk memecahkan masalah cuaca, konstruksi, pemilihan material, dan pengolahan bahasa arsitektur yang eksotis sarat akan alasan dan intuisi (Laurie Baker) , ataupun ia perlu ke Italia untuk melihat kekayaan detail yang didesain oleh Carlo Scarpa, atau malahan melihat Pohsarang Kediri dengan pembahasan ndoro klepon yang sampeyan tuturkan didalam buku Arsitektur Koprol mengenai lokalitas dan inovasi yang melewati keterbatasannya, atau lebih – lebih lagi arsitektur turen yang dibangun oleh santri – santrinya atas nama cinta. Bahwa ada arsitektur yang berupa – rupa dan unik – unik berbeda dengan arsitektur yang disampaikan tergantung sudut pandang yang ingin diciptakan. Arsitektur unik – unik ini memberikan warna – warna yang berbeda dalam kebudayaan dunia yang pluralistik, oleh karena itu, apakah pantas argumen terbaik itu muncul, mungkin saja, namun argumentasinya kalau hanya simplistis berupa kesan, gambar, tanpa memahami satu gambaran yang utuh adalah mungkin saja benar atau mungkin saja sedang tersesat. Saya melihat dibalik kedigjayaan yang ada, inovasi arsitektur dari gambar tersebut masih bergulat diantara wabi sabi, imperfect but perfect, seperti kevin Mark Low, atau Alvar Aalto, maka saya perlu kesana untuk mengalaminya secara langsung., Pada saat terakhir berdebat, ada satu kalimat yang membuat saya terhenyak bahwa setelah kita berdiskusi , katanya ia membatasi pembahasan karya yang kita perdebatkan yang hanya ada di Indonesia, dan tidak melihat negara lain, saya merasakan sedang dikentutin, dan itu bau kacang mente, ha ha, inilah sebabnya kalau menilai tanpa sudut pandang, pasti akhir – akhirnya bau kentut akan keluar.

Secara sikap, saya kemudian membayangkan seakan – akan kita ada di jaman 1800 dimana di Inggris taman – taman publik dibatasi oleh pagar – pagar besi dan hanya orang- orang ningrat yang boleh pergi ke taman. Pagar tersebut adalah representasi batasan terhadap informasi, seketika paradigma pembicaraan menjadi sempit sayangnya tanpa sudut pandang mengapa satu karya itu dianggap terbaik, bukan mau – maunya sendiri nilai sini nilai situ, lagian siapa lu siapa gue ? maaf kalau sedikit sarkasme atau sinis.

Terus terang saya sangat bahagia membaca tulisan njenengan yang berjudul The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian , yang memiliki penafsiran seperti itu, saya tidak akan berkomentar apa – apa, hanya bahagia dengan respons yang ada, berarti ada dialog yang semakin intens antara kita, saling babat, tendang. sikut, pukul ataupun belai membelai, dari benci menjadi cinta, dan sebaliknya, dua tegangan yang berbeda.

Mas anas, saya baru mendapatkan buku bagus, yang judulnya The Power Paradox tulisan dari Dacher Keltner, disini ia membahas mengenai, buku machiavelli, the prince mengenai bagaimana mendapatkan kekuatan dunia. Sumarah memberikan antitesi dari apa yang ditulis oleh machiavelli, namun buku yang ditulis oleh Keltner ini, memberikan sebuah perspektif mengenai kekuatan paradox, dari tegangan – tegangan pada kondisi ekstrimnya masing – masing yang ada disitulah muncul kekuatan apabila kita bisa mengambil paradoks yang terjadi. Di balik sebuah krisis ada sebuah peluang, pertanyaannya, dengan sebegitu problem profesi kita, mungkin saja kita belum mengambil manfaat darinya, dengan mempertimbangkan peluang – peluang yang ada.

Dari masalah disitulah adanya manfaat, mungkin saja kuncinya adalah bukan di arsitek tapi di ketukangannya, mungkin saja kuncinya malah di teknologi bangunan, bukan di programming, mungkin saja lebih – lebih lagi kuncinya adalah pola pikir (paradigm) bukan programming, seperti yang dibahas Collin Rowe, apakah kita mendesain programnya dulu, atau bangunannya. Kita semua di tangan manusia – manusia yang disebut arsitek ini, bandul keseimbangan di antara tegangan tersebut bisa dimainkan olehnya, bukan dipermainkan olehnya. Mungkin dari situ perlunya keahlian saja dalam aspek – aspek diluar arsitektur, terutama mengenai hati dalam bersikap, perlunya training yang matang, dan sikap dekat dengan bumi.

Mas Anas sudah pernah membaca buku perjalanan malam hari yang ditulis oleh pak Yuswadi Saliya ? Saya pikir setelah saya membaca buku itu, saya mungkin berkesimpulan, beliau kecewa dan apa iya lagi frustasi ya dengan iklim kita. Kebisaannya dalam tuturkata, melahirkan sebuah tulisan yang berisikan kompleksitas profesi kita yang carut marut yang disusun dengan runtun.Kalau tidak ada nanti bisa saya kirimkan satu dari Jakarta, sepertinya saya punya lebihan di perpustakaan. Sempet saya iseng saja berpikir gimana kalau judulnya kita balik, menjadi perjalanan menuju pagi, seakan – akan ada optimisme untuk arsitektur yang lebih baik lagi, dari situ ada kekreatifitasan untuk menjaga arsitektur kita lebih baik lagi, yang saya yakin dengan arsitektur yang baik, maka profesi akan lebih baik lagi, tentunya dengan landasan hukum, pranata, dsb dsb.

Kondisi kesehatan saya sedang turun, dari acara kemarin sampai ke pekerjaan – pekerjaan yang menuntut kita untuk berkomitmen. Maklum mungkin ini sedang mau lebaran, jadi semua senggol – senggolan, ingin berdialog, saya pikir ini wajar, hanya saja sekarang sedang musim penyakit flu jadi kena juga. Sedikit istirahat pasti bisa membuat segar kembali, apalagi setelah membaca, The Gerundelan of 99,9% The Guild: Arsitektur Jaman Edan-Urban-Scarpan-Deleuzian, saya pun menjadi segar. Mas Anas untuk pameran IndonesiaLand kita nanti saya persiapkan dulu ya, bagaimana kita bisa saling membelah diri, namun rangkaian prosa- prosa ini bisa menjadi satu pelengkap untuk dialog yang manusiawi, karena kita kan manusia ya bukan alien ataupun monster jadi – jadian ha ha ha. Namun sudah jelas nanti kita berkolaborasi ya,

Salam,

Realrich

Dear Mas realrich Sjarief yang baik,

Terimakasih atas cerita-ceritanya yang menyegarkan, tentang Boss Utara dan tentang Andra Matin, juga tentang Pendidik Utara. Lakon-lakon penting yang malang-melintang dalam pusaran arsitektur kita. Saya suka sekali dengan metafor “pusaran” yang sampeyan sampaikan (sejak di Artotel minggu lalu), ada semacam kedinamisan, sekaligus juga permasalahan dan kompleksitas di sana. Hmmm… sampeyan masih sempat-sempatnya menulis panjang di sela-sela kesibukan senin ke senin, rabu ke rabu. Benar-benar Architrance… hehehe…

O iya, saya sangat tertarik untuk tawaran kolaborasinya, ayo kita mulai. Wastumiruda sebenarnya sudah lama ingin turun gunung, hanya menunggu waktu yang tepat saja. Dan rasanya, saat ini adalah waktu yang tepat, ketika saya bertemu dengan seorang Architrance dari Batavia Barat, yang kadar trance-nya sudah mulai menyeruak dalam pusaran.
Saya ingin membahas sedikit tentang celah, atau pintu kecil (ini terpikir dari jalan masuk 60 cm yang sampeyan paparkan). Di Serat Jatimurti (sebuah kitab lama Jawa yang membahas dimensi), ada bahasan tentang Alam Kajaten (Alam Kesejatian), yang menyebutkan bahwa alam kajaten itu merupakan alam yang bisa menampung yang tak terbatas, bahkan bisa menampung seluruh isi semesta.
Saya menafsirkan alam kajaten itu sebagai “pintu” (bisa berupa celah, lorong atau lubang). karena “kekosongan” pintu berbeda dengan “kekosongan” ruang (space). Jika ruang pada hakekatnya berupa volume yang bisa menampung sekian orang (dan bisa sesak, atau penuh), sedangkan pintu bisa dilewati ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan orang, mungkin sampai angka tak terbatas dan tak pernah penuh (karena pintu kodratnya untuk dilewati/dilalui, bukan didiami/diduduki/dikuasai).

Untuk acara hari Minggu, saya tidak ada usulan, saya sudah pas diletakkan di awal, sebagai sebuah pancingan agar penafsir-penafsir lebih bebas mengungkapkan apa yang ingin mereka sampaikan. Kalau untuk profil saya, cukup ditulis: Architext saja. Atau kalau mau agak panjang: Architext lulusan S1 (Arsitektur) dan S2 (Perancangan dan Kritik Arsitektur) ITS Surabaya, yang sedang menulis beberapa buku (termasuk Buku 15 Cerita), Dosen (UKDC dan UPN Veteran Jatim Surabaya), dan Dalang Wayang Arek (meskipun jarang manggung, hehe)

Setelah membaca 99% The Guild, rasanya saya ingin cepat-cepat datang untuk melihatnya secara langsung sebagai experiencing. Dari deskripsi sampeyan, saya rasa ini studio yang hidup, yang lahir dan berproses dari pergulatan, dan layak untuk diapresiasi publik. Yang setelah minggu sore besok segera berubah menjadi 1% The Guild, karena arsiteknya Bunuh Diri (hahaha..), dan publik dengan leluasa akan menafsirnya. Ini saya singgung juga di paparan saya untuk acara minggu sore besok.

sampai ketemu di acara besok,
salam,

Anas Hidayat

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Mohon maaf saya baru membalas surat ini. Hari senin dan hari selasa sampai rabu biasa menjadi hantaman terbesar dalam kondisi berpraktek, kita punya inisiasi energi selama hari – hari awal minggu supaya bisa beristirahat di akhir minggu. Sebenarnya dipikir – pikir hidup itu sederhana, dari senin sampai senin, selasa sampai selasa, rabu sampai rabu, dan seterusnya, usaha kita menjalani hidup – hidup ini ya usaha yang untuk bisa hidup saja.

Saya mengidentifikasi wastu miruda dengan njenengan karena memang itu pemikiran, yang saya berandai andai ada pemikiran, perbuatan, hati, setidaknya ini bisa menelisik siapa itu anas hidayat. Mungkin saya ini menurut archilexicon wastumiruda adalah architrance= arsitek kesurupan mas ha ha ha. Terus terang membaca wastumiruda, seperti kembali ke saat – saat subtil, mungkin karena memang ruang hampa itu diciptakan sebagai jeda dalam keseharian, disinilah saya berpikir komunikasi ini menjadi penting.

Minggu kemarin selepas dari Bandung dan Surabaya, saya berkesempatan berkunjung ke satu lakon yang cukup penting, ia bisa kita namakan boss utara selain pendidik utara si David Hutama. Nama si boss ini Sonny Sutanto, unik karena saya menemukan pendekatan yang biasa – biasa dan wajar dalam berproses, beliau memang arsitek yang menangani banyak kasus komersial, namun disitu saya merasakan ada struktur, ada kategori, ada satu pranata yang dibuat dengan baik. Setiap desainer dikotak – kotakan supaya bisa punya otoritas, dan drafter ditempatkan di satu tempat terpusat, si boss ada di tengah – tengah semua dengan akses langsung ke perpustakaan. Detail arsitekturnya diwarnai oleh dekoratif dan quote ada di letakkan di courtyard yang menyatukan fungsi – fungsi yang ada. Yang menarik adalah buku yang diedit oleh David Hutama. Karena buku ini menunjukkan kekompleksitasan profesi arsitek kita di dalam rentang waktu 20 tahun terakhir, sehingga informasinya bisa digunakan untuk kita – kita yang muda ini dalam menapaki profesi kita yang tidak teratur, dan lemah akan apresiasi dalam dan luar.

tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
tampak depan kantor Sonny Sutanto Architect
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
area foyer sekaligus tangga dengan desain kulit terracotta
Proses Pembangunan yang ditampilkan
Proses Pembangunan yang ditampilkan

Ini kontras dengan buku yang baru dikeluarkan oleh Andra Matin, yang simplistis, minim akan informasi, hanya berubah interview satu arah dan minim akan penjelasan gambar dan tekstual. Saya kemudian bertanya – tanya, apakah ini karena cepat – cepat, atau memang saja karakter andra matin yang simplistis dan easy going ataupun yang hangat dan cepat dekat dengan siapapun. Mungkin inilah contoh adanya dua tegangan yang berbeda akan pola pikir yang berbeda juga, saya yakin proses pergumulan perumusan buku Sonny Sutanto sangat besar, dan membutuhkan waktu yang lama. Selepas dari berapapun biaya dijual bukunya, yang saya pikir itu lebih ke dalam hal – hal bisnis dan tidak esensial dalam membicarakan bagaimana satu karya itu dibedah. Saya harus memberikan apresiasi kepada mata air yang mulai muncul satu persatu dengan tegangan – tegangn berbeda . Sayangnya si pendidik utara ini sebentar lagi pergi ke negara kuda besi, saya harus kehilangan teman sepemikiran, oleh karena itu mas Anas jadi semacam, penyegar, semoga kita bisa mendapatkan penyeimbang dalam alfa yang muncul kembali untuk membentuk omega yang akan datang sebentar lagi.

Kembali ke obrolan surat- surat kemarin, kebetulan saya diundang bu Sarah ginting dan Chobib untuk berpameran di Indonesia Land, membuat instalasi lagi. Sebenernya saya capek berpameran ini, karena kondisi praktek yang sudah menyibukkan, namun berpikir juga bahwa ini adalah satu momentum untuk berbagi ke publik, disaat pameran ada kita bisa punya agenda untuk berbuat kebaikan.

Saya berpikir ya mas, kalau – kalau wastumiruda mau turun gunung, ayo kita pameran bersama. saya ajak mas anas hidayat kolaborasi, saya sudah bicarakan dengan Sarah dan Chobib, dan mereka manggut – manggut excited melihat architrance = arsitek kesurupandi depan mereka sepertinya ha ha ha. Kalau mau ya, nanti disiapkan ya text ataupun pemikiran, tentang wastumiruda, kebetulan kita punya banyak jejak – jejak kehidupan di studio saya, jadi mungkin setelah pavillion sumarah kemarin, mungkin bisa jadi kita bisa buat satu instalasi hyper small, hyper complex, maze, terbuat dari kotak – kotak rubik cube, dimana orang masuk diberikan jalan 60 cm, pas tidak lebih tidak kurang, mengikuti alur yang sebenarnya pengunjung tidak mengetahui apa akhirnya. Itulah cerminan budaya kita mungkin, komplekse, disorder order, paradoks. mungkin tekstual bisa mengiringi dan dalang pun bisa mulai berpantun, berdongeng untuk cerita – cerita di masa lalu masa kini dan masa depan.

O Iya hari ini akan diatur sama kantor saya ya untuk tiket surabaya jakarta, dan akomodasi selama disini satu hari, monggo mawon kalau ada usulan mengenai acara, saya buatkan publikasinya 1 2 hari kedepan soal mas anas ya, apa bisa dikirimkan profil njenengan, ya saya buatkan judul lecturenya 1 % yang dinanti, kalau mau diganti silahkan ya:

ada 2 hal yang mau saya share lagi, pertama tulisan soal 99% theguild, dan ada breakdown acara dari website, saya tuliskan satu – satu dibawah ya, yang ketiga ada di attachment itu brosur untuk acara kita di hari minggu

1. 99 % The Guild
99% The Guild adalah refleksi sebuah pemahaman terhadap kondisi dua jalan pemikiran proses desain yang paradoks. Pemahaman pertama diukur dari pergumulan manusia tentang mencipta ruang dari bentuk – bentuk yang sudah pernah diketahui dengan kombinasi bentuk baru yang kemudian dicari kembali kegunaannya dari pengalaman – pengalaman masa lalu. Ini adalah bentuk pelatihan tanpa henti sehingga terkulminasi di dalam momentum begitu desain itu diciptakan sesuai citranya dengan perjalanan panjang. Ini adalah soal definisi sekaligus fungsi supaya mempunyai nilai kejujuran dalam produk dan proses. Disinilah proses kreatifitas selalu berusaha menembus batas dari batasan yang mengelilinginya dari angan – angan dari arsitek menuju coretan garis, seluruh aktualisasi pengalaman dalam coretan – coretan garis pertama, kedua dan seterusnya.

Pemahaman yang kedua adalah ukuran hubungan manusia dari dalam ke luar. Ini adalah cerita bagaimana memanfaatkan segala keterbatasan lokasi, juga manusia – manusia pembuatnya, lokasi dan cuaca yang ada , dan manusia – manusia yang akan menggunakannya. Disinilah ada proses negosiasi dari keterbatasan sumber daya, waktu, dan lebih – lebih lagi keterbatasan pemikiran dengan orang – orang sekitar, disinilah adanya proses transfer ilmu pengetahuan, yang disengaja ataupun tidak disengaja dalam satu proses yang alamiah dalam proses mencipta arsitektur yang rasionalis juga impulsif, dan intuitif.

The Guild dimulai dari , sebuah studio di dalam garasi berukuran 3 m x 10 m yang memulai titik pertamanya, menorehkan garis, dari satu ruang yang bercat hitam minim akan cahaya, yang memiliki keterbatasan ruang ergonomi yang ekstrim di rumah orang tua saya, dimana batas nyata – nyata terlihat mewarnai derap langkah kawah candra dimuka tersebut . Garasi Itu adalah tempat dimana desain digodok, dari mentah menjadi matang menanti supaya daya energinya bisa diledakkan dalam kekuatan tangis dan tawa dalam kenangan yang sudah menghujam jantung pikiran dari senin menuju senin, dari subuh menuju subuh, dari senja menuju senja, dari hari raya ataupun hari – hari biasa. Kemudian pertanyaan muncul mengenai apalagi bentuknya setelah babak pertama selesai dan babak kedua siap dimainkan ketika memang waktunya sudah tiba untuk pindah ke tempat yang baru.

Proses desain The Guild dimulai dari sebuah kombinasi program rumah, kantor RAW , dan perpustakaan arsitektur omah library yang didesain berupa kotak berukuran 12 m x 12 m menggunakan grid 6 m dengan perhitungan untuk mengurangi sisa bahan konstruksi baja, dengan teritisan panjang, kantilever baja berekspresikan semen, kayu, baja, dan material yang transparan. Permainan terbuka – tertutup didasarkan atas pertimbangan skala ruang dan pertimbangan untuk untuk menangkal cahaya matahari di antara jam 9 pagi sampai jam 4 sore dengan perhitungan bahwa setiap material tersebut punya thermal konduktifitasnya sendiri – sendiri. Pertimbangan tersebut terkulminasi menjadi perhitungan bentuk dari ketinggian, besar dan kecil, penempatan dan sudut – sudutnya pada sisi atas bangunan, pada sisi kulit luar bangunan.

Omah library diletakkan di sisi terluar, perimeter dan setengah di bawah ketinggian 0.00 karena pertimbangan akses publik dan kebutuhannya yang membutuhkan kondisi untuk menjaga buku – buku dari terik matahari, dan temperatur yang konstan dengan sesedikit mungkin menggunakan penghawaan buatan dengan akses akhir adalah sebuah ruang penyatu dari ketiga fungsi yang ada.

Bangunan dibagi kedalam zona publik dan privat seiring dengan bertambahnya lantai, makin ke atas makin privat, dengan pertimbangan akan bangunan yang modular, sirkulasi yang memudahkan orang untuk menggunakannya sesuai dengan 3 program : perpustakaan, studio, dan kediaman. Studio RAW didesain dengan bentuk yang kotak total 3 lantai dengan floor to ceiling sebesar 2.1m dengan permainan solid void, lengkung dan bidang lurus untuk memecahkan floor to ceiling yang cukup pendek. Area desainer, associate, dan administrasi disatukan dengan satu buah ruang tengah berukuran 3 x 6 dengan mezzanine di tengah – tengahnya yang 3 fungsi ini adalah jantung dari kantor arsitek. Ruang prinsipal ada di daerah dekat dengan ruang keluarga, terpisah dari kantor dan disinilah tempat pertemuan kantor dengan pihak luar menghadap ke taman yang merupakan ruang penyatu dari OMAH ruang keluarga dan studio RAW

Akses langsung dari studio RAW dan ruang keluarga yang multifungsi dihubungkan dengan foyer 2 x 2 m dengan pintu masuk yang sama, menunjukkan bahwa orang – orang yang bekerja di dalamnya diterima sebagai satu keluarga besar. Hanya ada satu kamar tidur disini, yang memiliki ruang keluarga sendiri di lantai atas dari ruang keluarga berukuran 4 x 12 m.

Terkadang bisa terlihat ada kenakalan – kenakalan bentuk yang tidak terduga, sebagai interpretasi bahwa arsitektur juga tidak lepas dari mimpi, dan coretan – coretan garis lengkung dan tegas yang, bahwa aktualisasi adalah sebuah fungsi juga dengan takaran yang wajar. Pengolahan – pengolahan detail selanjutnya adalah bagaimana mengaktualisasikan ke dalam fungsi bagaimana struktur dari detail berdiri, bagaimana kemudahan proses perawatan, dan bagaimana menambah efisiensi seperti memperkecil beban dengan memilih material dan bentuk sambungan yang tepat untuk memperkecil biaya dan menambah kompleksitas bahasa detail dalam bentuk yang terpikirkan dan terkomunikasikan dengan tukang – tukang dari waktu ke waktu. Intensi dari detail yang didesain ada 3 , yaitu desain berusaha untuk memperkecil volume barang yang dipakai (efisiensi biaya) , memperbesar celah – celah kretifitas pekerjaan tangan (ketukangan) , memperingan berat dari volume yang didesain (kemudahan prefabrikasi).

Sistem pengairan berjalan secara otomatis, dengan menerapkan zero greywater run off, dan zero storm water run off yang berarti seluruh air ditampung ke dalam bak retensi dengan kapasitas 8 m3 dan bak resapan berukuran 2.75 x 3 m dengan kedalaman 1.5 m yang menyumbang resapan juga ke tetangga yang diletakkan di depan lokasi The guild karena permasalahan banjir yang dihadapi pada saat hujan tiba, menimbulkan genangan air sekitar 500 m2 dengan kedalaman 10 cm di jalan depan.

The Guild adalah sebuah permulaan dari sebuah kantor yang mungkin biasa – biasa saja, desain kantor ini juga tidak spesial, seiringnya waktu, proses, pengunjung, orang – orang pernah , sudah, dan akan datang, menggunakannya dalam porsinya masing – masing bebas untuk berintepretasi, berkhayal, ataupun sedih, dan juga tertawa dalam kesehariannya yang wajar. untuk memberikan pemikiran interpretasi yang tanpa dibuat – buat, dengan seminim mungkin gincu dalam canda tawa ataupun celotehan yang merupakan identitas dari tiap orang – orang yang unik – unik. Disini ’The Guild’ menekankan arsitektur adalah pengajaran semesta mengenai mendapatkan teman, mencipta ruang, dan melepaskan diri sendiri dalam satu proses yang penuh pembelajaran untuk mengenal batas, dan dunia luar tanpa perlu mengharapkan apapun, apalagi tepuk tangan yang megah.

Kita sendiri perlu berkaca cermin dan mata pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kesulitan, problema, dan nafsu yang membelenggunya dengan tertawa dengan mukanya sendiri.

Di dalam dua pusaran pemahaman yang paradoks : dari luar – menuju dalam, dari subtil menuju kontras, dari angan – angan menuju kenyataan, arsitektur the guild kemudian bisa terbentuk. Rahayu kemudian muncul, untuk menemukan keseimbangannya.

Kata 99% berarti adalah sebuah proses yang hampir selesai dimana semua karya akan mengalami hal serupa dimana 1% adalah hasil interpretasi dari pengunjung, pengguna, dan 99 % adalah hasil dari kerja keras seluruh pihak dalam proses pembuatan. 1% dibutuhkan untuk melengkapi 99% menyadi 100 % dimana kekuatan kritik, interpretasi, dan gelak tawa dilantunkan untuk menandai perasaan cinta ketika satu karya dinilai, dirubah, dan diredefinisi lagi untuk kebutuhan di masa depan. tanpa 1 %, 99 % tidak akan menjadi 100 % oleh karena itu, karya dari arsitek seharusnya terbuka dalam produk dan proses untuk semua orang untuk melengkapinya.

Realrich Sjarief

2. ini break down acara dari website ya :
99% The Guild : Open House

We Glady invited you to come to 99 PercentThe Guild : Open house, new home of RAW, Omah Library, and Residence of realrich and family . Please RSVP, to book your schedule, in

https://docs.google.com/…/1AZG_hziz3wFGyLE9mLUCNqe…/viewform

There will be a lecture by Anas Hidayat titled 1 percent yang dinanti, about the death of the architect after the work is born and sharing of the craftsmanship process with the team involved to attract discussion and further response. We need you to RSVP because space is limited, there will be food for people who are fasting at 6 pm after the lecture.

The term 99 % is a process of almost finished which every work is always faced where 1% is left to the future, where work is occupied, changed, redefined by further need. The work of architect processed based on its expedients, alchemy, and experiments during the process of the making. Expedients are about the resources available in the process, alchemy is about the relationship along the persons inside the making, and experiments is more into the product driven by expedients and alchemy. The discussion about this work is based on this 3 category to uncover the relationship in the process of making of the guild which we are all hoping to hear, see, and learn from its 99% product and process. The process of living inside the cluster is always evolving, in this open house, but the process will be opened and shared, for critics and restless spirits just for evaluating the process and product.

invitation card will be given after RSVP because the space is limited. Thank you, see you allDear Mas Realrich Sjarief yang budiman,

Mohon maaf saya baru bisa membalas surat sampeyan hari ini, kemarin saya baru dari Purwokerto, Jawa Tengah naik KA bolak-balik, untuk mewawancarai salah satu arsitek yang masuk dalam Buku 15 Cerita.

Kembali ke pembicaraan awal kita. Sampeyan sudah membaca Wastumiruda ya, hehe. Dan sampeyan malah mengidentikkan saya dengan Wastumiruda, hmmm.. sebenarnya tidak terlalu identik sih, meski saya akui bahwa saya menggunakan Wastumiruda sebagai corong untuk mengungkapkan ide-ide dan pemikiran saya.

O iya, saya sebetulnya sudah lama mendengar nama sampeyan, tetapi hanya sekilas saja, seperti orang berkendara di jalan dan membaca iklan-iklan yang bertebaran, hanya mata yang membaca, tetapi tak membekas di hati. Baru setelah bertemu hari Kamis minggu lalu, saya baru tahu bahwa sampeyan bukan arsitek sembarangan. Apalagi ketika sampeyan menunjukkan website RAW yang berisi tentang karya-karya/konsep/pemikiran/ide-ide sampeyan. Saya semakin penasaran, saya buka lagi tentang karya sampeyan 99% Sumarah, yang terinspirasi dari candi-candi, tetapi menggunakan material kontemporer, dengan filosofi yang membikin saya berdecak kagum. Sebuah bibit hermenutik yang dahsyat, ketika arsitek menyerahkan karyanya sepenuhnya kepada publik untuk ditafsir, dibaca dan dinikmati, dan sumarah dalam menerima konsekuensinya. Mungkin ini sebuah bibit “bunuh diri” juga, wujud kerendah-hatian seorang arsitek.

Jika saya tinjau dari Archilexicon-nya Wastumiruda, sampeyan bukan hanya seorang arsitek, mungkin malah Architecxt, (dengan c dan x sekaligus), karena sampeyan dengan fasih bisa mengungkapkan ide-ide dan karya-karya sampeyan dalam tulisan, yang mungkin pada saatnya nanti menjadi teori-teori yang berguna bagi kemajuan arsitektur kita. Sampeyan juga seorang Bibliarchitect (arsitek yang bergelut dengan buku-buku) sekaligus Archiographer (yang pandai menjelaskan karya). Juga Architectonaut (penjelajah lintas-jagad arsitektur), karena sampeyan menyukai Yue Min Jun yang menertawakan diri sendiri dalam karyanya, yang juga tahu tentang Sudjojojo, Affandi atau Basuki Abdullah.

Ketika kita saling berbalas surat seperti ini, saya bisa berefleksi dan juga mengasah pemahaman saya. Semoga menjadi awal yang baik. Baru kali ini saya mendapat kawan arsitek yang bisa saling-berbalas dengan surat-surat panjang yang penuh makna dan perenungan.

salam hangat,

Anas

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya seakan menemukan lakon baru dari lembaran – lembaran yang terbaca, cerita mu bukan cerita ngawur, cerita yang menunggu untuk memiliki sebuah keadaan sebagai landasan, seperti sebuah alegori dalam arsitektur yang belum siap untuk dinikmati, saya yakin 200 persen perlahan – lahan buahnya akan tumbuh, dan yang sampeyan tebar adalah benih – benih kebaikan dalam profesi arsitek yang serba individualistis, egois, dan mengecewakan sekarang ini, keadaan apresiasi homogen, dan rendah akal namun tinggi nafsu. Inilah cerminan budaya kita yang semu, kita perlu berkaca pada Yue Min Jun, ia menertawakan dirinya sendiri dalam karyanya, dan membuat representasi dari kebudayaan yang membelenggu kita dengan tertawa.

Apa ya, kejujuran menjadi satu yang dinanti – nanti, apalagi kritik terhadap diri sendiri. Akan ada saatnya, saya berharap, bahwa keseimbangan akan terjadi, dan kekecewaaan ini terobati. Setidaknya saya sudah menemukan salah satu teman seperjalanan, dengan mengucap syukur terhadap semesta yang sedang tersenyum untuk merasakan hangatnya bumi dan indahnya langit. Emosi dan impuls yang sedang tinggi – tingginya ini akan menemukan keseimbangannya kembali ketika kembali ke jalur praktik dan akademisi, berusaha untuk berbuat yang terbaik yang kita punya demi orang lain dalam keseharian kita yang kita cerminkan dalam laku, hati dan nalar,

Tokoh wastumiruda, yang saya baca bukan menghindar dari permasalahan, namun ia menghindar dari nafsu dunia, dan kemudian mencari jati diri ke universalan, yang penuh dengan paradoks, akan baik benar, salah benar, lalu, depan, karena semuanya itu benar yang membedakan adalah sikap kita menebarkan kebaikan yang hakiki. Kita dianugerahi ekpresi seperti affandi, daya karya seperti basuki abdullah, dan semoga hati seperti sudjojono, sebagai pramnya sastra, sama seperti yang mas perbincangkan. Kemarin saya perbincangkan pertemuan kita, kepada adik – adik saya di kantor, dan saya pikir, ini menarik, karena Wastumiruda akan datang ke Jakarta, untuk merayakan kematian kematian. Ada perasaan gegap gempita, karena ada perayaan, seperti ngaben di Bali, perayaan – perayaan ini adalah perayaan publik, komunitas, sebagai kesempatan untuk menebarkan nilai – nilai kebaikan.

Saya kemudian bertanya – tanya, apa yang akan terjadi dimasa depan, apa buah refleksi yang akan menghantam kekreatifitasan, nalar rasa dan logika. Apa ombak yang akan muncul, dan saya akan memberanikan diri untuk mengubur diri dan diam, dan menunggu. Satu lakon rasionalistis ada di tangan teman saya David Hutama, dan satu lakon empiris ada di tangan mas Anas, dua pusaran itu, semoga bisa membawa, hantaman terhebat dalam proses berarsitektur ndalem, dengan kesungguhan untuk bisa berbuat untuk orang lain. Ada saya ingat satu lakon, namanya pak Sunaryo mas Anas, saya ingat ini gara – gara mas juga, karena bertemu bu Sarah Ginting, dan Chobib Duta Hapsoro. Dia matahari dari Priangan selain mas wastumiruda ada juga David Hutama, pendidik dari utara, hanya karena dia tinggal di Jakarta Utara ha ha ha.

Sewaktu itu ia sedang membuat WOT Batu dan kebetualan ndalem diundang untuk menyaksikan 50 % dari karyanya pada saat itu, dan seperti pertemuan kita ini, semesta berbicara. nanti saya kirimkan, ndak untuk niat apa – apa, kalau sudah seneng ya begini tingkahnya ndalem mas,

Selamat pagi salam untuk keluarga njenengan,

Salam Hangat

Realrich

Mas Realrich Sjarief yang baik,

Saya sangat tersanjung membaca surat sampeyan. Saya pun sebenarnya ingin membuat sebuah tulisan tentang pertemuan kita kemarin, tetapi masih sebatas angan-angan, dan kemudian malah keduluan oleh surat sampeyan. Ah, sampeyan teryata lebih “Koprol” daripada saya, hehehe…

Selama sepuluh tahun lebih saya berdiskusi dan mengungkapkan pandangan saya dengan para arsitek, baru sampeyan yang secara lugas menyatakan: sangat menarik! dan itu membuat saya kaget setengah mati. Kalau dalam pola pikir Jawa saya, seperti ada Hawaning Bawana atau “Kekuatan Semesta” yang mempertemukan kita, yang semoga terus menggelinding melewati ranah-ranah baru yang lebih menantang…

Mungkin nanti akan saya tulis di blog saya dalam bentuk cerita dengan tokoh bernama Wastumiruda (wastu=arsitektur, miruda=minggat/menghindar). Meskipun blog saya ini kurang terawat, tetapi paling tidak mas Realrich bisa membaca cerita-cerita “ngawur” saya di: https://wastumiruda.wordpress.com/

salam hormat,

Anas Hidayat
REK! REpublik Kreatif
Surabaya

Kamis 02 Juni 2016

Dear Mas Anas Hidayat yang baik,

Saya habis membaca tulisan – tulisanmu di buku arsitektur Koprol di kereta perjalanan dari Bandung ke Jakarta , dan kebetulan ada 2 tulisan yang menyentuh hati saya. Untung saja kita bertemu di satu pagi di hotel Artotel milik keluarga Radjimin dan rekan – rekannya, kita duduk membicarakan hal yang lain, dan kemudian kita bergurau kemudian kita berdiskusi mengenai hermeneutika dalam arsitektur, saya bersyukur diperkenalkan oleh Andy Rahman dalam pertemuan di pameran studio ARA Intimacy kemarin di hari Rabu tanggal 1 juni 2016

Baiknya saya sudahi kronologis pertemuan kita dan, kembali ke tulisan tersebut, Tulisan yang pertama Hikayat Gereja Pohsarang, Kediri, dan dan yang kedua Pondok Pesantren Turen, Malang: Arsitektur sebagai laku. Ada beberapa hal yang menarik, pertama soal lokalitas, dari tulisan ini saya menemukan teman seperjalanan yang satu nafas, setidaknya dalam apresiasi dalam bentuk tulisan. Di tahun 1939 gereja Pohsarang selesai dibangun, dan itu adalah salah satu karya yang melewati jamannya, mencoba untuk menggali kreativitas terhadap budaya setempat, hasilnya adalah arsitektur yang tidak lekang jaman, mana saya tau bagaimana reng itu bisa digunakan sebagai batang tarik yang menumpu genteng. Bentuknya yang cantik, menandai hasil pergulatan Maclaine Pont terhadap keterbatasan. Disinilah usaha untuk menerobos batas itu terlihat dan ada warna yang serupa dengan stadion yang didesain Frei Otto di Munich dalam diskusi dengan Undi Gunawan satu sore di kampus UPH, disinilah saya percaya arsitektur tidak terbatas akan besar kecil. Ini hanya satu butir dalam banyak sekali butir konsep yang bisa ditelaah di Pohsarang dari macro menuju Micro yang masih tersisa, yang kemudian kita mencoba membayang – bayangkan di jaman itu seperti apa kesulitan dan bagaimana konteks bisa direkonstruk untuk mempelajari apabila kita menghadapi kesulitan di jaman sekarang.

Kemudian tulisan kedua, menjelaskan tentang satu pondok pesantren di Turen, Malang, menandakan bahwa ada juga arsitektur yang tanpa turunan, ada di tengah – tengah kita. Saya mencari – cari terus, dimana di bumi nusantara ini, ada arsitektur tanpa turunan, sebagai hasil dari manifestasi pekerjaan tangan yang tumbuh perlahan – lahan seiring manusianya tumbuh yang ternyata ada juga di Nusantara, di sebuah pesantren.

Untung saja saya membaca 2 tulisan ini sekarang, semesta sedang berbicara karena momentumnya tepat dimana kalau – kalau ada dua pusaran di dalam arsitektur Indonesia. Dimana saja kebudayaan akan paradoksial, dan baru saja pak Cosmas Gojali, dan bu Diana Nazir melontarkan  temanya di bravacasa, Simplexity dan Complexity 2016. Arsitektur Jepang, India dan lain – lain mungkin bisa mewakili kesederhanaan (simplexity) dan kemauan untuk kembali ke alam, dan arsitektur barat, bisa mewakili kekayaan bahasa melalui kompleksitas industrialisasinya, dan kekayaan khasanahnya yang sudah turun menurun di sempurnakan menjadi demikian kompleks dan terintegrasi. Dua buah paradoks yang menggapai keseimbangan itu menghantam bumi nusantara kita. Kalau – kalau saya ibaratkan,  Avianti Armand bisa saja reaktif, ataupun besikap  fenomenologis dengan tulisan – tulisannya, ia akan berdiri di tengah pusaran itu, sedikit bergoyang untuk mencari keseimbangan, dan menyalurkannya sedapat yang ia bisa ke arah yang membutuhkan. Namun Mas Anas yang ada di tengah pusaran paradoks,  tidak berdiri, namun sedang tidur terlentang, di tengah pusaran tidak bergoyang sama sekali, menunggu orang – orang mengangkatnya dengan tetap tidur terlentang  kemudian dalam tulisannya mas Anas membuat saya  menyadari bahwa arsitektur memiliki banyak sudut pandang, dan tidak simplistis. Disinilah arsitek mungkin akan mendapatkan kembali kejayaannya, untuk memiliki otoritas karena gayung itu diberikan sukarela karena publik menyadari bahwa ia memang layak dibuat.

Oleh karena itu, saya tunggu mas Anas di Jakarta untuk turun gunung, untuk merayakan kematian arsitek setelah karyanya selesai, seperti kematian seorang penulis ketika tulisannya sampai ke tangan pembacanya sebagai refleksi untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Realrich

 

My Garden of Dreams and Memory – Writings for Baccarat Indonesia

2010, Japan “Beauty surrounds us, but usually we need to be walking in a garden to know it.” – Rumi
1

The writing for Baccarat Indonesia was just published, it was written when we had trip to  Japan few years ago during summer studio, by Professor James Weirick. The trip was about travelling to 4 different cities (Kyoto, Nagoya, Tokyo, some remote area such as Shirakawa, Mt. Gifu, and new site of Imperial Hotel by Frank Lloyd Wright). The brief from Editorial team was about telling story about garden. So the story is about  the zen garden, and story about beautiful garden of versailes, the idea was about explaining garden of the east and garden of the west. Those are two different standing point, one is more about the logic, power of man, another is about the spiritual being, reflection to blend with nature.

Tinggalkan pikiran – pikiran dunia, merunduklah. Dengarlah suara teko air teh yang mendidih, dengarlah suara alam, burung – burung yang berkicau, suara air yang menetes, suara kaki orang yang berjalan, alam sesungguhnya berbicara, rasakan kesempurnaan dalam ketidak sempurnaan, mata ini menatap ke arah huruf kaligrafi jepang yang ada di depanku, kemudian wanita di depan ku berkata, prinsip ini melandasi budaya Jepang pada upacara minum teh, yaitu Simple dan Rustic.

Tak heran semua yang ada di Jepang terlihat begitu sederhana dalam kesehariannya meskipun jejak – jejak modernisasinya juga terasa dimana – mana. Konstruksi Detail – detail kuil yang terbawa dari jaman dinasti Tang China, berubah menjadi sederhana dan tampil apa adanya.dengan warna – warna alam. Berbeda dengan China yang menggunakan warna – warna cerah untuk kuil – kuilnya. Di Kyoto, kuil2 dijaga kelestariannya, di jaga kesempurnaannya setiap 30 tahun, mereka tetap berbicara dengan alamnya dengan kondisi yang terbaik untuk anak cucu mereka untuk melestarikan budaya. Hal ini juga terasa dalam retakan – retakan budaya yang ada di Ubud, Bali yang menyisakan secercah kenangannya akan kualitas spiritual yang masih tersisa.

Musim gugur, di bulan november, saat yang sangat indah dimana pepohonan mulai menunjukkan warna-warninya. Gingko dengan warna kekuning-keemasannya, Mapple degan warna merah kekuningannya, maupun Sakura yang berwarna kecoklatan. Berjalan – jalan ke 4 kota yang berbeda, Tokyo, Nagoya, Kyoto, Osaka. Tokyo, Nagoya, Osaka dengan densitas yang sangat tinggi. Karya maestro – maestro designer Jepang yang bertaburang antara kota2 ini menjadikan kota ini menarik sebagai objek arsitektural ataupun relasinya dengan tata ruang kota. Juga Kyoto, kota yang sangat indah dengan kuil2 shinto dan buddha, menunjukkan transisi dari artifisial ke alam.Dari Jepang aku belajar lebih mencintai budaya, alam dan kesungguhan untuk berkarya. Dari totalitas yang ada, belajar untuk mengembangkan rasio dan rasa, pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya terbaik. Di balik rasio yang bisa didapatkan dari negeri barat, dari budaya timur kita mendapatkan pelajaran rasa dari Jepang, negara yang cantik, dan indah dalam keseharian.

Dari budaya barat dan timur, dari penataan istana Versailes dengan desain taman baroque yang simetris, dengan geometri yang teratur, sampai kepada taman Ryoanji di Kyoto, ataupun taman di desain tata lansekap Bali yang menghadirkan tanaman kamboja dengan berbagai jenisnya. Bahwa pada hakikatnya perencanaan ini untuk menyediakan bunga kamboja sehari – harinya yang dibutuhkan untuk berdoa den meminta rejeki ataupun untuk bersyukur akan rahmat yang diberikan. Bunga ini kemudian semerbak dengan wanginya yang harum. Dari sinilah kita mengetahui kegunaan kamboja di lain sifatnya yang mudah untuk dibiakan, dipotong pada pangkalnya ditanam di media tanah, ia pun akan hidup tanpa perlu air yang banyak.

Ataupun taman vertical pun muncul dalam lingkungan hidup kota yang padat, yang dipopulerkan oleh Peter Blanc, seorang desainer lansekap dari Perancis yang membuat eksplorasi yang sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya, seperti yang ada di gua pindul, ataupun ada di lereng – lereng gunung, dengan memadukan tanaman tersebut di media yang vertikal, dimana hal tersebut dicoba untuk diterapkan dengan pengairan yang baik, dengan sistem yang bisa memadukan dengan keterbatasan tempat.

Taman, adalah sebuah anatomi yang penting dalam sebuah bangunan, layaknya sebuah badan manusia, taman adalah satu hal yang adalah tempat untuk mengembalikan 5 indra kita sebagai manusia, dengan mencium semerbak wangi bunga, atau wanginya daun pohon kayu putih yang bisa tumbuh di lahan yang tidak memiliki banyak air. Ataupun melihat hijaunya daun, merasakan hangatnya rerumputan di kaki kita, mendengar gemericik air dan suara burung – burung, ataupun mengecap manisnya buah – buah yang dihasilkan dari taman.

Di lain itu, taman tidak hanya memiliki parameter terhadap time and space, ataupun economy and ethic, untuk menunjukkan kemewahan, atau, sekedar tempat yang harus ada, atau function and aesthetic, tempat yang cantik – cantikan saja. Tamun taman bisa dikombinasikan sebagai tempat untuk pesta kebun, sebagai place and event, tempat yang merupakan kenangan bagi orang – orang yang datang.

Sederhananya di dalam sebuah rumah, dimana taman yang ini begitu indah adalah taman yang bisa membuat kita berkontemplasi secara puitis terhadap alam. Taman tidak hanya berfungsi sebagai estetika saja, atau sebagai resapan saja yang membuat bumi ini lebih hidup, namun taman ini bisa meninggalkan dan membawa sisi spiritualitas kita lebih tinggi, dengan daun – daun yang berjuta warnanya, dengan susunan batu yang ditata begitu cantiknya, dengan pemilihan tanaman yang diatur dengan kegunaan dan warna warninya. kenangan bagi keluarga mengingat hakikat kita sebagai manusia yang seutuhnya, melebur kepada alam untuk mengingat waktu kita semua yang sedang menghitung mundur, dan tidak perlu tergesa – gesa menikmati perjalanan ini.

“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William Soeryadjaya, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun. “untuk ke bintang, alami kerja keras yang luar biasa dan menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”

This storywas inspired so much by om William, his humbleness towards life explained in his biography which make us  admires him. I remember talking to Ditri, managerial editor of Baccarat, time flies, relationship happened, it madr use started to think, and wake up in this beautiful world, beautiful landscape, how grateful we should be in this world.


3

Summer Pavillion – in one month to go

20140525-164711-60431201.jpgThe Summer Pavillion is on progress, we have 1 month to finish it. Probably something interesting will come up from this summer pavilion, made from almost 80 stacking box, in module. Hopefully it will be finished on time, because I don’t have other working place for people who will join summer course on July.

prefab plywood
prefab plywood

Sendok 1 meter

130512 Jakarta, “Satu – satunya sumber energi yang tak terbatas adalah kasih” 

Ada cerita mengenai orang – orang di surga dan di neraka. Orang – orang tersebut hanya bisa makan melalui sendok sepanjang 1 meter kurang lebih, orang- orang di surga nampak bahagia, fisiknya segar bugar, lain halnya dengan orang – orang di neraka, kurus, kering kerontang. Ternyata, orang – orang di surga makan dengan saling menyuapi orang lain, namun orang – orang yang di neraka, makan untuk dirinya sendiri, ia tidak pernah puas, ia tidak bisa makan, karena sendok tersebut terlalu panjang. Romo berkata, kita bisa melihat orang dari pribadi – pribadinya. fisiknya, apakah ia menjadi terang bagi orang lain atau sebaliknya, membawa kegelapan tanpa batas, kehampaan.

Menyuapi orang lain adalah sebuah sikap, dan cara pandang dalam hidup. Hal ini akan membantu kita dalam menapaki cita dan cinta. Diri ini ingat suatu waktu berpacaran pertama kali dengan istri tercinta, Laurensia. Keinginan pertama adalah, mendengarkan, mengerti pribadinya, kemudian memberikan pengalaman yang terbaik, diri ini menjemput malam hari, diri ini ingat saya hanya punya waktu 2 minggu, sebelum bertolak kembali ke Inggris pada waktu itu. Diri ini putuskan, biarlah ini jadi minggu terbaik yang diri ini berikan untuk Laurensia. Dalam rentang sesaat,di tengah – tengah minggu diri ini beranjak ke Singapore , untuk sekedar berkunjung ke teman – teman karena janji lama untuk bertegur sapa dengan mereka, dan kemudian diri ini merasakan rasa kangen yang luar biasa dengan wanita terbaikku, dan rasa sayang itu mulai ada. Setiap tarikan garis memiliki titik pertamanya, sebuah titik, sama seperti cinta, ia juga dimulai dari titik, titik yang dimulai dari sendok sepanjang 1 meter.  Kemudian disinilah saya dengan wanita yang kucintai, Laurensia.

Teknik dalam mengolah ruang bisa dipelajari melalui belajar dan belajar untuk menempa diri, mengasah sensitifitas, seperti sendok sepanjang 1 meter yang kita berikan kepada orang lain, bagaimana kebolehan kita dipergunakan untuk membantu sesama. Puluhan ribu jam, dengan jam – jam yang panjang yang sudah dijalani sampai  umur 31 ini. Laurensia sendiri akan berulang tahun di bulan ini. Kami berdua, tidak punya keinginan macam – macam, hanya ingin hidup yang sederhana dan cukup. Sendok sepanjang 1 meter, adalah satu sudut pandang untuk melihat dari sisi orang lain.

Bian Poen menulis, ” dalam waktu singkat… kita…dapat merubah nilai – nilai… dimana kekuasaan diubah menjadi keadilan, kejayaan diubah menjadi kedamaian, kebanggaan diubah menjadi kerendahan hati.

Maukah kita melakukan hal itu, jika ya, maka arsitektur dapat menjadi rahmat.(Bian Poen). Dalam satu sudut pandang, mendengarkan orang lain bukan memperjuangkan ego kita, mendengarkan kata hati bukan emosi hati,  mendengarkan alam dengan segala keindahannya adalah satu rahmat yang luar biasa, kemudian kebahagiaan itu datang begitu saja. Inilah arsitektur yang lain, arsitektur kehidupan. Diri ini belajar untuk menjadi manusia dengan segala potensinya dan lebih – lebih keterbatasannya.

Diri ini merasa bahwa dalam hidup kita yang singkat ini, diri ini tidak pernah berpikir macam – macam, hanya menggunakan apa yang terbaik yang diri ini bisa, segala talenta, segala kekayaan, segala hubungan baik untuk menyebarkan kasih. Dan diri ini punya mimpi untuk itu.

Mulai dari hari ini mulailah dengan mengucapkan kata – kata aku cinta padamu, apabila di dalam hati tidak ada kasih, maka tidaklah mungkin ia akan berbuat baik dan menyebarkan kasih apapun sukunya, apapun bangsanya, tidak peduli ia sobat atau saudaramu. semua orang sama.

mencintailah atau hilang begitu saja.

x1

#2 Etika

130301 Jakarta “How well you live comes down to how much you love. The heart is wiser than the head. Trust it. Follow it
table

Satu teman berkata,”In order to succeed you have to kill your father.”

kemudian sambungnya lagi  “termasuk juga hal itu terjadi anak saya, ia selalu membantah saya, kita tidak cocok, selalu tidak sejalan dengan saya, anak saya adalah seorang pengacara”, ia sampai berkata, “ayo tanya apa yang saya tidak tahu.” anak itu kasar dan kami selalu berargumentasi untuk saling mengalahkan, untuk menentukan siapa yang benar – siapa yang nomor satu. Ini masalah antar ayah-anak.

Betapa kompetitifnya hidup orang ini ? Kompetisi memang mewarnai hidup kita, namun apakah harus sekeras itu ? atau apakah itu jalan yang terbaik menjalaninya ? Mungkin bagaimana generativitas atau cara pandang yang positif perlu direnungi, Post dan Neimark menulis “Beri ia ikan dan ia akan makan hari ini; ajari orang itu menangkap ikan dan dia akan makan seumur hidup.” Saat kita merawat orang lain agar hidup mereka berkembang dalam berbagai cara yang misterius dan tidak terduga, kita menyampaikan cinta kasih. Cinta kasih mungkin salah satu hal yang dilupakan di atas, seharusnya pandangan – pandangan di atas tersebut tidak perlu terjadi. Hari itu  sore – sore, satu teman menelpon menelepon, “Pak, kok project kita sudah ada di internet ya, berbeda dengan yang kita obrolkan, padahal kita belum publish project ini, mohon ini dilihat ya.” kemudian Diri ini  mengkontak beberapa orang yang merupakan alumni dan relasi – relasi kantor untuk melihat hal ini, dan meminta mereka untuk membantu menyelesaikan hal ini. Ternyata Ada satu orang menyebarkan informasi tersebut dalam website pribadinya, tanpa ijin. Diri ini terus terang terhenyak dengan hal ini dan tersadar bahwa internet adalah sebuah medan informasi yang tanpa batas, dimana juga terdapat nilai – nilai apa yang bisa dilakukan apa yang tidak bisa dilakukan.

Saya berpikir dengan seluruh kecepatan informasi yang ada, kita perlu berhati – hati dalam menghargai sesama, etika perlu dibangun di masa yang serba cepat ini. Social media, Facebook, Twitter, WordPress, dsb. Dengan segala kecepatan informasi yang ditawarkan sebenarnya merupakan satu ruang bersama, sebuah rumah – rumah yang adakalanya ia diijinkan untuk masuk dan adakalanya juga ia tidak diijinkan untuk masuk. Disini ruang publik diibaratkan  seperti sebuah persimpangan jalan yang dilalui orang – orang dengan billboard besar di samping – sampingnya. Informasi yang ditawarkan tentu banyak orang yang membaca di bill board tersebut. Masalahnya adalah sering orang tidak menyadari ini. Bahwa social media adalah ruang publik yang juga memiliki etika penyampaian informasi. Dalam ruang publik ini pun kita memiliki tanggung jawab.

“Facebook’s News Feed an Epic Fail ? Former employee Katherine Losse : The day we launched News Feed felt, without exaggeration, like a minor Vietnam… Email after email of the thousands we received that day told graphically of the betrayal and evisceration the users felt… Technology is the perfect alibi. Facebook doesn’t hurt people : people hurt people . This is true. But as Facebook makes it possible to do things faster, more efficiently, more cheaply, it makes it possible to hurt people faster, more efficiently, with less cost to themselves. It removes any sense of direct responsibility for our behavior, for how what we do makes others feel. With Facebook, you can act and be seen acting without ever having to look anyone who is watching you in the eye, or look at them at all. The boys Kings, 2012 [taken from Billionaire Boy, Mark Zuckerberg in his own words, ‘Hacker. Dropout. CEO’]

Melihat satu kejadian ini kebelakang, berpikir mengenai hubungan antar-manusia bahwa seseorang yang berkerja secara penuh waktu di dalam  satu ikatan kerja, adalah pribadi yang belajar dan berkerja dengan permintaan, ia berkerja dalam satu tim besar dan kecil yang terikat dengan norma – norma yang terdapat didalamnya. Ia juga terikat dengan nilai untuk menjaga nama baik, kelanggengan hubungan dengan etika terbaik untuk membina hubungan yang selama – lamanya.  Adapun terkait dengan hal – hal norma – norma, perlu meminta ijin untuk menampilkan dalam ruang publik. Diri ini pun bersikap demikin dengan seluruh orang tempat diri ini mengikat hubungan perkerjaan dengan atasan juga dengan bawahan, orang – orang yang memberikan kepercayaan dan dengan rekan sejawat.

“Etika adalah seni memperhatikan hak – hak dan perasaan orang lain,… pengorbanan yang kita lakukan demi hidup bersama, demi perjalanan kita bersama orang lain, dan dari cinta dan respek akan konsep bahwa memang ada orang lain. “Stephen Post, dan Jill Neimark.

Pikiran ini melayang mengenai hubungan manusia dengan manusia, Dulu harus mempersiapkan presentasi untuk acara lomba desain sekitar 9 tahun yang lalu, sesaat sebelum wisuda. Ingat bagaimana belajar memakai dasi, memakai lengan panjang, meminjam sabuk kepunyaan bapak. Ingat bagaimana juri berkata, “Melihat penampilan kamu, saya jadi pingin muntah, seperti professor, .” Generalisasi pun terjadi, Diri ini hanya terdiam, tersenyum, dan kemudian mencoba mempresentasikan karya sebaik mungkin. Diri ini ingat bagaimana bertemu kembali dengan juri tersebut, kemudian berbincang – bincang, setelah kita mengenal lebih dalam, rasa suka bertambah, dan rasa tidak suka pun berkurang. Diri ini pun merasa dekat dengan juri tersebut. Tidak ada ketidakcocokan apabila kita bisa berkomunikasi dengan baik. Merasa dekat, berbicara dengan tulus, dan berkomunikasi selayaknya keluarga.

Diri ini juga teringat akan satu film yang disukai, “Forest Gump”. Forest Gump adalah seorang  pekerja keras namun memiliki etika yang tinggi dalam kehidupannya, sikapnya terhadap keluarga dan teman – teman yang dicintainya. Ia berkerja keras untuk itu dan akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan, cinta, keyakinan, kemudian menjaganya sepenuh hati. Diri ini pun merenungi arti dalam menjalani hidup ini. 

 satu teman terbaik bercerita mengenai keadaan di kantornya, salah satu kantor terbaik. Bagaimana wakilnya di kantor cabang mengerjakan pekerjaan – pekerjaan pribadi mereka menggunakan fasilitas kantor tanpa sepengetahuannya, kemudian memiliki proyek bayangan, proyek ilegal,  kemudian terciptalah sistem kantor di dalam kantor tanpa sepengetahuan dengan staff – staff kantor berkerja untuk wakil kantor tersebut. Diri ini berpikir bagaimana itu bisa terjadi ? Kabar ini tercium ke relasi – relasi terdekatnya, teman – teman seprofesi, dan sahabat yang terkadang merangkap sebagai klien, sementara kita membantu mengingatkan sahabatku supaya hal – hal baik yang terjadi dalam ketidakpedulian pihak – pihak lain pada etika.

Di satu saat satu teman terbaik berkata  bahwa dalam hidup ini untuk kaya ada 3 hal. Menjadi Kaya, kaya yang pertama, adalah kaya akan relasi,tidak boleh sombong.  kaya yang kedua adalah kaya akan ilmu pengetahuan, tidak boleh berhenti belajar, yang ketiga kaya akan iman, terus berdoa dan bersyukur akan nikmat karunia yang diberikan. Intensi dari membangun etika adalah membangun ketiga kekayaan ini. Kaya relasi, kaya pengetahuan, dan kaya akan niat baik. Seketika diri ini ingat,

Pelajaran mengenai etika  tidak disangka – sangka muncul ketika berkunjung ke Shirakawa Go, satu perkampungan tradisional Jepang untuk menginap disana untuk satu malam. Diri ini ingat waktu itu salju turun, dan koper ini pun sudah tidak bisa ditarik lagi, rodanya membeku. Kita berjalan setengah kilometer untuk ke Ryokan, satu penginapan tradisional. Saat itu suhu udara sudah minus dibawah o derajat celcius. Diri ini ingat bagaimana kekhawatiran akan istri, kondisinya yang sedang mengandung. Satu hal yang membuat diri ini merasa bersalah membuatnya berjalan capai. :(

Kami sudah ditunggu pemilik rumah, dipersilahkan masuk, diberikan handuk, kemudian dipertunjukkan letak kamar tidur kami. Rumah itu berisi tiga kamar tidur, kebetulan 2 kamar tidur lainnya diisi oleh 2 keluarga Jepang. Diri ini ingat gendang di perut sudah mulai ditabuh, sembari kami menghangatkan badan, kami menunggu makan malam. Saat – saat yang ditunggu – tunggu adalah makan malam, perut kami yang sudah lapar. Kami disuguhi hidangan Kaiseki, hidangan satu set menu khas Jepang. Ada satu orang di keluarga Jepang di sebelah meja kami membantu kami, karena kami tidak mengerti bagaimana cara makan hidangan ini, sang anak membantu menghidangkan teh kepada Laurensia, dan diri ini, Kemudian sang anak menghidangkan teh tersebut ke ayahnya sendiri, dan ia meletakkan poci tersebut. Kemudian Giliran ayahnya, menuangkan teh untuk anaknya. Kejadian itu berlangsung berulang – ulang pada keluarga yang lain, mereka saling menuangkan teh untuk yang lain begitu gelasnya kosong, namun tidak untuk mereka sendiri.

Diri ini bertanya – tanya kenapa sang anak tidak mengambil untuk dirinya sendiri ? … begitu diajarkan mengenai tata cara makan malam, dalam budaya Jepang. Ternyata  cara kita makan, menghindari untuk mengambil minuman kita sendiri adalah filosofi bagaimana kita bisa mementingkan kepentingan orang lain, selain diri kita sendiri, hidangkan untuk orang lain lalu letakkan, biarkan orang lain yang menghidangkan untuk kita. Cara makan ini mengajarkan kita mengenai filosofi “respecting others” menghargai orang lain. 

“The Japanese consider it an important part of hospitality to keep their guest’ glasses full, bu it is thought to be impolite to fill your own. Instead, you must wait for others to notice that your glass is empty so they can fill it for you.” Ayame

Diri ini juga berpikir mengenai tradisi timur, tradisi orang Indonesia, Jawa, yang memulai kebiasaan dengan memanggil nama “ayah makan, ibu makan, kakak makan.” bahwa mungkin etika adalah satu aspek yang sangat penting dalam kita bersikap, mewarnai hidup  kita dengan sesama.

Satu kalimat dari Julian dalam suratnya kepada Jonathan dalam buku yang ditulis Robin sharma, The monk who sold his ferrari,  dalam satu perenungan panjang dalam perhentian 3 bulan ini untuk mengajarkan diri ini untuk lebih bertanggung jawab, lebih beretika,

Live with kindness… how we treat someone defines how we treat everyone, including ourselves. If we disrespect another , we disrespect ourselves. If we are mistrusful of others, we are distrustful of ourselves… with every person we engage in everything we do, we must be kinder than expected, more generous than anticipated, more positive than we thought possible. Every moment in front of another human being is an opportunity to express our highest values and to influence some one with our humanity. We can make the world better, one person at a time. :) 

Puji Tuhan semoga kita semua mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi. Terima kasih Tuhan :) Semoga hidup akan semakin baik untuk kita jalani.

 

Batu itu namanya Bernie

130312 , “Go as far as you can see. When you get there you’ll be able to see farther.”- Thomas Carlyle

20130312-214027.jpg

Bali, Kerobokan. Hari ini terik, Mataku perih, sudah beberapa hari ini, diri ini tidur larut malam. Setiap minggu juga diri ini berpergian untuk melihat pekerjaan yang ada di Jakarta ataupun di Luar pulau Jawa. Diri ini baru saja pulang dari Bali untuk mengecek satu pekerjaan di daerah Bali utara, di daerah Kerobokan bersama Edhie. Laurensia ikut menemani dalam perjalanan yang cukup panjang 3 jam dari kota Denpasar.

Hari ini hari sabtu. diri ini Mataku ingin terpejam, untuk beristirahat lebih lama, diri ini ingat ada pekerjaan yang harus dikirim hari ini diriku bergumam dalam hati, setelah itu aku bisa tidur dengan nyenyak. Seluruh kerja keras di minggu – minggu kemarin dipusatkan pada minggu ini. Aku kemudian berpikir, ya mungkin kerja keras ini bisa berbuah dengan baik. Diri ini terbayang pantai yang indah di belakang halaman kami, dan apabila beruntung kami bisa ke daerah Ubud dengan jajaran galeri – galeri seninya yang menanti untuk dijelajahi.

20130312-215512.jpg

“…Bali is one of the few cultures with origins in one of the great ancient cultures which is still alive.” Arthur Erickson

Diri ini ingat Bali dengan segala kepercayaan yang dianutnya,  filosofi hidupnya, dan simbolisme yang ditunjukan dalam keseharian orang – orang di dalamnya. Setiap pagi orang Bali yang beragama Hindu, memulai harinya dengan berdoa, meletakkan persembahan kepada semesta, untuk menghargai alam semesta ini, sewaktu siang berdoa kembali, dan menutup hari juga dengan berdoa. Diri ini berpikir diri ini belajar banyak sekali dari tradisi ini setiap harinya. Sama seperti simbol patung kura – kura yang diri ini bawa dari Bali yang berarti menghargai orang yang lebih tua sebagai filosofi dari menjalani hidup ini sepenuhnya.

Diri ini berpikir mengenai apa saja yang sudah terjadi belakangan ini, banyak tawaran muncul untuk mengembangkan diri sebaik – baiknya, sebesar – besarnya. Namun diri ini merenung dan berkaca, sebesar apa sebaiknya kita tumbuh. Dan seberapa cepat kita tumbuh. Diri ini pikir ini membutuhkan proses, tidak instan, namun orang tidak pernah tahu seberapa cepatnya kita perlu tumbuh, pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana ?

“Jadilah pohon yang rindang”, kata om William, yang buahnya lezat bisa dinikmati siapapun.  “untuk ke bintang kamu harus mengalami kerja keras yang luar biasa dan juga menjadi pohon yang memiliki tajuk yang lebar.”

Diri ini kemudian merenungi bahwa perbuatan kita sehari – hari adalah memberikan buah untuk orang lain. Buah untuk istri, untuk keluarga, buah untuk teman – teman terbaik yang sudah atau belum kita kenal sekalipun. Diri ini ingat bahkan di usianya yang sudah senja. 90 tahun,  Tante Lily, istri almarhum om William masih menyempatkan diri untuk datang di pernikahan kami, katanya opa Laurensia adalah teman sepermainan beliau. Diri ini belajar dari cara beliau menghargai sesama, baginya hubungan itu penting sekali, hubungan yang tulus, dengan niat yang tulus. Bukan hubungan atas dasar untung rugi belaka. Diri ini mendapatkan satu mentor terbaik untuk menjalani hidup. Bagaimana menjalani hidup yang tumbuh perlahan – lahan.

20130312-213901.jpg

 

akanaka3

IMG_1237

IMG_1242

“Only one who devotes himself to a cause with his whole strength and soul can be a true master. For this reason mastery demands all of a person.” Albert Einstein

Diri ini berkata pada satu teman terbaikku, Pak seorang arsitek akan mumpuni di umur 50 tahun mungkin, dengan segala pengetahuan yang dia miliki. “Apa artinya waktu, ingat Rich, selalu berikan yang terbaik.” Diri ini kemudian teringat pada ikat kepala yang diri ini selalu terikat di tas yang biasa kubawa – bawa setiap hari, dulu diri ini memanggul pagoda pertanda musim panen bersama teman – teman di Jepang, ikat kepala itu sebagai penanda semangat yang tiada pernah padam. Kami memanggul pagoda itu bersama – sama, ada 20 orang sampai 30 orang. Diri ini tertawa mengingat peristiwa itu. Mungkin Tuhan punya rencananya sendiri untuk kita semua.

Pelajaran terbaik pun datang tidak disangka – sangka justru dari teman terbaikku, Edhie. Saya punya hadiah untuk kamu, ia berujar, ia mengeluarkan satu buah batu, dengan cat warna – warni, batu itu memiliki mata, hidung, mulut, dan baju.

bernie

Ini hasil dari lukisan anak – anak cacat, ayah dari Danny yang memiliki yayasan anak – anak ini. Ibaratnya apabila dibiarkan batu itu seperti semula, ia tidak berarti. Apabila ia di cat, dihias, memiliki makna ia akan berarti, sama seperti batu ini. Diri ini berpikir kita dalam hidup ini, menjalani, hidup yang terbaik, berikan yang terbaik, pada akhirnya semua yang kita lakukan ini bukanlah untuk diri kita, namun untuk sesama. Hal ini akan menjadi mulia, apa adanya. Batu ini diri ini namakan Bernie, penanda bagaimana kita bisa berbagi kepada sesama dengan sebaik – baiknya.

Lucunya hari demi hari, diri ini selalu membawa batu ini kemana – mana, seperti kemarin diri ini dihentikan di airport, karena membawa sebuah batu, “Pak disini dilarang membawa batu.” Diri ini pun tersenyum, ia pun keheranan melihat Bernie, Kemudian setelah dijelaskan apa arti batu ini kemudian petugas bandara pun mengerti. “lain kali batunya  dimasukkan koper ya pak.” petugas itu pun tersenyum. Memang kasih yang tulus, membuat dunia ini jauh lebih berarti, melalui hal yang sangat sederhana.

Diri ini pun menutup tulisan ini dengan puji syukur akan pelajaran yang terbaik di perempatan tahun 2013 ini. Semoga banyak hal semakin baik terjadi, yang terjadi, terjadilah.

“Love is the essence of life; love touches all of our relationship even with stranger. Love never leaves us. It clings to people who believe, and to those who don’t”

Cerita di tahun keenam. Pelajaran sesungguhnya

130120 “Trust in dreams, for in them is hidden the gate to eternity, Khalil Gibran ” 

IMG_2426

Bandung, Diri ini merenung sejenak. Tahun ini, tahun yang penuh kebahagiaan, sekaligus menyimpan cerita kesedihannya. Malam itu serasa sendu,sunyi, sepi. Wanita terbaikku sudah tidur di sampingku, dan pikiran ini terbang melayang untuk memaknai apa yang sudah ada sekarang di tahun 2012 ini …

Ada rasa ketidakpastian dalam karir selama 1 tahun terakhir ini, ketidak pastian dalam masa depan, dengan sejuta alasannya. Masih belia, masih muda, ketidak pastian antar-rentang usia. Rantai ketika sedang berputar dalam ketidakpastiannya. Hal – hal yang penuh ketidakpastian terus terjadi, bagaimana sulitnya mengatur kantor yang terkadang masih balita perlu perhatian untuk mencapai kualitas terbaik, bagaimana belajar untuk menerima hasil kerja keras yang sudah dilakukan, hilang begitu saja, dan juga bagaimana meniti, membuat mimpi kita menjadi kenyataan, tidak semudah yang dikira. Diri ini berpikir inilah harga yang harus dibayar untuk sebuah proses menjadi. Untuk menjadi yang terbaik, kita hanya perlu melakukan yang lebih baik, satu persatu. Kata teman terbaikku, semua kerja keras dimulai dari titik, ia ada untuk menjadi garis, sehingga mimpi itu bisa menjadi nyata.

Mengenai hidup bersama, diri ini sudah menikah dengan Laurensia selama 1 tahun, sejak September yang lalu. Dan kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama dengan makan malam sederhana. Kami sendiri bisa makan segala sesuatunya, tidak rewel, dan kehidupan rumah tangga dilakukan dengan biasa – biasa saja. Kesibukkan Laurensia masih sama, masih berpraktek dari sore sampai jam 21.00 , baru pulang jam 21.30, baru kami makan malam. Terkadang ia pergi pagi apabila ada pasien di klinik di dekat rumah kami. Kebersamaan kami didapatkan pada saat – saat malam hari, saat – saat yang teduh. Pada hari sabtu dan minggu terkadang ia menemani ke proyek, apabila pekerjaan meminta waktu kami. Ia pun tidak pernah berkeluh resah, hanya meminta waktu yang lebih, waktu untuk kami bersama, saat – saat terindah dalam hidup. Ucapannya yang selalu mengingatkan ketika sudah saatnya beristirahat, ajakannya untuk makan bersama di saat – saat diri ini lupa waktu dengan segala kesibukan yang ada, adalah penyejuk dalam satu tahun terakhir ini. Terkadang ia bertanya mengenai konstruksi pondasi dangkal ataupun dalam, atau kekakuan balok kantilever sebagai pelindung dari matahari ataupun penahan fungsi balkon diatasnya. Mungkin ada yang sama dengan teori dokter gigi yang dipelajarinya. Terkadang diri ini tersenyum melihat sifat ingin tahunya, juga keingintahuan dirinya terhadap rumah impian kami berdua, kemauannya untuk mengecat pink kamarnya, Wanita ini istri terbaik didunia dan saya pria beruntung bisa bersamanya. 

Kesedihan yang amat dalam terjadi ketika kami kehilangan Cherry dalam kehidupan kami, dalam usianya yang masih muda 7 bulan. Laurensia dan diri ini kehilangan Cherry tanpa sebab yang pasti, derai tangis pun terjadi, linangan air mata, rasa sayang yang sudah ada. Semua yang indah dalam hidup bisa hilang dengan begitu saja, kehilangan memang satu proses yang tidak menyenangkan.  Diri ini lihat bahwa semua ini memang sudah pada jalan yang terbaik, pelajaran untuk menghargai nafas yang diberikan, dan pelajaran mengenai kehidupan yang luar biasa indahnya dalam kebahagiaan dan kesedihan yang ada. Mungkin ini memang pelajaran yang harus dijalani ole kami berdua.

Ada berita gembira, ada kado natal terbaik di tahun ini, setelah kehilangan anak kami, Laurensia hamil lagi, saat ini usia bayi kami baru 1 bulan. Saya menjanjikan waktu yang terbaik untuk keluarga kami mulai saat – saat ini. Dalam 1 minggu terakhir ini, diri ini bangun lebih pagi dari biasanya, jam 5 pagi, terkadang diri ini bangun jam 4 pagi, untuk meluangkan waktu untuk berdoa, menulis, dan menyelesaikan pekerjaan yang baiknya diselesaikan. Jam 7.30 pagi, Laurensia sudah mengetuk pintu untuk kita menghabiskan waktu bersama, mengingatkan untuk makan, bersantai, ataukah sekedar jalan – jalan keliling daerah sekitar. Kami menemukan bubur kesukaan kami di pinggir jalan di satu trotoar. Dari saat – saat ini  mata seakan – akan dibukakan, udara segar yang kita hirup, matahari pagi yang kita rasakan,  badan yang kita punyai, momen – momen yang berharga dengan orang – orang yang kita sayangi. Kita belajar untuk menghargai dan mencintai hidup sebaik – baiknya.

Diri ini ingat jari jemari ini memainkan piano yang dimiliki satu teman rumahku di Elia Mews, daerah Angel di London. Pada waktu itu sore – sore, udara sejuk, tenang, diri ini duduk, dan di sebelahku Laurensia, menyanyikan satu bait lagu :

Disetiap langkahku

Ku kan slalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu …

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku

IMG_2329

Dedaunan mulai rontok satu demi satu menyisakan dahan yang memang begitu saja ia tegak berdiri, angin dingin menerpa. Setiap musimnya daerah – daerah di kota ini ada begitu cantiknya, setiap musim berganti, berganti pula tekstur kehidupannya. Tangan ini memang tidaklah pernah sempurna memainkan lagu ini, saya pun tertawa dalam kesunyian yang ada,  diri ini seperti menemukan satu pasangan sehati sejiwa dalam mengarungi lagu ini. Dan 4 tahun kemudian disinilah aku. Diriku sungguh bersyukur di tahun 2012 ini dengan kebahagiaan dan kesedihannya. Semoga dirimu juga bisa merasakan yang sama, sama seperti diriku yang mulai merasakan cinta yang sesungguhnya.

“One day with life and heart is more than time enough to find a world.” James Lowell

IMG_2513

Kumpulan mimpi

121114 Belitung “If you can look into the seeds of time, and say which grain will grow and which will not, speak then unto me.” William Shakespeare 

Belitung, Diri ini melihat hamparan pasir putih yang menghampar indah sekali, dengan batu – batu alam yang menjulang dengan ketinggian luar biasa , sekitar 12meter,  memang Belitung terkenal sebagai pantai dengan air yang jernih, dasar air yang begitu jernih bisa terlihat jelas, dan landsekap yang begitu indah dengan bebatuan granit yang tersebar di pantai – pantainya. Diri ini kemudian melihat hutan yang ada, sungai yang berkelok – kelok kecil membelah hutan yang kemudian berakhir di muara kecil. Bebatuan yang ditengah hutan pun memiliki karakternya yang sedikit hitam, dengan teksturnya yang dingin lembab karena rimbunnya pepohonan.diri ini kemudian melangkahkan kaki di titik puncak bebatuan, mencoba mengukur, 11 meter kali 30 meter, cukup lebar, untuk lokasi terbaik adanya tempat menjalin cinta, sebuah kapel untuk menikah. Melihat kebawah, diri ini bisa menikmati karunia Tuhan yang sangat indah, sebuah jalinan yang sangat indah. segala bentuk yang diciptakan alam itu indah rupanya, dari jalinan batu alam, bentuknya yang wajar dan tidak dibuat – buat, bintang laut, rumput laut, pasir yang putih, dan tumpukan kayu yang hadir begitu saja. Suasana ini begitu sunyi. Diri ini seakan terbius dalam alam yang mengajak berjabat tangan begitu eratnya.
Diri ini teringat pada waktu itu, diri ini diajak untuk ke satu daerah di pulau Bali, daerah yang sunyi senyap.
Saya ingat kita berlima pergi ke daerah yang terpencil di Ubud, satu daerah yang memiliki satu bukit, lembah, dengan air terjun, juga mata air yang menjadi pusat kegiatan agama sekitarnya. Diri ini ingat suasana teduh, pepagian dengan suasana orang berdoa, kehidupan di Bali memang menyejukkan dengan auranya yang berbeda. Saya ingat dulu kita ber 5, saya sendiri adalah arsitek yang menemani paman – paman saya, untuk melihat – lihat sekitar, memberikan pandangan. Mereka pria dengan umur 60 – 70 an tahun. Mereka menyebut kelompok mereka satu konsorsium. Berteman bersama, berbisnis bersama, tertawa bersama.
Pikiran ini melayang ke satu saat dahulu sewaktu masih kuliah di Sydney. Pada waktu itu diri ini ingat seringnya pergi untuk ke satu teman terbaikku. Diri ini ingat bahwa diri ini punya sepeda, satu sepeda yang sederhana buatan china yang kubeli di toko sepeda di pojokkan perempatan. Untungnya saat itu sedang sale, jadi sepeda itu bisa dibeli cukup murah hanya 75 dollar. Ongkos naik bis satu kali jalan adalah 2 dollar, dengan waktu menunggu yang cukup lama.
Karena sepeda itu, diri ini bisa berkunjung terkadang 3 hari sekali ke tempat teman terbaikku untuk sekedar mengobrol, atau bermain Wii, untuk mengunjunginya, diri ini mengayuh sepeda terkadang melewati perumahan yang senyap di daerah kensington, melewati gereja gothic.  Kita mengobrol sesaat terkadang, pada saat itu kita tidak mempunyai pekerjaan yang baik, temanku ini adalah  adalah seorang tukang pos, sedangkan diri ini juga sama, tidak mempunyai pekerjaan yang layak, asisten dosen dengan bayaran kecil, atau asisten arsitek dengan pekerjaan jarak jauh, antar negara, dengan jam kerja yang panjang. Kami berdua memimpikan pekerjaan yang baik bagi hidup kami. Seperti biasa diri ini bercerita mengenai mimpi – mimpi yang sungguh tidak terbayangkan, dan dia memberikan masukan – masukkan mengenai bagaimana menata mimpi itu dan bersikap dalam perusahaan.
Terkadang diri ini bercerita mengenai kesibukkan di kuliah dan kita akhirnya akan tertawa – tawa sambil makan malam, ia yang memasak, teman terbaikku ini pintarnya luar biasa dalam memasak. Saya rasa kita juga sedang membentuk kelompok kecil juga. Ada juga teman dari Bangladesh, seseoran yang menemani bermimpi, ia dengan mimpinya di Dhaka dan diri ini dengan mimpinya di Indonesia, dengan tempat kami biasa minum kopi di satu pojok kafe kecil di satu hook di Kensington. Ada lagi teman – teman dari China, teman untuk mengerjakan tugas bersama – sama. Terkadang diri ini juga ikut berbahasa China, yang asal saja keluar dari mulut, apapun itu, yang penting nyambung, dalam benakku. Atau pertemanan yang terjadi begitu saja dengan professor terbaik disini, mengajarkan, membuka cakrawala berpikir.  Sydney dengan segala keunikannya, begitu banyaknya orang yang baru disana dengan segala pengharapannya untuk hidup lebih baik.
Diri ini terhenyak, di saat itu, di satu rapat, setelah presentasi satu pembesar dari Jepang berkata, “selamat bergabung di konsorsium kami, ” setelah itu kami pun pergi makan bersama, tertawa bersama, bermimpi bersama, bersama – sama untuk berharap penghidupan yang lebih baik. Diri ini belajar dari Alan M Weber, bahwa ada 4 hal yang diperlukan untuk menjalani karir yang baik, 4 C : change, connection, conversation and ccommunity. semua pengalaman ini untuk membentuk satu dukungan, jalinan pertemanan.
“Manusia itu makhluk ciptaan Tuhan yang hampir sempurna, ia tidak terbatas.” Satu teman terbaikku bergumam, “yang sempurna adalah Tuhan itu sendiri.” oleh karena itu pembatas kita hanyalah rasa takut kita. Diri ini berpikir itu benar apa adanya. Ketakutan – ketakutan selalu menghantui kita setiap saat, ketakutan akan kehilangan kasih sayang, kehilangan kepercayaan, kehilangan identitas. Diri ini berpikir mengenai kala – kala sulit, dimana darimana harus dicari biaya untuk menghidupi kantor desain yang baru berdiri. Setiap bulan, setiap minggu, menghitung, apakah masih bisa, keragu – raguan menerpa dimana kepercayaan pun harus terus menerus dibuktikan.  Keragu- raguan itu memang selalu muncul mewarnai hidup kita.
Dimanakah ujungnya ?
Kesunyian ini terpecah pada satu saat, “Saya dulu jualan bubur di Monas.” celoteh satu orang ydi depanku . “saya juga pernah jualan durian di depan RCTI, saya ke Lampung waktu itu bawa mobil pick up, kemudian pulangnya saya angkut durian untuk dijual, perjalanan hidup saya panjang, namun saya tidak pernah takut, Tuhan menciptakan kita hampir sempurna, menurut citranya. Dan dulu juga pernah jualan kayu industri, tapi yang lucu jualan bubur di monas, paling gampang, tinggal nasi dikasih air, sama beli ayam dan bumbu – bumbunya, untung dulu belum punya istri ” Ia pun tertawa lepas, saya pun ikut tertawa, dari kerutan wajahnya, diri ini tahu bahwa pengalamannya  banyak makan asam garam kehidupan. Sekarang ia adalah satu orang yang ternama menjadi CEO untuk berbagai jenis industri plastik, karet, perkebunan, industri alumunium. Dan ia tangkas untuk membuat mesin sendiri, dengan sistem yang dirancangnya belajar dari negara Jerman dengan industrinya.  Asam Garam yang didapatkan, kami pun tertawa lepas keringat yang dikurasnya, dan resiko – resiko yang dilakukannya membuatnya seperti sekarang ini. Menurut saya, benar adanya, semua orang berusaha dengan keringatnya sendiri, dalam keragu-raguannya sendiri, dalam keterbatasannya ia mencoba untuk hampir sempurna dalam usaha – usahanya.
“Saya punya mimpi Pak Realrich, tolong dibantu wujudkan ya” ia pun menyambung. diri ini pun tersenyum, Diri ini bertanggung jawab untuk tidak mengecawakannya.
Diri ini berpikir pada satu waktu, adik terbaikku, mengeluh dengan kontribusinya yang tidak banyak, belum maksimal ia berkata. Diri ini tersenyum mengingat ini,  bahwa sesungguhnya bukan seberapa besar dirimu mencetak skor untuk tim atau untuk dirimu sendiri,namun bagaimana seluruh waktu, obrolan singkat, perhatian, curahan hati akan berarti begitu besar, seperti dukungannya  ke kinerja tim. “your contribution would be measured not in how many points you scored but in all the ways you contributed to the team winning. ” Aku belajar untuk ada untuk sesama, dari orang – orang sekitar kita, kita mendapatkan satu kekuatan yang tidak terlihat. Ini magis, aura, keyakinan, kekuatan yang mewarnai kehidupan kita sehari – hari, yang saling menjaga kita dalam jalinan yang luar biasa indahnya. Ini yang saya pikir adanya satu inersia, satu orang bertemu orang lain, bertemu orang lain lagi, dan bertemu orang lain lagi. Tumbuh bersama – sama. Dalam berkerja pun demikian, diri ini juga punya mimpi, orang lain juga punya mimpi,  kita mencari orang – orang yang tumbuh bersama – sama, tidak instan.  Dalam berteman pun seperti itu, kita mencari orang – orang yang juga tumbuh bersama – sama, memaklumi kesalahan, tertawa dalam ketidak sempurnaan, dan saling bertumbuh dalam dukungan.
Begitu pun berkeluarga, kita mencari orang yang tumbuh bersama – sama. seperti Laurensia, Diri ini yang menantikan buah hati kami untuk tumbuh bersama – sama kami. Semoga cepat diberi, didoakan ya :-)

Lahir atau Dibentuk ?

Bangkok 11 November 2012, “It matters not what someone is born, but what they grow to be.” J.K. Rowling

Bangkok, Turbulensi tengah menerpa pesawat ini. Pilot baru saja selesai berbicara. Kulihat kumpulan awan tebal di kiri kanan, sesembari sinar matahari masuk diantara sela – sela awan tersebut. ” Saudara-saudaraku, tantangan hidup ini kita hadapi bagaikan seekor rajawali, ia menghadapi tantangan hidup, tembuslah awan itu. ” Satu orang teman terbaikku bercerita dalam khotbahnya suatu saat di pagi yang sendu di goldiers green. Dari minggu ke minggu ada saja yang baru dalam khotbahnya, yang mengisi saat – saat teduh, menciptakan jeda dalam kungkungan waktu sepanjang minggu di sela – sela orang yang datang dan pergi. Saya ingat jumlah kami kira -kira 10 sampai 15 orang. Saya sendiri adalah seorang katolik, ikut membantu teman-teman terbaik dalam kebaktian agama protestan. Bagi saya, agama adalah urusan kita dengan yang kita yakini, Dia yang kita yakini. Tidak ada yang lebih baik, setiap orang punya keyakinannya tersendiri.

Oleh karena itu, tidak apa2 diri ini ikut membantu dalam acara kebaktian, dengan lagu2 yang kita siapkan, menyanyi, bermain gitar, bermain piano, semua dilakukan. Memang lagu – lagu itu begitu indahnya, kadang – kadang saking semangatnya orang2 bisa berlompatan menghayati kebaktian itu. Sama seperti kegiatan buka puasa yang diri ini juga jalani dengan rekan – rekan muslim, semua sama, untuk mengerti orang lain. Yang diri ini ingat makanan yang begitu enaknya sudah menanti di akhir kebaktian, ada soto ayam. Diri ini begitu menikmati jalinan pertemanan yang terjadi di saat itu, “saya mendapatkan komunitas saya.

Yang diri ini tidak mengerti adalah begitu mudahnya sekarang ini kerap terjadi, kerusuhan, kejahatan, dimana begitu mudahnya sakit menyakiti itu terjadi. Mungkin memang sifat manusia yang begitu negatifnya mudah menyakiti orang lain termasuk orang – orang terdekat kita. Dalam sinusoidal hidup, ada kalanya kita di atas ada kalanya kita di bawah, sama seperti saat – saat diri ini pulang dari Australia, untuk mencari pekerjaan, semua ingin maju ke arah yang lebih baik. Begitu pun dengan orang – orang yang ada di sekitar kita. Atau saat – saat diri ini yang sedang ada di Bangkok hanya untuk meluangkan waktu untuk berkerja lebih baik.

Adik terbaikku pernah bertanya,” kak arsitek itu lahir atau dibentuk ? “. Diri ini berpikir Ada orang yang sudah sedemikian lancarnya dilahirkan menjadi seseorang yang diberi talenta rasa, dan rasa seni yang tinggi. Bersyukurlah apabila sudah mendapatkan talenta itu. Namun ada juga yang tidak beruntung, yang perlu kita lakukan adalah belajar bagaimana caranya membentuk diri. Diri ini percaya bahwa setiap orang membentuk dirinya sendiri, sewajar – wajarnya.

Pertanyaannya apakah bakat itu penting ? Apakah kemampuan itu penting ? Ya kita melatih diri kita untuk menjadi mampu di profesi kita masing – masing, dengan berkerja keras. Warren buffet berkata ” ada 3 hal yang terpenting yang tidak diajarkan di Harvard bussiness school, yaitu, menulis, berbicara dan berkomunikasi.” Ada yang berpikir bahwa “saya akan memperkerjakan orang – orang terbaik dari orang – orang terbaik.” Hal tersebut sama berlakunya di perusahaan – perusahaan ternama di dunia. Bagaimana kita menghitung kapabilitas kita dibanding orang lain. 3 hal yang dikatakan Warren Buffett tersebut adalah hal yang berkaitan dengan kapabilitas. Kita seringkali tidak bisa memilih, kita itu dipilih, kita hanya bisa berusaha namun bukanlah kita yang menentukan untuk memulai proses pembentukan kita.

” bayangkan apabila anda semua adalah saham yang akan dibeli oleh orang lain , dari 10 orang dengan kualitas sama, 10 lulusan dengan kualitas sama,bagaimana anda bisa memastikan untuk bisa dipilih ?” Buffet melanjutkan.

Diri ini mendapatkan jawaban justru dari teman – teman terbaikku, kita tidak akan memilih orang yang terpintar, karena kepintarannya sudah cukup, bisa dicari orang yang lebih pintar, dan banyak orang lebih pintar lagi. Ada beberapa hal yang pada akhirnya Kita akan memilih orang – orang dengan karakter yang kita sukai, seseorang yang murah hati, jujur, yang bisa berkerja sama dengan orang lain. Kita akan menghindari orang – orang dengan ego yang berlebih, seenaknya, tidak jujur, tidak memiliki etika, dan ketidakmauan untuk berkerja menjadi satu tim. Semua sebenarnya kita mencari seseorang yang bisa tumbuh bersama.

Diri ini teringat, bagaimana diri ini ditertawakan dengan pekerjaan membuat maket di kantor di Inggris, ditertawakan karena begitu mudahnya mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab, ditertawakan karena lembur tidak tidur semalam suntuk untuk melakukan tanggung jawab bersama, dimana yang lain sudah beristirahat menghindari tanggung jawab tim. Seolah – olah itu menjadi makanan sehari – hari. Pernah suatu saat diri ini marah sekali, keluar begitu saja ke satu pojok taman untuk melampiaskan kekesalan yang ada. Saya bukan bahan tertawaan. Sambil diri menghentakkan kaki dengan keras.

Pada puncaknya, diri ini kembali juga ditertawakan karena saya berasal dari satu universitas yang tidak dikenal di negara yang sedang berkembang dengan gelar bachelor, S 1 dimana yang lainnya adalah sarjana s2 dari universitas terkenal di seluruh dunia, harvard, princeton, AA, berkeley. Itu terjadi pada saat pemilihan orang yang akan menjadi wakil grup desain di Inggris.

Diri ini punya beberapa teman terbaik, teman berkerja bersama – sama. Mereka juga teman yang bersama2 ditertawakan, membuat maket, ataupun kerja sampai subuh sudah menjadi makanan sehari – hari.

Saya teringat kami satu kelompok begitu mencintai pekerjaan kami, juga dengan wanita terbaik kami masing – masing. kami biasa berjalan bersama, sampai pada akhirnya persahabatan seumur hidup. Saya rasa ini yang terjadi. Diri ini teringat girang luar biasa karena terpilih menjadi wakil grup desain hanya untuk berbicara sejenak dengan Norman Foster, sepertinya waktu memberikan ujiannya dan kemudian memberikan kesempatannya. Diri ini juga ingat pada akhirnya diri ini berkerja, dipindahkan ke salahsatu tim terbaik, dengan prinsipal terbaik, pada akhirnya hal – hal tersebut yang menjadi cerita terbaik dalam fase hidup yang membekas di kantor di sebelah sungai Thames.

Teman – teman terbaikku sekarang sudah menjadi pimpinan biro di tempat mereka berada sekarang, di negaranya masing – masing, ada yang di Spanyol, Hongkong, Korea, Australia, Malaysia, London, Jepang, China, ada yang menjadi dosen juga, ada yang menetap di Inggris menjadi pimpinan grup desain. Namun apabila kita bertemu, kita akan pergi ke satu tempat di daerah leicester square, meminum kopi atau memesan dim sum dan kita akan tergelak – gelak mengingat peristiwa – peristiwa pada waktu itu, membuat maket bersama – sama, lembur suntuk bersama – sama. Kita semua beranjak dengan romansa waktu yang baru, dimensi yang baru, dengan memori yang lama.

Diri ini belajar bahwa Karakter dalam kata lain adalah hal yang terpenting, bukan siapa anda, gelar anda, atau baiknya cv ataupun resume anda. Dan kemudian pembentukan diri itu kemudian dimulai begitu saja. Bukan siapa anda, namun apa yang kita lakukan akan membentuk kita, dari situ kita akan dibentuk sewajar – wajarnya.

Pada akhirnya kita memiliki orang-orang baik yang menjaga kita setiap saat. .Diri ini masih tetap membuat maket dengan anak-anak kantor, berkerja sampai subuh terkadang dengan anak-anak kantor. Semua masih sama. Hanya saja, kenangan – kenangan ini membekas dan semakin dalam teringat.

Baru saja diri ini berkenalan dengan satu professor dari Bangladesh, ia datang dari negaranya untuk ikut seminar di Bangkok, kami bertukar cerita, sehingga ada saja chemistry di antara kami. Ia adalah seorang insinyur teknik sipil, baru saja kita berbincang – bincang mengenai perjalanan ke Dhaka, ibukota Bangladesh, diri ini pernah berjanji kepada satu teman terbaik di Bangladesh untuk berkunjung ke negaranya ke Dhaka. Ya mungkin ini jalinan pertemanan yang baru, mungkin saja ada peristiwa – peristiwa yang menanti, kejutan – kejutannya seperti Tuhan sudah mempersiapkan semua sebegitu indahnya. Dan, diri ini kemudian teringat bahwa harus ke airport, kembali ke Jakarta, sayonara Bangkok.  :)

Tumbuh perlahan – lahan

Lembang 3 November 2012

“The only way to be happy is to love. Unless you love, your life will flash by.” Mrs. O’Brien

Pagi ini diriku ada dalam satu perjalanan ke Bandung, kota yang memiliki aura menyejukkan, sabtu ini diri ini bisa rileks sejenak dari kesibukan yang menerpa 5 hari kemarin. Hari ini udara sedikit berkabut dan sejuk, matahari seakan – akan menyembunyikan dirinya dibalik gugusan awan tebal yang menyelimuti perjalanan kami.’ Sambil diri ini tertawa membayangkan saat saat kecil kami.

Diri ini berpikir, sebenarnya ada satu sisi dalam diri yang menyukai hal yang sama berulang – ulang, ingin itu – itu saja, baju itu – itu saja, melakukan yang itu – itu saja. Aku dilahirkan di Surabaya, dengan 4 orang bersaudara, kami lelaki semua. Saya pikir saya yang paling jelek diantara saudara – saudara kami.

Ayah adalah seorang kontraktor bangunan, ia insinyur sipil, dan ibu sendiri adalah seorang ibu rumah tangga. Aku ingat dulu diri ini tinggal di daerah Dukuh Kupang, daerah perumahan yang sepi di gang 13, kami punya pohon mangga yang sering kuambil mangga mudanya untuk sekedar dimakan dengan kecap manis di genteng rumah keluarga kami. Merasakan panasnya talang seng ketika diinjak di terik matahari, ataupun menggergaji triplek menjadi pedang kayu menjadi satu perkenalan dengan arsitektur. Di gang ini aku belajar berbicara , menyapa, bergaul anak – anak yang lain, dengan tetangga, tegur sapa dengan tetangga sering dilakukan, pada waktu itu diri ini ingat, permainan yang populer adalah bermain sepatu roda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pada waktu itu akumasih berusia 9 tahun, saat itu adalah saat dimana diri ini ada di satu lingkungan yang baru, Jakarta, bertemu dengan teman -teman yang baru. Diri ini ingat, dengan logat bahasa masih khas suroboyo, medok, sama sekali tidak tahu dengan budaya kota yang berbeda, budaya pergaulan yang berbeda. Saya heran kenapa kalau guru bertanya, kenapa saya yang selalu tunjuk tangan, padahal di Surabaya dulu, kami berlomba – lomba untuk tunjuk tangan, sampai pak Martin satu guruIPA kami bosen melihat diri ini tunjuk tangan. Aku juga ingat ada beberapa orang yagn mengusili terus menerus sampai membuat tidak tahan. Mungkin mereka tertawa juga melihat satu makhluk aneh yang baru, aku waktu itu kelas 4.

[laurensia adalah orang yang mengusiliku ketika aku ada di kelas 4 SD, Tuhan memang punya kejutannya yang tidak pernah diduga]

Atau saat – saat dimana diri ini, sedang senang – senangnya berolahraga tennis meja, dan hampir sebagian besar waktu dihabiskan untuk berlatih sehingga nilai – nilai pelajaran menjadi turun. Ada satu kesenangan yang baru. Atau saat – saat penuh tanda tanya mengapa diri ini selalu jalan – jalan ke satu gedung untuk memotretnya terus menerus setiap pulang berkerja di hari jumat sewaktu ada di Singapore dan London dengan orang – orang yang berbeda – beda, atau saat – saat bermain bulu tangkis dengan teman satu SMA yang dilakukan terus menerus.

Semudah ke satu tempat yang sama terus menerus, melakukan hal yang sama terus menerus, seperti tukang kayu yang belajar menggergaji, tukang batu yang belajar untuk memplester satu permukaan, atau seorang pandai besi yang belajar untuk menempa satu karya. Mereka melakukannya terus menerus, tanpa henti, sampai kamu menjadi tinta, kamu menjadi kertas, semua menyatu dalam nafas, dalam jiwa. Diri ini ingat kehati – hatian wanita terbaikku ketika berkerja, satu bersatu gigi itu dibersihkannya, diobatinya, ada teori – teori yang dijalaninya, seminar – seminar yang diikutinya. Semua pelajaran , latihan itu memerlukan waktu hanya untuk menjadi lebih mampu.

Memang pengalaman – pengalaman di tempat yang baru akan selalu menjanjikan pengalaman yang tak ternilai, berhadapan dengan orang – orang baru, wajah – wajah baru, budaya – budaya baru.

Kayu kelapa terbaik ada di daerah Menado, Sulawesi, karena ia tumbuh secara perlahan – lahan, bukan hibrida, bukan dikatalisasi. Seperti juga kayu bengkirai yang habitatnya ada di Kalimantai atau sama dengan damar laut yang berasal dari Sumatra. atau kayu jati Belanda yang memang tumbuh perlahan – lahan. Seratnya keras, matang, tua, karena teksturnya yang padat, rayap pun enggan menghampiri. Memang di jaman yang kompetisinya sedemikian tingginya menuntut kita selalu untuk berpikir lebih kritis, lebih cepat, lebih dan selalu lebih baik.

Kemudian diri ini teringat pesan dari pak Tisna Sanjaya, untuk tumbuh perlahan – lahan, seperti pohon, berakar kuat, bertajuk rindang, menjanjikan kehidupan untuk makhluk yang diteduhinya melalui alam yang memberikan air, sinar matahari, dan mineral yang didapatnya. Mungkin dalam kehidupan ini kita semampu kita perlu untuk meneduhi seteduh – teduhnya dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran kita.

Hari ini diri ini tenggelam dalam romantisme kegiatan berulang – ulang yang itu – itu saja, dan memang inilah yang kunikmati, beserta Laurensia, Keluarga, dan teman – teman terbaikku yang ditemui sepanjang hari..

“Help each other. Love everyone. Every leaf. Every ray of light..”

Perjalanan hidup di tahun kedua, angka 30

The woods are lovely, bright and shallow. But I have beautiful promises to keep, and miles to go before I sleep and I don’t want to sleep until I die. Realrich [taken from frost’s poem]

Hongkong, Mengenai Cinta… Dalam perjalanan satu tahun ini, tidak disangka sudah satu tahun diri ini hidup berdua dengan wanita terbaikku, ya usia pernikahan kami sudah 1 tahun umurnya. Kami menikah tanggal 25 September 2011. Di kala – kala kesibukkan yang semakin menerpa, waktu yang semakin menuntut, kami belajar untuk menyelipkan waktu2 untuk terus menghargai kebersamaan kami.

Pada waktu itu Diri ini sedang terjebak macet, terik matahari menerpa di balik siluet jembantan2 beton yang meneduhi, kira2 suhu terik 33 derajat celcius, kota Jakarta memang sedang menunjukkan wajahnya yang problematik dengan transportasi kota yang tidak terencana. Baru saja kemarin sampai pagi di kantor membereskan beberapa dokumen arsitektur yang harus diperiksa satu persatu. Untunglah hari ini diri ini bisa rileks memejamkan mata sejenak dimobil, puji Tuhan ada pak misnu, seorang sopir yang memang sudah seperti keluarga sendiri. Diri ini menghitung sudah 3 jam terjebak kemacetan ini, . Rutinitas yang ada baru – baru ini sungguh cukup menguras tenaga. Ya hidup seperti biasa, diri ini bergumam dalam hati. Seperti biasa diri ini membuat daftar pekerjaan yang harus dikerjakan oleh staff kantor, bedanya anak – anak kantor berkembang lebih banyak dari satu tahun yang lalu sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk berdiskusi satu persatu. Lebih siang terkadang rapat – rapat pembahasan pekerjaan pun menunggu, pembahasan rapat tersebut bisa berlangsung sampai larut malam guna memutuskan keputusan – keputusan desain pada saat itu juga. Mata ini perih ingin menutup pada saat itu, aku lupa pada waktu itu aku belum makan.

Kemudian secara rutin pada hari sabtu diri ini berkeliling untuk melihat proyek – proyek yang sedang dibangun, mengawasi satu persatu detail pekerjaan yang ada. Teringat satu perkataan teman terbaikku.

“Dalam membuat sesuatu harus berhati – hati, apalagi sekarang kamu ada di satu industri. Jagalah nama dan prestasi. “

ya oleh karena itulah, standar kualitas memang harus dijaga untuk konsultan desain yang belum berusia 2 tahun ini. Diri ini berpikir memang masa – masa sekarang adalah masa pembuktian. Sederhananya memang proses seperti ini perlu untuk menjadi dan membentuk kapasitas, sewajar – wajarnya. Diri ini bersyukur diingatkan oleh orang – orang terbaik untuk terus menjaga kepercayaan yang diberikan dalam hal – hal kecil maupun besar.

Siang itu satu waktu telpon berbunyi salah satu teman terbaikku memanggil untuk datang ke kantornya untuk dikenalkan pada saudaranya, perbincangan kami mengalir begitu saja, mungkin ada chemistry yang baik, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata2, yaitu rasa. Maklum sudah 2 tahun ini kita tidak bertemu, waktu – waktu kita memang semakin padat, ia sebagai seorang developer terkenal dan diri ini sendiri yang sibuk dengan pekerjaan –pekerjaan di kantor. Di sela – sela waktu yang semakin mengukung. Diri ini merasa bahwa memang benar jika akhirnya banyak orang berkata, semakin kita dewasa lingkaran pertemanan kita akan semakin berkurang.

Kira – kira beberapa jam kita berbicara sampai lupa waktu, sampai beberapa gelas minuman sudah habis. Seusai ngobrol teman terbaikku ini pun menanyakan di drop off bilangan Jendral Sudirman. Realrich kamu naik apa, saya bilang naik taxi, karena memang pada waktu itu. Wanita terbaikku membutuhkan kendaraan untuk pergi ke klinik, maka diri ini memutuskan naik taxi saja. “O mau ikut saya ? “dia menawarkan, “kemana ya pak, ” dia pun menyebutkan jalur kendaraan yang tidak satu arah dengan diri ini.Diri ini melihat jam yang sudah mulai larut, namun saya sangat senang sekali ngobrol dengan satu bapak ini, diri ini mengiyakan, oke deh satu jalur, saya bilang. Dalam hati diri ini berkata, “Oke kita pun bisa mengobrol 1 jam lagi di perjalanan.”

“Pak Rich, saya punya project. “demikian dia menyambung akhir pembicaraan kami seketika akan menurunkan saya di trotoar di persimpangan Harmoni, kamu akan saya ajak ya hari rabu depan ke tempat project ini. Sepertinya ini cocok dengan kamu.” diri ini pun terkejut tanpa disangka, project tersebut adalah project yang luar biasa menariknya, memang peristiwa ini mengajarkan arti untuk berbagi dengan orang lain hanya dengan membagi waktu, dan kemudian ia akan membagikan kesempatan – kesempatannya, tanpa disangka – sangka.

Diri ini merenungi waktu dan kesempatan muncul dalam waktunya tersendiri , semua ini seperti terjadi begitu saja.

Diri ini berpikir, kita ini hidup sesuai kebutuhan kita, ada orang yang membutuhkan kasih sayang, ia akan mencari kasih sayang tersebut, ada orang yang membutuhkan materi, ia akan mulai berkerja dan mulai mendapatkan materi. Orang mendapatkan kepuasan karena kebutuhannya terpenuhi…. Waktuku, waktu kita, waktu bersama.

Kehidupan Kampus

2 bulan yang lalu di malam yang dingin di Kiara payung di satu bukit dimana bintang2 terlihat membentang di langit, ada bintang biduk, pengarah jalan para nelayan.Saya ingat dimana pelantikan anggota baru Gunadharma kemarin, dimana semua berlomba – lomba untuk datang ke acara pelantikan ini, ada satu orang yang sudah lulus 10 tahun yang lalu. Ada beberapa yang sudah lulus 5 tahun yang lalu. Untuk apa mereka datang ?

“Hentakkan kakimu sekuat tenaga, begitu engkau melangkah engkau akan dilihat dari bagaimana engkau bertindak terhadap orang sekitarmu diri ini mengingat, totalitas .Engkau, apa hanya engkau ?” teriakku lantang

Diri ini bertanya kepada dua orang peserta di depanku. Mereka bilang demi sebuah kebersamaan. Memang demi sebuah kebersamaan, kita ditempa untuk menghargai kebersamaan, himpunan itu apa ? Sebuah kebersamaan, dimana2 kita selalu bersama – sama dengan orang lain, belajar berhimpun itu pada hakikatnya adalah belajar bersama – sama. Diriku berpikir mengenai misteri mengenai hubungan manusia antar manusia, sebuah nilai yang tak terukur antara rasional manusia yang memiliki nilai individualis tinggi. Ada yang menghitungnya dengan nominal uang yang tinggi, ada juga yang menghitungnya dengan sejumlah tempat yang ia datangi, ada yang menghitungnya dengan prestasi dan pekerjaan yang ia banggakan. Apa yang membuat dirimu bahagia ? Datang ke pelantikan anggota baru Gunadharma seakan – akan mengingat lagi saat – saat yang lampau, berulang kembali, saat – saat yang enerjik, dan tawa yang membahana bersama – sama teman – teman satu angkatan, satu himpunan. Waktu Menjanjikan betapa berbahagianya bisa menikmati saat – saat di Gunadharma.

Best Office in the World

Kantor di dunia mulai menunjukkan kehidupannya, siklus yang silih berganti cukup cepat. Orang – orang datang dan pergi, proyek proyek datang dan pergi. Banyak orang yang belajar, datang dan pergi, mulai ada adik2 yang tinggal lebih lama, datang dan pergi itu pilihan hidup, yang terpenting bekerja untuk belajar, mengekspresikan diri dan menabung.

Diri ini sering terlibat dalam perbincangan dengan beberapa orang mengenai arsitektur, archi tecton ( seni membangun). Ada satu fenomena yang mengherankan, banyak orang bertanya – tanya mengenai jati diri “arsitektur Indonesia”. Mungkin beberapa kali dalam berdiskusi hal ini selalu ada. Pertanyaan seperti ini jarang diri ini temui sepanjang perjalanan karir di beberapa tempat terbaik,

Apa sih jati diri arsitektur morroco, jepang, australia, inggris, bandung,jakarta,Indonesia? Pertanyaan yang sulit. Perlu digali lagi kenapa ini dipertanyakan. Perlu pembahasan dr sudut pandang tertentu, ada satu benang merah dari negara2 ini yang akhirnya mensintesiskan apa yang sudah ada sekarang. Lalu apa ? Untuk apa kita bertanya ?

Mungkin kita ada dalam satu budaya yang hilang, terus menerus bertanya, tanpa tahu jawabannya, terus menerus memprovokasi, dan bingung dibuat oleh pertanyaannya. Oleh karena itu kita mempertanyakannya, Pertanyaannya adalah melalui apa kita mencari ? satu hal yang pasti, bahwa setiap jaman memiliki tandanya tersendiri melalui inovasi teknologi, sistem bangunan, ketersediaan material, dan segala proses sosial, budaya, politis, ekonomi yang melatar belakangi satu karya. Yang diri ini tahu pasti, karya arsitektur indonesia adalah karya terbangun yang ada di Indonesia, oleh karena itu Arsitekturnya arsitektur Indonesia.Mungkin kita sudah kesulitan untuk memilah apa yang perlu dilestarikan, apa yang tidak, keahlian konstruksi mana yang perlu dilestarikan mana yang tidak. Gabungan 2 pendekatan empiris dan rational perlu dilakukan. Menurut saya perlu adanya pendokumentasian hal2 yang menjadi unggulan. Point saya ada di sejarah, dan inovasi di konstruksi, sistem, pendekatan desain supaya menjadi nilai guna, toh arsitektur perlu dikembalikan ke definisinya, seni membangun, membangun yang lebih baik.

Frederich Silaban sependapat dengan saya menurutnya ” tidaklah perlu dicari-cari arsitektur indonesia yang identik dengan bentuk – bentuk tertentu, yang perlu ditransfer adalah nafasnya jiwanya”.

Arsitektur Indonesia itu ada di dalam nafas desain kita, taksu kalau professor yuswadi bilang, ada di tradisi berbuat kita, tunjukkan melalui desain anda, kebolehan anda, inovasi anda, efisiensi anda, estetika anda, sewajar – wajarnya. Dengan melalui desain terbaik di bumi Indonesia, karya terbaik arsitektur Indonesia akan muncul. Diri ini pun masih belajar untuk ini, dalam hati diri ini berdoa supaya bisa berkesempatan untuk belajar.

Pelajaran terbaik,… kejujuran,cinta, integritas

Pada waktu itu siang – siang di hari sabtu, diri ini baru saja pulang dari workshop kantor di daerah Meruya untuk mengawasi tukang – tukang yang berkerja memperbaiki rumah pak Misnu, diri ini menggerakkan tukang2 untuk memperbaiki tempat tinggalnya .

“Kak saya ingin bicara”. Adik di depanku ini adalah orang yang biasanya mengurusi menemani dalam pekerjaan sehari2, iabercerita tentang sistem yang tidak berjalan, dan ada orang – orang yang sulit diajak kerja sama.

“Pak saya ingin bicara.” Paman di depanku ini adalah orang yang biasanya mengkordinasi workshop, pribadi yang menganggukkan kepala ketika diri ini mendorong satu keinginan untuk mencoba sesuatu yang tidak biasa” dalam ketertegunannya, ia bercerita mengenai masalah rumahnya, rumahnya yang digadaikan, dan pinjaman2nya ke tetangganya.

“Kak saya ingin bicara.” Ada juga orang yang baru saja menyapa di lembar facebook, berkenalan lalu becerita ia sedang dalam masalah dengan dosen2nya, penulisan thesisnya, ataupun meminta referensi – refensi yang diri ini juga tidak mengetahui dari mana harus mencari.”

“Pak saya ingin bicara.” Entah kenapa mahasiswa ini punya banyak kendala berhadapan dengan tugas2nya yang tidak terselesaikan dengan baik.

Kemudian diri ini menerawang ke satu peristiwa saat berbicara dengan salah satu orang yang menjadi klien di kantor, “Rich, dalam kepercayaan terhadap kami kepadamu, sebenarnya ini merupakan satu cerminan dari kebutuhan dan kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ibaratnya kami perlu jasa kamu dan kami meletakkan kepercayaan kami.” diri ini kemudian berpikir bahwa pada hakikatnya ini tidak hanya mengenai hak dan kewajiban, bahwa dimanapun kita berada, hak kita minta dan kewajiban kita lakukan. Kemudian ternyata ini tidak semudah yang dikira, sistem yang dijalankan terkadang tidak berjalan secara ideal. semua pihak hanya perlu menjalankan hak dan kewajibannya, terkadang hak tidak diberikan dan kewajiban terlalu besar, ada juga hak yang sudah diberikan dan kewajiban tidak ditunaikan, selalu saja ada ketidak sempurnaan dibalik keinginan kita yang selalu mengejar kesempurnaan.

Dimana diri ini berpikir inilah hubungan manusia antarmanusia yang tidak pernah sempurna. lalu beralihkan pandangan ke satu orang adik didepanku, dimana ia bercerita mengenai keadaan yang ada. Dalam hati diri ini bersyukur sekali dikaruniai, diberikan orang – orang yang selalu mengingatkan, Laurensia, Keluarga, orang2 di depanku, ataupun pribadi sehari2 yang diri ini jumpai ini merupakan pemberian titipan Tuhan akan pengingat yang selalu mengingatkan akan langkah – langkah dalam kehidupan ini untuk membagi kebaikan dengan sesama.

termasuk adanya Laurensia, Keluarga, Adik – adik, mahasiswa, dan orang – orang yang diri ini selalu temui sepanjang hari sepanjang waktu. Berkat tidak ternilai ini hadir secara tidak terduga, satu persatu.hidup di dunia ini untuk berbagi, seperti kata guru terbaikku, mas emil diri ini memanggilnya bahwa hidup ini untuk berbagi, diri ini belajar banyak sekali dari beliau, melalui sikap hidupnya.

Laurensia + Cherry

Laurensia sudah pulih dari operasi terakhirnya, diri ini merasa senang sekali, ia sudah mulai pulih seperti sediakala, rutinitas praktik dokterpun sudah dijalaninya dengan teratur. Memang kenangan akan kehilangan Cherry masih terkenang begitu saja, sulit untuk bisa dilupakan. Kita mengingat setelah bulan agustus, bulan september mulai menunjukkan wajahnya, daun – daun kembali menghijau di pekarangan rumah kami di Bandung setelah musim panas yang terik. Bandung memang menyejukkan, .

Ya Laurensia dan diri ini akhirnya punya satu rumah di Bandung, dititik terindah yang kita berdua bisa sediakan untuk Cherry. Laurensia dan diri ini sangat menantikan kehadiran cherry kembali. Di bukit ini, cherry bs berlari – lari untuk menikmati alam bersama – adik2 dengan kantor terbaik didunia, dan desa terbaik didunia. Diri ini dilanda satu mimpi yang indah, mimpi dimana anak – anak bisa tertawa, mimpi dimana studio terbaik di dunia, tempat terbaik di dunia akan muncul. Laurensia mungkin akan membuka tempat praktiknya untuk warga – warga sekitar, diri ini akan berbagi mata air akan ada bagi masyarakat sekitar. Sebuah roseto, a place where the outside rule does not apply, where happiness, perfection in imperfection might happen, the best design might happen, the best place of people within. Mengingat apa yang sudah terjadi satu tahun ini, ada kebahagiaan dan ada juga kesedihan,Semoga hidup ke depan akan semakin baik, teduh, dan indah untuk dijalani.

Mungkin 3 bulan kedepan akan ada lagi kejutan2 terbaik, seperti Laurensia berkata.

“Life is like a piano, the white keys represent happiness and the black show sadness. But as you go through life’s journey, remember that the black keys also create music.”

“Yang tehnya sudah siap, ayo diminum supaya tidak dingin.” selalu Laurensia memanggil mengingatkan. Puji Tuhan. Diri ini pun jatuh cinta lagi di tahun kedua pernikahan kami.

Cherry

Hope is the thing with feathers that perches in the soul and sings the tune without the words and never stops at all…

Hari itu hari Jumat malam jam 23.30. setelah diri ini berdoa untuk bayi kami, aku pun tersenyum, karena ia begitu cantik, ingin kubawa bayi ini  ke Laurensia. Namun petugas sudah akan membawanya pergi untuk memandikannya. Rambutnya ikal, hidungnya mancung, perawakannya mungil,jemarinya lentik dan kulitnya putih bersih. Kukecup keningnya, dan setelah itu diriku pun bergegas untuk menunggu di depan ruang operasi, pintu kamar operasi pun belum terbuka. Diri ini sudah menunggu 1 jam namun operasi belum juga selesai.

Diri ini akui bahwa momen – momen menunggu saat ini tidaklah menyenangkan, aku yang selalu berpikir mengenai bagaimana dokter melakukan operasi terhadap Laurensia, bagaimana ia dibius sampai tidak sadar. Dan bayangan – bayangan yang terbersit mengenai apa saja yang dilakukan dokter di dalam ruang operasi. Ya Tuhan semoga ia baik – baik saja. Untungnya dokter yang menangani Laurensia adalah dokter terbaik di kalangannya, dokter yang cekatan, muda dan masih keluarga dekat, jadi diri ini menyerahkan sepenuhnya kepada tangan terampil dokter yang menanganinya. Dokter Cindy namanya, di rumah sakit Pluit.

Akhirnya satu perawat keluar “Ibu sedang dijahit pak, sudah selesai operasinya, sekarang dokter sedang menunggu kondisi ibu stabil” Satu perawat pun keluar untuk menenangkan. Setelah itu Laurensia pun didorong di atas tempat tidurnya keluar dari kamar operasi, hati ini pun gembira luar biasa. Doa ini terkabul, ia baik – baik saja. Syukurlah. Diri ini berterima kasih luar biasa terhadap dokter yang membantu proses operasi Laurensia termasuk suster dan asisten yang menanganinya.

Satu malam itu aku bisa menghargai kebersamaan kami yang luar biasa di kamar rawat inap rumah sakit. Laurensia pun sudah mulai sadar sepenuhnya dan diri ini pun sangat bersyukur.

3 hari yang lalu, …

Pagi itu hari rabu. Diri ini ingat, masa kehamilan Laurensia sudah 7 bulan, dalam hati yang terdalam, rasa takut selalu ada. Kehamilan adalah proses yang indah dan juga beresiko bagi ibu dan anaknya kata dokter. Dan dalam hati ku selalu berdoa Semoga kehamilan Laurensia baik – baik saja dan tidak ada masalah. Maklum kami belum pernah mengalami ini. Satu pengalaman pertama dalam seumur hidup kami. Ini kehamilan pertama. Pada kehamilan 3 bulan pertama dokter mendiagnosa bayi kami perempuan. Setiap saat aku mendoakan supaya bayi ini bisa menjadi berkat untuk sesama, seperti kebahagiaan yang dibawakannya ke keluarga kami dalam kehamilan Laurensia.

Seperti satu hari biasa, hari itu adalah hari rabu dan diri ini harus berangkat untuk mengajar , rutinitas pun dijalani dengan kesibukan kami berdua yang padat. Diri ini sendiri baru pulang mengajar di Karawaci, baru saja mengobrol bersama rekan – rekan dosen disitu dan juga mahasiswa yang ada di studio arsitektur. Kemudian Diri ini mampir sebentar ke kantor memberikan beberapa masukan terhadap desain yang sedang dikerjakan. Laurensia pun akhirnya masuk ke kantor untuk mengingatkan karena hari sudah malam dan kami punya janji untuk bertemu dengan dokter, untuk cek kehamilan 7 bulan.  Kami pun bergegas ke satu rumah sakit di bilangan Jakarta Pusat. Pak Misnu, sopir keluarga pun sudah menunggu.

3 hari yang lalu Wanita terbaikku menanyakan kepada diriku mengapa bayi kami di dalam kandungan tidak seaktif biasanya. Aku  menjawab untuk menenangkan istri, tidak apa – apa mungkin ini wajar, kita kan akan ketemu dokter sebentar lagi. Pada waktu itu sekitar jam 9.45 malam dan kami baru masuk ke ruang tunggu setelah lama menunggu, urutan terakhir setelah 1 setengah jam lebih menunggu. Pada waktu itu kami bisa melihat detak jantung bayi kami berdua, ada yang berkedip – kedip di layar USG, rasa khawatir pun menjadi pupus. Ini anaknya baik – baik saja, kata dokter mengiyakan, ketika Laurensia bertanya.

3 hari kemudian

Nama Anak kami adalah Cherry, bagi kami dia adalah satu malaikat yang akan mewarnai orang – orang sekitarnya dengan kasih sayang. Memberikan kebahagiaan setiap saat pada saat ia ada sama seperti ia memberikan kebahagiaan dalam waktunya yang sebentar di dunia ini.

Tidak ada yang bisa membayangkan ketika 3 hari kemudian, pada hari jumat pagi. Cherry  meninggal. Ia didiagnosa kehabisan air ketuban, dan Cherry terlambat dikeluarkan oleh karena itu ia meninggal. Tidak ada yang percaya bagaimana ini terjadi dan mengapa ini bisa terjadi pada keluarga kami meski ada beberapa puluh argumentasi dan hipotesa mengapa ia tidak ada, tidak ada gunanya mempersalahkan siapa – siapa. Memang sudah jalannya seperti ini.

Pikiran ini pun kembali ke hari jumat malam pukul 23.30.  ketika diri ini sedang menunggu operasi Laurensia untuk mengeluarkan Cherry dari kandungan. Operasi Caesar yang dipimpin dokter Cindy.

Satu berkat ini datang 7 bulan yang lalu, dan kemudian begitu mudahnya ia pergi, satu kebahagiaan ini pergi begitu saja di hari ini. Di bulan ke 7 kehamilan Laurensia. Kami diajar mengenai arti kehilangan dalam kehidupan.

Aku berdoa sepenuh hati, kupeluk Cherry dengan derai tangisan, kesedihan yang tidak tertahankan. Anakku begitu cepat engkau pergi, papa dan mama sudah punya begitu banyak mimpi yang indah bersamamu, sayang sekali Tuhan punya rencana lain terhadapmu nak.

Hanya kurang dari 1 hari,diri ini bisa menyentuh memeluk Cherry untuk pertama kali dan terakhir kalinya namun kini ia pergi. Aku pun merasakannya ketika abu itu ditebarkan di laut, Ia melindungi perbuatan, pikiran, dan perkataan kami berdua dalam cinta kasih terhadap sesama. Hari Jumat pada saat itu adalah hari yang penuh dengan kesedihan, kehilangan dimana kami kehilangan Cherry. Diri ini tidak bisa membohongi siapapun untuk mencoba tegar dan belajar dari kehilangan ini. Namun aku percaya, ia ada di sekitar Laurensia dan diri ini untuk menjaga derap langkah kami.

Diri ini pun tersenyum ketika dalam satu hari setelah operasi, Laurensia sudah pulih kembali , ia sudah mulai bisa berjalan seperti biasa, kemauannya kuat untuk bangkit. Aku berbisik dalam hati. Cherry terima kasih sudah jaga mama.  Satu minggu setelahnya, satu teman dari orang tua kami, berbisik. Pada waktu itu, pagi – pagi setelah dimandikan, Cherry ada di rumah duka. Ia melihat Cherry ada di samping kami. Teman dari orang tua kami itu berbisik, ia sudah menjadi malaikat pelindung keluarga.

One Note to Thinking Drawing Working Drawing Class – one class of UPH Architecture

Arum dalu - detail2

Dear Class,

I hope you do well. I was thinking to write a note, a simple one, to conclude what we have worked on in the class. I was thinking that the effort of practicing architecture needs many hours, much time. I believe there are arguably nobody knows on how much the time that is needed to practice design. I think that is one question we might need to ask our self as designer.  How much is needed?

Grumpy architect will say I work too much in architecture, its unfriendly profession, waste too much time. Positive architect will say I still have many things to learn. I wish that we have more than 24 hours in a day, I wish more, hunger for more learning, more thinking, more for thoughtful action.

So I never say that this class as working drawing class only. I would say its thinking drawing – working drawing class. The reason is simple because it involves the understanding of knowledge to build architecture, Knowledge of creating space. I think that we can’t draw one working drawing if we don’t know how to draw, part of it about knowing what you want to draw. It’s about knowledge of understanding the earth, the universe, the universal law to the most detail part of the constructions. The word thinking taught us about our body of knowledge, the knowledge to make a good space. So far we have gone to several built design which was designed by architects, built by builder. We have learnt how to draw one design which was pushed harder not only pragmatic intention but a design that is responding to express the beauty of constructions, the beauty of the material, the beauty of the honesty of covering the structure, the property of the material .To invent the art of building, you need to master the knowledge, the knowledge of the materials, the beauty of it, even higher knowledge that is the beauty of the space which is limitless for architect.

Another part is about exercising your hand to be skillful, on top of the invention of the CAD to answer the market needs in the name of efficiency. I do believe that the center of the practice is the human touch, your hand. I favor one quote from one of my favorite architect he stated

“Works of Architecture are discovered, not designed. The creative process is a path of discovery.  The hand makes drawings and arrives at solutions before the mind has even comprehended them. It is very important to me to make buildings that work like instruments. They respond to light, to the movements of the air, to prospect, to the needs of comfort. Like musical instrument, they produce the sounds and the tones of the composer. But I’m not the composer. Nature is the composer. The light and sounds of the land are already there. I just make instruments that allow people to perceive this natural qualities.1 

he is Glenn Murcutt, I think it is indeed true in the experience of practicing architecture. The architect’s hand need to be trained from the very beginning. That’s why some of the task given every week during the class drove your hand drawing skill.

I hope what you all learn hopefully can help the understanding the thinking behind the drawing, one tool that is a bridge between our design thinking to the builders. I think it’s not easy in one stage to understand the fingerprints of finishing materials, about the tectonics the construction of the materials, about the economic logic behind using the material, about defining how to use materials gently. It’s one fulfilling experience for architects.

Learning from the past and creating the future are both knowledge we have to master. The process itself is not easy but training your hand, your knowledge and your mind has been always my concern.

I must say congratulations for staying in the class to the willingness to open your architect’s eyes. The eyes of the willingness for opening new idea, like what Bjarke Ingels wrote “YES is more”. I do believe there is one culture above all of the design culture, the culture of creating passion inside us as an architect. You need to train this as it will show in your character, later on it will help shaping  your chemistry with your client and your peers.

To the people in the class, thank you for the exploration that you showed, I do hope that you had such great learning curve, like what I had in class with you.

Best wishes,

Realrich

glenn
I visited Glenn’s exhibition at Museum of Sydney

376443_10151054072006240_1993132537_npicture by Bunga Yuridespuspita

House of Lake’s View

Designed for a prominent bussiness man family, this house was conceived as a modern rationalist house with neo modernist influence. Located in a quiet prestigious residential neighbourhood of Alam sutera, a satelitte city one hour west of Jakarta. The house consists of clustering of buildings arranged by wonderful vistas of the site to the lake. The overall composisiton ties these buildings together in a harmonious arrangement, informed by the chinese belief that nature is at its most beautiful when considered in relation to the man-made. The landscape itself arranged by several vistas and cluster of plantings reflecting the Indonesian tropical Landscape, the landscape of the tropical climate.

The circulation through the building is organised aroung a sequence of views that progressively move in hierarchy to more private area. The attention of to the play of lifht and shadow, created through a combination of materials and artificial and natural light is fundamendal to the design of the house and evokes the quietude of such a retreat house which stated by its gentle architecture.